18px

Kubagi yang Terbaik Untukmu, Mbak

Kubagi yang Terbaik Untukmu, Mbak

Suatu kebahagiaan tersendiri bila tercipta rasa saling menyayangi di antara saudara. Tapi kebahagiaan seperti apa yang dirasakan Sandra ketika berusaha memberikan kebahagiaan untuk Shanty, sebagai rasa sayang seorang adik kepada kakak kandungnya?

Kisah nyata ini dipaparkan oleh Lucky, suami Sandra, kepada saya untuk direka menjadi satu cerita. Lucky, 34 tahun, dan Sandra, 27 tahun, adalah pasangan suami istri harmonis yang dikaruniai satu orang putri berusia 3 tahun yang lucu. Tinggal di wilayah Jakarta Timur, Shanty, 30 tahun, saat itu sudah beberapa hari menginap di rumah mereka karena sedang menghindar dari suaminya. Shanty tengah mengurus perceraian karena sudah merasa tidak ada kecocokan lagi di antara mereka.


Malam itu, 21 Juni 2004...

"Kami mau tidur dulu, Mbak," kata Sandra kepada Shanty yang masih asyik menonton TV.
"Tadi anakku tertidur di kamarmu," sambung Sandra.
"Iya, pergilah istirahat. Kasihan si Lucky, besok harus kerja lagi," kata Shanty sambil tersenyum.
"Biar anakmu tidur denganku," sambung Shanty.

Akhirnya Sandra dan Lucky segera masuk ke kamarnya.

"Kasihan Mbak Shanty ya, Mas?" kata Sandra sambil memeluk Lucky.
"Betul. Sudah berapa lama dia pisah ranjang dengan suaminya?" tanya Lucky sambil memejamkan mata.
"Kalau tidak salah sudah hampir empat bulan, Mas," kata Sandra sambil menyusupkan tangan ke dalam sarung Lucky.
"Ha? Mas nggak pakai celana dalam ya?" tanya Sandra agak kaget, namun tangannya erat memegang kejantanan Lucky.
"Memang tidak pakai," kata Lucky santai sambil tersenyum.
"Jadi selama kita tadi nonton TV bersama Mbak Shanty... yeee, nakal ya!" kata Sandra sambil meremas kejantanan Lucky agak keras.
"Nggak apa-apa, kan tidak kelihatan?" kata Lucky sambil memiringkan badan menghadap Sandra.
"Lagian kalau dia lihat juga, anggap saja amal," kata Lucky sambil tersenyum nakal.
"Nakal ya!" kata Sandra sambil melumat bibir Lucky, sementara tangannya tak henti mengocok kejantanan Lucky hingga tegang.
"Mm, enak, Sayang," bisik Lucky ketika kocokan Sandra makin cepat.
"Buka dulu bajunya, Mas," kata Sandra sambil menghentikan tangannya.

Sandra bangkit dari kasur dan melepas seluruh pakaiannya. Lucky pun ikut bangkit dan melepas pakaiannya.

"Jangan dulu ke kasur—hisap dulu dong," kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra, tangannya perlahan menekan dan membimbing kepala Sandra ke arah kejantanannya. Sandra mengerti dan menuruti kemauan suaminya.

"Ohh," desah Lucky ketika mulut Sandra sudah mengulum penuh kejantanannya.
"Mm, kamu memang pintar... hh," kata Lucky sambil memejamkan mata ketika tangan Sandra pelan-pelan mengocoknya.
"Mm," terdengar suara Sandra ketika mulutnya tak henti menghisap sambil tangannya terus bekerja.
"Ohh, enakk, Sayanggg," kata Lucky sambil memaju-mundurkan pinggul seiring hisapan Sandra.
"Gantian, Mas," kata Sandra setelah beberapa lama.

Sandra lalu membaringkan tubuhnya di kasur dan membuka lebar pahanya. Tampak bulu-bulu halus tumbuh cukup lebat di sekitar kemaluannya.

"Oww, enak sekali, Mas," desah Sandra dengan mata terpejam ketika lidah Lucky mulai menjilati belahan kemaluannya dari atas ke bawah bolak-balik. Pantat Sandra bergoyang seiring rasa nikmat yang dirasakannya.
"Ohh, terus... ohh," desah Sandra makin keras ketika jari Lucky keluar masuk lubang kemaluannya yang sangat basah sambil lidahnya tetap menjilati kelentit.

Tubuh Sandra melengkung, menggeliat, dan menggelinjang menahan nikmat yang luar biasa. Sampai akhirnya—serr! serr! serr!—Sandra mendesakkan kepala Lucky ke kemaluannya ketika terasa semburan cairan disertai rasa nikmat dan nyaman yang amat sangat.

"Ohh! Ohh!" suara Sandra serak keluar dari mulutnya.
"Nikmat sekali, Mas," desah Sandra dengan tubuh lemas terkulai di kasur.
"Kini giliranku," kata Lucky tersenyum sambil bangkit dan menaiki tubuh Sandra.

Mulut Lucky yang masih basah oleh cairan Sandra segera melumat bibirnya. Sandra membalas sambil memegang kejantanan Lucky dan mengarahkan ke lubang kemaluannya. Bless... bless... kejantanan Lucky ditekan, dan dengan segera sudah keluar masuk.

"Ohh," kembali desah Sandra terdengar seiring gerakan itu.
"Ohh, enak sekali rasanya, Sayang," bisik Lucky ke telinga Sandra sambil tak henti memompa.
"Kita enak-enakan di sini sementara Mbak Shanty kesepian," kata Sandra sambil mengecup bibir Lucky.
"Ya, itu sudah nasibnya, Sayang," kata Lucky sambil terus merangkul Sandra dalam kenikmatan.
"Ohh, enakk, Sayanggg," desah Sandra sambil menggeliat.
"Mas suka tidak kepada Mbak Shanty?" tanya Sandra di sela persetubuhan itu.
"Ya tentu saja suka, namanya juga kakak ipar," kata Lucky sambil terus memompa.
"Maksudku, suka secara fisik—seorang lelaki menyukai seorang wanita," kata Sandra sambil menggoyangkan pantat.
"Kok membicarakan orang lain sih?" kata Lucky.
"Nggak apa-apa kan, Mas? Lagian itu membuatku makin bergairah," kata Sandra sambil mempercepat goyangannya.
"Benarkah?" tanya Lucky.
"Iyaahh... Kadang aku suka membayangkan Mas bersetubuh dengan wanita lain. Dan itu membuat aku bergairah—nggak marah kan, Mas?" tanya Sandra.
"Fantasi seperti itu boleh saja, Sayang," kata Lucky sambil mengecup kening Sandra.
"Ohh, betulkahh?" Sandra mendesah.
"Kalau aku mau Mas membahagiakan Mbak Shanty, mau tidak?" tanya Sandra, mengagetkan Lucky.

Serta merta mereka menghentikan gerakan, sementara kemaluan mereka masih berpautan.

"Maksud kamu apa, Sayang?" tanya Lucky. Sandra tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengecup bibir Lucky.
"Mbak Shanty adalah orang yang paling aku sayang, dan aku ingin dia mendapatkan yang terbaik," kata Sandra.
"Aku ingin bisa memberikan yang terbaik buat dia," lanjutnya.
"Mas adalah yang terbaik buat aku," kata Sandra sambil tersenyum.
"Aku rela membagi hal terbaik yang aku punya dengan Mbak Shanty."
"Mas ngerti kan maksudku?" Sandra kembali menggoyang pantat.
"Mas ngerti... tapi apakah kamu benar-benar..." ucapan Lucky terputus karena Sandra keburu melumat bibirnya.

Kembali mereka bersetubuh melanjutkan yang terhenti.

"Aku benar-benar ingin Mas membahagiakan Mbak Shanty... dan itu membuatku makin bergairah," kata Sandra sambil menggoyang pantat lebih cepat.
"Baiklah... ohh... ohh," desah Lucky sambil mempercepat gerakan.
"Aku mau keluarr, Sayanggg," kata Lucky sambil mendesakkan kejantanannya makin dalam.

Crott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak di dalam kemaluan Sandra.

"Ohh, enak sekali, Sayang," kata Lucky sambil mengecup bibir Sandra.
"Mas mau kan memenuhi permintaanku?" tanya Sandra manja.
"Iya, baiklah," kata Lucky sambil tersenyum.
"Terima kasih. Sering aku membayangkan Mas menyetubuhi Mbak Shanty," bisik Sandra. Dan mereka pun kembali saling berpagutan tanpa melepas kemaluan mereka yang masih bertautan.


Suatu pagi...

"Mas, Mbak Shanty... aku mau ke pasar dengan si kecil—ada yang mau dititip tidak?" kata Sandra kepada mereka berdua.
"Aku ikut, San," kata Shanty.
"Nggak usah, Mbak—aku mau ke rumah Bu Heru dulu soalnya," kata Sandra berdalih.
"Ya sudah kalau begitu," kata Shanty.

Akhirnya Sandra dan anaknya segera meninggalkan rumah. Tinggal Lucky dan Shanty berdua.

"Tidak ke kantor, Luck?" tanya Shanty.
"Aku sudah izin untuk datang agak siang, Mbak," jawab Lucky sambil mendekati dan duduk di samping Shanty.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, Mbak."
"Apa itu?" tanya Shanty sambil menatap mata Lucky.
"Bagaimana urusan Mbak dengan Mas Rudy? Aku kasihan melihat Mbak," kata Lucky.
"Tidak tahulah, Luck... kita lihat saja nanti," kata Shanty sambil menyandarkan tubuh di kursi.
"Mbak putus asa?" tanya Lucky sambil tangannya mencoba memegang tangan Shanty.

Shanty hanya diam ketika Lucky menggenggam tangannya. Hanya air mata yang terlihat menetes di sudut matanya.

"Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi," kata Shanty sambil terisak.
"Aku mengerti bagaimana perasaan Mbak," kata Lucky sementara air mata Shanty makin deras.
"Boleh aku pinjam bahumu, Luck? Aku tidak tahan."

Lucky mengangguk. Shanty segera merebahkan kepalanya di bahu Lucky dan menangis terisak. Lucky mengusap-usap rambut dan punggung Shanty untuk menenangkannya.

"Sudahlah, Mbak... Mbak masih punya kami," kata Lucky sambil melepas rangkulan Shanty dan menatap matanya.
"Kami sayang Mbak... aku sayang Mbak," kata Lucky.
"Benarkah?" tanya Shanty sambil menyeka air mata. Lucky tak menjawab, hanya mengangguk sambil menatap mata Shanty.

Lama mereka saling bertatapan. Ada rasa tak menentu ketika Shanty menatap mata Lucky. Apalagi ketika Lucky sedikit demi sedikit mendekatkan wajah hingga hampir bersentuhan. Shanty tak bisa berkata apa-apa ketika terasa ada rasa hangat dan nyaman dari bibir Lucky yang menyentuh bibirnya. Ketika Lucky mengecupnya, Shanty hanya bisa terpejam merasakan rasa nyaman yang berdesir di hatinya.

"Mmhh," hanya itu yang keluar dari mulut Shanty ketika Lucky mulai melumat bibirnya.
"Luck... jangan... mmhh," kata Shanty ingin menolak, tapi gairahnya telah mulai bangkit. Lucky tak menjawab, tapi makin hangat melumat bibir Shanty.
"Mmhh," Shanty mendesah dan mulai terbawa arus gairahnya.

Dibalasnya ciuman Lucky dengan panas dan liar. Sebagai wanita yang telah lama tidak merasakan kehangatan sentuhan laki-laki, perlakuan Lucky membuat Shanty bergairah tinggi dan mulai melupakan kesedihannya.

"Luck... aku... aku... ohh," suara Shanty terputus-putus serak ketika tangan Lucky mulai menggerayangi bagian depan dasternya. Dua gumpalan empuk di dada Shanty diremas perlahan oleh Lucky sambil mereka terus berciuman.

"Mbak, kita pindah ke kamar," ajak Lucky sambil menarik tangan Shanty.
"Tapi... bagaimana dengan Sandra?" tanya Shanty ragu.
"Aku bisa menyayangi Mbak seperti ini karena Sandra sayang kepada Mbak," kata Lucky sambil menarik Shanty ke kamar.
"Maksudnya apa, Luck?"

Lucky tidak langsung menjawab, tapi langsung memeluk dan melumat bibir Shanty. Shanty pun, karena sudah terbawa gairah, langsung membalas pagutan itu. Keduanya terus berciuman sambil melepas pakaian masing-masing. Lucky merebahkan tubuh telanjang Shanty ke atas kasur.

"Ohh... Luckyy... mmhh," desah Shanty keras ketika lidah dan mulut Lucky menggigit dan menjilati buah dadanya, apalagi ketika satu tangan Lucky turun ke perut lalu ke kemaluannya yang sudah sangat basah.

"Aku sayang Mbak," kata Lucky sambil menatap Shanty, lalu kepalanya mulai turun ke perut dan terus ke kemaluan.

"Oohh... ohh... oww... ssh," jerit lirih Shanty sambil mata terpejam ketika lidah Lucky dengan liar menjilati belahan kemaluan dan kelentitnya bergantian.

Serr! serr! serr! Shanty merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika cairan cintanya menyembur, disertai dengan geliat dan gelinjang tubuh.

"Ohh, Lucky... aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini... makanya aku keluar cepat," kata Shanty sambil menatap Lucky yang sudah berada di atas tubuhnya.
"Aku akan membahagiakan Mbak... kapan saja Mbak mau," kata Lucky sambil tersenyum dan mengecup bibir Shanty.
"Tapi... Sandra," tanya Shanty.
"Sandra sangat sayang pada Mbak," kata Lucky sambil mengarahkan kejantanannya ke lubang kemaluan Shanty.

Shanty meraih kejantanan Lucky dan membimbingnya ke lubang kemaluannya. Tak lama, Lucky sudah turun naik memompa di lubang kemaluan Shanty.

"Ohh... mhh," desah Lucky dengan mata terpejam sambil memeluk Shanty.
"Ohh, enak sekaliihh... ohh," desah Shanty sambil menggoyangkan pinggul cepat.

Setelah beberapa lama—serr! serr! serr!—Shanty kembali menyemburkan cairan cintanya disertai jeritan kenikmatan dari mulutnya.

"Nikmat sekali... ohh," bisik Shanty dengan tubuh lunglai.
"Tengkurap, Mbak," pinta Lucky sambil mencabut kejantanannya.

Shanty menurut. Ia membalikkan badan tanpa menungging, lalu melebarkan kaki agar kejantanan Lucky mudah masuk. Bless! Lucky mengarahkan kejantanan ke lubang kemaluan Shanty dari belakang, menekannya, dan akhirnya leluasa keluar masuk. Mata Lucky terpejam merasakan kenikmatan sambil memegangi bongkahan pantat Shanty yang bulat padat.

"Ohh, aku mau keluarrhh," kata Lucky serak.
"Jangan dikeluarkan di dalam, Luck—aku tidak KB," kata Shanty cepat.

Lucky makin mempercepat pompaannya, lalu dengan segera mengeluarkan kejantanannya dan menggesek-gesekkannya di belahan pantat Shanty, sampai... Croott! Croott! Croott! Air mani Lucky menyembur banyak dan jauh hingga ke punggung Shanty.

"Ohh, enak sekali, Mbak," kata Lucky sambil berbaring di samping tubuh Shanty yang masih tengkurap, berlumuran air mani di punggung dan pantatnya.
"Apakah ini akan menjadi masalah, Luck?" tanya Shanty.
"Tidak akan, Mbak... percaya kepada kata-kataku," kata Lucky sambil tersenyum dan mengecup bibir Shanty.


Menurut Lucky, sampai dengan saat ini hubungannya dengan Shanty—yang sudah resmi bercerai dari suaminya—tetap berjalan. Sandra selalu meminta Lucky bercerita tentang hubungan seksnya dengan Shanty setiap kali mereka mau bersetubuh. Hal ini membuat Sandra sangat bergairah. Lucky mencarikan kontrakan untuk Shanty di sekitar Jakarta Timur agar lebih leluasa menumpahkan kasih sayangnya.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya