Kasih Sayang Ibu Mertua
Kasih Sayang Ibu Mertua
Aku seorang laki-laki biasa. Hobiku berolahraga, tinggi badanku 178 cm dengan bobot 75 kg. Tiga tahun yang lalu aku menikah dan menetap di rumah mertuaku. Hari-hari berlalu tanpa hambatan, meskipun sampai saat ini kami memang belum dianugerahi seorang anak. Kehidupan berkeluarga kami sangat baik, tak kekurangan apapun—baik secara materi maupun dalam kehidupan seks kami. Hanya saja nasib belum berpihak untuk memberikan kami seorang momongan.
Di rumah itu kami tinggal bertiga: aku, istriku, dan ibu dari istriku. Aku sering pulang lebih dulu karena naik kereta, sementara istriku naik kendaraan umum. Karena itu, aku dan mertuaku kerap berdua di rumah menunggu istriku pulang. Ibu mertuaku berumur sekitar 45 tahun, namun beliau mampu merawat tubuhnya dengan baik—aktif dalam kegiatan sosial dan senam bersama ibu-ibu di lingkungan. Kadang aku melihat Ibu memakai baju tidur tipis tanpa bra; bentuk tubuhnya yang masih terjaga dan kulitnya yang putih kadang membuat akal sehatku goyah.
Pernah suatu hari, setelah selesai mandi, Ibu hanya berbalut sehelai handuk. Tak lama kemudian telepon berdering dan ia bergegas mengangkatnya. Dari belakang, kulihat pangkal paha hingga kakinya yang begitu bersih tanpa bekas luka sedikit pun.
Aku tertegun. Dalam hati bergumam, "Kok sudah setua ini masih semulus itu, ya?"
Ketika Ibu meletakkan gagang telepon, aku terhentak dan buru-buru masuk kamar, mengambil handuk, lalu mandi. Selesai mandi, aku membuat kopi dan duduk di depan TV. Tak lama Ibu menyusul, ikut menonton sambil mengobrol.
"Bagaimana kerjaanmu, baik-baik saja?" tanya Ibu.
"Baik, Bu. Ibu sendiri bagaimana?" tanyaku balik.
Kami mengobrol hingga istriku tiba dan ikut bergabung.
Malam itu, sekitar pukul setengah dua belas, aku keluar kamar untuk minum. TV masih menyala dan Ibu tertidur di depannya. Roknya tersibak hingga celana dalamnya sedikit terlihat. Kulihat kakinya yang mulus, dan di balik rok itu tampak gumpalan daging yang tertutup kain. Hasrat menggerayang sekilas, namun aku cepat-cepat melangkah ke dapur, mengambil minum, lalu kembali ke kamar.
Sebelum masuk kamar, kulirik Ibu sekali lagi—dan hasrat itu kembali bereaksi pelan. Aku masuk kamar dan berusaha mengusir pikiran yang mulai tak karuan.
Paginya aku terlambat bangun; istriku sudah berangkat. Setelah mandi, sambil mengeringkan rambut aku berjalan dan tanpa sengaja melihat Ibu berganti baju di kamarnya dengan pintu yang tak tertutup. Hanya sesaat, lalu aku segera masuk kamar, berpakaian, dan berangkat kerja.
Hari itu aku pulang lebih cepat karena pekerjaan di kantor sudah selesai. Sesampainya di rumah aku langsung mandi, membuat kopi, dan duduk di tepi kolam ikan. Sedang asyik memperhatikan ikan, tiba-tiba terdengar teriakan. Aku berlari menuju suara yang berasal dari kamar Ibu, langsung kubuka pintunya.
Ibu berdiri di atas kasur sambil berteriak, "Awas, tikusnya keluar!"
"Mana ada tikus?" gumamku.
"Lho, kok pintunya dibuka begitu saja?" tegur Ibu.
Sambil menutup pintu kembali, aku berkata, "Mana tikusnya?"
"Coba lihat di bawah kasur atau di sudut sana," kata Ibu sambil menunjuk meja riasnya.
Kuangkat seprei kasur—dan seekor tikus kecil mencicit sambil melompat ke arahku. Aku kaget dan ikut melompat ke kasur. Ibu tertawa kecil melihat tingkahku. Sambil terus mencari, sesekali aku melirik ke arah Ibu yang rok-nya terangkat karena berdiri di kasur. Tiba-tiba Ibu kembali berteriak dan melompat mendekapku dari belakang—ternyata tikusnya ada di atas kasur. Bisa kurasakan payudaranya menempel di punggungku, hangat dan kenyal. Aku mengambil kertas, menangkap tikus yang sudah kelelahan, lalu membuangnya keluar.
"Sudah dibuang?" tanya Ibu.
"Sudah, Bu."
"Periksa lagi, mungkin masih ada—Ibu dengar tadi seperti ada dua ekor," tegas Ibu.
"Wah, tikus juga pakai ajak teman segala!" gumamku.
Aku masuk kembali ke kamar dan mengendus-endus mencari temannya si tikus. Ibu duduk di kasur sementara aku sibuk mencari di bawahnya. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu meraba-raba tanganku dari atas kasur—kukira temannya tikus, ternyata tangan Ibu. Ia tersenyum dan kembali meraba tanganku. Aku memandangnya heran, namun kubiarkan saja.
"Sudah tidak ada tikus lagi, Bu!"
Tanpa berkata apapun, Ibu turun dari kasur dan langsung memelukku. Aku terkejut, panas dingin.
Rambutku dibelai, diusap seperti anak kecil. Ibu memelukku erat-erat seolah takut kehilangan.
"Ibu kenapa?" tanyaku.
"Ah, tidak. Ibu cuma mau membelai kamu," jawabnya.
"Sudah ya, Bu, belai-belainya."
"Kenapa, kamu tidak suka dibelai Ibu?"
"Bukan tidak suka, Bu. Cuma kan...?" tanyaku ragu.
"Cuma apa? Ayo, cuma apa?" potong Ibu.
Aku diam. Dalam hati kuberpikir, biar sajalah—tidak ada ruginya dibelai.
Ibu terus membelaiku; tangannya turun dari rambut ke leher sambil mencium lembut. Aku merinding. Ibu terus bergerilya menyusuri tubuhku. Kaosku diangkat dan dibukanya; puting dadaku dipegang, diusap, dan dicium. Kudengar napasnya mulai tak beraturan. Ia menuntunku ke ranjang, dan pikiranku pun mulai melayang.
Dalam hati aku berpikir, jangan-jangan Ibu sedang kesepian dan haus kasih sayang.
Aku tak berani bertindak balik. Aku berbaring telentang sementara Ibu terus mengusap dada dan perutku, mencium dan mengelus. Aku menggelinjang pelan.
"Bu, sudah ya."
Ia diam dan tangan kanannya masuk ke dalam celanaku; aku mengerang pelan. Tangan kirinya berusaha menurunkan celana pendekku. Aku sedikit menggeser untuk membantu, dan tak lama celana beserta celana dalamku sudah terlepas.
Kejantananku sudah berdiri kencang. Tangan kanan Ibu masih memegangnya, lalu ia menoleh kepadaku sambil tersenyum mesra. Kepala kejantananku diciuminya; tangan kirinya memijat buah zakarku. Aku tak tahan dengan perlakuan itu.
"Ah... terus, Bu..."
Ibu melanjutkan permainannya dengan mengulum kejantananku. Aku benar-benar terbuai. Kupegang kepalanya yang bergerak naik turun. Bibirnya lembut, gerakan kulumannya pelan dan teratur—aku merasa disayangi.
"Bu, aku tidak tahan lagi..."
"Hm... mm..."
Gerakannya masih pelan dan teratur. Badanku menekuk, meliuk, bergetar menahan gejolak yang tak tertahankan. Tak lama kemudian aku mengejang keras. Kenikmatan luar biasa menjalar, dan kulihat Ibu masih bergerak pelan, bibirnya masih menelan kejantananku, kedua tangannya menggenggam batangnya. Ia menatapku dengan tatapan sayu, lalu kembali menciumnya—rasa geli yang kurasakan sampai ke ubun-ubun.
"Banyak juga keluarnya, Do," kata Ibu.
Aku terkulai lemas. Ibu menghampiri dan memelukku mesra. Kupermalasnya dan kucium keningnya. Kubantu membersihkan mulutnya dengan kaosku tadi. Aku duduk di ranjang, telanjang bulat, menghisap rokok, sementara Ibu berbaring dekat di sisiku.
"Kenapa jadi begini, Bu?"
"Ibu cuma mau saja."
Aku membelai rambutnya. "Ibu mau juga?"
Ia mengangguk pelan. Kumatikan rokok, lalu kucium bibirnya. Ia membalas ciumanku mesra. Dari gelagatnya, aku melihat Ibu bukan tipe yang haus seks—ia haus kasih sayang. Dalam berhubungan pun ia lebih menyukai yang pelan dan penuh kelembutan, bukan yang buru-buru. Aku mengikuti iramanya: pelan-pelan kucium dari bibir, turun ke leher, ke belakang telinga, lalu ke dada.
Kulepas pakaiannya satu per satu. Kali ini aku benar-benar melihat semuanya—payudaranya masih agak kencang, kulitnya bersih untuk usianya, kakinya masih bagus karena rajin senam. Kuraba dan kuusap seluruh tubuhnya dari pangkal paha hingga dada. Kucium perlahan; kupegang payudaranya, kuremas lembut, kucium putingnya, dan terdengar desahannya. Kunikmati setiap inchi tubuhnya dengan bibir dan telapak tangan. Puas di dada, aku menyusuri perutnya, menjilati dengan putaran lembut ujung lidahku hingga ia kejang-kejang kecil. Tangannya meremas dan menjambak rambutku. Sampai akhirnya bibirku mencapai daerah berbulunya—kucium aromanya dan kujilati bibir vaginanya.
"Ouch... terus, Sayang... kamu lembut sekali... terus..."
Kumainkan ujung lidahku menyusuri dinding vaginanya, kadang masuk, kadang menjilat, membuat ia seperti berada di puncak kenikmatan. Kemudian ia menarik kepalaku dan melumat bibirku dengan panas. Ia kembali menidurkan aku, lalu menaikiku. Dipegangnya kembali kejantananku yang sudah siap—diarahkan ke lubang vaginanya, dan perlahan seluruh batangku tertelan. Ia mengangkat dan menggoyang memutar, mencari kenikmatan yang diinginkannya.
"Ah... nikmat sekali!"
Tak lepas aku meremas payudaranya pelan, sesekali kucium dan kujilat.
"Aduh, Ibu tidak tahan lagi, Sayang."
Aku ikut membantu menggerakkan agar kepuasannya terpenuhi. Gerakannya makin cepat, lalu berhenti sambil mendekapku kembali. Kupermalasnya dan terus menggerakkan batangku dari bawah, naik turun.
"Ahh... ah..." desah Ibu.
Kupeluk ia sambil kucium bibirnya. Ia diam, tetap di atasku dalam dekapanku.
"Enak ya, Bu? Mau lagi?"
Ia menoleh, tersenyum, telunjuknya menyentil ujung hidungku.
"Kenapa? Kamu mau lagi?" candanya.
Tanpa banyak kata, kumulai lagi gerakan yang panas. Kuangkat Ibu dan menidurkannya sambil kucium kembali. Kutuntun ia untuk mencoba posisi yang lain—kuajak berdiri di samping ranjang. Ia tampak bingung sebentar, namun kututupi kebingungannya dengan mencium tengkuk lehernya dan menjilati telinganya. Kuputar badannya membelakangi. Tangan kanannya memegang batangku sambil mengocok pelan. Kuangkat kaki kanannya dan kupegangi. Sepertinya ia mengerti. Tangannya menuntun kejantananku ke arah vaginanya—pelan dan pasti kumasukkan, dan masuk dengan lembut. Ia mengerang nikmat. Kutarik dan kudorong pelan sambil mengikuti gerakan pantatnya yang diputar-putar. Kutambah kecepatan pelan-pelan, masuk keluar, sementara kutambah pelukan dan ciuman di tengkuk lehernya.
"Ah... Dodo, kamu..."
"Ibu mau keluar lagi, Do."
Makin kutambah kecepatan, dan... "Aduh!" Ibu berteriak kecil dalam dekapanku. Tubuhnya bergetar lemas dan jatuh ke kasur. Kubalik tubuhnya dan kembali kumasukkan kejantananku. Ia memelukku dan menjepit pinggangku dengan kedua kakinya. Kuayun pantatku naik turun hingga Ibu makin merintih.
"Ayo, Dodo, kamu lama banget... Ibu geli sekali ini."
"Sebentar lagi, Bu!"
Ibu ikut membantu dengan menambah gerakan erotisnya. Kenikmatan itu datang tak lama lagi. Tubuhku bergetar dan menegang sementara Ibu memutar pantatnya cepat. Kutumpahkan seluruh cairanku ke dalam vaginanya.
"Ahhh... nikmatnya!"
Ibu memelukku kencang namun lembut.
"Banyak juga cairan yang kamu keluarkan untuk Ibu."
Aku terkulai lemas di sampingnya. Tangan Ibu memegang batangku sambil memainkan sisa cairan di ujungnya. Aku kegelian. Kucium bibirnya pelan, lalu keluar kamar dan mandi lagi.
Semenjak hari itu, kejadian itu terus terlintas di benakku. Selama empat hari Ibu pergi bersama teman-temannya dalam perjalanan koperasi ibu-ibu. Pukul lima sore aku sudah di rumah; rumah sepi seperti biasa. Sebelum masuk kamar, kudengar ada yang mandi. Aku bertanya, "Siapa di dalam?"
"Ibu! Kamu sudah pulang, Do?" balas Ibu.
"Iya. Kapan sampainya, Bu?"
"Baru setengah jam!"
Kuganti pakaian dengan kaos dan celana pendek, lalu berjalan hendak mengambil handuk. Saat melewati pintu kamar mandi, Ibu keluar dengan handuk melilit tubuhnya. Aku menunduk, coba tidak menatap, namun ia justru sengaja menubrukku.
"Mau mandi ya?"
"Iya. Emangnya Ibu mau mandi lagi?" candaku.
Ia langsung memeluk dan mencium pipiku, lalu berbisik, "Mau dimandikan Ibu tidak?"
"Ih, Bu—memangnya bayi pakai dimandikan segala?"
"Ayo sini, biar bersih mandinya," kata Ibu sambil menarikku ke kamar mandi.
Setiba di kamar mandi, Ibu membantu melepas bajuku hingga aku telanjang bulat. Air langsung mengguyur badanku. Ibu melepas handuknya—kita pun telanjang bersama. Kejantananku mulai naik melihat suasana itu.
"Belum diapa-apain sudah berdiri?" kata Ibu sambil mencubit kecil.
Aku menyisih malu-malu. Kuambil sabun dan menggosok badan. Kami bercerita ringan—Ibu tentang teman-temannya dalam perjalanan, aku tentang pekerjaan dan kantor—sementara Ibu menyabuni seluruh tubuhku dengan telaten, sampai ke setiap sudut, termasuk memegang dan menyabuni kejantananku dengan hati-hati.
Selesai disabun, aku membilas dan mengeringkan badan dengan handuk. Saat hendak memakai celana, Ibu menggelengkan kepala. Kulilit handuk di badan; Ibu menarik tanganku ke kamarnya. Sampai di kamar, aku didorongnya ke kasur dan ia segera menutup pintu. Aku tersenyum. Handuknya dilepas; handukku pun ikut dilepas. Kejantananku sudah hampir sepenuhnya berdiri. Tanpa basa-basi, Ibu mengulumnya. Hanya sesaat, lalu ia langsung menaikiku dan memasukkan kejantananku ke vaginanya. Kutahu Ibu benar-benar rindu. Ia mengangkat dan menurunkan pantatnya dengan gerakan stabil. Kuremas payudaranya membuat ia seolah terbang.
Gerakannya makin cepat, napasnya memburu, "Oh... ahh..."
Tak lama kemudian tubuhnya menegang kencang dan jatuh ke pelukanku.
"Nikmat sekali ya?"
"He-eh, enak," balasnya.
"Memangnya melihat siapa di sana sampai sekangen ini?" tanyaku bercanda.
"Ah, tidak melihat siapa-siapa. Cuma kangen saja."
Kali ini aku yang mulai bergerak. Kucium ia terlebih dahulu sambil kuremas payudaranya, kubangkitkan kembali gairahnya hingga kulit di lehernya merah oleh ciumanku. Sampai di daerah vaginanya, kujilati dindingnya sambil memainkan lubangnya. Ibu kadang merapatkan kakinya, mendekapkan wajahku untuk lebih masuk ke dalam.
"Ayo ah... kamu mau membuat Ibu gila nanti."
Aku bangkit dan menidurkannya sambil mengarahkan kejantananku masuk ke dalam vaginanya. Perlahan kugoyangkan, kadang kutekan dengan irama lembut. Tak lama, kejantananku pun masuk penuh dan Ibu mendesis panjang. Kuayun pantatku sambil kusertai ciuman-ciuman sayang ke bibirnya. Ibu hanya mengeluarkan desahan, matanya setengah terpejam. Kukuh merasakan nikmatnya mengisi vaginanya. Ia menjepit pinggangku dengan kedua kaki untuk membantu tekanan.
"Aku tidak kuat lagi, Do."
Kutambah kecepatan, apalagi setelah Ibu memintaku untuk keluar berbarengan. Aku menggeliat menambah erotis gerakanku.
"Ahh... ssh... ah..." desah Ibu sambil memelukku erat.
Tiba-tiba cairanku pun keluar, mengalir deras ke dalam vaginanya. Aku benar-benar puas. Ibu masih memelukku dan menciumi leherku dengan lembut. Aku perlahan beranjak dan mencabut kejantananku—kulihat cairan banyak yang mengalir keluar dari vagina Ibu.
"Mungkin tidak tertampung makanya tumpah," pikirku dalam hati.
Aku pamit dan langsung ke kamar mandi membersihkan diri.
Itulah terakhir kali kami melakukan perbuatan itu bersama. Sebetulnya aku berusaha menghindar, namun kita hanyalah manusia biasa yang mudah tergoda. Ibu mertua kemudian pindah ke rumah anak sulungnya. Aku tahu maksud dan tujuannya. Tapi istriku tidak menerimanya—ia berprasangka bahwa dirinya tidak mampu merawat sang ibu.
Tamat