18px

Jaksa Mesum

Jaksa Mesum

"Naikkan rokmu sedikit," kata Jaksa Sibutar Butar menyeringai sambil memandang betis mulus Nia.

"Pak, jangan, Pak," kata Nia kebingungan.

"Ayo, naikkan sedikit, Bu Nia," perintah jaksa itu kembali.

Nia, seorang ibu rumah tangga, kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Jika kemauan Pak Jaksa tidak dituruti, ia takut suaminya akan dituntut hukuman berat.

Nia menoleh ke kiri dan ke kanan. Di salah satu sudut ruangan di pengadilan negeri Jakarta, hanya ada Nia dan Jaksa Sibutar Butar. Tempat itu sebenarnya adalah ruang arsip yang hanya bisa diakses dari ruang sebelah โ€” deretan arsip tinggi seperti di perpustakaan. Ruangan itu memiliki jendela, dan dari tempat duduk Nia di samping Pak Jaksa, bisa terlihat orang hilir mudik. Memang hari itu hari Rabu, di pengadilan sedang banyak sidang. Namun tidak ada orang yang sampai menengok ke jendela untuk mengintip kejadian itu.

Nia menghela napas panjang. Minggu depan suaminya, Anton, akan dituntut oleh Pak Jaksa atas kasus kepemilikan dua puluh butir inex. Tak terbayangkan olehnya jika Anton sampai dituntut hukuman berat. Nia sudah menyerahkan sejumlah uang kepada Pak Jaksa โ€” namun nampaknya uang saja tidak cukup. Pak Jaksa mau lebih.

Di usianya yang baru tiga puluh tahun, Nia dengan satu anak โ€” berwajah seperti Rini S. Bono โ€” masih memiliki tubuh mulus. Wanita berdarah Priangan ini memang mantan peragawati ternama ibukota. Dengan tinggi 175 cm, badan berisi, dan buah dada yang masih ranum, kakinya yang jenjang dan mulus merupakan daya tarik luar biasa bagi lawan jenisnya.

Perlahan Nia mulai menaikan rok yang ia kenakan. Posisinya di samping Pak Jaksa sangat tidak menguntungkan. Mata Sibutar Butar melotot saat Nia menaikan roknya perlahan-lahan. Betis membunting seperti padi dengan paha yang mulus membuat tangan Pak Jaksa tidak tahan untuk mengelus-elusnya.

"Ugh... jangan, Pak..." kata Nia saat merasakan tangan kasar lelaki itu menjamah pahanya.

Tapi tangan itu terus saja bergerilya. Di balik seragamnya, kemaluan Pak Jaksa sudah berdiri tegak.

Tiba-tiba jaksa itu berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nia. "Cium aku, Bu Nia."

"Jangan, Pak... saya sudah bersuami," kata Nia.

"Cium aku, atau..." kata Pak Jaksa mengancam.

Nia terpaksa mencium tipis bibir Pak Jaksa. Tangan Pak Jaksa memeluk tubuh Nia dan menciumnya dengan penuh nafsu. Lidah lelaki hidung belang itu dengan liarnya menjelajahi mulut Nia. Mau tidak mau Nia terpaksa melayani ciuman jahanam itu.

Pak Jaksa kemudian duduk dan membuka ritsleting celananya. Muncullah kemaluannya yang lumayan besar dan panjang.

"Tolong, Bu Nia, berjongkoklah," kata lelaki itu.

Nia semakin bingung, tapi ia tahu harus melakukannya. Ia berjongkok dan perlahan disodori batang kemaluan Pak Jaksa. Dengan gemetar Nia memegang batang itu dan menoleh ke arah jendela, takut ada yang melihat. Orang-orang berlalu lalang seakan tidak acuh.

Nia memberanikan diri untuk menjilati penis lelaki yang bukan suaminya itu.

"Oh... oh... Nia... enak, sayang," desis Pak Jaksa. "Hisap terus batangku, Bu Anton..."

Nia terpaksa menjilati dan mengulum batang itu. Selama lima menit ia melayaninya. Pak Jaksa berkali-kali menekan kepala Nia agar menyedot lebih dalam. Baju atas Nia sudah terbuka. Buah dadanya yang besar dan padat keluar dari tempatnya saat dipencet dan dirogoh jaksa jahanam itu. Putingnya yang menonjol terlihat kencang menantang.

"Eh, puting-puting Bu Nia sudah kencang... sudah nafsu juga ya, Bu?" kata Pak Jaksa.

"Pak... tolonglah... ampuni saya..." kata Nia memelas. "Sudah, ya, Pak," mohon ibu muda itu.

"Belum, Bu Nia..." kata jaksa itu sambil memainkan puting-puting Nia. "Buah dada ibu putih, besar, dan kenyal," katanya sambil meremas-remasnya.

"Duduk di pangkuanku, Bu," perintah lelaki itu.

"Paaak..." kata Nia merengek.

"Duduk, kataku!" bentak si jaksa.

Nia berdiri dan terpaksa duduk di pangkuan Pak Jaksa.

"Pak... aku takut... nanti orang di luar melihat kita..." kata Nia ketakutan.

Pak Jaksa malah memelorotkan celananya ke kakinya sambil mendudukkan Nia. Dipeluknya tubuh istri Pak Anton itu dengan penuh nafsu. Buah dada Nia yang telah keluar dari branya diremas-remasnya. Perlahan tangan Pak Jaksa mencari ritsleting rok Nia. Tanpa ampun, rok itu dilepaskannya. Nia menutup mata menahan malu. Sekarang ia tinggal mengenakan celana dalam dan baju atas yang sudah berantakan. Paha mulus dengan kaki yang jenjang โ€” benar-benar pemandangan yang luar biasa bagi lelaki manapun.

Tanpa membuang waktu, diciumnya tengkuk Nia. Lidahnya menjelajahi leher dan telinga wanita itu. Setelah itu, dengan pelan tapi pasti, tangan lelaki itu menyelip di balik celana dalam Nia. Terasa gumpalan daging lembut di antara selangkangan Nia.

"Ugh... ohhh..." kata Nia saat tangan Pak Jaksa menyentuh halus klitorisnya.

Dijelajahinya secara perlahan daging lembut itu. Klitoris Nia dikocok pelan oleh Pak Jaksa. Diam-diam Nia mulai merasakan nafsu birahinya meningkat. Selama sepuluh menit tangan itu mengocok kemaluan Nia. Kemaluan Nia pun mulai basah.

Entah bagaimana awalnya โ€” tahu-tahu celana dalam Nia sudah melorot dan batang kemaluan yang sedari tadi kencang menempel di pinggangnya sudah menembus vagina Nia yang basah.

Nia lupa di mana dia berada.

"Ugh... ugh..." desis ibu muda itu penuh nafsu setiap kali kemaluan itu masuk ke dalam dirinya yang dalam.

Tanpa diperintah lagi, Nia menaik-turunkan tubuhnya yang sudah gatal itu. Lewat jendela Nia menyaksikan orang-orang berlalu lalang. Selama lebih dari lima belas menit Nia menaik-turunkan tubuhnya. Udara ruangan yang pengap menyebabkan mereka berkeringat. Nia dan Pak Jaksa sudah lupa daratan. Pompaaan Nia pada kemaluan Pak Jaksa menimbulkan sensasi yang luar biasa. Bangsat itu benar-benar menikmati setiap genjotan nyonya muda itu.

Nia mulai menikmati batang kemaluan pemerkosanya. Karena terhanyut dalam nafsu birahi yang membakar, Nia kemudian tanpa malu lagi berdiri dan menumpukan tangannya di meja.

Pak Jaksa tersenyum. "Ibu sudah gatal ya?" Nia diam saja. Ia merasakan kegatelan yang luar biasa di selangkangannya โ€” Nia ingin doggy style. Wanita ini sudah lupa bahwa ia adalah istri Anton.

"Ahhh... ahhhh..." desis Nia kegatelan ketika batang kemaluan Pak Jaksa kembali masuk dan menghujam vagina basah Nia.

"Plak! Plak!" terdengar suara batang kemaluan lelaki itu menghantam kemaluan Nia. Setelah sepuluh menit, Pak Jaksa menarik rambut Nia dengan kasar.

"Ohhhh... ohhhh... Bu Nia... oh... Bu... enak... Buuu... entot Bu... entot... entooottt..."

Sambil menjambak keras rambut istri Anton, Jaksa Sibutar Butar menyemprotkan spermanya ke liang cinta ibu muda itu dengan kencangnya.

"Ohhh... ohhhh... Pak... ohhh... Paaak..."

Rupanya Nia pun mencapai orgasme juga. Tubuh kedua insan itu berkelojatan di puncak persetubuhan mereka. Keringat mengalir deras. Baju seragam dan baju ibu muda itu basah kuyup.

Entah berapa lama mereka terdiam. Batang kemaluan Pak Jaksa masih menancap di vagina Nia dan spermanya mulai meleleh membasahi paha ibu itu.

Air mata Nia mulai meleleh menahan malu yang tiada tara. Apa kata Anton seandainya suaminya itu mengetahui kejadian ini? Namun di balik penyesalan itu, Nia harus mengakui bahwa jaksa bangsat ini benar-benar mampu memuaskan libidonya โ€” sangat jauh dibandingkan Anton yang hanya bertahan lima menit setiap kali mereka berhubungan. Sodokan batang Sibutar Butar masih luar biasa enaknya.

Tiba-tiba pintu dari ruang sebelah terbuka. Kedua insan yang masih dalam posisi senggama itu terkejut luar biasa.

Pak Hamid, kepala unit arsip berusia 55 tahun, berdiri tegak memandang mereka. Beliau tidak menyangka ruangan arsipnya dipakai untuk bercinta. Ada aroma kemarahan yang luar biasa di mata orang tua itu.

Setelah kejadian itu, Jaksa Sibutar Butar diskors dan tidak diperbolehkan menangani perkara oleh atasannya. Ada laporan lisan dari pengadilan negeri ke kejaksaan tinggi atas tindakannya yang tidak senonoh itu.

Sedangkan Nia dibebaskan dari segala tuduhan.

Tepat sebulan kemudian, Nia menerima telepon dari seseorang. Nomornya tidak Nia kenal.

"Ya, siapa?"

"Selamat siang, Bu Nia," terdengar suara di seberang.

"Siapa, ya?" tanya Nia.

"Hamid, Bu. Saya Hamid. Masih ingat, Bu?" suara di seberang terdengar dengan nada ceria.

Nia lemas mendengar suara itu.

Tamat

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’