18px

Habis Ngintip Malah Diajak Begituan

Habis Ngintip Malah Diajak Begituan

Awalnya aku juga tidak ingin menceritakan pengalaman seks ini kepada pembaca dewasa karena aku takut menyinggung perasaan suaminya — kali saja dia membaca ini. Tapi dalam cerita ini aku samarkan namanya.

Perkenalkan, namaku Boby, umurku 20 tahun. Aku tinggal di kota Medan. Pengalamanku ini terjadi satu tahun yang lalu, yaitu dengan sepasang suami istri yang baru pindahan dan baru saja menikah. Sebagai warga lama, aku menghampiri dan berkenalan dengan mereka. Jarak rumahku dan rumahnya kira-kira sepuluh meter.

Kuketahui ternyata suaminya bernama Rudy dan istrinya bernama Desi. Bang Rudy seorang pegawai BUMN dan baru berusia 30 tahun, sedangkan istrinya Desi berusia 23 tahun.

Aku juga tertarik pada Desi karena selain cantik, dia juga seksi. Kulitnya putih bersih dan pantatnya sangat merangsang. Semenjak kepindahan mereka ke lingkungan kami, banyak anak muda — teman-temanku — tertarik pada Desi. Bahkan kami sering bersama-sama mengintip Desi bila sedang mandi.

Suatu malam, tepatnya malam Minggu. Aku keluar seperti biasanya, nongkrong di kios langganan kami. Tapi tak seorang pun temanku yang tampak. Aku duduk sendirian sampai jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Tiba-tiba timbul niat isengku untuk mengintip Desi. "Kira-kira lagi ngapain ya…" pikirku. Aku lalu bergerak menuju rumah Desi. Kupanjat batu yang ada tepat di samping kamar Desi, lalu kuintip. Serr… darahku bergolak. Kulihat Desi dan suaminya sedang bercinta.

Tangan suaminya menjelajah ke setiap lekuk tubuh Desi. Desi hanya pasrah menikmati permainan suaminya. Tiba-tiba Desi berbalik badan dan suaminya langsung memasukkan penisnya ke lubang pantat Desi.

Baru tiga kali goyangan, kulihat Bang Rudy sudah lemas. Aku terus memperhatikannya. Kulihat Bang Rudy mulai tertidur. Desi bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.

Aku lalu bergerak ke arah kamar mandi dan mengintip dari lubang yang kami persiapkan untuk mengintip Desi mandi. Kulihat Desi menangis sambil menutup wajahnya.

Lalu dia membersihkan tubuhnya dan pergi tidur. Kejadian ini tidak kuberitahu kepada teman-temanku. Aku langsung pulang dan tidur.

Esoknya, sepulang kuliah aku ke rumah Desi untuk menanyakan kejadian tadi malam. Kalau menurut pendapatku, Desi pasti perlu teman curhat.

Aku mengetuk pintu rumahnya, dan Desi keluar dengan pakaian rumahnya — celana pendek dan kaos oblong ketat.

"Eh… kamu, ayo masuk," ujarnya. Aku lalu masuk.

"Ada apa ya?" tanyanya.

"Egh… sorry nih ganggu!" jawabku sambil mataku menatap mulusnya paha Desi. "Ada yang mau kutanya… tapi jangan marah ya!"

"Tadi malam… aku mendengar kamu nangis. Ada apa?" tanyaku spontan.

Desi hanya diam dan wajahnya tampak sedih. Lalu dia menjelaskan semuanya, bahwa Bang Rudy seorang gay yang tidak bisa memuaskan wanita, termasuk Desi. Kalau bercinta, Bang Rudy hanya mau main belakang. Sedangkan lubang surga Desi tidak pernah dijamah. Bahkan Desi masih perawan tulen.

Yang seharusnya keperawanannya diserahkan pada suami tercinta, ternyata sia-sia. Aku kasihan mendengarnya, dan terus terang aku mau melayani Desi dan menuntaskan hasratnya. Aku lalu mendekati Desi.

"Aku bisa membantu kamu…" ujarku.

Dia hanya diam saja. Lalu dia menutup pintu dan menarikku ke kamar.

"Hari ini… kuberikan keperawananku, tapi aku harus puas!" ujarnya.

Aku lalu memeluknya dan melumat bibirnya. Kubaringkan tubuh Desi ke ranjang dan kulucuti pakaiannya.

Kuremas dan kujilati payudaranya. "Ooo… ssstt… terus…" desahnya. Aku lalu menjilati perutnya sampai ke selangkangannya, dan kujilati memeknya.

"Ooohhh… nikmat… ahhh… ohh…" Nafasnya mulai tidak karuan. Kumainkan puting payudaranya hingga dia kegelian.

"Aahh… geli, Mas," katanya.

Aku lalu membuka celanaku dan langsung menusukkan penisku ke vaginanya.

"Aww… sakit…!" jeritnya. Aku memasukkannya pelan-pelan dan bless — masuk penisku ke vaginanya, bersamaan keluar darah yang menetes dari dalam vaginanya. Kupompa pelan-pelan maju mundur. "Ahh… ohh… agh…" Desi menjerit kecil keenakan.

Penisku benar-benar nikmat sekali dijepit otot vagina Desi yang masih perawan. Aku terus bergoyang dan kudengar Desi mengerang panjang tanda dia orgasme. "Ahhhh… ahhh…" lenguhnya. Aku terus bergoyang.

Dan kurasakan penisku mau meletus. Lalu kucabut penisku dan kugesek di bibir vaginanya. Crot… crot… crot… kusemburkan spermaku di atas perut Desi.

"Makasih, Bob…" ujar Desi puas.

"Iya… aku juga, karena kamu udah kasih keperawanan kamu," ujarku.

Kami lalu ngentot lagi sampai empat kali. Aku benar-benar capek dan puas. Tapi tidak masalah — yang penting Desi puas dan aku juga. Aku mengajari dia berbagai macam gaya. Dia sangat puas atas pelayananku.

Aku pun menyuruhnya agar mau mengisap penisku sebagai pemanasan. Setelah itu aku pulang dengan wajah berseri.

Perbuatan kami tidak seorang pun yang tahu. Tapi aku selalu menyemburkan spermaku di luar rahimnya. Aku takut dia hamil, karena pasti suaminya curiga kalau dia hamil. Selama itu, Desi mulai lihai dalam permainan ranjang.

Tapi perbuatan kami hanya berlangsung empat bulan, karena Desi tidak sanggup menghadapi tingkah suaminya. Aku pun menganjurkan agar Desi minta cerai dan mencari pria lain untuk menjadi suaminya — yang bisa menjaganya dan terutama bisa menuntaskan birahinya di ranjang secara layak.

Lalu Desi dan Bang Rudy resmi bercerai. Bang Rudy lalu pindah rumah dan Desi juga pulang ke rumah orang tuanya di Jakarta. Malam perpisahan, kami habiskan di hotel berdua. Terakhir, aku dengar kabar darinya bahwa dia sudah menikah lagi dan mendapatkan suami yang sama hebatnya denganku dalam urusan ranjang.

Dia sekarang lagi hamil muda. Aku sangat merindukan kenikmatan tubuhnya yang montok. Sekarang aku bingung bila ingin menuntaskan birahiku. Kalau sama PSK, aku takut ketularan penyakit. Jadi, siapa yang bisa menjadi penyalur nafsu birahiku?

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya