Bab 1
Ibu Muda Tak Tahan Godaan Sopir Truk
Kisah ini juga true story. Dimulai saat Vannesa, seorang ibu muda 26 tahun yang telah bersuami dan mempunyai seorang anak berumur 1 tahun, ditempatkan di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Kabupaten ini terkenal dengan magisnya yang kuat, terletak di pesisir selatan Sumatera Barat. Demi kariernya di sebuah bank swasta, ia terpaksa bolak-balik PadangβLubuk Sikaping tiap akhir pekan mengunjungi sang suami yang menjadi dosen di sebuah universitas di kota Padang.
Awal Vannesa mengenal Jay adalah sejak Vannesa kos di rumah milik kakak perempuannya. Vannesa tidak begitu kenal dekat dengan Jay; ia hanya menganggukkan kepala saja saat bertemu dengannya, dan Jay pun begitu. Jadi mereka belum pernah berkomunikasi langsung. Sebagai adik pemilik rumah tempat kosnya, Vannesa berusaha menempatkan diri seakrab mungkin, apalagi sifatnya yang suka menyapa dan memberi senyum pada orang yang ia kenal. Vannesa tahu diri sebab ia adalah pendatang di daerah yang cukup jauh dari kota tempat ia bermukim.
Latar belakang Jay pun tidak banyak yang Vannesa ketahui β mulai dari statusnya, usianya, hingga pekerjaannya. Perkenalan mereka terjadi di saat Vannesa hendak pulang ke Padang.
Hari itu Jumat sore, sekitar pukul 17.30. Vannesa tengah menunggu bus yang akan membawanya ke Padang. Maklum, di depan rumah kosnya adalah jalan raya Lintas Sumatera, jadi bus umum dari Medan sering melewatinya. Tak seperti biasanya, meski jam telah menunjukkan pukul 17.50, bus tak kunjung lewat. Vannesa gelisah karena biasanya bus ke Padang sangat banyak. Jika tidak mendapat yang langsung ke Padang, ia biasa transit dulu di Bukittinggi lalu naik travel dari sana.
Kegelisahannya itu dilihat oleh ibu pemilik kos. Ia lalu memanggil Vannesa dan mengatakan bahwa adiknya, Jay, juga mau ke Padang untuk membawa muatan yang akan dibongkar di sana. Dengan sedikit basa-basi Vannesa berusaha menolak tawarannya, namun mengingat ia harus pulang dan bertemu suami serta anaknya, tawaran itu akhirnya ia terima. Maka berangkatlah Vannesa menaiki truk Jay menuju Padang.
Selama perjalanan Vannesa berusaha bersikap sopan dan akrab dengan lelaki adik pemilik kosnya itu, yang akhirnya ia ketahui bernama Jay. Usianya sekitar 45 tahun. Mereka pun terlibat obrolan yang semakin akrab, saling bercerita β dari pekerjaan Vannesa di perbankan hingga pekerjaan Jay sebagai sopir truk antardaerah. Jay bercerita tentang pengalamannya mengunjungi berbagai daerah di Sumatera dan Jawa. Vannesa mendengarkannya dengan baik. Jay bercerita tentang suka duka sebagai sopir, juga tentang stigma orang-orang mengenai sopir yang konon sering beristri di setiap daerah. Vannesa menanggapi seadanya; ia yang dibesarkan dalam keluarga pegawai negeri memang tidak begitu mengenal kehidupan sopir.
Vannesa pun bercerita tentang pekerjaannya di bidang perbankan dan suka dukanya. Jay sempat memuji Vannesa yang mau ditempatkan di luar daerah dan rela meninggalkan keluarga di Padang. Vannesa tentu memberikan alasan yang bisa diterima.
Vannesa juga memuji ketekunan Jay bekerja mencari nafkah dan tidak mau menggantungkan hidup pada keluarga kakaknya yang tergolong berada. Jay berkata bahwa truk yang ia sopiri itu milik kakaknya, setelah kakaknya dan suami pensiun dari guru. Anak-anak kakaknya sudah berkeluarga semua dan bekerja di beberapa kota di Sumatera serta Jakarta.
Selama perjalanan itu mereka semakin akrab. Vannesa sempat bertanya tentang keluarga Jay. Ia tampak sedih β menurutnya, sang istri meminta cerai dengan membawa serta dua orang anaknya, karena ada hasutan dari keluarga istri bahwa seorang sopir suka menelantarkan keluarga. Jay menceritakan sebab-musabab perceraiannya dengan lengkap. Bagi Vannesa saat itu hal itu tidaklah terlalu penting, namun sebagai lawan bicara yang baik selama perjalanan, ia lebih memilih mendengarkan saja. Hingga akhirnya Vannesa tiba di dekat rumahnya di Padang.
Vannesa dijemput suaminya di perempatan jalan bypass itu. Ia sempat mengenalkan Jay pada suaminya dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Tak lupa Vannesa menawarkan Jay singgah untuk makan, namun Jay dengan sopan menolak dengan alasan muatan truknya harus segera dibongkar. Mereka pun berpisah di perempatan bypass itu.
Semenjak mengenal Jay, Vannesa sering menumpang truknya ke Padang. Ia tidak khawatir lagi jika tidak ada bus umum. Sejauh itu, keakraban mereka masih dalam batas-batas norma masyarakat Minang. Kadang dalam perjalanan jika lapar mereka singgah untuk makan, dan Vannesa selalu berusaha membayar β sebagai wanita, ia tak ingin terlalu banyak berhutang budi. Itulah prinsip yang dianutnya sejak kecil. Masa sudah dikasih tumpangan gratis, makan pun minta gratis pula?
Pulang bersama Jay ke Padang sudah menjadi hal biasa bagi Vannesa. Kadang Jay tidak ke Padang, hanya ke Bukittinggi; Vannesa tetap ikut menumpang, lalu dari Bukittinggi naik travel atau bus. Vannesa pun akhirnya menganggap Jay seperti kakaknya sendiri. Ia sering memberi petuah tentang hidup, misalnya harus banyak sabar jadi istri. Terkadang Vannesa membawakan oleh-oleh untuk ibu kosnya, dan menyisihkan sedikit untuk Jay β meski harganya tidak seberapa, Jay sangat senang.
Selama dua bulan itu Vannesa selalu bersama Jay jika ke Padang. Lama-lama Jay mulai bersikap aneh. Ia sering bicara jorok dan tabu, berani bertanya tentang kehidupan ranjang Vannesa dengan suaminya. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Vannesa risih dan tidak enak hati. Kadang ia berpura-pura tidur jika Jay mulai bicara hal-hal yang tidak pantas. Meski begitu, Vannesa bersyukur Jay tidak macam-macam kepadanya. Ia memaklumi bahwa Jay mungkin sedang stres akibat hidupnya yang sendiri, dan Vannesa tidak menanggapinya β membiarkan saja seperti angin lalu.
Hingga sampailah saat Vannesa pulang bersamanya untuk kesekian kalinya, ketika Jay berusaha memegang jemarinya. Vannesa kaget, cemas, sekaligus takut. Ia langsung menarik tangannya.
"Da, jaan da. Vannesa alah balaki dan punyo anak ketek, apo uda ndak ibo mambuek Vannesa kecewa?" ucap Vannesa. Ia juga mengancam akan mengadukan perlakuan itu kepada kakaknya. Jay pun melepaskan tangannya. Vannesa berkata padanya, "Cukuik sampai disiko sajo da, Vannesa indak ka manumpang oto uda lai."
Sesampainya di Padang Vannesa hanya berucap terima kasih lalu diam. Ia masih kesal.
Hampir sebulan lamanya Vannesa tidak melihat Jay di rumah kakaknya, meski truknya masih terparkir di halaman. Selama itu Vannesa pulang naik bus yang kadang transit di Bukittinggi. Dari ibu kosnya ia mengetahui bahwa Jay sedang mengunjungi mantan istrinya untuk menjenguk anaknya. Vannesa pun larut dengan rutinitasnya seperti biasa.
Namun hatinya yang tadinya kesal dan marah kepada Jay, tanpa sadar mulai berubah. Tiba-tiba saja Vannesa merindukan Jay dan ingin kembali menumpang truknya. Ia seakan rindu berat.
Jumat sore itu, dengan masih mengenakan pakaian kerja dan penutup kepala, Vannesa mau saja diajak pulang bersama Jay yang sedang mengantarkan muatan ke Padang. Mereka berangkat pukul setengah lima. Dalam perjalanan, lelaki berbadan tegap itu kembali membicarakan hubungan laki-laki dan perempuan serta libido tersembunyi wanita. Vannesa malah mendengarkan dengan saksama dan sesekali memberi komentar. Mungkin karena lama tidak tersalurkan, atau karena lelaki itu punya kemampuan lebih, ditambah mungkin bantuan obat kuat, pikir Vannesa. Sepertinya wanita muda itu tidak lagi peduli dengan omongan jorok Jay.
Hingga senja. Sekitar pukul tujuh lebih mereka turun mampir di rumah makan di pinggiran jalan di Bukittinggi untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut. Anehnya, saat itu Vannesa membiarkan tangannya digandeng oleh Jay. Mereka makan dengan lahap. Setelah makan mereka berkemas dan melanjutkan perjalanan menuju Padang.
Mobil mulai jalan meninggalkan rumah makan. Melewati daerah Bukit Ambacang β daerah yang dulunya tempat pacuan kuda β mungkin karena perut sudah kenyang dan udara malam yang dingin berembus dari celah kaca, Vannesa mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, tetapi karena jalan yang tidak rata, kepalanya sering terantuk. Jay lalu menawarkan agar Vannesa bersandar di bahunya.
"Win, daripado adiek ndak bisa lalok, labiah elok cubo sandaan kapalo di bahu uda," kata Jay.
"Ndak usahlah da, kan uda sadang manyopir, beko malah mambuek uda ndak bisa manyopir elok-elok, apolagi iko kan lah malam," kata Vannesa menolak dengan halus, padahal saat itu ia sudah mengantuk berat.
Dengan sebelah tangannya Jay meraih tangan wanita muda itu dan menariknya mendekat hingga mereka duduk bersisian, hanya dipisahkan handel persneling. Vannesa akhirnya menurut dan merebahkan kepalanya di bahu Jay. Ia terlelap sesaat. Padahal hati kecilnya berbisik bahwa itu salah besar dan sangat tidak boleh. Namun dorongan yang jauh lebih besar membuatnya membiarkan itu terjadi.
Saat terpejam dan setengah tertidur, tiba-tiba sebuah kecupan menerpa pipi dan bibirnya. Vannesa kaget dan langsung menolak wajah Jay dengan tangannya. Jay menghentikan kecupannya, meski tangan kirinya masih merangkul bahu Vannesa. Vannesa berusaha melepaskan rangkulan itu dan mengingatkan agar Jay berkonsentrasi ke jalan.
"Da sadarlah da, iko kan di jalan raya, bisa cilako beko. Caliak tu, mobil lain kancang-kancang," kata Vannesa. Jay pun menurut dan kembali berkonsentrasi mengemudi.
Tak lama kemudian, saat truk berjalan perlahan karena macet di daerah Padangpanjang, Jay kembali mencium bibir tipis Vannesa sekilas. Vannesa langsung terbangun dan duduk menjauh. Perasaannya dongkol, namun tak mampu berkata-kata apalagi berbuat kasar.
"Eh, da Jay ko ndak mangarati juo. Vannesa mintak jaan di ulangi, badoso da, apo kato urang beko kalau mancaliak kito saat tadi?" Namun Jay tetap santai seakan Vannesa mengizinkannya.
"Abihnyo Vannesa mambuek uda galigaman," jawabnya sambil meminta maaf.
Kembali Vannesa diam membisu selama perjalanan. Tangan kiri Jay meraih bahunya untuk kembali merangkulnya. Selama perjalanan itu Jay tidak lagi menciumnya, hanya meremas jemari lentiknya dan mengecup kepalanya yang masih mengenakan penutup kepala. Rasa hangat dan nyaman menghampiri perasaan Vannesa.
Hinggaβ¦
Saat truk memasuki wilayah jalan bypass yang gelap dekat simpang bandara, Jay melambatkan laju truknya dan kembali mencium dan melumat bibir wanita muda itu. Herannya, Vannesa malah membiarkannya saja. Jujur, ia merasakan desir gairahnya mulai bangkit. Jay menghentikan truknya di tepi jalan dan kembali mencium, melumat bibir bawah Vannesa dengan lebih bergairah. Tangan kanannya mulai meraba dan menemukan bukit padat di dada wanita muda itu, meremasnya perlahan. Vannesa diam, matanya terpejam, menikmati gairah yang telah bangkit meluap. Dalam keasyikan ituβ¦
Tiba-tiba cahaya dari lampu mobil dari arah berlawanan menyorot ke arah mereka. Jay langsung menghentikan aksinya dan kembali menjalankan mobil hingga rumah Vannesa. Sesampainya di rumah, Vannesa masih terbayang perlakuan Jay pada dirinya. Untunglah suaminya sedang berada di Jakarta dan tidak akan mengetahui perubahan sikapnya. Malam itu dalam tidurnya Vannesa bermimpi melakukan hal yang sama hingga ia disetubuhi oleh Jay. Dalam mimpinya ia merasa amat puas β puas yang berbeda sekali saat ia melakukannya dengan suaminya.
Kembali kini Vannesa ke Pasaman dan bekerja seperti biasa. Sudah tiga minggu ini ia tak bertemu Jay. Kata kakaknya Jay sedang ada muatan ke Pematang Siantar. Vannesa sangat berharap untuk bertemu. Dirinya dilanda rindu yang sangat merajam. Ia seolah-olah menjadi seorang gadis remaja yang amat rindu pada kekasih, pikirannya hanya tertuju pada Jay seorang.
Beberapa minggu kemudian mereka bertemu dan kembali berangkat bersama saat Vannesa hendak pulang ke Padang. Dalam perjalanan Jay meminta Vannesa melepas kacamatanya.
"Uda taragak mancaliak mato diek Win indak mamakai kacamato," kata Jay. Vannesa pun menurut, melepas kacamatanya dan menyimpannya dalam kotak. Kembali tangan kiri Jay merangkul bahu Vannesa, menariknya agar duduk berdekatan.
Dalam perjalanan menuju Padangpanjang Jay meminta Vannesa melepas penutup kepalanya.
"Win, uda taragak mancaliak rambuik Vannesa. Salamo iko uda alun pernah mancaliaknyo. Sabanta sajonyo, kan hanyo di ateh oto iko, ndak ado do nan ka maliek," katanya.
"Jaan daa. Vannesa alah barumahtanggo, punyo anak. Vannesa taragak manjadi ibu jo istri nan elok. Sabab uda beko bisa barubah pangana, Vannesa kuatie da," jawab Vannesa keberatan, sebab merasa amat telanjang jika kerudungnya lepas.
"Ala, diek Vannesa jaan takuik ka uda. Uda kan indak jaek, apolagi uda sayang bana ka Vannesa, walaupun alah punyo laki jo anak," kata Jay meyakinkan. Akhirnya Vannesa pun meluluskan permintaannya. Penutup kepalanya dilepas dan diletakkan di pangkuannya sendiri.
Tangan kiri Jay naik membelai rambut Vannesa, dari atas turun ke tengkuknya yang ditumbuhi rambut halus.
"Uda suko mancaliak bulu roma di kuduak diek Win," ujar Jay.
"Harum bana," lanjutnya seraya menarik leher wanita muda itu mendekat ke wajahnya dan mencium tengkuk berbulu halus itu. Vannesa merasa geli dan merinding; gairahnya mulai terpicu. Jay lalu merebahkan kepala Vannesa di bahunya di sepanjang jalan yang macet pada penurunan Lembah Anai, sesekali meraba pipi wanita muda itu.
"Pipi diek Win aluih jo barasiah," tambah Jay. Vannesa diam saja. "Biasalah laki-laki, suka menyanjung. Seperti biasa dilakukan suamiku sebelum menciumi aku," batin Vannesa.
Vannesa berusaha memicingkan matanya. Namun saat laju mobil terhenti karena macet, Jay mencoba mencium pipi kirinya, terus turun hingga menemukan bibir tipis yang tersaput merah dan mengecupnya sesaat. Vannesa berusaha mengatupkan bibirnya, namun tangan kanan Jay berusaha masuk ke dalam kaos panjangnya melalui bagian bawah, menyentuh pembungkus dadanya. Vannesa memejamkan matanya.
"Uhhh..." desah wanita muda itu perlahan. Ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menikmati dan larut, sementara tangan kanannya masih memegang penutup kepalanya di pangkuan. Beberapa saat kemudian Jay menarik tangannya dan kembali melajukan truk saat kemacetan berakhir.
Di jalan Sicincin, kembali dalam kemacetan, Jay dengan tangan kanannya merengkuh wajah Vannesa dan tiba-tiba melumat bibirnya. Vannesa terpana dan mukanya memerah. Namun ia tidak bisa marah karena rasa nikmat yang mulai timbul. Jay melepaskan bibir Vannesa, lalu meremas jemari lentiknya, kemudian tangannya merayap masuk melalui belahan atas kaos bergaris putih yang dikenakannya. Vannesa menahan laju tangan itu dengan tangan kirinya β baru bagian perutnya yang tersentuh, terasa hangat dan kasar. Tangan Jay pun keluar dan ia kembali asyik dengan kemudi.
Saat memasuki jalan bypass yang gelap, Jay menepi dan menghentikan truknya.
"Ko baranti da?" tanya Vannesa bingung.
Jay diam saja tak menjawab dan kembali merangkul bahu wanita muda itu, menariknya mendekat. Di atas mitsubishi colt berwarna kuning itu bibir Vannesa kembali dikecupnya β bukan hanya dikecup, tapi dilumat dengan tekun, mengelitiki setiap ujung bibir tipisnya. Sedikit demi sedikit gairah dalam tubuh wanita muda itu bangkit. Vannesa membalas setiap lumatan bibir Jay, membuka mulutnya memberikan keleluasaan pada lidah Jay. Lidah mereka saling berpilin. Tangan kanan Jay merayap masuk ke dalam kaosnya, bergerak naik menemukan bukit padat di sebelah kanan dan meremasnya dari luar bahan bra. Wanita muda itu seolah tak mampu menolak. Ia berusaha melepaskan tangan Jay, namun keinginannya dikalahkan oleh hasratnya yang telah terpicu. Tubuh indahnya mulai menggeliat dalam dekapan Jay. Selang sekitar 25 menit kemudian Jay menghentikan perbuatannya.
"Indak usahlah disiko, daerah iko agak angek, acok tajadi parampehan," ujarnya khawatir.
Vannesa diam, membenahi pakaiannya β kaos dan penutup kepalanya β juga membenahi napasnya yang memburu disertai gairah yang sempat memuncak. Lagi pula persimpangan arah ke rumahnya telah dekat. Mobil Mitsubishi kuning itu pun kembali bergerak. Vannesa terdiam selama perjalanan menuju persimpangan rumahnya. Ada penyesalan dalam dirinya karena bisa terlibat sejauh itu, namun perasaan itu seakan terhapus oleh rasa yang ditimbulkan perlakuan Jay padanya.
Sesampainya di rumah sekitar pukul setengah sepuluh malam, Vannesa langsung mandi. Ternyata suaminya masih berada di kampus.
Malam itu Vannesa bersetubuh dengan suaminya. Ia heran, malam itu ia kurang bergairah seolah hanya menjalankan kewajiban saja.
"Alah lamo awak indak bahubuangan diak," kata suaminya. Vannesa merasa berhutang karena memang dalam minggu itu mereka belum pernah berhubungan badan. Dengan enggan ia pun menuruti keinginan suaminya. Di tengah kesibukan suaminya, tiba-tiba datang sekelebat bayangan Jay. Gairah dan nafsunya langsung mereda. Namun demi menjalankan tugasnya sebagai istri, Vannesa berpura-pura menikmati hubungan itu hingga selesai.
Aktivitas Vannesa kembali seperti biasa. Ia kembali ke Pasaman dan bekerja seperti biasanya.
Hari itu hari Selasa. Saat ia pulang ke kosnya, ia mendapati rumah dalam keadaan kosong. Rupanya ibu kos beserta suaminya berangkat ke Palembang mengunjungi salah seorang anaknya. Praktis hanya Vannesa yang berada di rumah itu. Jay pun tak kelihatan. Besoknya, hari Rabu, Jay muncul namun tidak dengan truknya.
"Oto sadang di pelo-an di bengke," ujar Jay menerangkan saat Vannesa menanyakan truknya. Malam itu Jay mengajak Vannesa makan.
"Win, alah makan Win?" tanya Jay.
"Alun lai da," sahut Vannesa.
"Kalua awak makan lah, ado tampek nan rancak untuk makan, daerahnyo dingin jo tanang," ajak Jay.
"Ndak baa do da," sahut Vannesa. "Tapi jan lamo-lamo yo da?"
Vannesa masuk ke kamarnya dan berganti pakaian β kaos panjang lengan merah muda, jaket, dan celana panjang katun hitam β lalu berangkat bersamanya. Kebetulan ada mobil kakaknya yang ditinggal, sebuah Toyota Starlet merah. Mereka berangkat sekitar pukul tujuh malam. Tempat yang dituju terletak agak jauh ke arah Medan namun masih di wilayah Lubuk Sikaping, sekitar satu jam perjalanan dari ibu kota kabupaten.
Mereka makan di sebuah warung makan dari anyaman bambu menyerupai saung, dengan dinding setinggi bahu orang dewasa. Mereka makan ikan bakar secara lesehan. Vannesa berada di sisi kanan Jay. Tempat itu memang sangat romantis β lampunya redup dan bunyi jangkrik meningkahi suasana. Mereka makan, berbincang, bercanda, dan sesekali saling menyuapi. Setelah makan mereka duduk bersantai.
Mereka mulai saling berciuman dan berpelukan erat. Vannesa terlena oleh suasana. Ia rebah di pangkuan Jay. Wajah mereka saling tatap dalam senyuman. Perlahan Jay membelai wajah wanita muda itu, merabai kehalusan kulitnya. Wajahnya menunduk mendekati wajah Vannesa. Jantung Vannesa berdegup kencang. Jay mengecup kepala Vannesa yang masih tertutup, turun ke keningnya, ke pipi yang licin, dan bergerak naik menjumpai sepasang bibir lembut yang memerah. Diciumnya perlahan. Vannesa memejamkan matanya saat bibir berkumis lelaki itu mulai melumat bibir tipisnya. Awalnya Vannesa hanya diam, namun akhirnya ia mulai menerima dan bereaksi, ikut arus lumatannya. Ada hawa kuat yang menggiringnya untuk mengikuti alunan gairah yang diberikan Jay.
Lidah mereka telah saling belit dalam kebasahan. Tangan kiri Jay mulai merayap β awalnya mengelus leher bagian dalam, terus turun lewat lubang krah ke arah dada, masuk ke balik bra, dan meremas puting bukit padat Vannesa yang membulat dengan perlahan. Tangan kanan Jay merayap di sepanjang paha Vannesa, mengelusnya bergantian β paha kiri dan kanan tak terlewatkan β meski kedua kaki Vannesa tetap rapat. Lecutan gairah pun meletup dalam diri Vannesa. Napasnya mulai memburu, tersengal-sengal.
Kurang lebih satu jam kemudian baru mereka pulang ke rumah. Dalam mobil, di perjalanan pulang sekitar lima menit, kejadian itu terjadi lagi. Mobil Starlet merah itu sengaja dihentikan Jay. Di dalam mobil, di kursi depan, Jay kembali meraba wajah dan dada Vannesa yang masih terbungkus kaos panjangnya, melumat bibir tipisnya. Vannesa hanya bisa diam meski lidah Jay dengan leluasa mengait-ngait lidahnya. Agak lama kemudian sebelah tangan Jay berusaha masuk ke dalam celana panjang katun yang Vannesa kenakan, tangannya menyelinap menyentuh bagian kewanitaannya dari luar pakaian dalamnya. Vannesa seperti tersengat β geli β namun menarik kembali tangan itu.
"Jaan lah da... Vannesa alah punyo laki jo anak," ujar Vannesa lirih. "Vannesa malu..." tambahnya mencoba menahan keinginan Jay, di sela-sela nafsunya yang hampir membakar dirinya.
Jay pun menurut dan kembali menghidupkan mesin mobil, berangkat menuju rumah. Begitu sampai mereka langsung masuk. Vannesa masuk ke kamar paviliunnya. Sedangkan Jay pergi lagi β ada urusan katanya. Padahal saat itu Vannesa sudah sangat terangsang; batinnya menuntut pelepasan, dan andaikan Jay datang menemuinya kembali untuk menuntaskan apa yang telah mereka mulai, Vannesa pun takkan kuasa menolaknya. Tapi Jay tampaknya memang sedang memancingnya. Paginya Vannesa kembali menjalankan aktivitasnya di kantor seperti biasa.
Malamnya β malam Jumat itu β mereka kembali makan malam bersama di luar, namun di tempat yang berbeda. Dengan arah yang sama ke arah Medan, tapi berbelok ke kanan. Suasana tempatnya seperti restoran biasa, ada beberapa orang singgah untuk makan, tidak terlalu ramai. Vannesa maklum Jay mengajaknya ke luar kota agar mereka tidak dipergoki oleh temannya ataupun teman sekantor Vannesa. Malam itu mereka hanya makan dan saling berpegangan tangan, tidak seperti kemarin malam. Setelah itu mereka langsung pulang.
Malam Jumat itu Vannesa jatuh dalam pelukan dan takluk pada keperkasaan Jay di atas ranjang. Semalaman mereka berhubungan hingga pagi.
Pagi harinya Jay bangun lebih dahulu, meninggalkan Vannesa masih terlelap di ranjang yang sudah acak-acakan. Saat Vannesa bangun ada sedikit rasa sesal di hatinya; selangkangannya terasa sedikit nyilu. Masih tertera dalam benaknya bagaimana perlakuan Jay pada setiap sudut tubuhnya, terutama saat-saat penetrasi yang dramatis. Pagi Jumat itu Vannesa mandi sebersih-bersihnya, berusaha agar jejak-jejak di tubuhnya hilang. Sprei tempat tidur pun direndamnya.
Vannesa masuk kantor pagi Jumat itu seperti biasa. Dari kantor ia menelepon suaminya di Padang, memberi tahu bahwa ia tidak bisa pulang karena ada urusan kantor yang harus diselesaikan. Ia berbohong β berusaha mendapatkan waktu yang cukup untuk menghilangkan jejak di tubuhnya dan mencari jalan keluar dari perselingkuhan yang tak pernah ia kehendaki ini.
Di kantor Vannesa menyelesaikan seluruh pekerjaannya dengan baik hingga sekitar pukul setengah lima sore. Sesampainya di rumah, wanita berkulit putih itu langsung menuju kamar mandi, mencuci pakaian dan sprei yang telah direndamnya pagi itu, lalu mandi. Setelah itu ia berkutat di dapur memasak untuk dirinya sendiri dan membereskan kamar.
Senja itu sekitar pukul enam, Jay datang. Tanpa bicara sepatah pun ia langsung menuju rumah induk dan terdengar mandi. Sesaat kemudian, dengan mengenakan kemeja panjang, Jay mendatangi Vannesa yang tengah duduk di ruang tamu paviliun kamarnya. Sambil berdiri di pintu ia bertanya, "Vannesa, pulang ke Padang nggak?"
"Mana bisa Vannesa pulang," jawab Vannesa sewot dari pintu paviliun. "Vannesa belum siap ke Padang, masih takut pada kesalahan yang terjadi malam kemarin. Di tubuh ini penuh jejak perbuatan abang. Apalagi jika suami Vannesa minta jatah, bisa kiamat," ujar wanita bertubuh sintal itu.
Jay hanya tersenyum dan duduk di sebelah kanan Vannesa. "Abang mau pergi ke Medan malam ini, untuk tiga hari," tambahnya. Kemudian ia meraih jemari wanita muda itu. "Abang sangat menyayangi Vannesa."
Vannesa diam saja, merasa percuma untuk menolak karena sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan β hubungan yang tercipta di antara mereka sudah tak ada batas lagi sejak malam Jumat yang bergelora kemarin.
Jay mengajak Vannesa duduk lebih dekat di sofa. Kedua tangannya berada di bahu kiri Vannesa, perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup β bibir berkumisnya berlabuh pada kening wanita bertubuh sintal itu, meluncur turun di sepanjang pipi halusnya, dari dahinya menuju dagu yang lancip, naik ke atas menemukan kedua bibir lembut wanita muda itu dan langsung melumatnya.
Beberapa saat Vannesa membiarkan dan menerima perlakuan Jay pada bibirnya. Lelaki gagah itu kini menjulurkan lidahnya, menyelusuri permukaan lembut bibir Vannesa mili demi mili, mendesak kedua bibir agar memberikan jalan, menyelusuri setiap permukaan gusi dengan lembut dan perlahan. Kedua bibir wanita muda itu membuka perlahan; Jay terus mengulum rongga mulutnya beberapa saat hingga Vannesa tergerak membalasnya, mulai menghisap. Kedua tangannya dengan nakal menjamah dada Vannesa yang saat itu masih berpakaian lengkap. Vannesa menengadahkan kepalanya menyambut dengan sukacita. Tubuhnya mulai bersandar ke bahu lelaki itu, mengikuti saja β tubuhnya menggeliat-geliat dalam geli yang memabukkan.
Lalu Jay melepaskan pagutan pada bibirnya. Ia berdiri, melangkah ke arah pintu, menutupnya, dan kembali ke arah wanita muda itu. Ditariknya tangan kanan Vannesa untuk masuk ke kamar. Dalam cahaya lampu yang terang, Vannesa tak sedikitpun berusaha menolak. Jay merebahkan Vannesa di ranjang biru muda dalam kamarnya, terlentang, lalu dengan tergesa-gesa melepaskan seluruh busana Vannesa β termasuk pakaian dalam putihnya dan pakaian dalam biru tua yang membungkus pertemuan pahanya β melemparkan semuanya di lantai.
Vannesa hanya memandang dengan napas yang mulai tak teratur. Ada ketakutan dan keinginan kuat yang bercampur. Ia tahu Jay ingin melakukannya lagi β seperti juga keinginannya sendiri. Masih terpatri kuat dalam benaknya kejadian malam sebelumnya yang sangat melenakannya. Vannesa terlentang pasrah, tubuh Jay mulai menindih, dan kedua kaki wanita muda itu dibukanya. Tak sadar, Jay telah memasukkan kejantanannya pada kewanitaan Vannesa. Hanya rasa nyilu yang terbit dari pertemuan paha; tubuhnya terlonjak ke kiri dan ke kanan. Lelaki itu bergerak perlahan, menghunjamkan pinggulnya dengan tempo yang teratur. Pinggul wanita muda itu menyentak ke atas menjemput hunjaman batang kokoh tersebut β hingga akhirnya Jay menghunjam dengan kuat, mendesakkan kejantanannya sedalam-dalamnya, menggeram, dan mencapai klimaks. Melepaskan semuanya di dalam tubuh wanita muda itu. Tubuhnya jatuh masih di atas tubuh wanita berkulit putih itu. Padahal Vannesa belum apa-apa. Setelah klimaks Jay pun berdiri, mengenakan pakaiannya kembali, menjauh dari Vannesa dalam kamar tersebut.
"Abang akan ke Medan, jadi tadi itu adalah rasa yang ingin abang sampaikan pada Vannesa," ucap Jay. "Abang minta maaf, abang tahu Vannesa belum apa-apa. Lain kali abang akan memuaskan adek Vannesa," tambah lelaki berkulit gelap itu.
Vannesa merasa aneh β Jay malah minta maaf karena persetubuhan itu hanya memuaskan satu pihak saja. Jay minta izin berangkat malam itu, kira-kira pukul sembilan malam. Malam itu Vannesa tinggal sendiri di kamarnya, ada rasa kecewa karena ia merasa hanya menjadi sarana pelampiasan nafsu Jay saja.
Sabtu itu Vannesa tetap di rumah karena Jay ke Medan selama tiga hari. Ia merapikan rumah dan membereskan pakaian untuk kerja Senin nanti. Pukul sepuluh pagi suaminya menelepon β ia dan anak mereka akan ke Bukittinggi hari Sabtu itu dan sekalian singgah di Lubuk Sikaping. Suaminya datang sekitar pukul tiga sore bersama anak mereka dan mertua Vannesa. Seharian itu Vannesa asyik bersama anak dan suaminya, jalan-jalan di daerah itu. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk bermesraan layaknya suami istri. Minggu sore sekitar pukul lima suaminya pulang ke Padang. Vannesa pun kembali larut dengan rutinitasnya.
Saat itu Vannesa baru pulang dari kantor sekitar pukul lima sore. Masih sendirian, karena kakaknya Jay belum pulang. Vannesa pun mandi. Selasa malam itu Jay pulang. Ia langsung ke rumah dan mandi. Saat itu Vannesa mengenakan kimono tidur berikut penutup kepala dan celana panjang bermotif bunga. Jay lalu menemui Vannesa di kamarnya dan mengajaknya makan di dalam rumah kakaknya, sebab ia membawa oleh-oleh makanan yang dibeli di jalan.
"Van, abang beli nasi dengan gulai kambing di tempat langganan. Enak Van, kawani abang makan ya?" kata Jay. Vannesa yang lapar pun menyetujuinya. Mereka pun makan malam bersama. Setelah makan Vannesa merasakan tubuhnya amat panas β maklum, gulai kambing β peluhnya keluar hingga keningnya basah. Jay pun begitu.
Setelah makan mereka duduk berhadapan, masih di dalam rumah. Vannesa menceritakan tentang kedatangan suaminya hari Sabtu itu. Jay hanya tersenyum simpul dan tidak sedikitpun merasa iri atau cemburu. Kemudian ia berdiri dan meraih tangan kanan Vannesa, menariknya ke arah kamarnya. Vannesa agak keberatan dan berusaha melepaskan tangannya.
"Ada apa kok Vannesa dibawa ke sini?" tanya Vannesa jengah.
"Ada sesuatu buat Vannesa," jawabnya.
Vannesa dengan sedikit menahan diri melangkah ke kamar yang terletak di sebelah kiri, terpisah dari rumah induk berlantai kayu itu. Ia dimintanya duduk di tepian kasur. Vannesa duduk saja mengikuti permintaannya karena Jay memohon dengan sangat. Springbed di kamar itu satu lapis, sudah lusuh; bau rokok dan minuman terbersit di hidung Vannesa. Ia memaklumi kamar Jay yang agak jorok itu.
Kemudian Jay mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja di kamarnya β sebuah kotak berwarna hitam. Rupanya ia baru saja membeli sebuah kalung berwarna seperti emas putih. Vannesa merasa tersanjung atas sikapnya itu.
"Ini hadiah," katanya. "Abang minta Vannesa mau memakainya sekarang juga," pintanya.
Vannesa berusaha menolak, namun Jay yang berdiri di depannya terus memaksa. Akhirnya dengan terpaksa Vannesa membiarkan lelaki itu bergerak ke belakang untuk memasangkan kalung itu. Jay melepas penutup kepala Vannesa dan meletakkannya di atas ranjang, melepas kalung yang selama ini membelit di lehernya dan memberikannya ke tangan Vannesa, kemudian memasangkan kalung putih itu pada leher mulusnya dari arah belakang. Mulai saat itu Vannesa memakai kalung pemberian Jay.
Setelah kalung putih itu terpasang, Jay mulai mencium dan mengelus tengkuk sebelah kanannya. Tangan satunya merangkul pinggang Vannesa dari belakang. Vannesa merinding, kepalanya menunduk karena geli. Ia berusaha menolakkan kepala Jay dengan tangan kanannya, namun Jay terus mencium tengkuknya, sementara tangan kirinya bergerak melalui ketiak ke depan, pada bukit padat yang membusung di dada Vannesa.
"Uhhh..." Vannesa mengeluh merasakan gairahnya kembali terbit. Jemari Jay memilin bukit padat di dadanya yang saat itu masih terbalut kimono dan pakaian dalam. Vannesa berusaha melepas tangan Jay yang berada di dadanya, namun tenaga lelaki itu kuat tak tergoyahkan. Hingga kancing kimono itu akhirnya dilepaskan Jay. Vannesa diam saja hingga pakaian tersebut jatuh ke lantai. Jay membaringkan tubuh sintal Vannesa yang terbuka pada bagian depannya hingga pinggang itu di atas ranjang. Hanya dua buah bra berwarna hijau muda polos berukuran 34B yang masih menutupi bukit padat di dada pemiliknya.
Perlahan Jay mencium belahan dada yang memutih mulus itu. Mata Vannesa memicing menikmati rasa geli yang timbul.
"Ahh..." rintih wanita muda itu tak henti-hentinya. Hingga akhirnya bra Vannesa lepas, membebaskan bukit padat di dadanya bersentuhan dengan udara bebas. Jay membalikkan tubuh Vannesa menyamping hingga mereka berhadapan, tangannya meraih ke belakang, pengait bra Vannesa dilepaskan. Tak sedikitpun Vannesa berusaha melarang atau menolak, karena dirinya pun telah tak punya lagi yang harus dipertahankan. Pakaian atasnya sudah lepas, tubuh mulus memutihnya telanjang hingga pinggang. Pikirannya kosong. Hanya tinggal celana panjang yang masih di tempatnya. Kembali Jay membalikkan tubuh mulus itu menelentang, mulai menarik celananya. Vannesa membiarkan saja, malah membantu dengan mengangkat pinggul hingga pakaian dalam berwarna putih polos yang merupakan lembaran kain terakhirnya pun meluncur turun pada kedua tungkai mulusnya dan lepas di lantai. Vannesa telanjang dan terkulai pasrah, diderai nafsunya yang mulai bergelora.
Jay pun berdiri, melepas semua kain yang melekat di tubuhnya, dalam tatapan pasrah Vannesa yang terlentang. Lalu ia rebah di samping kirinya. Vannesa pun mulai menginginkannya β mungkin karena pengaruh makanan tadi membuat tubuhnya seakan amat panas bergairah. Jay bergerak membelai dari dada hingga kewanitaan Vannesa. Jari tangan kanannya masuk ke dalam lipatan kewanitaan yang basah, dibantu oleh kedua kaki Vannesa yang membuka memberikan jalan. Vannesa hanya bisa menatap mata Jay, menggeliat bak cacing kepanasan dan merintih.
"Ohh..." Lalu Jay berdiri dan mengambil sebuah botol berwarna hitam dari atas lemarinya, kemudian kembali duduk di samping Vannesa. Ia menuangkan isinya yang berwarna merah ke atas perut Vannesa hingga ke dada dan lehernya β sangat wangi. Lalu ia menjilat cairan itu yang telah tumpah di atas kulit perut, di noktah pusar, hingga leher; ada rasa geli dingin dan gairah yang Vannesa rasakan dalam sinar lampu kamar yang terang benderang. Ia menjilatnya hingga tandas. Lalu kepala Jay turun, meluncur ke arah kewanitaan Vannesa, sementara kedua tangannya tak henti-hentinya menggeluti bukit padat di dada wanita sintal itu. Spontan kedua kaki Vannesa membuka β dirinya terangsang hebat.
Saat Vannesa diam menikmati, Jay membuka kewanitaan Vannesa dengan jemari tangan kanannya, lalu menjilatnya dengan lidahnya yang terasa kasar. Wanita bertubuh mulus itu hanya bisa menggeliat dan merintih-rintih. Ia memiringkan tubuh karena nikmat dan geli yang dirasakan bersamaan, menarik kepala Jay. Dengan intens lidah Jay terus bermain di liang kewanitaan wanita sintal itu, menggelitiki bagian lembut yang memerah muda dan telah basah itu. Tampaknya ia amat ingin menyempurnakan dan menuntaskan gairah yang membulak-bulak melanda tubuh sintal itu. Beberapa saat kemudian Vannesa pun orgasme. Tubuhnya mengejang, pinggulnya menelikung ke atas sambil merintih dengan keras. Vannesa hanya bisa memicingkan mata, mengejang, dan merintih β semua cairan kewanitaannya dihisap Jay.
Jay bangkit dan memandang wanita sintal yang terbaring bersimbah keringat. Tangannya membuka kedua kaki Vannesa yang mulai merapat kembali, lalu meraih tangan kanan Vannesa β tiba-tiba saja Vannesa merasakan menyentuh dan memegang sebuah tonggak yang kuat. Dirinya kaget; rupanya Jay menarik tangan wanita muda itu agar memegang batang kejantanannya yang kokoh. Vannesa takjub karena ukurannya yang luar biasa. Karena agak takut, dilepaskannya kembali. Namun Jay dengan cepat menarik tangan wanita berkulit putih itu agar kembali memegangnya. Vannesa menggenggamnya sambil memandang ke wajah lelaki yang terbaring di sampingnya dengan rasa khawatir takut akan menyakitinya β beberapa saat kemudian Vannesa melepaskannya kembali.