18px

Guru Piano dan Murid Barunya

Guru Piano dan Murid Barunya

Sudah tiga bulan Dewa bekerja sebagai guru piano. Sebuah keahlian yang dia dapat ketika SMA dulu, saat ayahnya masih ada. Dengan keahlian itu dia berusaha menyambung hidup, dan kalau bisa menjadi pianis profesional.

Dalam dinginnya AC ruangan kantor, Dewa menghitung uang yang tersisa untuk bulan ini. "Uhh, tinggal lima puluh ribu, padahal gajian masih seminggu lagi," gumannya sambil memasukkan kembali dompetnya ke saku celana. Kini dia hanya mempunyai tiga murid SD sebagai anak didiknya — sebuah jumlah yang sangat sedikit.

"Saya harus mendapat tambahan satu orang murid lagi," Dewa beringsut berdiri menuju pelataran kantor. Dia ingin menghabiskan sisa rokoknya yang disimpan tadi, ketika terdengar seseorang menyebut namanya.

"Maaf, Bu. Bisakah saya bertemu dengan Bapak Dewa?" Dewa menoleh. Dilihatnya seorang wanita muda bertanya kepada sekretaris kantor.

"Ya, saya sendiri," Dewa berjalan mendekati wanita tersebut sambil memasukkan kembali rokoknya. Dilihatnya seorang wanita cantik berumur sama dengan dirinya, sekitar dua puluh empat tahun. Tinggi seratus tujuh puluh sentimeter dengan perut yang ramping.

"Saya Dewa, ada yang bisa saya bantu?" ujarnya sembari mengulurkan tangan.

"Wah, kebetulan! Saya Wedi, dan saya berniat untuk mengambil les piano pada Bapak."

"Panggil saja saya Dewa. Mari ke ruang tamu — kita akan membicarakan jadwal latihan dan jenis latihan yang ingin Anda pelajari." Dewa sungguh bersyukur akan hari itu. Kini dia tidak terlalu khawatir soal uang makan sampai akhir bulan. Jika sudah rezeki tidak akan ke mana, begitu hatinya berkata. Tanpa disadarinya, itulah awal dari perubahan seluruh hidupnya.


MINGGU, 23 MARET 1997

Dewa berada di depan rumah Wedi, pukul tiga sore. Ini hari pertama dia akan mengajari Wedi bermain piano. Tiada lain niatnya selain memberikan semua ilmu pianonya, dan semoga dari pembicaraan Wedi dengan teman-temannya, anak didiknya pun akan bertambah.

Diketuknya pintu rumah — sebuah rumah yang sangat besar dan mewah. "Rumah ini lebih bagus dari rumahku yang dulu, tapi nggak beda jauh, lah..." guman Dewa, mengenang masa saat ayahnya masih ada. Tak berapa lama terdengar suara kunci diputar dan pintu dibuka.

"Selamat sore, Dewa. Mari, silakan masuk!" Wedi memberikan jalan bagi Dewa untuk lewat, lalu menutup pintunya kembali.

"Mau minum dulu, atau langsung berlatih?" tanya Wedi sambil mengunci kembali pintu rumah.

"Langsung saja, yuk!" jawab Dewa yang merasa tidak haus.

Mereka lalu menuju meja piano yang ada di ruang tengah. Dewa membuka penutup piano, lalu duduk di kursi piano sambil beringsut memberi tempat pada Wedi.

"Ayo, kita mulai!" kata Dewa, sambil menjelaskan nada-nada yang terdengar dari tuts yang dipijitnya. Setelah beberapa saat, dia mempersilakan Wedi untuk mencobanya. Terlihat raut ragu di wajah Wedi, lalu dia pun mencoba. Terdengar nada-nada yang sangat tak beraturan. Derai tawa segera mengalir dari bibir mereka berdua.

"Tidak apa-apa! Ini saya tunjukkan lagi." Dewa lalu menunjukkan kembali nada-nada yang tadi diperdengarkannya. Tapi bukannya mendengarkan, Wedi malah memperhatikan wajah Dewa. Sepertinya dia tidak dapat berkonsentrasi pada pelajaran.

"Kamu ingin saya memainkan sebuah lagu?" Itu jurus yang biasa Dewa lakukan jika anak didiknya tidak konsentrasi — dia akan memamerkan keahliannya agar mereka jadi semangat berlatih. Bukannya menjawab, Wedi malah menyenderkan kepalanya ke bahu Dewa. Tiba-tiba dia berkata, "Eh, tunggu dulu ya!"

Wedi masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian dia keluar, kali ini mengenakan gaun tidur yang sangat tipis. Gugup Dewa melihat pemandangan di depannya, lalu berkata, "Maaf, Wedi. Saya datang ke sini untuk mengajar. Saya sangat butuh pekerjaan ini, jangan permainkan saya. Saya tidak tahu apa yang Anda mau." Dewa tidak tahu harus berpikir apa. Ingin pergi dari situ, tapi dia sangat butuh uang saat ini. Jika tetap di situ, berarti dia melanggar cita-citanya untuk menjadi pianis profesional.

