18px

Kado Ulang Tahun dari Fifi

Kado Ulang Tahun dari Fifi

Aku tersadar akan ujung si Junior yang menyentuh sesuatu di dalam sana.

"Fi, elu bisa hamil nggak nih?" tanyaku dengan nada khawatir. Lah iya — gila kali menghamili kakak sendiri; bersenggama dengan kakak kandung saja sudah perbuatan gila-gilaan, apalagi sampai hamil.

"Tenang, Jon. Baru saja gue selesai mens, kok. Tadi pagi baru bersih."

Aku melongo. Pantesan dia juga kesakitan waktu kami baru bersatu tadi, walaupun sudah becek sejak kujilati liang kewanitaannya.

"Fi, elu nggak perawan sejak kapan nih?" tanyaku.

"Eh, nakal ya, tanya-tanya. Nggak usah diomongkan deh. Nikmati saja ya, Joni sayang," kata si Fifi. Yah sudah. Tapi kulihat dia jadi sedih gara-gara aku bertanya soal itu. Kami pun terdiam. Fifi cuma diam saat menindihku tanpa bergerak, memiringkan kepalanya di wajahku. Hidung kami bersentuhan. Aku menikmati sekali saat-saat ini — saat indah bersatu dengan kakak tersayangku. Dengusan nafas halusnya menyapu wajahku dengan keharuman nafas segarnya. Tanganku mengusap-usap punggungnya yang halus tapi sedikit berkeringat karena kupegang dalam keadaan lembab. Mungkin posisinya kurang enak — si Fifi menggerakkan bagian bawah tubuhnya sedikit. Sensasi dalam lubang tempat kami bersatu itu nikmat sekali.

"Fifi kakakku sayang, ngapain lagi nih sekarang?" tanyaku bingung. Tanpa menjawab dia bangkit dari menindih badanku. Kali ini dia benar-benar menduduki pinggangku. Buah dadanya yang mantap, memerah karena tertindih tadi, terlihat semakin indah. Putingnya juga ngaceng lagi, mancung.

"Nikmati ya, Jon. Jangan bergerak-gerak pinggulnya," kata si Fifi.

"Ok, Boss." Lalu mulailah si Fifi bergerak. Mula-mula gerakannya cuma memaju-mundurkan pinggulnya sehingga batang kejantananku yang terbenam dalam-dalam tidak keluar sedikitpun — tapi di dalam sana rasanya luar biasa. Ujung kepala si Junior terutama yang paling menikmati gesekan-gesekan di dalam rongga persetubuhan kami; sepertinya menyentuh-nyentuh sesuatu yang agak kenyal di dalam sana. Kepala si Junior mengelilingi dan menyenggol-nyenggol benda itu. Sensasi yang ditimbulkan luar biasa enaknya.

"Oohhh, Jon."
"Ya, Fi."
"Oohhh, Jon, Sayang."
"Ya, Fifi sayang."
"Jon, aahh."
"Ya, Fifi kakakku tercinta."
"Oohhh, Jon, Sayang, enak sekali. Kamu enak, Yang?"
"Ya, Fifi sayang, wah nikmat sekali, enak, Fi."
"Pegang dan remas-remas tetekku dong, Jon," kata si Fifi dengan manja.
"Wah, tetek kamu mantap banget, Fi. Pas susunya, kenceng lagi."
"Oohhh, Jon, terus, lebih kuat remasnya."
"Ya, Fi, lebih enak?"
"Ooohh, Jon, terus, putingnya juga."
"Oohhh, aahhh, Joni."

"Eh, Fi, jangan kenceng-kenceng," kataku khawatir — makin lama makin kenceng saja desahan dan suara Fifi yang keluar dari bibir sexynya itu.

Kali ini Fifi menunduk, mulutnya mencium mulutku lagi sehingga suaranya tinggal nafas saja. Kali ini Fifi mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Gila, rasanya gesekan batang kejantananku pada dinding liang kewanitaan Fifi yang menggenggam erat itu luar biasa nikmatnya — lebih enak dari apapun. Sensasi itu sampai naik ke kepalaku; terbukti waktu melewati leher dan mulut, nafasku semakin menderu-deru.

Cukup lama juga Fifi melakukan olahraga turun naik di atas pinggangku — pasti dia capek juga. Walaupun AC kamarku dingin, punggungnya keringatan dan telapak tanganku sampai basah mengusap-usapnya dari tadi. Tiba-tiba Fifi menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan makin keras menghujam ke arah batang kejantananku. Lalu lidahku disedot kuat-kuat dan dia roboh lemas setelah sempat menegang sebentar. Ini orgasme, kupikir. Kenapa aku belum ikut?

Aku iseng — walau tidak disuruh, kugoyang pinggulku menyodok naik sedikit. Si Fifi diam sih, padahal tadi lagi asyik menggoyangkan pinggulnya.

"Oohhh, Joni sayang, nakal ya, tapi enak, Jon, enak sekali. Iya, terus, Jon. Kamu enak, Yang?"

"Ya, Fifiku sayang. Kamu sudah orgasme ya? Wah licin nih, Fi, jadinya — tapi nikmat juga, enak, Fi, enak sekali."

"Iya, Jon. Tadi aku mencapai surga tuh. Lidah elu nggak kegigit kan?" tanya si Fifi. Wah, dia tidak sadar tadi menyedot kuat-kuat lidahku dan dugaanku soal orgasmenya ternyata benar. Untung tidak digigit.

"Jon, biar elu lebih menikmati hadiahnya, ganti posisi ya?" tawar si Fifi padaku.

"Gaya nungging ya, Fi?"

"Elu mau gaya begitu?"

"Iya, Fi, kayak di foto internet."

"Hayo deh, berhubung ini hadiah."

Kamipun berganti ke gaya doggy style. Cuma sebentar saja — walaupun seru aku melihat Fifi dari belakangnya, dengan kulit punggung mulus walau berkeringat, pinggangnya yang ramping dan buah pantatnya yang besar merupakan pemandangan indah tersendiri. Tapi ada yang membuat gaya ini jadi sebentar: setiap kali kusodok maju, batang kejantananku semakin masuk ke dalam rongga liang kewanitaan si Fifi, dan dia seperti tersendak kesakitan.

"Kamu nggak enak ya, Fi?" tanyaku pelan-pelan, takut menyakiti kakak tersayangku.

"Nggak pa-pa, terusin saja, yang penting kamu senang," jawab Fifi. Tapi baru dua sodokan lagi reaksinya sama saja — kesakitan. Aku tidak mau jadi adik tidak berbudi. Dikasih hadiah sangat nikmat begini, masak dengan tega menyakiti kakak tersayang?

"Fi, ganti gaya lagi deh. Gaya apalagi yang kamu mau dan kamu anggap akan menyenangkan Joni?"

"Oh, Joni sayang, aku beneran sayang sama elu, Jon," kata Fifi sambil mengakhiri persetubuhan kami dan berbalik menghadapku, memelukku dengan erat. Lagi-lagi aku dicium olehnya — kali ini sebentar saja, lalu dia mengambil posisi persis di tengah ranjang dan mengangkang lebar-lebar, dengkulnya ditekuk naik sampai dekat kepalanya.

Ini posisi surga bagiku. Melihatnya saja si Junior terkejut. Bibir luar liang kewanitaan Fifi otomatis merekah; bibir dalamnya yang berwarna pink dan tidak kalah sexynya ikutan merekah juga, membuka lubang gelap menantang untuk ditutupi oleh batang kejantananku.

Aku dengan masih berlutut bergerak mendekati pintu surga itu. Kutempelkan Junior ke sana, kugesek sedikit seperti dalam video — lalu karena masih becek-becek, lancar saja kucelupin si Junior semuanya sekaligus. Gesekan dinding liang kewanitaan kakakku ini masih saja mantap dan kesat.

"Aahhh," si Fifi malah yang bersuara.

"Enak, Fi?"

"Iya, gerakin keluar masuk dong, Jon."

Aku menurut. Kugerakkan pelan-pelan saja, memvariasikan antara gerakan menusuk dengan seluruh tubuh dan gerakan menusuk menggunakan pinggul saja. Gerakan pinggul membuat tusukan semakin dalam. Gocekan kiri kanan saat menusuk membuat si Fifi semakin menikmatinya. Memang tidak lama berlangsung — si Fifi kakak tersayangku buru-buru melebarkan kakinya dan tangannya buru-buru meraih leherku untuk diciumi lagi. Ciumannya buas, cepat, dan srobatan terus. Tiba-tiba bibirku disedot keras lagi. Karena aku tahu si Fifi mungkin mencapai orgasme, aku siaga merapatkan mulutku — menjaga giginya kalau-kalau menggigit. Berhasil — tidak kena gigit.

"Oohhh, Jon sayang, enak sekali, Joni. Kamu enak, Yang?"

"Ya, Fifi sayang, aahhh, nikmat sekali, Fi."

"Gila, Jon. Elu belum mau keluar lagi ya?" tanya si Fifi setelah agak reda capeknya.

"Adik siapa dulu, dong?" Kami yang sedang bercumbu begitu sempat-sempatnya bercanda juga. Hidungku dipencet si Fifi yang masih dalam posisi mengangkang dan kutusuk.

"Enak nggak, Jon, hadiahku?"

"Bukan enak lagi, Fi. Indah dan bagus sekali. Aku nggak mungkin bisa membalas hadiah seperti ini."

"Ah, Joni, Joni, adikku sayang. Kalau bukan adikku, aku mau aja deh pacaran sama elu, Jon."

"Loh, memangnya sekarang kagak bisa apa?"

Sambil bercinta dengan hot kami ngobrol-ngobrol sedikit. Aku tidak menyinggung soal keperawanannya dan pacarnya sekarang. Dia cuma cerita bahwa batang kejantananku adalah yang terpanjang dan terbesar yang pernah dia rasakan, padahal dia baru mencoba dua batang kejantanan lain sebelum punyaku.

"Fi, gara-gara cerita soal batang kejantananku yang super menurut elu, kayaknya aku mau keluar lagi nih."

"Aahhh, Joni sayang, jangan takut. Aku sayang banget sama elo, Jon. Silakan saja keluarkan di dalam rahimku — jangan khawatirkan apa-apa," kata si Fifi sambil mengusap-usap perutku dan wajahku. Mana tahan aku melihat wajah manisnya yang cantik dan tersenyum terus melihatku. Kupompa semakin cepat dan dalam-dalam setiap tusukannya.

"Oohhh, ah, ahhh, heh, heh, eh, eh." Begitulah suara kami berdua gara-gara aku mempercepat irama persetubuhan.

"Jon, aku keluar lagi nih, aaahh, Joni." Tampang sexy si Fifi saat mencapai orgasme ketiganya tidak bisa kutahan lagi. Wajahnya yang memerah berusaha tetap tersenyum senang dan tidak memejamkan mata melainkan menatap ke dalam mataku. Menikmati wajah cewek saat orgasme tanpa merem itu — menurutku itulah tampang tercantiknya.

"Cret, cret, cret." Entah berapa kali saat ini aku keluarnya. Yang jelas cairan hangatku menembak ke dalam medan tempur kami berdua. Saat terkejut itu, kenikmatannya sukar dilukiskan. Aku sampai roboh kecapaian dalam pelukan si Fifi yang masih ngangkang.

"Oohhh, Fifi sayang."
"Yah, Joni adikku sayang."
"Hadiah kamu tak ternilai, Fi."

Malam itu kami tidur seranjang. Aku kecapaian. Waktu berbaring bersama sebelum tidur — karena kami sama-sama capek untuk mematikan lampu — kulihat hari sudah pukul 3 pagi.

Dalam ngobrol-ngobrol sebelum pulas, si Fifi cerita bahwa perawannya hilang waktu SMA kelas 2, saat pergi ke luar kota bareng kakak kelas. Dan sekarang, sehabis menikmati malam bersama dan tahu si Fifi sudah tidak perawan, pacarnya yang di kampus mulai menjauhinya — jadi dia kosong saat ini, belum ketemu cowok yang sreg.

Sebelum pulas kami juga berandai-andai, siapa tahu bisa sama-sama terus. Setiap malam Minggu pergi bareng saja. Soal tidur malam, sepertinya pintu penghubung antar kamar kami mesti dicari kuncinya — memang sudah lama tidak pernah dibuka.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya