18px

Kakak Iparku

Kakak Iparku

Kejadian ini berlangsung kira-kira dua tahun yang lalu. Waktu itu aku diminta oleh ibu mertua untuk mengambil suatu barang di rumah kakak ipar perempuanku sekalian menengoknya karena sudah lama tidak ketemu. Kakak iparku—sebut saja namanya Ina—memang tinggal sendirian. Walaupun sudah kawin, belum punya anak, dan saat ini sudah pisah ranjang dengan suaminya yang kerja di kota lain. Aku sampai di rumahnya sekitar pukul 19.00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci.

Tak lama kemudian Ina muncul dari dalam dan sudah tahu bahwa aku akan datang malam ini.

"Ayo, Yan, masuk... langsung dari kantor? Sorry pintunya sudah digembok, soalnya Ina tinggal sendiri jadi harus hati-hati," sambutnya.

Ina malam itu sudah memakai daster tidur karena toh yang bakal datang juga masih terhitung adiknya. Daster yang dia pakai mempunyai potongan leher yang lebar dengan model lengan you-can-see.

Kami kemudian ngobrol dan nonton TV sambil duduk bersebelahan di sofa ruang tengah. Selama ngobrol, Ina sering bolak-balik mengambil minuman dan snack buat kami berdua. Setiap dia menyajikan makanan atau minuman di meja, secara tidak sengaja aku mendapat kesempatan melihat ke dalam dasternya yang menampilkan kedua payudaranya secara utuh karena Ina tidak memakai BH lagi di balik dasternya. Ina memang lebih cantik dari istriku—tubuhnya mungil dengan kulit putih dan rambut panjang tergerai. Walaupun sudah kawin cukup lama, karena tidak punya anak tubuhnya masih terlihat langsing dan ramping. Payudaranya yang terlihat olehku, walaupun tidak terlalu besar, tetap padat dan membulat.

Melihat pemandangan seperti ini terus-menerus, aku mulai tidak bisa berpikir jernih lagi. Puncaknya, tiba-tiba aku menyergap dan menindih Ina di sofa sambil berusaha menciumi bibirnya dan meremas-remas payudaranya.

Ina kaget dan menjerit, "Yan, apa-apaan kamu ini!"

Dengan sekuat tenaga dia mencoba berontak, menampar, mencakar, dan menendang-nendang. Tapi perlawanannya justru membuat birahiku semakin tinggi—apalagi akibat gerakannya itu pakaiannya menjadi makin tidak karuan dan semakin merangsang.

"Breet!" Daster bagian atas kurobekke bawah sehingga kini kedua payudaranya terpampang dengan jelas. Putingnya yang berwarna coklat tua terlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.

Ina terlihat syok dengan kekasaranku. Perlawanannya mulai melemah dan kedua tangannya berusaha menutup dadanya yang terbuka.

"Yan... ingat, kamu itu adikku..." rintihnya memelas.

Aku tidak mempedulikan rintihannya dan terus kutarik daster yang sudah robek itu ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya. Sekarang dengan jelas kulihat vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang terawat baik.

Setelah berhasil menelanjangi Ina, kulepaskan pegangan pada dia dan berdiri di sampingnya sambil mulai melepaskan bajuku satu persatu dengan tenang. Ina mulai menangis sambil meringkuk di atas sofa, sebisa mungkin mencoba menutupi badannya dengan kedua tangannya. Saat itu pikiranku mulai jernih kembali menyadari apa yang telah kulakukan—tapi pada titik itu, aku merasa tidak bisa mundur lagi dan kuputuskan untuk berlaku lebih halus.

Setelah aku sendiri telanjang, kubopong tubuh mungil Ina ke kamarnya dan kuletakkan dengan lembut di atas ranjang. Dengan halus kutepiskan tangannya yang masih menutupi payudara dan vaginanya, kemudian aku mulai menindih badannya. Ina tidak melawan. Ina memalingkan muka dengan mata terpejam dan berurai air mata setiap kali aku mencoba mencium bibirnya. Gagal mencium bibirnya, aku teruskan menciumi telinga, leher, dada, dan berhenti untuk mengulum puting serta meremas-remas payudara satunya lagi. Ina tidak bereaksi. Aku lanjutkan petualangan bibirku lebih ke bawah—perut dan vaginanya—sambil merentangkan pahanya lebar-lebar terlebih dahulu. Aku mulai dengan menjilati dan menghisap klitorisnya yang cukup kecil karena sudah disunat, sama seperti istriku. Ina mulai bereaksi. Setiap kuhisap klitorisnya, Ina mulai mengangkat pantatnya mengikuti arah hisapan.

Kemudian dengan lidah, kucoba membuka labia minoranya dan memainkan lidahku pada bagian dalam liang senggamanya. Tangan Ina mulai meremas-remas kain sprei sambil menggigit bibir. Ketika vaginanya mulai basah, kumasukkan jari menggantikan lidahku yang kembali berpindah ke puting payudaranya—mula-mula hanya satu jari, kemudian disusul dua jari yang bergerak keluar masuk liang senggamanya. Ina mulai berdesah dan memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan.

Sekitar dua atau tiga menit kemudian aku tarik tanganku dari vaginanya. Merasakan ini, Ina membuka matanya—yang selama ini selalu tertutup—dan menatapku dengan pandangan penuh harap, seakan ingin diberi sesuatu yang sangat berharga tapi tidak berani ngomong. Aku segera mengubah posisi badanku untuk segera menyetubuhinya. Melihat posisi tempur seperti itu, pandangan matanya berubah menjadi tenang dan kembali menutup matanya. Kuarahkan penisku ke bibir vaginanya yang sudah berwarna merah matang dan sangat basah itu. Secara perlahan penisku masuk ke liang senggamanya dan Ina hanya menggigit bibirnya. Tiba-tiba tangan Ina bergerak memegang sisa batang penisku yang belum sempat masuk, sehingga penetrasiku tertahan.

"Yan, kita tidak boleh melakukan hal ini..." kata Ina setengah berbisik sambil memandangku.

Tapi waktu kulihat matanya, sama sekali tidak ada penolakan—bahkan lebih terlihat adanya birahi yang tertahan. Aku tahu dia berkata begitu untuk berusaha memperoleh pembenaran atas perbuatan yang sekarang justru sangat diinginkannya.

"Tidak apa-apa, Na. Kita kan bukan saudara kandung, jadi ini bukan incest," jawabku. "Nikmati saja dan lupakan yang lainnya."

Mendengar perkataanku itu, Ina melepaskan pegangannya pada penisku—yang sekaligus kutangkap sebagai isyarat untuk melanjutkan. Dalam posisi standar itu aku mulai memompa Ina dengan gerakan perlahan. Setiap kali penisku masuk, aku mengambil sisi liang senggama yang berbeda sambil mengamati reaksinya. Dari eksperimen awal ini aku tahu bahwa bagian paling sensitif dia terletak pada dinding dalam bagian atas, yang kemudian menjadi titik sasaran penisku selanjutnya.

Strategi ini cukup efektif karena belum sampai dua menit Ina sudah orgasme. Tangannya yang asalnya hanya meremas-remas sprei tiba-tiba berpindah ke pantatku. Ina dengan kedua tangannya berusaha menekan pantatku agar penisku masuk semakin dalam, sedangkan dia sendiri mengangkat dan menggoyangkan pantatnya untuk membantu semakin membenamnya penisku. Untuk sementara kubiarkan dia mengambil alih.

"Sshh... aahh," rintihnya berulang-ulang setiap kali penisku terbenam.

Setelah Ina mulai reda, aku mengambil kembali inisiatif dengan mengubah posisi untuk gaya pumping flesh guna memanaskan kembali birahinya, dilanjutkan dengan gaya stand hard—kedua kaki Ina dirapatkan, kakiku terbuka dan dikaitkan ke betisnya. Gaya ini kuambil karena cocok dengan profil sensitif Ina, di mana vaginanya tertarik ke atas oleh gerakan penis yang cenderung vertikal. Ina mengalami dua kali orgasme dalam posisi ini.

Ketika gerakan Ina semakin liar dan aku pun mulai merasa akan ejakulasi, aku ganti lagi menjadi gaya frogwalk—kedua kaki Ina tetap rapat dan aku setengah berlutut. Dalam posisi ini setiap kali aku tusukkan penisku, otomatis vagina sampai pantat Ina akan terangkat sedikit dari permukaan kasur, menimbulkan sensasi yang luar biasa. Pupil mata Ina hanya terlihat setengahnya dan mulutnya mengeluarkan erangan, bukan rintihan lagi.

"Na, aku sudah mau keluar. Di mana keluarinnya?" kataku sambil terus memompa secara pelan tapi dalam.

"Di dalam saja... di dalam saja, aahh... jangan pedulikan," Ina menjawab di tengah erangan kenikmatannya.

"Aku keluar sekarang...!" teriakku.

Aku tekan vaginanya keras-keras sampai terangkat sekitar sepuluh sentimeter dari kasurnya dan cairan kenikmatan tersemprot dengan kerasnya, yang menyebabkan untuk sesaat aku lupa akan dunia.

"Jangan dicabut dulu, Yan..." bisik Ina.

Sambil mengatur napas lagi, aku rentangkan kembali kedua paha Ina dan aku pompa penisku pelan-pelan dengan menekan permukaan bawah vagina pada waktu ditarik. Dengan cara ini sebagian sperma yang tadi disemprotkan bisa dikeluarkan lagi sambil tetap dapat menikmati sisa-sisa birahi. Ina menjawabnya dengan hisapan-hisapan kecil pada penisku dari vaginanya.

"Yan, kenapa kamu lakukan ini ke Ina?" tanyanya sambil memeluk pinggangku.

"Kamu sendiri rasanya gimana?" aku balik bertanya.

"Mulanya kaget dan takut, tapi setelah kamu berubah memperlakukan Ina dengan lembut, tiba-tiba birahi Ina terpancing dan akhirnya turut menikmati apa yang belum pernah Ina rasakan selama ini—termasuk dari suami Ina," jawabnya.

Kami kemudian mengobrol seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Sebelum pulang, kusetubuhi Ina sekali lagi, kali ini dengan sukarela. Sejak malam itu, aku memelihara kakak iparku dengan memberinya nafkah lahir dan batin, menggantikan suaminya yang sudah tidak mempedulikannya lagi. Ina tidak pernah menuntut lebih karena istriku adalah adiknya, dan aku membalasnya dengan menjadikannya pendamping tetap setiap aku pergi ke luar kota atau ke luar negeri.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya