Kehidupan Seks Seorang Istri
Kehidupan Seks Seorang Istri
"Harry.."
Genggaman yang kuat dari pria berusia kurang lebih 25 tahun, tampan dan atletis, memakai jeans dan berkemeja lengan pendek namun rapi, berkulit putih dengan sorot mata tajam namun ramah, membuatku agak tergagap. Tidak sangka kalau pemijat itu sedemikian ganteng.
"Fifi," jawabku lirih.
Kami lalu duduk di ruang tamu dan perlahan suasana menjadi cair. Harry ternyata humoris dan pandai bicara, membuatku merasa nyaman mengobrol sementara suamiku tampak berbinar-binar.
"Wah, nggak nyangka lho Mas Ridwan istrinya sedemikian cantik," Harry memujiku.
"Ah, pasti klien Mas Harry banyak yang lebih cantik," kataku tersipu.
"Nggak. Kebanyakan kan Ibu Pejabat yang sudah berumur," jawabnya, memandangku dengan sorot mata yang menggoda.
"Mbak Sussy mau dimassagenya di mana? Maaf, soalnya sudah larut lho," Harry berkata lagi.
"Di kamar saja, mari," suamiku yang menjawab, lalu berdiri dan melangkah ke kamar kami diikuti Harry.
"Aku ngecek anak-anak dulu ya," aku berkata, lalu melihat keadaan kedua anakku di kamarnya masing-masing. Kusempatkan berkaca memperbaiki makeup tipis yang kukenakan, sementara jantungku berdegub kencang.
Ketika masuk ke kamar, kulihat mereka sudah menungguku. Kukunci pintu kamar, aku duduk di tepi ranjang di samping suamiku, sementara Harry duduk di kursi meja riasku.
Semua ini berawal ketika pada suatu pagi seperti biasa aku bersih-bersih di ruang kerja suamiku, sementara suamiku sudah berangkat kerja. Komputer masih dalam keadaan menyala dan ketika mousenya tersenggol secara tidak sengaja, tampak tampilan layar yang menunjukkan banyak gambar telanjang. Aku menjadi tertarik dan penasaran. Setelah kuteliti, ternyata itu adalah file yang diunduh dari sebuah situs yang dikhususkan bagi para suami yang istrinya melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain dalam segala variasinya, semuanya atas sepengetahuan dan persetujuan suaminya. Aku mulai membaca dan tanpa sadar, gairahku mulai naik.
Malam itu sehabis makan malam, suamiku tengah bersantai dengan acara TV kesukaannya. Kubawakan kopi manis lalu aku duduk di sampingnya, dan dengan hati-hati aku bertanya.
"Mas, tadi pagi kok pergi komputernya masih menyala?"
"Wah, aku lupa matiin ya? Soalnya tadi ada rapat jadi agak terburu-buru, lupa periksa," jawabnya.
"Terus kok isinya begituan sih?" tanyaku.
Suamiku tampak memerah wajahnya dan dengan lirih menjawab sambil bertanya, "Mama marah?"
"Nggak. Cuma heran saja. Maaf ya Mas, bukannya aku dengan sengaja memeriksa, tapi karena terpampang begitu kan harus di-off-kan — kalau sampai anak-anak melihat bagaimana?" jawabku.
"Maafkan Mas ya," suamiku berkata lagi.
"Mas, boleh tanya?" tanyaku lagi.
"Hmm, masa nggak boleh?" jawab suamiku.
"Kok isinya tentang wife swinging dan sejenisnya sih?" aku mulai berani bertanya.
"Memang kenapa?" tanyanya.
"Kok bukan pornografi yang umum, gitu maksudku," tanyaku mendesak.
"Ok, boleh Mas terus terang?" suamiku bertanya dengan nada khawatir.
Dengan jantung berdegub kencang aku mengangguk, dan suamiku menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun ia terobsesi pada aktivitas seks di mana seorang istri melakukan hubungan dengan laki-laki lain atas sepengetahuan dan seizin bahkan di depan suaminya, atau melakukannya bersama-sama dengan mengundang pihak ketiga. Ia juga mengatakan bahwa situs-situs tersebut digunakan untuk memancing gairahnya sehingga selalu bersemangat melayaniku, dan bahwa ia selalu berimajinasi bagaimana kalau aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain.
Sebagai seorang istri berusia 35 tahun dengan dua orang anak — yang besar sudah berusia 8 tahun sementara yang kecil 4 tahun — kesibukanku hanya terbatas pada mengurus rumah tangga, mengantar anak sekolah, fitness, dan arisan. Walau dulu aku sempat aktif waktu kuliah dan sempat bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan besar, namun sejak menikah 10 tahun yang lalu kegiatanku hanya seputar rumah tangga. Pernikahan berjalan dengan baik; suamiku seorang wiraswastawan yang berhasil dengan penghasilan lumayan besar. Kami memiliki aktivitas seksual yang normal, dalam arti kata aku maupun suamiku sama-sama mampu memuaskan pasangan masing-masing, hingga aku agak terkejut, bahkan agak marah dan merasa aneh mendengar hal itu.
"Jangan-jangan Mas ingin menjebakku supaya Mas juga bebas berselingkuh dengan wanita lain. Atau Mas sudah punya simpanan lain?" aku bertanya dengan nada agak tinggi.
"Wah, kok mikir sejauh itu sih?" jawabnya.
"Coba deh Mama baca semua penjelasan yang ada. Hal itu ternyata normal kok secara psikologis, dan ada dasar ilmiahnya. Bahkan pada pasangan yang terbuka seperti itu, angka perceraian hampir 0% lho," jawabnya diplomatis.
Pagi harinya kucoba menelusuri seluruh isi file yang kemarin dan memang ternyata suamiku tidak bohong. Banyak sekali contoh kasus, cerita, dan lainnya yang ada di sana, diunduh dari berbagai sumber, dan tidak semuanya pornografi. Ada juga yang sangat ilmiah, dan aku mempercayai suamiku bahwa ia memang benar terobsesi dengan hal tersebut.
"Mas, aku sudah memenuhi permintaan Mas untuk membaca dan mencari informasinya, tapi masa sih obsesinya seperti itu. Apa nggak ada cara supaya jangan seperti itu?" aku membuka percakapan tentang hal tersebut ketika kami sedang berduaan.
"Sudahlah, jangan dipikirin," jawabnya.
Tapi aku yang sekarang penasaran. Karena cerita dan lainnya yang kubaca pagi tadi sesungguhnya mengangkat gairahku tinggi sekali. Dan kubayangkan kalau saja...
"Bukan begitu, tapi kan aku juga mesti membantu Mas supaya hubungan kita jangan sampai terpengaruh. Apa yang bisa kulakukan?" ujarku setengah bertanya setengah menjawab.
"Mama mau... kalau..." suamiku berkata ragu-ragu.
"Mau apa?" tanyaku.
"Kalau kita mengajak orang lain dan bermain bersama?" tanyanya dengan lirih dan hati-hati.
"Wah, gila! Nggak ah," jawabku dengan wajah merah, walau hatiku sebenarnya sangat tergelitik.
"Lagian siapa yang mau dengan ibu-ibu yang sudah tua sepertiku," aku menjawab lagi dengan sedikit memancing.
"Heh, siapa bilang tua. Mama masih sangat cantik dan sexy kok," suamiku menjawab sambil mencubit mesra.
Memang sih, aku juga tahu kalau aku masih menarik. Dengan tinggi 162 cm, berat 50 kg, berkulit kuning langsat, BH berukuran 36, dan tubuh yang kujaga kesintalannya, aku masih menjadi perhatian saat berjalan di mal ataupun tempat ramai, banyak laki-laki yang memperhatikanku.
"Atau..." suamiku tampak ingin berbicara sesuatu tapi tampak ragu.
"Atau apa, Mas?" tanyaku sambil menyandarkan tubuhku padanya.
"Ng, gimana kalau kita buat percobaan, sekalian melihat reaksiku juga reaksi Mama. Tapi yang ringan dulu," suamiku berkata lagi.
"Maksudnya gimana sih?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
"Gini, kita panggil pemijat laki-laki. Kan cuma sebatas memijat, tapi minimal kita bisa mengukur reaksi masing-masing," jelas suamiku.
"Ah, nanti orangnya nggak bersih," kataku pura-pura mencoba menolak, walau sebenarnya aku anggap ide suamiku tersebut sangat baik.
"Aku tahu kok. Ada temen di kantor yang pernah coba, dia cerita pengalamannya dan diam-diam kucatat nomor telepon pemijat itu," suamiku kini mulai bersemangat menjelaskan.
"Mau kan, Ma?" tanyanya.
Wah, rupanya ide ini sudah diatur lama. Pantas saja semua sudah disiapkan. Tapi aku tidak mau tampak antusias.
"Terserah Mas saja. Terus mau di mana pijatnya?" tanyaku asal-asalan.
"Di rumah saja. Kan anak-anak sudah tidur. Kutelepon dia ya?" suamiku benar-benar bersemangat kini.
"Sekarang?" aku benar-benar surprise, namun juga tak sampai hati merusak pancaran semangat suamiku.
"Iya, Mama mau kan?" tanyanya lagi seperti anak kecil.
"Ya, terserah Papa aja deh," jawabku seakan pasrah.
"Tapi kalau orangnya nggak cocok jangan maksa ya," aku melanjutkan.
"Jelas dong. Masa kalau istriku tercinta nggak mau harus diperkosa?" jawabnya, dan lalu dengan sigap diambilnya HP lalu sibuklah dia bicara entah dengan siapa.
"Ma, jam 11. Nanti orangnya datang," katanya menyusulku di dapur.
"Hm," jawabku sambil mengaduk gelas berisi kopi.
"Ya sudah sana, biar kuselesaikan dulu pekerjaanku ini," lanjutku.
Bersambung . . . . .