18px

Istri Teman-Temanku (Bagian 2)

Istri Teman-Temanku (Bagian 2)

Cintya yang masih belum "kebagian" nampak agak kecewa, namun kutarik tubuhnya, kucium bibirnya dan kubisikkan untuk sedikit bersabar. "Habis ini ya...?" yang dijawab dengan kecupan di bibirku.

Kami kembali bersantai โ€” semua tetap telanjang bulat โ€” dan kusempatkan untuk menyiram tubuhku dengan air dingin yang segar. Aku tidak tahu berapa lama pertempuran akan berlangsung, namun yang kurasakan adalah rasa lelah dan mengantuk yang mulai menyerang. Hanya mengingat janjiku pada Cintya, dan dengan bentuk badannya yang sangat montok, Cintya seakan menjanjikan kenikmatan tersendiri.

Hampir satu jam kami bersantai. Istriku dan Irene saling ngobrol cekikikan โ€” entah apa yang dibicarakan โ€” sementara Cintya berada di pelukanku. Tanganku tak henti-hentinya memainkan buah dada yang besar itu, terbesar dibanding semua wanita yang ada di sini.

Wirda yang mungkin kelelahan nampak meringkuk tertidur di sofa dengan tubuh telanjang. Aku berdiri mengambil selimut dan menutupi tubuh istri temanku itu, lalu kubisikkan sesuatu pada Cintya dan kami naik ke atas tempat tidur, diikuti pandangan mata Irene dan istriku.

Aku dan Cintya mengambil posisi 69, dengan dia di atasku. Mulutnya segera memainkan batang kemaluanku dan sebentar saja aku pun sudah bangkit lagi. Sementara vaginanya yang kujilat dan kusedot-sedot, klitorisnya yang kumainkan dengan lidahku membuatnya banjir dengan lendir. Tidak lama kemudian ia sudah menunggangi dan bergerak dengan liarnya. Buah dada yang ekstra besar itu berayun-ayun, segera kutangkap dan kupilin-pilin putingnya; sesekali direndahkan dadanya untuk dihisap dan disedot olehku. Cintya tidak tahan terlalu lama โ€” dengan satu gerakan yang sangat keras ditanamkannya batang kemaluanku sedalam-dalamnya dan ia meracau tak keruan, lalu mendesah dan ambruk di dadaku.

Masih kubiarkan sebentar ia di atasku, lalu kurebahkan ia ke samping dan kucium bibirnya. Matanya tampak mengantuk dan wajahnya nampak puas. Cintya memang tidak terlalu cantik, namun wajahnya manis mencerminkan hatinya yang baik.

Baru saja mau bangkit, istriku sudah menahan dadaku agar tetap rebah. Kini mulutnya bermain โ€” seakan ingin pamer pada yang lain, ia menghisap dan menjilati batangku. Pinggulku diganjalnya dengan bantal dan kakiku diangkat ke atas, lalu lidahnya menembus anusku. Sesekali diputarnya lidahnya dalam anusku, dan kembali batangku masuk ke dalam mulutnya. Istriku tahu sekali kelemahanku, dan untuk ketiga kalinya malam ini aku ejakulasi hanya dalam waktu beberapa jam. Pas saat aku keluar, Irene juga sudah di dekat kami dan ikut mencicipi lagi air maniku.

Kali ini aku "habis" dan tanpa dapat ditahan, sekejap kemudian aku sudah lelap.

Mataku masih terasa sangat berat untuk dibuka, namun suatu perasaan aneh menjalariku โ€” rasa hangat dan nikmat di selangkanganku mulai menyerang. Aku masih terpejam; entah siapa yang memainkan mulutnya di batang kemaluanku yang dengan cepat sudah kembali menegang, dan sejujurnya... aku tidak peduli. Namun rasa tidak peduli itu berubah ketika sebuah mulut hangat lainnya menelusuri dadaku, mengemut puting dadaku dan naik ke atas lalu mencium mulutku. Lidah kami bertautan dan saling mengisi rongga mulut masing-masing. Tanganku bergerak memeluk tubuhnya, dan ketika akhirnya kubuka mataku, kulihat Wirda yang menciumku dengan hangatnya โ€” sementara entah siapa yang masih asyik dengan mulutnya di batang kemaluanku, aku belum tahu.

Wirda bergerak menurun dan kini kedua wanita itu seakan memperebutkan batang kemaluan yang kumiliki. Mereka bergantian menghisap dan menjilatku โ€” bila yang satu menghisap dan memasukkan batang kemaluanku dalam mulutnya, maka yang lain menjilati bijiku, dan sebaliknya. Aku mengangkat kepalaku; ternyata wanita satunya adalah Irene.

