18px

Kenikmatan Bersama Dua Pria (Bagian 3)

Kenikmatan Bersama Dua Pria (Bagian 3)

Toni merebahkan tubuhku kembali di lantai beralas karpet. Kali ini dadaku dilahapnya — puting yang satu dihisap-hisap, satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku; dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Toni.

"Ooohh... mmppff... ngghh... sshh..." desisku tak tertahan.

"Terus... Ton... aakkhh..."

Aku menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluanku. Seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.

"Ssshh... nikmat, Ton... mmpphh..." desahanku semakin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian Toni merayap naik ke atas tubuhku. Aku berdebar menanti apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan cinta.

"Aauugghh... Ton... pelan..." jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk ke dalam rongga kemaluanku.

Toni menghentikan dorongannya; sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian — masih sebatas ujungnya — secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera menjalar dari gesekan itu ke seluruh tubuhku. Rasa geli, enak, dan entah apalagi berbaur di tubuhku, membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Toni.

"Ooohh... Ton... sshh... aahh... enak, Ton..." desahku lirih.

Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam, kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.

"Enak, Ver?" tanya Toni berbisik.

"He eh, Ton... oohh... enak... Ton... sshh..."

"Nikmatin, Ver... nanti lebih enak lagi," bisiknya lagi.

"Ooohh... Ton... ngghh..."

Toni terus mengayunkan pinggulnya turun-naik — tetap sebatas ujung kejantanannya — dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kejantanannya lebih dalam, membelah kewanitaanku.

"Auuhh... sakit, Ton..." jeritku saat kejantanannya merobek selaput daraku; rasanya seperti tersayat silet. Toni menghentikan tekanannya.

"Pertama sedikit sakit, Ver... nanti juga hilang kok sakitnya," bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telingaku.

Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat di dalam rongga kemaluanku.

Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluarmasukkannya. Gesekan kejantanannya di rongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.

"Ssshh... ohh... ahh... enak, Ton... empphh..." desahku tak tertahan.

"Ohh... Ver... enak banget punya kamu... oohh..." puji Toni di antara lenguhannya.

"Agghh... terus, Ton... terus..." aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan Toni di kemaluanku.

Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan, dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan Toni menebar kenikmatan di tubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.

"Toni... oohh... tekan, Ton... agghh... nikmat sekali, Ton..." jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.

Tubuhku mengejang; kupeluk Toni erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.

Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Toni mulai lagi memacu gairahku; hisapan dan remasan di dadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar, terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang; setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks, tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas Toni, Andri yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami. Dengan berlutut ia memelukku dari belakang; leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main di klitorisku, membuatku semakin meradang.

Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak Andri; mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Andri kubalas; kami saling melumat, menghisap, dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.

"Aaargghh... Ver... enak banget... terus, Ver... goyang terus..." erang Toni.

Erangan Toni membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi; kuremas buah dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Andri. Ohh, aku sungguh menikmati semua ini.

Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Toni duduk di sofa dengan kaki menjulur di lantai; aku pun merangkak ke arah batang kemaluannya.

"Isep, Ver," pinta Toni. Segera kulumat kejantanannya dengan rakus.

"Ooohh... enak, Ver... isep terus..."

Bersamaan dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesekkan bibir kemaluanku dengan kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat saat batang kemaluan Andri — yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toni — dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam di dalamnya. Tusukan-tusukan kejantanan Andri serasa membakar tubuh; birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kejantanan di dalam tubuhku. Batang kemaluan Toni kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah; naluriku yang menuntun melakukan semua itu.

"Ver... terus, Ver... gue nggak tahan lagi... Aaarrgghh..." erang Toni.

Aku tahu Toni akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya di mulutku; aku lebih siap kali ini. Selang beberapa saat kurasakan semburan-semburan hangat sperma Toni.

"Aaagghh... nikmat banget, Ver... isep terus... telan, Ver..." jerit Toni. Lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti permintaan Toni; kuhisap kejantanannya yang menyemburkan cairan hangat dan... kutelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya atau sensasi seksual karena melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Kulumat terus hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil... lemas.

Toni beranjak meninggalkan aku dan Andri. Sepeninggal Toni, aku merasa ada yang kurang. Ahh... ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasyikkan buatku. Namun hujaman-hujaman kemaluan Andri yang begitu bernafsu dalam posisi doggy dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan ibu jarinya di anusku. Bukan hanya itu — setelah diludahi, Andri bahkan memasukkan ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan di kewanitaanku dan ibu jarinya di lubang anus membuatku mengerang-erang.

"Ssshh... engghh... yang keras, Dri... mmpphh..."

"Enak banget, Dri... aahh... oohh..."

Mendengar eranganku, Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku. Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.

Sedang asyiknya menikmati, Andri mencabut kejantanan dan ibu jarinya.

"Andri... kenapa dicabut?" protesku.

"Masukin lagi, Dri... please..." pintaku menghiba.

Sebagai jawaban, aku hanya merasakan ludah Andri berceceran di lubang anusku — tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andri mulai menggosokkan kepala penisnya di lubang anus, baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.

"Andri... please... jangan di situ..." aku menghiba, meminta Andri jangan melakukannya.

Andri tidak menggubris; tetap saja digosok-gosokkannya. Ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya di kemaluanku, hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis di dalamnya.

"Aduh... sakit, Dri... akhh...!" keluhku pasrah, karena rasanya mustahil menghentikan Andri.

"Rileks, Ver... seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya," bujuknya seraya mencium punggungku; satu tangannya mengelus-elus klitorisku.

Separuh tubuhku yang tengkurap di sofa sedikit membantuku; dengan begitu aku lebih mudah mencengkeram dan menggigit bantal sofa untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang; aku bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar di sekujur tubuhku.

"Aaahh... aauuhh... oohh, Dri..." erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Andri yang besar itu.

Andri dengan buasnya menghentak-hentakkan pinggulnya. Semakin keras Andri menghujamkan kejantanannya, semakin aku terbuai dalam kenikmatan.

Toni yang sudah pulih dari istirahatnya tidak ingin hanya menonton; ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikkan tensi gairahku. Atas inisiatif Toni kami pindah ke kamar tidur; jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. Toni merebahkan diri terlentang di tempat tidur dengan kepala beralas bantal; tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku — yang segera kubalas dengan bernafsu — ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kemaluannya ke dalam vaginaku. Andri yang berada di belakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali di tubuhku. Sensasi seksual yang luar biasa hebat kurasakan saat kejantanan mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka di kedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.

Andri yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi. Ia mengambil posisi tiduran; tubuhku terlentang di atasnya, kejantanannya tetap berada di dalam anusku. Toni langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan kejantanannya di kemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka, tapi juga payudaraku. Andri dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku; Toni melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman Toni yang semakin buas dibarengi sodokan Andri — sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu di dalam kewanitaanku akan meledak; keliaranku menjadi-jadi.

"Aaagghh... ouuhh... Ton... Dri... tekan..." jerit dan erangku tak karuan.

Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang; kucengkeram pinggul Toni kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras di kemaluanku — seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan, dan erangan mereka menyatu.

"Aduuhh... Ton... Dri... nikmat sekali..."

"Aaarrghh... Ver... enak banget..."

Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka; cairan hangat menyembur hampir bersamaan di kedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan di kewanitaanku, dan akhirnya kami... terkulai lemas.

Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas ke dalam mimpi dengan senyum kepuasan. Di hari-hari berikutnya bukan hanya Andri dan Toni yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria. Aku baru akan mencapai kepuasan bila dijarah oleh dua atau tiga pria sekaligus.

Tamat

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya