Hasrat Terlarang: Yanti dan Wilsen
Hasrat Terlarang: Yanti dan Wilsen
Semenjak peristiwa itu, Jimmy pernah menelepon gue dan ngajak main bareng lagi, tapi kami tolak dengan tegas. Kami punya komitmen: sekali untuk seorang, tidak boleh berulang dengan orang yang sama. Bukan tidak percaya pada Yanti, hanya saja untuk mencegah orang lain memiliki perasaan kepadanya. Yanti ini sangat dahsyat dalam bercinta — siapa yang pernah merasakan tubuhnya pasti akan kecanduan.
Dua minggu sejak peristiwa itu, kami mulai memikirkan mangsa baru. Kali ini Yanti yang agak heboh; dia pengen merasakan ML bareng yang sebenarnya, soalnya waktu itu dia nggak bener-bener menikmatinya. Tapi kami masih bingung — lelaki mana yang akan beruntung kali ini? Kami belum menemukan orang yang tepat. Praktis sejak peristiwa malam itu kami tidak melakukan hubungan badan, soalnya pengen rame-rame.
Gue punya seorang teman yang akrab, namanya Wilsen. Wilsen ini orangnya agak-agak loser — walau otaknya encer, tetap loser deh. Orangnya baik, tidak ganteng, agak pendek, dan banyak bulu. Dua tahun lalu Wilsen melepas perjakanya dengan seorang pelacur seharga 80 ribu. Semenjak itu, dia selalu mengumbar nafsunya pada para pelacur, tetapi tetap menyimpan keinginan yang begitu besar untuk bercinta dengan cewek baik-baik, dan tidak pernah kesampaian tentu saja.
Sudah sejak lama temanku ini menyimpan obsesi yang begitu besar kepada Yanti. Sebagai teman, walau dia tidak pernah mengatakannya secara langsung, jelas gue tahu obsesinya — baik dari saat dia bercanda maupun saat dia memandang Yanti.
Suatu hari Sabtu siang, gue bersama Yanti sedang menikmati weekend di sebuah hotel berbintang di kota kami. Rencana kami sebenarnya gila: saking tidak ada cowo yang tepat untuk diajak main bareng, kita berencana menggoda room boy hotel untuk ML sama Yanti. Tapi kami masih sangsi. Perjanjian tetap perjanjian — kami tidak boleh ML berdua saja, harus bertiga. Sekarang kami lagi bingung memilih cowo yang tepat untuk weekend ini.
Di kamar hotel, Yanti hanya memakai baju tidur dan tidak memakai pelindung di dalam sama sekali.
"Dy... mana upeti mu? Udah dua minggu nih... udahlah, kita nggak usah sama cowo lain," rengek Yanti.
"Sabar dong, masih siang nih. Ntar malam kita ke disko deh, nyariin yang tepat buat lu."
"Nggak deh, nggak bakal ketemu. Tampang kita baek-baek, mana ada yang ketarik. Sekarang aja deh, room boy juga nggak pa-pa," ucap Yanti sambil meremas penisku yang masih kecil.
Tiba-tiba muncul ide gila dari gue. Diem-diem gue SMS ke Wilsen: "Sen, datang ke Hotel XX kamar 703, gue ada kejutan buat loe, dalam 30 menit harus nyampe."
Gue nggak gitu yakin ide ini bagus. Yanti memang senang tiap kali gue bilang Wilsen syur sama dia, dan sering onani bayangin dia. Gue juga nggak tahu apa Yanti mau sama Wilsen, tapi gue cuek aja — ada sensasi tersendiri, lihatin cewek gue di-fuck sama teman gue yang udah kebelet banget sama Yanti.
Membayangkan beauty and the beast bakal bercinta, penis gue tiba-tiba bereaksi. Walau belum keras penuh, langsung gue tindih tubuh Yanti — tanpa basa-basi, gue singkap daster bawah Yanti dan segera gue masukkan batang kemaluan gue.
"Agghh! Gila loe ya, sakit tau... jangan ahh," jerit Yanti.
"Diem aja loe. Gua nggak tahan lagi," ucapku sambil menarik keluar penisku dan menghunjamkannya lagi.
Vag Yanti memang dahsyat — baru begitu saja sudah langsung ready to fuck, cairannya sudah keluar. Dengan bernafsu gue membayangkan sebentar lagi Yanti akan merasakan penis yang ketiga dalam hidupnya. Yanti menjerit-jerit nikmat. Pada saat itu gue nggak sadar lagi — berbareng rasa cemburu dan sensasi yang begitu dahsyat, gue kocok dengan kasar dan liar, sampai tiba-tiba gue tampar wajah Yanti.
"Anjing lu! Pelacur! Elo pengen kontol? Huh? Pengen berapa kontol? Murahan!" maki gue sambil menampar wajahnya lagi.
Yanti hendak membalas menampar wajahku; dengan sigap gue tangkap kedua tangannya dan tetap menghajar kasar vag-nya. Gue nggak peduli dia adalah orang yang kucintai — saat ini gue cuma menganggap dia pelacur. Yanti tidak berdaya di bawah gue, matanya liar menatapku, tangannya gue cengkeram kuat. Tiba-tiba gue pencet mulutnya sampai terbuka, lalu gue ludahin mulutnya — gue teteskan ludah gue ke dalamnya. Perlakuan kasar gue ini rupanya membuat Yanti seperti orang kesurupan; dia dengan ganas menggoyang pinggulnya dan mencakar punggungku. Kami bercinta seperti orang gila.
Tiba-tiba, "Ding... dong," bel berbunyi. Kami terdiam. Gue tahu itu Wilsen yang datang; Yanti masih bingung — antara kesal karena nafsunya yang lagi tanggung dan heran, siang-siang gini siapa yang datang?
"Elo tenang aja, baring aja. Jangan tutup vag loe — gue liat bentar siapa yang datang. Ingat, jangan tutup vag loe. Biarkan terbuka. Pelacur murahan," canda gue. Yanti cuma meringis.
Begitu pintu terbuka, gue bisikkan ke Wilsen, "Sen, Yanti lagi terbaring, nafsunya lagi tinggi. Gue kasi kesempatan sekali seumur hidup buat loe."
"Heh? Anjing loe! Yang bener? Gue bole...?" ucap Wilsen yang masih bingung.
"Nggak mau loe? Ini cuman sekali seumur hidup loe. Tapi ingat — ini cuman sex, dan cuman di antara kita aja, ini cuman sekali saja!"
Wilsen tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya. Dia gemetar seperti orang kedinginan. Gue tutup pintu kamar; terdengar suara Yanti, "Siapa sayy? Cepat kemari dong, vag gue dah terbuka lebar nih."
Wilsen hampir pingsan mendengar itu. Dia nggak berani bersuara. Tangannya yang satu menopang ke dinding, takut jatuh kali dia. Tidak lama kemudian, gue sama Wilsen sudah muncul di depan Yanti.
Senyap. Sunyi. Kita bertiga terdiam, saling memandang. Kemudian dengan kecepatan 1/1000 detik, Yanti menyambar selimut dan menutupi badannya.
"Dy, GILA LOE YAA!" jerit Yanti agak histeris.
Wilsen langsung pucat wajahnya. Jakun-nya turun naik.
"Eh, gue cabut dulu deh," katanya masih dalam keadaan gemetar yang amat sangat.
"Huahahaha, jangan dong Sen. Yan, ini Wilsen — udah lama pengen nyobain loe. Kasi dia pengalaman sekali seumur hidup deh," ucapku enteng sambil melangkah duduk di sofa. Wilsen masih tetap di posisinya, sangat teguh, seolah kakinya terpatri di lantai.
Nafasnya ngos-ngosan, menderu-deru bak angin topan. Nafsunya sudah di ubun-ubun.
Gue tarik Yanti keluar dari selimut. Yanti masih tetap menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Perlahan gue bisikkan ke Yanti, "Tenang aja say. Apa loe nggak merasa sensasi yang dahsyat — loe fuck sama orang yang dah lama jadi pengagum loe, yang tiap hari onani dengan ngebayangin loe? Elo bakal membuat dia merasakan peristiwa terhebat dalam hidupnya. Maninya bakal muncrat di tubuh loe."
Berhasil. Yanti cukup terangsang dengan kata-kata mautku tadi. Perlahan dia melepaskan tangannya dan memandang Wilsen yang masih gemetar. Tiba-tiba Yanti tertawa.
"Ha ha ha, Sen, kok gemetar gitu? Oke deh, relax aja," ucap Yanti. Namun gemetarnya Wilsen tetap tidak berkurang.
Gue ambil inisiatif untuk mencairkan suasana. Gue lepaskan handuk yang membungkus penis gue — penis gue yang lemas segera menggantung keluar. Gue tarik Yanti untuk duduk di pinggir tempat tidur, gue arahkan penis gue yang masih lemas ke mulutnya. Agak ragu, Yanti membuka mulutnya dan menerima penisku masuk. Dihisapnya perlahan, disedot-sedotnya. Hmm, nikmat sekali. Sesekali gue lihat Yanti sambil menghisap penis gue, sambil melirik ke arah Wilsen. Gue tahu ini saatnya.
Gue cabut penis gue dari mulut Yanti. Gue tarik Wilsen ke posisi gue — wajah Yanti tepat di depan kemaluan Wilsen yang masih terbungkus rapi. Mereka secara bergantian menatap wajah gue yang senyum-senyum saja.
"Yan, elo tau nggak — gue tuh dah lama menghayalkan ada peristiwa seperti ini," ucap Wilsen sambil gemetar.
Yanti masih tetap diam, hanya memandang lurus ke arah kemaluan Wilsen yang terbungkus jeansnya. Wilsen berdiri tepat di depan Yanti yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Emang loe sering hayalin apa tentang gue?" jawab Yanti tiba-tiba.
"Andy sering cerita kemampuan loe yang dahsyat dalam bercinta, hisapan mulut loe — gue pengen coba."
"Ok deh, gue wujudkan hayalan loe sekarang. Tapi ada syaratnya: elo nggak boleh menyentuh gue sebelum gue suruh. Elo diam aja, nikmatin aja. Setuju?"
"Hah? Kok... ok deh," ucap Wilsen bingung.
Gue duduk di tempat tidur menyaksikan pemandangan yang spektakuler. Yanti duduk di pinggir tempat tidur, wajahnya berjarak 15 cm dari kemaluan Wilsen yang masih terbungkus. Wilsen berdiri menghadap Yanti. Gue sangat terangsang melihat posisi awal ini — sebentar lagi Yanti, pacarku, akan memberikan kenikmatan yang dahsyat kepada laki-laki lain. Perlahan terlihat tangan kanan Yanti terangkat, menyentuh kemaluan Wilsen dari luar celananya.
"Dah keras ya? Cepat amat?" sindir Yanti.
Wilsen cuma diam saja dan tetap gemetar.
Yanti mengelus-elus lembut kemaluan Wilsen dari luar, meremasnya perlahan. Wajah Wilsen merah padam, sementara Yanti sudah dapat mengontrol dirinya — sangat rileks. Nafasnya agak memburu, merasakan sensasi yang hebat, mungkin dia menyadari sebentar lagi dia akan memuaskan penggemarnya. Dengan perlahan, sangat perlahan, Yanti menurunkan ritsleting jeans Wilsen, membuka kancingnya, dan dengan gerakan sangat perlahan jeans Wilsen jatuh ke lantai. Suasana sangat senyap; yang terdengar hanya deru nafas Wilsen. Yanti memainkan telunjuknya di kemaluan Wilsen yang masih terbungkus celana dalam.
"Sudah sangat keras. Sen, elo mau muncrat di mulut gue atau di vag gue?" ucap Yanti dengan suara serak namun seksi. Suara Yanti yang berat menandakan dia juga tidak kuat menahan sensasi. Yanti tetap mengelus-elus kemaluan Wilsen sambil menatap matanya yang seksi. Wilsen cuma diam seolah tidak berani bernafas, tidak menjawab pertanyaan Yanti.
"Elo mau nggak kontol lu ini gue masukkin di mulut gue? Hmm?" goda Yanti sambil tetap menatap Wilsen dan tangannya tetap mengelus-elus kemaluannya.
"Mau nggak gue hisap? Gue sedot-sedot di dalam mulut gue?" goda Yanti dengan nakalnya.
Terlihat Wilsen sangat gemetar mendengar kata-kata Yanti. Gue jadi yakin — spermanya tuan Wilsen ini sudah mau muncrat akibat sensasi ini. Tiba-tiba Yanti mendekatkan wajahnya ke kemaluan Wilsen. Walau masih terbungkus celana dalam, hembusan nafas Yanti mengelitik kemaluannya. Yanti menjulurkan lidahnya, menyentuh kepala penis Wilsen. Secara tidak diduga, dengan agak ganas, Yanti melumat-lumat batang kemaluan Wilsen dari luar. Wilsen mengerang hebat.
Yanti menghentikan kegiatannya dan memandang lurus hasil perbuatannya. Penis Wilsen terbayang jelas, tercetak dari luar celana dalamnya yang telah basah kuyup oleh ludah Yanti. Hmm, tidak terlalu besar — kepunyaan gue lebih besar. Gue yakin saat itu Yanti juga berpikiran sama.
"Gimana Sen? Enak nggak? Mau rasakan langsung kontol loe ini masuk di mulut gue? Merasakan hisapan gue, hangatnya berada di dalam mulut gue?" goda Yanti lagi.
Wilsen cuma mengangguk seperti memohon dengan sangat.
Yanti menurunkan celana dalam Wilsen. Sekarang Wilsen terbuka polos di bagian bawah. Kemaluannya tegak ke atas, keras — walau tidak besar, urat-uratnya menonjol semua. Rambut kemaluannya lebat, sangat lebat, menimbulkan aroma yang khas — aroma kejantanan pria. Yanti, untuk pertama kalinya merasakan aroma kemaluan pria selain kepunyaan gue, dan itu menimbulkan sensasi yang meledak di dadanya.
Wilsen belum sunat. Walau sudah tegang penuh, masih ada sedikit kulit yang menutupi kepala penisnya. Yanti mengambil inisiatif — dengan tangan kanannya dia menyentuh ujung kemaluan Wilsen yang langsung gemetar hebat. Perlahan-lahan Yanti menarik turun kulit yang menyelimuti kepala penis Wilsen. Yanti tersenyum nakal, melirik ke arah gue yang juga sedang menahan nafas menyaksikan ini semua.
Bersambung...