Hasrat Terpendam Sang Janda Muda (Bagian 3)
Hasrat Terpendam Sang Janda Muda (Bagian 3)
Wow... wow... wow... Sudah kupegang tapi kepala dan leher penis ada di luar genggamanku. Luar biasa sekali besarnya. Tidak sadar, tanganku meremas dan memaju-mundurkan penis tersebut—gemas sekali melihat ada penis sebesar itu, mungkin lebih dua kali dari penis Mas Imron almarhum suamiku.
"Bagus, Nita... iya, begitu," kata si Abang yang sampai kuremas penisnya pun aku belum tahu namanya.
Dengan gemas kupercepat kocokan di tanganku, dan seiring dengan kocokan itu maka penis tersebut menjadi makin gemuk dan makin panjang. Urat-uratnya menonjol semua—besar-besar. Si Abang menghentikan kocokanku dan memencet botol berisi cairan seperti baby oil ke telapak tanganku, lalu aku kembali mengocoknya.
Di bawah sana, celana dalamku sudah terasa basah sekali mengeluarkan cairan pelumas yang biasanya dimaksudkan untuk menyambut serangan penis.
Tiga bulan lebih sudah aku tidak mendapat sentuhan lelaki, dan kini rasanya aku sangat butuh sekali. Di genggamanku sudah ada penis—tapi bagaimana aku memintanya? Baru saja aku selesai berpikir demikian, seperti membaca pikiranku, tangan si Abang tiba-tiba meraih pahaku untuk ditarik mendekat ke arah kepalanya.
Tidak ada perlawanan dari kakiku. Aku dekatkan pinggulku ke arah kepalanya, tapi dengan posisi aku tetap berdiri. Perlahan tapi pasti, tangan si Abang kini menyelusup ke dalam rokku dan berhenti di selangkanganku. Salah satu jarinya menerobos masuk melalui celana dalamku.
"Auhh!" teriakku, menghentikan kocokanku karena jari si Abang langsung menyentuh dan menekan klitorisku sambil diputar-putar.
"Ohh..." aku mengerang sambil menengadahkan mukaku, menikmati rasa nikmat yang luar biasa menyerbuku.
Menengadah aku sambil memejamkan mata, merasakan gejolak yang luar biasa ini, dan rasanya tidak dapat dihentikan lagi. Tidak sadar, karena begitu merasakan nikmat, aku pun jatuh seperti tak ada tenaga.
Si Abang cepat bangkit meraih tubuhku dan menidurkanku di atas spring bed-nya. Meski demikian aku masih sadar bahwa kakiku menjuntai berada di luar spring bed. Lalu si Abang mengangkat kedua kakiku, mengangkat rok, dan menurunkan celana dalamku. Ohh, aku sudah tidak bisa mundur lagi sekarang.
Tapi urat sadar dan urat maluku masih berfungsi, walau kecil sekali kadarnya.
"Bang... ehh, Pak... jangan, Pak... saya belum pernah begini selain dengan suamiku," kataku dengan suara pelan.
"Apa?" tanya Abang seperti tidak mendengar, dan langsung terasa bibirnya ada di paha atasku.
"Ohh..." aku mengerang nikmat, tidak jadi memprotes—malah menikmati bibir yang menarik-narik lembut kulit pahaku.
Dan pada akhirnya kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh klitorisku, menariknya keluar dengan lembut. Aku penasaran sekali dengan apa yang diperbuat si Abang. Ya ampun—terlihat mulut si Abang dengan rakusnya menarik-narik daging di sekitar vaginaku.
Ampun, nikmatnya... Kembali kepalaku roboh seperti tidak bertenaga merasakan kekuatan storm yang begitu hebat.
"Ohh... Bang... kenapa bisa nikmat begini?" aku mendesis seperti tidak percaya dengan keadaan ini.
Sejujurnya suamiku dulu tidak pernah melakukan hal ini kepadaku sebelumnya. Jadi vaginaku dijilat sungguh-sungguh pengalaman baru bagiku. Dan lahar itu pun tidak dapat dibendung. Tubuh kaku, terasa pucat dan gelap semuanya ketika kurasakan cairan vaginaku deras menerjang.
"Ohh..." aku merintih sambil keluar air mata.
Crott... crott... crott... Aku orgasme. Ya ampun, kenapa aku orgasme sehebat ini? batinku. Tidak sadar beberapa detik; akhirnya aku bisa melihat cahaya lagi. Pelan kepalaku mencari si Abang. Ohh, rupanya dia masih menjilati cairan vaginaku dengan rakusnya. Ohh, lidah itu... kenapa masuk ke dalam... Uhh, kembali aku dilanda ketegangan baru.
Lidah itu kenapa kasar sekali, bagaikan amplas menjilati setiap relung kehormatanku ini. Astaga, nikmatnya tak dapat dikatakan dengan kata-kata apapun. Namun aku kecewa ketika kulihat Abang berdiri. Apakah ini akan berakhir?
Tapi—tidak. Ohh, ternyata Abang menarik pinggulku sehingga badanku ikut tertarik ke arahnya. Astaga—apakah ini akan terjadi? batinku sambil berharap. Kedua kakiku diangkat oleh si Abang sampai dengkulku menyentuh perutku. Terpampanglah sudah kehormatanku, berhadapan langsung dengan penis si Abang yang tegang dengan angkuhnya.
Dan...
Deekk—terasa kepala penis si Abang sudah bertemu dan bersentuhan dengan pintu vaginaku. Keras sekali penisnya terasa. Ohh, nikmatnya... Aku terpejam dan berusaha keras tidak bersuara. Aku malu. Aku tidak mau memprotes dan juga tidak mengiyakan apa yang telah si Abang lakukan ini kepadaku. Aku ingin kejadian ini berjalan saja menurut putaran detik. Aku sudah siap dan sangat ingin melakukan persetubuhan ini. Rasanya aku sekarang sedang melaksanakan takdirku.
Pelan sekali tapi pasti, kurasakan penis Abang menyeruak masuk. Uhh, besar sekali terasa kepalanya masuk—keras sekali, bagaikan baja yang lembut. Si Abang berhenti sebentar; bibirnya terasa menyentuh bibirku. Aku membalas ciuman Abang, kusedot pelan bibir atasnya sambil lidahku bermain di sana. Ahh, nikmat sekali.
Kurasakan kepala penis Abang ditarik sedikit, lalu didorong kembali ke dalam. Uhh, rasanya lebih dalam dari sebelumnya. Ada enam-tujuh kali penis Abang keluar-masuk, tapi hanya di sekitar kepala dan leher penisnya saja. Lalu ciuman Abang pindah ke telingaku. Aku semakin terangsang.
Tak sadar, pinggulku pun kutekan ke atas, dan bersamaan dengan itu penis si Abang masuk secara pelan namun terus... terus... dan terus... menembus ke dalam dan kurasakan mentok, lalu berhenti. Baru di situlah aku merasakan betapa penuhnya vaginaku—terasa ingin meledak, tapi nikmat sekali.
"Ohh, Bang..." mataku sayu memandang Abang yang sudah dalam posisi mukanya hanya berjarak 15 cm dari wajahku.
Tanganku mengusap pipinya. Terasa pinggul Abang ingin menekan terus, tapi ya memang sudah mentok. Berdenyut-denyut bergantian kelamin kami di dalam sana, seakan-akan sedang berkenalan dan bertutur siapa. Aneh batinku—kenapa aku tidak merasakan sakit sedikitpun saat penis raksasa itu masuk ke dalam vaginaku?
Luar biasa orang ini, pikirku. Pasti dia sudah sangat berpengalaman dengan wanita. Hanya dengan pendek mengangkat pinggulnya dan menekan kembali saja sudah membuat aku hanyut pada sesuatu yang entah apa namanya. Lalu tiba-tiba...
Si Abang berdiri. Uhh—otomatis penisnya terangkat menghantam langit-langit vaginaku. Nikmat sekali! Sedetik kemudian si Abang cepat menarik seluruh penisnya—bisa kulihat mengkilat terkena cairanku—lalu dihantam ke dalam lagi. Keras sekali penisnya terasa. Cepat ditarik kembali.
Dengan pandangan yang sayu, aku dapat melihat muka si Abang seperti entah dendam, entah gemas—dia terus memacu pinggulnya dengan cepat. Tidak terasa, dan tidak pernah dalam sejarah persetubuhan dalam hidupku aku mengerang keenakan, diiringi kayuhan cepat pinggul Abang keluar-masuk sambil tangannya memaju-mundurkan pinggulku.
Dan... luar biasa... crett... crett... croott... Aku kembali dilanda orgasme untuk kedua kalinya.
Kembali dunia gelap, tak terdengar apa pun rasanya. Yang ada hanya kenikmatan yang bergulung-gulung menerpaku. Tapi aku masih terasa bahwa tubuhku masih dimaju-mundurkan oleh tangan Abang dan penisnya yang keras masih keluar-masuk. Kesadaranku hampir pulih ketika kulihat Abang masih berkeringat menggenjot penisnya pada lubang surgaku. Dan...
"Ahh!" si Abang berteriak dengan kencangnya.
Sedetik kemudian kurasakan... crott... croott... crott... crott... Empat kali tembakan keras dan panas dapat kurasakan menghantam rahimku. Ohh, nikmatnya persetubuhan ini, batinku. Kurasakan Abang yang berbadan demikian besarnya terjerembab jatuh ke dadaku, memelukku yang masih berpakaian atas lengkap tapi sudah basah dengan keringat—dan kini makin basah menyapu keringat dari badan si Abang.
"Nita..." kata Abang setelah setengah menit memelukku. "Kamu luar biasa... memekmu tidak ada duanya."
Kaget juga aku, dia mengucapkan milikku dengan vulgarnya. Hehehe, tapi nggak apa-apa—toh penisnya masih berada dalam vaginaku. Ehh, koq aku jadi ikut ngomong yang jorok? Aku tersenyum.
"Maaf, Bang, aku mau ke kamar mandi."
Aku kembali tidak menanggapi omongan Abang—paling tidak harga diriku tidak runtuh total, pikirku.
"Ohh, iya... itu kamar mandinya..." kata Abang sambil menarik penisnya dari vaginaku dan berdiri.
Aku bangkit dan duduk. Kulihat penisnya Abang masih meneteskan cairan kami berdua. Luar biasa penis itu—walaupun sudah "tertidur" tapi sangat panjang dan gemuk, jatuh ke bawah dan meneteskan cairan.
Setelah membersihkan diri, aku pun dipersilakan pulang untuk kembali mengikuti training keesokan harinya. Tak lupa si Abang menyerahkan amplop dan menyalamimu pada tanganku.
"Untuk anakmu," katanya.
Dan ketika kubuka di rumah, ternyata amplop tersebut berisi uang sebanyak satu juta rupiah. Ohh—aku menjadi perempuan pelampiasan nafsu, diperkosa, dikasih duit pula.
E N D