Gerakan mereka terhenti sebentar. Wirda mengambil posisi dan setengah berjongkok ia mengarahkan batang kemaluanku menembus vaginanya, sementara Irene menggenggam bijiku. Setelah terbenam seluruhnya, Wirda mulai bergoyang rodeo โ€” seakan dia koboi dan aku kudanya. Buah dadanya berayun-ayun. Aku masih belum sempat "menyelaraskan" irama gerakanku ketika entah dari mana Irene "menduduki" wajahku dan menyodorkan vaginanya yang kujilat dan kusedot-sedot. Tanganku melupakan buah dada Wirda dan memegang pantat Irene. Dengan jariku "kubelah" vaginanya dan lidahku masuk sedalam mungkin, sesekali kusedot dan kuemut-emut klitorisnya.

Tidur tadi rupanya tidak membuatku menjadi lebih perkasa, karena mulai kurasakan denyut-denyut di batang kemaluanku โ€” tanda bahwa aku tidak akan tahan lama. Namun aku juga pantang mengecewakan wanita. Maka supaya "selesai" bersama, jariku kumasukkan ke vagina Irene dan klitorisnya kusedot, kuemut dan kuhisap dengan teratur. Terasa lendirnya makin banyak memasuki mulutku dan desah serta erangannya semakin keras. Wirda juga mengayunkan pantatnya dengan batang kemaluanku tertancap di vaginanya semakin cepat.

Dengan tangan berpegangan pada bahu Irene yang juga bergerak dengan liarnya di atas wajahku, akhirnya Wirda dengan setengah menjerit, disertai napas yang memburu keras, berteriak, "Ahhs... ss... st... god... keluar... ahhhh." Disusul Irene yang akhirnya juga mencapai puncaknya. Aku yang tidak tahan lagi akhirnya "meledak" dengan dahsyatnya. "Ahhh... st... aaahhh..." Namun aku tidak bisa memeluk siapa pun dan hanya bisa meremas buah dada Irene yang masih "menduduki" wajahku, menyemburkan seluruh sisa persediaan air maniku dalam vagina Wirda.

Bertiga akhirnya kami terkulai, dan rasanya semua itu bagiku seperti mimpi โ€” karena sekejap berikutnya aku sudah kembali terlelap, wajah penuh lendir Irene dan kemaluan yang menciut namun masih "basah kuyup."

Cahaya silau menerpa mataku. Ternyata hari sudah terang. Entah siapa yang menutupi tubuhku dengan selimut, karena aku sudah terbungkus di dalamnya, walau masih tetap telanjang. Ketika kulirik, ternyata aku sendirian. Lalu ke mana empat wanita yang semalam menemaniku?

Aku bangkit dari tempat tidur dan seperti biasa, batangku juga ikut "bangun." Dengan menguap lebar aku melangkah mengambil air minum, lalu ke kamar mandi. Ketika kubuka pintunya, "Aw!" โ€” sebuah teriakan kecil mengejutkanku. Ternyata Cintya sedang berendam di bathtub, dengan busa dan gelembung sabun menutupi tubuhnya.

"Pagi," kataku. "Yang lainnya ke mana?" tanyaku sambil melangkah ke toilet dan membuang air seniku โ€” wah, banyak sekali pagi ini, mungkin karena habis terforsir semalaman.

"Lagi pada jalan. Katanya sih mau cari oleh-oleh," jawabnya.

"Ok, ya udah, santai aja, Cyn," kataku sambil melangkah ke wastafel, mengambil sikat gigi, dan menggosok gigi.

"Ikutan ya?" pintaku sambil menghampiri bathtub, dan dengan segera Cintya memberikan ruang bagiku di hadapannya. Kami pun berendam bersama, namun karena tidak cukup lebar maka posisi kami berhadapan. Kakiku yang satu menumpangi pahanya dan kaki satunya ditumpangi kaki Cintya, dan isengnya... jari-jari kakinya menyentuh batang kemaluanku.

"Mas..." kata Cintya lembut.

"Hmmm..." jawabku sambil tetap memejamkan mata, menikmati hangatnya air sabun dan sentuhan kakinya di kemaluanku.

"Aaaah... males ih, mau diajak ngobrol malah merem," katanya manja.

Ia bangkit, menarik tanganku, dan kami pun berdiri. Tanpa menggunakan aba-aba kami sudah berpelukan dengan tubuh licin karena busa sabun. Seperti belut ia menggelinjang dan menggeserkan tubuh serta buah dadanya yang besar merangsang itu di tubuhku. Kemaluanku yang tegang bertambah keras rasanya. Kunyalakan air yang memancur melalui shower yang digantung, dan sambil berpelukan kami membersihkan busa sabun yang memenuhi tubuh kami.

Sambil berpelukan dan berciuman, tanpa mengeringkan tubuh kami menuju ranjang dan langsung bergumul. Kali ini tanpa ada yang "mengganggu," kunikmati betul buah dada yang besar itu โ€” kuremas, kuhisap putingnya, kusedot dan kumainkan sepuas mungkin, sementara Cintya juga tidak tinggal diam; tangannya memainkan dan meremas kemaluanku.

Dengan posisi di atas, aku leluasa mengatur permainan. Kini dengan lidah menelusuri tubuhnya terus ke bawah, aku sampai di vaginanya. Saat terang begini terlihat kalau vaginanya masih bagus โ€” sedikit direkahkan nampak kemerahan dengan kebasahan yang mengundang selera. Cintya memang berkulit halus, tidak terlalu putih namun juga tidak gelap, puting susunya merah kecoklatan, dan klitorisnya masih sangat "layak" dijilat.

Aku tidak mau tanggung โ€” kuganjal pinggulnya dan kuangkat kakinya sehingga aku semakin leluasa mengembara di vaginanya. Sesekali kuberi "perjalanan keliling dunia" ketika lidahku menyapu anusnya. Lalu tanpa memberi kesempatan lagi aku bangkit dan meletakkan kakinya di pundakku, dan batang kemaluanku sudah terarah ke vaginanya.

"Mmm... ke mulut dulu..." protesnya.

"Ssshh... udah nggak tahan nih..." kataku.

Memang, siapa yang akan tahan lama pagi-pagi bersetubuh โ€” itu hukum alam. Kalau pagi, setelah bangun tidur, sperma sudah diproduksi maksimum dan pasti tidak akan bertahan lama. Apalagi wanita yang kuhadapi ini memiliki mulut yang sedemikian nikmatnya.

"Blessss..." kemaluanku langsung kutanamkan sedalam mungkin hingga matanya agak terbeliak saat vaginanya dimasuki langsung begitu. Lalu pantatku mulai mengayun dengan irama yang teratur.

Kini dapat kurasakan benar bagaimana nikmatnya vagina Cintya โ€” legit dan enak.

Kurendahkan tubuhku sambil tetap bergoyang dengan irama yang teratur, dan mulutku berhasil mencapai mulutnya dengan kakinya masih tetap di pundakku. Vaginanya seakan menelan kemaluanku, dan posisi ini ternyata membuatnya sangat nikmat.

"Ah... ah... sssh... enak... aduh... enak... ah hh..." racaunya tak henti-henti.

Dan akhirnya, "Cepet... cepet... mau keluar..." Aku mengayunkan pinggulku semaksimal mungkin, dan bersamaan kami mencapai puncak. "Sssh... ah... ssshh... hhh..." Entah rintihan siapa yang paling keras. Air maniku pun pagi ini sudah menyiram rahim dan vagina Cintya โ€” ejakulasi yang pertama pagi ini.

Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa getaran kenikmatan, sebelum terkulai.

"Mas... kalau Mas Andi ada, pasti langsung dimasukkan lagi nih. Dia paling senang kalau habis dipakai begini langsung masuk," katanya menceritakan suaminya.

"Iya," jawabku. "Memang enak kok... sloppy second," jawabku, dan ia tersenyum, mencium bibirku lalu bangkit menuju kamar mandi membersihkan diri.

Aku juga bangkit, namun mengambil rokok dan menghisapnya penuh nikmat.

Cintya lalu kembali dan kami ngobrol macam-macam hal, masih tetap telanjang. Aku sungguh senang menatap buah dadanya yang besar itu, namun padat dan kencang menantang.

Agak lama kami menunggu hingga Anita dan lainnya kembali. Saat mereka tiba, "Wah... bugil-bugilah!" kata istriku menghampiriku dan mencium bibirku. Aku tahu ia pasti mencium aroma vagina di wajahku, karena dengan kerling nakal ia berkata, "Curang ya... udah start lagi?" katanya. Aku hanya tersenyum.

Kami sarapan di kamar, dan wajah heran waitress yang mengantarkan makanan tak kuasa ia sembunyikan โ€” melihat empat wanita (yang satu hanya menutupi tubuhnya dengan selimut saat masuk) dan aku yang juga masih telanjang hanya menutupi "barang"ku dengan bantal.

Setelah kenyang, kami jalan-jalan di pantai. Wah, seperti raja dengan empat permaisuri saja rasanya aku hari itu โ€” sampai lupa memberi laporan ke suami-suami yang tertahan dengan pekerjaan.

"Hallo... Hey... gimana..." suara Sonny memasuki gendang telingaku saat Wirda memberikan HP-nya padaku ketika suaminya menelepon.

"Man... your wife... lezat bener rasanya..." kataku.

"Sialan... enak ya loe... gila... semua digilir?" tanyanya.

"Bukan โ€” mereka yang menggilirku," jawabku sekenanya.

"Nih, Andi mau ngomong," katanya.

"Hey, thanks ya... pagi-pagi Cintya udah sarapan tuh โ€” sarapan rohani... eh... susunya itu... aduh... nggak bosen deh," kataku sambil tertawa.

"Diancuk..." Andi yang berasal dari Jawa Timur memaki dengan logatnya yang khas. Kepada Herman pun aku sempat mengucapkan salam dan berkata, "Man... Irene mulutnya luar biasa ya... thanks ya, sering-sering aja kalian lembur begini, ha ha."

Suara tawa terdengar di ujung sebelah sana. Memang begitulah โ€” pujian tentang bagaimana nikmatnya rasa istri dari teman yang mencobanya adalah nilai yang sangat ditunggu, karena memberikan kebanggaan.

Siang itu, karena hari masih panjang, kami bersantai. Saat Irene dengan Cintya berenang, aku "ditangkap" oleh Wirda. Awalnya aku disuruh telungkup, lalu punggungku dijilati dari leher sampai pantat. Di belahnya pantatku dan lidahnya menari-nari di situ. Aku kali ini tidak diberi kesempatan menjilatinya, karena saat berbalik ia langsung berada di atasku dan membenamkan batang kemaluanku dalam vaginanya. Cukup lama kami bersetubuh โ€” karena tadi sudah keluar di vagina Cintya, aku jadi agak lama.

Istriku kali ini hanya menonton โ€” asli menonton, memperhatikan setiap gerakan kami, mengamati saat aku dihisap, dijilat dan sebaliknya. Rupanya ia menunggu, karena setelah Wirda mencapai puncaknya, terkulai dan lepas dari tubuhku, kemaluanku sudah memasuki vaginanya. Aku masih tetap dalam posisi di bawah, hingga kami sama-sama mencapai nirwana.

Pas saat aku melepaskan kemaluanku dari vagina istriku, Irene dan Cintya masuk. Mereka tersenyum, dan Irene menghampiriku lalu "membersihkan" punyaku dengan lidahnya.

"Pemanasan," katanya ketika aku memandangnya. "Habis ini ya."

Setelah beristirahat sebentar, Irene berusaha keras membangunkanku dan lalu menuntaskan hasratnya dengan liarnya. Kali ini ketiga wanita yang lain menjadi penonton, hingga menjelang kami mencapai puncak โ€” Irene mencapai tujuannya beberapa saat lebih dahulu. Dan ampun... saat aku keluar, seperti sudah berjanji Irene melepaskan kemaluanku dan ketiga mulut yang selalu "haus" itu menjilati dan menghisap air mani yang keluar sampai ngilu aku dibuatnya.

Kami masih bersantai hingga sekitar pukul 15.00, dan sesaat sebelum berkemas mereka gantian kembali menjilat dan menghisap batang kemaluanku. Namun hanya istriku yang menerima air maniku, karena aku mengeluarkannya dalam-dalam di mulutnya โ€” namanya juga etika suami istri. Lalu kami pun siap untuk pulang ke Jakarta.

Hampir sepanjang perjalanan pulang semua tertidur karena lelah. Ini adalah perjalanan terberat yang kulakukan โ€” mataku benar-benar berjuang untuk tetap terbuka dan menjaga konsentrasi di jalan raya.

Perlu waktu hampir tiga hari bagiku untuk memulihkan kondisi. Bahkan dua hari pertama setelah pulang, punyaku sama sekali tidak bangkit walau pagi hari sekalipun โ€” terlalu diforsir, rupanya. Namun pengalaman tersebut adalah salah satu yang sangat mengesankan.

Tamat

โ† SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya โ†’