Jalan-jalan Bersama Bidadari
Jalan-jalan Bersama Bidadari
Nasib anak kost tak kenal
Mengikuti mata kuliah
Ya nasib anak kost rajin belajar
Agar hidup tak susah
Aku makan tiap hari
Kadang hanya makan mi
Gimana nggak kurang gizi
Wesel datang tak pasti
Ibu kost tak mau mengerti
Nagih sewa bulan ini...
Hidup sangat sedih...
Nasib anak kost, nasib anak kost...
Kupernah punya janji
Ketemu dengan doi
Cewek kecenganku kini
Kuketuk pintu pasti
Keluar dosen wali
Ternyata pacar si doi
Hidupku jadi sepi
Karena mikir si doi
Sampai aku lupa mandi
Badan bau terasi
Tak ada mahasiswi yang mau padaku ini...
Nasib anak kost...
Gulungan pita film seluloid mulai berputar tersendat, mengeluarkan derik suara pilu dari roda penggerak pemutar film yang sudah karatan. Sesaat tertampilkan gambar yang masih terselingi grain dan light leak di layar yang sudah terkembang.
Perlahan-lahan terlihat teras di sebuah rumah kost. Kamera men-shoot seseorang yang sedang menatap layar handphone yang tengah dipegangnya dengan wajah murung.
Tak jauh darinya tampak seorang cowok yang sedang asyik memainkan batang rokok di antara sela jarinya.
New Short Message Received
From: Bokap-gue-gaul
Klik untuk membuka...
"Bagaimana kabarmu, Ramangga? Baik-baik saja bukan? Begini, Rama โ sebagai orang tua tentu berharap ingin anaknya mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, maka Bapak mengizinkan kamu kuliah di Jakarta. Akan tetapi untuk 6-12 bulan ke depan Bapak tidak bisa membiayai kuliah dan kebutuhan hidup kamu selama kost di Jakarta, karena kebun singkong dan jagung milik Bapak diserang hama. Hasil ternak pun tidak sesuai dengan yang Bapak harapkan, sebab hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah sehari-hari. Oleh karena itu, bagaimana kalau sementara kamu mengambil cuti kuliah dulu sampai kebun yang Bapak olah bisa menghasilkan panen berlimpah tahun depan? Rama, Bapak harap kamu bisa mengerti dan bisa bersabar."
Rama hanya bisa menghela napas panjang dan prihatin setelah membaca SMS dari ayahandanya di kampung. Dia termenung dalam diam, membayangkan bapaknya yang sedang berjuang mati-matian untuk membiayainya kuliah. Pesan singkat yang baru saja dibaca itu merupakan pukulan telak yang tepat bersarang di hati. Di saat dirinya tengah semangat-semangatnya kuliah, berita buruk itu menghampirinya. Rama pun bingung tak tahu harus bagaimana lagi.
"Sabar ya, Sob. Pasti ada jalan keluar kok," ucap Sholihun, teman satu kostnya, berusaha menenangkan Rama seraya menepuk-nepuk bahunya.
"Iya, Hun. Thanks. Tapi gue bingung," jawab Rama masih tidak bersemangat dengan tatap mata menerawang kosong.
"Iya juga sih. Misal gue yang ada di posisi lo, pasti bingung juga... Hmm..." Tiba-tiba di atas kepala Sholihun seolah ada bohlam lampu yang menyala terang.
"Eeh, Sob. Gue ada ide nih," kata Sholihun.
"Apaan?"
"Gimana kalau lo nyoba ngirim lamaran ke Production House? Siapa tahu ada peluang buat elo," kata Sholihun, lega setelah melontarkan ide.
"Gue belum lulus, Hun. Ngelamar pakai ijazah apa dong?" sahut Rama pasrah.
"Gini, Sob. Untuk sementara lo ngelamar pakai ijazah SMA dulu aja, dikasih lampiran bahwa lo juga kuliah di IKJ jurusan Sinematografi. Siapa tahu di PH itu lagi membutuhkan karyawan โ meskipun hanya tenaga kasar, driver, atau OB, yang penting bisa menghasilkan duit untuk membiayai kuliah lo," jelas Sholihun gamblang.
"Hmm, ide bagus juga sih sebenernya. Tapi gue kok ga yakin ya? Eh, tapi tumben lo bisa mikir positif, Hun. Biasanya kan yang lo pikirin cuma paha mulus Sasha Grey, meki merah Stoya, atau toket mengelnya Ashley Brooke," kicau Rama mengingatkan hobi Sholihun.
"Wew, brengsek!! Tapi lo kan yang sebenernya ngerusak anak baek-baek kayak gue!" Sholihun sewot tidak terima dituduh sebagai cowok otak belang. "Gimana mau yakin, nyoba aja belum?"
"Hahaa, oke deh, oke. Btw, thanks ya, Hun, udah nenangin dan ngasih masukan buat gue," kata Rama setelah tergelak.
"Yoi, Sob."
"Eeh, Ram. Gue pinjem bokepnya Sasha Grey yang baru dong!"
Sebagai seorang mahasiswa yang hidup di kota besar memang harus dituntut untuk selalu kreatif dalam menyiasati problematika kebutuhan hidup โ apalagi bagi seorang mahasiswa bernama Ramangga, alias Rama, penyandang predikat anak rantau yang mencoba menaklukkan ganas dan kerasnya kehidupan rimba ibukota.
Mahasiswa IKJ jurusan Sinematografi ini memang cerdik, tangguh, dan dipersenjatai dengan akal bulus dalam memanfaatkan berbagai kesempatan walaupun dalam keadaan terjepit. Penampilan Rama sebenernya lumayan keren meskipun pas-pasan. Dia punya ciri khas dengan balutan kaos yang dirangkap kemeja flanel kotak-kotak ala Kurt Cobain khas style fashion distro. Tinggi badannya sekitar 175 cm.
Bersenjatakan disiplin ilmu yang dimiliki dan dikuasainya, Rama mencoba mempertaruhkan nasib dengan memasukkan lamaran pekerjaan sebagai tenaga freelance di salah satu Production House yang sudah terkenal di negeri ini, SinemArt.
Pertamanya dia ditolak mentah-mentah oleh salah seorang satpam yang lagaknya belagu di depan gerbang bangunan Production House, yang mengatakan bahwa tidak ada lowongan. Akan tetapi dengan tidak mengenal kata putus asa, Rama tetap ngeyel untuk memasukkan berkas lamarannya.
"Sudah dibilang ga ada lowongan kok masih aja ngeyel sih," gerutu Pak Satpam bertubuh tambun seraya menatap wajah Rama lekat-lekat.
Rama yang sedang ditatap hanya cengar-cengir memasang tampang melankolis. Titik-titik peluh mulai menghiasi keningnya. Tenggorokannya kering karena haus dan bibirnya tampak pecah-pecah.
"Tolong dong, Pak, ya. Saya bener-bener butuh pekerjaan untuk biaya kost dan kuliah saya. Kebun singkong bapak saya yang di kampung gagal panen, tanaman jagung dimakan hama jadi ga nghasilin apa-apa. Tolong ya, Pak, please..." ratap Rama bener-bener sempurna, seperti ratapan anak tiri yang sangat menyedihkan.
"Suram sekali hidupmu, Nak," kata Pak Satpam seraya menerawang ke langit biru sambil tangan kirinya mengusap perutnya yang buncit. Mungkin satpam bertubuh tambun itu juga teringat masa sulit ketika masih hidup di kampung.
"Seperti itu suram ya, Pak? Jadi gimana dong, Pak? Kerja serabutan juga ga apa-apa deh, asal halal," rengeknya lagi.
"DIIN!! DIIN!!"
Suara klakson dari Range Rover Evoque kelir merah terang mengagetkan Rama dan Pak Satpam yang sedang eyel-eyelan.
"Ada apa, Pak Supri?" tanya seseorang dengan penampilan perlente setelah keluar dari dalam mobil.
"Ini, Pak โ ada yang mau ngelamar pekerjaan," jawab satpam sedikit tergeragap.
Lelaki berpakaian bagus itu berjalan mendekat ke arah Pak Supri dan Rama.
"Anak muda, memang kamu mau kerja apaan?" lelaki itu bertanya dengan penuh wibawa.
"Emm, apa saja, Pak. Serabutan juga boleh, yang penting bisa menghasilkan," sahut Rama tegas.
"Siapa namamu? Dan kenapa kamu melamar pekerjaan ke sini?"
"Saya Rama, Pak. Saya mencoba melamar pekerjaan di sini karena sesuai dengan disiplin ilmu yang saya punya dan untuk mengisi waktu senggang selama kuliah. Daripada keluyuran ga penting, mending berusaha mencari freelance kerjaan untuk bayar kuliah dan kost," jawab Rama.
Lelaki perlente itu memperhatikan raut wajah Rama, lalu manggut-manggut setelah mendengarkan penjelasannya. Kerut di wajah lelaki berpakaian bagus itu terlihat seakan berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Sebentar, Rama," ucap lelaki itu berjalan menjauh seraya mengeluarkan smartphonenya untuk menelepon seseorang.
Sembari menunggu sang pengendara Range Rover Evoque itu selesai bertelepon, Rama berbincang-bincang dengan Pak Supri.
"Emang siapa dia, Pak?" tanya Rama penasaran.
"Dia itu owner PH ini. Namanya Pak Robert."
"Oh gitu ya, Pak? Pertamanya kelihatan serem tapi ternyata ramah juga orangnya."
"Pak Robert emang ramah sama siapa saja, makanya para karyawannya pada betah kerja di sini. Tuh, Pak Robert udah jalan ke sini lagi," kata Pak Supri sambil berbisik kepada Rama.
"Begini, Rama. Setelah aku hubungi bagian Production, kebetulan memang lagi membutuhkan tambahan tenaga. Tapi yang tersedia cuma sebagai tenaga serabutan โ baik di lighting, equipment tools, roadish, ataupun driver. Gimana?" kata Pak Robert memberitahu.
"Ga apa-apa, Pak. Saya akan dengan senang hati menjalankannya."
"Kamu bisa bawa mobil juga?"
"Bisa, Pak. Saya bisa nyetir kok," jawab Rama dengan raut muka hampir gembira.
"Oke. Taruh berkas lamaranmu di Front Office dan mulai besok kamu bisa langsung bekerja," kata Pak Robert dengan tenang diakhiri senyum yang mengembang.
"Hah? Bener, Pak??"
"Bener, Rama."
"Wah, makasih, Pak. Makasih banyak," sahut Rama dengan raut muka gembira, tangannya segera menyalami sang Big Boss Pak Robert dan Pak Supri. "Selamat bergabung di SinemArt."
Rama segera mengabarkan berita baik ini kepada sohibnya Sholihun, yang secara tidak langsung sudah membantunya mencari jalan keluar.
"Waah, bener kan apa yang gue bilang," kata Sholihun tampak bangga karena idenya berhasil.
"Thanks berat, Hun. Pokoknya gue akan selalu berbagi rezeki deh," janji Rama tulus.
"Bener nih?"
"Iya lah, Hun."
"Serius?"
"Pastinya!" sahut Rama mantap.
"Asyiik!! Sukses ya... Eeh, Ram, gue pinjem bokepnya Sasha Grey yang baru dong!"
"HAAHHH!!"
Hari berganti hari. Lima bulan sudah Rama menikmati hari-harinya bekerja di Production House milik Pak Robert yang berhubungan dengan dunia layar kaca.
Sebagai seorang beginner, pada awalnya Rama yang ditempatkan di bagian umum merasa kagok karena tugas utamanya hanyalah bantu sana-sini, disuruh ngangkut ini ngangkut itu, disuruh belikan rokok, merapikan kostum, mengolor kabel sampai kesetrum juga pernah, dan lain sebagainya. Bisa dikatakan pekerjaan kasar, namun bagi Rama semua itu bukanlah pekerjaan kasar melainkan pekerjaan mulia.
Dengan pembawaan yang selalu ceria, cowok yang masih terdaftar sebagai mahasiswa IKJ itu tetap melakukan pekerjaannya dengan senang hati. Setiap ada kesempatan dan waktu luang, atau ketika break shooting, Rama segera bertanya ke sana kemari tanpa malu untuk belajar mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan studinya Sinematografi, kepada Mas Budi, Mbak Shinta, dan para kru lain yang sudah berpengalaman.
Mas Budi adalah salah satu kru yang bisa melihat potensi besar yang dimiliki Rama. Maka dia pun sedikit demi sedikit mengajarkan Rama tentang bagaimana men-set sound effect, kemudian mengenai lighting, penulisan naskah, bagaimana berimprovisasi, dan bahkan soal engineering pun dijejalkan ke otak Rama.
Karena peluang untuk memperdalam ilmu sangat banyak, Rama pun meminjam beberapa buku mengenai dunia layar film dari Mbak Shinta. Membaca, mempelajari, dan menelaah lembar demi lembar ilmu yang tertulis pada buku adalah aktivitasnya di sela-sela break shooting.
Rama memang seorang pemuda yang easy going dan ramah. Punya skill tinggi dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, pintar melontarkan joke-joke segar yang menghibur di kala kejenuhan tengah melanda para kru. Maka tak heran jika dalam waktu singkat dia sudah begitu akrab dengan para kru dan para artis sinetron FTV yang dikontrak SinemArt. Di mana ada Rama, pasti di situ ada gelak tawa.
Melihat kecantikan dan kemulusan body para artis yang berpakaian minim pun mau tak mau membuat Rama selalu kerepotan mengamankan tonjolan di selangkangannya. Pemandangan berupa belahan dada yang mulus putih menggoda, kulit paha yang licin tanpa cela, lekuk tubuh ramping yang berbalutkan baju-baju ketat selalu sukses membuat darah mudanya menggelegak.
Nafsunya begitu membuncah โ seperti ketika beberapa minggu yang lalu Rama tidak sengaja melintas di depan kamar ganti artis, dan melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh mulus dan sepasang payudara ranum milik salah seorang artis yang terjuntai bebas saat sedang berganti kostum.
Saat ini PH milik Pak Robert sedang syuting program acara "Jalan-jalan Bersama Seleb," dan kebetulan artis yang membintanginya adalah Olla Ramlan dan Ratna Galih โ dua selebriti tanah air yang cantik dan seksi menggairahkan dengan lekukan tubuh yang sempurna. Rama nge-fans berat dengan kedua artis cantik itu.
"Rama, selain membantu kameramen, berhubung Pak Karta izin ga masuk, maka lo sementara juga ngerangkap jadi driver untuk acara ini. Job description-nya, lo cuma nganter ke tempat-tempat tujuan selama ada di Bandung bersama kru yang lainnya โ Lembang, Tangkuban Perahu, Cihampelas, dan kuliner di Kampung Daun. Misal ada sisa waktu dan si Olla sama Ratna pengen jalan-jalan dan belanja, lo anterin aja," perintah Pak Basuki, Produser merangkap Sutradara pada program acara itu.
"Siap, Boss!" jawab Rama penuh semangat.
Novotel Bandung, Minggu Pagi.
Ramangga tampak antusias sedang mempersiapkan tunggangannya โ Honda Freed kelir cokelat milik inventaris perusahaan. Sambil bersiul-siul kecil, Rama mengeluarkan sebungkus rokok yang ternyata tinggal satu batang.
"Mana nih si Olla sama Ratna? Lama banget," gumam Rama tak sabar berkali-kali menolehkan wajahnya ke arah pintu masuk lobby hotel.
"Hai, ganteng. Met pagi!" seru Olla dan Ratna hampir berbarengan.
Rama menoleh ke arah dua cewek cantik yang terlihat segar dengan sapuan kosmetik minimalis menghiasi wajah. Balutan busana yang modis dan minim pun menggoda sepasang mata Rama.
Cowok yang mengambil jurusan Sinematografi di IKJ itu langsung terbengong takjub dengan kehadiran dua bidadari yang tersenyum geli melihat Rama melongo dengan mata tak berkedip ke sekujur tubuh berlekuk seksi milik Olla Ramlan dan Ratna Galih.
"Biasa aja kali, Rama sayang. Ga usah melongo gitu ah liat tubuh seksi kita berdua," goda Olla Ramlan dengan mimik wajah menggoda.
"Iya nih, Rama. Awas mengeras loh," sahut Ratna Galih seraya menyelipkan lidahnya yang merah di sudut bibirnya.
"HAHAHAA!!" tawa kedua bidadari itu langsung meledak.
Olla Ramlan dengan rok terusan santai warna pastel sejengkal di atas lutut tampak sungguh menggoda โ di bagian dada rok terusan yang dipakainya berbentuk huruf V lebar dengan dua utas tali kecil yang terkait di pundak kanan-kirinya yang berkulit putih. Sebagian bongkahan toket ranumnya tampak menyembul menggemaskan.
Sedangkan Ratna Galih tak kalah seksi. Hot pants jeans setengah paha membungkus erat tungkai kakinya sehingga kulit putih licin yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu lembut itu begitu merangsang nafsu seks Rama. Kaos ketat tanpa lengan warna cerah yang pendek membuat kontur sepasang payudara di dadanya terbentuk indah memancing gairah.
"Eeh, ooh, hehe. Dah pada siap ya?" Rama menjawab dengan terbata-bata.
"Belum!! Ya udah lah, gimana sih? Yuk," kata Ratna Galih, dan mereka langsung memasuki mobil.
Kedua selebriti cantik itu memang sudah akrab dengan Rama karena mereka berdua sering mendapat job dari SinemArt dalam proyek penggarapan FTV ataupun sinetron. Otomatis mereka sering ketemu dan ngobrol bersama cowok trendy itu. Dengan kemampuan bersosialisasi yang tinggi Rama pun bukan seperti makhluk asing yang membahayakan bagi Olla maupun Ratna.
"Ke Lembang dulu kan, Say?" tanya Olla Ramlan seraya menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.
"Tepat sekali. Seratus untuk Nona Olla," jawab Rama sambil menengok ke belakang untuk sekadar melirik kulit paha putih Olla yang tersingkap sampai seperempat paha.
"Eeh, eehh, seratus sih seratus, Ram. Tapi kalau nyetir matanya kedepan dong, bukannya malah ngintip paha mulus gue. Gimana sih?!" Olla Ramlan pura-pura mendamprat Rama dengan nada merajuk.
"Iya nih sopirnya ganjen. Emang Pak Sopir belum pernah lihat cewek seksi ya? Hahaa, katrok! Terus, kalau lihat cewek bugil juga belum donk berarti?" goda Ratna Galih menimpali.
Raut wajah Rama pun memerah malu karena kedapatan mencuri pandang ke kehalusan dan kemulusan kulit para penumpangnya.
"Duuch, yang lagi ketangkap basah mencuri pandang. Malu nih? Hihihiii," kikikan nakal dan manja terucap keluar dari bibir berlipstik warna natural dari kedua seleb.
"Hahaa, bisa aja Mbak berdua," ujar Rama seraya membetulkan posisi alat kawinnya yang sungsang.
Belum lagi bisa bernapas lega dan menetralkan warna wajahnya yang memerah, tiba-tiba Ratna Galih langsung berceloteh tanpa basa-basi.
"Eeh! Hayoo! Tangan kiri lo kenapa tuh, Rama? Kok gerak-gerak di selangkangan? Salah parkir ya?"
"Wakaa, wakaa!!" derai tawa Olla dan Ratna pun silih berganti menghantam perasaan Rama.
Sebentar kemudian Olla dan Ratna tampak saling berbisik, kemudian tersenyum nakal bersama.
Selama kedua selebriti itu sibuk syuting dengan kehebohan dan keceriaan yang mereka ciptakan, Rama pun hanya mampu memandangi bidadari-bidadari penggoda iman itu di belakang Mas Ridwan selaku kameramen yang men-shoot Olla Ramlan dan Ratna Galih.
Setelah dari Lembang mereka meneruskan perjalanan ke arah Tangkuban Perahu, kemudian ke Cihampelas, dan berakhir dengan acara makan malam di Kampung Daun. Semua kru termasuk Olla dan Ratna numpang mandi di restoran tersebut sekalian ganti baju.
Selama makan malam, atmosfer yang ada sangat mengasyikkan โ tertawa dan saling ejek sesama kru memancing derai tawa. Setelah acara makan malam bersama selesai, kedua selebriti itu memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota Bandung, tentunya diantar Ramangga. Sementara yang lainnya sudah pada berpencar sendiri-sendiri.
Di tengah kota Bandung...
Honda Freed yang diisi mereka bertiga tampak melaju santai membelah suasana malam di kota Kembang. Rama berusaha untuk tidak mupeng ketika berada di dalam satu mobil dengan dua seleb cantik yang begitu seksi itu, meski lonjoran kontrolnya sudah menuntut keadilan berkali-kali.
Memang, godaan yang dirasakannya semakin menguat dari waktu siang hari tadi. Aura yang terpancar di sekelilingnya membuat bulu kuduk Rama sesekali merinding โ terlebih ketika dua makhluk sensual beraroma wangi itu secara sengaja lebih mendekatkan tubuh ke arah dirinya.
Paras dari kedua cewek yang dibawa Rama berkeliling memang sama-sama cantik, menarik, dan sama-sama bikin gemas. Keduanya mempunyai body yang aduhai dan menggiurkan. Sepasang buah toket mereka pun tak kalah menantang antara satu sama lain, dan memiliki ukuran yang hampir sama. Dari segi postur, tinggi badan Ratna Galih terlihat sedikit lebih tinggi dari Olla Ramlan.
"Eh, Ram!" sapa Olla tiba-tiba.
"Ya, Mbak Olla?"
"Lo udah booking hotel belum? Hari udah malem nih," kata Olla.
"Iya neh Rama. Gue juga dah ga pengen balik ke Novotel. Capek. Mending nginep di tempat yang deket sini aja," imbuh Ratna Galih.
"Hmm, kalau Mbak Olla sama Mbak Ratna mau, gue bisa booking cottage yang ada di daerah Dago atas nih. Fasilitasnya juga komplit, ada WiFi, TV plasma 32 inci dengan Indovision, kamar mandi dalam lengkap," jelas Rama.
"Asyiik! Setuju!" sambut Olla dan Ratna hampir berbarengan.
"Iyaa neh Rama. Sok-sok-an banget. Perlu dikasih pelajaran nih, biar kapok dan ga berkutik lagi! Hahaa," timpal Ratna Galih.
"Eeh, emang gue ngapain, Mbak?" sahut Rama.
"Hm... iya deh, iya. Serius nih, Rama โ makasih yaah, mau nganter kita-kita dari pagi sampe malem. Capek kan?" tanya Olla Ramlan.
"Demi dua Bidadari kayak Mbak Olla sama Mbak Ratna, semua capek gue jadi ilang, hehe," goda Rama yang langsung mengundang gelak tawa dua selebriti itu.
Tak berapa lama, mobil melaju masuk ke sebuah resort cottage area Dago atas. Setelah urusan administrasi check-in diselesaikan oleh Rama, mereka bertiga pun segera melangkah menuju cottage yang sudah dipesan. Sebuah cottage mungil nan nyaman dengan satu kasur ukuran besar yang tampak empuk, seperangkat sofa, dan juga mini bar.
"Nyantai aja lo di sini ya, Ram. Gue ganti baju dulu," kata Olla sambil mengerlingkan matanya dengan genit.
"Yoa!"
Tidak berapa lama suara musik terdengar membisingi ruangan cottage mereka. Rama berjalan ke arah mini bar dan mengambil dua botol Guinness Stout dingin, diteguknya pelan-pelan untuk melepas rasa dahaga.
"Huaaahh." Rama pun merebahkan badannya di atas ranjang, menggeliatkan tubuhnya yang penat.
Beberapa saat kemudian Olla Ramlan terlihat keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah kembali segar. Dia sekarang mengenakan baju model kemben warna hijau tipis tanpa tali di pundak dan tetap tanpa bra sehingga puting imutnya terlihat jelas tercetak. Untuk bawahan Olla mengenakan women boxer yang sangat pendek, yang hanya mampu menutupi seperempat dari batang pahanya yang putih mulus. Olla pun segera menuju ranjang dengan menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama lagu dari TV sebelum akhirnya merebahkan tubuh wanginya yang sensual di sebelah Rama.
"Glek! Glek!" terdengar tegukan Guinness Stout.
"Aakkhhh, paiiit!!" suara Olla yang kepahitan langsung terdengar.
"Hehehe," Rama terkekeh melihat raut lucu wajah Olla yang meringis dan dia pun segera beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil, bersih-bersih, sekalian mengganti celana panjang dengan celana kolor tanpa celana dalam.
Gundukan kontrolnya sudah menggelembung menuntut kepastian.
Rama keluar dari kamar mandi dan langsung ikut merebahkan tubuh di samping Olla Ramlan.
"Heh, Rama, jahat! Tadi lo udah ngeledekin gue kan? Sekarang waktunya pembalasan, tau ga lo! Kalau bahasa filmnya, Revenge of the Angel..."
Dan tanpa menunggu jawaban Rama, Olla Ramlan langsung memeluk mesra cowok bertinggi 175 cm itu ke dalam dekapannya. Bibirnya yang tipis berlipstik pink tipis segera memagut bibir Rama dengan lembut dan sedikit romantis. Tak lupa Olla pun mengelomoh dan memainkan lidahnya yang merah basah ke dalam mulut Rama.
"Ouughh! Aaghhh!" desah Rama kontan terdengar kala jari halus telapak tangan artis cantik itu mulai mengusap-usap kontrolnya yang sudah tegang dari balik celana kolor.
"Enak, ya? Duuch, udah ga pakai celana dalam sekalian," tanya Olla seraya memperhatikan ekspresi kenikmatan dari wajah Rama.
Seiring dengan ciumannya yang begitu hot, Olla Ramlan pun mulai merayapkan tangannya masuk ke dalam celana kolor Rama untuk menangkap sesuatu yang keras dan segera mengocok lembut lonjoran kontol yang sudah tegang sempurna itu.
"Uummphhfff!"
Rama pun mencoba memulai serangan balasan setelah alat kawinnya diinvasi secara kurang ajar oleh Olla. Diturunkannya baju kemben warna hijau tipis tanpa tali yang Olla pakai. Seketika itu juga sepasang toketnya yang mulus dan dibalut kulit putih langsung menjuntai keluar menunjukkan pesonanya.
"Bagus banget toketnya. Mana masih kenceng lagi," gumam Rama kagum ketika melihat sepasang toket milik Olla Ramlan.
"Suka?" Olla menggoda.
"Pastinya dong, Mbak!" sahut Rama antusias.
Olla dan Rama terus berciuman dengan panas, saling meraba, saling menjelajahi. Olla segera membuka celana Rama habis-habisan dan membebaskan kontol Rama yang sudah mengacung.
Saat itulah pintu kamar mandi terbuka dan Ratna Galih melangkah keluar dalam balutan handuk kecil berwarna putih yang menutupi tubuhnya mulai dari dada sampai sepaha.
"Aduh, asiiik banget main dua-duaan! Gue ditinggal mandi segala nih? Ga adil!" kicau Ratna Galih dengan raut wajah yang pura-pura cemberut dan tidak terima.
Olla Ramlan dan Rama pun menoleh ke arah suara Ratna. Olla tersenyum nakal melihat sahabatnya yang sudah tahu situasi namun tetap pura-pura tidak tahu.
"Eh, Rat! Sorry deh, Lo lama banget mandinya sih. Ayo sini," goda Olla sambil melambai kearah Ratna.
"Hih, serius nih. Lo berdua dah mulai aja duluan," celetuk Ratna Galih sambil tetap mendekati ranjang.
Handuk yang menutupi Ratna pun segera dilepas sehingga terpampanglah keindahan tubuh Ratna Galih yang telanjang bulat. Sepasang payudaranya yang montok dan kencang bak buah yang segar tampak bergelantungan bebas, putingnya yang coklat muda sudah mengeras pertanda si empunya terangsang berat. Tubuhnya yang putih mulus dengan lekukan yang proporsional benar-benar mengundang selera.
"Wah, Mbak Ratna..." gumam Rama terkagum-kagum sambil menelan ludahnya.
"Makasih, Rama," balas Ratna Galih dengan senyum yang menggoda seraya melempar handuknya ke pojok ruangan.
Ratna pun langsung bergabung di atas ranjang. Kini Rama diapit oleh dua wanita cantik nan seksi yang sama-sama telanjang. Tangan Ratna pun langsung meraih batang kontol Rama dan mulai mengocoknya lembut.
"Uughhh!" desah Rama merasakan tangan Ratna yang halus dan lembut membelai kontrolnya.
Sementara Olla Ramlan sudah mengambil posisi di atas wajah Rama, mengarahkan kewanitaannya ke mulut Rama.
"Ayo, Rama," bisik Olla.
Rama pun langsung menjilati kemaluan Olla dengan penuh semangat. Lidahnya menjelajahi setiap lekuk dan celah yang ada.
"Aahhh..." desah Olla Ramlan dengan matanya yang terpejam penuh kenikmatan.
Sementara tangan Ratna yang mengocok kontol Rama sudah mulai bervariasi โ sesekali dia membungkuk dan mengulum ujung kontol Rama dengan bibir manisnya.
"Ouughh yesshh!" Rama mengerang di sela-sela jilatannya pada Olla.
Olla Ramlan semakin menggeliat di atas wajah Rama. Tangannya meremas pelan payudara Ratna yang berada di sampingnya. Ratna membalas dengan mencium bibir Olla dengan mesra sambil tangan satunya tetap memompa kontol Rama.
Setelah beberapa saat dalam posisi itu, Ratna Galih memutuskan untuk berpindah posisi. Dia melepaskan kontol Rama dari kulumannya lalu merangkak, memposisikan dirinya di atas kontol Rama, dan perlahan-lahan menurunkan pinggulnya hingga kontol Rama masuk ke dalam dirinya.
"Ooouughh!!" Ratna Galih mengerang tertahan saat merasakan kontol Rama menerobos masuk ke dalam kewanitaannya yang sempit.
"Ouughh, Mbak Ratna... meekk-nya sempit banget!" ceracau Rama kegirangan.
Ratna mulai bergerak naik-turun di atas kontol Rama dengan perlahan, menyesuaikan diri dengan ukuran yang ada di dalamnya. Sementara itu Olla Ramlan yang masih menunggangi wajah Rama terus menikmati lidah Rama yang tanpa henti menjelajahi lekukan kewanitaannya.
"Aaa... aaghhh shitt! Uughh yeshh! Mmphhff! Gue hampir... ouughh! Aaghh!!" erang Olla Ramlan terbata-bata dan terus menggoyang serta mengulek-kan pantat berkulit putih mulus seiring gerakan lidah kaku Rama yang keluar-masuk.
"Gue!! guee dapettt!! Aaa... aaakkhhhhh!!!! Shiittt!!" Olla berteriak kencang. Artis cantik itu mendesah panjang, tubuhnya yang mulus berkilat karena peluh itu berkelojotan dan menggelinjang. Mekinya yang mengedut itu dihentak-hentakkannya di mulut Rama.
"SHEEERR!.. SSHEEEEERR!!!.. SSHHEEEEEERRRRRRR!"
Cairan orgasme Olla Ramlan pun mengucur mengalir keluar. Walau terlihat gelagapan, Rama tetap bersemangat menghisap dan menyeruput setiap tetes cairan yang diproduksi oleh kemaluan Olla Ramlan.
"Nikmat banget, Rama! Uughhh!!" ucap Olla ngos-ngosan dan tampak puas dengan orgasme pertamanya.
"Enak, Mbak Olla?" tanya iseng Rama dengan wajah merem melek karena batang kontrolnya masih terus diuleg oleh kemaluan Ratna Galih.
"Bangetshhh!!" Jawab Olla seraya merundukkan tubuh telanjangnya sehingga dua buah payudaranya yang kenyal menggelantung menimpa wajah Rama.
"Auww! Auww! Uughh!" pekik Olla tiba-tiba, menolehkan kepalanya ke belakang.
Karena posisinya yang merunduk itu, otomatis pantat Olla Ramlan yang membulat putih menghadap ke arah Ratna Galih. Dengan iseng Ratna pun mencolok-colokkan jari telunjuknya ke dalam kemaluan basah Olla yang sedang merekah setelah mendapatkan orgasme.
"Hihihiii... Duuh yang udah ngeluarin peju... Heeghh!" ujar Ratna Galih dengan kikikan keledainya seraya memutar-mutarkan jari telunjuknya yang tenggelam di dalam kemaluan Olla, semakin dalam.
"Uuughh, Raat! Sshhh!!" desis Olla dengan tubuh bergetar.
"PLOOPH!"
Ratna Galih pun mengeluarkan jari telunjuknya dari dalam kemaluan Olla. Jarinya tampak mengkilat basah terkena cairan orgasme, dan tanpa ragu dikelomotinya jari telunjuknya sendiri.
Sampai detik ini Ratna masih bersemangat memompa kontol Rama untuk menjajah keperetan kemaluannya. Permainan otot-otot kegel dari kewanitaannya pun membuat batang kontol Rama serasa digigit dan diremas-remas dengan kuat. Variasi serangan dari Ratna juga sangat menggetarkan seluruh tubuh Rama.
Kadangkala Ratna memompakan kontol yang tengah membelah tubuhnya itu sambil mengulek-kan bongkahan pantat bohaynya. Sungguh liar dan sangat binal gerak olah tubuh seksi Ratna Galih.
10 menit berselang, Ratna menghentak dan menancapkan dalam-dalam lonjoran kontol Rama seluruhnya di dalam kemaluannya yang peret. Tubuhnya bergetar dan mengejang kaku.
"Aaarrghhhh!!! Ouughh yesshhh!! Aaakkhhh!!" gerungan suara yang keluar dari mulut cewek cantik itu menandakan bahwa dia sudah mendapat puncak orgasme.
Rama bisa merasakan adanya cairan hangat yang melelehi kontrolnya yang masih tertancam di dalam kemaluan Ratna Galih.
"PLOOPH!"
Ratna melepas kontol Rama yang masih perkasa mengacung keras, dan dia pun tumbang ke samping tubuh Rama.
"Gila nih kontol, kuat banget," puji Olla seraya mengocok kontol Rama yang terasa licin.
"Langsung ya, Rama. Gue dah pengen banget nyicipin kontol," imbuh Olla Ramlan tanpa menunggu jawaban dari Rama.
Karena kulit punggungnya terasa panas setelah berbaring cukup lama, Rama pun bangkit dan merebahkan tubuh putih berlekuk milik Olla Ramlan.
Mengerti akan maksud Rama, Olla pun langsung mengangkangkan tungkai kakinya lebar-lebar. Terlihat Rama meneguk ludah ketika memandang seonggok daging merah di tengah-tengah kedua pangkal paha Olla.
Setelah menempatkan posisi tubuhnya di tengah kedua paha Olla, Rama pun mengarahkan batang kontrolnya yang masih basah ke lubang kemaluan Olla Ramlan. Dengan sekali tusukan dan sedikit hentakan, batang kontrolnya berhasil amblas terbenam masuk.
"BLEESSHHHH!"
"Adduu... uuhhh! Auuwhh! Aaghh!!" Olla memekik kemudian menggigit bibir bawah untuk menahan nyeri saat kontol itu menghujam dalam sampai pangkal di dalam dirinya.
"Oouughhh! Mek... Mbak Olla... perettshhh bangettss!" puji Rama tulus ketika merasakan jepitan yang sangat ketat dari rongga kemaluan yang bergerinjal lembut kepada batang kontrolnya.
"Oooouuggghhh, Ramaaaa!! Perihhhh!!" rengek Olla Ramlan merasakan sensasi perih dari kemaluannya.
Olla mengerenyitkan kening dan menyipitkan kedua matanya. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri menahan nikmat saat Rama mulai mengayuhkan pinggulnya untuk memompa kemaluan Olla Ramlan.
"Oughh! Oughh!! Aaaghh! Aaghhh!! Mmphhfff!!" desah seksi Olla terdengar seiring gerakan Rama yang maju-mundur.
Kepala Olla Ramlan yang tadinya menggeleng ke kanan dan ke kiri kini berubah menjadi mendongak ke atas, bersamaan dengan mulut Rama yang melahap dan mencumbu sepasang buah dada Olla yang berayun-ayun menggemaskan seirama dengan gerakan tubuhnya yang terhentak oleh goyang pinggul Rama.
"Aahhh!! Mmphff!! Sshhhh!! Uughhh!!" desahannya semakin tak karuan, kedua tangannya mencengkeram kain sprei. Sesekali pandangan matanya yang sayu menatap wajah Rama, mengakibatkan darah muda dan gairahnya semakin terbakar hebat.
"PLOOK!.. PLOOOKKK!!.. PLOOKK!.. PLOOOKHHH!!"
Suara benturan selangkangan Rama yang menumbuk selangkangan Olla nyaring terdengar. Rama menegakkan tubuh kemudian mengangkat sepasang tungkai kaki Olla Ramlan, meletakkannya di atas pundak, dan langsung mengocok kemaluan peret itu melalui pompaan kontol.
"Sshhh! Mbak Olla... uughhh!!" ceracau Rama saat merasakan batang kontrolnya disedot-sedot oleh kemaluan artis cantik yang masih menjanda itu.
"Enak ya? Heeghh!" ucap Olla seraya mengetatkan cengkeraman otot kemaluannya pada batang kontol Rama.
"Aaaghhhh, Mbaaakk!!" jerit Rama ketika kontrolnya terbetot hebat.
Ratna beranjak bangkit dari rebahannya setelah mendapati puncak orgasmenya tadi. Artis muda yang tak kalah cantik dengan Olla itu pun segera menarik kepala Rama dan menghadapkan wajahnya ke arah sepasang toketnya yang kenyal.
Ditaruhnya muka Rama di tengah belahan dadanya dan segera Ratna Galih pun menggilingkan buah toketnya yang membusung, menggilas wajah Rama dengan cara menggeser-geserkan dada ke kanan dan ke kiri.
"Ooughh yeaahhh!! Terusshhh Ramaa! Uughh!! Sshh!!" desah Ratna Galih penuh rasa nikmat ketika payudaranya dihisap dan dikelomoh oleh mulut Rama. Sementara mulut dan lidahnya menikmati hangatnya toket Ratna, pinggulnya pun masih tetap menggoyang dan merajam kemaluan Olla Ramlan dengan cepat.
"CLEEEPHH!.. CLEEEPHHH!!.. CLEEPHH!!"
Tak berapa lama kemudian Olla terlihat mendongakkan kepala semakin tinggi dan menjerit kuat.
"AAA... AAGGHHH!! GUEE DAPEEEETT!!.. AAA... AAGHH!! SSHHH!! UDAAH DULU RAMAA... UUGHH!! UDAAAH, UDAAH! STOOPP!"
Olla Ramlan meminta Rama menghentikan kocokan kontrolnya, akan tetapi Rama yang tahu akan rasa nikmat saat kontol yang sedang mengocok kemaluan yang tengah berkedut mencapai puncak orgasme adalah yang ternikmat, maka cowok rantau itu pun tak menggubris โ terus dan tetap mengocok, memompakan kontrolnya dalam-dalam dengan full speed seraya mulutnya meng-cupangi bongkahan daging payudara Olla Ramlan.
"CROOOPHH!.. CROOOPHHH!!.. CROPHH!!.. CCROOOOPHHH!"
Suara kemaluan yang terojok batang kontol dan sekarang tengah banjir oleh cairan orgasme itu terdengar menyayat gairah.
"Aaaghhh shitt!! Sshhh!!" ceracauan Olla seperti orang gila.
Tubuhnya yang telanjang bulat dan berkilat penuh peluh itu terus menghentak ke sana kemari, menggelinjang liar tak beraturan kala lonjoran kontol dari Rama masih tiada henti menghunjam keperetan kemaluan yang sekarang tampak memerah bengkak.
"OUUGHH YEESHHH!! GUEE DAPPEETHH LAGIIIHHH!! AAA... AAARRGGHHHH!!!!" lolongan panjang penuh kepuasan pun terucap dari mulut Olla Ramlan saat puncak orgasme meluluhlantakkan dirinya lagi.
Rama mendiamkan kontrolnya sesaat, untuk merasakan kedutan dan empotan hangat yang kuat dari otot-otot kemaluan Olla, sebelum akhirnya mencabut lonjoran kontrolnya itu.
"PLOOOPHHH!" dan diikuti leleran cairan Olla yang mengalir keluar.
Rama sudah tidak bisa mengendalikan nafsunya lagi. Ratna Galih yang sedang tertegun dengan orgasme dahsyat Olla Ramlan itu segera dimintanya untuk nungging.
"Anjriiitttt! Kuat banget sih kontol lo, Ram," ujar Ratna Galih terkagum-kagum seraya memposisikan pantatnya menungging untuk dikawin Rama dari arah belakang.
"Hehehe, latihan rutin, Mbak," sahut Rama singkat.
"Eeh, bentar, posisinya gini aja biar makin ngonakin. Hihihiii," kata Ratna Galih nakal seraya menunggingkan pantat semoknya menghadap Rama dengan posisi tubuh merangkak di atas tubuh bugil Olla Ramlan yang licin berkeringat.
"Uughh!! Gila lo, Rat," sahut Olla Ramlan saat mengetahui polah Ratna.
Rama tertegun dengan posisi yang sedang dilakukan cewek cantik itu, di mana kedua kemaluan peret saling berdekatan satu sama lain โ yang satu mulus tanpa bulu jembut, yang satunya lagi berbulu halus membentuk segitiga dengan celah yang basah memerah bengkak akibat sodokan batang kontol Rama. Dengan binal sesekali Ratna Galih juga menggesekkan kemaluannya di atas kemaluan Olla Ramlan naik-turun.
"C'moon, boy! Fuck me! Sshhh!"
Rama tak mampu berlama-lama lagi. Cowok rantau itu segera menempelkan ujung kepala kontrolnya tepat di lubang kemaluan Ratna Galih yang dengan nakal malah menggoyang-goyangkan pantatnya.
Dengan berpegangan pada pinggang ramping berkulit lembut cewek kelahiran Yogyakarta itu, Rama pun langsung menancapkan kontrolnya yang berurat ke dalam kemaluannya sekali hentak dengan gaya doggy style.
"SLEEEEEPPHHHH!"
Masuklah lonjoran batang kontol Rama tertelan seutuhnya ke dalam kemaluan Ratna Galih.
"Oooghhh, Rammaa!! Uumphhfff!! Nghhh!!" rengekan manja dari Ratna terdengar bergetar.
"Aaa... aaarrghhh, Mbak Ratnaa!! Meekk-nya makin sempiitshhh!!" kicau Rama yang merasakan bahwa jepitan kemaluan tanpa bulu itu semakin ketat.
Setelah mendiamkan kontrolnya untuk merasakan pijatan kemaluan Ratna Galih, beberapa saat kemudian dengan masih berpegang pada pinggang Ratna yang licin terkena keringat, Rama pun menggerakkan dan menghunjamkan batang kontrolnya keluar-masuk. Gerakannya cepat dan semakin bertambah cepat. Telapak tangannya mengusap bulir keringat yang menghias di kulit punggung Ratna Galih yang putih mulus dan licin mengkilat.
"Aaghh!!.. Uughhh!.. Aaaghh!!" Ratna Galih yang cantik itu terus mendesah seirama dengan gerakan tubuh Rama yang menghentak dari belakang. Bongkahan pantatnya juga bergoyang erotis mengimbangi sodokan Rama.
"PLOOK!.. PLOOK!!.. PLOOOKK!.. PLOOOKK!!" suara benturan seksi antara selangkangan Rama dengan pantat padet Ratna Galih pun tak terelakkan.
Sembari menikmati kemaluannya dipompa dari belakang, Ratna Galih menengokkan kepala dan wajahnya ke belakang menatap raut muka Rama yang merem melek keenakan.
"Ssshhhh! Uughhh!! Ramaaaa!! Ennaakk bangettshhh!!" ucap Ratna dalam desahan manja tatkala goyang pinggul Rama semakin keras dan cepat.
"PLOOOPHHH!"
Setelah 20 tusukan, dengan cepat Rama mencabut lonjoran kontrolnya dari kemaluan Ratna dan segera menancapkannya di dalam kemaluan Olla Ramlan.
"BLEESHHH!"
"Aaauughhhhh!! Ramaaaa! Gilaaaa luuu!" jerit Olla yang terdengar panjang ketika tidak menyangka bahwa kontol Rama akan kembali menyumbat dan memompa kemaluannya.
"Uughh!! Mbak Ollaa! Kemaluannya liciiiin!" desah Rama yang menggocekkan batang kemaluannya dengan cepat.
25 kali batang kontrolnya menghunjam dalam di kemaluan Olla. Lalu tak lama kemudian...
"PLOOOPHHH!"
"BLEESHHH!!!"
"Ooughh yesshhh!! Ramaaaa!!" lenguh nikmat keluar dari mulut Ratna, saat kemaluannya kembali tersumpal batang milik Rama dan langsung terkocok dengan cepat.
"SLEEPHH!!.. SLEEEPHHH!!.. SLEEPHH!!.. SSLEEPPHHHH!!"
Sekitar 7 menit berselang, karena sudah tak kuat dengan aura seksi dari Ratna Galih, Rama pun mulai menggeram. Gerakan pinggulnya semakin kacau tak beraturan dan kontrolnya pun bertambah besar di dalam kehangatan kemaluan sempit nan gurih kepunyaan Ratna.
"Mbak Ratnaa!! Ramaa mau keluar!! Uughh!"
"Bareng, Ramaa!! Oughh yesshhh!!" sahut Ratna cepat.
Dan akhirnya, saat-saat yang ditunggu Rama pun tiba...
"AAA... AAKKHHHH!!!.. CROOTTHHH!!.. JRROOTHHH!!.. SHEERRRHHH!!!!.. SHEERHH!.. SHEERRHHHH!.. CCROOOTTHHHH!!.. CROOTHH!!"
Cairan peju Rama segera mengguyur kemaluan peret Ratna Galih dan cairan Ratna pun melelehi batang kontol yang masih tertancap di dalamnya. Hangat dan sangat nikmat.
Tapi Rama buru-buru mencabut kontrolnya dan mengarahkan batang kontol yang basah penuh lendir itu ke mulut Olla Ramlan yang tampak sudah menganga menunggu.
"CROOTH!.. CROOTHHH!.. CRROOTHH!"
Sisa peju Rama yang kental itu menyemprot masuk ke dalam mulut mungil Olla Ramlan dan segera ditelan โ terbukti dari gerakan tenggorokannya yang naik-turun. Sementara sisa-sisa cairan yang berceceran di sudut bibir dibersihkannya dengan menyapukan lidah yang menjulur keluar.
"Gila! Kuat banget sih lo, Rama. Puas banget deh, meski kemaluan gue jadi nyeri nih," puji Ratna Galih dengan tubuh berbaring mentelentang di atas kasur.
"Iya nih. Ga nyangka juga gue kalau ternyata Rama beneran mantap. Gila!! Wah, bakal nagih nih," timpal Olla Ramlan seraya memeluk Rama.
"Ahhh, bisa aja Mbak Olla sama Mbak Ratna nih. Ga segitunya kale. Ya udah, yuk bobo bareng. Sini Rama kelonin biar anget, pules, dan mimpi indah. Besok kan kudu balik ke Jakarta," kata cowok beruntung bernama Rama ini dengan tarikan nafas mulai teratur.
"Eeh, sebelum bobo, foto dulu yuk!" celetuk Olla Ramlan seraya mengambil handphonenya.
"Yuukk!!" sahut Ratna Galih antusias, sedangkan Rama hanya tersenyum melihat ulah centil para bidadari.
"Cheese!! Cekrekk! Cekrekk!"
Bak Raja Minyak yang diapit oleh selir-selir cantik, Rama pun diapit mesra oleh Olla Ramlan dan Ratna Galih. Setelah kelar berfoto-foto ria, Rama beringsut untuk mengatur posisi tubuhnya yang telentang senyaman mungkin agar kedua bidadari cantik yang baru saja merelakan tubuh indahnya itu merasa nyaman dan damai dalam pelukannya.
Dengan masih bertelanjang bulat, ketiganya pun mulai menjemput impian.