18px

Kisah Dede dan Tante Wiwi di Puncak (Bagian 1)

Kisah Dede dan Tante Wiwi di Puncak (Bagian 1)

Hai, kenalkan, namaku Dede. Saat ini aku kuliah di salah satu PTS yang lumayan besar di wilayah selatan Jakarta, tepatnya di Depok. Aku punya pengalaman unik dan menarik — mungkin ini pengalaman mengasyikkan pertamaku, dan mungkin tidak akan kulupakan seumur hidup. Kalian pernah baca ceritanya Iwan, kan? Nah, dia itu adik sepupuku, tinggal bersamaku, dan kami sudah seperti kakak beradik kandung.

Singkat cerita, aku balik ke Jakarta dan janjian sama Tante Wiwi untuk mencari rumah. Kujemput dia di rumah salah satu tanteku, dan kami pun jalan.

"Kemana nih kita, Tante?" tanyaku.

"Enaknya kemana ya, De? Tante dan Oom pengen yang suasananya tidak terlalu ramai, tenang gitu, kalau bisa udaranya masih bersih dan aksesnya gampang."

"Wah, kalau begitu di dekat tempat Iwan saja, Tante. Di Cibubur kan banyak perumahan, apalagi di seberang tol."

"Ya sudah, kita ke sana saja."

Kearahkan mobilku ke tol menuju lokasi. Cari-cari seharian, akhirnya Tante Wiwi menaksir salah satu kompleks milik Ciputra Group.

"Gimana menurut kamu, De?"

"Ya terserah Tante dong — sebaiknya tanya Oom dulu."

"Iya deh, nanti malam Tante tanyain." Kuantarkan Tante Wiwi pulang.

"Ntar Tante hubungi kamu ya, De. Soalnya kalau jadi ambil rumah yang mau over kredit tadi, kita kayaknya harus cari furnitur dan kelengkapan rumah. Tidak ganggu kamu kan?"

"Enggaklah Tante, lagian kuliah juga masih kosong."

"Makasih ya," jawab si tante sambil sun pipiku. Serr.

Pagi jam tujuh telepon berdering. Tante Wiwi mengabarkan suaminya setuju dengan rumah pilihan kemarin, dan mengajakku mencari peralatan rumah tangga karena akad jual beli baru dilaksanakan Senin minggu depan. Kami jalan ke Jl. Fatmawati yang memang banyak toko dan showroom meubel. Siangnya kami makan siang sambil mengobrol.

"Gimana menurut penilaian Tante?" tanyaku.

"Gimana ya, bagus-bagus semua sih. Tapi kan Tante sudah pegang referensinya, jadi kalau nanti Tante memutuskan, tinggal telepon."

"O," jawabku singkat.

"De, Jumat besok kamu ikut week-end ya. Tante Een ngajakin, refreshing katanya. Ajak Iwan juga."

"Boleh juga, Tante. Tapi kalau Iwan diajak, di rumah kelamaan kosong — khawatir!"

"Terserah, kamu atur saja."

Besoknya kami berangkat ke Puncak untuk week-end. Iwan ditinggal. Villa yang cukup besar dengan empat kamar, halaman luas, kolam renang, dan letaknya yang masuk ke bukit membuat suasananya asyik sekali. Pukul sepuluh malam, selesai makan di Simpang Raya, kami langsung kembali ke villa. Aku pakai jaket, merokok, duduk di teras belakang.

Tidak lama muncul Tante Wiwi memakai kimono handuk — habis mandi kelihatannya.

"Dingin-dingin gini kok mandi sih, Tan?" tanyaku.

"Iya, habis lengket sih. Lagian ada water heater," katanya sambil mengeringkan rambut. Dia mengangkat satu kaki dan menaikkannya ke lutut kaki yang lain. Ala mak — aku bisa melihat paha mulusnya.

Setelah rambut kering, Tante Wiwi masuk ke dalam. Aku mengikuti, lalu ke dapur membuat kopi. Saat melewati depan kamar Tante Wiwi, aku melihat pemandangan yang sangat aduhai. Pintunya yang terbuka sedikit membuatku bisa mengintip: dia sedang bersiap-siap ganti baju, baru memakai CD sementara dadanya masih terbuka sehingga payudaranya yang besar terpampang bebas. Buru-buru aku berlalu dan bergabung dengan Tante Een, Oom Bambang, serta anak-anaknya yang sedang menonton TV. Sebentar mengobrol, Tante Een minta izin ngelonin anak-anaknya, sementara Oom Bambang minta izin istirahat. Akhirnya tinggal aku yang menonton TV. Aku pindah duduk ke kursi panjang bekas Oom Bambang dan Tante Een agar lebih nyaman.

Kira-kira lima menit aku nonton sendiri, Tante Wiwi keluar membawa segelas jeruk panas dan duduk di sampingku. Aroma wanginya segera menyeruak memenuhi ruangan. Tante Wiwi memakai kimono sutra warna merah cerah — dan yang membuatku horny adalah dadanya tampak tidak memakai apa pun di dalamnya.

Kira-kira pukul dua belas malam aku pamit istirahat. "Ya sudah, matikan saja TV-nya. Tante juga mau istirahat." Kami berjalan beriringan menuju kamar masing-masing. Kamarku berhadapan dengan kamar Tante Wiwi di bagian belakang — kamarku di belakang kamar anak-anaknya Tante Een, sementara kamar Tante Wiwi di belakang kamar Tante Een.

