18px

Bab 1

Ima: Hilangnya Mahkotaku

Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan satu anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia; kami saling menyayangi dan mencintai. Namun sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga, terutama terhadap istriku.

Bermula beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan istriku. Aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya. Dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik perasaan kelelakianku: kakak perempuannya yang bernama Ima. Ima dan aku seusia — dia lebih tua beberapa bulan saja. Dia sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan sudah dikaruniai satu orang anak yang sudah duduk di sekolah dasar. Dengan tinggi badan 160 cm, berat badan sekitar 46 kg, berkulit putih bersih, berambut indah tebal dan hitam sebahu, matanya bening, dan memiliki suara agak cempreng tapi menurutku seksi, Ima sangat menggodaku.

Pada awalnya kami biasa-biasa saja. Pada saat aku menemani pacarku ke rumahnya atau dia menemani pacarku ke rumahku, kami hanya ngobrol seperlunya, tidak ada yang istimewa — sampai setelah aku menikah dua tahun kemudian, dia menghadiahi kami sebuah kamar di hotel berbintang dan ikut menginap bersama anak tunggalnya di kamar sebelah.

Setelah menikah, frekuensi pertemuan aku dengan Ima jadi lebih sering dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol diselingi canda-canda konyol. Pada suatu hari, aku dan istri beserta mertuaku berdatangan ke rumahnya untuk bermalam akhir pekan. Bangunan megah berlantai dua, pekarangan yang cukup luas ditumbuhi tanaman hias dan beberapa pohon rindang, serta letak rumah yang agak jauh dari tetangga membuat suasana bisa lebih privat.

Sesampainya di sana, setelah istirahat sebentar, istriku dan mertuaku mengajak berbelanja keperluan bulanan. Aku agak mengantuk sehingga meminta izin untuk tidak ikut. Untungnya Ima memiliki sopir yang bisa dikaryakan sementara. Jadilah aku tidur di kamar tamu lantai bawah. Kira-kira setengah jam mencoba tidur, mataku tidak juga terpejam. Aku pun bangkit dan keluar kamar untuk menonton TV.

Ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ia mengenakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you-can-see, dengan panjang kaus hingga 15 cm di atas lutut kakinya yang putih mulus. "Lho, kok nggak ikut?" tanyaku sambil menghirup wangi parfumnya yang harum dan menggairahkan. "Lagi males aja," sahutnya tersenyum sambil melirikku, tengah membuat sirup jeruk dingin di meja makan. "Anto ke mana?" tanyaku tentang suaminya. "Lagi ke luar negeri, biasa, urusan kantor," sahutnya lagi.

Aku menuju ke depan sofa untuk menonton TV. Sementara Ima berlalu menuju lantai atas.

Sedang asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku dari lantai atas, "Di, Adi!" "Ya!" sahutku. "Ke sini sebentar deh, Di." Dengan tidak terburu-buru aku naik dan mendapatinya sedang duduk di sofa besar untuk tiga orang sambil meminum sirup jeruknya dan menghidupkan TV. Di lantai atas terdapat ruang keluarga mini yang tersusun apik dengan lantai berkarpet tebal dan empuk, dan hanya ada satu sofa besar yang sedang diduduki Ima. "Ada apa, Neng?" kataku bercanda setelah sampai di atas, langsung duduk di sofa bersamanya — aku di ujung kiri dekat tangga, Ima di ujung kanan.

"Rese luh. Sini, temenin gue ngobrol dan curhat," katanya.

"Curhat apaan?"

"Apa ajalah, yang penting gue ada teman ngobrol."

Maka selama lebih dari sejam aku ngobrol tentang apa saja dan mendengarkan curhat tentang suaminya. Baru aku tahu bahwa Ima sebenarnya sangat jengkel dengan suaminya karena sejak menikah sering ditinggal pergi lama — sering lebih dari sebulan.

"Kebayang kan gue kayak gimana? Kamu mau nggak temenin aku sekarang?" tanyanya sambil menggeser duduknya mendekati aku setelah gelasnya diletakkan di meja samping. Aku bisa menebak apa yang ada di pikirannya saat ini.

"Kan gue sekarang lagi nemenin," jawabku sambil membenahi posisi duduk agar lebih nyaman, sedikit serong menghadap Ima.

Ima makin mendekat. Setelah tidak ada jarak duduk lagi di antara kami, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil bertanya, "Mau?"

Aku diam saja sambil tersenyum dan memandang matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak.

"Bagaimana dengan pembantu-pembantunya, dan gimana kalau mendadak istriku dan nyokap pulang?" tanyaku.

"Mereka tidak akan datang kalau aku nggak panggil, dan nyokap bisa berjam-jam kalau belanja," jawabnya semakin dekat ke wajahku.

Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan di leherku dan tangan kanannya membelai pipiku dengan wajah yang begitu dekat, diiringi napas harumnya yang sudah mendengus pelan tapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi, tangan kananku kuselipkan di antara lehernya yang jenjang dan rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadinya diam mulai bergerak membelai pinggangnya.

"Mmhh, mmhh." Napas Ima mulai memburu dan mendengus-dengus. Kami mulai saling melumat bibir, berciuman Prancis panas yang berlangsung dengan dengusan napas kami yang terus memburu. Aku mulai menciumi dagunya, pipinya, menjilati telinganya, menuju belakang telinga, kemudian turun ke lehernya.

"Hhngg, ahh, Dhi, oohh, honey, enghh," desahnya sambil memejamkan mata menikmati permainan bibir dan lidahku di lehernya yang jenjang. Kedua tangannya merengkuh kepalaku sementara kepala Ima bergerak ke kiri dan ke kanan menikmati kecupan serta jilatan di lehernya.

Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya kemudian turun membelai dan mengusap paha kanannya yang putih, mulus, dan halus, untuk kemudian menyelusup ke dalam kaus gombrongnya menuju buah dadanya. Aku agak terkejut merasakan buah dadanya yang agak besar, bulat, dan masih kencang, padahal setahuku Ima menyusui anaknya selama setahun lebih. Tanganku bergerak nakal membelai dan meremas lembut pinggiran bawah buah dada kanannya.

"Buah dadamu masih kencang dan kenyal, Neng," kataku sambil melepas permainan di lehernya dan memandang wajahnya yang manis dan agak bersemu merah, tanpa kusudahi remasan tanganku.

"Kamu suka ya?" sahutnya sambil tersenyum.

Aku mengangguk.

"Terusin dong," pintanya manja sambil kami kembali berciuman penuh gairah.

Tangan kanan Ima yang tadinya berada di kepalaku sudah turun membelai tonjolan di selangkanganku yang masih terbungkus celana katun. Ima menggosok-gosokkan tangannya secara berirama sehingga membuatku makin terangsang dan penisku makin mengeras. Napas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima.

Masih dengan posisi miring, tangan kiriku menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun menuju selangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk meloloskan tangan nakalku menuju sasaran. Aku mulai meraba celana dalamnya yang menutup vaginanya — kurasa sudah lembab dan basah. Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah merintih-rintih dan mendesah menikmati permainan jemariku, diselingi pagutan-pagutan kecil bibirku dan jilatan lidahku di lehernya. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon jemariku masuk lebih dalam.

Tanpa menunggu, jariku bergerak membuka ikatan kanan celana dalamnya dan mulai membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di labia mayoranya, sementara jari telunjuk dan jari manisku menggesek-gesekkan dan agak menjepit-jepit pinggiran bibir vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan.

Sementara Ima memejamkan matanya dan dari bibir mungilnya mengalir rintihan-rintihan juga desahan-desahan berkali-kali. Kemudian jari tengahku mulai turun dan kugesek-gesekkan untuk membelah bibir kemaluannya yang kurasa sudah basah. Berkali-kali kugesek dengan sisi dalam jari tengahku, kemudian mulai kutekuk dan kugaruk jari tengahku agak dalam di bibir vaginanya yang kenyal, lembut, dan bersih.

Sementara Ima makin merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun ke kiri dan ke kanan. "Ouuhh, hemmhh, sshh, aahh, Dhi, enak, honey," rintih dan desahannya berkali-kali.

Permainan jari ini kusertai dengan ciuman-ciuman di leher dan bibirnya serta saling menyedot lidah. Setelah puas dengan posisi miring, aku agak mendorong tubuhnya agar duduk selonjor santai, sementara aku berdiri di karpet dengan dengkul menghadapnya.

Ima agak terdiam dengan napasnya yang memburu. Perlahan kubuka kaus gombrongnya. Saat itulah aku dapat melihat tubuhnya separuh telanjang — lebih putih dan indah dibandingkan istriku. Dua bukit kembarnya terlihat bulat membusung padat, sangat indah dengan ukuran 36B, putih, dengan puting merah muda yang sudah mengeras menahan nafsu birahi yang bergejolak.

Sambil tangan kiriku bertopang pada tepian sofa, mulutku mulai menciumi buah dada kanannya dan tangan kananku mulai membelai, menekan, dan meremas buah dada kirinya dengan lembut. "Aahh, hhnghh, honey, enak banget, terus, aahh, mmnghh, adhii," Ima bergumam tak karuan menikmati permainanku. Kedua tangannya meremas dan menarik-narik rambutku. Ima mendesah dan merintih-rintih hebat ketika putingnya kuhisap-hisap dan agak kugigit-gigit kecil sambil tangan kananku meremas buah dada kirinya dan memelintir putingnya.

Ima sangat menikmati permainanku di dadanya bergantian, kanan dan kiri, hingga dia tak sadar berucap, "Adhii, oohh, buat aku puas kayak adikku di hotel dulu, hhnghh, mmhh."

Ups — aku agak kaget. Tanpa berhenti bermain aku berpikir, rupanya Ima menguping malam pertamaku dulu bersama istriku. Memang pada malam itu dan pada pertemuan-pertemuan intim sebelumnya aku selalu membuat istriku berteriak-teriak menikmati permainan seks­ku. Rupanya begitu. Oke deh, Kak, sekaranglah saat yang juga sudah aku tunggu-tunggu dari dulu.

"Adhii, sekarang dong, aahh, aku sudah tidak tahan, oohh," ujarnya. Tapi aku masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan kehalusan kulit tubuh Ima.

Setelah bermain di kedua buah dadanya — menjilat, menghisap, menggigit, meremas, dan memelintir — aku menjilati seluruh badannya, jalur tengah di antara buah dadanya, perutnya yang ramping putih dan halus, menggelitik pusarnya dengan ujung lidahku, menjilati pinggangnya.

"Aduh, geli dong, Sayang, uuhh."

Kemudian aku menuju ke kedua pahanya yang putih mulus, kujilati dan kuciumi sepuas-puasnya.

"Aahh, ayo dong, Sayang, kamu kok nakal sih, aahh."

Sampailah aku di selangkangannya. Ima memakai celana dalam transparan berwarna merah muda dari sutra lembut, dan kulihat sudah sangat basah oleh pelumas vaginanya.

"Sayang, kamu mau ngapain?" tanyanya sambil melongokkan kepalanya ke bawah ke arahku.

Aku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku nakal. Dengan mudah kubuka celana dalamnya dan kini tubuh Ima sudah polos tanpa sehelai benang pun. Kemudian aku membuka kedua kakinya dan kulihat pemandangan yang sangat indah.

Bibir vaginanya sangat bersih dan berwarna agak merah muda dengan belahan berwarna merah, meskipun sudah melahirkan satu orang anak, dan di atasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat.

"Oohh, Ima, bersih dan merah banget," ujarku memuji.

"Hihihi, suka ya?" tanyanya.

Tanpa kujawab, lidahku langsung bermain dengan vaginanya — kujilati seluruh bibir vaginanya berkali-kali, naik turun. Tubuh Ima mengejang-ngejang. "Aahh, aahh, Dhi, oohh, enak, Dhi, aahh. Anto nggak pernah mau begini, mmhh." Lidahku mulai menjilati bibir vaginanya naik turun dan menjilati labia mayoranya dengan ujung lidahku.

Ima menggeliat-geliat, mendesah-desah, dan melenguh-lenguh. Aku menjilati vaginanya sambil kedua tanganku meremas-remas kedua buah dadanya. "Hhnghh, nngghh, aahh, Dhi, honey," gumamnya sangat menikmati permainan lidah dan bibirku yang menghisap-hisap dan menjilat-jilat klitorisnya berulang-ulang, menghisap-hisap seluruh sudut vaginanya, serta lidahku mendesak-desak ke dalam liang vaginanya berkali-kali tanpa ampun. "Oohhnghh, Dhi, more, honey, more, aahh."

Tangan kananku kemudian turun untuk bergabung dengan bibir dan lidahku di vaginanya. Sedikit demi sedikit dengan gerakan maju mundur, jari tengahku kumasuk-masukkan ke dalam lubang vaginanya yang sudah becek, makin lama makin dalam. Setelah masuk seluruhnya, jari tengahku mulai menggaruk-garuk seluruh bagian dinding dalam liang vaginanya sambil sesekali kugerakkan ujungnya berputar dan kusentuh-sentuh daerah G-spotnya. Ima meradang dan menggelinjang hebat ketika G-spotnya kusentuh. Lidahku tidak berhenti menjilati sambil kuhisap-hisap klitorisnya.

Ima berusaha mengimbangi permainan jariku dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah. "Sshh, enghh, uuhh, Adhii, ouuhh, aahh, sshh, enghh." Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya selain suara rintihan, erangan, lenguhan, dan desahan kenikmatan.

Sekitar 20 menit kemudian liang vaginanya berkedut-kedut dan menghisap. "Oohhnghh, aahh, Dhi, aku sampai, oohh, henghh." Ima berteriak-teriak mencapai klimaksnya sambil menyemburkan cairan kental dari dalam vaginanya yang berdenyut-denyut berkali-kali. Kucabut jariku dan langsung menghisap cairan yang keluar dari lubang vaginanya sampai habis tak bersisa. Tubuhnya mengejang dan menggelinjang hebat disertai rintihan kepuasan. Kedua kakinya dirapatkan menjepit kepalaku dan kedua tangannya menekan kepalaku lebih dalam ke arah vaginanya. Kemudian tubuhnya mulai lemas setelah menikmati klimaksnya yang dahsyat.

"Ohh, Adi, kamu gila. Enak banget, oohh. Lidah dan hisapanmu waow, tob banget dah, oohh," katanya sambil tersenyum puas sekali melihat ke wajahku yang masih berada di atas vaginanya sambil kujilati klitorisnya. "Anto nggak pernah mau oral-in aku, oohh," dengan selingan suara dan desahannya yang menurutku sangat seksi.

Sambil beranjak duduk, Ima mengangkat kepalaku dan melumat bibirku. "Sekarang gantian aku. Kamu sekarang berdiri biar aku yang bekerja, oke?!" ujarnya.

"Oke, honey. Jangan kaget ya," sahutku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku sambil berdiri.

Sekilas wajahnya agak keheranan tapi Ima langsung bekerja membuka gesper, kancing, dan ritsleting celanaku. Ima agak terkejut melihat tonjolan di tengah celana dalamku.

"Wow, berapa ukurannya, Di?" tanyanya.

"Kira-kira aja sendiri," jawabku sekenanya.

Tanpa ba-bi-bu Ima langsung meloloskan celana dalamku dan dia agak terbelalak melihat kemegahan senjataku. "Aww, gila, muat nggak nih?"

Sebelum aku menjawab, lidahnya yang mungil telah memulai serangannya dengan menjilati seluruh bagian penisku, dari ujung sampai pangkal, hingga kedua kantung bijiku dihisap-hisapnya rakus.

"Sshh, aahh, Ima, sshh," aku dibuatnya merem melek menikmati jilatannya.

"Abis dicukur ya?" tanyanya sambil terus menjilat.

Aku hanya tersenyum sambil membelai kepalanya.

Kemudian Ima mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum penisku. "Mm," gumamnya. Penisku mulai masuk seperempat ke mulutnya, kemudian Ima berhenti dan lidahnya mulai beraksi di bagian bawah penisku sambil menghisap-hisapnya. Tangan kirinya memegang pantat kananku dan tangan kanannya memilin-milin batang penisku. Nikmat sekali rasanya.

Lalu mulut mungilnya mulai menelan batang penisku yang tersisa secara perlahan-lahan. Kurasa kenikmatan yang amat sangat dan kehangatan rongga mulutnya yang tidak ada taranya saat penisku terbenam seluruhnya di dalamnya. Agak nyeri sedikit di ujung helmku, tapi itu dikalahkan nikmatnya kuluman bibir iparku ini.

Ima mulai memaju-mundurkan gerakan kepalanya sambil terus mengulum penisku. "Sshh, aahh, enak, Ima, terus, Sayang, uuhh," gumamku. Lidahnya tidak berhenti bermain pula sehingga aku merasakan goyangan-goyangan kenikmatan di penisku dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun, nikmat sekali. Aku mengikuti irama gerakan maju mundur kepalanya dengan memaju-mundurkan pinggulku. Kedua tanganku kubenamkan di rambut kepalanya yang kuacak-acak.

Setelah itu dengan agak membungkukkan tubuhku, tangan kananku mulai mengelus-elus punggungnya sedangkan tangan kiriku mulai meremas-remas buah dada kanannya — kuremas, kuperas, kupijit, dan kupuntir puting susunya. Desahannya mulai terdengar mengiringi desahan dan rintihanku sambil tetap mengulum, mengocok, dan menghisap penisku.

"Ima, mmhh," rintihku.

Mendengar rintihanku, Ima makin mempercepat tempo permainannya. Gerakan maju mundur dan jilatan lidahnya yang basah makin menggila sambil dihisap dan disedot, dipuntir-puntirnya dengan bibir mungilnya dan gerakan kepala berputar, membuat seluruh persendian tubuhku berdesir.

"Aahh, Ima, oohh, mmnghh, gila bener, oohh."

Kuluman dan hisapannya tidak berhenti hingga 20 menit. "Gila luh, 20 menit gue oral kamu nggak klimaks, sampai pegel mulut gue," katanya sambil berdiri dan melingkarkan kedua tangannya di leherku untuk kemudian kami berciuman sangat panas. Ima berjinjit karena tinggiku 172 cm sedangkan dia 160 cm. Lima menit kami menikmati ciuman membara.

Kedua tanganku meremas-remas kedua bongkahan pinggulnya yang bulat, padat, namun kenyal dan halus kulitnya, lalu aku membopongnya menuju kamarnya sambil terus berciuman. Sambil merebahkan tubuh mungilnya, kami berdua terus berciuman panas dan tubuh kami rebah di kasur empuknya sambil terus berpelukan. Napas kami saling memburu deras menikmati tubuh yang sudah bersimbah keringat. Berguling ke kanan dan ke kiri, tangan kananku kembali meluncur ke buah dada kirinya, meremas dan memuntir-puntir putingnya.

Ima memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya menikmati permainan ini sambil bibir kami saling mengulum deras, berpagutan, menghisap lidah, dengan napas saling memburu. Kuciumi kembali lehernya, kiri kanan. Ima mendesah-desah sambil kakinya dilingkarkan di pinggangku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Penisku terjepit di antara perut kami, dan karena Ima menggoyang-goyangkan pinggulnya, kurasakan gesekan-gesekan nikmat.

"Aahh, ahh, Adi, cumbui aku, honey, aahh, puasi aku, Sayang, ehmm," Ima mengerang-erang.

Aku kembali meluncur ke kedua buah dadanya yang indah dan mulai menjilati, menghisap, menggigit-gigit kecil, meremas, dan memilin puting susunya yang sudah mengeras. "Ahh, terus, honey, oohh, sshh." Setelah puas bermain dengan kedua buah dada indahnya, aku menuruni tubuhnya untuk melumat vaginanya — kujilati semua sudutnya naik turun, kuhisap-hisap klitorisnya, kujilat-jilat dan kuhisap-hisap lubang vagina dan klitorisnya sepuas-puasnya.

"Oohh, oohh, sshh, aahh, honey, kamu nakhal, oohh, nakhal banget sih, henghh, oohh, emmhh." Desahan demi desahan diiringi tubuhnya yang menggelinjang dan berkelojotan. Vaginanya terasa makin basah dan lembab.

"Aaahh, Dhi, oohh." Vaginanya mulai mengempot sebagai tanda hampir mencapai klimaks. Sementara itu penisku sudah mengeras menunggu giliran.

Aku melepas jilatan dan hisapanku di vaginanya untuk bergerak ke atas ke arah wajahnya yang manis. Kulihat Ima menggigit bibir bawahnya dengan dahi yang mengerenyit serta napas memburu ketika ujung penisku bermain di bibir vaginanya naik turun.

"Mmhh, Adi, ayo dong, aku udah nggak tahan nih, oohh. Jangan nakal gitu dong, aahh."

"Oke, honey, siap-siap ya," kataku juga menahan birahi yang sudah memuncak.

Perlahan kuturunkan penisku menghunjam ke vaginanya. "Enghh, aahh, Adi, oohh, do it, honey, oohh," desahnya. Vaginanya agak sempit dan kurasakan agak mengempot menahan hunjaman penisku.

"Slep." Baru kepala penisku yang masuk. Ima berteriak, "Enghh, aahh, enak, Sayang, sshh, oohh," sambil mencengkeram bahuku seperti ingin membenamkan kuku-kukunya ke kulitku. "Ayo, Adi, aahh, terus, honey, aahh." Vaginanya kembali mengempot-empot dan menghisap-hisap penisku tanda awal menuju klimaks.

"Ahh, Ima, enak banget itu punya kamu, ahh," aku menikmati hisapan vaginanya yang menghisap-hisap kepala penisku.

Tidak berapa lama kemudian Ima kembali berteriak dan merintih mencapai klimaksnya — baru kepala penisku saja yang masuk. Aku geregetan. Sudah dua kali Ima mencapai klimaks sedangkan aku belum sama sekali.

Begitu Ima sedang menikmati klimaksnya, aku langsung menghunjamkan seluruh batang penisku ke dalam liang vaginanya dengan gerakan turun naik yang berirama. "Aahh, aahh, hemnghh, oohh, aahh, Dhi, aahh, enak, Sayang, enghh, oohh." Ima mendesah-desah dan berteriak-teriak merasakan nikmatnya rojokan penisku di liang vaginanya yang sempit.

Aku terus menaik-turunkan penisku dan menghunjam-hunjamkan ke liang vaginanya, sementara Ima makin melenguh, mendesah, dan merintih merasakan gesekan batang penisku dan garukan kepala penisku di dalam liang vaginanya yang basah — sangat nikmat, seperti menghisap dan memilin-milin penisku. Suara rintihan dan desahan Ima semakin keras memenuhi ruang kamarnya sementara deru napas kami semakin memburu.

Akhirnya, "Aahh, Dhi, ahh, aku sampai lagi, aahh, aahh," jeritnya terputus-putus mencapai kenikmatan ketiganya.

Aku masih belum puas. Kutarik kedua tangannya dan aku menjatuhkan diri ke belakang sehingga posisinya sekarang Ima berada di atasku. Setelah kami beradu pandang dan berciuman mesra sesaat, Ima mulai memaju-mundurkan dan memutar pinggulnya, memelintir penisku di dalam liang vaginanya. Gerakan-gerakannya berirama dan semakin cepat diiringi suara rintihan dan desahan kami berdua.

"Aahh, Ima, oohh, enak banget, aahh," aku menikmati gerakan binalnya.

Sementara itu kedua tanganku kembali meremas kedua buah dadanya dan jemariku memilin puting-putingnya. "Aahh, hemhh, oohh, nghh," teriakannya kembali menggema ke seluruh ruangan kamar.

"Tahan dulu, aahh," sahutku terbata menikmati gesekan vaginanya di penisku.

"Enghh, aku nggak kuat, oohh, honey, aahh," balasnya sambil menggelinjang-gelinjang hebat. Vaginanya sudah mengempot-empot. "Seerrt, seerrt, seerrt." Ima mengeluarkan banyak cairan dari dalam vaginanya dan aku merasakan hangatnya cairan tersebut di seluruh batang penisku. Tubuhnya menggigil disertai vaginanya yang berdenyut-denyut hebat. Kemudian Ima ambruk di pelukanku kelelahan.

"Oohh, Adhi, hhhh, mmhh, hahh, enak banget, Sayang, oohh, mmhh." Bibirnya kembali melumat bibirku sambil menikmati klimaksnya yang keempat, sementara penisku masih bersarang berdenyut-denyut perkasa di dalam vaginanya yang sangat basah dan masih menghisap-hisap.

Kami terdiam sesaat. Kemudian, "Aku haus banget, Sayang. Aku minum dulu ya, boleh?" pintanya memecah kesunyian. Masih berpelukan erat, kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiri dan kuremas-remas pantatnya dengan tangan kanan.

"Boleh, tapi jangan lama-lama ya, aku belum apa-apa nih," ujarku jahil sambil tersenyum.

Sambil mencubit pinggangku, Ima melepas pelukannya dan melepas penisku dari liang vaginanya, "Plop," sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran itu. Kemudian dia berdiri dan berjalan keluar kamar mengambil sirup jeruk di meja samping sofa. Tidak lama kemudian Ima berjalan kembali memasuki kamar sambil minum dan menawarkannya padaku. Aku meneguknya sedikit sambil mengawasi Ima berjalan menuju kamar mandi.

Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Ima masuk kamar mandi. Sejenak kuikuti dia — kulihat Ima sedang membasuh tubuh indahnya yang berkeringat dengan handuk.

"Kenapa? Udah nggak sabar ya?" tanyanya sambil melirikku dan tersenyum menggoda.

Tanpa basa-basi kuhampiri Ima, kupeluk dari belakang, dan kuciumi tengkuknya, pundaknya, dan lehernya. Sementara kedua tanganku bergerilya membelai kulit tubuhnya yang halus.

"Aahh, beneran nggak sabar, hihihi," ucapnya.

"Emang. Abis upacaranya banyak amat."

Sambil tetap membelakanginya, tangan kananku menuju ke buah dada kanan dan kirinya — dengan posisi tanganku melingkar di dadanya, dua bukit bulat nan indah miliknya kugapai. Sementara tangan kiriku mulai menuju ke vaginanya.

"Hemhh, sshh, aahh, enghh." Desahannya mulai terdengar lagi setelah jari tengah tangan kiriku bermain di klitorisnya. Sesekali kumasukkan dan kukeluarkan jari tengahku ke dalam liang vaginanya yang mulai basah dan lembab. Tak ketinggalan tangan kananku meremas-remas buah dadanya. Kedua kakinya agak diregangkan sehingga memudahkan jemariku bergerak bebas mengeksplorasi vaginanya, sementara bibir serta lidahku tidak berhenti mencium dan menjilat seluruh tengkuk, leher, dan pundaknya.

"Ahh, Adhii, sshh, mmhh, enak, Sayang, enghh, enakhh." Kurasakan vagina mulai berdenyut-denyut.

Lalu agak kudorong punggungnya ke depan, kedua tangannya menjejak washtafel di depannya, kemudian pinggulnya agak kutarik ke belakang dan pinggangnya agak kutekan sedikit ke bawah. Setelah itu kudorong penisku membelah vaginanya dari belakang.

"Sreepp!" — aku tidak mau tanggung-tanggung kali ini. Kujebloskan seluruh batang penisku ke dalam liang vaginanya.

"Oouhh, aahh, Adhii, oohh," teriaknya berkali-kali seiring dengan hunjaman-hunjaman penisku. Tangan kiriku mencengkeram pinggang kirinya sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dada kanannya yang sudah sangat keras dan kenyal.

"Aahh, Adhii, aahh, harder, honey, aahh," pintanya sehingga gerakan maju mundurku makin beringas. "Pook, pook, pook," bunyi benturan tubuhku di bokongnya.

Beberapa lama kemudian liang vaginanya mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap kembali dan aku tak kuasa menahan rintihan bersamaan dengan rintihannya.

"Ima, aahh, enak, Sayang, hemnghh."

"Aahh, aku sampai, aahh."

"Tahan dulu, Sayang, huuhh," ujarku sambil terus menghunjam-hunjamkan penisku karena aku juga mulai merasakan hal yang sama.

"Aahh, aku nggak kuat, aahh, AAHH." Ima mencapai klimaks dan menyemburkan cairan kental tubuhnya berkali-kali. Aku tidak peduli dan tetap menggenjot maju mundur penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat becek.

Kurasakan penisku seperti disedot dan dipuntir di dalam vaginanya yang sudah bereaksi terhadap orgasmenya. Akhirnya mengalirlah lava panas dari dalam tubuhku melewati batang penisku kemudian ke ujungnya, lalu memancratkan sperma hangatku ke dalam vaginanya yang hangat.

"Aahh," kami mendesah lega setelah dari tadi berpacu mencapai kenikmatan yang amat sangat.

Tubuh Ima menggigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur, meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap. Aku diam dan kubiarkan Ima menikmati sensasi klimaksnya.

"Ahh, punyamu enak ya, Ima, bisa ngempot-ngempot gini," ujarku memuji.

"Enak mana sama punya adikku?" tanyanya sambil menghadapkan ke arah wajahku di belakangnya dan tersenyum.

"Punyamu, hisapannya lebih hebat, mmhh." Kucium mesra bibirnya dan Ima memejamkan matanya.

Kemudian kucabut penisku. "Ploop." "Aahh," Ima agak menjerit. Cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ke tempat tidur. Setelah Ima merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada di atasnya sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya.

"Mmhh, mmhh." Tangan kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah dua jam bertempur.

"Kamu hebat, Di. Udah dua jam masih keras aja, dan kamu bener-bener bikin aku puas," puji Ima.

"Sekali lagi ya, yang ini gong-nya. Aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku selamanya, oke?!" balasku.

Sambil berkata aku mulai menggeser tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu.

"Sleep." "Auwwh," Ima agak menjerit.

Perlahan tapi mantap kudorong penisku. Sambil terus kutatap wajah manis iparku ini, Ima merem melek, mengernyitkan dahinya, menggigit bibir bawahnya dengan napas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat di dinding-dinding vaginanya yang becek.

"Hehhnghh, engghh, aahh," gerangnya.

Aku mulai memaju-mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin lama makin cepat. Sementara Ima yang berada di bawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya di pinggangku dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga tubuhku. Ima mengerang-erang, mendesah-desah, dan melenguh-lenguh.

"Aahh, oohh, sshh, terus, honey, oohh." Sementara akupun terbawa suasana, mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya.

"Enghh, Ima, oohh, enak, Sayang?"

"He-eh, enghh, aahh, enghh, enak banget, Dhi, aahh." Lenguhannya kadang meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya. "Oohh, Adhii, oohh, enghh." Tubuhnya mulai bergelinjangan dan berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai mengetat di pinggangku.

Kami terus memacu irama persetubuhan kami — aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang penisku ke dalam liang vaginanya, diimbangi gerakan memutar-mutar pinggul Ima yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang penisku. Nikmat sekali.

Kulepas pelukanku untuk kemudian aku mengubah posisiku dari meniduri ke posisi duduk. Kuangkat kedua kaki Ima yang indah dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa batang penisku ke dalam liang vaginanya yang makin basah dan makin menghisap-hisap.

"Enghh, Adhii, oohh, Sayang, aahh." Kedua tangan Ima meremas erat bantal di bawah kepalanya yang menengadah ke atas, disertai rintihan, teriakan, desahan, dan lenguhan dari bibir mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas.

Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar di pundakku. Agak kudorong tubuhku ke depan. Kedua tanganku serta merta bergerak ke kedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting susunya yang kenyal dan mengeras, tanpa kuhentikan penetrasi penisku ke dalam liang vaginanya yang hangat dan basah.

Ima tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh.

"Oohh, ahh, Dhi, enghh, enak, nakhh." Desahan dan rintihan Ima menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku. Napas kami saling memburu.

Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku menuju penisku, aku mengubah posisi lagi — kedua tanganku bersandar pada siku-siku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah oleh keringat.

Sambil aku merapatkan tubuhku di atas tubuh Ima, kedua kaki Ima mulai menjepit pinggangku lagi untuk memudahkan kami melakukan penetrasi sangat dalam. Rintihan dan desahan napasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami sambil berciuman.

"Mmnghh, mmhh, oohh, ahh, Dhi, mmhh, enghh, aahh."

"Oohh, Ima, enghh, kalau mau sampai, bilang ya, Sayang, enghh, aahh," ujarku meracau.

"Iyaa, honey, oohh, aahh." Tubuh kami berdua makin berkeringat dan rambut kami tambah acak-acakan. Sesekali kami saling melumat bibir dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur pinggulku yang diimbangi gerakan memutar pinggul Ima.

"Oohh, Dhi, oohh, uu, dah, belomm, enghh, aku udah nggak kuat nih," erangan-erangan kenikmatan Ima disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai klimaksnya.

"Dikit lagi, Sayang, oohh," sambutku karena penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut.

"Aahh, aa, Dhi, now, oohh, enghh, aahh," jeritnya.

"Yeeaa, aahh," jeritanku mengiringi jeritannya.

Akhirnya kami mencapai klimaks bersamaan. "Srreett, crreett, srreett, crreett." Kami secara bersamaan dan bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil mengerang-erang dan mendesah-desah. Kami berpelukan sangat erat — aku menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang vagina Ima, sementara Ima membelit pinggangku dengan kedua kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan lagi. Kuciumi lehernya dan bibir kami pun saling berciuman.

Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Ima masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih berdenyut-denyut di dalamnya. Kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir di samping kanannya.

Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya di pundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur napasnya. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat. Ima memelukku mesra dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya.

"Adi, kamu hebat banget. Gue sampai puas banget sore ini. Klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alami sebelumnya, hemmhh," Ima berkata sambil menghela napas panjang. "Makasih ya, Sayang, thank you banget," ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri.

Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari empat jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami — kami saling membasuh dan membelai, tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku pulang.

Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa.

"Adi, kalau gue telepon, kamu mau datang untuk temenin gue ya, Sayang," bisik Ima padaku.

"Pasti!" jawabku. Lalu kami kembali berciuman.

Sejak kejadian itu, tiap kali Anto tidak di Jakarta, paling tidak seminggu dua kali aku pasti datang ke rumah Ima iparku itu untuk mereguk kenikmatan berdua hingga larut malam — dengan alasan kepada istriku lembur atau ada rapat di kantor. Dan sebulan sekali aku pasti menghabiskan akhir pekan mereguk kenikmatan langit ketujuh berdua Ima.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya