18px

Hasrat Terlarang Kak Mira

Hasrat Terlarang Kak Mira

Beberapa saat kupermainkan kedua puting susunya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Kak Mira menggelinjang lagi. Kupuntir sedikit putingnya dengan lembut. "Mmmm..." Ia semakin mendesah tak karuan. Aku tak tahan; secara bersamaan aku meremas-remas kedua buah dadanya dengan sepenuh nafsu. "Aawww... nnggg..." Ia mengerang dan kedua tangannya mencengkeram kain sprei dengan kuat. Aku semakin menggila—tak puas sekadar meremas, mulutku pun mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian. Lidahku kujulur-julurkan membasahi seluruh permukaan payudaranya, mulai dari yang kiri berpindah ke yang kanan. Kugigit-gigit putingnya secara bergantian sambil kuremas dengan gemas sampai ia berteriak-teriak. "Sshhh... oouwww... Ndre..." erangnya.

Lima menit kemudian mulutku mulai menghisap kedua putingnya sekuat-kuatnya. Aku tak peduli Kak Mira menjerit dan menggeliat ke sana kemari. Sesekali jemarinya memegang dan mengacak-acak rambut kepalaku yang bergerak liar. Sementara itu kedua tanganku tetap mencengkeram dan meremas kedua buah dadanya bergantian. Bibir dan lidahku dengan rakus mengecup, mengulum, dan menghisap kedua payudaranya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut, putingnya kupilin dengan lidahku sambil terus menghisap sampai pipiku terasa kempot. Ia hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika gigiku menggigiti putingnya, hingga di beberapa tempat kulit payudaranya tampak kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitan.

Cukup lama sekali aku menetek payudaranya—mungkin sekitar lima belas menit—sampai setelah puas, bibir dan lidahku merayap turun ke bawah. Kutinggalkan kedua belah payudaranya yang basah dan penuh lukisan merah bekas hisapan dan gigitan, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya, ia mulai mengerang-ngerang keenakan. Bau tubuhnya yang harum bercampur keringatnya yang khas membuat nafsu seks-ku semakin memuncak. Kukecup dan kubasahi seluruh perutnya yang rata sampai basah. Ketika aku bergeser ke bawah, lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulitnya telah berada di atas gundukan kemaluan Kak Mira yang indah. Aku mulai mencumbui alat kelaminnya. "Oooh..." Ia hanya merintih lirih—kelihatannya sudah lemas kupermainkan sejak tadi, meski aku tahu ia belum orgasme walaupun sudah sangat terangsang.

Aku membetulkan posisiku di atas selangkangannya. Kak Mira membuka kedua pahanya lebar-lebar; ia sudah sangat terangsang. Wajahnya yang manis tampak kusut berkeringat, rambutnya awut-awutan. Kedua matanya terpejam rapat, namun bibirnya kelihatan basah merekah. "I... m... Ndree... e... enak..." katanya. Aku tersenyum senang. Sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa, bisikku dalam hati. Kupandangi beberapa saat keindahan kemaluannya—baru pertama kali ini aku menyaksikan alat kelamin seorang perempuan. Di samping aromanya yang khas dan merangsang, keringat di sekitar selangkangannya pun berbau harum. Labia mayoranya kelihatan gemuk dan padat, berwarna putih sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit di antara keduanya tertutup rapat.

Tiba-tiba Kak Mira berbisik lirih menyadarkanku, "Ngapain sih... kok melamun... bau ya, Ndre?" tanyanya sambil tersenyum manis. Habis berkata begitu, tangannya bergerak memegang kepalaku dan mengucek-ucek rambutku. Aku tertawa geli. Tanpa kuduga, kedua tangannya menekan kepalaku ke bawah—sontak mukaku, terutama hidung dan bibir, langsung nyosor menekan bukit kemaluannya. "Mmff mffphh..." Hidungku menyelip di antara kedua bibir kemaluannya, empuk dan hangat. Kuhirup sepuas-puasnya aromanya, sementara bibirku mengecup bagian bawah labia mayoranya dengan bernafsu. Aku mulai mencumbui bibir kemaluannya yang tebal itu secara bergantian, seperti saat aku mencium bibirnya. Rasanya... "Mmm, yummy..." ada sedikit manis dan asin, bercampur aromanya yang memabukkan.

Kak Mira sampai memekik-mekik nikmat, tubuhnya menggeliat hebat, dan terkadang meregang kencang. Beberapa kali pahanya menjepit kepalaku yang sedang asyik menjilati kemaluannya. Kupegangi kedua belah bokongnya agar tidak bergerak terlalu banyak. "Mmmm... Ndree... aauuwww... aaduh... enak... aaahh..." Ia mengerang-ngerang dan tak jarang memekik cukup kuat. Kedua tangannya meremas-remas rambut kepalaku sambil menggoyang pinggulnya yang seksi. Kadang pantatnya diangkat sambil mengejan nikmat atau diputar-putar seirama dengan jilatan lidahku.

"Oouhhh... yaahh... huhuh..." Kak Mira berteriak makin keras, terkadang seperti orang menangis karena tak kuasa menahan kenikmatan. Kupandangi tubuhnya yang menggeliat sambil mulutku tetap memagut bibir kemaluannya. Aku semakin bersemangat—sebentar lagi ia pasti orgasme.

Kini mulutku semakin buas. Kusibakkan bibir kemaluannya yang menawan dengan jemari tangan kananku—hangat dan empuk. Kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur cairan kemaluannya. Agak ke bawah barulah celah liang kemaluannya terlihat, sangat kecil dan kemerahan. Aku mencoba membukanya sedikit lebih lebar agar bisa mengintip, namun Kak Mira memekik kecil kesakitan. "Aawww... iiih... Ndre!" Aku terkejut dan menyesal. Kuusap dengan lembut bibir kemaluannya sampai rasa sakitnya hilang. Lalu pelan-pelan kusibakkan kembali—agak ke atas dari liang kemaluannya yang sempit, kutemukan tonjolan kecil sebesar kacang hijau berwarna kemerahan: klitorisnya, bagian paling sensitif dari alat kelamin wanita.

Ini dia biang kenikmatan, pikirku. Secepat kilat lidahku kujulurkan dan mulai menyentil-nyentil klitorisnya. Kak Mira langsung memekik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan kakinya. Ia mengejan hebat sampai pinggulnya bergerak liar dan jilatanku sempat luput. Dengan gemas kupegang kuat-kuat kedua pahanya yang putih mulus, lalu kutempelkan kembali bibir dan hidungku di atas celah kemaluannya. Kujulurkan lidahku sepanjang mungkin, kutelusupkan menembus jepitan bibir kemaluannya, dan kembali kusentil klitorisnya. "Hgghggh... hghgh... ssshhh..." Ia memekik tertahan dan mendesis panjang. Tubuhnya kembali mengejan, pantatnya diangkat ke atas memberi ruang bagiku untuk lebih dalam menyentil-nyentil klitorisnya.

Tak sampai satu menit, kurasakan Kak Mira sangat tegang, dan di dalam mulutku terasa semburan lemah dari dalam liang kemaluannya—cairan hangat agak kental dalam jumlah banyak. Kusentil klitorisnya beberapa saat lagi sampai tubuhnya mulai terkulai lemah dan pantatnya jatuh kembali ke kasur. Ia melenguh panjang-pendek meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan.

Sementara aku masih menyedot sisa-sisa cairan orgasmenya yang terasa asin-manis dari celah kemaluannya yang kini sedikit memerah. Seluruh selangkangannya basah, penuh air liur bercampur cairan kenikmatannya. Kujilati seluruh permukaan bukit kemaluannya sampai agak kering. Perasaanku benar-benar segar setelah menghirup dan merasakan cairannya. Nafsu seks-ku telah memuncak. "Sekarang giliranku," ucapku.

Belum sempat bergerak, Kak Mira lebih dulu meraih batang kemaluanku, mengusapnya sambil berkata, "Ndree, ini gede sekali... pantas tadi sakit. Punya abang iparmu tidak sebegini." Aku mulai bangga. Ia mengocoknya perlahan; mataku terpejam menahan kenikmatan. Ia berhenti. Saat kubuka mata, ternyata ia mendekatkan wajahnya ke batang kemaluanku. Aku ingin melarang, tapi terlambat—lebih dulu ia menjilati batang kemaluanku. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain mengerang nikmat, apalagi ketika ia mulai menjilati buah zakarku naik sampai ke kepala. "Oh... nikmat sekali," ucapku tanpa sengaja. Itu pun belum seberapa ketika ia mulai memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dengan susah payah. Berhasil. Ia memainkannya di dalam mulut, menghisapnya kuat-kuat. Aku hampir orgasme. Lalu ia berhenti. "Keluarkan saja di mulutku!" katanya sambil mengocoknya, kemudian kembali menghisap.

Aku merasakan seluruh tubuhku tegang sekali, rasanya darahku mengalir ke satu titik—hingga akhirnya aku melepaskannya di mulut kakakku. "Ah... ehhhh... ohhh..." erangku sambil menyemburkan semua cairanku. Ia sangat menikmatinya. "Banyak sekali air manimu, Ndree..." ucapnya sambil menjilati yang tersembur di pipinya dan sisa di ujung kemaluanku.

Kami beristirahat sejenak. Ia berbisik, "Kamu masih kuat kan? Ayo lanjutkan lagi... hancurkan aku dengan kenikmatan!" Tanpa komentar aku menaiki tubuhnya. "Tahan sakitnya ya..." bisikku. Aku segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhnya yang telanjang berkeringat. Dengan agak kasar kutarik kakinya ke atas dan kutumpangkan kedua pahanya pada pangkal pahaku sendiri sehingga selangkangannya terbuka lebar. Kutarik bokongnya ke arahku sehingga batang kemaluanku langsung menempel di atas bukit kemaluannya yang masih basah. Kuusap-usapkan kepalanya pada kedua bibir kemaluannya yang lunak, lalu kubenamkan perlahan mili demi mili ke dalam liang kemaluannya. "Aahhggh... sa... yangku... aaahh... nikmat sekali..." erangku pula. Kenikmatan yang kurasakan membuat jiwaku terbang ke awang-awang.

Aku mulai memompanya dengan gerakan naik-turun. Badannya ikut bergoyang pelan, bahkan terkadang sedikit memutar seirama dengan goyangan pinggulku. Beberapa kali ia mendesah lembut melepas rasa nikmat. Cukup lama kami saling mengadu kemaluan—kira-kira sepuluh menit kemudian, tubuh Kak Mira mengejan dan bergetar lembut. Mulutnya mendesis dalam cumbuan bibirku; kedua kakinya dihentakkan ke bawah dan meregang. Aku merasakan liang kemaluannya berkontraksi, mengerut mengecil, membuat batang kemaluanku seakan diremas kuat seperti dipilin. Tubuhku berkelojotan ikut merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kubenamkan batang kemaluanku perlahan ke dalam liang yang sedang berkontraksi itu sampai kandas, kuresapi setiap gesekan dengan daging kemaluannya. Bersamaan dengan itu, cairan hangat dan licin membasahi seluruh batang kemaluanku. Kak Mira memekik dan melenguh panjang. "Aaaghh... aaaghg... ooouuhhh..." erangnya nikmat.

Kubiarkan kakakku menikmati orgasmenya. Ia tak tahu kalau aku pun sedang menahan rasa nikmat yang ditimbulkan kemaluannya pada batang kemaluanku. Air maniku sontak mengalir deras mendesak di ujungnya hendak muncrat keluar. Kucoba menahan sekuat tenaga—hanya tiga detik, dan akhirnya aku menyerah kalah.

Di saat Kak Mira sedang terbang menikmati orgasmenya, aku pun akhirnya mencapai puncak. "Cratt... cratt..." air maniku menyembur-nyembur keluar di dalam liang kemaluannya. "Oougghh..." aku pun memekik keras. "Aaaghh... mani-ku... ke... keluar, Sayang..." aku menggeram keras sambil menyemburkan seluruhnya ke dalam rahimnya. Tubuh kami berdua sama-sama bergetar dan meregang merasakan puncak kenikmatan. Kedua alat kelamin kami sama-sama memuntahkan cairan nikmat sesaat.

"Oouuh... oouugghhh..." Kak Mira melenguh melepas orgasmenya. Ia memandangku tersenyum dan berkata, "Kamu bahagia?" Aku mengangguk dan berkata, "Aku mencintaimu, Kakakku!" Malam itu kami melakukannya sampai pagi.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya