Bab 1
Istri Kakakku yang Kesepian
Sebut namaku Dede. Semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka karena kampusku dekat dengan rumah mereka — daripada aku kos. Usiaku dengan Kak Deni selisih 5 tahun, dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.
Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering tidak ada di rumah. Sering kulihat Dina terlihat kesepian ditinggal kakakku. Kuhibur dia dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama terkesan bahwa Dina lebih dekat kepadaku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang, akhirnya kami sering keluar jalan-jalan, dan terkadang nonton bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira pacarku — tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk-beluk dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik.
Keesokan harinya, sepulang kuliah, kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung dan bertanya-tanya ke mana Dina. Lalu kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV. Segera kucek apakah ia ada di kamar. Kubuka pintunya — sesaat aku terdiam. Terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang. Sekilas kulihat Dina sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku.
"Maaf, Mbak!" sahutku dengan tidak enak.
Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang tadi sempat kulihat: Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan daerahnya yang indah, dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat kemudian, di dalam kamarku, rasanya aku ingin menonton apa yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel CD simpanan. Birahiku muncul melihat adegan-adegan itu, dan sesaat terlintas gambaran yang dilakukan Dina di kamarnya. Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya, seiring adegan film, aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan kumainkan.
Sesaat aku kaget — Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam.
"Ma... maaf, ganggu ya," tanya Dina dengan matanya yang menatap milikku.
"Eh... enggak, Mbak. A... ada apa, Mbak?" sahutku dengan tanganku yang masih memegang milikku.
"Nggak, tadi ada apa kamu ke kamar?" tanya Dina dengan bingung karena kejadian ini.
"Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak," sahutku sambil kumasukkan milikku lagi.
"Kamu nonton apa?" tanya Dina, lalu melihat film yang kusetel.
"I... itu... sama yang tadi," sahutku dengan isyarat menunjuk apa yang ditonton Dina di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
"Maaf, Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?" tanyaku dengan malu.
"Boleh, kenapa enggak?" jawab Dina.
"Mau minjem, Mbak... atau mau nonton di sini?" tawarku.
"Sekalian aja deh, biar rame," jawabnya.
Adegan demi adegan dalam film kami lewati, dan beberapa kali kami mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang hal-hal yang berhubungan dengan film itu. Mungkin karena kami sering berdua dan berbicara dari hati ke hati, akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan. Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai satu sama lain, tapi kami sadar bahwa Dina adalah milik kakakku.
Kami akhirnya biasa duduk berdua dengan dekat. Banyak film kami tonton bersama. Kami pun mulai sering saling melirik dan bertatapan mata. Sesaat, saat film berputar, tanpa kami sadari tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan. Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung — kami tergerak mengikuti dorongan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah; akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing, dan nafsu membuat kami terus berebutan air liur.
Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan, mata kami tak sanggup bertatapan, rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai akhirnya kami duduk biasa lagi.
Kehangatan tubuh dan sikap Dina memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan kata-kata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina — tampaknya ia menyukainya. Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi. Wajahnya dewasa dan cantik; kurasakan wajah yang mengharapkan sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya — ahh, nikmat rasanya. Bibirnya terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas kulihat buah dadanya yang besar. Kupeluk Dina dengan maksud ingin menyentuh dan merasakan miliknya.
Sesaat kurasakan miliknya di dadaku — besar dan empuk. Perlahan tanganku mengelus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai penjajakan, kuelus selangkangannya — tampaknya ia menikmatinya. Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa menunggu, aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku ia raih dan digiring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada yang besar dalam dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap tangan Dina — ahh rasanya nikmat. Perlahan tangannya memainkannya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap. Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap milikku, ia mainkan, lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka menghisap milikku — milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan seiring tangannya yang mengayun-ayun.
Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat merangsang — pinggangnya yang ramping, pinggul yang lumayan, kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan lembut. Pahanya kuraba, lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring hisapannya, kumainkan bibir vagina yang sudah basah; perlahan jariku masuk ke liang vaginanya. Kurasakan kelembutan di jemariku, nikmat rasanya.
"Dede... oouuhh..." ucapnya seiring jariku yang tertancap di liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.
Cukup lama mulutnya bermain sampai aku tak tahan menahan mani. "Mmmhh..." ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya. Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku — maniku terus mengalir sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain.
"Udah, De?" sahutnya dengan isyarat apakah aku puas.
Aku tersenyum melihat wajah cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih masuk di liangnya.
"Mbak yang ini belum," sahutku dengan isyarat jariku yang keluar masuk di liangnya.
"Emang kenapa?" tanyanya dengan wajah yang menanyakan apa keinginanku.
Kemudian kubuat posisi bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat, seakan siap bermain. Bibir vagina yang agak memerah terlihat jelas olehku. Milikku yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut dan sudah basah. Perlahan kumasukkan, dan akhirnya hilang tertelan di liang Dina yang lembut.
"Mmhh..." desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk di liangnya dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan sentuhanku. "Ooouuhh... oouuhh..." berulang desahan itu Dina keluarkan.
Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis dan liangnya. Sesaat ia dekap tubuhku, tubuhnya menegang.
"Dede..." ucapnya dengan getaran kenikmatan.
Ahh — kurasakan penisku didekap kuat liang Dina. "Ooouuhh," desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai melemas dan pasrah. Melihat ini, gairahku meningkat seakan tubuhnya santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh, puncakku datang disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. "Ooouuhh..." desah Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus — tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya. Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya, dan beberapa kali kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milikku dan maniku karena benar-benar nikmat.
Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang sempat agak mengering basah kembali. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa bersalah hilang karena kami merasakan kecocokan, dan kami pun meneruskan hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah, kami sering berdua — tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat. Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya, bahkan sampai aku memiliki istri dan kami sama-sama mempunyai anak pun kami terus berhubungan.
Tamat