Bab 1
Istriku Swinger: Malam Pertama
Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan istriku dengan erat, dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya. Saat bersamaan cairan spermaku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina istriku. Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan istriku, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vaginanya. Tiba-tiba badannya bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggulku, diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya.
"Aagghh, aahhh!"
Saat bersamaan istriku kembali mengalami orgasmenya yang kedua dengan dahsyat. Gila — luar biasa enak dan menggairahkan sekali.
Dengan tersenyum Rudi kembali mendekati istriku. "Gimana, Tante, kalau saya puaskan lagi?"
Istriku terperanjat. "Lho, lagi? Aku kan sudah orgasme dua kali, Pa," tanyanya sambil memandang bimbang ke arahku.
"Lho, Ma, kalau lagi kan kamu bisa berkali-kali orgasmenya," kataku.
"Tapi, tapi, mmm, oke lah, kita coba lagi. Tapi kali ini agak cepat ya, kalau pelan kurang rasanya," bisiknya.
Istriku kembali melirik padaku sambil menggigit bibir bawahnya. Aku tahu dia masih ingin tapi malu kepadaku — matanya nanar memandang penis Rudi yang masih berdiri tegak. Tanpa menunggu jawabannya aku minta Rudi segera memasang kondomnya. Kali ini aku ingin threesome, dan Rudi mulai mendekatkan penisnya ke vagina istriku lagi.
Kini aku akan menyaksikan bagaimana Rudi mempermainkan tubuh mungil istriku.
"Tante, bagaimana kalau kali ini saya agak kasar, tapi tetap nikmat kok — dijamin deh."
Istriku hanya mengangguk. Mungkin dia juga ingin merasakan bagaimana bercinta dengan sedikit kasar.
"Pa, gimana, Pa? Nggak papa? Nanti nggak seret lagi lho," tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Kan aku sudah bilang, Honey, nikmati saja."
Dengan memegang pinggang istriku, Rudi langsung memasukkan penisnya dalam-dalam. Dan istriku sama sekali tidak menolak. Gerakan Rudi terlihat mulai sangat kasar — hilang sudah kelembutan yang pernah dia perlihatkan sebelumnya. Mulai saat ini Rudi mengerjai istriku dengan agak brutal dan kasar. Istriku benar-benar dipergunakan sebagai objek seksnya. Rudi mengganjal pantat istriku dengan bantal dua tumpuk sehingga lubang vaginanya yang lebih tinggi tampak merekah dengan lelehan sperma milikku. Batangnya benar-benar dihunjamkan dengan hentakan-hentakan kasar dan gila — luar biasa cepat.
Aku sangat khawatir kalau-kalau Rudi menyakitinya. Tetapi dilihat dari ekspresi muka dan gerakan istriku, ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan atas apa yang dilakukan Rudi terhadapnya. Bahkan tangannya mencengkeram erat pantat Rudi seakan takut kalau Rudi menghentikan hentakan gilanya. Luar biasa — pemandangan ini sungguh menggairahkan. Aku benar-benar terangsang hebat.
Kubisikkan kepadanya, "Honey, kita threesome ya." Dengan segera aku arahkan batangku ke mulutnya untuk dikulum. Aaahhh, nikmat sekali. Kami merubah posisi doggy style dengan Rudi tetap di belakang dan batangku tetap di mulut istriku.
Aku berbisik lagi mengusulkan bagaimana kalau Andi bergantian dengan Rudi memasukkan batangnya dari belakang — biar tidak jadi obat nyamuk.
"Aduh, Pa, malu, Pa. Aaaahh, tapi iya, Pa, nggak papa, nikmat kok, pelan-pelan ya."
Dan bertiga batang kami bergiliran masuk ke vaginanya. Bahkan kami mencoba memasukkan berurutan: Andi bagian pertama, aku kedua, dan Rudi ketiga. Istriku memandangku dengan sayu tapi bibirnya sedikit tersenyum karena merasa nikmat sekali melihat tingkah kami yang bergantian menggilirnya dengan cepat.
"Aaahh, aaahh, lebih cepat, lebih cepat, gantian, gantiaan, yang besar, yang besar, aaahh, kurang cepat, Pa, kurang cepat."
Tampaknya dia sudah tidak terlalu malu lagi.
"Tante, Rudi ingin memberi sensasi lain nih, mau ya?"
Istriku memandangku lagi masih meminta pertimbangan. Aku mengedipkan mataku — its okay, Honey.
Dengan segera Rudi menggendong istriku. Istriku terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Rudi. Kaki istriku merangkul pinggang Rudi, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Rudi.
Rudi berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus berusaha mencium istriku — yang segera aku ingatkan untuk tidak melakukan itu.
Pantat istriku terlihat merekah dan tiba-tiba Rudi memasukkan jarinya ke lubang pantat istriku.
"Ohh! Jangan!"
Mendapat serangan sedahsyat itu dari Rudi, badan istriku terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Rudi. Suatu pemandangan yang sangat seksi.
"Jangan kuatir, Tante, nikmati saja."
Ketika Rudi merasa capai, istriku diturunkan dan Rudi duduk di sofa. Istriku diangkat dan didudukkan di pangkuannya dengan kedua kaki istriku terkangkang di samping paha Rudi. Rudi memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan istriku dari bawah. Aku bisa melihat penis raksasa Rudi memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan istriku yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Rudi menyentuh paha istriku. Kedua tangan Rudi memegang pinggang istriku dan membantu istriku memompa penisnya secara teratur. Setiap kali penis Rudi masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam, dan ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Rudi. Mereka melakukan posisi ini cukup lama. Sementara istriku mengerang dengan hebat dan berbisik.
"Nikmat, Pa, nikmat sekali. Ssshhh, aduh, nikmat."
Kemudian Rudi mendorong istriku tertelungkup di sofa dengan pantat istriku agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Rudi kembali bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling aku sukai. Dari belakang pinggul istriku, Rudi menempatkan penisnya di antara belahannya dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina istriku dari belakang dengan sangat keras dan dalam — semua penisnya amblas ke dalam vagina istriku. Jempol tangan kiri Rudi dimasukkan ke dalam lubang pantat istriku.
Setengah berteriak istriku menjerit, "Aagghh!" Badannya meliuk-liuk mendapat serangan Rudi yang dahsyat itu. Badan istriku dicoba ditarik ke depan, tapi Rudi tidak mau melepaskan — penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan istriku dan mengikuti arah badan istriku bergerak.
Istriku benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat. Desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan.
"Oohhm, aduh, Pa, nikmaatt."
Rudi mencapai payudara istriku dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan istriku bergetar lagi. Kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, "Aahh, Pa, aahh, Pa, kok nikmat, Pa, sshh, sshh!" Istriku mencapai orgasme lagi — yang keempat kalinya.
Saat bersamaan Rudi mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat istriku. Penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan istriku dari belakang. Sementara badan istriku bergetar-getar dalam orgasmenya, Rudi sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan istriku, membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina istriku ikut berputar-putar mengebor liang vagina istriku sampai ke sudut-sudutnya.
Gerakan pantat Rudi bertambah cepat dan ganas memompa. Terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar-masuk di dalam lubang vagina istriku. Tiba-tiba, "Oohh, oohh!" Dengan erangan yang cukup keras dan diikuti badannya yang terlonjak-lonjak, Rudi menekan habis pantatnya dalam-dalam, menekan pinggul istriku ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan istriku. Pantat Rudi terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di kondom di dalam vagina istriku, sambil kedua tangannya mendekap badan istriku erat-erat.
Dari mulut istriku terdengar suara keluhan, "Sssh, sshh, hhmm, hhmm," merasakan semprotan tertahan di dalam liang vaginanya.
Sebenarnya ini tidak ada di dalam kontrak bahwa Rudi boleh ejakulasi di dalam tubuh istriku. Tetapi pemandangan menggairahkan ini membuatku tidak kuasa memprotesnya.
"Aduh, maaf, Om. Aku keluarkan di dalam. Habis, Tante sexy banget. Istri Om cantik sekali, cantik sekali."
Setelah berpelukan dengan erat selama beberapa detik, Rudi kemudian merebahkan diri di atas badan istriku yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina istriku.
Aku datangi tubuh mereka berdua yang masih menyatu. "Bagaimana, Honey, nikmat ya?"
"Aduh, Pa, bikin malu aja. Memang nikmat kok, Pa. Terima kasih ya, Sayang. Aku puas sekali malam ini."
Rudi segera akan mencabut batangnya tetapi segera dilarang oleh istriku. "Biarkan di dalam, Rud. Masih enak, jangan dicabut dong. Selain itu malah sakit kalau dikeluarkan."
"Ma, ini baru namanya foursome lho. Cuma Andi ikut nggak terlalu lama."
Dengan berbisik lembut istriku berkata, "Pa, nggak papa ya, kalau lain kali kita BCT seperti ini lagi? Ternyata batang besar Rudi memang enak. Tapi besok-besok pakai dua batang besar nggak papa ya? Aku pengen yang lebih lama lagi." Istriku merengek.
"OK, Honey, besok pagi biar Rudi memanggil teman-temannya."
Rudi dan Andi aku suruh pulang karena tugas mereka sudah selesai, sambil mengingatkan kalau jam 10 pagi Rudi datang lagi sambil membawa dua orang temannya. Dua hari ini aku akan memuaskan istriku.
"Saya ada dua teman yang memang agak kecilan dibanding punya saya, tapi mereka lebih ahli dari Andi. Bagaimana, Om, bisa saya ajak mereka?" tanya Rudi.
"OK lah, tapi mereka tetap harus memakai kondom kalau bercinta dengan istriku," syaratku.
"Nggak masalah, Om. Cuma efeknya mereka akan bermain lebih lama."
Pagi-pagi aku ajak istriku mandi. Kali ini dia benar-benar jadi ratu — aku gosok tubuhnya dengan lembut, aku ciumi bibir dan payudaranya di dalam bathtub.
"Pa, apa Papa nggak nyesel? Aku malu banget lho," tanyanya.
"Ayolah, Ma, jangan begitu. Ini kan ulang tahunmu. Aku undang mereka jam 10 pagi ini lagi, bagaimana?"
"Hhmm, kok lagi siiihh." Wajahnya kemerahan menahan malu.
"Lho, kan enak kan, Sayang," bisikku.
"Tapi batang mereka besar. Kalau sering-sering kan bisa nggak rapet lagi, Pa. Nanti kalau kamu nggak terasa jangan nyesel lho ya."
"Lhoo, kamu apa lupa kalau bisa mencengkeram? Coba nanti terapkan ke Rudi — pasti dia nggak bakal tahan lama."
"Hmm, nggak papa, Pa, aku cengkeram punya mereka?" tanyanya sambil matanya berkedip-kedip.
"Lho, nggak papa kalau kamu merasa enak."
"Iya sih, enak, enak sekali malah," katanya meringis malu sambil menggelendot manja.
"Sebenarnya aku paling senang kalau mereka bisa bergantian cepat masuknya — gimana gitu rasanya, kelihatan sexy banget. Tapi harus gantian yang besar dan yang kecil, lebih enak, sangat enak tepatnya. Aahh, jadi malu, Pa," sambil menutup kedua wajahnya dengan handuk.
Selesai mandi aku minta istriku memakai lingerie merah sexynya dengan stocking hitam menerawang. Hmm, istriku memang sangat matang dan sexy meski usianya 32 tahun.
Tak berapa lama Rudi datang bersama dua rekannya, Max dan Charles. Mereka memperkenalkan diri.
"Bagaimana, Sayang, bisa kita mulai?" sambil kucium lembut bibir istriku.
"Mmpphhh, tapi mereka nggak boleh kasar-kasar ya," katanya.
Max diikuti Rudi segera mengambil inisiatif melepas bajunya. Tampaknya mata istriku kagum melihat batang-batang mereka, napasnya mulai memburu.
"Aku gemetaran, Pa, aduhh."
Dengan berjongkok di antara kedua kaki istriku, Max mulai menciumi dan menjilat bulu-bulu halus vagina istriku, sementara Rudi mencium pantat istriku dari belakang.
"Aargh, Pa, aku nggak kuat kalau berdiri, nikmaatt." Istriku mengerang pelan. Paha istriku bergetar lembut ketika lidah Max menjilati gundukan berbulu itu. Terengah-engah istriku meremas rambut kepala Max dengan satu tangan, perlahan menekan — memaksa pria itu menjelajahi seluruh permukaan vaginanya — dan menjerit kecil ketika klitorisnya tersentuh lidah kasar Max. Max terlihat sibuk menjilati bagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan lidahnya, sesekali digigitnya, mendenguskan napas hangat ke dalam liang panas membara tersebut. Istriku kembali menjerit tertahan.
"Sssshh, aahh!!!"
Sementara satu tangan menekan kepala Rudi untuk lebih dalam menciumi belahan pantatnya, aku masih bermain lidah dengan istriku sambil membelai lembut rambutnya. Charles mulai mendekati payudara istriku dan meloloskan tali lingerie dari tangan kiri istriku. Dengan lembut mulai menggetarkan ujung payudara istriku. Dengan cepat istriku menggelegak panas, napasnya mulai memburu.
Luar biasa! Istriku berdiri dengan dua laki-laki berjongkok di sela-sela pahanya, ditambah satu lagi menjilat-jilat putingnya — permainan berempat ini benar-benar merangsangku.
Kembali aku rebahkan istriku di tempat tidur. Sambil berbisik aku tanyakan, "Gimana, Ma, kalau Max mulai masuk? Nggak papa ya?"
Istriku mengangguk lemah sambil masih memejamkan matanya. "Pa, aku berdenyut-denyut nih," bisiknya.
Max mulai melepas celana dalamnya dan — ya ampun — batangnya ternyata tidak lebih kecil dari milik Rudi, kali ini malah melengkung ke atas. Istriku masih menggeliat-geliat menahan geli di atas sprei satin pink dengan mata terpejam karena Charles masih sibuk menjilati payudara dan perut istriku.
Perlahan Max membuka lebar paha istriku dan sedikit mengangkatnya, menempatkan dirinya di antaranya, dan mulai mendekatkan batang kerasnya ke kemaluan istriku. Aku ingatkan dia untuk mengenakan kondomnya.
Istriku segera meraih dan menuntunnya ke lubang kewanitaannya. "Aahh, besar sekali, Pa." Dengan cepat kejantanannya yang menegang segera melesak ke dalam tubuh istriku. Max segera melakukan pekerjaannya dengan baik — mendorong, menarik kejantanannya dengan cepat. Gerakannya cukup ganas mengimbangi istriku, seperti hendak meluluhlantakkan tubuh putih istriku yang menggeliat kegelian itu.
"Aaahhh, Pa, nikmaatt, arghh, teruuss." Tak kenal ampun batang Max menghunjam berkali-kali menerobos masuk deep inside. Istriku menjerit-jerit nikmat menyuruh Max lebih keras lagi bergerak. Max mengerahkan tenaganya untuk memenuhi permintaan istriku. Otot-otot bahu dan lengannya kelihatan menegang dan berkilat-kilat karena keringat, pinggangnya bergerak cepat dan kuat bagai piston lokomotif. Suara berkecipak terdengar setiap kali tubuhnya menekan dalam vagina istriku.
"Aaah, Papa, aahh, sshh, aahh, Pa, enak, Pa."
Wajah Max mulai memerah — aku tahu dia akan ejakulasi. Aku ingatkan dia untuk tidak mengeluarkan di dalam. Dengan segera Charles menggantikan posisinya. Untung batang Charles berukuran sama dengan milik Max.
"Cepat masukkan, cepaattt!" istriku merintih minta agar batang Charles segera masuk.
Dengan goyangan lebih cepat, batangnya menghunjam keras ke vagina istriku. Karena tenaganya belum terpakai maka hentakan pinggang Charles bergerak cepat luar biasa, mengeluarkan kecipak lebih ramai.
"Pa, enak, Pa, ahh." Istriku mulai orgasme.
Aku lihat bibir vagina istriku memerah keluar-masuk karena besarnya batang-batang anak muda ini. Ketika wajah Charles mulai bersemu merah, dengan cepat Max kembali menggantikan. Dengan tenaga barunya, Max kembali memasukkan kejantanannya ke dalam vagina istriku sambil berbisik kepadaku.
"Om, istri Om hebat sekali. Belum pernah saya dan Charles melayani wanita yang kuat seperti istri Om. Biasanya mereka sudah orgasme dulu sebelum kami ejakulasi. Tapi istri Om ini luar biasa. Dan maaf, vaginanya bisa meremas — membuat kami nggak bisa lama-lama. Oohh, oohh, maaf, maaf, saya keluar, Tante, aduh, Tante, maaf, nikmat sekali."
Max rupanya ejakulasi. Aku pelototi dia karena mengeluarkan di dalam. Dengan muka bersalah Max mencabut perlahan batangnya. Dengan cepat Charles giliran memasukkan batangnya agar tidak ada jeda. Jeda ini akan membuat mood istriku turun.
Aku masih sibuk mencium bibir istriku agar dia tidak bisa melihat jelas wajah kedua gigolo itu — bahaya kalau-kalau nanti dia bercinta denganku tapi membayangkan Max dan Charles.
Kubisikkan ke telinganya, "Enak, Ma, nikmat ya? Apa kamu nggak pengen mengoral batangnya Rudi?"
"Boleh, Pa, nggak papa? Kepingin juga sih, kalau besar rasanya gimana ya? Nggak papa, Pa? Tapi pakai kondom lho ya. Aahh, aahh!" Jerit istriku ketika Max terlalu dalam menghunjamkan batangnya.
Rupanya anak muda ini keenakan. "Maaf, Om, enak sekali. Istri Om luar biasa, aaahh, luar biasa, aaahh," erang Charles.
Aku kasih kode Rudi untuk memasang kondom rasa buahnya. Bagaimanapun aku tidak mau istriku mengoral batang orang lain tanpa kondom. Perlahan dia dekatkan batang raksasanya ke mulut istriku. Dengan ragu-ragu istriku memandangku.
"Go ahead," kataku.
Dengan perlahan mulut mungilnya melahap batang itu. "Mphh, mmph, aahh." Istriku mengambil napas. "Besar sekali, Pa, nggak cukup."
Dengan perlahan tangan Rudi kembali memegang kepala istriku dan mulai menekan ke arah batangnya.
"Mphhh, mph, mphh." Mata Rudi terbeliak ke atas. Kurang ajar — keenakan juga anak ini. Gerakan istriku bertambah cepat, tangan kecilnya giat mengocok batang raksasa itu.
"Om, Charles boleh masuk dari belakang? Pasti istri Om keenakan deh."
Tanpa menunggu persetujuanku, Charles mulai menghunjamkan batangnya ke vagina istriku dengan gaya doggy stylenya.
Wow, luar biasa — melihat istriku digilir habis-habisan oleh dua anak muda ini, benar-benar menggairahkan.
Bersambung . . . .