18px

Kencan Rahasia di Villa Bogor

Kencan Rahasia di Villa Bogor

Sesuai janji, tepat pukul 12 aku sudah duduk di bangku warung gado-gado Boplo yang sangat terkenal di seantero Jakarta itu. Harganya selangit — untuk seporsi gado-gado, Rendi harus membayar Rp 25.000, bandingkan dengan tukang gado-gado di dekat rumah yang hanya Rp 2.500, sepuluh kali lipatnya. Tiba-tiba, saat menunggu pesanan, sebuah sedan Lancer masuk dan parkir tepat di samping mobil Rendi. Tampak Rendi terkejut. Dia berkata bahwa itu mobil teman kantornya.

Kemudian kulihat dua orang turun dari mobil itu. Cukup keren juga penampilan mereka. Rendi nampak gugup tapi tidak bisa mengelak. Teman-temannya itu langsung menatap dan menghampiri kami.

"Hai, ketemu di sini, nih... asyik juga, ya."

Mau tidak mau, Rendi terpaksa memperkenalkan mereka kepadaku. Yang bernama Burhan cukup jangkung dengan kulit agak gelap. Yang satunya bernama Wijaya, nampaknya keturunan Tionghoa, tubuhnya berotot seperti binaragawan. Mereka tersenyum ramah kepadaku. Saat Rendi menyebut bahwa aku adalah Bu Adit, mereka tidak terlalu terkejut — hanya mata-mata nakal mereka yang seakan ingin melahap tubuhku.

"Kami pernah melihat Ibu di tempat Pak Anggoro, bos kami, saat ada pesta tunangan putranya," begitu mereka menjelaskan.

Aku mencoba mengingat-ingatnya. Kemudian mereka mencari tempat duduk yang agak berjauhan dari kami. Aku setuju saja saat Rendi mengusulkan untuk kembali ke villa di Bogor, dan kami segera bergegas agar punya waktu lebih panjang untuk berasyik-masyuk di sana.

Saat beranjak meninggalkan warung, kami melambai kepada teman-teman Rendi yang juga teman suamiku itu. Mereka membalasnya, dan kulihat mata Burhan yang nakal mengernyitkan alis sambil melepas senyum. Ah, dia tampak jantan juga. Dengan kulitnya yang agak gelap, seperti apa ya kontolnya — pikiran gatalku lewat begitu saja.

Sepanjang jalan Rendi lebih banyak diam. Mungkin dia agak panik hingga hilang mood-nya. Tapi aku berusaha menenangkannya. Biasanya antarlaki-laki tak akan membocorkan rahasia temannya. Kutepuk pundaknya supaya tenang. Sepertinya dia ingin menunda kencan selingkuh ini, tapi tampaknya dia malu kalau dianggap pengecut olehku. Lagian, mana aku mau! Persetan dengan teman-teman Rendi yang juga teman suamiku itu.

Tepat pukul 2 kami sudah memasuki halaman villa. Pak Samin membukakan pintu halaman. Rendi memarkirkan mobilnya di tempat parkir kemarin. Kami turun dari mobil dan aku menaiki tangga villa, sementara Rendi menemui Pak Samin sebentar. Begitu memasuki kamar yang sama seperti kemarin, kami langsung berpagutan. Kali ini kami saling menikmati pagutan cukup lama. Nampaknya Rendi sudah tidak lagi terpengaruh oleh teman-temannya tadi.

Kubuka ikat pinggangnya, kancing celananya, resleting-nya. Kulepaskan celananya dan kulemparkan ke bangku di kamar. Begitu pula kemejanya, hingga yang tersisa hanya celana dalamnya. Hal yang paling kusukai adalah melihat Rendi setengah telanjang seperti itu. Sebelum aku sendiri melucuti kaos oblongku, Rendi mencium pusarku yang sejak tadi begitu menarik libidonya. Aku menikmatinya sepenuh hati. Kuelus-elus kepala Rendi yang bibirnya sedang melumat pusarku dengan lembut. Kemudian, dengan hanya membuka blus dan BH-ku sehingga tampak payudaraku yang terlepas — tanpa menanggalkan celana jeansku — kudorong Rendi ke ranjang. Aku terobsesi mengulangi seperti kemarin: mencium lehernya, menjilati dan menggigit dadanya serta lembah harum ketiaknya.

Rendi hanya pasrah dan membiarkanku menikmati apa yang ingin kunikmati dari tubuhnya. Dia hanya mendesah, sesekali mengelus kepalaku sambil menyibakkan rambutku agar tidak menggangguku.

Tiba-tiba terdengar pintu halaman villa berderit. Ada yang datang. Rendi buru-buru bangkit — kali ini kulihat dia sangat terkejut. Aku menyusul bangkit untuk melihat siapa yang datang. Ternyata sedan Lancer itu lagi. Rupanya Burhan dan Wijaya sengaja membuntuti kami. Rendi memukul tangannya sendiri menahan kekesalan. Aku berusaha tetap tenang. Kulihat Burhan dan Wijaya turun dari mobil dan menaiki tangga villa, lalu langsung duduk di beranda. Rendi yang sangat kesal buru-buru berpakaian — tidak terlampau rapi — dan dengan terpaksa keluar menemui kedua temannya itu.

"Huh, kamu membuntuti aku ya!" nada bicaranya sangat tidak bersahabat.

"Ah, nggak kok, kami memang sering main ke villa Pak Anggoro ini. Ya, omong-omong, bagi-bagi dong," Burhan menyahut sewotnya Rendi dan dengan santai menyampaikan keinginan untuk ikut mendapat bagian.

Aku tahu persis yang dimaksud: mereka minta kesempatan untuk ikut menikmati tubuhku, sementara suamiku — yang adalah teman mereka sendiri — sedang bertugas ke luar kota. Hatiku berdesir mendengar omongan mereka. Aku mencoba mengintip dari celah pintu. Nampak Rendi menempelkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar tidak terlalu keras bicara karena takut aku mendengar.

"Memangnya kenapa? Mungkin dia suka juga kita main bertiga," kata salah satu dari mereka. Kurang ajar.

Kuperhatikan mereka semua. Rupanya mereka ini adalah serigala-serigala yang lapar. Lama mereka saling berbisik tanpa ada jalan keluar. Tiba-tiba ada sesuatu yang menjalar dalam darahku — sesuatu yang sangat menggairahkan, sesuatu yang mungkin akan memberikan sensasi luar biasa bagiku. Exciting dan sensasional, yang akan membakar seluruh atom dalam tubuhku. Aku membayangkan seandainya saja mereka bertiga telanjang bulat, dengan kontol-kontol mereka yang ngaceng berat mengerumuniku yang terjongkok di lantai, sementara tangan-tangan mereka mengocok kontolnya masing-masing dan bersiap sewaktu-waktu muncrat menghujani muka, rambut, dan mulutku. Aku akan menganga selebar-lebarnya agar sperma mereka tidak terbuang sia-sia. Aku jadi horny sekali.

Kutengok lagi mereka dari celah pintu. Belum ada solusi. Sementara itu libidoku mendesak nafsu birahi yang datang dari bayanganku tentang mereka yang telanjang dan menyemprotiku dengan spermanya. Aku tidak lagi mampu bersabar. Kukuakkan pintu kamar itu — dan mereka semua, Rendi, Burhan, dan Wijaya, serentak menoleh.

Dengan dada yang telah terbuka, kehadiranku langsung membuat mereka tertegun — entah kaget, entah heran, entah bernafsu. Dan aku, sambil melepas senyum, menikmati adegan saat para serigala lapar itu memelototkan mata kepadaku. Aku sama sekali tidak perlu bicara. Aku diam saja dengan senyumku sementara tanganku bergerak, jariku memilin-milin puting sendiri, dan sengaja mendesah keras agar mereka mendengar dan terangsang.

"Mmass... oohh..." Aku merasa sangat kehausan.

Sangat menginginkan mereka bertiga segera melahapku. Aku merelakan diri dan tubuhku untuk mereka kunyah. Aku ingin sekali gigi mereka segera menancap pada pahaku yang lembut, pada bokongku yang sintal, pada buah dadaku yang ranum, pada puting susuku. Aku heran juga — dari mana munculnya keberanian dan kenekadan yang bukan main ini, yang kulakukan di depan teman-teman suamiku. Aku heran pula akan hadirnya tiba-tiba nafsu exhibitionist ini. Kupertontonkan kepada mereka bertiga dadaku yang terbuka dengan payudara dan puting-putingnya yang sangat ranum. Kudengar suara Rendi yang tersendat.

"Maar..."

Tetapi ada suara-suara lain — bukan pembicaraan. Itu suara dengusan Burhan atau Wijaya. Yang kemudian kulihat adalah Burhan mendahului langkah Rendi mendekatiku. Dia meraihku dan menutup pintu kamar tidur. Dia pagut bibirku, leher, pundak, maupun payudaraku dengan liar. Dia kesetanan tanpa kontrol. Dia dorong aku ke ranjang dan menggumuliku. Dia remas bokongku, dia lumat payudaraku berikut putingnya.

Kudengar pintu kamar digedor-gedor, akhirnya terbuka. Wijaya masuk. Dia pun langsung merangsek. Mungkin dia juga merasa bahwa haknya sama dengan Burhan untuk menggelutiku saat ini. Aku sangat menikmati keroyokan mereka. Untuk menyatakan "selamat datang", aku mendesis dan mendesah sambil tanganku menggapai ikat pinggang Burhan dan melepasnya. Kubuka celananya, kurogoh kontolnya. Hal yang sama kulakukan pada Wijaya. Mereka kini sudah setengah telanjang, dan selebihnya mereka sendiri yang melucuti diri hingga telanjang bulat.

Burhan dengan penuh ketidaksabaran melucuti celana jeansku, sementara Wijaya turut membantu melepasnya dari kakiku. Dengan sekali renggut, celana dalamku langsung dilepas oleh Burhan. Ditariknya kakiku sehingga tubuhku berposisi diagonal dengan pantatku di tepian ranjang. Burhan berdiri di arah kakiku, mengkuakkan selangkanganku dan dengan jelas menyaksikan nonokku yang mestinya sangat menantang kontolnya. Kemudian tangan kanannya meraih kaki kiriku dan mengangkatnya ke arah pundaknya. Dengan ketangkasan yang dimilikinya, dia segera meraih kontolnya yang telah ngaceng berat untuk dimasukkan ke liang kemaluanku.

Kusaksikan sebentar kontolnya yang hitam. Wow — ukurannya sama persis dengan besar dan panjangnya kontol Rendi.

Aku bergetar. Aku merindukan kontol seperti itu sejak meninggalkan warung gado-gado tadi. Sayangnya kontol Rendi tak jadi menyerangku karena gangguan dari Burhan dan Wijaya ini. Tapi bagiku akhirnya tak ada bedanya — kontol Rendi atau kontol Burhan sama saja. Aku akan memberikan kepuasan seksual kepada pemilik kontol-kontol indah ini. Kontol Burhan baru saja menempel ke liang vaginaku ketika Wijaya yang juga sudah telanjang bulat naik ke ranjang dan mengangkangiku. Dia berjongkok persis di atas dadaku, dan kontolnya yang ternyata juga sebesar para koleganya — si Rendi dan Burhan — sudah mengacung keras dan kuat, berkilatan batang dan kepalanya tepat di depan wajahku. Sungguh menggairahkan dan sensasional. Telanjang bulat dikeroyok teman-teman suamiku yang sama-sama berkontol besar, yang satu berusaha menembus nonokku, yang lain minta dijilati dan diisap.

Aku tidak tahu di mana Rendi. Mungkin dia mengambek, sedang bengong duduk di beranda. Aku sungguh merasa beruntung. Aneh juga — hal yang beberapa saat sebelumnya hanya dapat kubayangkan, kini benar-benar kualami. Burhan menggenjot nonokku. Kontolnya yang hitam besar dan sangat legit kurasakan saat menembus vaginaku yang telah membasah sejak bersama Rendi tadi. Sementara itu Wijaya yang ngentot mulutku meracau.

"Ayoo, Bu Adit... isep Buu... ayyo isep Bu Aditt... besar mana sama kontol Pak Aditt heeh..." Racauannya persis seperti orang kerasukan setan pohon randu di belakang kampung di desa kelahiranku.

Kontol Wijaya ini sangat lezat. Kujilati akarnya yang menggunung tepat di bawah pangkal batang dan biji pelirnya. Dengan setengah merangkak, Wijaya menusukkan kontol putih besarnya merangsek mulutku dan pelan-pelan memompanya. Entah di mana aku saat ini. Yang dapat kurasakan hanyalah kenikmatan yang melayang akibat tusukan kontol Burhan di vaginaku dan rangsekkan kontol Wijaya di mulutku.

Saat lamat-lamat kudengar rintihan tak tertahankan dari mulut Burhan — pertanda bahwa tak lama lagi spermanya akan muncrat — dengan serta-merta kutarik tangannya dan kuajak naik ke ranjang, sambil kulepaskan kuluman mulutku dari kontol Wijaya. Aku ingin agar Burhan menumpahkan spermanya ke mulutku. Aku ingin meminum spermanya. Burhan dan Wijaya secara bersamaan tahu apa yang kuinginkan dan mereka melayaniku dengan baik: Wijaya turun menggantikan peran Burhan mengentot memekku, sementara Burhan naik untuk mengocok kontolnya sendiri dan memuncratkan spermanya ke mulutku.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya