Kejutan Verna
Kejutan Verna
Hari itu langit sudah menguning saat aku dan Verna tiba di rumahnya seusai main tenis bersama. Berhubung jalan ke rumahku masih macet karena jam bubar, Verna mengajakku untuk singgah dulu daripada terjebak kemacetan. Di pekarangan rumah Verna yang cukup luas itu tampak beberapa kuli bangunan sedang sibuk bekerja — kata Verna, di sana akan dibangun kolam ikan lengkap dengan paviliunnya. Perhatian mereka tersita sejenak oleh dua gadis yang baru turun dari mobil, terbalut pakaian tenis dan memperlihatkan sepasang paha mulus dan ramping. Verna dengan ramah melemparkan senyum pada mereka; aku juga nyengir membalas tatapan nakal mereka. Mama Verna mempersilakanku masuk dan menyuguhi kue-kue kecil plus minumannya. Aku langsung menghempaskan pantatku ke sofa dan menyandarkan raketku di sampingnya, minuman yang disuguhkan pun langsung kusambar karena lelah dan haus.
Setengah jam pertama kami lewati dengan ngerumpi tentang masalah kuliah, cowok, dan seks sambil menikmati snack dan menonton TV. Lalu Mama Verna keluar dari kamarnya dengan dandanan rapi, menandakan dia akan keluar rumah.
"Ver, Mama titip bayarannya tukang-tukang itu ke kamu ya, Mama sekarang mau ke arisan," katanya seraya menyerahkan amplop pada Verna.
"Yah, Mama jangan lama-lama. Ntar kalau Citra pulang, Verna sendirian dong, kan takut," ujarnya dengan manja. Waktu itu papanya sedang di luar kota, adik laki-lakinya Very sudah dua tahun kuliah di AS, dan pembantunya Mbok Par masih mudik.
Akhirnya kami ditinggal berdua di rumah Verna yang besar itu. Aku sebenarnya sudah mau pulang dan mandi sehabis bermain tenis, tapi Verna masih menahanku untuk menemaninya. Sebagai sobat dekat terpaksa deh aku menurutinya, lagian aku tidak bawa mobil. Di halaman depan tampak para tukang sudah beres-beres, ada pula yang sudah membersihkan badan di kamar mandi belakang.
Melihat mereka sudah bersih-bersih, aku jadi ingin menyegarkan badan juga. Aku mengajak Verna mandi bareng, tapi dia menyuruhku mandi duluan di kamar mandi kamarnya — nanti dia akan menyusul sesudah para tukang selesai dan dia membayarkan uang titipan Mamanya, sekalian menghabiskan rokoknya yang tinggal setengah. Aku pun meninggalkannya menonton TV di ruang tengah dan menuju ke kamarnya. Di kamar mandi aku langsung menanggalkan pakaian lalu memutar kran shower yang langsung mengucurkan air mengguyur tubuh bugilku. Air hangat memberiku kesegaran setelah seharian berkeringat karena olahraga. Rasa nyaman itu kuekspresikan dengan bersenandung kecil sambil menggosokkan sabun ke sekujur tubuhku. Lima belas menit kemudian aku sudah selesai mandi, kukeringkan tubuhku lalu kulilitkan handuk. Aku sudah beres, tapi anehnya Verna belum muncul juga — bahkan pintu kamar pun tidak terdengar dibuka, padahal dia bilang sebentar saja.
Aku ingin meminjam bajunya karena bajuku sudah kotor dan bau keringat, jadi harus bilang dulu padanya.
"Ver... Ver, sudah belum? Aku mau pinjam baju kamu nih!" teriakku dari kamar.
Tidak terdengar jawaban. Ada apa ya, pikirku — apakah dia sedang di luar meninjau para tukang sehingga suaraku tidak terdengar? Waktu aku lagi bingung sendirian, terdengarlah pintu diketuk.
"Nah, ini dia baru datang," kataku dalam hati.
Aku pun menuju ke pintu dan membukanya sambil berkata, "Huuh, lama banget sih, Ver, lagian ngapain pakai ngetok...!" Rasa kaget memotong kata-kataku begitu melihat beberapa orang pria sudah berdiri di ambang pintu. Dua di antaranya langsung menangkap lenganku dan yang sebelah kanan membekap mulutku dengan tangannya yang besar.
Belum hilang rasa kagetku, mereka dengan sigap menyeretku kembali ke dalam kamar. Aku mulai mengenali wajah-wajah mereka — ternyata para kuli bangunan dari bawah tadi, semuanya empat orang.
"Apa-apaan ini, lepasin saya! Tolong!" teriakku dengan meronta-ronta.
Tapi salah seorang dari mereka — yang lengannya bertato — dengan tenangnya berkata, "Teriak aja sepuasnya, Neng. Di rumah ini sudah nggak bakal ada yang dengar kok."
Mendengar itu pikiranku langsung terbesit 'Verna' — mana dia? Jangan-jangan terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Aku pun makin meronta dan menjerit memanggil namanya. Tak lama kemudian masuklah Verna, tangannya memegang sebuah handycam Sony model terbaru. Sejenak aku merasa lega karena dia baik-baik saja, tapi perasaanku lalu menjadi aneh melihat Verna menyeringai seram.
"Ver, apa-apaan nih? Mau ngapain sih kamu?" tanyaku padanya.
Tanpa mempedulikan pertanyaanku, dia berkata pada para kuli bangunan itu, "Nah, Bapak-bapak, kenalin — ini temen saya, Citra namanya. Dia seneng banget dientot, apalagi kalau dikeroyok, jadi silakan dinikmati tanpa malu-malu, gratis kok!"
Dia juga memperkenalkan para kuli itu padaku satu per satu. Yang lengannya bertato adalah mandornya, bernama Imron, usianya sekitar empat puluhan — dipanggil Bos oleh teman-temannya. Di sebelah kiriku yang berambut gondrong sebahu dan kurus tinggi bernama Kirno, usianya sekitar tiga puluhan. Yang berbadan paling besar di antara mereka sedang memegangi lengan kananku bernama Tarman, sebaya dengan Imron. Sedangkan yang paling muda, kira-kira dua puluh lima tahun, bernama Dodo — wajahnya paling jelek di antara mereka dengan bibir agak monyong dan mata besar. Keempatnya berbicara dengan logat Madura.
"Gila kamu, Ver! Lepasin aku!" Aku berontak, tapi dalam hatiku justru ingin melanjutkan kegilaan ini.
"Tenang, Ci. Ini baru namanya surprise — sekali-kali coba produk kampung dong," katanya menirukan ucapanku waktu mengerjainya di vila dulu. Habis berkata itu, bibirnya dengan cepat memagut bibirku. Kami berciuman beberapa detik sebelum dia menarik lepas mulutnya, bersamaan dengan menghentakkan handuk yang melilit tubuhku. Mereka bersorak kegirangan melihat tubuh bugilku.
"Wah, tetek ini montok banget, bikin gemas aja!" seru Tarman sambil meremas payudara kananku.
"Ini jembut nggak pernah dicukur ya, lebat banget!" timpal Kirno yang mengelus kemaluanku, lalu merundukkan kepalanya untuk melumat payudara kiriku. Sementara di belakangku, Dodo berjongkok dan asyik menciumi pantatku yang padat. Tangannya yang tadinya cuma merabai paha mulusku mulai menyusup ke belahan pantatku dan mencucuk-cucukkan jarinya di sana.
Di hadapanku, Pak Imron melepaskan pakaiannya — tubuhnya cukup berisi meski perutnya agak berlemak, penisnya sudah mengacung tegak karena nafsunya. Dia meraba-raba kemaluanku; Kirno yang sebelumnya menguasai daerah itu bersikap mengalah dan melepaskan tangannya agar mandornya lebih leluasa. Wajah Pak Imron mendekati wajahku, dia menghirup bau harum dari tubuhku.
"Hmm, si Non ini sudah wangi, cantik lagi!" pujinya sambil membelai wajahku.
"Iya, Bos, di sini juga wangi loh!" timpal Dodo dari tengah aktivitasnya menciumi daerah pantatku.
