Indahnya Malam Natal
Indahnya Malam Natal
Lidahnya terus bermain-main di ujung kepala kemaluanku dan menggeser-geser belahan lubang kencingku. Rasanya... "Uuuff, aakkhh..." desahku. "Gila banget! Kamu sudah konak ya, Gin..." erangku keenakan dan terasa geli, kadang meriang โ coba saja hal itu dengan pasangan anda, pasti meriang itu badan. Gila juga Novi kalau sudah panas, dia seperti orang di padang pasir. Habis semua kemaluanku dilumatnya. Sementara kulihat di celananya ada gumpalan cairan membasahi kain penutup belahan kemaluannya seperti bulatan. Rupanya dia sudah banjir dari tadi โ atau bekas air mani Trisno? Penasaran, aku tanya dia, "Kamu tadi gituan ya?" tanyaku penasaran. "Emmhh... emmhhff..." dia tidak menjawab, hanya terus melumat batang kemaluanku lebih kuat lagi. Digigitnya kepala kemaluanku pelan dan gemas. "Akkhh, gila kamu!" kataku. Batang kemaluanku mengeras kuat seperti besi balok. Kubiarkan dia memuaskan hasratnya melumat habis kejantananku dari ujung sampai pangkalnya.
Momen ini kunikmati dan segera kubuka celana dalamnya. Ternyata kemaluannya telah basah dan lembab. Saat kubelai belahannya masih terasa rapat, jadi mungkin dia belum sampai sejauh itu, pikirku. "Kamu di atas, Nov," kataku sambil menarik badannya ke atas, menduduki pinggangku. Perlahan dengan tangannya yang menggenggam batang kemaluanku, mulai diarahkannya ke lubang kemaluannya. Kepala kemaluanku perlahan ditekan dengan bibir kemaluannya dan perlahan membelah bibir kemaluannya yang telah basah, membuat lebih mudah kepala batang itu menyusup. Terus Novi menekan pinggulnya ke bawah, dan "Akhh..." erang Novi. "Enaaak... aduhh, pelan-pelan, enakk..." desahnya. "Uuff, yaa, enaakk..." desahku keenakan. Pelan-pelan batang kemaluanku makin lama makin tenggelam ke dalam liang kemaluannya. "Akkhh, masuukk... oohh... eennaakk..." erang Novi terpejam. "Gila, liang kemaluanmu masih rapat, Gin..." kataku sambil menghentakkan pinggulku ke atas dan menariknya ke bawah perlahan seperti slow motion, berulang kali.
Setelah sepuluh kali dengan gerakan itu, terasa batang kemaluanku bergerak dengan bebas dan mantap di dalamnya. Lama kemudian gerakan batang kemaluanku makin mantap menyodok liang kemaluan Novi. Dengan sepenuh tenaga kugerakkan pinggulku naik-turun tanpa henti sebanyak dua puluh kali, membuat Novi berteriak sambil matanya terpejam histeris, "Aaakk... akhh... akkhh... oohhkk... aahh... uuff... aduhh... giillaa... aahh..." terengah Novi. Dia sangat bergairah dengan gerakanku sehingga membalas dengan hentakan kasar. Novi segera menghentakkan pinggulnya dengan cepat, kadang melakukan gerakan memutar sehingga terdengar bunyi basah berulang-ulang. Rupanya telah banjir sekali di dalam liang kemaluannya tapi dinding kemaluannya tetap menjepit batang kemaluanku. "Luar biasa, gila, kamu hot banget, Gin!" kataku. "Gue mau yang kuat... yang kuat nekannya... yang panjang kontolnya... terus ngentot terus..." erang Novi histeris. Kurasa Trisno juga mendengar erangan Novi karena pintu kamar tidak kututup ketika Novi masuk โ tapi biar saja dia terangsang, pikirku.
Selang lima belas menit, ternyata gerakannya makin panas saja. Habis sudah kemaluanku dihisap dan ditarik di dalam liang kemaluannya. Sementara badannya telah keringatan. "Aahh... aahhkk... uuff... ennaakk..." desah kami berdua. Kadang aku sengaja mengangkat pantatku tinggi-tinggi dan dia menekan kemaluannya makin ke bawah terus pinggulnya berputar-putar sehingga terdengar bunyi basah. Terasa panas di sekitar batang kemaluanku. Kuat juga โ aku telah dua puluh menit dengan gerakan yang membuat keringat membanjir, tapi sampai saat ini belum terasa kalau air maniku akan keluar. Biasanya dengan gerakan yang seperti biasa paling lama sepuluh menit sudah keluar. Mungkin karena aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa tahan lama. Yang jelas batang kemaluanku dalam keadaan stabil menegang terus dan gerakanku tidak berubah. Kadang lembut dengan hentakan yang kuat dan kasar, dengan gerakan memutar dan mengocok โ batang kemaluanku terasa seperti membor liang kemaluannya, dan ternyata Novi menyukai gerakan dan hentakan yang kulakukan.
"Gila, kamu kuat sekali. Tumben... oohh, gue puas..." desah Novi keenakan dengan tersenyum puas.
"Ya sudah lama ya, Nov, nggak begini..." desahku.
Karena tidak keluar-keluar juga, akhirnya kami kecapaian sendiri. Dalam keadaan terengah-engah keenakan kami berhenti sebentar. Akhirnya aku tanya ke dia,
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu, Nov?"
Ternyata dia mengangguk setuju dengan muka memerah dan keringat di dahinya menetes. Aku usul lagi,
"Kita keluar yuk, Nov. Kasihan Trisno sendirian di luar," kataku.
Tanpa bertanya lagi Novi lalu melepas segera batang kemaluanku dari lubang kemaluannya. Rupanya dia juga belum tuntas dan keluar dari kamar berjalan dengan telanjang bulat. Dia keluar sendiri, sementara aku menjadi bengong.
Ternyata Novi tanpa bertanya lagi keluar kamar dalam keadaan badan telanjang bulat. Gila! Sudah panas sekali dia rupanya. Beraninya dia telanjang bulat menemui Trisno di ruang depan. Aku tersentak, segera ke kamar mandi mencuci kemaluanku yang telah basah oleh air kenikmatan dari liang kemaluan Novi. Di kamar mandi aku berpikir, ngapain Novi di luar bersama Trisno, tentunya Trisno terkejut dengan kehadiran Novi yang telanjang bulat di hadapannya. Setelah cukup lama di kamar mandi membersihkan diri, perlahan aku keluar kamar dan berdiri di pintu. Kulihat sesuatu yang telah membuatku terkejut.
Gila! Aku jadi terangsang sendiri melihatnya. Novi ternyata dalam posisi yang sangat seksi. Mungkin birahinya sudah memuncak dan tanpa malu dan ragu lagi dia menungging di atas kursi dalam keadaan telanjang bulat. Terlihat tubuh putih mulusnya dengan lekuk tubuhnya yang indah โ bokongnya putih mulus dan pinggul yang cukup besar, pinggangnya yang ramping. Bokongnya yang tinggi ke atas dan buah dadanya menjuntai keras membentuk bulatan dengan putingnya yang telah mengeras. Rambutnya yang hitam dan panjang lurus sebagian tergerai ke sampingnya, sebagian lagi menutupi pundaknya yang halus. Sementara tangan kiri Trisno mengusap, membelai, dan kadang meremas bokong Novi yang sedang menungging itu. Tangan kanannya meremas buah dada Novi dengan remasan perlahan, jemari menjepit putingnya. Trisno telah menarik celananya sendiri berikut celana dalamnya ke bawah di antara lututnya.
Batang kemaluannya terlihat menegang keras dan besar dengan kepala berwarna merah. Sedangkan kepala kemaluannya tengah dicium-cium oleh bibir Novi. Novi ternyata sedang asyik menciumi kepala batang kemaluan dan belahan lubang kencingnya. Dengan posisi menungging dan dalam keadaan telanjang bulat, perlahan-lahan mulutnya menelan kepala dan batang kemaluan itu. Hampir tidak muat mulut Novi menelan kepala itu โ mulutnya harus membuka selebar-lebarnya dahulu baru dapat mengulum batang kemaluan Trisno. Perlahan dan tak lama kemudian terlihat kepala Novi naik-turun ke atas ke bawah, dan kadang lidahnya menjilati batang kemaluan Trisno yang besar. "Aahh, God!" desah Trisno terpejam keenakan. Sementara Novi hanya mengerang karena tangan Trisno terus memberi remasan di sekitar kemaluannya. Terlihat tangan kiri Trisno menyusup dari bawah badan Novi dan berhenti ketika jemarinya berada di belahan selangkangan paha Novi. Jarinya bergerak membelai belahan kemaluan Novi yang telah basah.
Setelah kurang lebih lima menit menyaksikan adegan yang mendebarkan jantung, perasaanku berdebar kencang karena terangsang. Aku benar-benar tidak sabar melihat adegan itu. Kemaluanku mengeras kembali, malah lebih keras dari yang tadi pada saat bersenggama di dalam kamar. Dalam keadaan telanjang bulat dengan batang kemaluan menegang, aku menghampiri mereka. Kulihat mereka kaget. "Ooppss!" kata Trisno kaget. "Sorry, gue nggak tahan," kataku. Tanpa permisi lagi kuambil posisi di belakang bokong Novi yang polos. Dengan berjongkok di belakang Novi, mulutku langsung menjilati kemaluannya. Ternyata Trisno hanya tersentak sedikit tapi dia terus, malah mengangkangkan kakinya lebih lebar sehingga belahan kewanitaan Novi itu lebih terkuak membuka, sehingga klitorisnya terlihat dan segera kujilati klitorisnya serta kumainkan lidahku di sekitarnya. "Aakkhh... emhhff... ahh... mmhh... aauuff... ahh..." desah Novi dengan kepalanya yang makin cepat bergerak naik-turun di selangkangan Trisno. Sementara tangan keduanya meremas buah dada Novi.
Terus kumainkan belahan liang kemaluannya dan kadang lidahku menerobos masuk ke dalamnya, mengkilik-kilik sekitar klitorisnya yang terlihat memerah. "Emmpphh... ahh..." dia mengerang keenakan. Kurasakan dia menggerakkan pinggulnya berayun-ayun, meliuk-liukan badannya dan berkedut-kedut liang kemaluannya. Ketika itu bibir kami berdua saling berpagutan, desahnya tidak tertahan lagi, dan terus tangannya mengarahkan kepala kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Perlahan, "Ahhkk... aah... ahh... oohh... ennaakknyaa..." erang dan merintih dalam kenikmatan kemaluanku masuk perlahan. Tak lama batang kemaluanku dalam hitungan detik tenggelam sudah di dalam liang kemaluan Novi yang telah basah dan hangat dinding liang kemaluannya.
"Aahh... aahh... aahhkk... dorong yang keras... ahk, yaa... aahkk, dorong terus... yyaa... tekan yang dalam... eennaakh..." rintih Novi sambil terus mengikuti gerakan dorongan pinggulku yang menghentakkan batang kemaluanku seluruhnya ke dalam lubang kemaluannya.
"Aahh... aahh... aahh... eenaaknya kamu... gilaa... luar biasaa... enak ngentotin kamu, Gin... akkhh..." erangku kenikmatan.
Dengan posisi kuda-kuda yang sangat mantap kakiku terasa menapak bumi tidak bergeser dalam menggerakkan pinggulku maju-mundur sehingga pusat tekanannya dapat kupusatkan pada batang kemaluanku yang terus menggenjot keluar-masuk belahan liang kemaluannya. Dengan gerakan seperti menyalurkan tenaga dalam, nafasku dari seputar perut kuatur semua gerakanku sehingga gerakan yang terjadi bukan melalui pikiran tapi telah digerakkan secara otomatis melalui sekitar pinggulku. Nafasku perlahan โ dalam satu kali tarikan nafas, aku dapat menghujamkan kemaluanku sebanyak tiga kali atau bisa sampai tujuh kali. Pada saat melepas nafas, gerakan kulakukan berputar sekitar pinggulku, sehingga otomatis batang kemaluanku melakukan gerakan berputar dua atau berkali-kali di dalam liang kemaluannya.
"Aahkk... akhh... gila... gila... akkhh... akhh... gila... enak... enaakk... ahh... uuff... adduhh... enaknyaa..." Novi merintih dan mengerang. Trisno melihat kepadaku dengan pandangan tidak percaya kalau aku dapat melakukan gerakan seperti itu yang membuat Novi kelojotan dan bergetar seluruh persendian badannya. Baru tahu dia, pikirku sambil tersenyum kepadanya โ rupanya membuatnya makin terangsang. Kulihat matanya saat itu terbelalak ketika melihat batang kemaluanku keluar-masuk teratur dengan nafas yang teratur juga. Batang dan kepala kemaluannya memerah dalam cengkeraman tangan Novi. Batangnya makin lama makin mengeras karena Novi makin lama makin tidak dapat mencengkeram diameter batang kemaluan itu. Novi makin mempercepat gerakan tangannya menarik dan melakukan gerakan memutar. Ternyata Novi hanya tahan sepuluh menit di dalam menghadapi adukan batang kemaluanku yang mengamuk di dalam liang kemaluannya hingga dia melenguh dalam rintihan, "Aahh... aakkhh... oohh, gue keluar...!" Badannya bergetar hebat, matanya terpejam, dan mulutnya terbuka menganga lebar.
Trisno terpaku memandang Novi yang ejakulasi dengan badan yang bergetar. Akhirnya Trisno rupanya tidak tahan melihat keadaan yang ada di hadapannya sehingga matanya membelalak lalu terpejam, "Aahhkk... aahh... ahhkk..." Keluar air maninya di dalam genggaman tangan Novi. Air mani itu meleleh di jari-jari Novi. "Ha, haa, haa..." aku tersenyum penuh kemenangan. Kalah lama dia karena aku sendiri belum apa-apa saat ini. Setelah Novi mengelap tangannya dengan tisu basah, kutarik dia untuk gantian duduk di atas pangkuanku. Dengan posisi saling berhadapan, kemaluanku menghujam kembali ke dalam liang kemaluannya dan gantian dia yang bekerja dengan gerakan memutarkan pinggulnya dan gerakan memaju-mundurkan bokongnya. Kadang kurasa liang kemaluannya berdenyut-denyut seperti menghisap batang kemaluanku. Rupanya dia ingin membuatku keluar juga. Setelah lebih kurang sepuluh menit dia membuat batang kemaluanku kerja keras, kulihat dia juga telah mau keluar lagi mengerang. "Aahh... akhh... ahh, gue mau keluar lagi... bersama kamu keluar juga... yaa..." erang Novi. "Aahh, yaa, bareng, Nov, gue juga hampir keluar... aahkk... yaak keluarr..." erang Novi dan aku bersamaan. "Aahh, gila, enak, puas gue," rintih Novi.
Keluar sudah dan tuntas birahi yang menghimpit dan menggunung di dada ini. Ada barangkali lima semprotan air maniku keluar membasahi seluruh rongga dalam liang kemaluannya sampai akhirnya kulepas batang ini. Puas sekali. Setelah berbenah diri, mencuci dan membersihkan bekas-bekas yang ada, ternyata kami telah memakai ruangan itu selama tiga jam dan habis total cuma Rp375.000 untuk semua all-in. Siiplah.
TAMAT