18px

Hasrat Terlarang Bersama Tante Olivia

Hasrat Terlarang Bersama Tante Olivia

Perjalanan mimpiku memang tak pernah berhenti di satu kisah saja, namun selalu berlanjut dan berlanjut. Warna hidupku ini memang tak pernah lepas dari bayang-bayang. Mungkin sudah ditakdirkan bahwa hidupku selalu berlumpur dengan hal-hal yang akan aku tuturkan kali ini, dan kisah itu tak pernah jauh dari yang berikut ini.

Sejak SMA aku menyadari bahwa aku seorang yang hiperseks—keinginanku untuk bercinta selalu timbul hampir setiap saat, apalagi jika melihat pemandangan yang ada di jalan-jalan kota Pontianak. Aku hampir tidak bisa menahan nafsu dan biasanya segera pulang karena tidak punya penyaluran. Sampai pada akhirnya teman aku menganjurkan untuk ikut gym, sekadar latihan bench press untuk meredam gairah yang menggebu ini. Namun bukannya menjadi lebih tenang, di sana nafsu saya malah semakin bergejolak.

Aku pun berkenalan dengan seorang wanita yang berumur kira-kira tiga puluh tahun. Aku memanggilnya Tante Olivia Zalianty—atau Tante Olivia saja. Karena sama-sama baru, kami selalu latihan bersama. Saya sangat senang memperhatikan lekuk-lekuk tubuhnya saat dia latihan. Memang, walaupun sudah setengah baya, tubuhnya benar-benar seksi karena dia rajin berolahraga. Yang paling menarik bagi saya adalah buah dadanya—kutaksir ukurannya kira-kira 36B. Benar-benar bikin ngiler kalau dipakai baju senam; saking besarnya, seakan-akan payudaranya itu mau meloncat keluar. Belum lagi kalau memperhatikan mukanya yang mulus—pasti bikin aku langsung ereksi walau pun dia berpakaian lengkap.

Seringkali habis latihan dia mengajak saya untuk main ke rumahnya, namun saya selalu menolak karena sedang bersama teman. Hingga pada suatu hari teman saya tidak latihan dan ketika Tante Olivia mengajak saya ke rumahnya, saya sama sekali tidak menolak. Langsung saja setelah latihan selesai kami menuju ke rumahnya di kawasan Parit Haji Husin II yang terkenal sebagai kawasan elite. Sesampai di rumahnya, saya sangat tertegun melihat rumah yang sangat besar dan mewah itu. Namun Tante Olivia hanya tinggal berdua dengan pembantunya yang sudah tua. Dia bercerita bahwa suaminya bekerja di Malaysia dan pulang ke sini paling-paling hanya lima bulan sekali, sehingga dia sangat kesepian.

Mendengar ceritanya, langsung saja saya berpikiran macam-macam. Saya ingin sekali memberikan kepuasan pada Tante yang kesepian ini, tapi tidak tahu harus bagaimana memulainya.

Selama di rumahnya saya hanya terdiam sambil menikmati pemandangan tubuhnya yang seksi, hingga suatu ketika dia minta izin untuk mandi dulu.

"Roni, Tante mau mandi dulu ya. Kamu tunggu sebentar di sini ya," kata Tante Olivia. Saya pun menimpalinya dengan iseng.

"Kok saya nggak diajak mandi, Tante? Kalau kita latihan bareng, kenapa mandi nggak bareng juga?"

Lalu tanpa disangka-sangka Tante Olivia menjawab dengan jawaban yang sangat mengejutkan.

"Oohh, jadi kamu mau mandi bareng Tante? Boleh aja, kenapa nggak? Tante juga seneng kok kalau mandinya ditemenin sama kamu."

Jantung saya langsung berdebar keras mendengar jawabannya. Kupikir isengku ini tak ada gunanya—eh, malahan dapat rejeki nomplok!

Langsung saja saya menarik tangan Tante Olivia ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Di dalam kamar mandi, Tante Olivia berubah menjadi wanita yang sangat agresif. Dia langsung melepas baju saya dan kemudian memelorotkan celana panjang saya beserta celana dalamnya. Kontolku yang dari tadi tertahan oleh celana dalamku langsung mendongak keluar. Kulihat tampaknya dia takjub melihatnya—dia menelan ludah berkali-kali. Dia lalu berjongkok di hadapanku, mulai menggenggamnya dan menjilatinya dengan bernafsu. Napasnya mulai memburu. Sesekali dia menjilati dan sesekali mengemotnya di dalam mulutnya. Nikmat sekali kurasakan saat Tante Olivia memainkan lidahnya pada kontolku.

"Ohhhh... ouhh... enak, Tante... oughhh..." Aku mendesah kenikmatan sambil meremas-remas rambut Tante Olivia. Kepalanya maju mundur sambil mulutnya menghisap kontolku dengan kuatnya. Sesekali dia melepaskan mulutnya lalu menggunakan genggaman tangannya untuk mengocok batang penisku.

Aku merasakan diriku seperti sedang bersama seorang wanita yang ahli. Diam-diam aku kagum oleh keterampilan Tante Olivia dalam memainkan penis lelaki—sampai-sampai baru beberapa menit aku sudah mau keluar. Tante Olivia membuatku tidak sanggup bertahan lama. Sekonyong-konyong aku merasakan ada desakan dari dalam penisku yang ingin muncrat keluar.

"Enak, Tante... teruskan, Tante... ougghhhh... aku mau keluar, oughhh..."

Tante Olivia pun mempercepat kocokannya, dan ketika dia sedang mengocok batang pelirku, tiba-tiba saja dari mulut kontolku menyemprot cairan putih kental—membasahi mukanya dan sebagian menyemprot rambutnya.

"Criit... creet... cruut..."

Tante Olivia langsung membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung cairan spermaku yang masih tersisa. Setelah habis, dia lalu menjilati sisa-sisa spermaku yang masih menempel di ujung kontolku dengan ujung lidahnya.

"Hemm, sperma kamu enak. Tante mau deh tiap malem minum sperma kamu. Biarin deh Tante nggak usah makan malam!" kata Tante Olivia sambil bercanda.

Dia lalu segera bangkit, memeluk tubuhku, dan kami pun saling berciuman. Masih terasa sisa-sisa spermaku di mulutnya—baunya membuat kami semakin terangsang. Sambil kami berciuman dengan ganasnya, tanganku mulai bergerilya ke belakang tubuhnya. Kurasakan tubuh montok itu kini berada dalam dekapanku. Tanganku pun mulai menyelinap ke balik bajunya, kuraba-raba punggungnya yang halus, kemudian tanganku melepas kancing roknya yang berada di bawah punggungnya. Sret—jatuhlah rok yang menutupi paha yang mulus itu.

Kini paha Tante Olivia dapat terlihat jelas olehku—begitu putih dan halusnya, membuat gairahku semakin menggila. Aku pun langsung melepas baju atasnya dan melemparnya jauh-jauh. Kini tubuh Tante Olivia hanya tertutup pakaian dalam saja. Kubelai-belai tubuhnya yang merangsang itu. Tante Olivia pun mendesah saat mulai kumainkan buah dadanya dari balik BH-nya. Ukuran teteknya benar-benar minta ampun besarnya—berkali-kali aku menelan ludah saat membayangkan apa yang ada di balik BH-nya. Dengan tidak sabar tanganku meraih ke punggungnya dan kulepas pengait BH-nya. Saat itu pula teteknya yang menggairahkan dapat terlihat jelas olehku. Putingnya yang berwarna coklat tua itu tampak tegang saat kupermainkan. Bersamaan dengan kupelintir kedua putingnya, Tante Olivia menjerit agak keras—mukanya pun langsung memerah dan napasnya menjadi lebih keras dan cepat. Rupanya dia menjadi semakin terangsang. Kontan saja aku pun semakin menjadi-jadi memainkan puting susunya. Sesekali kugelitik dengan ujung lidahku, dan hal ini membuat dia semakin meronta-ronta kenikmatan.

"Hgghh... oohhh, Roniii... szzhhhss... oughhh..." Desah Tante Olivia semakin liar saat kukulum puting kirinya, sementara tanganku memuntir puting kanannya. Tante Olivia semakin menggelinjang kenikmatan, pinggulnya bergerak menggesek-gesek badanku. Kurasakan celana dalamnya sudah sangat basah oleh lendir vaginanya. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk segera dimasuki, namun aku masih ingin merangsangnya dulu sampai dia benar-benar tak tahan.

Semakin lama, desahan Tante Olivia semakin keras dan dia meminta untuk segera dimasuki. Sepertinya dia sudah terangsang hebat. Tangannya pun kembali meremas-remas penisku yang sudah tegak lagi.

"Roniii... uhhh... shhsss... uhhh..."

Akhirnya aku pun menariknya ke bathtub dan membaringkannya, lalu perlahan-lahan menarik celana dalamnya hingga memek Tante Olivia tersibak. Kini dia dalam keadaan telanjang bulat. Bulu jembutnya hitam gelap dan menutupi hampir seluruh bagian kemaluannya.

"Tante udah nggak tahan nih, pengen nyobain kontol kamu. Cepet dong, masukin," pintanya.

Sambil meregangkan kedua kakinya sehingga aku dapat melihat dengan jelas bibir kemaluannya yang merah menganga dan tampak sembab, aku lalu mengambil shower dan memasangnya pada semprotan yang paling deras, lalu kuarahkan shower itu pada memek Tante Olivia.

"Ahhh... enak... ohfhhhhh... ssshhsss... ouffhh... Roniiii... ouff..."

Desahan Tante Olivia berkali-kali. Tangannya mencengkeram kuat pinggiran bathtub. Kudekatkan shower itu ke memek Tante Olivia—dia pun semakin menggelinjang, pinggulnya bergerak semakin liar. Kontolku semakin tegang mendengar rintihannya.

Akhirnya aku pun bergerak untuk memasuki tubuh Tante Olivia. Perlahan-lahan kudekatkan moncong penisku, lalu kudorong dengan mantap—"Blessk... sleppp"—akhirnya penisku yang panjangnya kira-kira 17 cm menusuk masuk hingga ke dasar memek Tante Olivia.

"Oufhhhh... sshhhhsss... shsss..."

Rintih Tante Olivia menahan nikmat yang amat sangat. Pinggulnya secara refleks bergerak naik seakan-akan menyambut serangan penisku. Lalu serentak kugerakkan penisku maju mundur sambil kuangkat kaki Tante Olivia tinggi-tinggi sehingga mulut vaginanya menghadap langsung ke arahku.

Semakin lama kugerakkan penisku, rintihan Tante Olivia semakin keras. Sesekali kuputar pinggulku untuk menambah rangsangan, dan Tante Olivia pun merespons goyangan ku dengan goyangan pinggulnya yang sekal dan padat. Sambil kukocok memeknya dengan penisku, tanganku pun tidak tinggal diam—kuremas-remas teteknya yang gembung berisi. Terasa nikmat sekali baginya. Kuperhatikan wajah Tante Olivia dalam keadaan yang sangat terangsang—romannya memerah padam, matanya pun setengah terkatup, sedangkan napasnya tersengal-sengal.

"Ssshhhsss... sshhhsss... ohh, Roniii... kontolmu enak... sshsss... hfffhh..."

Desah Tante Olivia tak karuan. Kira-kira 10 menit kontolku berada dalam memek Tante Olivia. Dia semakin mempercepat goyangan, desahannya pun semakin tak karuan.

"Roniii... Tantee... ouffhhh... mau keluar... ohhhh... ahh, Roniii... hhgghhhh... ohhh..."

Tiba-tiba saja tubuh Tante Olivia mengejang. Kurasakan penisku seakan-akan dijepit oleh dinding memeknya yang tebal. Rupanya Tante Olivia orgasme. Beberapa saat kemudian tubuhnya kembali melemas, napasnya terdengar ngos-ngosan. Belum sempat dia menarik napas, aku lalu mencabut penisku dari liang memeknya. Dengan keadaan masih basah kuyup, kuangkat tubuhnya yang lemas itu ke kamar tidur dan kubaringkan di ranjang.

Tanpa basa-basi lagi aku lalu berjongkok di hadapan selangkangan Tante Olivia dan kujulurkan lidahku ke klitorisnya.

"Ouhhh, Roniii... apa yang kamu lakukan... ohhhh... sshhhss..." desah Tante Olivia dalam sisa orgasmenya.

Namun aku terus saja menjilati bibir memek yang merangsang birahiku itu, tak peduli walaupun dia baru selesai orgasme. Beberapa saat setelah kujilati memeknya, tampak Tante Olivia mulai terangsang kembali. Kelentit Tante Olivia mulai mengeras dan lendirnya pun semakin banyak. Sesekali kurangsang klitorisnya dengan batang hidungku yang kugerakkan kiri dan kanan—hal ini membuat Tante Olivia menggelinjangkan tubuhnya bagai cacing kepanasan.

"Ouhhh... hffffhhh... fhhhh... ohhhh..."

Desahnya berulang-ulang. "Roni, Tante pengen kontol kamu. Roniii, tolong masukin... sssshhhhsss... ohhh..."

Tante Olivia kembali terangsang lagi. Lalu kulepaskan lidahku dan berbisik kepadanya, memintanya melakukan posisi menungging. Tante Olivia pun tersenyum sambil beranjak untuk nungging. Aku memperhatikan pinggulnya yang montok dan padat dari belakang—berkali-kali aku memuji keindahannya di dalam hatiku—sampai-sampai Tante Olivia berkata:

"Roni, kamu mau ngentot apa cuma nonton aja? Ayo dong, masukin kontol kamu."

Aku langsung tersadar untuk segera menyetubuhinya. Kudorongkan kontolku ke memeknya—agak tertahan ketika di bibir memeknya—lalu pelan-pelan kudorong pinggulku dengan kuat.

"Blessskkk..." Suara memeknya saat kumasuki dengan batang penisku. Kemudian kugerakkan pantatku maju mundur. Tante Olivia menjawabnya dengan rintihan-rintihan yang merangsang.

"Hhgghh... fhhh... hgggghhhh... ofhhhh... ufhhh..."

Setiap kudorongkan kontolku, rintihannya menjadi semakin keras. Aku pun semakin bersemangat menggoyangkan pinggulku sambil tanganku membelai-belai pantatnya yang putih bersih. Sesekali tanganku beralih ke depan, ke teteknya yang tergantung bebas di dadanya. "Slap... slapp..."—bunyi pahaku yang bertabrakan dengan pantatnya. Suara itu seakan-akan menyemangati kami dalam persetubuhan ini.

Tak berapa lama, Tante Olivia mendesah semakin keras—rupanya dia hampir mencapai orgasme lagi. Langsung saja kupercepat goyangan.

"Ufhhh... fhhh... ohhhghhh... ayo, Tante mau keluar lagi... ohhhhh... sedap sekali... hghhhh..."

Tante Olivia pun akhirnya tumbang dengan tubuh yang lemas setelah mengalami orgasme untuk yang kedua kalinya. Napasnya tersengal-sengal. Dari senyumnya terlihat kepuasan yang amat sangat.

Aku tak sempat lagi untuk menumpahkan spermaku di dalam memeknya karena dia ambruk duluan. Akhirnya aku menaruh kontolku di lembah antara teteknya—karena ukuran teteknya sangat besar, aku tak terlalu sulit untuk mengocok penisku di antara dua gunung itu. Tak lama kemudian aku pun mau ejakulasi. Lalu kuarahkan mulut penisku ke mulut Tante dan kukocok dengan tanganku sendiri.

"Craatt... criiit... creeettt..."

Tumpahan-tumpahan air maniku banjir membasahi muka dan leher Tante Olivia. Dia pun tampak puas setelah beberapa tetes air mani masuk ke mulut dan diminum olehnya.

"Terima kasih ya, Roni. Tante puas banget sama kejantanan kamu," kata Tante Olivia sambil mengecup bibirku.

Kami berdua pun akhirnya tertidur. Hingga tengah malam aku terbangun kembali karena malam itu sangat dingin. Aku pun membangunkan Tante Olivia dengan lidahku di memeknya, dan kami pun bercinta kembali hingga pagi hari nonstop.

Sejak saat itu hampir setiap hari aku datang ke rumah Tante Olivia untuk ngentot, dan begitulah kisah hasrat terlarang kami berdua berlangsung.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya