Bab 1
Hubungan Terlarang dengan Mertua
Ini adalah salah satu pengalaman nyata dari kehidupan seks-ku selama ini. Aku Roy, 32 tahun. Menikah, punya dua anak. Istriku sangat cantik — banyak yang bilang mirip bintang sinetron ternama. Kami tinggal di Bandung. Yang akan aku ceritakan adalah hubunganku dengan mertua sendiri.
Mertua aku tinggal di kota P, masih wilayah Jawa Barat. Suatu waktu aku ada tugas kerja ke kota P tersebut. Aku pergi naik motor. Sesampainya di kota P, aku langsung menyelesaikan tugas dari kantor. Setelah selesai, aku sengaja singgah dulu ke rumah mertua untuk istirahat. Sesampai di rumah, mertua perempuanku datang menyambut.
"Kok sendirian, Roy? Mana anak istrimu?" tanya mertuaku.
"Saya ada tugas kantor di sini, Ma. Jadi mereka tidak saya ajak. Lagian saya cuma sebentar kok, Ma. Hanya mau numpang mandi dan istirahat sebentar," jawabku.
"O begitu… Akan Mama siapkan makanan buat kamu," ujar mertuaku.
Lalu aku mandi. Setelah itu aku segera ke meja makan karena sudah sangat lapar.
"Papa mana, Ma?" tanyaku.
"Papa lagi ke rumah temannya, ngurusin objekan," jawab mertuaku.
"Kamu mau pulang jam berapa, Roy?" tanya mertuaku.
"Agak sorean, Ma. Saya akan tidur sebentar. Badan pegal hampir tiga jam naik motor dari Bandung," kataku.
"Kalau begitu ganti baju dulu dong. Nanti kusut kemeja kamu," ujar mertuaku sambil bangkit menuju kamarnya. Lalu dia datang lagi membawa kaos dan kain sarung.
"Ini punya Papa, pakailah nanti," kata mertuaku.
"Iya, Ma," kataku sambil terus melanjutkan makan.
Mertuaku berumur 42 tahun. Sangat cantik, mirip istriku. Badan ramping, buah dada besar walau agak turun karena usia. Pantatnya sangat padat. Setelah berganti pakaian, aku duduk di ruang tamu sambil nonton TV.
"Loh, katanya mau tidur?" tanya mertuaku sambil duduk di kursi yang sama, tapi agak berjauhan.
"Sebentar lagi, Ma. Masih kenyang," ujarku. Lalu kami nonton TV tanpa banyak bicara.
"Tahukah kamu, Roy… bahwa Mama sangat senang dengan kamu?" tanya mertuaku, memecah kesunyian.
"Kenapa, Ma?" tanyaku.
"Dulu, sejak pertama kali datang ke sini mengantar istrimu pulang, Mama langsung suka kamu. Ganteng, tinggi, sopan, dan ramah," kata mertuaku. Aku hanya tersenyum.
"Sekarang kamu sudah menikahi anak Mama dan sudah punya anak dua, tapi kamu tetap sama seperti yang dulu," kata mertuaku lagi.
"Mama sangat sayang kamu, Roy," ujarnya.
"Saya juga sayang Mama," ujarku.
"Ada satu hal yang ingin Mama lakukan, tapi tidak pernah berani karena takut jadi masalah," kata mertuaku.
"Apa itu, Ma?" kataku.
"Mama ingin memeluk kamu walau sebentar," ujar mertuaku sambil menatapku dengan mata sejuk.
"Kenapa begitu, Ma?" tanyaku lagi.
"Karena dulu Mama sangat suka kamu. Sekarang ditambah lagi rasa sayang," kata mertuaku.
Aku tatap mata mertuaku. Kemudian aku tersenyum.
"Saya yang akan peluk Mama, sebagai rasa sayang saya ke Mama," ujarku sambil beringsut mendekatinya sampai badan kami bersentuhan.
Kemudian aku peluk mertuaku erat. Mertuaku pun balas memelukku erat, seolah tidak mau melepas lagi.
"Boleh Mama cium kamu, Roy? Sebagai tanda sayang?" tanya mertuaku.
Aku agak kaget. Aku lepaskan pelukanku, lalu tersenyum dan mengangguk. Mertuaku tersenyum, lalu mencium pipi kiri, pipi kanan, kening. Lalu… mertuaku menatap mataku sesaat kemudian mengecup bibirku. Aku sangat kaget, tapi tetap diam — dan ada sedikit rasa senang akan hal itu. Selang beberapa detik mertuaku kembali mengecup bibirku dan melumatnya sambil merangkulkan tangannya ke pundakku. Secara spontan aku membalas ciumannya. Kami saling hisap, mainkan lidah. Napas mertuaku terdengar agak cepat. Tangan mertuaku masuk ke dalam kain sarung, lalu menyentuh kontolku dari luar celana dalam, mengusapnya pelan, kemudian mulai meremasnya. Kontolku langsung tegang.
Tiba-tiba — kringg! kringg! — bunyi telepon mengagetkan kami. Kami langsung memisahkan diri. Mertuaku langsung bangkit menuju telepon. Entah apa yang dibicarakan. Karena merasa agak bersalah, aku segera masuk ke kamar, menutup pintu, lalu merebahkan diri di kasur. Terbayang terus peristiwa tadi — berciuman dengan mama mertua sambil merasakan nikmatnya diremas kontol.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk, kemudian terbuka. Mertuaku masuk.
"Sudah mau tidur, Roy?" tanya mertuaku.
"Belum, Ma," ujarku sambil bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Mertuaku ikut duduk di sampingku.
"Kamu marah tidak atas kejadian tadi?" tanya mertuaku sambil menatap mataku. Aku tersenyum.
"Tidak, Ma. Justru saya senang karena ternyata Mama sangat sayang dengan saya," jawabku.
Mertuaku tersenyum lalu memegang tanganku.
"Sebetulnya dari dulu Mama memimpikan hal seperti ini, Roy," ujar mertuaku.
"Tapi karena istrimu dan Papamu selalu ada, ya Mama hanya bisa menahan perasaan saja," ujarnya lagi sambil mencium bibirku.
Aku pun segera membalas ciumannya. Dan sekarang aku mulai berani. Tanganku mulai meraba buah dada mertuaku dari luar dasternya, meremasnya perlahan. Tangan mertuaku pun segera melepas kain sarung yang aku pakai. Tangannya langsung meraba dan meremas kontolku dari luar celana dalamku. Kontolku makin mengeras. Mertuaku merogoh kontolku hingga berdiri tegak. Sambil tetap berciuman, tangannya terus mengocok dan meremas kontolku. Aku pun terus meremas buah dada mertuaku.
Tak lama, mertuaku bangkit lalu melucuti semua pakaiannya. Aku pun melakukan hal yang sama. Mertuaku segera naik ke tempat tidur, dan aku menyusul, menaiki tubuhnya. Aku kecup bibirnya.
"Mama senang kamu datang hari ini, Roy… Lebih senang lagi karena ternyata kamu bisa menerima rasa sayang Mama kepada kamu," ujar mertuaku sambil menciumku.
"Saya juga senang karena Mama sangat menyayangi saya. Saya akan menyayangi Mama," kataku sambil memagut leher mertuaku.
Mertuaku mendesah dan menggelinjang merasakan desiran nikmat. Pagutanku kemudian turun ke buah dada mertuaku. Kujilati dan gigit-gigit kecil puting susu mertuaku sambil tangan yang satu meremas buah dada yang lain.
"Ohh… mmhh… mmhh… ohh…" desah mertuaku, semakin merangsang gairahku.
Tapi ketika lidahku mulai turun ke perut, tiba-tiba mertuaku memegang kepalaku.
"Jangan ke bawah, Roy… Mama malu. Segera masukkin saja… Mama sudah tidak tahan," ujar mertuaku.
Aku tersenyum dan maklum karena mertuaku termasuk orang yang konvensional dalam masalah seks. Aku buka lebar paha mertuaku, lalu arahkan kontolku ke memek mertua yang sudah basah dan licin. Tangan mertuaku segera memegang kontolku dan mengarahkannya ke lubang memeknya. Tak lama… bless… kontolku langsung memompa. Terasa tidak seret, tapi masih enak menjepit kontolku.
"Ohh… sshh… oh, Roy… mmhh…" desah mertuaku ketika aku memompa agak cepat.
Mertuaku mengimbangi gerakanku dengan goyangan pinggulnya. Tak lama, tiba-tiba mertuaku bergetar lalu tubuhnya mengejang.
"Oh, Roy… Mama mau keluarr… mmhh…" jerit kecil mertuaku. "Terus setubuhi Mama…" desahnya lagi.
Beberapa saat kemudian tubuh mertuaku melemas. Dia telah mencapai orgasme. Aku pun berhenti sejenak memompa tanpa mencabut dari memek mertuaku. Memeknya terasa makin licin oleh air maninya.
"Mama belum pernah merasakan nikmat seperti ini, Roy," ujar mertuaku sambil mengecup bibirku.
"Terima kasih, Roy," ujarnya lagi sambil tersenyum.
Aku pun segera menggerakkan kontolku kembali menyetubuhi mertuaku.
"Boleh Roy minta sesuatu, Ma?" tanyaku sambil terus memompa.
"Apa?" ujar mertuaku.
"Saya mau setubuhi Mama dari belakang. Boleh?" tanyaku. Mertuaku tersenyum.
"Boleh, tapi Mama tidak mau nungging. Mama tengkurap saja ya?" ujar mertuaku.
"Iya, Ma," ujarku sambil mencabut kontolku. Mertuaku segera tengkurap sambil sedikit melebarkan kakinya.
"Ayo, Roy," ujar mertuaku.
Aku segera masukkan kontolku ke memek mertuaku dari belakang. Terasa lebih nikmat daripada dari depan. Mata mertuaku terpejam, dan sesekali terdengar desahannya. Aku pun terus menikmati sambil terus memompa. Kemudian terasa ada sesuatu yang sangat kuat ingin keluar. Kupercepat gerakanku. Ketika hampir mencapai klimaks, aku cabut kontolku, lalu — crott! crott! crott! — air maniku keluar banyak di punggung dan pantat mertuaku.
"Ohh… enak, Ma," kataku.
Kugesekkan kontolku ke belahan pantat mertuaku. Selang beberapa menit, setelah kelelahan agak hilang, mertuaku berkata, "Tolong bersihkan punggung Mama, Roy."
"Iya, Ma," ujarku. Lalu aku bersihkan air maniku di tubuh mertuaku.
Setelah berpakaian, kami keluar kamar. Terlihat wajah mertuaku sangat ceria. Menjelang sore, mertua lelaki pulang. Aku dan mertua perempuanku bertindak biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami.
Setelah makan malam, aku diminta mertua perempuanku untuk membawakan semua piring kotor ke dapur. Di dapur, mertuaku langsung menarik tanganku ke sudut dapur lalu menciumku. Aku membalasnya sambil tanganku langsung memegang selangkangannya kemudian meraba memeknya.
"Nakal kamu. Tapi Mama suka," ujar mertuaku sambil tersenyum.
"Nanti Papa ke sini, Ma. Udah ah, takut," ujarku.
"Tidak akan ke sini kok, Roy," ujarnya.
"Sebelum kamu pulang, Mama mau sekali lagi bersetubuh dengan kamu di sini," ujar mertuaku sambil tangannya meremas kontolku dari luar celana.
"Saya juga mau, tapi jangan di sini, Ma. Bahaya," ujarku.
"Ayo dong, Roy… Mama sudah tidak tahan," ujarnya lagi. Tangannya terus meremas kontolku.
"Kita ke hotel yuk, Roy?" ajak mertuaku. Aku mengangguk.
Kemudian dengan alasan akan ke rumah temannya, mertuaku perempuan meminta izin pergi diantarku.
"Jangan lama-lama ngobrol di sana, Ma. Si Roy kan malam ini mau pulang. Kasihan nanti dia capek," ujar mertua lelaki.
"Iya dong, Pa," ujar mertua perempuanku.
Kemudian kami naik motor segera pergi mencari hotel. Setelah selesai registrasi, kami segera masuk ke kamar. Tanpa banyak cakap, mertuaku langsung memeluk dan menciumku dengan liar. Aku balas ciumannya.
"Cepat kita lakukan, Roy… Waktu kita hanya sedikit," ujar mertuaku sambil melucuti semua pakaiannya.
Aku juga demikian. Mertuaku langsung naik ke kasur, lalu aku menyusul. Tangan mertuaku langsung menggenggam kontolku dan diarahkan ke memeknya.
"Mama kok buru-buru sih?" tanyaku sambil tersenyum ketika kontolku sudah masuk. Lalu aku pompa perlahan menikmati enaknya memek mertuaku.
"Habisnya Mama sudah tidak tahan sejak tadi di rumah, pengen merasakan kontol kamu lagi," kata mertuaku sambil menggoyang pinggulnya mengimbangi gerakanku.
Selang beberapa belas menit, tiba-tiba mertuaku mendekap aku erat sambil menggerakkan pinggulnya cepat. Kemudian — "ahh… mmhh… enak sayang…" — desah mertuaku mencapai puncak orgasmenya. Badannya melemas.
Aku terus memompa lebih cepat. Terasa lebih nikmat. Sampai beberapa lama kemudian aku tekan kontolku ke lubang memek mertuaku dalam-dalam, dan — crott… crott… crott… — air maniku keluar di dalam memek mertuaku.
"Maaf, Ma… Roy tidak bisa menahan, sehingga keluar di dalam," ujarku sambil memeluk tubuh mertuaku.
"Tidak apa-apa, Roy," jawab mertuaku. "Mama sudah minum obat kok," ujarnya lagi.
"Kalau Mama berkunjung ke rumah kamu, bisa tidak ya kita melakukan lagi?" tanya mertuaku.
"Bisa saja, Ma. Kita jalan berdua saja dengan alasan pergi ke mana gitu," jawabku. Mertuaku tersenyum.
"Kita pulang, Roy," ujar mertuaku.
Sesampai di rumah, aku langsung bersiap untuk pulang ke Bandung. Ketika aku memanaskan motor, mertua perempuan mendekatiku. Sementara mertua lelaki duduk di beranda.
"Hati-hati di jalan ya, Roy," ujar mertuaku.
"Iya, Ma. Terima kasih," ujarku sambil tersenyum.
"Tengokin Mama dong sesering mungkin, Roy," ujar mertuaku sambil tersenyum penuh arti.
"Iya, Ma," ujarku sambil tersenyum pula.
Lalu aku pulang. Sejak saat itu hingga kini, aku selalu menyempatkan diri sebulan sekali untuk datang ke rumah mertuaku — tentu saja setelah lebih dahulu di-SMS oleh mertua perempuanku.