Kenikmatan Terlarang Dua Pria
Kenikmatan Terlarang Dua Pria
Kuraih penisnya dan kubalas dengan remasan kuat. Piter semakin cepat menancapkan penisnya; kepala anjingnya terasa makin dalam menyundul rahimku, apalagi ketika dia menekan kuat ke selangkanganku. Antara sakit dan nikmat bercampur menjadi satu.
Hari mengganjal kepalaku dengan bantal lalu memasukkan penisnya ke mulutku yang sedang terbuka mendesah dalam nikmat. Dia langsung mengocok begitu penisnya masuk ke mulutku. Kembali aku mendapat dua kocokan bersamaan dengan posisi kebalikan.
Akhirnya pertahananku runtuh juga dikeroyok secara bersamaan. Meledaklah jeritan kenikmatanku—kujepit Piter dengan pahaku erat-erat dan kuremas penis Hari. Tubuhku mengejang kaku; suatu orgasme yang menjebol segala dinding pertahanan dan menerbangkan semua energi yang tersisa. Beruntung Piter menyusulku beberapa detik kemudian; kepala anjing itu serasa membesar di vaginaku. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir bawah, tak mampu lagi meneriakkan kenikmatan yang teramat dalam.
Piter langsung mencabut penisnya begitu denyutan berakhir, melepas kondom, lalu menumpahkan isinya di perutku sambil mengusapkan penisnya di selangkanganku. Masih tersisa satu penis di tanganku; tanpa menunggu lagi, Hari langsung mengocok mulutku dengan cepat. Tubuhku yang berada di bawah kangkangan kakinya tak mampu menghindar, hanya pasrah menerima. Beberapa menit kemudian aku berhasil melaksanakan tugasku. Hari menyemprotkan spermanya memenuhi mulutku—sebagian tertelan, sebagian menetes keluar dari celah-celah bibirku. Lalu dia menyapukannya ke wajahku dengan senyum penuh kepuasan.
Kedua laki-laki itu lalu menggeletak di sampingku. Napas kami masih tersengal-sengal. Baru sekarang kurasakan betapa letihnya aku; entah sudah berapa jam sejak di kamar Hari tadi. Sama sekali aku tak menyangka mengalami pengalaman seperti ini—ternyata kenikmatannya jauh lebih mengasyikkan. Akhirnya aku pun terdidur dalam pelukan kedua laki-laki ini, membawa sejuta kenikmatan dan kenangan. Kubiarkan sperma yang ada di vagina dan tubuhku seakan tak mau terbangun dari mimpi.
Keesokan harinya aku terbangun kesiangan. Matahari sudah tinggi, sinarnya yang menerobos jendela menyilaukan pandangan mataku yang baru terbuka. Kulihat Hari dan Piter masih tertidur di sampingku; kaki kanan Hari menumpang kakiku, sedang tangan Piter masih memelukku. Perlahan kusingkirkan dan aku beranjak ke kamar mandi.
Kehangatan air dari shower menyegarkan tubuhku, terasa segar dan mengembalikan kebugaran, mengusir semua kelelahan yang ada. Kupejamkan mata dengan rileks. Entah berapa lama aku berendam dalam bathtub; ketika kusadari, ternyata Hari dan Piter sudah berdiri menghadapku, masih telanjang.
"Hai, kamu bikin aku kaget saja!"
"Habis kamu sepertinya asyik banget," kata Hari langsung menyusulku masuk ke bathtub, diikuti Piter. Air bathtub meluber keluar.
"Sini, aku mandiin," kata Piter yang posisinya di belakangku seraya mengambil busa dan sabun. Digosoknya punggungku sambil tangannya meraba-raba bagian dadaku.
Hari yang posisinya berhadapan di depanku ikutan meraba bagian yang sama—empat tangan menjamah kedua buah dadaku. Kuraih penis Hari dan mengocoknya dalam hangatnya air; ciuman Piter dari belakang menjelajah telinga, tengkuk, dan punggung. Aku menggeliat geli. Hari menarikku dalam pangkuannya; sesaat kemudian penisnya sudah berada dalam hangatnya vaginaku. Air beriak keras makin meluber saat aku mulai mengocoknya; kami mulai saling mendesah. Piter keluar dari bathtub dan berdiri di sampingku, menyodorkan penisnya ke mulutku. Kusambut dengan jilatan dan kulumanku yang membuat kami mendesah berbarengan. Aku sangat menikmati permainan bertiga ini, makanya kukerahkan segala kemampuanku untuk meraih kenikmatan demi kenikmatan.
Piter memegang kepalaku dan mengocoknya dengan cepat, sementara pantatku juga bergoyang di atas kejantanan Hari. Tak kusangka permainan bertiga di kamar mandi di pagi hari membuatku lebih cepat melayang, dan aku pun mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu. Kali ini tak kukeluarkan penis Piter dari mulutku; aku hanya menahannya di dalam, suatu percobaan apakah aku bisa menanganinya tanpa gigitan. Dan aku berhasil melalui puncak dengan penis di mulut.
Hari memintaku doggie, tapi sebelum dia sempat mengambil posisinya, Piter sudah mendahului memegang pantatku.
"Aku ingin merasakannya tanpa kondom, sebelum kamu mencemarinya. Oke?" katanya sambil menyapukan penisnya.
Aku sih terserah saja siapa yang melakukannya, tapi dengan Piter tanpa kondom ada uniknya: aku bisa memperkirakan berkurangnya kenikmatan, apalagi setelah penis Hari mendahuluinya. Perkiraanku benar—penis Piter serasa meluncur begitu saja dalam vaginaku, jauh dari nikmat. Masih lebih nikmat kocokan dua jari yang bisa berputar-putar di dalam, apalagi dibandingkan dengan Hari.
Untunglah Hari membantu rangsanganku. Tubuhnya berada di bawahku yang nungging menghadap dinding kamar mandi; dikulumnya buah dadaku yang menggantung berayun-ayun di depannya. Inilah yang membuatku mendesah-desah. Hari memegangi tubuhku; kami saling berpelukan dan berciuman, sementara Piter masih asyik mengocokku dengan sodokan-sodokan kerasnya dari belakang. Tapi apalah artinya untuk ukuran penisnya—bahkan lebih sering terlepas karena terganjal pantatku. Mereka membalik posisiku; aku berpelukan dengan Piter dan ganti Hari mengocokku dari belakang, barulah kini kurasakan nikmatnya. Beberapa kali posisiku berbalik mondar-mandir seperti itu; aku sudah tak peduli lagi siapa yang akan memenuhi vaginaku dengan spermanya terlebih dahulu.
Mereka menuntunku keluar dari bathtub. Aku kira mereka mau melanjutkan di ranjang seperti tadi malam, tapi aku keliru—justru mereka memintaku jongkok. Dua penis yang berbeda ukuran dan dalam keadaan tegang telah siap di depan mulutku; kuraih keduanya dan bergantian aku kulum penuh gairah. Piter mengisi mulutku dengan spermanya tak lama kemudian; kutelan habis tanpa ada sisa, lalu kusapukan ke wajahku. Dia langsung mandi setelah itu. Giliranku membuat Hari orgasme—cukup lama mulutku mengocoknya hingga terasa pegal. Akhirnya dia menyemprotkan spermanya di wajahku dan diusapkannya ke seluruh mukaku, berakhir dengan kulumanku membersihkan; kujilati dan kutelan sisa-sisa sperma yang masih menempel di penisnya hingga bersih.
Inilah sarapan pertamaku di Tretes: dua macam sperma yang berbeda rasa dan aroma.
Hanya mencuci muka membersihkan wajahku, dan tanpa mandi lagi kukenakan kemeja Hari tadi malam karena setelah ini kami berencana menyusul Ivan dan Nenny ke kolam renang. Bersamaan kami keluar dari kamar Piter; ternyata terpergok Ivan dan Nenny yang sedang menuju kamarnya.
"Eh, kok kalian bertiga keluar dari kamar Piter? Baru bangun lagi siang-siang begini. Dan ke mana si cewek kampung itu?" tanya Nenny.
Kami hanya diam tersenyum tanpa menjawab. Tapi kulihat mata Ivan yang menatapku dengan tatapan aneh—mungkin dia menebak apa yang telah kami lakukan.
Karena aku memang tidak siap untuk berenang, terpaksa kupakai bikini yang semi-transparan. Toh mereka sudah tahu isi tubuhku; untuk apa ditutupi lagi, begitu pikirku—tanpa mengingat bahwa masih ada Ivan dan pacarnya. Lebih dari satu jam kami berenang dan bermain di kolam; Ivan dan pacarnya kembali bergabung dengan kami. Sering kulihat tatapan nakal Ivan yang mengarah ke tubuhku, apalagi aku hanya mengenakan bra semi-transparan yang bisa menggambarkan apa di baliknya.
"Piter sudah cerita apa yang terjadi tadi malam. Kapan-kapan aku ingin mencobanya, tapi yang jelas bukan sekarang," katanya pada suatu kesempatan di pinggir kolam, jauh dari pacarnya.
Sehabis makan siang, Hari mengajakku ke kamarnya, disusul Piter. Terjadilah adegan ulangan tadi malam—aku melayani mereka dengan penuh kenikmatan. Kami lakukan tidak hanya di ranjang, bahkan di kursi dan di atas meja, seperti santapan penutup makan siang. Hampir tanpa istirahat aku melayaninya hingga sore; kami hanya keluar kamar untuk makan malam, setelah itu melanjutkan lagi sampai keesokan paginya. Terlupakan sudah keberadaan Ivan dengan pacarnya. Dengan penuh semangat kuhadapi mereka berdua, baik secara sendiri-sendiri, bergantian, maupun bersamaan.
Aku paling menyukai ketika mereka bersamaan mengulum putingku, atau saat satu mengulum puting dan satunya menjilati vagina secara bersamaan—sensasinya sungguh luar biasa, tentu hal ini tak bisa dilakukan kalau hanya bermain dengan satu orang. Dan juga ketika kami bercinta bertiga di pinggiran kolam di tengah dinginnya malam udara Tretes, beratapkan langit yang berbintang cerah—suatu momen yang tak didapat setiap saat. Aku yakin Ivan dan Nenny sudah tahu apa yang kami lakukan selama di kamar bertiga, tapi tentu saja mereka tak tahu detailnya.
Setelah menghabiskan segala nafsu selama tiga hari dua malam, sorenya kamipun kembali meluncur ke Surabaya, mengejar penerbangan terakhir. Piter ingin melanjutkan lagi di Surabaya tapi pekerjaannya menuntut dia berada di Jakarta esoknya. Perjalanan Tretes–Juanda terasa begitu cepat meski kecepatan kami tidak lebih dari 60 km/jam. Tapi mulutku terpaksa bekerja sangat keras: bergantian aku melakukan oral pada mereka di jok belakang, masing-masing mendapatkan satu kali orgasme dengan semua sperma keluar di mulutku. Kalau saja tidak diingatkan Hari, Piter sudah minta jatah lagi—tapi mobil sudah keluar dari tol, terlalu berisiko kalau dilakukan di jalanan umum meskipun kaca filmnya tidak tembus pandang.
Kami mengantar hingga di depan Pintu Keberangkatan. Aku berharap tak ada orang yang memperhatikanku karena mungkin masih ada sisa-sisa sperma di wajah atau rambutku. Setelah mendapat ciuman perpisahan dari aku dan Nenny, dia masuk.
"Thanks atas segalanya. Kita lakukan lagi lain waktu—aku akan sering ke Surabaya," bisiknya ketika aku menciumnya.
Kami pun berpisah ke mobil masing-masing; Ivan dengan pacarnya entah ke mana lagi, sedangkan Hari mengantarku ke tempat kos.
"Ivan ngajak kita main bertiga seperti kemarin, entah besok entah lusa, di Surabaya saja. Nggak perlu jauh-jauh dan nggak usah menginap; kita lakukan di jam kerja," kata Hari ketika kami meluncur di jalan.
Aku yang sudah merasakan nikmatnya bermain bertiga tentu saja menyambut gembira tawaran ini, tapi tentu saja aku harus bertindak profesional.
"Terserah, tapi jangan mendadak," jawabku mengiyakan. Asal nego-nya cocok, lanjutku dalam hati.
Sebelum sampai di tempat kos, HP-ku berbunyi—dari Koh Toni.
"Aduh, susah banget dihubungi," katanya tanpa basa-basi. Memang selama di Tretes HP-ku sengaja kumatikan agar tidak mengganggu.
"Sorry, Koh, nggak ada sinyal. Ini baru sampai, belum juga mandi," jawabku bohong. Hari hanya memandangku sambil tersenyum—dia pasti sudah tahu siapa yang menelepon.
"Ya udah, langsung saja ke Shangri-La. Pak Tio udah nunggu tuh. Dia kemarin sama sekali nggak puas dengan cewek yang didapat dari GM-mu itu, minta aku carikan lagi. Untung kamu udah datang," kata Koh Toni mendesakku.
"Tapi aku masih capek, Koh. Besok saja, gimana? Aku janji deh," bujukku karena aku masih kelelahan setelah tiga hari melayani Hari dan Piter. Paling tidak perlu semalam istirahat.
"Ly, please, tolong aku. Aku nggak mau mengecewakan Pak Tio dua kali. Please, temani dia malam ini. Ayo dong, Sayang," Koh Toni memelas.
Aku diam sejenak; rasa capek masih terasa.
"Oke deh, demi Koh Toni," akhirnya aku mengalah—demi kepuasan tamuku, dan yang pasti juga demi uang.
"Gitu dong. Aku tunggu di kamar ya, sekarang," katanya seraya menutup telepon.
"Har, jangan marah ya," kataku tidak enak sama Hari yang masih menyetir.
"Nggak dong. Masa gitu aja marah," jawabnya santai. Tentu saja dia tidak boleh marah meskipun ada nada cemburu pada jawabannya—toh dia tahu siapa aku.
"Turunin aku di Pom Bensin depan itu deh," pintaku.
"Nggak usah ragu. Kamu mau ke mana, aku antar sekalian pulang—asal jangan minta diantar kembali ke airport," jawabnya enteng.
"Shangri-La," jawabku. Berarti memang searah.
Akhirnya, malam itu hingga pagi aku menemani Pak Tio, berpindah dari satu ranjang ke ranjang lain, dari pelukan satu laki-laki ke laki-laki lain. Itulah perjalanan hidupku.
Pengalaman pertama melayani dua tamu sekaligus ternyata tidaklah seseram yang kubayangkan—justru semakin membuatku ingin mencoba lagi dan lagi. Sensasi yang kudapat sungguh luar biasa, berbeda kalau melayani tamu dengan gadis lain. Kutekatkan keberanianku untuk tidak menolak permainan bertiga seperti ini.
Hingga cerita ini dibuat, permainan bertiga dengan Hari dan Ivan tidak pernah terjadi.
Tamat