18px

Kisah Pria Beristri dan Bu Puput

Kisah Pria Beristri dan Bu Puput

Aku ingat sekali dengan kejadian ini—saat itu aku masih tinggal di Jakarta, dan saat itu aku terkenal dengan sebutan kembarannya. Berikut kisahnya secara lengkap.

Kadang-kadang waktuku habis ke pesta-pesta pernikahan, hanya untuk melihat wanita-wanita yang mengenakan pakaian tertentu. Kalau pun tidak ada pesta pernikahan, aku pergi ke tempat-tempat hiburan tradisional ronggeng di mana para penari dan penyanyinya mengenakan kebaya dan berkonde. Pernah suatu ketika aku pergi ke daerah Karawang untuk mencari hiburan ronggeng dan aku menikmatinya sekali, meskipun harus melihat dandanan yang menor.

Kehidupan seperti ini membuatku kadang-kadang tersiksa, tapi itulah kenyataan hidup yang harus aku jalani dan nikmati. Seperti kata orang, keinginan seperti yang aku alami itu merupakan hal wajar dan sulit untuk diperdebatkan, apalagi menyangkut selera.

Sebagai manusia normal, sampai dengan usiaku memasuki kepala empat aku tetap berusaha mendapatkan seorang wanita yang siap menemaniku dan berpakaian serta berdandan sesuai keinginanku. Aku mencoba memasang iklan melalui kolom iklan baris di internet. Setelah hampir setahun, aku menerima email pertama dari seorang wanita berusia 40 tahun yang menyatakan bahwa dia sangat terharu setelah membaca iklanku dan bersedia menjadi temanku sekalipun harus mengenakan pakaian dan berdandan sesuai keinginanku. Dia juga meninggalkan nomor telepon, dan kami berjanji untuk bertemu seminggu kemudian.

Berhubung saya sudah beristri, Bu Puput pun telah bersuami, saya berjanji akan menjemputnya di salon di daerah Kebayoran Baru.

Hari itu adalah hari Sabtu, jam 11 siang, saya sudah ada di depan salon sesuai janji di telepon dan menunggu bidadariku keluar. Tepat jam 11.45, Bu Puput Melati keluar dari salon dan telah berdandan rapi—kondenya besar dan licin, konde Jawa, berkebaya. Terlihat sangat anggun dan feminin.

Saya mengajak Bu Puput untuk pergi ke suatu motel di daerah Jakarta Barat agar lebih privat untuk ngobrol, dan juga agar saya bisa sepuasnya memandang sang bidadari. Sesampai di motel, kami mengobrol panjang lebar mengenai kehidupan keluarga masing-masing dan juga kehidupan pribadi kami. Saya menceritakan keinginan saya kepadanya dan berterima kasih atas kesediaannya menemani saya.

Sesudah ngobrol panjang lebar, saya meminta agar diperbolehkan mencium keningnya. Saat saya mencium kening, ternyata tangan saya ditarik untuk memegang susunya yang ternyata mulai mengeras—namun belum sempat membuka kebaya.

Saya katakan kepada Bu Puput bahwa saya sebenarnya hanya mengagumi wanita yang berdandan seperti ini dan sebatas memandang dan mencium tanda sayang. Namun Bu Puput mengatakan bahwa justru dia lebih suka dengan pria yang jujur dan tidak grasa-grusu dalam masalah serta memperlakukan dia dengan lembut.

Suatu hal lagi yang dia sukai dari saya adalah badan saya yang tinggi 178 cm, berat 74 kg, proporsional, berambut pendek, dan berkulit sawo matang. Sementara Bu Puput dengan tinggi badan kira-kira 165 cm, berat 53 kg, bra 36C, pantatnya besar, dan berkulit putih.

Bu Puput merasa terlindungi di samping saya. Karena kami berdua sudah berkeluarga, risikonya cukup kecil—ada komitmen antara kami bahwa urusan keluarga masing-masing yang harus didahulukan apabila ada keinginan dari salah satu pihak untuk bertemu.

Bu Puput merasa terlindungi ketika dalam perjalanan dari salon menuju motel, kemudian bertanya apakah saya bisa memijatnya.

"Bisa, tapi nggak bisa keras," kataku.

"Kebetulan ada body lotion yang lembut. Tolong kamu pijitin, Bu," katanya.

Kemudian Bu Puput mengangkat kebayanya hingga lutut, selonjor di tempat tidur sambil saya pijat kakinya—makin lama makin ke atas pahanya, sambil sesekali mencium keningnya.

"Bisa nggak, Bu buka aja kebaya dan kainnya agar lebih mudah memijatnya?" katanya.

"Silahkan aja, kalau menurut Ibu itu lebih mudah," jawab saya.

Kemudian Bu Puput hanya mengenakan celana dalam dan bra transparan, namun rambutnya masih rapi dengan konde. Saya sampai merasa seperti mimpi melihat keindahan tubuh wanita yang meskipun gemuk, padat berisi, namun karena masih mengenakan konde, masih terpancar aura kewanitaannya—dan membuat saya begitu bergairah.

"Kalau mau, buka aja celana panjang dan bajumu biar nggak kusut," tawarnya.

Saya pun menurutinya dan mulai memijat lagi dari paha. Perlahan-lahan mulai ke pangkal paha—Bu Puput mulai menggelinjang kegelian, namun saya masih bisa menguasai diri untuk berkonsentrasi pada pijat.

Namun mungkin karena terus dibuat geli, Bu Puput kemudian menarik tangan kiriku untuk mulai menyentuh susunya yang berukuran kira-kira 36C, proporsional dengan tinggi dan beratnya.

Setelah 30 menit memijat, Bu Puput minta ke kamar mandi. Sementara saya berusaha menetralisir pikiran dengan menonton film komedi di TV. Menghadapi wanita semacam Bu Puput, saya harus mampu mengendalikan diri dan membuatnya penasaran—karena seorang wanita, apalagi yang sudah matang, memang membutuhkan foreplay yang panjang dan berkesan.

Setelah selesai dari kamar mandi, Bu Puput minta untuk diteruskan pijatnya, yaitu bagian belakangnya. Sambil memijat belakangnya, saya mulai mencium leher dan kadang menjilat telinganya—yang ternyata membuat dia begitu geli dan napasnya pun mulai tidak keruan. Dia meminta saya untuk membuka kaitan BH-nya, dan sekarang dia hanya mengenakan celana dalam.

Bau wangi tubuh dan bau kewanitaan begitu membangkitkan gairahku, namun aku masih tetap mengontrol diri agar dalam permainan seks nanti Bu Puput benar-benar memperoleh servis yang memuaskan—ini penting untuk hubungan jangka panjang.

Tangan kanan saya tetap memijat pundak sambil sesekali menjilat leher. Sementara tangan kiri saya mulai mengelus putingnya yang sebesar kelereng dan membuat dia makin meronta karena geli. Kemudian dia berbisik kepada saya bahwa baru sekali ini dia merasakan nikmatnya permainan awal yang luar biasa.

Kadang-kadang Bu Puput menggigit kecil bibirku dan kadang mengulumnya dengan nafsu, sambil tangan kanannya mengelus-ngelus batangku yang juga sudah mulai tegang.

Karena sudah tidak tahan, dia minta saya pindah duduk berhadapan dengannya. Sambil mencium bibir dan mengelus puting, jari kanan saya mulai mengelus kemaluannya yang ternyata mulai mengeluarkan lendir.

Setelah itu Bu Puput pindah ke pinggiran tempat tidur dan membuka pahanya lebar-lebar. Saya sambil jongkok mulai menjilat kemaluannya dimulai dari klitorisnya yang sebesar biji kacang tanah—membuat dia hampir duduk tapi terus menggerakkan pantatnya karena geli dan bernafsu. Sambil menjilat klitoris, tangan saya memainkan puting susunya yang keras sambil sesekali meremasnya.

Gerakan tubuh Bu Puput sudah mulai tak beraturan karena menahan geli, sekaligus nafsu seks yang mulai meningkat.

Agar tidak merusak dandanan rambutnya, saya minta Bu Puput mengganti posisi—nungging di atas tempat tidur sementara saya telentang di bawahnya agar bisa menjilat klitorisnya yang sudah mulai basah. Pantatnya mulai digoyangkan ke kanan-kiri, dan jari kanan saya dengan sedikit lotion mengelus celah pantatnya. Menurut Bu Puput, itu sangat nikmat rasanya.

"Mas... Papa... Teruss... Achh, nikmatnya..." celotehnya mulai tak karuan.

Mulut saya pun terus menjilat klitorisnya, dan jari saya terus mengelus di antara bongkahan pantatnya, makin masuk lebih dalam.

"Achh... Mmmhh... Teruss, Mas... Aduh, sudah nggak tahan nih..."

Akhirnya saya tetap telentang dan Bu Puput minta agar saya masukkan si kecil ke dalam vaginanya.

"Silahkan, kalau Ibu sudah nggak tahan. Tapi saya minta agar Ibu yang masukin sendiri, tapi membelakangi saya—itu terasa lebih nikmat."

Dan ternyata setelah masuk—bless—Bu Puput mulai merintih sambil bergerak maju-mundur.

"Mmmhh... Ohh... Enak... Mas... Bareng aja keluarnya..."

"Pelan-pelan aja, Bu. Biar nikmat," kata saya sambil menjilat punggungnya dan tangan saya meremas serta sesekali memilin puting susunya.

"Aohh... Nikmatt... Mmmhh, terus... Tahan... Biar keluar bareng."

Karena posisi Bu Puput di atas, dia lebih cepat sampai di puncaknya. Dan ketika dia sudah nyampe, cepat-cepat badannya dibalikkan jadi posisi kini berhadapan, di mana saya masih telentang—ini membuat saya lebih mudah menjilat susu dan sesekali menggigit kecil putingnya.

Kemudian kami berdua tidur karena capek sambil berpelukan. Dalam kepenatan tersebut saya masih sempat mencium keningnya, bibirnya, dan kadang-kadang putingnya saya jilati. Karena seks bagi seorang wanita yang sudah matang bukan hanya pada saat puncak, namun juga sesudah menikmati orgasme—di situlah letak kepuasan seorang wanita.

Kemudian Bu Puput menawarkan untuk pertemuan berikutnya dia akan membawa baju tidur transparan untuk membuatku lebih bernafsu lagi.

"Laki-laki biasanya suka dengan hal-hal yang membuat dia penasaran," katanya.

"Ibu sangat baik terhadap saya," jawabku.

Siang itu Bu Puput mengalami orgasme hingga tiga kali—dua kali di tempat tidur dan sekali di kamar mandi sambil berendam. Di kamar mandi kami lakukan foreplay dengan posisi duduk di dalam bathtub sambil berpagutan, saling mengelus, menjilat, dan kadang-kadang saling meremas. Setelah foreplay, permainan seks dilakukan dengan posisi duduk dan kadang berdiri di mana sebelah kaki Bu Puput diangkat.

Posisi berdiri ini ternyata membuat Bu Puput sangat senang karena mulut saya lebih leluasa menjilat dari kening hingga ke puting susunya, dan Bu Puput pun melakukan hal yang sama terhadapku.

Setelah puas dengan permainan seks yang nikmat karena dimulai dengan foreplay yang asyik, akhirnya Bu Puput minta untuk membuka konde dan kebaya, kemudian mengganti dengan baju biasa yang sudah disiapkan dari rumah. Saya pun mengantar Bu Puput ke Blok M untuk kembali ke rumahnya dengan taksi.

Saya benar-benar puas karena keinginan saya yang selama ini hanya memandang wanita-wanita berkebaya dan berkonde, namun kali ini bukan hanya memandang, namun sampai ke permainan seks yang memuaskan kedua belah pihak.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya