18px

Bab 1

Lembur Asik Bersama Gitto

Nama panggilanku Suzan. Aku berusia 25 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang cukup menyenangkan, baik secara status maupun secara ekonomi. Aku seorang blasteran Jawa-Jepang, namun secara fisik, banyak orang mengira aku keturunan Tionghoa karena warna kulitku putih dan mataku tidak lebar. Rambutku pendek seleher. Aku tergolong wanita yang kurus dengan tinggi badan 176 cm dan berat 59 kg. Namun aku merasa memiliki bentuk tubuh yang bagus, dengan kaki yang panjang, dan payudara yang tidak besar namun padat dan kencang. Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong cukup "bebas" untuk orang Indonesia. Selama aku cocok dan dia cocok, aku easy going sajalah. Mungkin sikap ini juga yang membuatku belum mendapatkan pasangan "resmi" hingga sekarang, tapi... peduli amat? Aku toh enjoy aja dengan ini semua.

Waktu itu akhir bulan Juni 1999. Karena akhir bulan, seperti biasa aku sibuk membaca dan mengevaluasi laporan hasil kerja anak buahku, dan menuliskan laporan untuk atasanku. Karena waktu sudah sangat sempit, aku memutuskan untuk bekerja overtime sampai selesai. Gedung perkantoran tempatku bekerja tergolong pelit—mereka mematikan lampu dan listrik utama setelah lewat pukul enam sore. Karena itu aku menyewa sebuah ruang khusus yang memang disediakan gedung itu untuk orang-orang yang ingin lembur.

Ruangan itu kecil sekali, sekitar 3x3 meter, tidak berjendela, sehingga terkesan seperti dikurung dalam sebuah kotak korek api, dan AC-nya tidak begitu dingin. Namun karena tuntutan karier, ya sudahlah, aku langsung menginput data ke dalam notebook untuk dikirimkan via email ke kantor pusat. Tak terasa, aku sudah bekerja hingga pukul delapan malam.

Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus. Aku ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift, ada sebuah dispenser air minum. Aku segera berdiri dan keluar dari ruang itu untuk mengambil air minum. Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang pria sedang mengambil air di dispenser itu. Aku lega bahwa ternyata dispenser itu berfungsi.

Aku segera menghampiri dispenser itu, mengambil gelas, dan menuangkan air. Pria yang sedang minum tadi tersenyum menyapaku; aku tersenyum balik, sekadar basa-basi ramah tamah. Pria itu berbadan besar, tingginya sekitar 180-an—lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung.

Ia tidak terlalu kurus atau gemuk, meskipun tidak juga berbentuk seperti binaragawan. Tubuhnya terbungkus rapi oleh kemeja Kenzo warna hijau muda dan di lehernya terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace. Wajahnya pun biasa saja, tampang orang pengejar karier di usia pertengahan dua puluhan.

"Sedang lembur juga, Mbak?" tanyanya mencoba mencairkan suasana sepi. "Iya, biasa, Mas, akhir bulan. Pas hari Jumat lagi." "Oh, pasti lagi menyelesaikan progress report ya?" "Iya, untung sudah selesai barusan." "Wah, baguslah. Eh, omong-omong, Mbak kantornya di lantai berapa?" "Di lantai sebelas. Kalau Mas?" "Saya di lantai delapan." "Oh, wajar kalau kita nggak pernah ketemu."

"Haha, iya, rupanya ada gunanya juga lembur—kita bisa saling kenal." Pria itu berkesan begitu sopan dan ramah; matanya sedari tadi memandang hanya ke mataku, tidak ke arah kemejaku yang dua kancing atasnya terbuka, sehingga tampak putihnya kulit dadaku mengintip keluar. "Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Gitto," katanya sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.

"Aku Suzan," jawabku sambil tersenyum semanis yang aku bisa. "Suzan pulang nanti naik apa?" "Oh, aku bawa mobil sendiri. Kalau kamu?" "Aku naik mobil juga... Eh, Suzan keberatan nggak kalau kita makan malam bareng setelah ini?" Wah, orang ini direct juga ya? pikirku kegirangan.

"Boleh aja, apa Gitto nggak ada yang nungguin di rumah?" "Ah, belum kok," jawabnya sambil mengerdipkan mata kiri dan tersenyum manis. "OK, aku akan beres-beres dulu ya!" kataku sambil melangkah balik ke bilikku. Aku segera mengemasi notebook dan kertas-kertas kerjaku secara terburu-buru. Ada yang aneh di pikiranku.

Aku merasakan ada gairah yang mendorongku untuk berhubungan lebih intim dengan Gitto. Padahal orangnya biasa saja, kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya biasa saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran orang sini. Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia memandang mataku—benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar.

Nyatanya ia tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang tidak-tidak seperti pria lainnya yang pernah kutemui. Hmm... kira-kira apakah dia ada keinginan untuk bercumbu denganku atau tidak? Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di pintu. "Masuk!" kataku sambil berharap bahwa itu adalah Gitto.

Ternyata benar. Gitto berdiri di pintu itu sambil menenteng tas notebook di tangan kanannya. Dasinya telah dilepas, dan kancing bajunya terbuka di bagian atas, sehingga tampak rambut-rambut halus di situ. "Gimana, udah selesai?" tanyanya. "Iya, udah, tapi sewa overtime-nya sampai jam sepuluh nih, jadi masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!" Aku mencoba mengajak bercanda.

"Haha, pelit juga kamu, Sar! Boleh aku masuk?" "Silakan aja, asalkan kamu nggak keburu pulang." "Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang telat." "Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?" "Paling-paling pergi sama teman-teman, main badminton atau basket." "Oh, seru dong? Apa sekarang nggak ditungguin teman-temannya?"

"Ah, mendingan juga di sini nemenin Reni. Sekali-kali boleh kan ganti suasana?" Kami kembali tertawa-tawa. Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi kerjaku yang tadi. "Wah, panas sekali di sini... AC-nya kurang bagus ya?" katanya sambil menggulung lengan bajunya ke atas dan membuka satu lagi kancing baju di dadanya.

Aku menahan diri untuk tidak melihat ke arah rambut-rambut di dadanya. "Sar, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?" tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal. "Well, sebenarnya iya sih... boleh nggak aku copot blazernya?"

"Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku papa mertuamu?" Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus membuatku ingin berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku berdiri dari kursi dan melepaskan blazerku dengan gaya yang kubuat-buat agar tampak seksi.

Aku menunggu apa reaksinya kalau dia melihat bahwa ternyata kemeja yang kukenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan bahuku bebas dilihatnya. "Wah, ternyata nggak ada lengannya toh? Bisa-bisa nanti orang hanya menempelkan selembar kain saja di bawah blazer." Candanya mengomentari.

"Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Dit!" jawabku menggoda. "Hah? Wah, kalau itu sih... apa kamu masih kurang yakin sampai-sampai aku perlu meyakinkanmu lagi?" "Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!" kataku sambil mengerdipkan mata.

Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa seorang pialang saham ulung akan lebih merasa tersanjung bila dipuji atas kepandaiannya memasak daripada atas kepiawaiannya menganalisis saham. Wow, aku jadi merasa tersanjung juga karena itu berarti dia mengakui keindahanku.

Tiba-tiba dia berkata lagi, "Kamu nggak minta dipijitin sekalian, Sar? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe buka blazer dilanjut dengan adegan pijit, trus berlanjut dengan adegan yang biasanya disensor?"

Ya ampun... caranya begitu jantan sekali dan sama sekali tidak kurang ajar... Aku jadi luluh juga dibuatnya, dan aku jadi rela untuk menyerahkan tubuhku padanya... meski sebenarnya akulah yang menginginkannya.

Aku segera menjawab, "Terserah deh, tapi nggak usah disensor juga nggak apa-apa kok." "OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja dilakukan nanti?" katanya, sambil berdiri di belakang kursiku dan mulai memijit bahuku.

Kami terdiam sejenak; ia memijit bahuku lewat kemejaku. Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan sedikit. Dan dia bukannya tidak tahu itu; ia menyingkapkan kemeja tanpa lenganku ke bawah, sehingga kini pundakku terpampang di hadapannya.

"Tali ini menggangguku memamerkan keahlianku memijit!" katanya sambil menyingkirkan tali braku ke samping. Aku jadi merasa begitu seksi—ditelanjangi perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku jadi aneh-aneh. "Mm, nikmat sekali, Dit..." kataku sambil menikmati pijitannya yang memang nikmat dan membuatku menggeliat-geliat sedikit.

Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku, membuatku merasa begitu rileks dan terus terang saja... terangsang. Tiap kali jemarinya yang hangat itu menyentuhku, rasanya begitu nikmat hingga aku mengerang keenakan.

"Mm, mm, aduh, enaknya... boleh juga tanganmu, Dit!" "Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku jadi ingin mijit bagian yang lain!" Ia membuatku jadi makin terangsang dengan pilihan katanya yang selalu di luar perkiraanku.

"Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat, kamu pijit bagian yang lain ya?" "OK! Setuju!" candanya dengan nada seperti orang sedang rapat kampung. "Aahh, mmhh, ohh..." Rintihku kubuat-buat sambil bercanda.

Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua payudaraku yang masih terbungkus bra itu. Tangannya diam di situ, dan dia bilang, "Tuh kan? Apa aku bilang? Kalau kamu buat-buat gitu, tanganku jadi memijit bagian yang lain!" katanya sambil bercanda... padahal aku sudah mabuk kepayang dan ingin tangannya segera meremas kedua payudaraku.

"Udahlah, Dit... sekarang kita mulai aja deh," kataku dengan nada serius. "Baiklah, saya juga ingin melakukannya sejak tadi, kalau kamu yang minta, oke lah!" katanya.

Ia pun langsung menurunkan braku ke bawah, hingga kedua susuku kini terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga kami kini berhadapan. Ia berlutut di depanku, matanya menatap mataku yang telah sayu terlanda birahi. Aku menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku, namun ia menghalanginya.

"Nggak apa-apa, Sar... aku senang melihat kamu dengan kacamata itu... seksi sekali!" katanya sambil mengedipkan mata kiri. Tanpa banyak kata, ia lalu memajukan kepalanya dan mengulum bibirku. Aku terpejam ketika merasakan lidahnya menerobos mulutku.

Aku agak terkejut ketika ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Belum sempat aku membuka mata, aku sudah merasakan jilatan lidahnya membasahi leherku yang jenjang, merambat menyusuri bahuku... hangat sekali rasanya.

"Nngg..." Aku mulai merintih pelan sambil menengadahkan kepalaku. Sementara lidahnya melingkar-lingkar mengolesi leherku, turun ke belahan dadaku... menari-nari di situ... uhh... aku semakin tidak karuan rasanya. "Augh, cium yang mesra...!" Aku meracau tidak karuan.

"Wah, ketahuan nih, udah pengen ya?" godanya nakal. Aku sudah kesetanan; segera kudekap kepalanya dan kutarik mendekati dadaku, dan kubusungkan kedua dadaku agar ia segera mengulum puting susuku. Dia malah berkata lagi, "Iya, iya, aku tahu maksudnya kok... slurp."

"Uhgkk!" Mulutnya menangkap puting susuku yang kanan; lidahnya menjilat-jilat lembut. Aduh, rasanya geli dan nikmat sekali... aku menggelinjang-gelinjang menahan geli yang luar biasa. Lidahnya seperti melingkar-lingkari puting susuku dengan cepat namun lembut. Begitu gelinya hingga punggungku terlepas dari sandaran kursi dan melengkung seperti busur panah.

Kini lidahnya berpindah ke puting susuku yang kiri, mengait-ngaitnya... Aduh, aku semakin lupa daratan. Aku tidak tahu kenapa, tapi jilatan Gitto rasanya begitu berbeda—benar-benar membuatku seperti melayang-layang kegelian, rasanya seluruh badanku kehilangan energi... lemas sekali, tapi terasa nikmat sekali. Puting susuku yang kanan kini dipilin-pilinnya.

Uffff... Kedua puting susuku yang sensitif ini menjadi bulan-bulanan mulut rakus Gitto. Aku merintih dan mengerang sebisaku, keringatku mulai menetes, rasanya sulit sekali untuk bernapas teratur; tiap kali menarik napas selalu terhenti oleh rasa geli yang menyengat puting susuku.

Tiba-tiba ia berhenti. "Sar, naik ke meja dong," katanya sambil mendirikan tubuhku. Karena sudah terangsang tidak karuan, aku menurut saja ketika ia menelentangkan tubuhku di meja kantor. Kemejaku telah terbuka kancingnya, namun ia tidak melepasnya, hanya menyingkirkan ke kiri kanan.

Aku sempat tertegun melihat kemeja Gitto masih tampak rapi; hanya celananya saja yang terlihat menonjol karena desakan kejantanannya. Aku tertegun juga ketika melihat kedua puting susuku terlihat kemerahan, berdenyut-denyut dan mencuat tinggi sekali.

Aku segera kembali terpejam ketika mulut rakusnya kembali menyerang kedua susuku. Puting-putingku dijilat, dihisap, digigit, dan aku tidak tahu diapakan lagi... rasanya luar biasa geli dan nikmat. Aku hanya bisa telentang di meja itu sambil terengah-engah dan menggelinjang menahan serbuan birahi.

"Ahhkk, sshh, mmh..." Aku mendesah dan meracau tidak karuan. Sementara tangan kananku mulai gatal dan menyusup ke balik rok mini dan celana dalamku, menggosok-gosok bibir kelaminku yang rupanya telah lembab dan basah sekali dari tadi. Kini Gitto memilin-milin kedua puting susuku dengan jari-jarinya, dan lidahnya menyusuri perutku yang langsing, menjilati pusarku.

Lidahnya mendarat di tempat-tempat tak terduga yang memberiku sensasi yang luar biasa, selain pilinan jarinya pada puting susuku. Paha bagian dalamku tak luput dari jilatan-jilatannya yang mesra dan buas. Disingkapkannya rok miniku ke atas, lalu jemarinya kembali ke puting susuku seolah tidak membiarkan mereka istirahat.

Digigitnya karet celana dalamku; secara refleks aku merapatkan kaki dan mengangkat punggungku agar ia mudah melepaskannya. Aku tidak tahu diapakan, tapi celana dalamku segera lepas. Secara sukarela aku mengangkangkan kedua tungkaiku lebar-lebar agar ia bisa memandangi kewanitaanku yang telah membanjir karena ulahnya.

Gitto melepaskan kedua putingku, lalu menekan pahaku keluar agar ia lebih bebas lagi memandangi kewanitaanku. Aku hanya terengah-engah memandangi langit-langit dalam keadaan terangsang sekali. Akhirnya aku mampu menarik napas panjang, karena kedua putingku tidak lagi menerima sengatan birahi darinya.

Tapi tiba-tiba kurasakan hawa dingin di kewanitaanku; ia meniup-niupnya, memberiku rasa geli yang aneh... membuatku semakin tidak tahan lagi, ingin ia segera menancapkan kejantanannya ke tubuhku. "Ohh, cepatlah, Gitto... ayo, kamu hebat deh!" "Sar, badan kamu indah sekali... luar biasa... cantik sekali."

"Please, lakukan sesuatu..." Aku merintih memintanya segera menyelesaikannya. "Ahhgg!" Aku menjerit dan menggelinjang hebat ketika lidahnya tiba-tiba menyayat klitorisku dengan cepat dan tajam. Lalu kewanitaanku seperti diselimuti oleh sesuatu yang basah, panas, dan lunak, terhisap-hisap, dan klitorisku tersayat-sayat oleh sesuatu.

Karuan saja aku makin tidak tahan, menggeliat-geliat tidak karuan, punggungku terangkat-angkat dari meja itu, mataku tidak mampu kubuka, napasku kian terasa berat. Rasanya geli sekali... nikmat tak terkira. "Oohh, Gitto, uuhh, enak sekali, sshh, kamu apain aku, aduh."

Rintihanku kian tidak terkendali. Aku segera memilin-milin kedua puting susuku untuk menambah kenikmatan, meremas kedua susuku yang kenyal, sementara Gitto tak henti mengirimkan kehangatan birahi lewat bibir kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut Gitto kian buas menerpa kewanitaanku.

Apalagi ketika jarinya ditusukkannya ke dalam liang kewanitaanku, dan menari-nari di dalamnya... Aduh, benar-benar tidak terperi nikmatnya. Tusukan jari Gitto menyentuh tempat yang tepat... berkali-kali... Aduh, terasa seluruh energiku seperti terhisap ke tempat itu... terkumpul di situ... lalu meledak.

"Aahhgg, Gitto, uhh!" Aku segera mencapai klimaks. Orgasme yang luar biasa sekali... merenggut sebagian kesadaranku... hingga kini aku terkulai lemas. Aku mencoba mengatur napas... tapi sia-sia... kenikmatan ini benar-benar membuatku terbang melayang.

Aku terpejam, merasakan nikmatnya diriku terombang-ambing ke alam tidak sadar... menggumam. "Mmhh, Gitto, nikmat sekali, hh." "Suzan, mau istirahat dulu?" "Ngghh, nggak... langsung aja, goyang yang cepat! Sekarang!" Aku tidak mampu mengontrol pilihan kataku lagi; birahiku telah menguasai diriku.

"Well, baik kalau begitu." Itu kata terakhir yang kudengar dari Gitto; lalu sambil hanya dapat memandangi langit-langit, aku merasa pahaku dikangkangkan, tiba-tiba... sspp... kejantanannya mengisi tiap rongga di liang kewanitaanku ini.

"Aduh, ohh, terusin, sayang... deeper..." Aku merintih tidak karuan ketika ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri sementara aku telentang di meja; ia sangat leluasa menggerakkan tubuhnya. Kejantanannya terasa menyodok dan menggerus-gerus seluruh bagian dalam kewanitaanku dengan buas dan garangnya.

Aku tidak mampu bergerak membalas karena masih lemas oleh orgasme yang pertama tadi... namun persetubuhan ini rasanya lebih hebat lagi... rasa-rasanya seluruh tubuhnya memasuki liang kewanitaanku. Aku hanya memejamkan mata, menggeliat, merintih. "Uhh..." Sodokan-sodokan kejantanannya terasa kian dalam menerobos dasar kewanitaanku; telapak-telapak tangannya yang kasar tak henti meremas dan memegang kedua susuku.

Beberapa menit kemudian, Gitto tiba-tiba menarik kejantanannya dari kewanitaanku, lalu dengan begitu cepat membalikkan tubuhku hingga kini badanku tengkurap di meja, namun kakiku menjuntai ke lantai. Puting susuku terasa geli merasakan dinginnya meja kantor itu; aku hanya terengah.

Gitto menikamkan kejantanannya lagi ke lubang kewanitaanku dari belakang... "Uffhh..." Sensasi yang berbeda lagi... ia mengocok tubuhku keras sekali hingga meja itu bergoyang-goyang. Saat itu juga, aku merasakan klimaks menyambar tubuhku.

Kewanitaanku serasa mengejang, menggigit kejantanan Gitto; kedua tanganku mencengkeram ujung meja kuat-kuat, tubuhku menegang, dan aku merasakan adanya gelombang kenikmatan yang menyapu jiwaku, merenggut tenagaku. Aku menjerit tertahan, "Ahkk!"

Lalu aku merasakan nikmat yang luar biasa dan tubuhku serasa lemas sekali. "Aduh, Dit, enak sekali, hh." "Tahan sebentar ya, Suzan, bisa kan?" jawabnya sambil mempercepat gerakannya. "Ahhkk, sakit, pelan-pelan dong..." Kewanitaanku terasa ngilu. "Sebentar saja, yang... sebentar lagi."

"Ohh, uhhg, ngg..." Aku mengerang-erang menahan ngilu, namun rasa sakit itu tidak bertahan lama ketika tiba-tiba kehangatan kembali mengalir lewat kewanitaanku. Aku serasa melambung lagi oleh orgasme yang ketiga, ketika sperma Gitto menyembur menghangatkan sudut-sudut liang kewanitaanku. Kali ini, kenikmatan itu mengantarkanku ke alam tidak sadar untuk beberapa saat.

Cukup lama aku tertelungkup di meja itu, terengah-engah, dibanjiri keringat, lemas sekali seperti setengah pingsan. Yang dapat kurasakan hanya rasa nikmat dan kepuasan tiada tara. Aku sempat melihat Gitto melemparkan tubuhnya ke kursi kerja, lalu memejamkan matanya.

Beberapa saat kemudian, aku tersadar. Dengan sisa tenagaku aku mencoba berdiri dan merapikan kemejaku yang telah kusut tidak karuan karena habis bersetubuh tanpa melepaskan pakaian. Tidak kukenakan kembali celana dalamku karena telah sedikit basah oleh cairan kenikmatanku ketika foreplay tadi.

Kukenakan kembali blazerku; kulihat Gitto sedang berdiri bersandar di pintu tanpa ada kusut sedikit pun di kemejanya, namun wajahnya tampak berseri-seri. "Suzan, udah jam sepuluh seperempat!" "Iya, sudah waktunya pulang nih." "Nah, dengan begini kamu nggak rugi kan?" "Apanya yang nggak rugi?" "Kan bayar sewa ruang overtime-nya sampai jam sepuluh!"

Kami tertawa-tawa lagi. Lalu berjalan menuju tempat parkir mobil kami di lantai lima. Di lift, sebenarnya ingin juga sekadar berpelukan atau berciuman, tapi sayang sekali satpam gedung ikut berada di lift, senyam-senyum memandangi wajah-wajah kami yang kusut meski berseri-seri.

Semenjak itu, aku masih beberapa kali lagi melakukannya dengan Gitto, sampai ia dipindahtugaskan menjadi kepala pemasaran di daerah lain. Dan aku? Well... ia memang luar biasa, tapi availability adalah segalanya, bukan? Aku kembali mengejar karier, sambil bertualang dari satu pelukan ke pelukan lain para pria (dan kadang-kadang wanita) yang aku taklukkan dengan tubuhku.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya