18px

Bab 1

Ibu Wiwiek: Malam di Perkebunan Teh

Semua yang menyaksikan mereka mengatakan bahwa perempuan itu adalah seorang ibu yang beruntung. Anaknya, Satria, sebagai anak tunggal, sangat memperhatikan ibunya. Kelahiran anak kedua mereka berjalan lancar, dan keduanya sehat. Mereka tampak begitu mesra: anak memanjakan ibunya, dan ibu memanjakan anaknya. Setiap Kamis Satria sudah berada di perkebunan teh mereka. Kuliahnya tidak seintensif semester-semester awal โ€” ia sudah punya banyak uang. Saat itulah mereka berlibur ke Singapura. Di sana sang ibu menjalani operasi kecil untuk menutup peranakannnya. Dokter menjamin bahwa perempuan itu tidak akan pernah hamil lagi.

Dengan bahagia mereka kembali ke perkebunan teh yang luas, indah, dan sejuk itu. Tidak jauh dari perkebunan terdapat sebuah danau; mereka selalu mengisi waktu senggang di sana. Pembantu mereka setiap sore pulang ke rumahnya sendiri dan tidak tidur di rumah mereka. Penjagaan satpam pun diperketat โ€” yang biasanya dua orang per malam menjadi tiga orang. Jika sudah ada aba-aba, satpam selalu menolak tamu yang datang malam hari.

Kedua anak mereka sudah tidur pulas. Kamar tidur yang besar itu tertutup rapat. Udara sejuk membangkitkan gairah mereka. Mungkin malam itu adalah masa subur perempuan itu. Walau usianya sudah lebih dari 50 tahun, tubuhnya masih sintal, putih, dan mulus terjaga rapi. Anak kedua mereka baru berusia 5 bulan dan masih terus menyusu โ€” Satria tidak mengizinkan perempuan itu memberikan susu kaleng; harus ASI.

"Mama, sudah kepingin, sayang..." bisik perempuan itu ke telinga Satria anaknya. Satria tersenyum, memeluk perempuan itu dengan lembut, dan mengecup bibirnya. Perempuan itu langsung merebahkan kepalanya ke dada Satria. Mereka saling meraba dan mengelus.

"Kamu tidak menyesal membuntingi aku, kan?"

"Tidak, sayang," jawab Satria.

"Kamu adalah suamiku yang sejati. Papamu hanya mampu memberiku anak laki-laki tunggal, yaitu kamu. Setelah itu papamu loyo โ€” terlalu banyak melacur. Justru malah aku yang dituduhnya selingkuh. Hatiku sangat pedih," rayu perempuan itu.

"Sudahlah, Ma. Sekarang kita sudah bebas. Aku juga tahu kalau papa suka melacur," bisik Satria ke telinga ibunya. Ibunya tersenyum bangga.

"Di Singapura, kamu mau dubur Mama, sayang?"

"Ya, Ma. Kata orang, lewat dubur itu enak."

"Sekarang kamu mendapatkannya. Tapi setelah dubur, jangan lupa memek Mama ya, sayang."

"Ya, Ma."

Si ibu melepaskan pakaiannya sendiri sampai bugil. Satria pun melepas pakaiannya. Mereka sudah sama-sama bugil. Ibu langsung mengisap kontol Satria dan mengelus-elus buah zakarnya. Kontol itu langsung berdiri keras. Ibu mengambil baby oil bayi dari meja dan melumasi kontol Satria yang besar dan panjang itu. Beberapa tetes dioleskannya ke lubang duburnya sendiri. Dia pun menungging di atas tempat tidur sementara Satria berdiri di lantai.

"Ayo sayang, dimasukkan. Perlahan-lahan ya โ€” Mama belum pernah."

Kedua kaki ibu sudah mengangkang. Satria merapatkan kepala kontolnya ke lubang dubur ibunya. Begitu kepala kontol itu menyentuh lubang dubur sang ibu, ibunya sudah merasakan kenikmatan. Perlahan Satria menekan kontolnya โ€” ia mempelajarinya dari beberapa buku petunjuk. Setelah ditekan, kepala kontol itu masuk sedikit. Satria mencabutnya kembali, menekannya lagi, lalu mencabut lagi. Setelah beberapa kali demikian, Satria memasukkan kepala kontolnya hingga batas paretnya. Ia membiarkan kepala kontol itu diam di sana sekitar 45 detik, lalu mencabutnya kembali. Kemudian ditekannya lagi ke dalam sampai ke paret, dibiarkan sejenak, lalu perlahan-lahan kontolnya ditekan lebih dalam. Ibunya mendesah. Satria membiarkannya sambil mengelus-elus punggung ibunya.

"Tetesi lagi baby oil-nya, sayang," kata ibu mendesah. Satria mengambil baby oil dari kasur dan meneteskannya ke lubang dubur ibunya โ€” mengenai kontolnya juga. Satria mulai menekan kembali kontolnya perlahan-lahan dalam licinnya baby oil itu, mendorongnya masuk lebih jauh ke dubur ibunya, terus ditetesi sambil mencucuk kontolnya ke dalam.

"Raba memek Mama sayang. Pulas-pulas itil Mama, sayang," desah ibunya. Satria mulai meraba itil ibunya dengan tangan kiri, sementara tangan satunya meraba tetek ibunya dan lidahnya menjilat-jilat punggung ibunya. Dan akhirnya... Satria menembus memek ibunya. Kontolnya sudah masuk semua, dan Satria menahannya sebentar. Tangannya masih meraba itil ibunya dengan lembut dan mengelus tetek ibunya yang masih berair susu.

Perlahan Satria mencabut kontolnya dari lubang memek ibunya. Saat akan menusuknya kembali, ia tidak lupa meneteskan beberapa tetes baby oil. Saat Satria menarik kontolnya perlahan, ibunya mendesah.

"Oh... enak sekali, sayang..." Satria diam, terus melakukan gerakan itu dengan perlahan. Ia mempelajarinya dari buku: bagi pemula, saat menarik dan mencucuk harus dilakukan perlahan-lahan. Gerakan cucuk-cabut yang perlahan itu terus dilakukannya sampai akhirnya ibunya mendesah-desah dan meminta dipercepat. Memek ibunya sudah basah dan becek.

"Percepat sedikit, sayang. Tapi nanti kalau mau keluar, semprotkan dalam memek Mama ya. Mama mau spermamu."

Satria mulai mempercepat tusukannya ke dubur ibunya. Cucuk-tarik, cucuk-tarik, cucuk-tarik terus menerus.

"Tolong Mama, sayang. Percepat, sayang..."

Satria memeluk ibunya dari belakang, menciumi punggung ibunya, dan memainkan bibirnya dengan lembut. Ia mempercepat gerakan kontolnya di lubang memek ibunya, dan ibunya mendesah-desah.

"Ayo sayang... jangan siksa Mama, Nak. Puaskan Mama, baru nanti kamu puaskan dirimu dan semprotkan spermamu sebanyaknya di memek Mama, sayang..."

Satria pun bagaikan kuda liar mengentoti dubur ibunya semakin cepat. Ibunya merapatkan kedua kakinya dan mendesah panjang...

"Mama sampai, sayang. Cepat cabut kontolmu. Masukkan ke lubang memek Mama, sayang..."

Satria mencabut kontolnya yang keras. Saat itu ibunya merebahkan diri terlentang di atas tempat tidur, meraih anaknya, dan memeluknya. Ia tangkap kontol Satria dan menuntunnya ke lubang memeknya yang basah. Clup โ€” kontol itu segera memasuki lubang memek ibunya. Ibunya langsung memeluk Satria dan menjepit kedua kakinya ke pinggang Satria. Mulut Satria diarahkannya ke teteknya yang penuh.

"Menyusu lah, Nak. Menyusu lah. Ada air susu untukmu," katanya mendesah. Satria menyedot susu ibunya, berbagi satu tetek dengan adiknya dan anak kandungnya sendiri. Ia meneguk air susu ibunya yang tawar itu, dari satu tetek ke tetek lainnya.

"Jangan dihabisi susunya, sayang. Sisanya untuk anak kita," kata ibunya mendesah sambil terus memeluk Satria dengan kuat.

Satria pun memeluk ibunya dengan kuat dan mendesah panjang. Ia melepaskan spermanya di rahim ibunya. Mereka berpelukan erat. Masih ada sesekali getar di tubuh Satria. Ibunya terus memeluknya dan menjilati leher Satria, sementara sebelah tangannya meraih selimut dan menyelimutinya agar terlindung dari udara dingin pegunungan.

Saat napas mereka sudah mereda dan kembali normal, bayi mereka merengek meminta minum susu. Satria tersenyum, bangun, lalu membangunkan ibunya. Ibunya mengambil anak mereka dari boks dan menyusuinya.

Satria masuk ke kamar mandi untuk mencuci kontolnya. Ia menikmati pemandangan sepasang bibir mungil yang mengisapi tetek ibunya. Satria berdiri di sisi ibunya yang sedang menyusui. Si ibu tersenyum dan mengelus kontol Satria yang terkulai. Satria memeluk ibunya dan menggesek-gesekkan kontolnya hingga akhirnya keras kembali.

"Dasar buas," bisik ibunya merayu dan genit. Satria duduk di sisi ibunya. Mereka berdua masih telanjang bulat.

"Naiklah ke pangkuanku dan masukkan kontolku ke memekmu, Ma." Ibunya tersenyum.

"Masih belum puaskah, sayang?"

"Untukmu tidak ada kepuasanku, Ma."

Ibunya menggendong bayi dan naik ke pangkuan Satria. Satria menuntun kontolnya ke lubang memek ibunya. Kontol itu segera masuk. Teteknya diisap oleh bayi mereka, dan lubang memeknya dimasuki kontol Satria โ€” kedua anaknya sedang memainkan perannya masing-masing. Sampai akhirnya Satria melepaskan kembali spermanya dan si ibu pun tersenyum bahagia.

"Puas, sayang," katanya tersenyum. Satria diam tidak menjawab. Ditariknya selimut dan diselimutinya dirinya sendiri.

Bayi pun sudah kenyang minum susu dan dikembalikan ke boksnya. Ibu masuk ke selimut Satria dan mereka tertidur pulas sampai pagi โ€” dan mereka tidak akan terbangun kecuali jika bayi mereka menangis.

TAMAT

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’