Istri Muda Terlantar Mencari Pelampiasan
Istri Muda Terlantar Mencari Pelampiasan
Aku Sintia. Belum lama menikah—selesai kuliah aku langsung diboyong ke pelaminan oleh suamiku. Umurku masih muda, baru awal dua puluhan. Suamiku itu workaholic banget, jauh lebih sering ada di lapangan daripada ngelonin aku di ranjang di rumah. Otomatis kebutuhan biologisku jarang sekali terpenuhi. Bahkan sering juga aku harus puasa sampai berbulan-bulan karena pas suamiku pulang aku lagi kedatangan "tamu".
Di tengah waktunya yang cuma sebentar di rumah, dia selalu sudah kecapaian begitu rebahan di ranjang. Begitu mencium bantal, nggak lama kemudian serenade ngoroknya dimulai sampai besok pagi. Padahal aku sangat menjaga bentuk tubuhku—tinggi 167 cm, berat 55 kg, dengan lekukan pinggul dan dada yang terlihat sangat seksi kalau memakai baju ketat. Tapi semua itu kayaknya belum cukup untuk menggerakkan suamiku melirikku. Bangun pagi pun yang dipikirin ya kerjaan buat hari itu, bukan nyolek-nyolek aku yang sudah lama tidak dapat nafkah batin.
Dan kalau pun dia sempat mengelutin aku, cepet banget keluarnya. Aku baru mulai panas, dia sudah crot—dan langsung terkapar tidur dengan lelapnya, membiarkanku menggantung sendirian. Aku heran, kalau kerja kok kuat banget, tapi pas bareng aku di ranjang yang tinggal letoynya saja. Kasian banget ya aku. Walaupun begitu aku belum pernah terpikir untuk melongok ke luar rumah, mencari yang lain.
Sampai suatu saat, teman kerjaku mengajakku menjadi member di sebuah sport club eksklusif yang sebagian besar membernya dari kalangan atas—fee-nya pun sesuai kelasnya, lumayan aduhai. Tapi nggak apa-lah, daripada bengong di rumah, dan kebetulan masih ada dana lebih, aku sering-sering saja berolahraga di sana. Peralatannya lengkap sekali—selain alat olahraga indoor, tersedia juga lapangan tenis dan kolam renang ukuran olimpik.
Aku lebih suka renang dan senam body language untuk menjaga semua organ tetap kencang luar dalam. Karena ini club eksklusif, aku berani memakai bikini sexy di kolam renang. Hampir semua mata lelaki yang ada di kolam mengikutiku ke mana aku bergerak—gara-gara bikini sexy-ku itu—tapi mereka cuma menelanjangi aku dengan pandangan, tidak ada yang berani melecehkan. Aku bangga aja melihat para lelaki sampai ngiler melihat bodi aku; ada kepuasan tersendiri yang tidak kuperoleh dari suamiku di rumah.
Salah satu alasan aku getol renang adalah personal trainer di kolam renang itu. Orangnya lumayan ganteng dengan tubuh kekar karena ia juga seorang atlet renang. Umurnya beberapa tahun lebih tua dariku, jadi aku memanggilnya Mas, dan ia memanggilku dengan namaku saja.
Sore itu aku ada di kolam renang lagi. Setelah memakai bikini, aku melangkah ke tepi kolam. Beberapa lelaki melirikku dengan pandangan nakal. Setelah pemanasan, aku turun ke air. Setelah menyesuaikan diri dengan suhunya, baru aku mulai berenang. Setelah bolak-balik tiga kali putaran, aku beristirahat di pinggir kolam sambil mengatur napas. Beberapa lelaki yang lewat menyapaku—kelihatan sekali mereka napsu melahap tubuhku dengan pandangan lapar. Aku hanya tersenyum.
"Sendirian saja, Sin?" Suara yang ramah mengagetkanku dari belakang.
"Iya." Jawabku sambil menoleh. Ternyata dia—si personal trainer. "Oh, Mas, pa kabarnya? Rasanya sudah lama nggak ketemu, ya."
"Masak sih? Bukannya minggu lalu baru ketemu?"
Aku tersipu karena basa-basiku ternyata basi banget. Aku cuma tertawa. Dia menatapku tanpa berkedip sambil mengajakku mengobrol, lalu melakukan pemanasan sebentar sebelum nyemplung ke kolam. Sesekali aku melirik tubuhnya yang kekar—dadanya yang bidang, perutnya yang sangat berotot. Saat mataku turun ke celana renangnya, dadaku berdegup kencang; celana itu terlihat sangat menonjol di bagian tengahnya. Pasti besar sekali isinya, batinku.
Ia terjun ke kolam dan langsung meluncur. Setelah tujuh kali bolak-balik, ia menepi ke sampingku untuk beristirahat. Ia meletakkan tangannya di sampingku sehingga sikunya menyentuh paha kananku. Kami ngobrol ngalor ngidul saja. Aku kembali berenang beberapa kali bolak-balik sampai hari makin gelap.
"Udahan ya, Mas. Sudah lewat magrib rasanya."
"Mau ke mana emangnya? Di rumah juga sendirian kan. Mau aku temenin? Jalan dulu aja—masih sore ini."
Dia membujukku sambil matanya memandangi toketku. Akhirnya aku menyerah pada bujukannya yang gencar. "Ya sudah, Sintia bilas dulu ya, Mas," kataku sambil keluar dari kolam.
Setelah memakai rok selutut dan blus ketat, aku keluar dari club. Dia sudah menunggu dengan motornya. Ia menyodorkan helm; aku menerimanya, memakainya, lalu duduk menyamping di belakang dengan tangan kananku melingkar di pinggangnya. Motor pun meluncur meninggalkan halaman club.
Aku ikut saja ke mana dia membawaku, dan akhirnya ia berhenti di depan sebuah bioskop yang cukup terkenal. "Nonton, yuk, Sin." Aku hanya mengangguk. Dia memarkirkan motor sementara aku menunggu di pintu bioskop. Ini pertama kalinya dia mengajakku jalan—biasanya paling-paling cuma makan malam lalu dia mengantarku pulang. Rasanya seperti ABG yang pertama kali diajak nonton sama cowoknya.
Karena filmnya masih belum diputar, kami mencari makan dulu di sekitar bioskop. Setelah memesan tiket, kami masuk ke dalam—ternyata penonton sangat sedikit. Setelah duduk, kami mulai menikmati film yang diputar.
Belum lama berselang, aku kaget saat tangannya merangkul bahuku. Aku berusaha tenang dan tidak bereaksi apa-apa. Melihat aku diam saja, ia semakin berani—mukanya didekatkan ke wajahku, lalu mendadak ia mencoba menciumku. Karena aku reflek menghindar, yang diciumnya adalah telinga dan leherku—padahal itu termasuk daerah sensitifku. Aku menggelinjang ketika bibirnya mengecup leherku setelah sebelumnya meniup-niup telingaku sehingga aku kegelian. Bibirnya kembali naik ke atas dan kali ini berhasil melumat bibirku.
Aku deg-degan, dan sepertinya ia mengetahui aku mulai memakan umpan yang ia berikan. Tangannya mulai turun dari bahu ke dadaku, mengelus toketku dari luar bajuku—membuatnya mengeras. Tangannya terus aku pegang, tapi satu tangan berhasil lolos dan semakin aktif.
Dia berhasil membuka kancing-kancing blusku bagian atas, lalu mengelus toketku dari luar braku yang tipis. Malu rasanya kalau ia tahu bahwa putingku sudah keras sekali. Bibirnya yang kembali bermain di leherku mulai turun ke bahu, menurunkan tali bra dan bajuku sampai ke pinggang, lalu bibirnya bermain di atas toketku.
Aku semakin lupa diri. Begitu toketku terekspos, ia tidak langsung mencaploknya—putingku yang keras dirangsang dulu dengan hidungnya. Napasnya yang hangat saja sudah bisa membuat putingku makin mengeras. Lalu dia mencium pelan-pelan toketku, mula-mula bagian bawah, terus melingkar, sehingga hampir semua bagian toketku dicium dengan lembut olehnya. Belum puas menggodaku, lidahnya mulai menari-nari di atas toketku.
Aku mulai mendesah halus. Lidahnya menyapu sekitar putingku—perlahan mula-mula, semakin sering, dan akhirnya putingku dikulumnya. Ketika aku merasa nikmat, ia melepaskannya dan kembali mengecup dari tepi. Perlahan mendaki ke atas, lalu putingku ditangkapnya lagi. Kali ini putingku digigitnya perlahan sementara lidahnya berputar-putar menyapu putingku. Sensasi yang ditimbulkannya sungguh luar biasa—maklum hal ini jarang sekali aku dapatkan dari suamiku selama ini.
Melihatku mendesah, ia semakin berani. Selain menggigit-gigit kecil putingku sambil lidahnya menyapu, tangannya mulai bermain di lututku. Karena napsuku mulai berkobar, aku membiarkan tangannya menggerayangi lutut dan menyelinap ke dalam rokku untuk mengelus pahaku. Ia tahu bahwa tubuhku merinding menahan nikmat—dengan lihai tangannya mendaki dan kini berada di selangkanganku.
Dengan lembut ia mengusap pangkal pahaku di pinggiran celana dalamku. Sensasi dan nikmatnya luar biasa. Aku tak bisa duduk tenang lagi—sebentar-sebentar menggelinjang. Aku sudah tak bisa lagi menyembunyikan kenikmatan yang kualami; hal ini bisa ia ketahui dari celana dalamku yang sudah lembab. Jarinya yang besar akhirnya tak mampu kutahan ketika ia memaksa menyelinap ke balik celana dalamku dan langsung menuju klitku. Dengan lembut ia memainkan jarinya sehingga aku terpaksa menutup bibir agar lenguhan yang keluar tak terdengar penonton lain. Jarinya dengan lembut menyentuh klitku—gerakannya yang memutar membuat tubuhku serasa ringan dan melayang.
Akhirnya pertahananku jebol. Cairan kental mulai keluar dari memekku dan ia mengetahuinya, sehingga semakin mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu datang—kupeluk kepalanya dengan erat, kuhunjamkan bibirku ke bibirnya, dan tubuhku bergetar. Ia dengan sabar mengelus klitku hingga membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti. Lubang memekku yang basah dimanfaatkan dengan baik olehnya—sementara jempol tangannya tetap memainkan klitku, jari tengahnya mengorek-ngorek lubangku. Aku megap-megap dibuatnya; entah berapa lama ia membuatku seperti itu, dan entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme.
Aku lalu memberanikan diri—kujulurkan tanganku ke arah selangkangannya. Terasa ada gundukan yang mulai mengeras. Batangnya mengarah ke pusarnya. Aku terus membelai naik turun sepanjang batang itu yang menurutku sangat besar dari luar celananya. Perlahan batang itu bertambah panjang dan besar; aku makin asyik meremas-remas bolanya sehingga ia pun semakin terangsang. "Kita ke tempat kosku ya, Sin," bisiknya kemudian sambil mengecup daun telingaku.
Aku mengangguk. Setelah merapikan pakaian, ia menarikku berjalan mengikutinya. Setelah sepuluh menit naik motor, kami memasuki sebuah bangunan besar yang agak sepi. Saat ia menggandeng pinggulku menuju kamarnya, beberapa penghuni kos menatap kami dengan pandangan penuh pengertian—tapi itu tetap tidak mengurangi rasa kikuk dan canggung yang menyerangku.
Saat aku sampai di depan pintu kamarnya yang terbuka, aku terdiam sejenak. Dengan tenang ia menangkap bahuku dari belakang dan pelan-pelan mendorongku masuk. Setelah menutup dan mengunci pintu, tangannya turun ke pinggulku, memutar tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan.
Kami berhadapan sejenak, lalu ia tersenyum dan kembali mengecup bibir bawah dan atasku bergantian, berusaha membangkitkan gairahku lagi. Aku mendesah kecil ketika tangannya turun ke bokongku, meremasnya, lalu menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Bibirnya perlahan mengecup bibirku dan merambat di antara dua bibirku yang tanpa sadar merekah menyambutnya.
Lidahnya menyusup ke dalam mulutku dan membelit lidahku sehingga aku pun mengikuti permainan lidahnya. Ketika lidahku gantian memasuki mulutnya, dengan sigap ia menjepit lidahku di antara langit-langit dan lidahnya. Tubuhku menggeliat menahan nikmat—mataku terpejam menikmatinya. Itulah ciuman ternikmat yang pernah kurasakan dalam hidupku.
Saat itulah aku merasa ia membuka kancing-kancing bajuku. Tubuhku sedikit menggigil ketika udara malam yang dingin menerpa kulitku yang perlahan-lahan terbuka saat ia berhasil memerosotkan bajuku ke lantai. Kemudian tangannya menjulur ke pinggul, berhenti di bokong untuk meraih retsleiting rokku, menariknya ke bawah dan menanggalkan rokku ke lantai.
Aku membuka mataku perlahan dan kulihat ia sedang menatapku dengan tajam tanpa berkedip. Sorotan matanya yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan—pandangannya agak lama berhenti pada toketku yang kencang membusung. Braku memang hampir tak sanggup menampung bongkahan dadaku. Padahal tadi di kolam renang ia sudah melihatku hanya berbikini yang lebih minim dari bra dan celana dalam yang kukenakan ini.
Aku senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman seperti itu. Rasanya semua usahaku selama ini untuk menjaga kekencangan tubuh tidak sia-sia. Aku terseret maju ketika lengan kekarnya kembali merangkul pinggangku yang ramping dan menariknya merapat ke tubuhnya. Tanganku terkulai lemas ketika sambil memelukku, ia mengecup bagian-bagian leherku sambil tak henti-hentinya membisikkan pujian atas kecantikan tubuhku. Akhirnya kecupannya sampai ke daerah telingaku dan lidahnya menyapu dengan lembut bagian belakang telingaku.
Aku menggelinjang—tubuhku bergetar sedikit dan aku merintih kecil. Ia telah menyerang salah satu bagian sensitifku dan ia tahu, sehingga ia melakukannya berulang kali. Kemudian bibirnya menyapu bagian belakang telingaku hingga pangkal leherku. Tubuhku terasa ringan dan tanpa sadar tanganku melingkar ke lehernya. Rupanya bahasa tubuhku sudah cukup dimengerti olehnya sehingga ia menjadi lebih berani. Tangannya membuka kaitan braku dan dalam sekejap bra itu sudah tergeletak di lantai.
Ia mengangkat tubuhku, membopongku ke tempat tidur, dan membaringkanku secara perlahan. Kemudian ia menjauhiku dan dengan perlahan mulai melepaskan pakaiannya. Aku sangat menikmati pemandangan ini—tubuhnya yang kekar dan berotot tanpa lemak itu menimbulkan gairah tersendiri untukku. Hanya dengan celana dalam, ia duduk di ujung ranjang. Kemudian ia membungkuk dan mulai menciumi ujung jari-jari kakiku. Aku merintih kegelian dan berusaha mencegahnya, namun ia memohon agar bisa melakukannya dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasinya, akhirnya aku membiarkan dia menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kakiku.
Aku merasa geli, tersanjung sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan bibirnya bergerak ke atas menyusuri paha bagian dalamku. Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuatku lupa diri dan tanpa sadar pahaku perlahan terbuka. Dengan mudah ia memposisikan diri di antara kedua pahaku. Aku berteriak tertahan ketika ia mendaratkan bibirnya di atas gundukan memekku yang masih terbungkus celana dalam—tanpa mempedulikan kainnya, ia melumat gundukan itu dengan bibirnya seperti saat sedang menciumku.
Aku berkali-kali merintih nikmat. Tanganku meremas apa saja yang ditemuinya—sprei, bantal, bahkan rambutnya. Tubuhku tak bisa diam, bergetar, menggeliat dan gelisah. Mulutku mendesis tanpa sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara refleks dan beberapa kali terangkat mengikuti kepalanya. Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi—dan pada saat itulah ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik celana dalamku lepas. Aku agak tersentak, tetapi puncak orgasme yang makin dekat membuatku tak sempat berpikir untuk bertindak apa pun. Bukit memekku yang sudah lama sekali tak tersentuh suami kini terpampang di depan matanya.
Dengan perlahan lidahnya menyentuh belahan memekku—aku menjerit tak tertahan. Ketika lidah itu bergerak naik turun di belahan memekku, puncak orgasmeku datang tanpa tertahankan. Tanganku memegang dan meremas rambutnya, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak. Ia tetap bertahan pada posisinya sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik klitku ketika puncak kenikmatan itu datang. Aku merasa dinding-dinding memekku telah melembab dan berkedut—itulah hasil dari latihan body language yang rutin, di mana lorong memekku secara refleks membuat gerakan-gerakan kontraksi hingga memberikan kenikmatan luar biasa.
Ia tampaknya bisa merasakan kedutan memekku sehingga membuatnya semakin bernafsu. Kini lidahnya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah selangkanganku; bibirnya ikut mengecup, bahkan cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Napasnya mulai memburu. Aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku mencapai puncak orgasme oleh permainan lidah dan bibirnya.
Aku tampak pasrah saja, apalagi ketika dia meraih putingku—menciumiku di leher sambil memainkan putingku. Ia mencubit sedikit kedua putingku bersamaan sehingga aku mulai mengerang, kemudian memelintirnya ke arah yang berlawanan dengan lembut. Lidahnya mulai turun ke pundakku, lalu tiba-tiba ciumannya berpindah ke putingku—ia langsung mengulum puting kananku sementara tangan satunya memelintir puting kiriku. Dadaku berdenyut. "Ohh... Mas... terus, Mas... sshh..." Sekarang gantian puting kiriku dikulumnya, lidahnya menari-nari dan sesekali dihisap dengan kuat. Geli dan amat sensasional sekali rasanya. Putingku menegang. Diremasnya toketku lembut, kemudian kembali dipilinnya kedua putingku berlawanan arah. Aku mulai merintih.
Kemudian ia bangkit. Dengan posisi setengah duduk dia melepaskan celana dalamnya. Beberapa saat kemudian aku merasakan batang yang sangat besar itu mulai menyentuh selangkanganku yang basah.
Ia membuka kakiku lebih lebar dan mengarahkan kepala kontolnya ke bibir memekku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa keras dan besarnya miliknya. Dia mempermainkan kepala kontolnya di bibir memekku, digerakkan ke atas dan ke bawah dengan lembut untuk membasahinya. Tubuhku seperti tidak sabar menanti tindakan selanjutnya—lalu gerakan itu berhenti. Dan aku merasakan sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang memekku yang masih sempit. Tetapi karena liang itu sudah cukup basah, kepala kontolnya dengan perlahan tapi pasti terbenam, semakin lama semakin dalam.
Aku merintih panjang ketika ia akhirnya membenamkan seluruh batang kontolnya. Aku merasa sesak tetapi sekaligus merasakan nikmat yang luar biasa—seakan seluruh bagian sensitif dalam liang itu tersentuh. Batang kontolnya yang keras dan padat disambut hangat oleh dinding memekku yang sudah lama sekali tidak tersentuh. Cairan pelumas mengalir dari dinding-dindingnya dan memekku mulai berdenyut, hingga ia membiarkan kontolnya terbenam agak lama untuk merasakan kenikmatan denyutan memekku. Kemudian ia mulai menariknya keluar dengan perlahan dan mendorongnya lagi, semakin lama semakin cepat.
Sodokan-sodokan yang sedemikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung—dinding memekku kembali berdenyut. Kombinasi gerakan kontraksi dan gerakan maju mundur membuat batang kontolnya seakan diurut-urut, suatu kenikmatan yang tidak bisa disembunyikannya hingga gerakannya semakin liar, mukanya menegang dan keringat bercucuran dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai nikmat.
Pinggulku kuangkat sedikit dan kubuat gerakan memutar manakala ia melakukan gerakan menusuk. Ia tampak terkejut dengan gerakan "dangdut" ini hingga mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat—batang kontolnya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya bertambah keras tetapi tetap lembut. Akhirnya pertahanannya pun bobol—kontolnya menghunjam keras ke dalam memekku, tubuhnya bergetar dan mengejang ketika maninya menyemprot keluar di dalam memekku berkali-kali. Aku pun melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya puncak orgasmeku kembali tercapai.
Sesaat ia membiarkan batangnya di dalamku hingga napasnya kembali teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun kuakui kenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah kurasakan sebelumnya. Kami kemudian terlelap kecapaian setelah bersama-sama mereguk kenikmatan.
Pagi itu aku terbangun sekitar pukul 05.45, dan seluruh badanku sangat pegal dan linu. Aku mencoba bangkit untuk duduk, tapi badanku tertahan. Ternyata badanku tertahan oleh kedua lengannya—tangan kanannya menjadi bantal untuk kepalaku dan sedang menggenggam lemah salah satu toketku, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang dengan telapak tangan terjepit di antara kedua belah pahaku. Lalu aku merasakan hembusan napas hangat yang halus di tengkukku. Aku menolehkan kepala sedikit dan melihat wajahnya yang sedang tertidur tenang di sampingku—wajah itu seperti sedang tersenyum puas. Siapa pun akan berwajah seperti itu kalau habis ML, batinku.
Saat aku mencoba melepaskan tangan kirinya, aku mendengar ia bergumam di belakangku. Kutolehkan wajahku—perlahan dia membuka kedua matanya, lalu sebuah senyum tipis terlihat di wajahnya. Bersamaan dengan itu aku merasakan tangan kanannya semakin erat menggenggam toketku dan tangan kirinya mulai mengelus-elus pangkal pahaku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu agak terkejut sehingga tubuhku bergetar halus.
"Pagi, Sayang," sapanya halus sambil mengecup leherku.
"Mmh... pagi, Mas," balasku sambil mencoba mengatasi pergerakan kedua tangannya yang semakin aktif.
Lalu kecupannya mulai bergerak dari tengkuk menuju leher di bawah telinga, kemudian lidahnya menjilati belakang telingaku yang memang sejak semalam sudah mendapat rangsangan berkali-kali.
Sejenak ia terdiam, lalu membalikkan tubuhku sehingga kini aku berhadap-hadapan dengannya—kemudian ia mengecup bibirku lembut. Ia mulai meremas dadaku lagi; aku hanya diam menerima apa yang bakal dia lakukan. Kedua jari-jari tangannya aktif meremas kedua toketku, apalagi saat jari-jari itu mulai memilin dan memelintir kedua putingku. Rasa nikmat yang luar biasa dari dada menyebar ke seluruh badanku, tubuhku bergetar dan aku mengerang halus.
Tiba-tiba semua kenikmatan itu terhenti, tapi ada sesuatu yang hangat di sekitar dadaku—lalu berhenti di putingku. Aku membuka mata sebentar; ternyata ia sedang asyik menjilati putingku dan menghisap-hisapnya.
Aku terus meresapi setiap kenikmatan yang dihasilkan oleh permainan lidahnya di dadaku. Pelan-pelan kubuka mataku dan aku bisa menyaksikan bagaimana ia menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Aku mendesah panjang saat aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh memekku—rupanya jari-jarinya sudah mengelus-elus memekku yang sudah basah sekali. Sambil terus memainkan lidahnya di putingku yang sudah sangat mengeras, seperti semalam ia menghisap sambil lidahnya memutar-mutar putingku, sesekali menggigitnya sehingga aku menjadi berkelojotan tak tertahankan. Saat aku terengah-engah mengambil napas, ia memindahkan serangannya ke arah selangkanganku.
Aku menarik napas dalam-dalam sewaktu lidahnya yang basah dan hangat perlahan-lahan menyentuh memekku—aku mendesah tertahan saat lidahnya naik ke klitku dan menyentuhnya. Kemudian dengan lihainya ia memelintir klitku dengan bibir hingga benar-benar membuatku merem-melek keenakan. Aku seperti tersetrum karena tidak tahan; melihat itu ia semakin ganas memelintir klitku. "Euh... ah... ah... ach... aw..."
Aku sudah tidak tahu bagaimana keadaanku waktu itu—yang jelas mataku buram, semua serasa berputar-putar. Badanku lemas dan napasku seperti orang yang baru lari maraton. Aku benar-benar pusing. Aku memejamkan mataku; ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku yang bermula dari selangkangan merambat ke pinggul lalu ke dada, dan akhirnya membuat badanku kejang-kejang tanpa bisa kukendalikan.
Ia memandangi wajahku yang sedang menikmati puncak kenikmatan yang diberikannya sambil tersenyum. Aku mencoba mengatur napasku. Sewaktu aku mulai tenang, ia menyodorkan kontolnya yang—wow—ternyata dua kali lebih besar dari milik suamiku. Semalam aku cuma melihat sekilas, ternyata besar sekali.
Kini kontolnya yang hampir maksimal berdiri di depan mukaku—tangan kanannya memegang batangnya sementara tangan kirinya membelai rambutku dengan lembut. Aku tahu ia mau diemut. Aku buka mulutku dan kujilat sedikit kepala kontolnya—terasa hangat dan membuatku ketagihan. Aku mulai menjilat lagi, terus dan terus. Ia duduk di ranjang, aku juga duduk di ranjang, lalu aku membungkuk sedikit. Aku pegang batangnya yang besar itu dengan tangan kiri dan tangan kananku menahan badanku agar tidak jatuh saat mulutku bekerja.
Mula-mula cuma menjilati, lalu aku mulai mengulum kepala kontolnya. Kuhisap sedikit, lalu kumasukkan semua ke mulutku—sayang tidak bisa masuk semuanya; kepala kontolnya sudah menyodok ujung mulutku tapi masih ada sisa beberapa sentimeter lagi. Aku tidak mau memaksakannya; aku gerakkan naik turun sambil kuhisap dan sesekali kugosokan batangnya dengan tangan kiriku.
Ia sepertinya puas dengan permainanku; ia memperhatikan bagaimana asyiknya aku mengkaraoke batangnya, sesekali ia membuka mulut sambil sedikit mendesah. Sekitar sepuluh menit kemudian, belum ada tanda-tanda ia akan keluar. Lalu dia melepaskan batangnya dari mulutku, berdiri, dan mendorong tubuhku ke ranjang sampai aku telentang.
Dibukanya pahaku agak lebar dan dijilatinya lagi memekku yang sudah kebanjiran. Lalu dipegangnya kontolnya yang sudah berukuran maksimal, kemudian ia mengarahkan batangnya ke memekku—tapi tidak langsung dimasukkan. Dia menggosok-gosokkan kepala kontolnya ke bibir memekku dulu, baru beberapa detik kemudian ia mendorong batangnya ke dalam.
Terasa sesuatu yang keras, padat, hangat, dan besar memaksa masuk ke dalam memekku, menggesek dindingnya yang sudah berlendir. Aku mulai berkejap-kejap merasakan bagaimana kontolnya menggosok-gosok dinding memekku hingga rasa nikmat yang luar biasa menjalari tubuhku. Tiba-tiba kontolnya memaksa masuk terus melesak ke dalam memekku hingga membuat tubuhku berkelojotan tak karuan menahan nikmat.
Lalu ia mulai menggerakkan pinggangnya naik turun. Kontolnya menggesek-gesek memekku—mula-mula lambat, lalu semakin lama semakin cepat. Ada rasa nikmat luar biasa setiap kali ia menusukkan dan menarik kontolnya. Ia semakin cepat dan semakin keras mengocok memekku; aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan nikmat yang terus mengalir dari dalam memekku.
Saat rasa nikmat itu hampir memuncak, tiba-tiba ia mencabut kontolnya dari memekku. Walau sudah lemas, aku tahu apa yang ia inginkan. Aku berbalik; ia menelungkup di atasku. Lalu aku angkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku, kubuka pahaku sedikit, sementara tanganku menahan badanku agar tidak ambruk—bersiap untuk ditusuk dari belakang.
Ia memasukkan kontolnya ke memekku dari belakang, lalu dikocoknya lagi memekku. Dari belakang kocokannya tidak terlalu keras, tapi semakin cepat. Aku sudah sekuat tenaga menahan badanku agar tidak ambruk, dan aku rasakan tangan kirinya meremas-remas dadaku dari belakang, jari-jarinya menggosok-gosok putingku. Jempol kanannya menggosok klitku.
Aku benar-benar melayang—tubuhku bergerak-gerak tak karuan dan mataku berkejap-kejap keenakan. Memekku dikocok-kocok, klitku digosok-gosok, dadaku diremas-remas dan putingku dipelintir-pelintir. Aku benar-benar tidak kuat lagi—serasa ada aliran setrum yang menyerang tubuhku dan menyebar ke segala arah. Bersamaan dengan itu aku merasakan kepala kontolnya membesar di dalam lubang memekku; maninya menyembur-nyembur dengan dahsyatnya. Secara bersamaan aku menjerit halus dan ambruk ke atas kasur.
Setelah semuanya mereda, ia membalikkan tubuhku kemudian menjilati kedua putingku. Sambil menikmati sisa-sisa gelombang orgasme yang terus menjalar, aku pegang rambutnya yang lumayan panjang dan kujambak. Setelah itu aku melangkahkan kaki ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Guyuran air yang dingin mengembalikan kesegaran tubuhku yang terasa linu di sana-sini.
Saat sedang asyik menikmati semuanya, ada ketukan halus dari arah pintu. Kubuka pintu kamar mandi dan ia tampak terkesima menyaksikan tubuhku yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Ia masuk dan langsung merangkul tubuhku.
"Mandi dulu dong," pintaku berbisik di telinganya.
Ternyata ia mau menurut dan langsung mengguyur badannya dengan air, kemudian menyabuni tubuhnya dengan sabun cair. Melihat tubuh kekar yang berotot itu basah oleh air, gairahku mulai naik kembali. Kudekati tubuhnya, kuambil sedikit sabun cair, kuoleskan ke telapak tanganku, lalu kusabuni tubuhnya—pertama ke dadanya yang bidang, turun ke perutnya yang berotot, dan akhirnya ke arah batangnya yang sudah berdiri tegak kembali.
Melihat batangnya yang membesar dan mengeras itu membuatku bergidik dan gemas. Pelan-pelan kuoleskan sabun ke kontolnya lalu kuusap-usap lembut batangnya yang perkasa itu. Kulihat ia mulai gelisah, sehingga kutingkatkan gerakan tanganku menjadi sebuah kocokan yang tetap lembut. Kulihat gerakan tubuhnya semakin tidak beraturan—mau keluar rupanya, batinku.
Tiba-tiba ia menarik tanganku dan melepaskannya dari batangnya. Lalu ia ganti menyabuni tubuhku—mula-mula kedua tanganku, lalu kedua kakiku. Sampailah gerakan menyabunnya pada daerah vitalku. Ia berdiri di belakangku dan merangkulku, mulai menyabuni kedua toketku dengan telapak tangannya yang besar dan lebar. Aku berusaha bertahan agar tidak mengeluarkan suara desahan—tapi apa mau dikata saat ia mulai memelintir putingku, sebuah desahan panjang keluar juga dari bibirku.
Puas bermain di sekitar dada, usapannya merangkak ke bawah melewati perutku dan terus turun hingga akhirnya sampai di liang memekku. Aku kembali merintih saat ia mengusap liang memekku dengan lembut—busa sabun hampir menutupi permukaan lubang memekku. Saat gerakanku semakin liar, ia menarik tangannya dan mengguyur tubuh kami berdua dengan air. Aku membalikkan tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan; tinggi badanku hanya sampai keningnya.
Kucium bibirnya dan ia membalasnya—gerakan lidahnya yang liar menari-nari di dalam rongga mulutku dan aku sangat menikmatinya. Tangan kami pun tidak tinggal diam; ia menyentuh toketku dan aku menyentuh batangnya yang berdiri tegak perkasa. Terjadilah perang gerakan tangan di antara kami berdua; ia asyik meremas dan memelintir sepasang putingku sambil sesekali menghisap dan menggigitnya, sementara aku mencoba mengimbanginya dengan terus aktif mengocok batangnya yang sudah sangat keras. Desahan napas dan rintihan kenikmatan kami berdua memenuhi semua sudut kamar mandi itu.
Setelah kurasa cukup, secara perlahan kubimbing batangnya untuk memasuki lubang memekku. Kulebarkan sedikit kakiku agar batangnya dapat lebih mudah memasuki liangku. Secara perlahan batangnya mulai menerobos masuk—liang memekku seakan menyedotnya. Kubiarkan sejenak rasa nikmat itu menjalari semua sendi tubuhku, lalu kulilitkan tanganku ke lehernya. Ia menggendongku dan menyandarkan tubuhku ke dinding kamar mandi, kemudian mulai menggoyang pinggulnya sehingga batangnya keluar masuk di lubangku. Rasa nikmat luar biasa menderaku saat batangnya menghunjam ke dalam liangku. Sekitar sepuluh menit kemudian rasa nikmat itu mulai menjalari tubuhku, dan akhirnya sebuah erangan panjang menyertai ledakan orgasme yang menghantam tubuhku.
Ia berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan padaku menikmati orgasme yang kesekian kalinya. Setelah melihat napasku kembali teratur, ia melanjutkan gerakan pinggulnya yang semakin cepat dan tajam. Aku tak menyangka gerakannya itu bisa kembali membuatku merasakan detik-detik menjelang orgasme. Saat ia menjerit dan menumpahkan maninya ke dalam lubangku, saat itulah aku merasa tubuhku seakan disetrum dan kembali ledakan orgasme menderaku—padahal baru lima menit yang lalu aku mencapai klimaks.
Setelah cukup tenang, aku menarik wajahnya lalu menciumnya lembut. "Mas, kuat amat, bisa terus-menerus muncrat di memekku. Nikmat banget dari semalam sama Mas."
"Aku juga nikmat banget, Sin. Memek kamu sudah peret, kerasa banget empotannya. Aku belum pernah ngerasain diempot kayak gini."
"Aku masih mau lagi, Mas. Aku ketagihan sama konti Mas yang besar banget. Kerasa banget keluar masuknya di memek aku. Sesak rasanya kalau Mas amblesin semuanya."
"Siapa takut. Sekarang kita cari makan dulu, abis itu baru main lagi."
Segera kami saling melap badan dengan handuk. Aku terpaksa memakai pakaian yang semalam karena tidak bawa ganti. "Pulang ke rumahku dulu ya, Mas—tukar baju."
"Emangnya suamimu nggak pulang hari ini?"
"Nggak, Mas. Katanya lusa baru pulang."
"Gila juga ya suamimu, punya istri napsuin gini ditinggal ke luar kota terus. Tapi nggak apa-lah, jadi aku bisa nikmatin peretnya memek kamu kan."
Aku tersenyum saja mendengar ocehannya.