Saat melewati kamar Tante Een, terdengar suara-suara aneh. Aku menoleh ke arah Tante Wiwi, dan dia menempelkan telunjuk di depan bibirnya. "Sssttt, jangan berisik. Kamu ambil kursi organ ke sini, kita intip," bisiknya sambil tersenyum. Aku mengangguk, mengambil kursi itu dan meletakkannya perlahan di depan pintu. Tante Wiwi — di luar dugaan — langsung naik untuk menyaksikan adegan yang sedang berlangsung di dalam. Dari bawah, aku dengan jelas menyaksikan kemulusan betis Tante Wiwi beserta bulu-bulu halusnya yang lebat. Kemaluanku tidak kuat dan perlahan mulai tegang.

Tidak lama, Tante Wiwi mulai meletakkan tangan di permukaan selangkangannya dan mengusap-usapkan telapaknya di sana. Melihat gelagat itu, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan — kuraba betis indahnya. Di luar dugaan, Tante Wiwi tidak bereaksi; malahan merenggangkan kakinya. Kulihat tangannya mulai mengusap permukaan selangkangannya dengan agak kasar sambil mulutnya mengeluarkan suara desisan, "Ssshh."

Melihat Tante Wiwi semakin terangsang, bukan hanya tanganku yang mengusap betisnya — bibir dan lidahku pun ikut. Kutelusuri betisnya turun ke bawah sampai punggung kaki, lalu berpindah ke kaki yang lain. Desisan Tante Wiwi berubah menjadi erangan; tangannya tidak hanya beraksi di selangkangan, tapi yang lain mulai meremas payudaranya sendiri. Sementara itu kepalaku sudah menyusup ke balik kimononya, menelusuri daerah pahanya.

Setelah aksi bibir dan lidahku mendekati selangkangannya, tangan Tante Wiwi yang tadi menggosok selangkangan berpindah ke kepalaku. Dia tekan kepalaku dan mengusap-usap rambutku, sesekali menjambaknya sambil merapatkan kaki. Kujilati buah pantatnya yang ranum, kedua tanganku meremas buah pantatnya yang lain, sementara satu tanganku membelai daerah selangkangannya. Kupindahkan aksiku ke buah pantat lainnya. Kusibakan CD mini Tante Wiwi, kurenggangkan kakinya, dan kunikmati belahan pantatnya.

Setelah mulai sesak napas dan kegerahan, aku keluarkan kepala dari balik kimononya. Kugeserkan kaki Tante Wiwi agar dia bisa bergeser, dan aku naik.

Sejurus kemudian terpampang di depanku pemandangan yang semakin membuatku horny. Tante Wiwi di bawah sedang megap-megap sambil menarik-narik rambutnya sendiri, mengangkat kedua kaki di pundak Oom Bambang — sementara Oom Bambang asyik memompa Tante Een dari atas sambil mulutnya menikmati payudara Tante Een yang lumayan bagus meskipun sudah punya dua anak.

Aku tidak mau tinggal diam. Kulingkarkan tangan ke pundak Tante Wiwi dan langsung kusap-usap bagian dadanya. Tidak lama tangan kiriku menyusul, kususupkan ke balik kimononya, dan segera kudapatkan segunduk daging yang teramat kenyal di tanganku. Tante Wiwi membalas dengan menggigit-gigit kupingku.

Lagi asyik men-tune puting payudara kiri Tante Wiwi, dia beranjak turun. Ternyata yang dilakukannya adalah melepas ikat pinggangku, membuka kancing celana jeansku, dan menurunkan zippernya. Dia tarik jeansku selutut — tapi hanya jeansnya saja.

Tidak lama terasa hangat di permukaan CD-ku, dan terasa pula lidah bermain naik turun di permukaannya, menggigiti kemaluanku naik turun seperti Oppi Andaresta main harmonika. Lalu CD-ku pun diturunkan juga.

Di dalam kamar posisi sudah berganti: Tante Een memegang kendali naik turun sambil kedua tangannya memegang tangan Oom Bambang yang asyik meremas payudara Tante Een.

Hangat dan lembab terasa di kepala penisku. Ketika pandanganku kuarahkan ke bawah, ternyata Tante Wiwi asyik menjilati kepala penisku, lalu turun ke batang, naik turun, dan akhirnya biji kemaluanku pun dikulumnya. Dikemotnya kedua bijiku sekaligus. Ada rasa mulas sewaktu keduanya diemut dalam mulut Tante Wiwi yang mungil itu — karena mulutnya kecil, kedua biji beradu satu sama lain.

Bosan mengulum biji kemaluanku, Tante Wiwi memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya. Diemutnya, disedotnya kencang sekali. Lalu dia maju mundurkan mulutnya, sementara tangan kirinya memainkan bijiku dan tangan kanannya meremas buah pinggulku. Tante Wiwi melepaskan hisapannya, tapi kepala penisku langsung jadi sasaran berikutnya — kali ini kepala penisku digaruk-garuk pakai gigi atasnya. Waduh, rasanya luar biasa: geli, gatal, dan berbagai rasa nikmat bercampur jadi satu.

Dari dalam kamar, Tante Een dan Oom Bambang mengerang sangat keras — rupanya mereka baru saja mencapai puncak bersama-sama.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya