Bab 1
Istriku dan Dildo Hidup
Aku adalah suami yang punya kreativitas seks berlebihan. Sering aku membayangkan istriku bercinta dengan banyak lelaki sekaligus sementara aku menonton. Terkadang aku memancing istriku, menanyakan bagaimana kalau itu direalisasikan โ dan dia langsung cemberut dan marah-marah.
Namun karena aku terus membicarakan hal itu, lama-kelamaan dia merasa biasa saja, bahkan menimpali dengan ide-ide yang tak kalah gilanya. Tapi aku tahu dia hanya iseng. Pernah pada saat kami mengobrol yang panas-panas, dia mengusulkan, "Aku mau, Pa, tapi cowoknya aku yang pilih. Pertama, dia harus bersih, dan aku tidak mau intercourse!" Padahal aku justru lebih suka kalau dia dilayani pria berbatang besar โ lebih menggairahkan menurutku.
Karena aku terus berbicara tentang seks ramai-ramai, dia akhirnya tidak keberatan kalau aku memakai berbagai dildo untuk melayaninya โ mulai dari yang seukuran milikku hingga dildo raksasa. Sudah bisa ditebak, dia tidak bisa menikmati yang besar. Dia mulai dapat menikmati berbagai dildo itu kecuali yang paling besar; favoritnya adalah dildo kecil yang bisa membuatnya multiorgasme.
Akhirnya, fantasiku itu terlaksana ketika ulang tahunnya. Aku menawarkan hadiah apa yang dia inginkan, dan dia minta dildo getar model baru. Hmm, pikirku, ini kesempatan. "Ma, ngomong-ngomong, daripada bingung cari dildo baru, kita cari saja dildo hidup. Lebih enak..."
"Maksudnya apa, Pa?" istriku heran.
"Ya, kita cari cowok yang bisa menyenangkan kamu. Bentuknya bisa kita pilih sendiri โ toh intinya sama dengan dildo yang kamu punya," kataku santai.
"Hmm, mulai deh Papa, nawarin yang aneh. Kalau aku mau, nanti awas kalau Papa sendiri bingung โ tidak boleh protes!" katanya sengit.
"Tidak apa-apa, Ma. Tidak ada intercourse, dan ini untuk memuaskan kamu. Kita cari yang bersih, yang ganteng."
Istriku tampak berpikir lama, lalu menjawab dengan suara bergetar. "Tapi kamu tidak cemburu, Pa? Dan tidak apa-apa aku diciumi cowok lain?"
"Kalau diciumi di bibir, tentu aku keberatan. Intercourse juga hanya aku yang boleh. Tugas mereka cuma foreplay โ yang penting kamu merasa nikmat dan nyaman."
"Hmm, tapi aku takut ketagihan. Dan aku tidak mau dikasar. Bagaimana Papa yakin tidak ada intercourse? Kalau ternyata aku terangsang dan cowok itu juga, bagaimana menjaganya?"
"Hmm, benar juga," kataku pura-pura bodoh. "Kamu sendiri kalau ada intercourse sama mereka, mau tidak? Kalau aku sih tidak keberatan, selama mereka pakai kondom, tidak kasar, dan yang terpenting kamu mau dan bisa menikmati."
Istriku tampak terkejut. "Nggg... tapi sebenarnya rasanya sama kan, Pa?"
"Tergantung. Kalau ukurannya berbeda, tentu tidak sama โ dan yang terpenting sensasinya. ML dengan satu batang berbeda dengan dua batang. Kamu bisa menikmatinya?"
"Hmm... jadi aku ML sama Papa sekaligus sama orang itu? Dua orang? Kalau tiga orang rasanya beda lagi? Bener Papa tidak keberatan?"
"Tidak apa-apa, Ma. Aku malah terangsang kalau kamu ML dengan mereka."
"OK." Suaranya tertahan sesaat seolah masih berpikir. "Dan kalau Papa memang tidak keberatan... aku tidak mau kalau cuma satu orang โ nanggung. Sekalian saja yang banyak, biar benar-benar lain daripada yang lain," bisiknya lirih.
Aku menjawab dengan semangat tinggi, "Tidak apa-apa, Ma โ ketagihan pun tidak apa-apa. Bagaimana, aku carikan ya, Sayang?"
"Tapi, Pa... aku kan tidak mudah terangsang. Dan lagi... aduh, aneh rasanya ML dengan orang lain," katanya ragu-ragu.
Sayang, aku hanya berhasil mendapatkan dua gigolo. Kuberi mereka pengarahan tentang cara memuaskan istriku. Sengaja kupilih yang ukuran batangnya berbeda-beda. Si Rudi yang katanya berbatang raksasa sangat bangga dengan ukurannya โ jaminannya tidak ada wanita yang tidak puas. Menurut pengakuannya, rata-rata awalnya mereka takut, tapi begitu masuk, semuanya menjadi ganas.
Kami menyewa sebuah villa dengan makan malam romantis. Rudi dan Andy sengaja kuundang datang belakangan; mereka tiba berjas rapi, tampak bersih. Kutunjukkan kepada istriku bahwa mereka akan melayaninya. Istriku terlihat gugup dan tidak nyaman. "Pa, bagaimana kalau kita batalkan saja acaranya?" bisiknya gemetar.
"Santai saja, Ma. Ingat, mereka akan melayani kamu sebaik-baiknya. Mereka tidak akan memaksa, bahkan bersedia melakukan apa yang kamu perintahkan. Dan mereka cakep-cakep, lo."
"Iya, memang cakep... tapi aduh, gemetar nih."
Kamar tidur sudah kusiapkan dengan tempat tidur berukuran ekstra besar โ memang diperuntukkan bagi hal-hal khusus seperti ini. Kuminta Rudi menunggu di luar sementara Andy masuk lebih dulu. Andy memiliki tubuh paling atletis. Dengan sengaja dia membuka bajunya perlahan sambil tetap memakai celana dalam yang seksi. Batangnya tidak terlalu besar memang โ tugasnya hanya menjilat kaki, tangan, dan punggung.
Akupun mulai menanggalkan bajuku. Perlahan kubuka gaun seksi istriku dan meloloskannya jatuh ke lantai. "Pa... aku malu. Badanku tidak bagus lagi," bisiknya.
"Jangan begitu, Ma. Di mataku kamu adalah wanita paling seksi. Dan kamu tahu apa yang mereka katakan waktu melihat fotomu โ 'Wow, istri Om masih cantik sekali.' Jadi jangan ragu, Sayang." Kubisikkan itu sambil mulai mencium leher dan bibirnya, lalu kutuntun dia menuju tempat tidur.
Sementara aku mencium bibir istriku, Andy tersenyum dan mendekatinya dari belakang โ mencium punggung dan pinggangnya โ sementara aku mulai menjilat lembut puting susunya yang bergetar.
Badan istriku yang ramping mulus, buah dadanya padat berisi dengan puting merah muda, dan kedua bongkahan pantatnya yang mulus sungguh menggairahkan.
Kemudian kutarik istriku berdiri. Dengan Andy tetap di belakangnya, kedua tangan Andy mulai menjelajahi seluruh lekuk tubuh istriku. Sempat kulihat ekspresi wajahnya โ mata setengah terpejam, dahi sedikit berkerut menahan kenikmatan, mulut kecil setengah terbuka. Apalagi ketika jemari Andy menyentuh selangkangannya sementara tangan lainnya meremas puting susu, seluruh badan istriku yang bersandar lemas di punggung Andy bergetar hebat. Aku tahu dia gemetar karena batinnya belum sepenuhnya menerima, tapi ada juga rasa ingin.
Kuminta Rudi segera masuk, hanya memakai celana dalam. Rudi memiliki batang terbesar โ aku sendiri belum pernah melihatnya. Kupesankan agar dia bersiap-siap kalau istriku memintanya, dan kutekankan agar selalu memakai kondom serta tidak menyentuh istriku tanpa izin.
Kurebahankan istriku ke tempat tidur, agak ke ujung agar Rudi mudah menciuminya dari bawah. Sementara aku mencium bibir istriku dan Andy masih merangsangnya dengan menggigit-gigit ujung payudaranya, istriku tampak risih namun membiarkannya. "Ah Papa... geli... sssh... aaahh geli... malu, Pa..." Kutenangkan dia, dan tampaknya dia benar-benar menikmati ketika putingnya digigit dan dijilati oleh dua lelaki.
Istriku kini telentang di tepi tempat tidur, kakinya menjulur ke lantai, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran jilatan Rudi. Rudi mengambil posisi berjongkok di lantai di antara kedua paha istriku yang terbuka lebar. Rudi memang hebat โ lidahnya panjang dan terampil sehingga dengan cepat istriku mengelepar.
"Aaahh geli, Pa... geli... jangan yang bawah dicium... geli... aaahh... kok enak ya, Pa? Aneh ya, Pa... aku kok cepat terangsang sekali sekarang... aaahh, Pa... padahal cuma diciumi."
Kuminta Rudi bergeser sedikit, lalu kuarahkan batangku ke bibirnya. Tidak langsung โ karena istriku tidak suka kasar โ kucumbu perlahan, sedikit kumasukkan, kugerakkan pelan-pelan, lalu kucabut lagi. Dengan terpejam istriku berbisik dekat telingaku, "Pa... boleh aku raba dada bidang mereka? Boleh ya, Pa?"
Rupanya istriku penasaran. Dengan tangan gemetar dia menyentuh dada Andy dan Rudi. Aku tahu sebenarnya dia ingin menyentuh lebih jauh, tapi masih malu atau sungkan denganku.
Rudi ternyata lebih kreatif โ dia melepas celana dalamnya. Ups! Dia memang tidak berbohong. Dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang hampir 25 cm, warnanya merah muda di ujung โ sangat besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku khawatir istriku akan merasa kesakitan, mengingat posturnya yang mungil, tingginya hanya 150 cm.
Sementara aku masih memompa dengan lembut, tangan istriku mulai turun ke selangkangan Rudi dan terkejut menyentuh batangnya. "Pa! Besar sekali punyanya... aduh, nanti jangan dipaksa masuk cepat-cepat ya, please... aku ngeri. Kok jauh lebih besar dari punya Papa?"
Kulepaskan batangku dan Rudi kembali menikmati istriku. Rudi sangat berpengalaman sehingga dengan mudah menemukan titik rangsang istriku, dan benar saja tubuh istriku bergetar hebat. "Aduh Pa, gila... gilaaaa... enak sekali... sekarang masukkan, masukkan lagi, ssshh..." rintihnya sambil mencari-cari batangku. "Yang mana yang dimasukkan, Honey? Punya Rudi?" godaku. "Aduh Papa gitu deh... Papa dulu lagi, please," rintihnya.
Sementara Andy masih dengan setia menjilati payudara istriku yang menegang, aku masih mencium bibirnya โ sengaja tidak mau melepas bibir agar dia tidak malu di hadapan dua anak muda ini.
"Gimana, Ma, kalau Rudi saja yang masuk? Tidak apa-apa. Kapan lagi kamu merasakan yang sebesar itu? Tidak akan sakit โ Rudi tahu caranya," bisikku.
"Aku malu, Pa... malu... ssshh... bener tidak apa-apa? Tidak menyesal? Ssshh... bener? Aaahhh... gila, enaaak banget..."
"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti kalau sakit tidak usah dipaksa โ yang penting kamu menikmati." Lalu kuberi kode pada Rudi untuk bersiap.
Jujur, aku sendiri gemetar ketika Rudi mulai menyiapkan batangnya. Rasanya tidak rela batangnya yang besar itu masuk ke vagina istriku โ tapi di sisi lain aku ingin melihat istriku bercinta dengan pria lain. Rasa ingin tahuku lebih besar dari rasa cemburuku.
Terlihat Rudi memegang penisnya yang raksasa dan mulai mengusapkannya dengan lembut di celah bibir kemaluan istriku yang sudah sedikit terbuka. Ujungnya yang kasar menggosok-gosok klitoris istriku โ kecemburuanku luar biasa. Rudi dengan sengaja menggosoknya cukup lama agar istriku bisa menyaksikan sendiri besarnya. Dan memang benar, istriku dengan mata terbelalak memandang ke arah senjata Rudi yang dahsyat itu yang menempel di bibir vaginanya. Kedua tangan istriku mencoba menahan tubuh Rudi, dan tubuhnya sedikit melengkung โ khawatir kesakitan. Ia mencoba menarik pantatnya ke atas untuk mengurangi tekanan, tapi Rudi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat istriku dan dengan tangan kirinya menuntun penisnya agar tetap menempel sambil mencium telinga kirinya.
"Tante... saya gosok-gosok dulu ya, biar enak. Hmm, bagaimana? Enak ya? Maaf ya... kalau masuk sekarang... boleh ya?"
Kepala istriku hanya menggeleng ke kiri ke kanan, entah apa yang hendak dikatakannya. Pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak penis raksasa Rudi, mulutnya terkatup rapat seolah menahan debaran jantung. "Pa... punya Rudi jangan masuk dulu ya... aduh jangan ya, Pa... ssshh... terlalu besar... aduh... besar sekali... ngeri."
Kucium bibirnya. "Nikmati saja, Sayang, nikmati saja. Tadi kan punyaku sudah masuk, jadi tidak terlalu sakit kan?"
Tanpa menunggu lebih lama, Rudi menekan penisnya ke dalam lubang vagina istriku yang sudah basah itu โ meski kedua tangan istriku tetap berusaha menahan. Kubisikkan terus ke telinganya, "Jangan tegang, Ma... santai saja... biarkan masuk."
Mungkin karena tusukan Rudi yang mendesak atau karena ukurannya yang luar biasa, istriku langsung berteriak merintih-rintih, "Aaah... ssshh, ya, pelan-pelan begitu aja ya... pelan-pelan sekali yaaaa... aaahh." Wajahnya menegang menahan rasa sakit, kedua kakinya gemetar. Kepala penis Rudi yang besar itu mulai terbenam sebagian di dalam vagina istriku โ kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat sehingga terlihat terkuak membungkus ketat kepala Rudi. Menggairahkan sekali. Kudekati dan kucoba merangsang klitorisnya dengan jariku.
"Bagaimana, Sayang... lebih enak sekarang? Nikmati saja," bisikku. Istriku mulai tersenyum malu. "Hhh, Pa... mulai agak enak, Pa... aduh, mulai enak... enak, Pa... tidak apa-apa nih, Pa? Kalo besar ternyata enak ya, Pa? Aduh... nanti kalau aku ketagihan, gimana, Pa? Aaaduh..." Padahal batang Rudi baru keluar masuk sebagian.
Rudi menghentikan gerakan dan berbisik, "Maaf, Tante... kalau saya kurang lembut... maaf ya, Tante."
"Aaghh... nggaaak kok... sudah mulai agak enak... tapi jangan terlalu dipaksakan ya... masukkan pelan-pelan lagi ya, agak dalam ya, aaahh," jawab istriku dengan badannya terus menggeliat, kedua tangannya merangkulkan punggung Rudi.
"Tante, saya mau masukkan lagi ya, dan tolong katakan kalau Tante masih merasa sakit," sahut Rudi. Tanpa menunggu jawaban, Rudi melanjutkan tekanan penisnya โ kali ini dengan kocokan lebih cepat.
Secara lembut tapi pasti, penis raksasa itu menerobos masuk. Ketika hampir setengahnya terbenam, istriku telah pasrah โ kedua tangannya tidak lagi menahan Rudi, melainkan mencengkeram tepi tempat tidur. Rudi menekan lebih dalam, wajah istriku meringis menahan sakit sekaligus nikmat, pahanya gemetar. Karena istriku tidak mengeluh, Rudi meneruskan tusukan โ lalu tiba-tiba, "Aaahh," Rudi melenguh sambil menghentak dengan kuat hingga tempat tidur bergoyang keras.
Pada saat bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut istriku, "Aduuh, Paaaaaa... aaahh..." Kedua tangannya mencengkeram tepi tempat tidur, badannya melengkung ke depan, kedua kakinya terangkat menahan tekanan penis Rudi. Rudi mendiamkan penisnya sejenak agar istriku tidak makin kesakitan, sambil berbisik, "Tante, sakit ya? Tahan sebentar ya โ saya goyang pelan-pelan. Sebentar lagi akan terasa nikmat, dijamin."
Istriku dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepala seraya mendesah panjang, "Aaghh, Pa... sudah, Pa... aduh... sudahlah, please... sakit... sakit... terlalu besar... aaah." Kulihat air mata menetes di sudut matanya. Cepat-cepat Rudi mencium payudara istriku dengan ganas. Pantatnya bergerak naik turun semakin cepat, terkadang batangnya dicabut lalu dihunjamkan kembali โ membuat istriku melenguh dan merintih berkepanjangan.
Tak lama kemudian badan istriku bergetar hebat. Dari mulutnya terdengar keluhan panjang, "Aduuh... oooohh... ssshh, Pa! Aku... aaahh... aku... aaahh... aku... aaakh... sshhh... oohhh," kedua kakinya bergetar dan melingkar erat di pantat Rudi. Matanya membeliak, tubuhnya menghentak-hentak โ istriku mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Sesaat kemudian badannya terkulai lemas dengan kedua kaki tetap melingkar pada Rudi. Sambil tersenyum, Rudi tetap melakukan goyangan memutar dengan lembut, mengikuti gerakan pinggul istriku.
Kemudian Rudi melepaskan diri dan bergeser ke samping, memberi kesempatan padaku untuk mendekati istriku.
"Bagaimana, Sayang? Enakkan batangnya Rudi? Sakit?" bisikku.
Dengan memukuli dada bidangku, istriku berbisik malu-malu namun bernada protes, "Kenapa tidak bilang-bilang, Pa, kalau enaknya luar biasa seperti ini? Nikmat banget, Sayang. Bisa orgasme, Pa... nikmat. Betul kata Papa, yang besar enak ya... enak sekali. Sekarang pengen sama punya Papa. Kasihan kan, Papa belum keluar?" Pipinya bersemu merah.
Aku benar-benar terangsang hebat menyaksikan semua itu. Segera kumasukkan batangku ke vaginanya yang super basah โ ya ampun, gara-gara batang Rudi yang besar tadi, batangku masuk tanpa gesekan. "Aaahh, hunjamkan Pa, hunjamkan Pa... sshhh," istriku memang bisa multi orgasme, dan malam itu aku benar-benar ingin membuatnya puas.
"Tidak terasa ya, Ma?"
"Terasa kok, Pa... terasa. Memang kurang, tapi nikmaat." Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan batangku menerobos vaginanya. "Aaghh," mata istriku terpejam, bibirnya digigit โ tapi ekspresinya adalah kepuasan murni. Kudorong-dorongkan penisku keluar masuk diiringi erangan dan desahan istriku setiap kali kuhujamkan. Aku semakin bersemangat dan makin kupercepat. Bisa kurasakan vaginanya semakin licin.
"Ahh... ahh," istriku makin keras teriakannya.
"Ayo, Pa... terus."
"Enaaak... eem... mm!"
Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi lenguhan panjang. "Uuhh... hh..."
"Ma, aku keluar ya?"
"Keluarkan, Pa, keluarkan... mm ssshh..."
Bersambung...