Diperlakukan seperti itu bulu kudukku merinding. Sentuhan-sentuhan nakal pada bagian-bagian terlarangku membuatku serasa hilang kendali. Gerak tubuhku seolah-olah mau berontak, namun walau dilepas sekalipun aku tidak akan berusaha melarikan diri — tanggung sudah terangsang berat. Merasa sudah menaklukkanku, kedua kuli di samping melonggarkan pegangannya pada lenganku.
Adegan panas ini terus direkam Verna dengan handycam-nya sambil menyoraki kami.
"Aahh, jangan... Ver, jangan disyuting... ngghh... matiin handy... hhmmhh!" kata-kataku terpotong oleh Pak Imron yang melumat bibirku dengan bernafsu. Aku yang sudah terangsang membalas ciumannya dengan penuh gairah.
"Acchh... ahhkk... cckk" — bunyi mulut dan lidah kami beradu. Aku makin menggeliat kegelian ketika Kirno menaikkan lenganku dan menciumi ketiakku yang tak berbulu.
"Ayo, Ci, gaya kamu oke banget, pasti lebih heboh dari bokep Itenas tuh," Verna menyemangati sambil mencari sudut-sudut pengambilan gambar yang bagus. Dia fokuskan kameranya ketika aku sedang diciumi Pak Imron, saat bersilat lidah hingga liur kami menetes-netes. Badanku bergetar seperti kesetrum dan tanpa sadar kubuka kedua pahaku lebih lebar sehingga membuka lahan lebih luas bagi lidah Dodo bermain-main di lubang anusku, juga jari-jari yang mengocok vaginaku. Aku tidak dapat melihat jelas lagi jari-jari siapa saja yang mengelus ataupun keluar-masuk di sana, saking hanyutnya dalam birahi.
Mereka menggiring dan mendudukkanku di tepi ranjang. Kirno dan Tarman mulai melepas pakaian mereka, sedangkan Dodo entah sejak kapan sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kini mereka berempat yang sudah bugil berdiri mengerubungiku dengan keempat senjatanya ditodongkan di depan wajahku. Aku sempat terperangah melihat penis mereka yang sudah mengeras — semuanya hitam dan besar, rata-rata berukuran 17-20 cm.
"Ayo, Non, tinggal pilih mau yang mana duluan," kata Pak Imron.
Aku meraih penis Pak Tarman yang paling panjang, kubelai dan kujilati sekujur permukaannya termasuk pelirnya, kemudian kumasukkan ke mulut dan kuemut-emut.
"Heh, jangan cuma si Tarman aja dong, Non — saya juga mau nih," tegur Kirno seraya menarik tanganku dan menempelkannya pada penisnya.
"Iya nih, saya juga," sambung Dodo menarik tanganku yang lain.
"Mmhh... eenngg...!" gumamku saat menyepong Pak Tarman sementara kedua tanganku menggenggam dan mengocok penis Dodo dan Kirno. Sambil menikmati penis-penis itu, mendadak kurasakan kakiku direnggangkan dan ada sesuatu di bawah sana. Oh, ternyata Pak Imron berjongkok di hadapan selangkanganku. Tangannya membelai paha mulusku dan berhenti di vaginaku, lalu dia membuka bibirnya dan mendekatkan wajahnya ke sana. Kurasakan lidahnya mulai menyentuh dinding vaginaku dan menari-nari di sana. Sungguh luar biasa kenikmatan itu — aku pun semakin liar, membuka pahaku lebih lebar agar Pak Imron lebih leluasa. Hal itu juga berpengaruh pada kocokan dan kulumanku yang makin intens terhadap ketiga pria yang sedang kulayani penisnya. Mereka mengerang-ngerang merasakan nikmatnya pelayanan mulutku secara bergantian. Saking sibuknya aku sampai tidak tahu lagi tangan-tangan siapa saja yang tak henti-hentinya menggerayangi payudaraku.
Setelah cukup dengan pemanasan, mereka membaringkan tubuhku di tengah ranjang. Pak Imron langsung mengambil posisi di antara kedua pahaku, siap memasukkan penisnya. Tanpa ba-bi-bu lagi dia mulai menancapkan miliknya padaku. Ukurannya tidak sebesar milik Pak Tarman, tapi diameternya cukup lebar sesuai bentuk tubuhnya sehingga vaginaku terkuak lebar-lebar dan agak perih. Verna mendekatkan kameranya pada daerah itu saat proses penetrasi yang membuatku merintih-rintih. Pak Imron mulai menghentak-hentakkan pinggulnya — mulanya pelan, tapi semakin lama goyangannya semakin kencang membuat tubuhku tersentak-sentak. Teman-temannya juga tidak tinggal diam, menjilati, mengulum, dan menggerayangi sekujur tubuhku. Dodo sedang asyik menjilat dan mengenyot payudaraku, terkadang menggigit putingku. Pak Tarman menggelitiki telingaku dengan lidahnya sambil tangannya meremasi payudaraku yang satunya. Sementara tangan kananku sedang mengocok penis Kirno. Pokoknya benar-benar ramai rasanya — ya geli, ya nikmat, ya perih, semua bercampur jadi satu.
Aku mengerang-ngerang sambil mengomeli Verna yang terus merekamku.
"Awww, awas kamu, Ver, ntar... aku... aahh... liat aja... oohh... ntar!"
"Yaah, masa kamu kalah sama Indah, Ci — dia aja sudah ada bokepnya, sekarang aku juga mau bikin yang kamu nih," ujarnya dengan santai. "Hmm, judulnya apa ya... Citra Cewek Gila... wah, pasti seru deh!"
Kini sampailah aku pada saat yang menentukan — tubuhku mengejang hebat sampai menekuk ke atas, disusul dengan mengucurnya cairan cintaku. Kirno juga jadi ikut mengerang karena genggamanku pada penisnya mengencang dan kocokanku makin bersemangat. Pak Imron sendiri belum memperlihatkan tanda-tanda akan klimaks — kini dia malah membalikkan tubuhku dalam posisi doggy tanpa melepas penisnya, lalu melanjutkan genjotannya dari belakang.
Waktu aku masih lemas dan kepala tertunduk, tiba-tiba Dodo menarik rambutku dan penisnya sudah mengacung di depan wajahku. Aku pun melakukan apa yang harus kulakukan — benda itu kumasukkan dalam mulut. Kumulai dengan mengitari kepalanya yang seperti jamur itu dengan lidahku serta menyapukan ujung lidahku di lubang kencingnya, selanjutnya kumasukkan benda itu lebih dalam ke mulut dan kukulum dengan nikmatnya. Tentu saja hal ini membuat Dodo blingsatan keenakan; penisnya ditekan makin dalam sampai menyentuh kerongkonganku, dan dia juga memaju-mundurkan penisnya sehingga aku agak kelabakan. Setiap kali Pak Imron menghujamkan penisnya, penis Dodo semakin masuk ke mulutku sampai wajahku terbenam di selangkangannya — begitu pun sebaliknya, ketika Dodo menyentakkan penisnya, penis Pak Imron semakin melesak ke dalamku. Pak Tarman yang menunggu giliran berlutut di sampingku sambil meremas payudaraku yang menggantung. Pak Imron mendekati puncak, dia mencengkam pinggulku erat-erat sambil melenguh nikmat, genjotannya semakin cepat sampai akhirnya menyemburkan cairan putih pekat di rahimku.
Sesudah Pak Imron mencabut penisnya, Dodo mengambil alih posisinya. Namun sebelum sempat memulai, Kirno menyela:
"Kamu dari bawah aja, Do — masak dari tadi aku cuma ngerasain tangannya aja sih, aku pengen ininya!" katanya sambil mencucukkan jarinya ke anusku sehingga aku menjerit kecil.
Mereka pun sepakat. Aku menaiki penis Dodo yang berbaring telentang — benda itu masuk dengan lancarnya karena vaginaku sudah licin oleh cairan kewanitaanku ditambah mani Pak Imron yang banyak itu. Kemudian dari belakang Kirno mendorong punggungku ke depan sehingga pinggulku terangkat. Aku merintih-rintih ketika penisnya melakukan penetrasi pada anusku.
"Uuhh, waduh, sempit banget nih lubang!" desahnya menikmati sempitnya anusku.
Kedua penis ini mulai berpacu keluar-masuk vagina dan anusku seperti mesin. Dodo yang berada di bawah menciumi leher depanku dan meninggalkan bekas merah.
"Ooohh... aahh... eenngghh," suara lirih keluar dari mulutku setiap kali kedua penis itu menekan kedua liang senggamaku dengan kuat.
Di sebelahku kulihat Verna sudah mulai dikerjai Pak Imron dan Tarman yang sudah tidak sabar karena penisnya belum kebagian jatah dari tadi. Verna terus mensyutingku walaupun tangan-tangan jahil itu terus menggerayanginya, sesekali dia mendesah. Tangan Pak Tarman menyusup lewat bawah rok tenisnya dan kaos putihnya sudah disingkap oleh Pak Imron. Dengan cekatan, Pak Imron membuka kait BH-nya, menyebabkan BH yang melingkar di dadanya itu jatuh, dan terlihatlah buah dada montok Verna dengan puting kemerahan yang mencuat. Pak Tarman langsung melumat yang sebelah kiri sambil tangannya menggosok-gosok kemaluannya dari luar; yang sebelah kanan diremas Pak Imron sambil menciumi lehernya. Ikat rambut Verna ditariknya hingga rambut indahnya tergerai sampai punggung.
"Aahh, jangan sekarang, Pak... sshh," desah Verna dengan suara bergetar.
Pak Imron mengambil handycam dari tangan Verna dan meletakkannya di rak kecil pada ujung ranjang, diaturnya sedemikian rupa agar alat itu menangkap gambar kami semua. Desahan Verna makin seru saat jari-jari Pak Tarman keluar-masuk vaginanya lewat samping celana dalamnya. Kedua payudaranya menjadi bulan-bulanan mereka berdua — keduanya dengan gemas meremas, menjilat, mengulum, juga memain-mainkan putingnya. Payudara Verna memang paling menggemaskan di antara kami berempat. Pak Imron duduk berselonjor bersandar pada ujung ranjang, disuruhnya Verna melakukan oral seks. Tanpa disuruh lagi Verna pun menunduk hingga pantatnya nungging. Digenggamnya penis yang hitam berurat itu, dikocok sejenak lalu dimasukkan ke mulutnya. Dari belakang, Pak Tarman menarik lepas celana dalamnya, lalu mulai menjilati kemaluan Verna yang sudah becek — posisi Verna yang menungging membuatnya sangat leluasa menjelajahi kemaluannya sampai anusnya dengan lidah. Mereka melakukan oral seks berantai.
Pak Imron memegang handycam dan mengarahkannya pada Verna yang sedang mengulum penisnya, terkadang alat itu juga diarahkan padaku yang sedang disenggamai Kirno dan Dodo. Sudah cukup lama aku bertahan dalam posisi ini. Payudaraku rasanya panas dan memerah karena terus dikenyot dan diremas Dodo yang di bawahku. Dodo lalu menarik wajahku — bibir mungilku bertemu mulutnya yang monyong, lidahnya bermain liar dalam mulutku, wajahku juga dijilati sampai basah. Kirno yang sedang menyodomiku mengelus punggung dan pantatku. Mungkin karena sempitnya, Kirno orgasme duluan. Dia mengerang dan mempercepat genjotannya hingga akhirnya melepas penisnya lalu buru-buru pindah ke depan untuk menyiramkan spermanya di wajahku. Pak Imron mendekatkan handycam saat sperma Kirno muncrat membasahi wajahku. Wajahku basah bukan saja oleh keringat, tapi juga oleh ludah Dodo dan sperma Kirno yang kental dan banyak itu. Dodo bilang aku jadi lebih cantik dan menggairahkan dengan kondisi demikian, maka kubiarkan saja wajahku belepotan, bahkan kujilati cairan yang menempel di pinggiran mulutku.
Lepas dari Kirno, aku masih harus bergumul dengan Dodo dalam posisi woman on top. Aku menggoyangkan pinggulku dengan liar di atas penisnya, makin terangsang melihat ekspresi kenikmatan di wajahnya — dia meringis dan mengerang, terutama saat aku membuat gerakan meliuk yang membuat penisnya seolah-olah dipelintir. Kamar ini bertambah gaduh dengan desahan Verna yang sedang disodoki Pak Tarman dari belakang; dari depannya Pak Imron menopang tubuhnya sambil menyusu dari payudaranya. Kirno yang sedang beristirahat diserahi tugas mensyuting adegan kami.
Tidak sampai sepuluh menit setelah Kirno melepaskanku, tubuhku pun mulai mengejang dan kugoyangkan tubuhku lebih gencar. Akhirnya aku kembali mencapai orgasme bersamaan dengan Dodo. Tubuhku ambruk telentang, dan Dodo menyiramkan spermanya bukan hanya di wajahku tapi juga di leher dan dadaku.
"Hei, sialan lu! Aku belum ngentot sama tuh cewek, udah lu mandiin pakai peju lu!" tegur Pak Tarman yang sedang menggenjot Verna dalam logat daerah yang kental.
"Huehehe, tenang dong, Bos — suruh aja si Non ini yang bersihin," jawab Dodo sambil menarik kepala Verna mendekati wajahku. "Ayo, Non, minum tuh peju!"
Tanpa merasa jijik, Verna yang sudah setengah sadar itu mulai menjilati wajahku yang basah, lidahnya terus menyapu cairan putih itu hingga mulut kami bertemu. Beberapa saat kami berpagutan, lalu lidah Verna merambat turun lagi, ke leher dan payudara. Selain menjilati ceceran sperma, dia juga mengulum buah dadaku — putingku digigitnya pelan dan diemut. Sebuah tangan lain mendarat di payudaraku yang satu. Kulihat Kirno sudah berlutut di sebelahku sambil mengarahkan handycam ke arah kami.
Aku merasakan kedua pahaku dibuka, lalu kemaluanku yang sudah basah dilap dengan tisu. Dodo telah memposisikan kepalanya di antara pangkal pahaku dan lidahnya mulai menjilati pahaku. Diperlakukan demikian aku jadi kegelian sehingga paha mulusku makin mengapit kepalanya. Lidahnya semakin mengarah ke vaginaku dan badanku menggeliat diiringi desahan ketika lidahnya yang basah itu bersentuhan dengan bibir vaginaku lalu menyapunya dengan jilatan panjang menyusuri belahannya. Lidah itu juga memasuki vaginaku lebih dalam, menyentuh klitorisku. Aku serasa terbang tinggi dengan perlakuan mereka — belum lagi Kirno yang terus memilin-milin putingku dan Verna yang menjilati tubuhku. Dalam waktu singkat selangkanganku mulai basah lagi. Dodo mengisap vaginaku dalam-dalam, sesekali mengapitkan klitorisku dengan bibirnya. Aku mengerang keras, kakiku mengapit erat kepalanya melampiaskan perasaan yang tak terlukiskan.
Aku mendengar Pak Tarman menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan genjotannya terhadap Verna makin kencang, ranjang ini semakin bergetar karenanya. Verna sendiri tidak kalah serunya — dia menjerit-jerit karena payudaranya yang montok itu digerayangi dengan brutal oleh Pak Tarman, dan agaknya dia pun sudah mau orgasme. Akhirnya jeritan panjang mereka membahana di kamar itu — mereka mengejang hebat selama beberapa saat. Keringat di wajah Verna menetes-netes di dada dan perutku dan dia jatuhkan kepalanya di perutku setelah Pak Tarman melepasnya. Pak Imron yang menunggu giliran langsung meraih tubuhnya yang masih lemas dan menaikkannya ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Tangannya yang kekar membentangkan lebar-lebar paha Verna dan menurunkannya hingga penis yang terarah ke vagina Verna tertancap. Penis itu melesak masuk disertai lelehan sperma Pak Tarman yang tertampung di rongga itu. Sejenak kemudian tubuh Verna sudah naik turun di pangkuan Pak Imron.
Puas menjilati vaginaku, kini Dodo membalik tubuhku dalam posisi doggy. Penisnya diarahkan ke vaginaku dan dengan sekali hentakan masuklah penis itu. Dodo memompakan penisnya padaku dengan cepat sekali sampai aku kesulitan mengambil napas — kenikmatan yang luar biasa ini kuekspresikan dengan erangan dan geliat tubuhku. Kemudian Pak Tarman yang sudah pulih menarik kepalaku yang tertunduk, lalu menjejali mulutku dengan penisnya. Jadilah aku disenggamai dari dua arah — selain itu payudaraku pun tidak lepas dari tangan-tangan kasar mereka, putingku dipencet, ditarik, dan dipelintir. Selama lima belas menit digempur dari belakang dan depan, akhirnya aku tidak tahan lagi. Lolongan panjang keluar dari mulutku bersamaan dengan Verna yang juga telah orgasme di pangkuan Pak Imron. Tak sampai lima menit kemudian Dodo menyemburkan maninya di dalam rahimku.
Pak Tarman menggantikan posisi Dodo — aku dibaringkan menyamping dan kaki kananku diangkatnya ke bahunya. Dia mendorong penisnya ke vaginaku. Rasanya sedikit nyeri karena ukurannya yang besar; aku sampai merintih dan meremas kain sprei, padahal itu belum masuk sepenuhnya. Beberapa kali dia melakukan gerakan tarik-dorong untuk melicinkan jalan masuk bagi penisnya, hingga dorongan yang kesekian kali akhirnya benda itu masuk seluruhnya.
"Aakkhh, sakit, Pak... aduh," aku mengerang kesakitan karena dia melakukannya agak paksa.
Dia berhenti sejenak untuk membiarkanku beradaptasi, baru kemudian mulai menggenjotku — frekuensinya meningkat sedikit demi sedikit. Urat-urat penisnya terasa sekali bergesekan dengan dinding vaginaku. Aku dibuatnya mengerang-ngerang tak karuan, mataku menatap kosong ke arah handycam yang sekarang sudah berpindah ke tangan Pak Imron.
Verna kini sedang digumuli oleh Kirno dalam posisi yang sama, saling berhadapan denganku. Kuraih tangannya sehingga telapak tangan kami saling menggenggam. Kucoba berbicara dengannya dengan napas tersenggal-senggal.
"Ahh, Ver, yang ini... ngghh... gede amat."
"Iyah, yang ini juga... ahh, gila, nyodoknya mantap!" jawabnya.
Kemudian aku merasakan sebuah lidah menggelitik telingaku — ternyata itu Dodo. Tangannya tidak tinggal diam, ikut bergerilya di payudaraku. Bulu kudukku merinding ketika lidahnya menyapu tepat di tengkuk dan belakang telingaku yang cukup sensitif. Pak Tarman menyodokku demikian keras sambil tangannya meremasi pantatku. Untung saja aku sudah terbiasa dengan permainan kasar seperti ini, kalau tidak tentu aku sudah pingsan sejak tadi.
Tiba-tiba Verna mendesah lebih panjang dan menggenggam tanganku lebih erat, tubuhnya bergetar hebat — nampaknya dia mau orgasme.
"Iyah, terus, Mas... ahh... ahh... Ci, gua keluar... akkhh!" desahnya bersamaan dengan tubuhnya menegang selama beberapa saat lalu melemas kembali.
Ternyata Kirno masih belum selesai dengan Verna. Kini dia membaringkan tubuhnya, melepaskan kaos tenis Verna yang tersingkap, maka yang tersisa di tubuh Verna tinggal rok tenis yang mini, seuntai kalung di lehernya, dan sebuah arloji di lengannya. Kemudian dia menaiki dada Verna dan menyelipkan penisnya di antara kedua gunung itu, mengocoknya dengan himpitan daging kenyal itu. Tak lama spermanya berhamburan ke wajah dan dada Verna, lalu Kirno mengusap sperma di dadanya sampai merata sehingga payudara Verna jadi basah dan berkilauan. Dodo yang sebelumnya menggerayangiku sekarang sudah pindah ke selangkangan Verna, memasukkan dua jari untuk mengobok-obok vaginanya sambil mengelus-elus paha dan pantatnya.
Aku tinggal melayani Pak Tarman seorang saja, tapi tenaganya seperti tiga orang. Sudah tiga kali kami berganti posisi tapi masih saja belum menunjukkan tanda-tanda sudahan, padahal badanku sudah basah kuyup baik oleh keringat maupun sperma, dan suaraku juga sudah hampir habis untuk mengerang. Sekarang dia sedang menggenjotku dengan posisi selangkangan terangkat ke atas dan dia menyodokiku dari atas dengan setengah berdiri. Belasan menit dalam posisi ini barulah dia mencabut penisnya dan badanku langsung ambruk ke ranjang. Belum sempat aku mengatur napas, dia sudah menempelkan penisnya ke bibirku dan menyuruhku membuka mulut. Cairan putih kental langsung menyembur ke wajahku — karena semprotannya kuat, cairan itu bukan cuma muncrat ke mulut, tapi juga hidung, pipi, dan sekujur wajahku. Yang masuk mulut langsung kutelan agar tidak terlalu berasa karena baunya cukup menyengat.
Verna masih sibuk menggoyang-goyangkan tubuhnya di atas penis Dodo, kedua tangannya menggenggam penis Pak Imron dan Kirno yang masing-masing berdiri di sebelah kiri dan kanannya. Secara bergantian dia mengocok dan menjilati penis-penis di genggamannya itu. Kedua pria itu dalam waktu hampir bersamaan menyemburkan spermanya ke tubuh Verna. Seperti shower, cairan putih itu menyemprot dengan derasnya membasahi muka, rambut, leher, dan dada Verna. Mereka nampak puas sekali melihat keadaan temanku seperti itu. Pak Imron yang memegang handycam mendekatkan benda itu ke arahnya.
"Mandi peju, tengah malam..." demikian senandung Pak Tarman menirukan irama sebuah lagu dangdut saat mengomentari adegan itu.
Setelah orang terakhir, yaitu Dodo, orgasme, kami semua terbaring di ranjang spring bed itu. Kamar ini hening sejenak — yang terdengar hanya deru napas terengah-engah. Verna telentang di atas badan Dodo, wajahnya tampak lelah dengan tubuh bersimbah peluh dan sperma, namun tangannya masih dapat menggosok-gosokkan sperma di tubuhnya serta menjilati yang menempel di jarinya.
Pak Tarman yang pulih paling awal melepaskan dekapannya padaku dan berjalan ke kamar mandi. Sebentar saja dia sudah keluar dengan muka basah lalu memunguti bajunya. Kuli lainnya pun mulai beres-beres untuk pulang. Mereka mengomentari bahwa kami hebat dan berterima kasih diberi kesempatan menikmati "hidangan" seperti ini dengan gratis. Verna memakai kembali bajunya untuk mengantar mereka ke pintu gerbang. Mereka berpamitan padaku dengan mencium atau meremas organ-organ kewanitaanku. Verna baru kembali lima belas menit kemudian karena katanya dia diperkosa lagi di taman sebelum mereka pulang.
Terpaksa deh aku harus mandi lagi — badanku jadi keringatan dan lengket lagi. Kami berendam bersama di bathtub Verna yang indah sambil menonton "film porno" yang kami bintangi sendiri melalui handycam itu. Lumayan juga hasilnya meskipun kadang gambarnya goyang karena yang mensyuting ikut berpartisipasi. Rekaman itu kami transfer menjadi VCD hanya untuk koleksi pribadi geng kami. Kami sempat beradegan sesama wanita sebentar di bathtub karena terangsang dengan rekaman itu.
Malam itu aku menginap di rumah Verna karena sudah kemalaman dan juga lelah. Kami terlebih dulu mengganti sprei yang bekas bersenggama dengan yang baru agar nyaman tidur. Pagi harinya setelah sarapan dan berpamitan pada mama Verna, kami menuju ke halaman depan dan naik ke mobil. Di sana kami berpapasan dengan keempat tukang bangunan yang senyum-senyum ke arah kami — kami pun membalas tersenyum, lalu Verna mulai menjalankan mobil. Kami keluar dari rumahnya dengan kenangan gila dan mengasyikkan.