18px

Kisah Dokter dan Penjaga Warnet

Kisah Dokter dan Penjaga Warnet

Cerita ini tentang kisah percintaanku dengan seorang operator warnet yang penuh gairah. Aku pun tidak menyangka bisa mendapat teman tidur dari seorang penjaga warnet—simak kisahnya berikut ini.

Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang, dan bermula dari hal yang sama sekali tidak terduga.

Bulan Februari 2001, aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antre menunggu giliran.

Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, "Sorry, Yo... kayaknya loe musti nungguin lama juga nih."

Brengsek juga, pikirku. Agar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ—persisnya di sebelah Soto Kudus, persis di depan Danar Hadi.

Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah penjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya—hatiku masih kesal dengan ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai mengklik mouse dan menunggu internet tersambung, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini berwajah lumayan dan berbody oke. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya—aku jatuh hati pada caranya.

Aku sibuk berpikir, bagaimana cara berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir—cara itu datang dengan sendirinya. Tidak lama kemudian cewek itu membuka internet juga dan duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi. Aku sempat menoleh ke belakang dan kulihat dia membuka situs mIRC.

"Kayaknya dia mau chatting nih," pikirku.

Ternyata benar. Aku sempat melihat kalau dia memakai nick "yanthie". Langsung saja aku masuk ke mIRC juga, aku hubungi dia, dan dia mbalas.

Kami berkenalan. Selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya. Pas sejam selesai, aku bayar lalu kupancing obrolan dengannya. Sekarang aku tahu namanya "Yanti", tepatnya "Iryanti". Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.

Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy—mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel, kutelepon penerangan 108, kutanyakan nomor telepon warnet itu. Setelah kudapat, langsung kutelepon dan minta bicara dengan Yanti.

"Siapa nih?" suara Yanti di seberang sana.

"Ini Rio—boleh saya berkenalan dengan kamu?" jawabku.

"Boleh saja, tapi kamu dapat nomor ini dari mana?" tanya Yanti.

"Saya yang pernah main di warnet kamu," jawabku.

Dan—oh my God! Tahu tidak apa kata Yanti?

"Kamu yang tadi chatting di belakang saya, khan?" katanya.

Mati aku—dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu, aku mengaku saja: benar itu aku, dan aku terpesona oleh penampilannya tapi malu untuk menegur langsung, jadi kupakai cara ini.

Yanti tertawa—enak suaranya. Kuberanikan diri mengusulkan untuk menjemput dia. Katanya sore itu tidak bisa karena cowoknya—yang akhirnya kuketahui namanya Joe—menjemput dia.

"Gimana kalau besok lusa saja?" katanya.

"Oke," kataku.

Jadilah lusanya aku tidak praktik. Jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami langsung jalan. Di perjalanan—dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun—aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pernah pacaran. Terakhir aku mengaku sudah punya cewek, lalu bertanya apakah Yanti mau jadi cewekku. Yanti kaget.

"Jadi Yanti ngeduain Joe dong, Yo?"

"Iya—Rio juga ngeduain cewek Rio," jawabku sekenanya.

"Nakal kamu, Yo," kata Yanti sambil mencubit lenganku.

"Nah, kena nih cewek!" pikirku.

Kutangkap tangannya, kupegang kuat. Kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya. Yanti mendorong tubuhku.

"Hmm, malu-malu kucing nih," pikirku.

Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama-kelamaan Yanti tidak menolak lagi—dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku. Kusedot lidahnya—nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke selangkangannya. Yanti mendesah.

"Jangan, Rio..." desahnya.

Aku berhenti. Kuhidupkan mesin mobil dan kuarahkan ke sebuah hotel di Jakarta Pusat. Aku langsung parkir.

"Mau ngapain kita ke sini, Yo?" tanya Yanti.

Aku tidak menjawab; kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam dan check-in di kamar 104.

Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.

"Yan, turun, yuk!" kataku.

"Nggak tahu ah—mau ngapain sih, Rio?" kata Yanti.

Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celanaku. Dengan hanya memakai handuk aku ke kamar mandi. Saat aku keluar, kulihat Yanti sedang nonton TV.

"Film apa sih, Yan?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya.

"Sinetron," jawab Yanti pendek.

Kupandangi wajahnya; Yanti jengah dan bilang, "Ngapain sih ngeliatin gitu, Yo?"

"Kamu cantik," rayuku. "Rio pengen ciuman kayak tadi, deh."

Kutarik tubuhnya; Yanti diam saja. Kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya. Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku—kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak. Kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.

"Aaacchh... Riooo..." Desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.

Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya. Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku—sengaja tidak kupadamkan lampu. Penisku langsung tegak melompat keluar "sarangnya". Kulihat Yanti terkesima. Kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan mengocok.

"Aaahhh, nikmat sekali..." desahku.

Lima belas menit Yanti melakukan itu. Kulepaskan tangannya, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak; dengan sedikit paksaan dia mau juga. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai penisku basah kuyup oleh ludahnya. Kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.

"Stop, Yanti!" kataku.

Kini kubaringkan dia; kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak tersisa di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya—tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya. Kuhisap pusarnya dan tahi lalatnya; Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke selangkangannya; kumasukkan jari tengahku sambil terus mencium selangkangannya.

"Aaaccchhh, Riiiooo, niiikmaaatnyaaa, sayaaanggg..." desah Yanti.

Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya—kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya.

Kini aku menaiki tubuh Yanti; penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku. Tidak sedetik pun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti—kulihat Yanti menggigit bibirnya.

"Sakiiittt, Riiiooo..." desahnya.

Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi. Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.

"Sakit, saayyyaangg?" tanyaku.

"Iyyaaa, Rio—punya kamu besar sekali," jawab Yanti meracau.

"Mana yang lebih besar—punya Rio atau punya Joe?" tanyaku.

"Besar punya kamu, Riooo... sakit, saaayyyaangghhh—perriihh, tapi niiikmaaatthh sekali," rintih Yanti.

Akhirnya seluruh penisku masuk ke dalam vaginanya. Kutarik maju-mundur; akibatnya sungguh luar biasa. Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku—kurasakan pedih. Yanti orgasme untuk kedua kalinya.

Kini kuganti posisi; Yanti kusuruh menungging. Dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya—kurasakan otot sphincter-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar, kugenggam payudaranya. Yanti menggenggam tepi tempat tidur.

"Riiooo... saaayyyaanngghh... ciintaa... eeeennnaaakkhhh... Riioooo... Rioooo... nikmaaatthh sayaaaanggghh... terrruuussshhh, ciintaaaa..." erang Yanti terus-menerus.

Aku benar-benar menikmatinya. "Yaaanntiii, kuhamili kamuuuu... badan kamuuu enak bangeeettthh..." erangku juga.

Sepuluh menit kemudian aku tidak tahan lagi. Penisku berdenyut kuat; kucengkram erat pinggul Yanti dan kusemburkan sperma hangatku di dalam vagina Yanti.

"Aaacchhh, nikmat sekali..." desahku di telinganya.

Kami pun terkulai lemas.

Setelah itu beberapa kali kami mengulanginya di hotel dekat kantor Yanti. Sekarang Yanti telah menikah dengan Joe. Kami masih berhubungan lewat telepon. Semoga kamu membaca kisah kita ini, Yanti. Rio sayang kamu selalu.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya