18px

Kenikmatan Terlarang Dua Bersaudara

Kenikmatan Terlarang Dua Bersaudara

Sodokan Dibyo dari belakang semakin lama semakin cepat dan keras. Berkali-kali penis Reno terpental dari mulutku saat kakaknya menghentak tubuhku. Cukup kewalahan aku menghadapi sodokan liar dari belakang sambil mengulum penis besar yang ada di genggamanku. Justru aku lebih banyak memainkan lidahku menyusuri sekujur daerah kejantanannya.

"Bang, gantian dong," pinta adiknya. Meskipun mereka Chinese, Reno lebih sering memanggil kakaknya dengan nama atau "Abang" โ€” mungkin karena mereka Chinese Medan.

"Sebentar lagi," balas kakaknya.

Beberapa saat berlalu, Dibyo masih belum ada tanda memberi giliran pada adiknya. Tidak mau menunggu lebih lama, Reno bergeser ke bawah dan berlutut di samping kakaknya menunggu giliran. Dan ternyata si kakak mengalah โ€” dicabutnya penisnya dan dia bergeser sedikit memberi ruang adiknya untuk menyetubuhiku dari belakang. Dibyo tetap berada di samping adiknya yang tengah mengocokku, sambil mengelus-elus punggungku.

Beberapa menit berlalu. Apa yang tidak kubayangkan sebelumnya pun terjadi โ€” ternyata mereka bergantian mengocokku dari belakang. Beberapa menit Reno mengocokku, lalu diberikannya kesempatan berikutnya pada kakaknya; begitu seterusnya.

Aku yang mendapat kocokan berurutan dari dua penis yang berbeda dan saling melengkapi, tak ayal lagi menggeliat dan menjerit histeris dalam nikmat yang tak terhingga. Apalagi saat pergantian yang begitu cepat โ€” hanya dalam hitungan detik, penis yang mengisi dan mengocok vaginaku berganti. Tentu saja otot vaginaku tak sempat berkontraksi menyesuaikan diri, tapi kedua penis itu saling melengkapi, menggesek daerah yang tidak tersentuh lainnya. Sungguh pengalaman baru bagiku.

Desahan dan jeritan tak henti-hentinya keluar dari mulutku. Aku meracu dalam kenikmatan yang teramat sangat hingga tak dapat kubendung lagi ketika dorongan kuat dari dalam tubuhku menimbulkan denyutan-denyutan hebat pada vagina. Aku pun orgasme tak lama kemudian, tak lebih dari lima belas menit setelah mereka bergantian mengocok. Jeritan histeris orgasmeku hanya ditanggapi dengan senyum kemenangan โ€” mereka meneruskan kocokannya tanpa menurunkan tempo permainan; entah sudah berapa kali mereka bergantian.

"Kalau capek bilang aja, kita istirahat dulu," kata Reno sambil mengocokku. Tentu saja aku tidak mau โ€” di samping tidak ingin kehilangan kenikmatan yang sangat hebat ini, aku pun gengsi untuk mengakuinya.

"Kalian memang kakak-beradik gila," teriakku di sela-sela desahan.

Setelah berlangsung beberapa lama, kami berganti posisi. Kali ini aku di atas memegang peranan. Kuminta mereka berjejer telentang, lalu segera kunaiki tubuh Dibyo. Sedetik setelah penisnya melesak ke dalam vagina, aku langsung bergoyang pinggul dengan cepatnya. Kami sama-sama mendesis; tangan Dibyo meremas-remas buah dadaku dengan kerasnya.

Tidak lebih dari tiga menit saat Dibyo mulai mendaki menuju puncak kenikmatan, dengan gerakan spontan kucabut penisnya dan langsung duduk di atas adiknya. Tidak kuhiraukan teriakan protes darinya.

"Emang enak," godaku sembari melakukan goyangan yang sama pada Reno. Hal yang sama pula kulakukan padanya untuk berpindah lagi ke kakaknya. Memang nikmat, tapi bagiku lebih melelahkan karena harus berpindah dari satu ke lainnya โ€” tapi sensasinya mengalahkan segalanya.

Setelah beberapa kali berpindah, Dibyo bangkit, berdiri, dan menyodorkan penisnya di mulutku di saat aku tengah mendaki puncak kenikmatan bersama adiknya.

Inilah yang kutunggu sedari tadi โ€” penis besar di vagina dan penis panjang di mulut, keduanya mengocokku bersamaan. Penis besar yang tertanam di vagina terasa agak menghalangi gerakanku, tapi tak kuhiraukan. Justru semakin nikmat rasanya, apalagi kocokan di mulut tidak pernah berhenti sambil sesekali disapukan ke wajahku.

Dengan posisi ini ternyata aku pun tidak bisa bertahan lebih lama. Kenikmatannya terlalu sayang untuk ditahan-tahan, dan jebollah pertahananku untuk kedua kalinya. Kulepas penis Dibyo dari genggamanku dan kutelungkupkan tubuhku di atas dada bidang Reno โ€” ingin kunikmati denyutan orgasmeku dalam dekapannya. Seiring dengan habisnya denyutan di vaginaku, habis pula tenagaku. Aku pun terkulai lemas, telentang di samping Reno.

Tanpa memberiku istirahat, Dibyo sudah ambil posisi bersiap melanjutkan gilirannya. Tidak dipedulikannya isyarat kelelahanku. Penisnya dengan mudah kembali mengisi relung-relung vagina yang baru saja habis berdenyut hebat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kucoba mengimbangi kocokannya yang langsung keras dan tak beraturan.

Episode babak awal terulang lagi. Bergantian kedua bersaudara itu mengocokku, dan aku pun dengan cepatnya melambung setinggi awan kenikmatan. Terlupakan sudah rasa capek yang menyelimutiku โ€” rasanya ada tambahan energi yang timbul dari dalam, didorong sensasi yang teramat hebat.

Jerit dan desahku kembali terdengar keras dan lepas. Antara besar pendek dan kecil panjang bergantian mengisi dan keluar masuk vaginaku. Tak ayal lagi orgasmeku pun datang dengan cepatnya; entah untuk keberapa kali, aku tidak bisa menghitungnya lagi. Apalagi mereka tidak mempedulikan teriakan-teriakan kenikmatan orgasmeku.

"Udah, udah, istirahat dulu, ampun deh," desahku, akhirnya harus mengakui kehebatan kedua bersaudara itu.

Dibyo yang sedang mengocokku menghentikan kocokannya dan mencabut keluar. Tapi adiknya tidak mau melihat liang vagina yang kosong โ€” segera digantikannya posisi kakaknya. Dibyo bergeser ke atas, menyapukan penisnya yang penuh lendir vagina ke wajahku, sambil mengocok dengan tangannya. Tak lama kemudian, menyemburlah sperma mengenai wajah dan rambutku. Dipaksakannya penis yang sedang berdenyut itu masuk ke mulutku. Rasanya tidak ada dayaku untuk menolaknya setelah apa yang telah kudapatkan darinya โ€” dan masuklah penis dengan spermanya ke dalam mulutku. Sisa-sisa sperma masih mengalir deras membasahi tenggorokanku, tertelan masuk.

Reno menghentikan gerakannya saat melihat bagaimana kakaknya mengeluarkan sperma di wajah dan mulutku. Namun dilanjutkan dengan sodokan yang semakin cepat. Tiba-tiba dia menarik penisnya dan segera mengangkangkan kakinya di atas mukaku, meniru kakaknya. Disapukannya penis yang basah ke mukaku yang masih belepotan sperma Dibyo.

Ketika kumasukkan penis itu ke mulutku, langsung menyemprot sperma โ€” hampir semua sperma yang disemprotkan tertelan masuk. Dibyo dan adiknya bersama-sama menyapukan penis mereka yang mulai melemas ke wajahku dengan senyum kemenangan.

"Tak kusangka ternyata Lily yang kukenal selama ini begitu hebat di ranjang," komentar Reno sambil menyapukan penisnya.

Aku diam saja sambil menjilati sisa-sisa sperma yang masih ada di batang penis mereka. Akhirnya kami bertiga terkulai lemas, telentang berjejer di atas ranjang.

Berkali-kali Reno memuji kehebatan permainan ranjangku dan berkali-kali pula dia menyatakan ketakjuban dan kekagetannya melihat permainan yang aku suguhkan. Hampir tidak percaya dia melakukannya denganku yang selama ini dianggap sebagai orang yang cukup dewasa dan terkesan seperti orang rumahan โ€” seperti dalam mimpi.

Tak mungkin percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Dibyo hanya mengiyakan celotehan adiknya yang playboy itu, seperti anak mendapat mainan baru yang hebat.

Setelah beristirahat cukup lama, kami melakukannya lagi di sofa, hampir dengan pola permainan yang sama โ€” bergantian berurutan, meski dengan posisi yang berbeda-beda.

Kami melakukan dua babak lagi sebelum Dibyo pulang meninggalkan aku dan adiknya bermalam di hotel. Aku sangat tidak keberatan menemani Reno hingga pagi, dan kami memang menghabiskan sisa malam dengan segala nafsu birahi penuh gairah, seperti tidak bercinta dengan tamu melainkan dengan seorang pacar. Apalagi postur tubuh Reno yang memang menggugah naluri birahi wanita normal.

Tidak terhitung lagi babak demi babak yang kami lewati hingga kelelahan menjelang pagi bersamanya. Nafsu Reno sangatlah besar โ€” sepertinya tidak mau membuang kesempatan yang datang sekali seumur hidup. Tidak pernah dibiarkannya aku sedetik pun menganggur; selalu saja dia minta lagi dan lagi. Kalau aku menolak, dia yang melakukan oral pada vaginaku โ€” tentu saja gairahku segera timbul lagi untuk melayaninya.

Keesokan harinya, setelah menjalani satu babak saat bangun tidur, kami check out. Dia mengajakku mampir ke rumahnya di kawasan Darmo Satelit, yang juga merupakan rumah Dibyo karena dia memang masih tinggal bersama kakaknya. Sebenarnya aku agak segan ke sana โ€” rasanya tidak ada muka untuk bertemu Wenny. Tapi Reno memaksaku dan berhasil meyakinkan bahwa jam segini Wenny tidak ada di rumah.

Ternyata Wenny menyambut kedatanganku. Rupanya dia sedang di rumah sehabis dari salon. Dengan sumringah, wajah cantik nan ceria itu mempersilakan aku masuk setelah kami berciuman pipi โ€” padahal semalam pipi itu berlumur sperma suaminya dan juga adik iparnya.

"Kudengar kalian bertiga semalam ada pesta di Sheraton. Pesta siapa sih?" tanyanya sambil lalu, seraya membuatkan aku makan siang. Dia tahu pasti aku menyukai Kwe Tiaw bikinannya.

Dibyo datang tak lama kemudian ketika kami tengah makan bersama. Dia pun ikutan makan siang. Berempat kami mengelilingi meja yang penuh masakan buatan Wenny. Pasti dia tidak pernah menyangka bahwa dua laki-laki di rumahnya yang kini duduk di hadapannya telah meniduriku semalam โ€” bersamaan malah.

Sehabis makan, Dibyo dan Wenny kembali pergi meninggalkan aku dan Reno. Sekali lagi kami melakukannya satu babak di kamar Reno sebelum dia mengantarku pulang.

"Nanti aku transfer saja, bisnis is bisnis," kata Reno sebelum meninggalkanku.

Di kamar kos, aku ingin merenung tentang apa yang telah kuperbuat dengan kedua sobatku. Tapi renungan itu tidak pernah terjadi karena booking lain telah menunggu.

Itulah kedekatanku dengan keluarga Dibyo โ€” suatu persahabatan yang diawali ketulusan, tapi kini telah ternoda oleh bisnisku. Aku merasa bersalah setiap kali melihat wajah innocent Wenny yang cantik. Tapi itu bukan salahku, tapi salah suami dan adik iparnya. Aku toh hanya seorang call girl yang bersedia diajak ke ranjang oleh siapa saja yang bisa membayarku โ€” hibur hatiku setiap kali perasaan bersalah menggelayut di hatiku. Dan prinsip itu semakin menyeretku semakin dalam ke pusaran persahabatan yang ternoda.

Tidak terhitung lagi aku "berbisnis" dengan Dibyo maupun Reno, ataupun keduanya. Bahkan Reno dengan bangganya memperkenalkanku pada teman-temannya โ€” tentu saja menambah jaringan tamu langgananku.

Tidak dapat kuhindari kalau kemudian Reno seperti ketagihan akan pelayananku. Terutama dia sangat menyukai saat mengeluarkan spermanya di mulut dan wajahku. Paling tidak seminggu sekali dia mem-booking-ku.

Hingga saat aku tinggal di Jakarta kini, kami sering berhubungan lewat telepon, terutama dengan Wenny. Seakan dia tidak pernah tahu apa yang telah kuperbuat dengan kedua laki-lakinya. Entahlah.

Tamat

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’