Bab 1
Ibu Shinta, Dosenku
Kisah ini terjadi saat aku masih kuliah. Pengalaman yang ingin aku bagi adalah cerita tentang dosenku—ia mengajar mata kuliah Bahasa Inggris. Kini aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik. Namaku Jack, dan aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga punya penghasilan sendiri.
Kisahku berawal dari reuni SMA di Jakarta. Di sana aku bertemu lagi dengan dosen Bahasa Inggrisku. Kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan sangat menggairahkan—penampilannya menakjubkan, memakai rok mini ketat dan tank top sehingga lekuk tubuhnya tampak begitu jelas.
Wajar saja dia masih muda, sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolah itu hanya terdiri dari dua kelas dan kebanyakan siswanya perempuan. Kami ngobrol cukup lama tanpa sadar waktu berjalan cepat hingga para undangan harus pulang. Kami pun berjalan menuju pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar dulu.
Tiba-tiba Ibu Shinta teringat tasnya tertinggal di dalam kelas, sehingga kami terpaksa kembali. Waktu itu hampir jam dua belas malam; tinggal kami berdua, dengan hanya lampu-lampu di tengah lapangan yang masih menyala. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta mengambil tasnya, sementara aku terbenam dalam lamunan masa lalu bersama teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.
"Jack, kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa," jawabku—padahal suasana yang hening dan amat sunyi itu membuat hasratku bergejolak, apalagi dengan Ibu Shinta di sampingku; jantungku selalu berdebar.
"Ayo, Jack, kita pulang. Nanti Ibu kehabisan angkutan," kata Ibu Shinta.
"Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya," jawabku ragu-ragu.
"Terima kasih, Jack."
Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku—bahwa aku menyukainya.
"Oh my God, what am I doing," batinku.
Ternyata keadaan berkata lain. Ibu Shinta terdiam dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha meminta maaf.
Ibu Shinta ternyata sudah bercerai dari suaminya yang orang asing itu; suaminya telah pulang ke negaranya. Aku tertegun mendengar pernyataan itu. Kami berhenti sejenak di depan kantornya, lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke dalam. Aku bertanya-tanya, untuk apa masuk ke kantornya semalam ini.
Rasa penasaran mendorongku masuk juga, bermaksud mengajaknya pulang, tapi Ibu Shinta menolak. Merasa tidak enak, aku menunggunya. Kurangkul pundaknya; Ibu Shinta hendak menolak, namun terjadilah sesuatu yang tak terduga—Ibu Shinta menciumku, dan aku membalasnya.
Alangkah senangnya aku. Dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahan yang selama ini terpendam. Ibu Shinta tak mau kalah; ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar, mengharapkan kehangatan seorang pria.
Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar. Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami semakin panas, lalu terjadilah pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah kemaluanku sehingga aku sangat terangsang.
Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya. Satu per satu kancingnya dibuka dengan lembut; kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah—dadanya yang kukira kecil ternyata amat besar dan indah, dengan BH hitam berenda yang modelnya sangat seksi.
Karena tidak sabar, kucium lehernya. Kini Ibu Shinta setengah telanjang; aku tidak mau langsung menelanjanginya, ingin perlahan-lahan menikmati keindahan tubuhnya.
Aku pun membuka bajuku. Tubuhku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta.
"Jack, kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang. Tutup pintunya dulu dong," bisiknya dengan suara sedikit bergetar, mungkin menahan birahinya yang mulai naik.
Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku menutup pintu depan agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya, menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Betapa mulus kedua pahanya; pangkalnya tampak menggunduk, terbungkus celana dalam hitam yang amat minim.
Sambil mencium pahanya, tanganku menyelusup ke pangkal pahanya—meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.
"Mau apa kau? Sshh... sshh," tanyanya lirih sambil memegangi kepalaku erat-erat.
"Ooo... oh... oh..." desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.
Serangan kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasianya berada di depan mataku—kemerahan dengan klitoris yang besar, dikelilingi rambut yang tidak terlalu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya, pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan hingga harus mengangkat-angkat pinggulnya.
"Aahh... kau pintar sekali. Belajar dari mana?"
Tanpa sungkan, Ibu Shinta mencium bibirku, lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol—meremas-remasnya beberapa saat. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkannya di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit hingga dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan; mulutku seperti melekat di mulutnya.
"Uh, kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?" tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar.
Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang menggairahkan itu. Agar tidak merepotkan, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya—padat, kencang, dan putih mulus.
"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang."
Ibu Shinta pun melucuti kaos dan celanaku, lalu terakhir celana dalamku.
Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando, kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik, menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.
"Gantian dong." Tanpa menunggu jawabannya, segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri hingga batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya.
"Justru di situ nikmatnya. Selama ini sama suami main seksnya gimana?" tanyaku sambil menciumi payudaranya.
Ibu Shinta tak menjawab; dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu perempuan itu sudah ingin disetubuhi, namun aku sengaja membiarkannya penasaran.
Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga. Batang kemaluanku sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkannya ke selangkangannya. Ketika mulai menembus, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar.
"Ohh..." desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya.
Setelah seluruhnya masuk, aku segera bergoyang naik-turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang.
Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan; tampaknya dia akan orgasme. Genjotan kutingkatkan.
"Ooo... ahh... hmm... sshh..." desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.
"Sekarang Ibu Shinta berbalik, menungging di atas meja. Sekarang kita main di atas meja, oke!" Aku mengatur posisi badannya, dan Ibu Shinta menurut. Dia bertumpu pada siku dan kakinya.
"Gaya apa lagi ini?" tanyanya.
Setelah siap, aku mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya—yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami beristirahat.
"Capek?" tanyaku.
"Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku."
"Tapi kan nikmat, Bu," jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
"Ya deh, capek. Tapi tolong sekali lagi—aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih, sudah nggak tahan lagi. Sekarang Ibu Shinta yang di atas," kataku sambil mengatur posisinya.
Aku terlentang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk, tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotan dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti iramaku yang makin cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang menambah gairah nafsuku, apalagi diiringi lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme.
Ketika dia mencapai orgasme, aku belum selesai. Segera kuubah posisi ke gaya konvensional—Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks, aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan.
"Oh, Ibu Shinta... aku mau keluar nih, ahh..." Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya.
Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami berdiam dalam posisi rileks seperti itu.
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi—seolah tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami alami. Setelah itu kami bangun di pagi hari, pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu, dan sorenya baru bisa kujemput.
Sore telah tiba. Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kami makan di mal, lalu beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali—aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku mulai meremas kedua buah dadanya. Napasnya makin terengah, tanganku masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
"Uuuhh... mmmhh..." Ibu Shinta menggelinjang, tetapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku membuka dengan paksa baju dan rok mininya.
Ibu Shinta kini berbaring di jok belakang dengan posisi yang menantang, hanya mengenakan BH merah dan celana dalam merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar—bergantian kiri dan kanan, masih terbungkus BH seksinya. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku; erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya.
Aku pun segera membenamkan kepalaku di antara kedua pahanya.
"Ehhh... mmmhh..." Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya perlahan.
"Ooohh... aduuuhh..." Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah; bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya—membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan napasnya seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya, meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku; kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, lalu kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta.
"Mmmhh... mmmhh... ooohhm..." Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku; ibu pun mulai menyedot.
Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
"Oouuuh, Ibu Shinta... enaaaak... teruuus..." erangku.
Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya sendiri yang juga telah banjir. Hampir dua puluh menit dia menghisap, dan tak lama terasa sesuatu di dalamku ingin meloncat keluar.
"Ibu Shinta... ooohh... enaaak... teruuus," teriakku.
Mengerti bahwa aku mau keluar, dia memperkuat hisapannya; sambil menekan liang kenikmatannya sendiri, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam.
"Creet... suurr... ssuuur..."
"Oughh... Jack... nikmat..." erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal.
Hisapannya terlalu kuat hingga aku tak kuasa menahan ledakan; sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya.
"Crooot... croott... crooot..." — banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.
"Aaahkk... ooough," ujarku puas. Aku masih belum lemas dan masih mampu; aku pun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya.
Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta ada di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah selangkangannya, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang.
"Ohm, masuk... augh... masukin."
Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk dan Ibu Shinta semakin mendesah. Kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal; dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam dan mulutnya mulai menceracau.
"Aduhhh... sshh... iya... terus... mmmhh... aduhhh... enak, Jack."
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris, dan pinggulnya. Kami pun berlomba mencapai puncak.
Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila. Dia membungkukkan tubuh dengan bibir kami saling melumat; tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang dan—sambil menindihnya—mengejar puncak orgasmeku sendiri.
Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan dia pun mengeluh lemas merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah; tubuh kami yang basah kuyup oleh keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.