"Saya tidak butuh les piano!" tiba-tiba Wedi berteriak.

"Saya tahu kamu butuh uang. Kupikir kamu tahu apa yang saya butuhkan. Jadi kalau kamu bisa memberi apa yang saya butuhkan, maka saya akan memberi yang kamu butuhkan," kata Wedi, lebih lembut dari sebelumnya.

"Tapi kenapa aku?" tanya Dewa.

"Karena kamu butuh uaaang!" Wedi berteriak lagi karena sebal dengan penolakan Dewa. Mata Dewa mulai berkaca, merasa betapa harga dirinya begitu rendah. Wedi berkata benar — dia memang butuh uang itu. Dewa makin merasa harga dirinya hancur.

"Oke, Wed. Tapi aku ingin uang les satu bulan kamu bayar malam ini juga..." Sambil berkata itu, menetes air mata Dewa. Bukannya iba melihat kesedihannya, Wedi malah tersenyum.

"Oke," jawab Wedi sambil berlari riang menuju Dewa dan menariknya menuju kamar tidur.

"Kamu tidur di situ ya!" pinta Wedi, menunjuk tempat tidur sambil memberi senyum termanis yang dia punya.

"Ugh, manisnya senyum itu. Andai saja dia tak bersuami dan kami sudah kenal lama." Dewa beringsut mengikuti permintaan Wedi.

Dewa naik ke atas ranjang dan merebahkan kepalanya di sandaran. Wedi kemudian mengikuti, sambil tangannya mendorong perlahan tubuh Dewa untuk bergeser sedikit. Lalu Wedi berlutut tegak di sampingnya, memandang mata Dewa lekat-lekat, masih dengan senyum termanisnya. Perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah baju tidurnya. Ops — Wedi terlupa sesuatu. Buru-buru dia turun dari ranjang, menuju buffet yang ada komponnya, memilih salah satu CD, lalu memutarnya. Mengalun sebuah lagu romantis dari Lionel Richie.

Dia kembali lagi ke samping Dewa, berlutut di atas ranjang sambil melenggok menari mengikuti irama lagu. Tangannya kembali memegang ujung bawah gaun tidurnya dan mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke atas. Gaun bawahnya mulai naik setinggi bawah selangkangannya. Dewa diam terpaku melihatnya. Seumur hidup Dewa tidak pernah berpacaran, apalagi melihat bagian dalam tubuh wanita. Degup jantungnya makin kencang, dan dia mulai terangsang. Wedi melanjutkan tariannya. Tak berapa lama muncul celana dalamnya yang transparan, membungkus ketat kemaluannya dengan warna hitam — ada merahnya sedikit persis di tengah, dekat bawah pusar, dengan satu bunga merah kecil.

Bulu kemaluannya terlihat. Belahan vaginanya tercetak dalam bungkusan kain halus itu, mengikuti bentuk bibir vaginanya. Dewa merasakan kemaluannya mulai bergerak — penisnya mulai menggemuk, dia sudah terangsang dengan semua yang dilihatnya. Tangannya terlihat mencoba menggapai belahan itu.

"Hmm, tunggu dulu," Wedi melarang Dewa. Wedi lalu menarik gaun tidurnya makin ke atas. Menarik bajunya, semakin jelas tubuh putihnya terlihat. Payudaranya masih tertutup BH, tapi terlihat putih dan kencang. Saat bajunya telah melewati kepala, Wedi langsung membuangnya. Tangannya kembali turun, membuat payudaranya semakin menonjol. Kemudian Wedi menggeser posisinya — kali ini dia mengangkangi Dewa. Belahan vaginanya makin jelas terpampang di mata Dewa. Saking dekatnya, terkadang vagina Wedi menyentuh hidung Dewa. Tercium wangi harum vagina Wedi, membuat Dewa tidak mampu lagi menahan sakit penisnya yang ereksinya tertahan oleh celana jeans-nya.

"Mari saya buka!" Wedi sepertinya melihat hal itu. Sambil tetap menyuruh Dewa diam, dia mulai membuka seluruh kain yang menempel di badan Dewa. Kini Dewa telanjang bulat. Penisnya sudah ereksi penuh dan tegak menunjuk pada Wedi. Wedi tersenyum melihatnya.

Wedi berdiri dan dengan perlahan-lahan melepaskan kaitan BH di punggungnya. Dijatuhkannya tali BH dari samping, sehingga Dewa bisa melihat putih dan bulatnya buah dada Wedi. Dewa mengamati puting susu Wedi yang lingkarannya cukup besar dan berwarna cokelat kemerahan, sangat kontras dengan tubuhnya yang putih mulus.

Kemudian Wedi membalikkan badan dan membungkuk. Perlahan-lahan dia menurunkan celana dalamnya sehingga Dewa dapat melihat vagina Wedi dari belakang — berwarna merah muda dengan bibir vagina yang agak kehitaman. Wedi membuka kemaluannya lebar-lebar dan membuka bibir kemaluannya, sehingga Dewa dapat melihat jelas bagian dalam vaginanya yang berwarna merah muda dan basah.

Wedi sudah sangat terangsang dan vaginanya sudah sangat basah. Dia memasukkan satu jari ke dalamnya dan mulai bermasturbasi di depan Dewa. Dalam posisi mengangkang dengan paha terbuka lebar, harum liang kewanitaannya langsung tercium. Wedi menyentuh belahan liang kewanitaan dengan ujung tangannya, lalu tangan satunya menyentuh klitoris. Perlahan-lahan dia menggosok-gosok kedua bagian itu.

Dengan pantat sedikit terangkat, dia terus bermasturbasi dan membuka kakinya lebar-lebar. Kurang dari tiga menit kemudian, Wedi mendapati dirinya orgasme dan menyemprotkan cairan bening ke tubuh Dewa.

"Sepertinya sekarang giliran kamu ya, Wa?" kata Wedi sambil berganti posisi dan berjongkok di atas pinggang Dewa. Demi melihat penis Dewa yang penuh, diusapnya penis itu. Lalu dia mendekat ke dada Dewa dan mencium putingnya. Perlahan-lahan lidahnya mengusap permukaan puting Dewa. Dewa menggelinjang kegelian, tangannya memegang kepala Wedi. Wedi menurunkan kepalanya, menjilati perut dan semakin turun. Dewa makin kegelian ketika hembusan napas Wedi menyentuh bulu-bulu kemaluannya. Bibir Wedi mulai menyentuh ujung penisnya, lalu bergerak melingkar, mengulum seluruh permukaan kepala penisnya. Sensasi luar biasa membuat pantat Dewa sedikit terangkat. Terasa hangat menutupi sekujur penis Dewa ketika lidah Wedi terus menjilati permukaan kulitnya.

Jepitan erat bibir Wedi semakin turun ke arah bulu-bulu kemaluannya. Penis Dewa semakin berdenyut. Ujung penisnya menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan Wedi. Lalu perlahan-lahan Wedi mulai menaik-turunkan kepalanya mengulum kemaluan Dewa, sambil sesekali menggunakan giginya untuk menyentuh penis Dewa — hal ini membuat Dewa meringis kenikmatan. Dia memegang kepala Wedi untuk membantu dan mempercepat gerakannya.

Tak lama berselang, "Cret... cret... cret... cret... cret..." — beberapa kali Dewa mengeluarkan maninya. Dia melakukannya sambil memajukan pantatnya dan menekan kepala Wedi ke selangkangannya, membuat Wedi harus menerima semua air mani yang dikeluarkan Dewa. Ditelannya seluruh air mani Dewa tanpa disisakan setetes pun.

Wedi sambil tersenyum manis rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang, mempertontonkan seluruh tubuhnya ke arah Dewa. Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. Kedua putingnya yang kecil berwarna cokelat kemerahan mengacung ke atas seolah menantang. Begitu pula perutnya, masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak.

"Uoogh..." tanpa terasa mulut Dewa mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar. Seumur hidupnya baru kali ini dia menyaksikan alat kemaluan wanita. Belahan bibir kemaluannya yang sangat putih mulus, walau sedikit kecokelatan, terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil. Bibir luarnya masih terbuka seakan memanggil-manggil Dewa untuk kembali menikmati.

Melihat hal itu membuat penis Dewa tetap tegang. Dia ingin sekali memasukkan kemaluannya ke lubang vagina yang ada di depannya, merasakan jepitan dan pijatannya. Jelas sekali Dewa melihat vagina itu berdenyut-denyut. "Terbayang betapa nikmatnya jika penisku bisa masuk ke situ," guman Dewa dalam hatinya. Tapi dia tidak tahu batas permainan Wedi — apakah hanya sebatas mencapai orgasme atau bisa sampai coitus total. Dewa tetap diam sambil menikmati pemandangan yang baru pertama kali dia lihat itu.

Keberanian Dewa mulai timbul ketika dilihatnya Wedi tersenyum padanya dan membuka kakinya lebih lebar. Terlihat bagian dalam vagina yang merah dan basah. Dewa mendekat ke arah bukit itu pelan-pelan sekali sambil memperhatikan reaksi Wedi. Terlihat Wedi diam saja, bahkan tangannya terlihat menyambut kedatangan kepala Dewa. Seperti mendapat izin, Dewa mencium lembut bibir kemaluan itu, dijilati ujungnya, dan diputar-putarkan lidahnya. Terkadang dimasukkan lidahnya ke dalam rongga vagina hingga membuat rongga itu semakin berdenyut-denyut. Hal ini membuat nafsu Dewa semakin memuncak. Dewa lalu menaikkan badannya. Wajahnya mendekati wajah Wedi, dilihatnya wanita itu tersenyum.

"Wed, bolehkah aku melakukannya?" tanya Dewa.

Wedi mengangguk sambil membelai lembut rambut Dewa dan menggigit bibirnya sendiri.

Mereka berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Batang penis Dewa yang berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit kemaluan Wedi yang halus dan sangat empuk.

Perlahan Dewa membuka kedua belah paha Wedi. Vaginanya terlihat membuka dan makin menggoda. Dengan lembut Dewa menyentuhkan dan menyelipkan penisnya ke dalam bibir kemaluan Wedi yang basah. Dewa berhenti sejenak ketika kepala penisnya masuk seperempat — dia memejamkan mata menahan nikmatnya perasaan saat itu. Luar biasa rasanya ketika kepala penisnya menggesek bibir minora vagina Wedi. Wedi mungkin mengira seluruh batang penis itu ingin memasuki liang vaginanya, karena begitu kepala penis menyelip di antara bibir kemaluannya, dia langsung membuka kedua pahanya lebar-lebar. Dewa merasakan betapa halus kulit kedua belah pahanya yang langsung mengapit pinggangnya dengan lembut.

"Lagi, Wa, masukin lagi!" Wedi merengek ketika mengetahui Dewa menahan gerakannya.

Dewa yang masih baru dalam bercinta mengikuti permintaan itu. Dia terus menekan penisnya lebih dalam, perlahan-lahan, sampai akhirnya semuanya masuk.

"Ouugghh!" Dewa melenguh ketika pangkal penisnya menyentuh lubang kewanitaan Wedi. Terasa seluruh penisnya digenggam erat oleh vagina Wedi. Ujung penisnya seperti menyentuh kain-kain basah yang lembut di ujung sana. Dewa lalu memaju-mundurkan pantatnya — menarik sampai sekitar lima puluh persen panjangnya, lalu menekan lagi hingga masuk semuanya. Dia terus melakukan itu, dan kini mulai berani mengocok agak keras dan cepat.

Tiba-tiba, "Oougghh... oh... oh... oh... oh..." Wedi menjerit-jerit.

Dewa mengisi ruang baru yang tak tersentuh sebelumnya. Sangat terasa sumpalannya — kokoh, kuat, bertenaga. Fantastis! Hampir semua permukaan penis Dewa yang panjang itu bagai membelai seluruh permukaan dalam vaginanya.

"Ough, terus, Wa!" Wedi menggelinjang-gelinjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lubang vagina Wedi semakin basah dan meremas-remas batang kemaluan Dewa. "Uhh... hu... hu... huu..." terdengar suara Wedi seperti merintih, menahan nikmatnya sodokan penis Dewa. Wedi makin membuka kakinya — ditariknya kakinya ke atas sehingga lututnya menyentuh dadanya, membuat Dewa makin leluasa.

"Waa, udah, Waa, aku udah dapat!" teriak Wedi ketika merasakan orgasme. Rongga kewanitaannya menjadi lebih berdenyut, seperti menggigit lembut penis Dewa. Wedi menaikkan pantatnya agar penis Dewa makin dalam mengisi vaginanya.

"Ouughh... Wa... hiks... hiks... hu... hu..." Wedi kembali merintih kenikmatan. Kedua tangannya meremas-remas pundak Dewa. Pada saat Wedi mencapai orgasme, Dewa tiba-tiba merenggut pantat Wedi dan mencengkeramnya. Dihentak-hentakkan pantatnya ke bawah — hal ini membuat gesekan antara penis dan rongga vagina makin cepat. Dewa terus melakukannya hingga pada hentakan terakhir ditekannya pantat lama sekali ke bawah.

Tiba-tiba Wedi merasakan senjata Dewa semakin besar, dan Dewa mendesis-desis lalu berteriak. Vagina Wedi terasa semakin penuh. Dewa mencapai orgasmenya, dibarengi dengan semburan cairan kewanitaan Wedi tanda pengakuan akan kenikmatan yang diberikan Dewa. "Seerr..." Wedi merasakan ada tembakan hangat di dalam rahimnya — lembut dan mesra. Semprotannya kencang sekali, berkali-kali, kira-kira tujuh atau delapan tembakan. Badan Dewa mengejang, lalu lemas, lunglai, jatuh ke depan menindih Wedi. Dia mencium bibir Wedi dan mengucapkan terima kasih. Wedi mencium balik. Mereka berpagutan beberapa saat. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya