18px

Kisah Terlarang dengan Mbak Vera

Kisah Terlarang dengan Mbak Vera

Terkadang aku merasa diriku adalah manusia yang sangat besar dosanya. Bagaimana tidak — tanteku, istri dari pamanku sendiri, pernah aku genjot. Itu tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Berikut kisah lengkapnya.

Kala itu paman ditugaskan ke Bandung selama tiga minggu. Aku diminta untuk sesekali menjenguk Mbak Vera, karena ia adalah istri kesayangan paman. Aku tahu paman adalah pria dengan gairah seksual tinggi — itu pula alasan dia mampu melayani keempat istrinya. Pastilah Mbak Vera, yang sudah ditinggal seminggu tanpa belaian suami, merasa rindu pada sentuhan laki-laki. Biarlah aku yang melayaninya, pikirku.

Sampai di rumahnya, ruang depan tampak kosong. Siang begini pasti Mbak Vera sedang menunggui warungnya di ruangan kecil di belakang. Ruangan itu berisi ranjang yang biasa dipakai untuk berbaring saat menunggu warung. Aku berjingkat agar langkahku tidak terdengar.

Benar dugaanku — Mbak Vera sedang tidur telentang. Ia hanya mengenakan jubah merah muda yang tipis dan jilbab berbahan kaos yang tersingkap. Jubahnya sudah terangkat hingga pangkal paha sehingga celana dalamnya yang putih tipis terlihat jelas, memperlihatkan belahan kemaluannya yang tertutup rambut halus kecokelatan. Buah dadanya yang montok dan padat tampak samar di balik jubah tipis itu, naik turun dengan teratur. Meski berbaring telentang, buah dadanya tetap mencuat ke atas dengan puting kecil yang nampak jelas.

Melihat pemandangan yang menggairahkan itu, aku benar-benar terangsang hebat. Dengan cepat kemaluanku bereaksi, mengeras dan berdiri gagah, siap tempur. Perlahan-lahan aku berjongkok di sisi tempat tidur dan dengan hati-hati menarik jubah Mbak Vera semakin ke atas hingga celana dalamnya semakin jelas terlihat. Tanganku kuletakkan dengan lembut pada bagian yang mungil itu, yang masih ditutupi celana dalam. Perlahan tanganku mulai mengelus kemaluan wanita berjilbab yang montok itu, juga bagian paha atasnya yang licin, putih, dan mulus.

Mbak Vera tampak bergeliat sedikit dan bibirnya tersenyum — mungkin ia sedang bermimpi bercinta dengan paman. Aku melanjutkan kegiatanku dengan hati-hati, takut ia terbangun. Perlahan celana dalamnya mulai terlihat basah; rupanya Mbak Vera sudah mulai terangsang juga. Dari mulutnya terdengar desis perlahan dan badannya menggeliat pelan. Aku makin tersangsang dibuatnya.

Dengan cepat kubuka semua bajuku sehingga kini aku telanjang bulat. Kontolku yang 19 cm itu telah berdiri kencang, mengangguk-angguk mencari mangsa. Aku membelai buah dadanya — dia masih tertidur. Aku tahu puting adalah bagian yang paling ia sukai untuk dicumbui, sebab aku sering mengintip saat paman dan Mbak Vera bercinta. Kemudian tanganku mulai bergerilya di daerah kemaluannya. Perlahan-lahan, dengan gunting yang terdapat di sisi tempat tidur, aku menggunting celana dalam mini Mbak Vera.

Kini kemaluan Mbak Vera terpampang jelas tanpa penutup. Perlahan kedua kakinya kutarik melebar sehingga kedua pahanya yang montok dan putih terpentang. Dengan hati-hati aku naik ke atas tempat tidur, berlutut di sisi pinggul Mbak Vera, mengatur posisi agar tidak menyentuhnya. Tangan kananku bertumpu di kasur tepat di samping tangannya sehingga aku berada dalam posisi setengah merangkak di atasnya.

Tangan kiriku memegang batang kontolku. Perlahan-lahan kepala kontolku kuletakkan pada belahan bibir vagina Mbak Vera yang telah basah itu, lalu kugosok-gosokkan dengan hati-hati pada klentitnya. Terdengar erangan perlahan dari mulutnya dan badannya sedikit mengeliat, tapi matanya tetap tertutup. Akhirnya, dengan perlahan, kutekan kepala kemaluanku membelah bibir kemaluannya.

Kini kepala kontolku terjepit di antara bibir memek Mbak Vera. Dari mulutnya masih terdengar desis pelan, namun badannya mulai gelisah. Aku tidak mau mengambil risiko — sebelum Mbak Vera sadar, aku sudah harus menaklukkan kemaluannya. Kupastikan posisi kontolku tegak lurus, lalu dengan bantuan tangan kiri yang membimbing, perlahan tapi pasti kupres pinggulku ke bawah. Kepala kontolku mulai menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan Mbak Vera.

Sejenak kedua pahanya bergerak melebar seakan menampung desakan kontolku. Tiba-tiba badannya bergetar, menggeliat, dan kedua matanya mendadak terbuka — terbelalak bingung memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan siap berteriak. Dengan cepat tangan kiriku kulepaskan dari kontolku dan segera kudekap mulutnya agar tidak berteriak.

Karena gerakan tiba-tiba itu, aku tak dapat menjaga keseimbangan; seluruh berat badanku menekan ke bawah. Tak dapat dicegah lagi, kontolku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan Mbak Vera dengan cepat. Badannya tersentak ke atas, kedua pahanya mencoba merapat, dan kedua tangannya mendorong dadaku. Dari mulutnya keluar jeritan yang tertahan oleh bekapan tanganku — "Aauuhhmm... aauuhhmm... hhmm..." — badannya menggeliat-geliat hebat. Mbak Vera sangat kaget dan mungkin kesakitan akibat kontolku yang besar menerobos masuk tiba-tiba.

Meski Mbak Vera meronta-ronta, pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggulku. Gerakan-gerakannya membuat kontolku yang terbenam di dalam memeknya terasa dipilin-pilin dan seakan dipijat oleh otot-otot di dalamnya — menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.

Karena sudah kepalang tanggung, tangan kananku yang tadinya bertumpu di tempat tidur kulepaskan. Kini seluruh badanku menekan rapat ke atas badannya, kepalaku kuletakkan di samping kepalanya. Aku berbisik ke telinganya, "Mbak... mbak... ini aku, Hans. Tenang, mbak... sshh..." Tanteku yang alim namun montok ini masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena tubuhnya yang mungil terperangkap di bawahku.

Sambil mendekap mulutnya, aku menjilat kupingnya dari luar jilbab kausnya. Pinggulku perlahan-lahan mulai kugerakkan naik-turun dengan teratur. Sedikit demi sedikit tubuh Mbak Vera yang tadinya tegang mulai melemah. Kubisikkan lagi, "Mbak, tanganku akan kulepaskan dari mulutmu, asal Mbak Vera janji jangan berteriak, ya." Perlahan tanganku kulepaskan dari mulutnya.

"Hans, apa yang kau perbuat ini? Kamu telah memperkosa Mbak Vera," katanya.

Aku diam saja, tidak menjawab. Hanya gerakan pinggulku yang makin kupercepat, sementara tanganku memijat-mijat buah dadanya yang masih tertutup jubah tipis, terutama pada bagian puting yang sudah sangat mengeras. Jilbabnya yang tersibak justru membuat wajahnya semakin menggairahkan.

Rupanya, meski wajah Mbak Vera masih menunjukkan rasa marah, reaksi tubuhnya tidak dapat menyembunyikan gairah yang mulai bangkit. Melihat keadaan ini, tempo permainanku kutingkatkan. Akhirnya dari mulut wanita alim berjilbab itu terdengar, "Oohh... oohh... sshh... sshh... eemm... eemm... Hansss..."

Sambil melanjutkan gerakan pinggul, perlahan kedua tanganku bertumpu di tempat tidur sehingga aku kini dalam posisi setengah bangun seperti orang melakukan push-up. Di bawahku tampak wanita alim berjilbab yang kini jilbabnya tersingkap dan semakin bergairah, kusodok-sodok dengan kontolku yang besar.

Dalam posisi ini kontolku menghujam kemaluannya dengan bebas. Kedua mataku menatap ke bawah, ke dalam mata Mbak Vera yang meram-melek dengan sayu. Dari mulutnya masih terdengar desis-desisan. Setelah merasa yakin Mbak Vera dapat kutaklukkan, aku berhenti sejenak dan mencabut kontolku.

Aku berbaring setengah tidur di samping Mbak Vera, satu tangan mengelus buah dadanya terutama pada bagian putingnya dari balik jubahnya. "Ehh, Hans, kenapa kau lakukan ini kepada tantemu?" katanya. Sebelum menjawab, aku menarik badannya menghadapku dan memeluknya erat-erat, tubuhnya yang montok menempel lengket ke badanku. Bibirku mencari bibirnya dan dengan gemas kulumat. Kini wanita alim itu menyambut ciumanku — lidahnya aktif bermain bersama lidahku di dalam mulut kami.

Kuhentikan ciuman sejenak, memandang langsung ke dalam kedua matanya. "Mbak, sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Mbak Vera. Mbak sangat cantik dan ayu." Kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan, "Setiap kali melihat Mbak Vera bermesrahan dengan paman, aku merasa sangat cemburu — seakan Mbak Vera adalah milikku. Jadi Mbak Vera jangan marah, ya. Ini kulakukan karena tidak bisa menahan diri."

Selesai berkata itu, aku menciumnya dengan mesra dan tidak tergesa-gesa — ciuman yang sangat panjang, seakan ingin menghirup napasnya. Ini kulakukan agar ia semakin pasrah. Rupanya Mbak Vera akhirnya takluk; pelukan dan ciumanku dibalasnya dengan tidak kalah mesra.

Beberapa saat kemudian aku menghentikan ciuman dan berbaring telentang di sampingnya. Mbak Vera dapat melihat keseluruhan tubuhku yang telanjang. "Iiih, gede banget barang kamu, Hans. Itu sebabnya tadi Mbak Vera merasa sangat penuh," katanya.

Aku mulai memeluknya kembali, menciumnya. Ciumanku mulai dari mulutnya, turun ke pangkal lehernya yang tidak tertutup jilbab, sementara perlahan kubuka kancing jubahnya hingga perut. Sepasang buah dada yang putih dan sangat montok terpampang di hadapanku, putingnya yang merah sudah mengeras. Segera mulutku melumat dan menghisap kedua buah dadanya bergantian, kiri dan kanan.

Sementara aksiku berlangsung, badan tanteku yang selalu berjilbab dan berjubah lebar itu menggeliat-geliat kenikmatan, dari mulutnya desis-desisan tidak berhenti. Aksiku kulanjutkan ke bawah — turun ke perutnya yang ramping, datar, dan mulus (Mbak Vera belum pernah melahirkan) — bermain sebentar di sana, lalu turun makin ke bawah menuju sasaran utama di antara kedua pahanya yang putih mulus.

Di bagian vagina Mbak Vera, mulutku dengan cepat menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya. Lidahku bermain-main ke dalam lubangnya, mencari-cari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil di bagian atasnya. Seketika badan wanita montok berjilbab itu bergetar hebat — kedua tangannya mencengkeramku, menekan ke bawah, sementara kedua pahanya menegang kuat. Keluhan panjang keluar dari mulutnya, "Oohh, Hansss... oohh, enak, Hans..."

Sambil masih melanjutkan kegiatanku, perlahan kutempatkan posisi badanku sehingga pinggulku berada sejajar dengan kepala Mbak Vera, dan dalam posisi setengah berjongkok, batang kemaluanku persis berada di depan kepalanya. Rupanya Mbak Vera paham keinginanku — batang kemaluanku dipegang tangannya dan ditarik ke bawah. Terasa kepala kontolku menerobos masuk di antara daging empuk yang hangat.

Ketika ujung lidah Mbak Vera mulai bermain di seputar kepala kontolku, suatu perasaan nikmat menjalar dari bawah ke seluruh badanku. Erangan kenikmatan pun tak terasa keluar dari mulutku. Membayangkan wanita berjilbab mengulum kontolku dengan penuh nafsu, aku semakin bernafsu. Dengan posisi 69, kami terus bercumbu saling hisap-mengisap dan jilat-menjilat seakan berlomba memberikan kepuasan satu sama lain.

Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang. Sambil telentang aku menarik Mbak Vera ke atasku sehingga kini wanita berjilbab itu tertelungkup di atasku. Kudorong badannya sedikit ke bawah dan kusibakkan kembali jubahnya ke atas. Kedua pahanya kupentangkan. Dengan tekanan tanganku pada pantatnya yang tak kalah montok dan sentakan ke atas, kontolku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya.

"Aaauuuggh..." terdengar keluhan panjang kenikmatan yang jalang dari mulut wanita alim itu.

Aku segera menggoyang pinggul dengan cepat karena Mbak Vera sudah menuju klimaks. Ia pun semakin semangat, mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat di atasku. Wajahnya yang cantik dibalut jilbab memberikan sensasi tersendiri bagiku; kedua buah dadanya yang montok bergoyang liar. Dari cermin besar di lemari aku melihat panggul Mbak Vera berayun di atasku — batang kontolku yang besar sebentar terlihat, sebentar hilang, saat tanteku yang berjilbab itu bergerak naik-turun.

Hal ini membuatku makin terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam, mencari jalan keluar. Air maniku tanpa bisa ditahan menyemprot keras ke dalam lubang kemaluan Mbak Vera yang pada saat bersamaan berdenyut-denyut kencang. Badannya yang berada di atasku bergetar hebat dan terlonjak-lonjak. Kedua tangannya mendekap badanku keras, dan pada saat bersamaan kami berdua mengalami orgasme yang dahsyat.

Akhirnya Mbak Vera tertelungkup lemas di atas badanku. Dari mulutnya tampak senyuman puas. "Hans, terima kasih. Kau telah memberikan Mbak Vera kepuasan sejati."

Setelah beristirahat, kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling membersihkan diri. Sementara mandi, kami berpelukan dan berciuman, saling mengelus dan memijat, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi. Dengan setengah membopong badannya yang mungil itu — kedua tangan Mbak Vera menggelantung pada leherku, kedua kakinya melingkar di pinggangku — satu tangan kutaruh di pantatnya sambil menekan kontolku yang sudah tegang kembali ke dalam lubang kemaluannya.

"Aaughh... oohh... oohh..." terdengar rintihan liar wanita yang biasanya alim itu sementara aku menggerakkan pantatku maju-mundur sambil menekan ke atas. Dalam posisi ini, berat badan Mbak Vera sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang terganjel oleh kontolku, sehingga dengan cepat ia mencapai klimaks.

"Aduhh, Hansss... Mbak Vera mau... keluar, Hans..." Dengan keluhan panjang disertai tubuhnya yang mengejang, Mbak Vera mencapai orgasme, lalu terkulai lemas dalam gendonganku.

Dengan kontolku masih berada di dalam kemaluannya, aku membawanya ke tempat tidur dalam keadaan tubuh masih basah. Kugenjot Mbak Vera yang telah lemas dengan sangat bernafsu hingga aku orgasme, sambil menekan kuat-kuat pantatku. Kupeluk badannya erat-erat sambil merasakan air maniku menyemprot deras ke dalam lubang kemaluannya, mengisi segenap relungnya.

Semalaman itu kami masih melakukan persetubuhan beberapa kali dan baru berhenti kecapaian menjelang fajar. Sejak saat itu, setiap minggu minimum lima kali kami secara sembunyi-sembunyi bersetubuh, dan tanteku yang berjilbab itu selalu ketagihan kontolku. Itulah kenangan yang hingga kini tidak bisa terlupakan, dan aku pun merasa sangat bersalah terhadap pamanku — sebab istri tercintanya sudah pernah merasakan kontolku.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya