Hasrat Terlarang Sang Janda
Hasrat Terlarang Sang Janda
Sekitar 10 menit kami saling mengocok, meremas, dan menghisap, diikuti gelinjangan dan jeritan-jeritan histeris, ketika tiba-tiba Mbak Juliet menengadahkan wajahnya ke arahku dan merintih.
"Son... Mbak udah nggak tahan nih... please...!" Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya, kuangkat tubuh janda cantik itu dari posisi berlututnya. Kusuruh dia meletakkan kedua tangannya di atas meja rias menghadap cermin, sehingga Mbak Juliet kini berada dalam posisi menungging. Tampak buah dadanya bergelayut seakan menantang untuk diperah.
Kurenggangkan kedua kaki putih dan mulusnya, lalu kugosok-gosokkan Juniorku di belahan pantatnya sebelum kuturunkan menelusuri tulang ekornya. Kutempelkan di vaginanya yang dari tadi sudah siap tempur. Perlahan-lahan kusodokkan penisku ke dalam kemaluannya yang sudah sangat banjir itu.
"Aahh...!" Mbak Juliet menggigit bibirnya, menikmati penisku yang tengah memasuki vaginanya.
"Oohh... Son. Oohh...!" erangnya keenakan.
"AAKHH...!" jeritnya ketika dengan agak keras kusodokkan Juniorku sedalam-dalamnya.
Tampak Mbak Juliet masih menggigit bibirnya menikmati si Junior yang terbenam penuh di dalam liang senggamanya.
Segera kupompakan si Junior dengan cepat dari arah belakang, lalu kutempelkan perut dan dadaku di punggungnya. Kedua tanganku dengan keras meremas-remas dan memelintir kedua puting buah dada Mbak Juliet yang sudah sangat keras itu.
"Oohh... ouhh...!" erangnya keras sekali.
Tiba-tiba Mbak Juliet mengangkat kepala dan badannya ke arahku, menengok ke kiri, lalu menjulurkan lidahnya. Dengan cepat kusambut lidah yang menggairahkan itu dengan lidahku, dan kami pun berciuman dengan posisi Mbak Juliet yang tetap membelakangiku. Karena ia menegakkan badannya, Mbak Juliet menaikkan kaki kirinya ke atas meja rias untuk memudahkanku terus menyodokkan si Junior.
Sambil terus melumat bibirnya dan menyodok, tanganku kembali meremas-remas kedua buah dadanya. Tangan kiri Mbak Juliet menjambak rambut di belakang kepalaku untuk mempererat tautan bibir kami. Ketiaknya yang berbulu lebat menyebarkan wangi khas yang membuatku semakin bernafsu. Tiba-tiba Mbak Juliet merintih-rintih sambil terus mengulum lidahku. Tampak alisnya mengerut; wajahnya mengekspresikan kenikmatan yang amat sangat menjalari seluruh tubuhnya. Ia dengan cepat membimbing tangan kananku yang masih asyik meremasnya untuk kembali memainkan kacangnya. Goyangan pinggulnya menjadi semakin cepat dan tidak terkendali; dinding kemaluannya mulai terasa berdenyut-denyut.
Dia keluar dengan sangat dahsyat sampai pahaku basah terkena semprotannya. Lalu aku berhenti sebentar supaya kondisi vaginanya pulih kembali, sebab dia sudah mencapai puncak orgasmenya. Kugendong dia dan kubaringkan di ranjang. Aku kagum dengan tubuhnya yang sempurna itu.
"Kamu kenapa, Son...?" katanya sambil membersihkan bekas cairannya di kemaluannya.
"Sony kagum sama tubuh Mbak yang aduhai itu..." kataku.
"Emang kamu baru pertama ya, melihat tubuh cewek bugil...?" tanyanya.
"Ya, Mbak. Sony baru sekali ini melihat tubuh cewek bugil di hadapan Sony," kataku.
"Ahh, kamu bohong. Kalau kamu baru pertama, bagaimana kamu bisa semahir itu ngerjain Mbak? Mbak sampai melayang dan keluar sebegini banyak...?" katanya tidak percaya.
"Ya, Sony nggak tahu. Sony hanya belajar dari pengalaman teman-teman Sony. Itu aja. Sony memang baru pertama kali melakukan ini. Dan ternyata ngesex itu mudah dan nikmat. Apalagi di sini ada cewek secantik Mbak menemani Sony. Ya kan, Mbak...?" kataku sambil kukecup bibirnya.
"Ya deh, Mbak percaya," katanya.
"Mbak, Sony belum keluar lho," kataku.
"Kamu mau ngerjain Mbak lagi? Ya deh, Mbak juga udah terangsang lagi nih...!" katanya sambil membuka kakinya, dan terlihatlah liangnya yang masih sedikit basah.
Perlahan-lahan kuarahkan Juniorku ke depan bibir kemaluannya. Sengaja tidak kumasukkan dulu, tapi kubuat main-main dulu dengan cara kuserempetkan ujung kepala Juniorku ke klitorisnya. Dia mulai mengerang lagi. Perlahan kumasukkan batangku ke lubang kenikmatannya yang masih agak basah oleh semprotan cairannya tadi.
Dan, "Bleess..." โ batang kemaluanku dengan gagahnya maju memasuki liang surga Mbak Juliet.
"Ooh... Son... enak Son... oh... terus Son... ohh... oohh...!" desahnya sambil tangannya meremas kedua putingku.
Aku semakin mempercepat goyangan. Setelah beberapa lama, keringatku pun membasahi dada Mbak Juliet. Tubuh kami berdua berkeringat hingga bermandi peluh. Justru hal itulah yang membuatku makin bernafsu. Sambil merem melek aku menikmati hal itu, hingga perutku mulai mengeras, otot perut mulai mengencang siap meledakkan sesuatu, bergetar hebat.
"Oh Mbak, Sony mau keluar. Sony mulai keluar, Mbak...! Keluarin di mana, Mbak...? Dalem ya...? Oh... oh...!" aku mengerang keenakan.
"Keluarin di dalam aja, Say. Mbak juga mulai keluar nih. Yah... yah... terus, Son...!" dengan menjerit Mbak Juliet terlihat pasrah.
"Ooh... Mbak... sekarang... yaa... oh... ah... ahh... sshh... ah...!"
"Crot... crot... crot... cret...!" Kusemburkan spermaku di dalam liang vagina Mbak Juliet; begitu banyak sampai-sampai tertumpah di sprei.
Aku menjatuhkan badan di sisi Mbak Juliet. Lalu Mbak Juliet bangun dan mengulum batangku yang masih berlepotan sperma, menjilat dan mengulumnya sampai bersih. Rupanya dia menelan sisa-sisa sperma yang ada di batangku, lalu terjatuh di sisiku juga. Kami berdua terengah-engah dengan napas memburu, mencoba memahami apa yang kami lakukan tadi.
"Thanks ya, Mbak. Mbak baik sekali sama Sony." Kukecup kening dan pipinya sambil meremas payudaranya.
"Ya, Mbak puas dengan kamu, Son. Dan mestinya Mbak yang berterima kasih sama kamu. Sony telah mengisi masa kesepian Mbak," kata Mbak Juliet sambil mengecup bibirku dengan mesra.
Kami pergi mandi membersihkan badan, lalu berganti pakaian dan tertidur dengan nyenyak. Mbak Juliet tidur di sampingku sambil memelukku. Sungguh nikmatnya.
Kira-kira jam delapan aku terbangun oleh sinar matahari yang menerobos melalui celah gordyn jendela. Mbak Juliet masih terlelap dalam pelukanku. Tubuhnya meringkuk seperti anak kecil, dan lucunya ia sedang menghisap jempolnya seperti bayi. Kubelai rambut Mbak Juliet yang tergerai di atas dadaku. Pada saat itu aku hanya mengenakan celana pendek saja, sementara Mbak Juliet memakai kaosku karena dia tidak membawa ganti โ jadi kebesaran.
Ternyata belaianku membuat Mbak Juliet terbangun. Walaupun tidak membuka mata, senyumnya mengembang, masih sambil menghisap jempolnya. Tangan satunya kini menyelinap di antara pahanya dan semakin dirapatkan. Kuperhatikan betisnya yang lencir bulir padi โ indah sekali, plus tumit yang lancip kecil dan pink. Walaupun udara kamar tidak terlalu dingin, tetap saja kulit kami merinding kena dinginnya udara pagi. Aku berusaha meraih jas wool-ku di meja lalu kupakaikan menyelimuti Mbak Juliet, kontras dengan kulit putih mulusnya.
"Mbak kedinginan ya...?" tanyaku sambil mengecup keningnya.
Mbak Juliet hanya mendesah sambil tubuhnya menggeliat merapat. Si Junior dari tadi berdiri terus, sepertinya tidak tahan melihat paha mulus Mbak Juliet. Lalu tanganku menyelinap ke balik jas hitamku, mengelus paha mulus Mbak Juliet.
"Son, udah dong. Mbak ngantuk nih...!" tiba-tiba Mbak Juliet protes manja.
Mendengar itu, bukannya berhenti, justru jariku mulai menyelinap ke arah pangkal pahanya. Mbak Juliet hanya mendesah manja. Kini terasa lembutnya celana pendek piyama sutranya. Kugesek sebentar kawasan sex spot-nya โ wah, langsung basah dan merembes pada celana sutra hitamnya.
"Ooh Son, I like that. Terus...! Oohh...!" erang Mbak Juliet.
Kusingkirkan jasku lalu kutegakkan tubuh Mbak Juliet sejenak, lalu kubaringkan. Kuambil posisi menindihnya tapi masih kutopang dengan tanganku. Lembut kukecup bibir Mbak Juliet yang merekah. Ia langsung menyedot dan mengulum bibir bawahku. Tangan Mbak Juliet merangkul tengkukku dan bermain dengan rambutku. Tangan kananku masih menopang tubuhku sementara yang kiri merangsang celah kemaluan Mbak Juliet.
Jariku kini menyelinap ke dalam celana sutra dan CD-nya, merasakan halusnya labia majoranya yang sudah basah. Jari tengahku mulai berani menembus celah basah itu โ masih sempit seperti malam tadi juga. Mbak Juliet mulai mendesah dan menggelinjang. Sekalian saja kulepaskan pakaian tidurnya dan underdil-nya. Mbak Juliet tidak protes, malah membantu. Giliran celana pendekku kini kutanggalkan. Mbak Juliet tampaknya tidak sabaran juga โ kaos oblongnya langsung dilepas, lalu BH-nya, sehingga payudaranya yang montok terlihat menjulang bagaikan Gunung Semeru. Jadilah kami berdua totally naked and ready to esek-esek.
Perlahan kugesekkan si Junior ke vaginanya โ panas sekali, kontras dengan hawa kamar yang dingin. Lalu perlahan-lahan Mbak Juliet mulai mencoba memasukkan si Junior ke liang kemaluannya dengan bantuan tangannya. Kedua tanganku menopang tubuhku pada ranjang.
"Aah... Son...! Terus, ohh...!" erangnya sambil membantuku dengan menekan pantatku ke depan.
Batangku menembus bibir vaginanya โ hanya masuk kepalanya saja; jelas saya tidak tahan. Mungkin kemaluannya belum benar-benar basah, soalnya tadi aku tidak melakukan pemanasan dulu.
Dengan sentakan kumulai menekan ke bawah supaya si Junior masuk lebih dalam. Untung Mbak Juliet sudah mulai basah. Dia hanya kaget sebentar sebelum akhirnya merangkul tengkukku dan menekankan wajahku pada dadanya yang bulat sintal putih mulus.
"Son, ohh... punyamu kok tambah melar...? Ohh...!" erangnya.
Mbak Juliet terus merintih, sepertinya kesakitan beneran. Ya sudah, lalu kupelankan sedikit.
"Sorry, Sayang. Kalau sakit bilang ya...!" seruku berbisik lembut.
Mbak Juliet mengangguk; tampak setetes air mata di sudut matanya. Tidak tega aku. Ya sudah, kubiarkan dia yang menentukan kecepatan. Walaupun terasa kemaluannya licin dan basah, tapi masih sempit sekali โ aku sedikit tidak percaya, padahal tadi malam tidak sesempit ini. Namun perlahan dan pasti Mbak Juliet tetap memaksa si Junior masuk.
Perlahan ia menaikkan pinggulnya. Dengan gerakan setengah berputar, si Junior tertekan untuk menyodok kemaluannya kembali. Batangku sudah tidak sekeras tadi karena aku kasihan melihat nafsu membuatnya kesakitan. Lama-lama agak longgar juga. Lalu kuberanikan mulai mengenjot si Junior di dalam liangnya. Mbak Juliet mulai mengerang tidak karuan โ liar dan seksi, tangannya kini meremas pantatku.
Beberapa menit kami begitu bersemangat hingga suatu saat, seketika si Junior serasa dijepit oleh kemaluan Mbak Juliet. Terasa dinding rahimnya meremas-remas dengan dahsyat sekali.
"Ohh... Mbak... keluarr...! Ahh...!" erangnya.
Lalu pinggulnya liar menggelinjang dengan kuat. Rupanya Mbak Juliet orgasme. Setelah itu terasa basah sekali sampai cairannya menetes pada kantung penisku.
Tiba-tiba muncul selera menikmati juicenya yang jelas banjir bandang itu. Kucabut si Junior yang disambut protes wajah Mbak Juliet yang merengut. Namun begitu kuraih pinggulnya, ia tahu maksudku. Dengan cepat ia berbalik lalu menungging, kedua tangannya menopang pada pinggiran ranjang sedang lututnya terkembang. Pantatnya yang bulat indah megal-megol menggoda.
Mbak Juliet tersentak kaget ketika ternyata aku tidak kembali melakukan penetrasi, melainkan berlutut di belakangnya lalu menjilati celahnya. Satu tangannya meraih ke belakang menjambak rambutku. Ia melenguh keras dan menikmatinya. Tidak lama kemudian kembali Mbak Juliet mengejang, dan hidungku mendadak basah kena cairan berbau khas yang meleleh. Lalu tubuh Mbak Juliet langsung lemas di atas ranjang. Langsung saja kuangkat pantatnya. Si Junior masuk lagi dari belakang โ licin banget sampai bunyi seperti orang kentut, saking kencangnya genjotanku.
"Ohh... udah, Son, ahh...!" Mbak Juliet berteriak menyuruhku berhenti, tapi mana mau aku berhenti.
Tangannya mencengkeram erat sprei dan tubuhnya terus menggelinjang hebat. Setelah 15 menitan menggenjot, akhirnya kucabut si Junior lalu kubalikkan tubuh Mbak Juliet. Lalu kusodorkan penisku itu ke wajahnya.
"Ahh... Mbak. Sony... keluarr...!" erangku keenakan.
Kukeluarkan segenap benih cintaku ke dalam mulut Mbak Juliet yang terus menyedot. Si Junior pun memuncratkan cairanku ke wajahnya โ kira-kira lima semprotan โ dan dilahap habis oleh Mbak Juliet. Ternyata pengalaman nonton film ada gunanya juga.
Lalu kami berpelukan dengan tubuh telanjang.
"Son, makasih ya. Kamu telah memberi saluran yang selama ini belum pernah Mbak rasakan," katanya sambil mencium bibirku dengan lembut.
"Terus gimana, Mbak, tentang rencana selanjutnya? Mbak mau jadi kekasih Sony...?" tanyaku.
"Entar aja deh, biar Mbak pikir-pikir dulu, Son," katanya.
"Bila Mbak benar-benar mau jadi kekasih Sony, Sony nggak akan mengecewakan Mbak," kataku.
"Ahh, yang bener, Son. Emang kamu masih mau sama aku? Cewek yang udah tua ini...?" katanya.
"Sony cinta sama Mbak sejak pertama lihat Mbak tadi. Sony nggak memperdulikan usia Mbak berapa; yang penting Sony cinta sama Mbak," kataku sambil mengecup bibirnya.
"Ohh Son, kau sungguh lelaki jantan dan bertanggung jawab. Sebetulnya Mbak juga suka sama kamu, tapi kan Mbak sadar kalau usia Mbak di atas kamu. Tapi kenyataannya kamu suka sama Mbak, jadi Mbak setuju aja. Tapi Sony sabar dulu ya, Manis," katanya sambil mengecup bibirku lagi.
"Tapi Mbak masih mau lagi kan esek-esek lagi dengan Sony...?" tanyaku.
"Ya dong, Sayang. Mbak kan kesepian dan kamu harus memuaskan Mbak setiap waktu. Ya, Sayang," katanya.
Itulah ceritaku yang menjadi salah satu kenangan bersama seorang suster. Setelah itu aku menjadi kekasihnya dan selalu siap melayani keinginan birahinya โ pokoknya segalanya adalah untuk dia.
TAMAT