18px

Godaan Malam: Kisah Nina Kakak Iparku

Godaan Malam: Kisah Nina Kakak Iparku

Hari ini bossku begitu sibuk, yang berarti aku pun ikut disibukkan oleh pekerjaan. Setelah seharian mengetik dan duduk berjam-jam menghadapi komputer dengan ketikan begitu seabrek, mata pun mulai meredup karena layar monitor. Karena hal itulah aku selalu lupa waktu — tidak terasa jam demi jam berlalu, hari begitu cepatnya karena aku memang menikmati pekerjaanku.

Sudah sepuluh tahun aku bekerja di kantorku, dan itu pun tidak terasa. Sudah delapan tahun pula aku mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan satu anak yang cantik, aku selalu menyayangi keluargaku. Jumat malam, selesai melaksanakan tugas-tugas di kantor, kuparkirkan motor yang masih kreditan — yang selalu setia mengiringi tugas-tugasku. Setelah itu beristirahat melepaskan lelah; aku sangat senang, walaupun hari ini sangat sibuk, mengingat kantor tempatku bekerja libur pada hari Sabtu. Kududukkan pantatku di ranjang sambil menyalakan TV. Tepat saat itu tak sengaja kupilih acara Duel Maut dari SCTV yang sedang disiarkan langsung. Sebetulnya aku lebih suka melihat film-film horor atau berita kriminal, tapi entah kenapa hatiku tidak memindahkan channel TV tersebut.

Kulihat goyangan-goyangan maut dari para artis cantik. Saat menonton acara itu aku baru sadar bahwa pinggul-pinggul artis tersebut bulat-bulat seperti dua bola yang saling beriringan bergerak. Pikiranku mulai nakal melayang-layang — yang jelas, kupikirkan bahwa di antara dua bola itu ada lubang sempit.

Kulihat istriku sudah pulas tidur menelungkup, mungkin tidak menyadari kedatanganku malam ini. Sementara anakku sudah tidur duluan di kamar sebelah. Setelah mandi dan menyegarkan diri, aku membuat kopi dan menyulut rokok sambil terus menonton acara di TV yang belum kupindah channelnya.

Lama-kelamaan pikiranku mulai melayang jauh. Dengan dinginnya malam, apalagi setelah mandi dan keramas, tubuh ini terasa kedinginan — apalagi aku masih hanya tertutup handuk saja. Dalam keadaan seperti ini "adikku" pun bangun malam. Perlahan tapi pasti, si dia mulai unjuk diri. Kutoleh istriku yang setia di sampingku — masih lelap. Sementara burungku sudah mulai berdenyut-denyut. Ingin kubangunkan, tapi kasihan, takut dia capek. Apa boleh buat, aku hanya memegang penisku saja.

Lama-kelamaan penisku semakin keras, dadaku berdetak tidak beraturan, napas tersengal-sengal. Kubuka handukku yang menutupi bagian bawah tubuhku dan memang penisku sudah sangat keras. Kupegang erat-erat dengan kedua tangan, menahan gejolak yang ada. Ternyata kedua tanganku bisa memegang batang zakarku sepenuhnya — artinya penisku bisa mencapai 18 cm. Kulihat helmnya yang bulat, sementara batang kemaluanku hampir 4 cm dengan urat-urat tidak beraturan yang mengelilinginya. Sudah tak tahan rasanya. Kuhampiri istriku tanpa membangunkannya, sambil terus membayangkan pantat sang penyanyi tadi, kugerayangi pantatnya. Istriku hanya mengeliat sebentar lalu tertidur lagi, kali ini dengan posisi miring. Dasternya sedikit tersingkap — darahku berdesir melihat pantatnya. Walaupun tidak terlalu seksi, melihat bayangan pantat orang lain membuatku sungguh sangat bernafsu.

Entah kenapa malam ini aku sangat menyukai pantat. Kubuka daster istriku dan kulihat celana dalamnya hanya menutupi sebagian kecil pantatnya. Segitiga itu kuturunkan perlahan-lahan, takut membangunkannya. Tapi ternyata istriku bangun dan terkejut melihat aku sudah di sampingnya — lebih terkejut lagi melihatku sudah telanjang bulat.

"Sudah pulang, Mas?" tanya istriku.

Aku hanya terdiam saja.

"Aku mau pipis dulu."

Lalu dia pergi ke kamar mandi. Aku rebahan di ranjang, masih menonton TV. Kupikir-pikir: jika para wanita banyak yang memamerkan tubuhnya, kenapa para lelaki tidak memamerkan kemaluannya? Dengan pikiran semacam itu penisku semakin tegang, membayangkan penisku yang seperti pisang ambon hitam ini ada yang melihat selain istriku. Pasti akan terkejut — terkejut senang tentunya.

"Kenapa, Mas?" tanya istriku mengagetkanku.

Walaupun dia tidak terkejut melihat pisang ambonku, mana ada wanita yang tahan melihat si hitam ini, walaupun sudah sering melihatnya. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung menghampiriku — lebih tepatnya menghampiri kontolku. Diraihnya dengan mesra, dibelai-belai perlahan, seolah-olah takut terkena kukunya.

"Mas, aku mau tanya..." kata istriku.
"Tanya apa?" tanyaku.
"Kenapa kontolmu bisa segede ini?" aku hanya diam saja.
"Aku cuma mikir, kalau barang segede ini dimasukkan ke cewek lain, pasti ceweknya senang, ya Mas?"
"Jadi kamu senang kalau aku ngenjot cewek lain?"
"Nggak tahu lah," jawabnya.
"Sebetulnya kalau cewek melihat kontol, itu terkejut, senang, atau takut sih?"
"Mas kalau melihat cewek seksi bugil, suka nggak?"
"Tentu suka."
"Mas ingin menindihnya nggak?" tanya istriku mulai serak.

Sementara aku masih diam.

"Tentu saja Mas ingin mencumbunya, memeluknya, dan terakhir ingin melihatnya merintih-rintih, bukan?" kata istriku mulai menciumi kemaluanku. "Begitu juga dengan si ceweknya, Mas. Dia ingin disayang, dibelai, dan terakhir ingin merasakan barang sang cowok masuk ke memeknya. Dia ingin merasakan jalannya barang itu perlahan-lahan, dan ingin menikmati semprotannya di dalam rahimnya. Jika sang cewek menjerit melihat kontol, itu adalah perasaan yang sangat mendalam dan begitu tiba-tiba — perasaannya bercampur-campur, seperti yang kubicarakan tadi. Hanya saja sang cewek selalu bersikap jual mahal, padahal vaginanya sudah membasah, bertanda dia terangsang."
"Apalagi kalau melihat barangku ya Mah?" tanyaku menggoda.
"Tapi aku ragu barangmu bisa main dua kali," kata istriku sambil tiba-tiba melahap semua kemaluanku.

Sontak saja aku kaget bukan kepalang melihat serangan fajar itu. Kurasakan gigi kecil istriku yang mengeret-eret batang zakarku. Sementara itu tangannya mulai menelusup ke pantatku, meremas-remasnya. Kini istriku yang semula lembut menjadi binal — tangan yang satu meremas-remas pantatku, tangan yang lain meremas batang zakarku, sementara kepalanya naik-turun.

"Argh... Ach... Ah... Huh, ach..." tak urung aku yang pendiam menjadi ceriwis, kaget sendiri oleh suaraku.

Sambil menghisap, mengenyot, menjilat-jilat helmku, seakan ia ingin segera mengeluarkan semua isi maniku, akupun tak kuasa menahan gejolak dalam darahku. Sambil meremas-remas apa yang ada di sekitarku, kakiku menggelinjang-gelinjang seakan kontolku bertambah panjang. Hampir setengah jam istriku mengenyot barang mainannya, seakan baru dibeli dari pasar.

"Mach... Akhu... U... Uu... U... Mahu... Keluarr..." aku mengigau atau entah apa namanya.

Seiring dengan itu, semua ototku terasa mengeras dan kaku — apalagi kontolku. Istriku dengan sigap diam di tengah-tengah batang zakarku yang memang tidak bisa ditelannya semua. Seperti selang air yang ditahan, aliran air maniku terasa berjalan, menggelembung di tengah batang zakarku, dan akhirnya menyemprot keluar dengan derasnya. Tidak setetes pun keluar karena istriku sudah langsung menelannya sebagai jamu. Sementara itu aku masih meregang seperti hendak meregang nyawa, dan perlahan-lahan seluruh tubuhku pun lemas tak berdaya. Selama sepuluh tahun perkawinan ini, baru kali ini aku melihat istriku sebinal itu. Setelah beberapa saat, kami pun beristirahat.

"Jamu air mancur, nih. Enak bener, kayak telur ayam bangkok," kata istriku manja penuh kepuasan sambil melihat suaminya meregang tubuh.
"Kamu kenapa, Mah, tumben galak banget?" tanyaku.
"Nggak, aku cuma bayangin pisangmu ini disayang cewek lain. Mungkin kalau bisa dicopot, bisa buat rebutan mengenyotnya — yang satu ingin ngenyot, yang satu ingin dimasuki, yang satu ingin buat mainan. Kayaknya asyik lho Mas, kalau dipinjam-pinjam..." kata istriku panjang lebar.
"Hus! Emang gue cowok apaan. Gede-gede begini, cuma kamu yang ngerasain."
"Tapi aku kalau membayangkan Mas bersetubuh dengan cewek lain, kayaknya aku cemburu — tapi penuh nafsu. Suatu kenikmatan sendiri melihat suaminya menyentuh cewek lain."
"Contohnya sama siapa?" pancingku.
"Yah, nggak jauh-jauh dululah. Seumpama sama Mbak Nina, kayaknya dia juga akan ketagihan."

Aku kembali terdiam. Membayangkan wajah dan tubuh Mbak Nina — kakak istriku. Walaupun tidak cantik, namun ia memiliki tubuh yang sintal putih, wajah yang bersih dan selalu berdandan. Itu hanya luarnya saja, kalau dalamnya... Tanpa sadar pikiranku mulai menerawang jauh memikirkan Mbak Nina yang putih itu. Perlahan-lahan penisku pun mulai tumbuh lagi, semakin lama semakin keras. Istriku pun menyadari itu — dengan berdirinya kontolku, ia merebahkan diri di sampingku, pasrah dan penuh harap.

Tanpa pikir panjang lagi akupun menindihnya, mengecupnya, menyayangi seluruh tubuhnya — seakan tubuh Mbak Nina yang kupagut bibirnya, kuremas buah dadanya, kusentuh selangkangannya. Hanya desahan pelan yang dia keluarkan. Akupun segera menyiapkan senjataku dengan menekan sepenuhnya pangkal kontolku sehingga batangnya semakin keras dan kuat. Kutuntun perlahan masuk ke gua sempit dan lembab itu, pelan namun pasti. Karena sudah biasa, istriku pun mulai memejamkan matanya — ngomongnya sudah tidak beraturan, tangan dan kaki entah meninju apa.

"Ahh... Mass... apa ini... kenapa bisa hangat... ach... aw... aw... aw..." istriku manja sekali.

Rintihannya semakin lama semakin keras dan bernafsu.

"Mas... aw... ww... ww... hh... hh... hh..."

Walaupun sudah agak kendur, klep istriku masih lumayan juga — daya cengkeramnya masih kuat. Kudorongkan semua penisku sampai ke pangkalnya hingga tak tersisa.

"Aww..." menjerit kecil, lalu istriku pun diam tak bernapas, tak ingin melepas kenikmatan yang ada, namun kenikmatan itu selalu menghampirinya.

Pantas saja istriku jalannya agak pekoh — lha wong tengahnya saja diganjali pisang segede ini hampir sepuluh tahun. Lalu akupun mulai tancap-cabut, naik-turun sebagaimana orang kawin lazimnya. Beberapa menit kemudian banjirlah daerah kemaluannya. Seperti biasanya istriku — hanya beberapa menit saja. Sedangkan aku minimal butuh setengah jam untuk menyemprotnya. Walaupun agak pegal setelah disedot habis, akhirnya maniku pun menyemprot sebanyak-banyaknya. Istriku lemas dan puas, sedangkan hatiku masygul — hambar.

Sudah tiga Sabtu ini aku memamerkan pisangku karena iseng dan tidak ada kerjaan. Istriku baru pergi bekerja, sementara anakku sudah sekolah dan akan pulang agak sorean karena ada acara Pramuka. Suami dari kakak istriku pun sedang bekerja di perusahaan swasta. Dengan berdiri di depan jendela kamarku yang menghadap jalan, pagi-pagi kupertontonkan pisangku kepada para cewek yang pergi ke pabrik dengan pakaian rok mini. Jika mereka melihat ke jendela untuk mematut diri, aku selalu menghindar — masih takut-takut. Ada rasa puas tak terhingga jika berhasil memamerkan barangku, walaupun hanya pandangan sebalik saja — artinya aku bisa melihat mereka, tapi mereka tidak bisa melihat aku.

Sedang asyik-asyiknya aku mempertontonkan pisangku sambil mengelus-elusnya, tiba-tiba dari tikungan depan rumah Mbak Nina datang — rupanya habis belanja. Kulihat dia menatap ke arah jendela, kaget mungkin, atau lebih tepatnya terpana. Aku sendiri kaget dibuatnya. Untuk sesaat kami hanya saling berpandangan, sementara dia tidak lepas memandangi pisangku. Lalu dia kembali berjalan memasuki rumah sambil menundukkan kepalanya — entah malu, entah kenapa. Sementara aku duduk ke ranjang dengan jantung berdegup sangat kencang.

Bersambung . . . .

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya