18px

Happy Salma: Malam Minggu di Rumah

Happy Salma: Malam Minggu di Rumah

Sarinah menjadi tujuanku malam itu. Aku duduk di KFC yang berada di pinggiran jalan arah Thamrin, memesan makanan kesukaanku sambil antre dengan tertib. Tak terasa, banyak pemandangan gratis di sana โ€” beberapa tante cantik bersliweran dengan rewel karena malas antre. Bahkan ketika giliranku tiba, seorang tante menyelonong, tapi dicegah pegawai KFC.

"Ibu, mohon antre ya."

"Nggak mau. Saya sering beli di sini, biar pemuda itu belakangan," kata tante itu dengan sombongnya.

Aku hanya menggeleng-geleng. Akibatnya aku malah dihardik.

"Kamu mau apa?" bentak wanita itu yang ternyata pengidap emosional kelas berat. Pertengkaran kami dilerai pegawai dan seorang satpam ikut menengahi. Aku memilih diam dan tidak melayani debat tidak berguna itu โ€” walau sangat cantik, perangainya tak kusuka. Akhirnya aku dapat giliran.

Setelah itu aku mencari tempat duduk, tapi penuh. Hanya ada bangku kosong di pojok โ€” itupun harus minta izin dulu karena posisi cewek di sana menutup ke arah kursi kosong itu. Mejanya mepet ke dinding kaca.

"Mbak, boleh saya duduk di situ?" tanyaku dengan sopan. Cewek itu memakai topi dan kacamata, aku tidak mengenalnya.

"Silakan, Han," sapanya. Aku terkejut ia tahu namaku.

"Siapa ya?" tanyaku. Cewek itu berpindah ke kursi kosong sambil menggeser nampannya.

"Masak nggak kenal?" tanya baliknya, lalu melepas kacamatanya.

"Payah, sialan lu," makiku dalam senyum โ€” yang kukenal tak lain Happy Salma yang makan sendirian. Aku langsung menyalaminya.

"Nggak ada cipika-cipiki?" godaku sambil duduk.

"Enak aja, aku pacarmu apa?" balas Happy Salma dengan gemas.

Aku menjadi bergairah dan memperhatikan perbedaan penampilannya dari biasa. Tubuhnya benar-benar menggiurkan, terutama buah dadanya yang ukurannya sangat besar. Ditambah rambut panjangnya yang menambah keindahan kesintalan tubuhnya. Walau sudah berumur tiga puluh tahun, perempuan ini belum menikah. Entah masih perawan atau tidak, aku tak perduli. Untuk saat ini aku membuang pikiran ke arah sana.

"Nggak deh, cuma bercanda," kataku sambil meminum cola bercampur es.

"Gimana pekerjaanmu? Masih sibuk desain web?" tanya Happy Salma.

"Iyalah, hanya bisa hidup dari itu. Nggak punya keahlian lain, melamar ke sana-sini nggak diterima. Eh, datang tawaran tapi nggak kuterima karena nggak suka sistem kantoran."

"Ih, kamu sejak dulu sudah pintar kok," serobot Happy Salma ketika aku belum selesai bicara.

Aku mengenal Happy Salma ketika ada sebuah perusahaan yang websitenya dihack oleh peretas. Entah bagaimana pengelola website itu bisa menghubungiku untuk meminta pertimbangan keamanan. Di kantornya aku memberikan masukan dan pembenahan pada kode program yang berlubang. Dari situlah aku berkenalan dengan Happy Salma, ketika dirinya hendak membuat website pribadi.

"Main ke rumah ya. Ada banyak yang bisa kita obrolkan," ajak Happy Salma.

"Sekarang? Ngapelin dirimu?" tanyaku terkejut.

"Ah, malam Minggu sama saja. Kamu ada waktu kan?" desak Happy Salma sambil tersenyum.

"Nggak masalah, tapi jangan sampai terlalu malam. Soalnya aku banyak pekerjaan kalau weekend," kataku mencoba mengetesnya.

Jadilah kami berdua keluar dari KFC. Kami memakai mobil milik Happy Salma โ€” mobilku kutinggal karena parkirannya dua puluh empat jam.

Tak banyak yang kami obrolkan di jalan. Kami tiba di rumah Happy Salma menginjak pukul delapan malam. Gerbang dibukakan oleh pembantunya yang sudah tua.

Aku diajak masuk ke dalam rumah dan diminta menunggu di ruang tengah. Happy Salma sudah berganti pakaian yang nyaman โ€” celana pendek dan kaos oblong. Justru itu membuatku ngaceng, sampai aku menutupi selangkanganku dengan bajuku.

"Tumben kamu keluarkan bajumu. Biasanya kamu rapi."

"Ya biar lebih rileks, Sal," kataku sambil duduk di sampingnya.

Aku jadi susah konsentrasi berbicara karena buah dada Happy Salma yang besar di sebelahku sangat merangsang. Rupanya Happy Salma pun tidak tenang dalam bicara, bahkan lebih sering salah kata dibanding aku.

"Gini, Han, aku punya masalah. Bukan, ah, bukan itu. Aduh, kok susah amat ngobrol di rumah?" sungut Happy Salma sambil tertawa.

"Sama, aku juga punya masalah โ€” sedang cari pacar. Setidaknya seukuran seperti dirimu," kataku santai.

"Hah, aku? Ogah ah," tukas Happy Salma cepat.

"Enak aja, aku cuma bilang seukuran kamu."

"Emangnya kenapa sih, Han? Kok kamu juga nggak tenang?" tanya Happy Salma dengan perasaan tak karuan, bahkan keluar keringat dingin.

"Kayaknya kamu sakit, Sal."

"Nggak juga. Aku sehat kok. Tadi di KFC aku ceria banget. Kok sampai rumah jadi begini ya?" tanya Happy Salma bingung.

"Apa karena aku, Sal?" ujarku sambil meliriknya.

"Ah nggak. Aku sebenarnya senang punya teman seperti kamu."

"Coba, jadi temanmu kamu suka. Gimana kalau aku jadi pacarmu?" godaku. Happy Salma tergelak โ€” gelaknya sampai membusung sehingga buah dadanya semakin membesar. Aku memandang penuh ke arah itu sampai Happy Salma langsung menutup dadanya dengan kedua tangan.

"Ah," sungutnya.

"Gratis," timpalku cepat.

Happy Salma langsung memukul-mukuli kepalaku dengan bantal. Aku menangkis dengan mencekal tangannya. Ketika mencekal, tanganku justru malah mendarat di buah dadanya yang montok itu. Happy Salma sampai terkesiap dan diam memandangku dengan melotot. Aku pun mematung dengan tangan masih memegang buah dadanya.

Belum menyadari sepenuhnya, tanganku justru bergerak sendiri. Mata Happy Salma pelan-pelan menutup sayu. Aku semakin berani menggerakkan tangan, meremasi buah dadanya. Happy Salma menikmati remasan itu โ€” hanya sekitar sepuluh detik kemudian ia membuka matanya. Dengan cepat aku menarik bajuku yang tadi menutupi selangkanganku sehingga penisku yang besar tercetak jelas. Ketika matanya membuka, mata Happy Salma langsung terbelalak ke arah selangkanganku.

"Han," panggilnya dengan suara serak.

"Ya," kataku sambil semakin keras meremas buah dadanya.

"Hhmm. Han. Aaah," desah Happy Salma yang mulai terangsang. Aku langsung memegang tangannya dan membawanya ke selangkanganku. Tangannya bertahan kuat, tapi lama-lama dan ragu-ragu akhirnya menurut juga โ€” nemplok tepat di penisku.

Happy Salma memandang ke selangkanganku dengan melotot. Ketika tangannya sampai di batangku, ia menekan dengan pelan. Aku langsung memeluknya sehingga pegangannya pada penisku terlepas. Aku langsung menyerbu bibirnya. Namun ketika bibirku menerpa bibir Happy Salma, ia menahan kepalaku.

"Han, jangan," sergahnya. Tapi tanganku tetap ia biarkan di buah dada sebelah kirinya yang terus kuremas dengan lembut.

"Tanggung, ah," kataku dengan nakal, kembali menyerbu bibirnya. Kudorong tubuhnya hingga rebah di sofa dan langsung kutindih. Happy Salma seakan mau melawan, tapi akibat remasan tanganku pada buah dadanya, rangsangan hebat menerpa dirinya sehingga ia langsung membalas pagutanku dengan lembut.

Aku semakin nakal โ€” kulepas remasan buah dadanya dan mengelus pahanya yang mulus, naik ke atas. Kami tetap saling mengulum bibir dengan lembut. Tanganku menyusup ke dalam kaos oblongnya, naik dan menyusup ke cup bra-nya yang sesak. Kuangkat tanganku dan kuremas dengan pelan dan lembut.

"Hmmm. Sssh," desis Happy Salma dengan suara kecil.

Kami berdua semakin terangsang. Tangan Happy Salma kini dengan nakal sudah memegang selangkanganku, meremas, lalu tersenyum padaku ketika kami melepas pagutan.

"Mau lanjut, Sal?" tanyaku.

"Hmmm," jawabnya tidak jelas. Aku menaikan tanganku sampai pundaknya dan menarik tali bra-nya ke lengannya โ€” susah karena ada kaos oblong, tapi kaosnya cukup longgar sehingga tali bra bisa melorot. Aku menurunkan tanganku dan menaikan cup bra-nya, lalu meremas buah dadanya dengan lembut. Putingnya lancip, pertanda belum pernah menyusui. Habis itu aku langsung menaikan kaosnya.

"Oooh, Han. Aaah. Terus, Han. Beri aku kenikmatan," pinta Happy Salma sambil menahan kepalaku ketika kami dengan sangat rakus saling melumat.

Luar biasa Happy Salma dalam posisi telanjang โ€” aku sendiri masih merasa tak percaya bisa menyaksikan tubuh telanjangnya. Tangan Happy Salma seperti tidak mau melepaskan penisku yang besar, demikian pula tanganku yang bergantian meremas buah dadanya kanan-kiri. Tubuh kami sudah terbakar asmara birahi. Mata sayu Happy Salma mengundangku untuk memberikan kepuasan batin.

Aku kemudian tiduran di sampingnya, mengelus-elus paha berisi milik Happy Salma.

"Sal, kamu nggak keberatan kan kalau kita bercinta dengan suka sama suka?"

"Nggak donk. Aku juga sudah lama mengagumimu, dan sudah lama tak bercinta," jawab Happy Salma dengan tersenyum, mendesis karena gerakan tanganku menuju daerah paling sensitifnya.

"Aku boleh keluarin air maniku di dalam?" tanyaku sambil memandangnya penuh kemesraan.

"Boleh. Kalau aku hamil, kamu harus tanggung jawab. Tapi karena aku sedang tidak subur, kemungkinan hamil kecil. Segera dong," ajak Happy Salma sambil tersenyum, masih memegang penisku dan memermainkannya dengan jari-jarinya.

"Sekarang, yuk. Kamu oral penisku dulu. Aku ingin merasakan kuluman bibirmu โ€” cepat, sayang. Penisku akan membuatmu terpuaskan. Nanti gantian aku oral tempekmu," kataku dengan tertawa kecil sambil disambut kocokan nakal tangan Happy Salma. Ia ikut tertawa nakal.

Tak terasa aku juga tak tahan dengan kesintalan dan kemontokan Happy Salma. Dengan penuh kemesraan kami kembali memeluk erat dan saling memagut di bibir. Bibir seksi Happy Salma terasa manis โ€” aku menikmati setiap mili bibirnya. Kami berpagut terus dengan disertai rintihan, desahan, dan erangan bersahutan.

