18px

Kejutan Malam di Tokyo

Kejutan Malam di Tokyo

Saat itu aku sedang ditugaskan oleh perusahaan X tempat aku bekerja untuk pergi ke Tokyo selama beberapa hari guna melakukan negosiasi dengan mitra perusahaan di Jepang. Aku didampingi oleh wakil bagian keuangan โ€” sebut saja Dodi. Mengingat perjalanan kali ini agak lama, aku berinisiatif mengajak suamiku, Rio, sekaligus untuk berlibur dengan biaya sendiri. Suamiku dan Dodi dapat dengan cepat akrab karena mempunyai hobi yang sama, yaitu makan, dan selisih umur yang dekat โ€” Rio 27 tahun, Dodi 28, sedangkan aku 30 tahun. Semua berjalan lancar, namun ada kenangan tersendiri bagiku di akhir perjalanan ini.

Sore itu kami bertiga pulang dari salah satu restoran di kawasan Ginza, menghadiri good-bye party dari perusahaan yang aku kunjungi. Rupanya sake yang disuguhkan agak mempengaruhi kesadaranku, meskipun tidak sepenuhnya. Waktu kami berdua hendak masuk kamar, suamiku memberikan kunci kamar pada Dodi agar ia dapat mendahului masuk. Ia berbisik padaku bahwa akan ada kejutan dan aku tinggal menikmatinya saja. Aku terus terang saja bingung.

Setelah beberapa saat, Dodi mempersilakan kami masuk. Ia menyambut kami di dalam dengan memberikan sebuah bungkusan. "Mbak, ini ada hadiah dari kami berdua." Aku menerima bungkusan itu dan menoleh ke Rio yang tersenyum. "Terimalah."

Setelah kubuka, ternyata isinya sebuah kimono sutera tipis berwarna merah. Waduh, ini seksi sekali, pikirku. "Terima kasih ya semua." Kemudian Dodi mohon diri untuk kembali ke kamarnya. "Mas, aku coba ya," kataku sambil masuk ke kamar mandi. Kimono itu pas sekali di tubuhku, tapi sangat tipis. Pakaian dalamku bisa terlihat dengan sangat jelas. Lalu aku mencopot BH dan CD-ku โ€” lagian kenapa dipakai tidur bersama suami sendiri. Samar-samar aku mendengar pintu dibuka, tapi aku tidak sampai berpikiran ada orang yang masuk.

Setelah itu aku keluar, langsung menghadap ke suamiku yang sudah berkimono juga di kursi depan TV. "Wow." Hanya itu komentarnya. Rio selalu tegang jika melihat tits-ku, begitu juga saat itu. Penisnya kelihatan menyembul dari balik kimononya. "Rin, coba kamu lihat di belakangmu," katanya sambil tersenyum. Aku sudah tidak enak saja saat itu.

Benar saja, saat aku balik kanan, Dodi sudah berada di belakangku dalam keadaan naked! Gila memang โ€” lagian kapan dia masuk? Seribu satu pertanyaan memenuhi kepalaku. Dodi cengar-cengir saja sambil memelototi tits-ku. "Mbak, jangan marah ya, Rio setuju kok." Sepertinya aku terpana waktu dia ngomong itu dan melangkah mendekat. Napasku kian cepat saat ia mengulurkan tangannya untuk menanggalkan kimonoku. "Ahh, sangat indah, Mbak." Aku sempat melihat ia tegang begitu melihatku naked. Mm, sama besarnya dengan Rio, pikirku. Aku diam saja saat ia menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Penisnya yang besar dan tegang terasa menekan di daerah hutanku. Tangannya meraba-raba, kemudian meremas-remas tits-ku, sementara leherku ditelusuri oleh bibirnya. Perasaanku sangat excited. Ini kemudian mendorongku untuk bereaksi dengan memeluknya, membuatnya semakin menekankan tubuhnya padaku. Aku merintih saat jilatannya semakin menurun dari leher, dada, hingga klitoris โ€” nikmat rasanya. Ia kemudian bermain-main dengan clit-ku, menjilati area vaginaku dengan lidahnya yang lihai, sementara tangannya meremas-remas pantatku.

Kenikmatan ini semakin memuncak saat kurasakan tangan suamiku memainkan tits-ku dari belakang! Aku dapat merasakan penisnya menekan di antara pantatku. Ohh. Ada perasaan nikmat yang luar biasa yang kemudian mendorongku untuk merintih lebih keras, saat remasan dan jilatan kedua lelaki itu semakin dipercepat. Aku berteriak lirih saat orgasme muncul, kutekankan kepala Dodi ke vaginaku, sementara suamiku menahan tubuhku yang bergetar agar tidak jatuh.

Kemudian suamiku mengubah posisiku untuk menjilati penisnya, sementara Dodi berada di bawahku. Aku menduduki penis Dodi. Saat penisnya menerobos vaginaku, mataku terpejam merasakan kenikmatan โ€” benda panjang dan keras itu bergesekan dengan dinding vagina dan clit-ku. Belum lagi perasaan itu berlalu, aku sudah merasakan penis suamiku di dalam mulutku. Suamiku sangat suka ujung penisnya kugigit-gigit ringan. Tangan Dodi memegangi pinggulku dan mengontrol gerakanku atas penisnya.

Setelah beberapa saat, aku rasakan sperma suamiku yang manis memenuhi mulutku, begitu juga cairan hangat yang kurasakan dalam vaginaku. Malam itu kami sempat tidur bertiga dalam kehangatan.

Tamat

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’