Bab 1
Kawin Paksa
"Jangan ngebuntutin aku, kenapa sih!!!"
"Ge-er banget! Wong mobilku di depan sono... Kebetulan aja searah!!!"
Sejenak aku terlibat perang mulut di halaman parkir suatu mall dengan seorang wanita muda yang sebenarnya sudah jadi temanku sejak kecil. Bahkan ayah kami teman akrab. Cuma dari dulu aku dan dia kerjanya berantem mulu—dan selalu bersaing di hampir semua bidang. Sama-sama keras kepala, nggak ada yang mau ngalah. Oh iya, cewek yang kumaksud namanya Hana. Umurnya 22 tahun, sama denganku, dan juga bekerja di perusahaan yang sama.
Orangnya cantik, manis, dan kulitnya putih bersih. Dulu aku ngeledek dia dengan julukan "Papan Gilesan"—abis bodinya datar banget. Tapi semenjak SMA, aku nggak bisa lagi ngejulukin dia kayak gitu. Soalnya bodinya jadi montok sana sini. Bahkan kalau ngeliat sekilas aja, rasanya bedilku langsung naik. Padahal kalau dulu, pengen ngeliat pun nggak.
Tapi biarpun begitu, sebenarnya aku sudah lama juga memendam rasa cinta ke Hana. Dasar apes, aku telat beberapa langkah. Dia sekarang pacaran sama Yota—yang notabene adalah musuh gengku waktu SMA dulu. Kayaknya poin yang bikin aku kalah saing adalah ortunya Yota yang tajir abis. Biarpun ortuku juga lumayan tajir, tetap aja nggak setajir ortunya Yota. Dan kelihatannya Hana juga nggak ada nyimpan perasaan apa-apa buat aku. Tapi aku tetap aja nggak bisa ngilangin rasa cintaku ke dia.
Tapi suatu hari, ada peristiwa yang benar-benar mengubah hidupku dan Hana. Ayahnya Hana tiba-tiba jatuh sakit, dan lumayan parah. Sudah dibawa berobat sana-sini, tetap aja kondisinya tak membaik—kabarnya karena komplikasi. Dan akhirnya sampailah pada suatu saat Om Santo (ayah Hana) seperti sudah berada di ujung nyawanya. Seluruh keluarganya larut dalam haru—Hana, ibunya, dan adik-adiknya. Bahkan keluargaku yang ikut menjenguk pun juga. Aku hanya bisa terdiam dan turut sedih melihat kondisi Om Santo, karena orangnya sudah begitu baik padaku bahkan sejak aku kecil dulu.
Om Santo (OS): "Papa udah nggak kuat lagi, Ma...!"
Tante Santo (TS): "Papa jangan ngomong gitu, dong, Pa. Mama juga nggak kuat jadinya."
OS: "Tapi bener-bener sakit rasanya, Ma—kayaknya waktu Papa udah nggak lama."
Hana: "Papa jangan ngomong gitu, dong. Hana belum siap pisah dari Papa."
OS: "Ah, Hana. Manusia pasti akan mati, toh. Tapi paling tidak, kamu mau, kan, mengikuti satu aja permintaan Papa? Jadi kalau Papa pergi pun sedikit ringan jadinya."
Hana: "Apa permintaan Papa? Hana pasti turutin, kok."
OS: "Janji?"
Hana: "Janji, Pa!"
OS: "Menikahlah dengan Joshua—aku...!"
Hana kaget bukan kepalang. Apalagi aku! Bahkan sepertinya semua orang di ruangan itu ikut kaget.
Hana: "Tapi, Pa! Hana, kan..."
OS: "Uups—kamu kan udah janji bakal nurutin semua keinginan Papa. Papa sudah dari dulu ingin menjadikan Joshua sebagai menantu Papa—orang yang bakal gantiin Papa ngurusin kamu. Kamu mau, kan, Josh!"
Josh: "Eeemm, anu—kalau memang itu keinginan terbesar Om, aku pasti nurutin, kok, Om!"
OS: "Hoo, bagus lah."
Kulihat Hana hanya tertunduk sambil menangis. Aku bisa paham kalau dia tidak menginginkan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi—ini permintaan terakhir papanya. Kemudian Om Santo tertidur karena lelah. Kami semua disuruh perawat untuk keluar agar Om Santo bisa lebih santai. Di luar, keluargaku dan keluarga Hana tampak merundingkan hal tadi. Sementara itu terjadi perbincangan antara aku dan Hana.
Hana: "Josh! Aku sama sekali nggak mau nikah sama kamu! Ini cuma karena permintaan terakhir papaku aja! Jadi jangan harap aku bakal jadi cinta sama kamu!"
Josh: "Hoi hoi—emangnya aku mau nikah sama kamu! Aku mau juga karena Om Santo yang minta!"
Hana: "Oke!! Jadi kalau gitu, setelah 4 bulan nikah, aku bakal minta cerai sama kamu! Kalau perlu langsung talak tiga!"
Josh: (Kaget...) "Terserah!!!"
Sebenarnya aku langsung uring-uringan mendengar pernyataan Hana. Padahal kesempatan hanya satu kali ini—aku bisa bersatu dengan orang yang kucinta. Aku harus segera menyusun rencana agar Hana tidak lepas dariku.
Suasana jadi sedikit kacau. Aku dan keluargaku sibuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan, sedangkan Hana bertengkar dengan pacarnya. Tapi setelah dia menjelaskan rencananya, keadaan mereka kembali mereda.
Pernikahan pun dilakukan di depan Om Santo yang kondisinya semakin memburuk, dengan harapan hal ini akan membuat kondisinya membaik. Selama akad nikah dan resepsi, Hana sama sekali tidak tersenyum. Padahal aku sudah menyuruhnya senyum—takut nggak enak dilihat tamu—tapi dia tidak peduli.
Anehnya, setelah pernikahan kami, kondisi Om Santo naik drastis. Sekarang bahkan sudah bisa duduk dan memberi restu kepada kami.
Tiba malam pertama—malam yang kutunggu-tunggu.
Hana: "Iiiihh, apaan sih nempel-nempel, sana!!!"
Josh: "Yeee, kamu yang apaan! Kita ini kan suami istri—jadi kalau malam pertama gini ya lakukan yang selayaknya suami istri lakukan."
Hana: "Ih! Nggak sudi!! Eh, ingat ya—kita ini cuma nikah pura-pura. Toh nggak lama aku bakal cerein kamu!"
Aku tidak mendengarkan ucapannya. Aku tetap memaksanya melayaniku, tapi dia juga bersikeras menolak. Akhirnya aku kesal lalu pergi keluar kamar, hanya duduk di balkon sambil merokok.
Hal ini sudah berlangsung selama seminggu. Om Santo sudah pulang ke rumah, tapi kali ini dia menginap di rumahku—biarpun hanya bisa berada di tempat tidur saja. Karena menganggap Om Santo lebih berpengalaman, aku pun minta saran darinya. Aku menceritakan semua keluhanku, dan Om Santo—yang sekarang kupanggil Papa—memberiku berbagai saran yang sebenarnya sudah kulaksanakan tapi tetap tak berhasil.
Josh: "Pa, kalau aku sedikit kasar sama Hana gimana?"
OS: "Eh, jangan! Nggak boleh kasar sama istri!"
Josh: "Bukan gitu, Pa. Maksudnya kalau aku sedikit lebih maksa dengan sedikit kenekatan, gimana?"
OS: "Tapi kamu nggak sampai ngelukain istri kamu, kan?!"
Josh: "Ya nggak lah, Pa!"
OS: "Oke, terserah kamu lah, Nak. Yang penting nantinya dia bisa dekat sama kamu."
Josh: "Oke, Pa. Makasih."
Malam ini aku sengaja tidak mendekati Hana sama sekali. Esok malamnya aku kembali memintanya melayaniku, dan lagi-lagi dia menolak. Aku tersenyum sinis. Segera kukunci pintu kamar, dan aku kembali mendekati Hana. Kali ini aku membekap dan menahan tubuhnya erat-erat. Lalu kuambil selendang yang kutaruh di sakuku dan kugunakan untuk mengikat tangannya ke besi kepala tempat tidur.
Josh: "Hokeee, sekarang kamu nggak bisa apa-apa, kan?!"
Hana: "Josh! Kamu mau apa?! Lepasin aku!! Atau aku bakal teriak!!!"
Josh: "Teriak?! Haha—mau teriak apa?! 'Aku diperkosa!' gitu? Semua orang sekitar sini juga tahu kalau kita suami istri!!!"
Hana: "Pokoknya lepasin aku!! Aku nggak sudi kalau harus ngelayanin kamu!"
Josh: "Kamu bilang nggak mau pun, sekarang kamu nggak bisa apa-apa! Terima aja!!!"
Aku mulai menindih tubuhnya dan mencoba mencium bibirnya. Hana terus menghindar. Aku menggenggam kepalanya agar tidak bergerak dan mencium bibirnya—melumat bibirnya dengan penuh napsu! Ciumanku turun ke leher. Hana mulai sedikit mendesah.
"Nggghh... Josh, jangan... plis, Josh! Ngghh..."
Sementara mulutku bermain di lehernya, tanganku mulai bermain di dadanya. Aku meremas-remas dadanya dengan kedua tanganku. Desahan Hana makin menjadi-jadi. Kemudian dengan sedikit kasar aku merobek piyamanya. Ternyata Hana tidak memakai bra. Dada bulat padat nan indah itu kini terpampang di depan mukaku. Aku mulai memainkan putingnya yang merah muda itu dengan jariku—kadang sedikit kupilin. Lalu aku mulai menjilati dan menciumi daerah sekitar putingnya, kemudian menjilati putingnya dan menghisapnya seperti bayi.
"Aaaaahhhh... mmmmmhh... jangan, Josh! Pliiiss... mmmhh..."
Hana terus berusaha menyuruhku berhenti, meskipun desahannya semakin kuat dan semakin menaikkan nafsuku. Aku berpindah dari dada yang kiri ke dada yang kanan. Sementara itu tangan kananku mulai merogoh ke dalam celananya. Hana berusaha menahan dengan menjepit-jepitkan pahanya. Tapi itu justru membuatku lebih bersemangat lagi. Vaginanya terasa basah dan hangat.
"Ah, kamu ini—nolak-nolak tapi basah juga!" kataku kepadanya.
Hana hanya diam dan mulai meneteskan air mata. Kutarik tanganku keluar dari celananya, lalu kutarik celananya ke bawah dan melemparnya entah ke mana. Ternyata Hana juga tidak pakai celana dalam, sehingga vaginanya yang mulai menyembul terlihat jelas.
Hana lalu menutupinya dengan mengapit kedua pahanya. Aku tersenyum kepadanya, lalu membuka kembali kedua kakinya. Aku mulai menjilati bagian belakang lututnya—Hana tampak menikmati. Lalu jilatanku terus turun ke paha dan sampai ke vaginanya. Aku memainkan klitorisnya dengan hidungku, lalu menjilatinya. Tubuh Hana mulai kejang—desahannya tertahan dan dia sedikit menaik-naikkan pinggulnya. Aku semakin bersemangat melihatnya. Tak hanya menjilati, aku bahkan menghisap-hisap vaginanya.
Puas dengan vaginanya, aku segera bangkit dan membuka baju kaosku. Hana sedikit kaget melihat tubuhku—memang sih, aku rajin fitness juga bersama teman satu gengku. Akupun menurunkan resleting celanaku, lalu membuka celana beserta celana dalamnya. Penisku sudah tegang dan terhunus ke depan. Kali ini Hana lebih kaget lagi. Ia berusaha menarik tubuhnya ke atas dan menutupi vaginanya dengan kakinya. Aku menyusulnya, lalu melebarkan kembali kakinya. Hana berusaha berontak.
"Josh! Aku bener-bener mohon, Josh! Jangan!!! Aaaaaaaahhhhhh!!!"
Aku terlanjur menusukkan penisku ke dalam vaginanya. Vaginanya terasa sangat sempit—aku merasakan kenikmatan yang sangat besar, sementara Hana terus berteriak. Kulihat ke bawah—tampak darah merembes keluar. Jelas aja aku kaget. Masa bos preman kayak Yota tidak bisa merebut keperawanan Hana. Aku betul-betul senang. Aku mulai menggerakkan pinggulku. Hana kembali mendesah. Sedikit demi sedikit aku menaikkan kecepatan pinggulku.
"Ngaaaaaaaahhh... aaaaaaaaaahhhh... Jooooshh..."
Kali ini Hana hanya mendesah tanpa memintaku untuk berhenti. Perlahan tapi pasti aku mencapai kecepatan maksimal. Kalau dihitung, Hana sudah tiga kali kubuat orgasme. Olahraga rutin membuat staminaku cukup besar dan tahan lama. Setelah sekitar 45 menit aku terus menggenjot vaginanya, Hana seperti kehilangan kesadarannya. Akupun akhirnya sampai pada batasku.
Genjotanku semakin kencang, dan akhirnya spermaku menyemprot deras keluar memenuhi vaginanya—bahkan ada yang merembes keluar. Badanku sedikit lemas dan aku menjatuhkan diri di samping Hana. Aku melepas ikatannya, lalu menciumnya dan berkata, "Hei, kita bakal punya anak...!"
Air matanya semakin keluar lalu ia memalingkan wajahnya dariku dan menangis. Aku hanya bisa terdiam. Yang kulakukan tetap tak mengubah sikapnya. Kemudian aku sedikit menjauh dan tertidur.
Esok paginya aku segera siap-siap pergi ke kantor. Jatah cuti dua minggu yang diberikan atasanku tidak kuambil penuh karena toh aku tak bisa bersenang-senang. Aku menelepon atasanku dan mengatakan aku akan masuk kerja hari ini. Atasanku sedikit heran. Om Santo yang rencananya akan pulang pagi ini pun menanyakan hal itu.
OS: "Gimana, Josh?"
Josh: "Haaah (menghela napas)... kayaknya nggak berhasil, Pa! Dia tetap aja nggak kelihatan senang."
OS: "Ya udah, sabar aja. Nanti juga mau tak mau dia bakal deket sama kamu. Papa juga dulu sedikit maksa sama mamanya Hana, kok. Dan hasilnya..."
Josh: "Oh, haha, gitu ya, Pa. Ya udah, hati-hati di jalan, ya, Pa!"
Papa dan mamaku mengantar Om Santo dan istrinya pulang. Dan aku bersiap pergi ke kantor. Tapi ketika aku melintas di depan kamarku, Hana—yang hanya mengenakan piyama tanpa celana—berdiri di depan pintu dan terus menatapku.
Josh: "Hei, yang tadi malam, maaf ya. Aku udah kasar. Tenang aja, aku juga bakal urus perceraiannya, kok."
Aku pun segera berbalik hendak keluar rumah. Tapi tiba-tiba Hana memelukku dari belakang. Pelukannya semakin erat dan dia pun menangis.
Hana: "Seharusnya aku yang minta maaf, Josh! Aku bener-bener bodoh! Aku dari kemarin terus berusaha menjauh darimu, padahal aku ini istrimu. Aku tahu kamu bener-bener cinta sama aku. Tapi aku terus mengharap orang yang belum tentu cintanya kayak kamu. Maaf ya, Josh—aku nggak mau kamu ceraikan. Aku mau jadi istri yang baik buat kamu."
Aku terdiam dan betul-betul senang mendengar kata-katanya.
Josh: "Hana, nggak usah kayak gitu banget. Aku maafin kamu, kok. Oke, aku nggak bakal cerein kamu. Tapi gimana dengan Yota?"
Hana: "Itu bisa kuurus, kok."
Josh: "Oke deh."
Aku pun mencium bibirnya, dan sejenak kami larut dalam ciuman itu.
Hana: "Eh, udah mau ngantor? Bukannya masih ada 5 hari lagi?"
Josh: "Ah, rencananya sih emang pengen ngantor hari ini."
Hana: "Aku bikinin teh dulu ya."
Josh: "Oh, boleh-boleh."
Aku betul-betul senang. Hana sudah mulai berusaha jadi istri sepenuhnya. Aku hanya memperhatikannya meracik teh untukku dari meja makan. Melihat bodinya yang hanya berbalut piyama tipis tanpa bawahan dari belakang membuat nafsuku tiba-tiba naik.
Setelah selesai meracik tehnya, Hana tak segera menghantarkannya padaku—ia hanya memegang cangkir berisi teh hangat itu dan tersenyum menggodaku dari meja dapur. Aku jadi makin tidak tahan.
Hana lalu meletakkan tehnya kembali ke meja dapur, lalu ia naik dan duduk di atas meja dengan posisi kaki menyilang. Ia menumpu satu tangannya ke belakang dan tangan satunya mulai membuka kancing piyamanya satu persatu dari atas sambil senyum-senyum menggodaku.
UAAAAAARRRHHH!!! Aku udah nggak tahan!!! Aku pun segera menyambar Hana—dan kayaknya hari ini musti bolos ngantor. Sisa cuti 5 hari ini harus kuminta kembali kepada bosku dan kugunakan sebaik-baiknya! Yahooooo!!!