"Ough. Han. Hhss," lenguh Happy Salma ketika kami saling memagut. Tanganku menyusuri tubuhnya dan berhenti di buah dadanya yang sangat menantang. Kurasakan kemontokan dan kekenyalannya โ€” setiap kuremas, desah nafas Happy Salma menaik cepat. Terkadang ketika aku mempermainkan putingnya, tubuh Happy Salma melengkung ke atas sehingga buah dadanya semakin keras kuremas sesukaku. Aku menindih tubuh penuh keringat itu. Kakinya menjepit pinggangku erat, tangannya memeluk punggungku, matanya merem-melek keenakan.

"Luar biasa buah dadamu, Sal. Aku suka dengan kemontokan tubuhmu," pujiku sambil mengulum putingnya. Kedua tangan Happy Salma langsung memegang kepalaku dan menekannya keras.

"Sedot. Aaah. Han, sayang. Puasi aku. Hhs. Terus, Han," lenguhnya bertubi-tubi. Happy Salma langsung menarik kepalaku dan melumatku dengan sangat rakus. Kami terbakar nafsu tak terkendali. Happy Salma mulai bersikap sangat agresif โ€” memelukku dan menggulingkan aku sehingga kini ia menindihku. Ia menaikan badannya dan duduk di atas pahaku. Aku merasakan keempukan pantatnya.

"Besar kan buah dadaku, sayang?" tanya Happy Salma sambil tersenyum. Aku mengangkat tanganku, ia memegangnya dan membawanya ke buah dadanya.

"Remes, sayang. Aku sudah menjadi milikmu. Aku ingin menikmati kontolmu ini," tukas Happy Salma sambil menggenggam batangku dan mengocoknya pelan-pelan, lalu tangannya turun memegang buah zakarku. Matanya berbinar dan tersenyum padaku.

"Rasakan kontolku, Salma. Berhappy-happylah dengan kontolku," godaku sambil meremas buah dadanya.

"Kamu duduk saja โ€” pastilah ketika aku berhappy dengan kontolmu, kamu pasti mau meremas buah dada dan pantatku. Hhmm. Goda juga tempekku ya, sayang," ajak Happy Salma sambil beringsut mundur.

Aku membuka pahaku dan mengangkat tubuhku sampai terduduk, menggeser bantal untuk menyanggaku. Pelan-pelan Happy Salma membungkuk sambil memegang batangku. Lidahnya langsung menjulur menjilati batangku dengan rakus, naik-turun berulang-ulang bak sudah sangat lama tidak disetubuhi. Buah pelirku pun tidak luput dari sapuan lidahnya.

Aku merapikan rambut panjang Happy Salma dengan tanganku, kusampirkan ke samping kepalanya, lalu aku meremas buah dadanya yang menggelantung sangat indah. Dengan hanya meremas-remas buah dadanya, desahan Happy Salma semakin menjadi ketika sedang menjilati batangku.

Tak berapa lama Happy Salma langsung menelan penisku bulat-bulat dan mulai menggerak-gerakkan kepalanya. Penisku tersedot habis dengan sangat rakus oleh Happy Salma.

"Auh. Enak sekali, Sal," desasku nikmat.

Tanganku masih meremas buah dadanya โ€” setiap kuremas, Happy Salma melenguh pelan dalam kulumannya pada penisku. Tangan kananku bergerak ke pantatnya yang menonjol dan sangat indah. Dengan mengelus-elus pantatnya itu, Happy Salma menjadi semakin bernafsu mengulum penisku hingga pipinya menggembung.

Dengan sangat puas mengulum penisku itu, Happy Salma melepaskan kulumannya.

"Giliran aku sekarang," ujarku dan aku pun menggantikan posisi Happy Salma. Iapun sangat antusias memberikan vaginanya dan berbaring telentang mengangkang.

Aku langsung menyerbu vagina Happy Salma โ€” menjilatinya naik-turun hingga ia hanya bisa mendesis dan melenguh, kepalanya oleng tak tentu arah. Kumasukkan lidahku ke dalam lubangnya yang sudah becek dan semakin melebar. Kujepitkan kepala di antara pahanya sementara tanganku bekerja di dadanya yang membusung. Lenguhan Happy Salma membahana di kamar itu.

"Terus. Oh, Han, sayang. Terus. Aku, aaaku. Oh, Haaan," teriak Happy Salma dengan tubuhnya montang-manting melawan aksiku. Tangannya meremas sprei, melepas, kembali meremas โ€” matanya merem-melek keenakan.

"Aku nggak tahan, Han. Teruskan. Oh, aku, aku..." ujar Happy Salma terputus ketika memuncratkan air orgasmenya, lalu langsung mengelepar. Tubuhnya mengejan dan berkelojotan. Kubiarkan dia menikmati orgasme, lalu aku merapat ke tubuhnya dan mengarahkan penisku ke lubangnya.

Pelan-pelan kumaju-mundurkan penisku agar bisa masuk lebih dalam. Penisku akhirnya amblas masuk sampai pangkalnya.

"Aaaaaaauuuuuhhhh!"

Langsung kumaju-mundurkan penisku menghujam. Jepitan vaginanya sangat keras. Terasa sangat panas dan nikmat.

Tubuh kami sudah bermandi keringat. Aku menindih Happy Salma, memberikan lumatan di bibirnya sambil naik-turun di atasnya. Tangan kananku bekerja di buah dadanya yang bergoyang mengikuti setiap sodokanku. Happy Salma sangat kepayahan melayani serbuanku dan hanya bisa memelukku.

"Han. Oh. Aku suka gayamu yang membabi buta," kata Happy Salma dengan gemas sambil menggigit bibirnya. Kukejar bibir itu dan kumasukkan dalam kulumanku.

Menit demi menit kami saling memilin, memagut, mengulum โ€” batang penisku keluar-masuk vaginanya. Rambut Happy Salma berantakan tak karuan.

"Han, aku mau sampai," pekiknya sambil menjepit pinggangku lebih keras.

"Iya, sama. Ayo, kita keluar bareng, sayang," kataku sambil terus menggenjot lebih cepat dan keras. Sudah lebih dari sepuluh menit kami saling berpacu dalam birahi. Kami saling tersenyum penuh arti.

"Aku sampai. Aaah," lenguhku keras.

"Iya," jawab Happy Salma. Kugenjot lebih keras โ€” Happy Salma mendongak merasakan sodokanku yang mantap, kakinya dirapatkan lebih erat sehingga batangku terasa dijepit semakin kuat.

"Han, nggaak," pekik Happy Salma sambil menegang kaku, mengucurkan cairan beningnya. Aku langsung menghujamkan batangku berulang-ulang dengan keras. Tubuh Happy Salma berkelojotan โ€” ia mendahuluiku mencapai puncak. Aku tidak kuat lagi, kupercepat sodokanku.

"Han, ampun, aaah," ucap Happy Salma dengan suara melemah.

Namun aku terus menggenjotnya. Batangku semakin licin keluar-masuk karena kucuran cairan bening itu. Aku tidak tahan lagi โ€” aku mendapatkan orgasme kemudian, menegang kaku, menyemburkan air maniku ke dalam vagina Happy Salma. Aku sampai berkelojotan dan jatuh menindih Happy Salma. Tubuhku langsung dipeluk erat olehnya. Nafasku serasa hancur. Dibelainya aku dengan penuh cinta.

"Terima kasih, Han. Nikmat kan tempek Tante Salma?" tanya Happy Salma sambil tersenyum.

Aku tak menjawab, hanya menikmati sisa-sisa orgasme. Tak terasa kami sudah sangat capek bercinta.

"Biarkan kontolmu di dalam saja ya. Sini, aku kelonin kamu. Malam ini kamu tidur di sini saja. Makasih, sayang, sudah mau memuaskan aku," ucap Happy Salma sambil menciumi kepalaku. Kuperat pelukanku padanya.

"Jangan lupa lusa ya," ujar Happy Salma mengingatkan.

"Terima kasih juga sudah bisa menikmati legitnya tempekmu, sayang," ucapku sebagai kata terakhir sambil mencoba rileks dan merasakan sisa-sisa kepuasan birahi bersama Happy Salma.

Kami berdua akhirnya tidur bersamaan. Nikmat rasanya bisa bercinta dengan Happy Salma โ€” kepuasan tiada taranya.

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’