18px

Lia, Sahabatku yang Imut

Lia, Sahabatku yang Imut

Kata orang, persahabatan antara cewek dan cowok adalah sesuatu yang tidak mungkin. Hmm, mungkin ada benarnya jika melihat persahabatan aku dengan Lia, seorang gadis imut teman sekelasku sewaktu kuliah.

Aku mulai bersahabat dengan Lia sejak aku masuk kuliah. Sampai lulus pun kami tetap bersahabat. Hmm, dalam hati kecilku sebenarnya aku ingin lebih dari sekadar sahabat. Aku sangat menyukai Lia—gadis imut yang selalu ceria, yang tidak pernah melepaskan senyum dan tawa dari bibirnya, gadis yang selalu mewarnai mimpi indahku.

Tapi sialnya, Lia selalu mengenalkanku kepada temannya sebagai sahabat. Dan lebih parahnya lagi, dia begitu semangat bercerita kepada orang-orang bahwa kami berdua itu seperti kakak-adik. Hal itulah yang selalu menghalangi aku untuk menyatakan perasaanku—bahwa aku suka padanya, bahkan lebih: aku jatuh cinta padanya.

Kejadian ini terjadi saat kami baru selesai wisuda dan sama-sama berusaha mencari pekerjaan. Suatu saat ada panggilan kerja di Jakarta yang kami berdua ikuti. Oh iya, aku belum bilang bahwa setelah wisuda aku tetap tinggal di Bandung.

Setelah menjalani tes kerja, aku mengajak Lia ke rumahku sebentar sebelum kembali ke Bandung. Ya, orang tuaku tinggal di Jakarta, tapi aku lebih memilih tinggal di Bandung setelah wisuda—relatif tidak ada macet, dan tentu saja ada Lia yang sangat aku sayangi di sana. Aku mengajaknya ke rumah untuk sekadar berganti baju dan beristirahat sejenak.

Sesampainya di rumah, ternyata rumah kosong. "Wah, pada ke mana nih?" kataku ke Lia.

"Telepon aja, Yan!" kata Lia.

Aku mendial nomor HP ibuku. "Ma, ada di mana?" tanyaku saat sambungan terhubung.

"Loh, kamu pulang? Mama sama Papa lagi jenguk adikmu," jawab mamaku.

Ternyata orang tuaku sedang menjenguk adikku yang kuliah di kota lain. "Kalau kamu mau masuk, minta kunci sama Tante Erni—Mama titipin ke dia," suruh ibuku.

"Ya udah, aku ambil ke Tante Erni dulu." Aku menutup telepon kemudian beranjak ke rumah Tante Erni di sebelah.

Setelah membuka rumah, aku mengajak Lia masuk.

"Lia, kamu ganti baju dulu ya. Aku mau ke kamarku sebentar," kataku sambil menunjukkan kamar kecil kepadanya.

"Oke deh," jawabnya sambil membawa tas plastik berisi kaos ganti.

Aku masuk ke kamarku dan mengganti baju di sana. Saat aku keluar, ternyata Lia sudah selesai berganti baju dan sedang menonton TV di ruang keluarga.

Lia memakai kaos putih favoritnya. Sebetulnya aku sudah pernah komentari dia supaya tidak memakai kaos itu lagi—soalnya kaos itu agak semi-transparan. Bahannya ada bagian yang jarang, seolah benangnya diambil, membentuk garis-garis miring. Buat yang jeli sedikit bisa melihat bra dan kulit mulusnya. Dan yang membuatku tidak tahan, kaos kecil itu membentuk sekali lekuk tubuhnya. Tubuh Lia memang kecil imut tapi proporsional—dadanya yang bulat terlihat besar dibandingkan badannya yang kecil.

Untuk roknya, dia masih memakai rok tadi. Aku selalu mengomentarinya kalau dia pakai rok, soalnya dengan rok itu pantatnya yang bulat terlihat semakin besar. Aku selalu berpikir, dengan pinggul dan pantat seperti itu, pasti dia tidak akan kesulitan kalau punya anak nanti.

"Lagi nonton apa?" tanyaku ke Lia yang duduk di sofa ruang keluarga.

"He he he... gosip!" tawa renyahnya keluar saat menjawab.

Aku duduk di sebelahnya, ikut menonton. Lia mengomentari gosip-gosip yang diberitakan; aku cuma ketawa-ketawa melihat dia yang semangat banget. Aku tidak tahu bagaimana mulanya, tapi tangan kiriku menggenggam tangan kanannya sewaktu menonton. Kami pun jadi jarang berbicara; entah apa yang ada di dalam pikirannya.

"Yan, aku ke kamar kecil dulu ya," katanya, dan segera bangkit. Aku mengangguk dan pegangan tangan kami terlepas. Saat dia ke belakang, aku menarik napas panjang, menahan gejolak hatiku.

Sekembalinya dari kamar kecil, Lia kembali duduk di sebelahku. Entah kenapa, dia kembali menggenggam tanganku. Aku hanya tersenyum. Suasana kembali hening, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku mengelus tangannya; dia hanya tersenyum. Cukup lama aku mengelus tangan dan lengannya. Akhirnya dia merebahkan kepalanya ke pundakku. Aku melingkarkan tanganku ke tubuhnya sehingga badannya bersandar di dadaku.

"Rambut kamu bagus," kataku memecah keheningan. Dia hanya tersenyum. Aku mengelus-elus rambut panjangnya yang harum. Entah apa yang ada di pikiranku, aku mencium kepalanya. Dia menoleh kepadaku, tersenyum, kemudian kembali menonton TV.

Keberanianku makin bertambah. Aku mencium kepalanya sekali lagi. Dia menoleh ke arahku, dan kali ini aku tidak menyia-nyiakan kesempatan—aku mencium keningnya.

Lia menggeser badannya, mendekatkan mukanya ke mukaku. Melihat itu, tanpa ragu-ragu aku mengecup bibirnya. Hmm, ternyata satu kecupan tidak cukup—aku memagut bibirnya, dan Lia membalas ciumanku. Aku tambah semangat, apalagi Lia membuka mulutnya sehingga aku bisa menyedot bibir bawahnya. Sedotanku dibalas dengan sedotannya ke bibir atasku.

Ciuman kami makin panas saat lidahku bermain di dalam mulutnya. Ternyata dia juga membalas dengan memainkan lidahnya. "Clop... clop... clop..." suara sedotan-sedotan ciuman kami. Aku mendorong tubuh Lia untuk rebahan di sofa besar ini.

Posisi kami sekarang lebih enak—Lia terlentang dan aku di atasnya. Dengan posisi ini, tanganku lebih bebas. Perlahan tangan kananku kuletakkan di payudaranya; aku remas perlahan. "Hmmm..." lenguhnya agak marah. Aku tarik tanganku, takut Lia marah. Setelah beberapa lama, aku beranikan lagi untuk menaruh tanganku ke payudaranya. Tiba-tiba tangan Lia mencengkeram tanganku yang ada di sana. Aku takut sekali Lia marah, tapi ternyata... Lia malah menekan tanganku supaya meremas payudaranya.

Atas "izinnya" itu aku mulai meremas-remas payudaranya dari luar kaosnya. Ciumanku tidak lepas selama aku meremas-remas payudara kirinya dan kanannya bergantian.

Aku memberanikan diri memasukkan tanganku dari bawah kaosnya. Sekarang tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bra. Hmm, kenyal dan bulat sekali payudara yang belum pernah dijamah ini. Tak puas meremas dari luar bra, aku selipkan tanganku ke dalamnya dan meremas langsung. "Akh... akh... akh..." lenguh Lia saat aku mulai meremas.

"Sebentar, Yan..." Lia bangkit, kemudian berusaha melepas kait branya yang berada di belakang. Aku membantunya. Setelah terlepas, Lia kembali rebahan. Aku mengangkat kaos Lia sehingga terlihat bra yang sudah longgar. Aku angkat juga bra itu, maka terlihatlah payudara liat yang bulat. Putingnya coklat bersih dan terlihat membesar.

Aku memberanikan diri mengecup payudaranya. Lia hanya tersenyum. Kemudian aku mulai menyedot putingnya sambil meremas-remasnya. "Akhhh... akh... akh..." lenguhan Lia makin keras, ditambah tubuhnya makin tegang. Setiap aku menyedot payudaranya, Lia membusungkan dadanya supaya bisa aku sedot lebih dalam. Cukup lama aku menyedot payudaranya; tubuh Lia mengejang-ngejang keenakan.

Nafsuku sudah naik ke ubun-ubun. Aku sudah tidak tahan untuk menyetubuhinya, tapi aku berusaha menahan—Lia masih perawan.

Bosan menyedot-nyedot, aku naik ke atas untuk mencium bibirnya. Tangan Lia menuntun tanganku untuk meremas kembali payudaranya.

Kali ini aku menggesek-gesekkan penisku yang masih ada di dalam celana ke selangkangannya. Roknya tersingkap karena dia membuka pahanya lebar; gesekan penisku langsung ke celana dalamnya yang sudah mulai basah. Gesekan itu mendapat respons—Lia ikut menggoyang pinggulnya sehingga gesekan kami makin hebat. Sebenarnya jika dilihat, gerakan kami sudah seperti orang yang bersetubuh, cuma bedanya kami masih memakai pakaian lengkap, hanya kaos Lia yang terangkat.

Aku membuka kancing celanaku, membuka risleting, dan mengeluarkan penisku. Setelah penisku keluar, aku menusuk-nusukkan ke celana dalamnya yang basah itu. Kalau celana dalam itu tidak ada, pasti penisku sudah menerobos vagina Lia.

Dengan gerakan tusuk-tusuk itu, Lia makin menggelinjang. Aku sudah tidak mencium bibirnya—dia lebih memilih menggerak-gerakkan kepalanya sesuai goyangan selangkangannya sambil mengeluarkan suara-suara lenguhan, "Ahh... ahh... ah..." Aku makin tidak tahan, aku meraba selangkangannya dari luar celana dalamnya. Hmm, basah sekali di situ.

Aku nekat—aku menarik pinggir celana dalamnya sehingga vaginanya terbuka, lalu kugesekkan penisku ke belahan vaginanya. "Akhhhhh... akh... akhh..." Lia makin menggelinjang. Aku coba menusukkan penis ke vaginanya sedikit keras.

"Aduh!!!" teriak Lia, dan tangannya mendarat di pipiku. "Plak!" Lia mendorong tubuhku kuat-kuat.

"Rian, kamu jahat!!!" pekiknya, kemudian mulai menangis.

"Maafin aku, Lia. Aku kira kamu juga mau," kilahku.

"Rian jahat. Kita harusnya nggak boleh melakukan ini," katanya sambil menangis.

"Maafin aku, Lia. Aku khilaf—aku terbawa nafsu," jawabku.

Lia menutup mukanya sambil menangis. Aku menarik napas menyesal. Aku duduk di sebelahnya, mencoba mengelus kepalanya, tapi tanganku ditepis. Akhirnya aku hanya duduk terdiam.

Setelah beberapa lama, tangis Lia mereda. Dia mulai membenahi bra dan pakaiannya, kemudian berkata, "Ayo, kita pulang." Dia mengatakannya dengan muka marah. Aku yang dibebani rasa bersalah mulai berkemas.

Sepanjang perjalanan Lia hanya terdiam dengan wajah muram. Aku pun terdiam, takut memancing kemarahannya lebih besar.


Di Puncak Pass, aku berhenti.

"Lia, kita makan dulu ya. Dari tadi kita belum makan," ajakku. Tapi Lia hanya membuang muka. Akhirnya aku keluar mobil untuk membeli makanan ringan dan minuman.

"Lia, aku minta maaf soal tadi siang. Maaf ya. Sekarang, please makan dulu—kita belum makan dari tadi siang," kataku ke Lia. Lia hanya terdiam.

Aku bukakan makanan dan kuletakkan di depannya. Aku tidak mau memaksa, takut Lia tambah marah. Aku memakan makananku sampai habis—lapar sekali.

"Lia... aku bener-bener minta maaf. Please maafin aku ya," kataku. Lia memandangku tajam. "Maaf ya..." ulangku. Lia menghela napas, kemudian berkata pelan, "Iya, aku maafin." Aku tersenyum kecil agak dipaksakan, kemudian memegang tangannya. "Aku nyesel banget. Maafin aku ya sudah kurang ajar sama kamu. Sekarang aku mohon kamu makan dulu," kataku.

Lia hanya tersenyum kecil sambil menggenggam tanganku. Kemudian dia mulai memakan makanannya.

Selesai makan, Lia terdiam lagi merenung. Aku sungguh merasa tidak enak. "Lia, ada apa lagi?" tanyaku. Lia menggigit bibir bawahnya sambil menatapku, tangannya ditekuk menutupi dadanya. Kemudian dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berkata pelan...

"Rian, aku mau yang kayak tadi siang lagi."

Aku sungguh terkejut. "Apa???" tanyaku tercengang.

"Ya udah kalau nggak mau," katanya ketus, lalu membalik badan membelakangiku.

Aku terdiam beberapa saat, kemudian menghidupkan mesin mobil dan mengarahkannya ke hotel yang ada di dekat situ.

Selama mendaftar check-in sampai masuk kamar, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami. Setelah pintu kututup, kami langsung berpelukan erat.

"Lia, sebenarnya aku sayang banget sama kamu," kataku di telinganya.

"Aku juga sayang kamu, Rian," jawabnya lemah.

Aku mengecup bibirnya; Lia membalas ciumanku—tanpa canggung, kali ini. Ciuman kami makin panas, ditambah aku meremas-remas payudaranya. "Hmnmm... hmmm..." lenguh Lia tertahan.

Aku mengangkat tubuh Lia dan merebahkannya di tempat tidur. Posisi kami sama seperti waktu di sofa—Lia terlentang dengan paha terbuka dan aku menindih di atasnya. Ciuman kami teruskan. Aku mencoba melepas kait bra, tapi Lia bertindak lebih dulu—dia membuka kaosnya sendiri. Aku melepaskan kait branya saat Lia melengkungkan tubuhnya ke atas, kemudian bra itu kubuang ke lantai.

Aku mulai meremas-remas payudara Lia sambil menciuminya. Kadang-kadang aku menjilati lehernya. Lia hanya melenguh saat aku memainkan puting payudaranya.

Lia berusaha membuka kaos ku; aku membantunya dan membuangnya ke lantai. Sekarang kami sudah setengah telanjang, kontak kulit langsung di bagian atas tubuh.

Aku mulai menyedot-nyedot payudaranya. "Agh... agh... aghk..." lenguhnya merespons sedotanku. Nafsuku sudah pol ke ubun-ubun; aku mencoba membuka rok yang mengganggu itu. Lia membantu dengan mengangkat pinggulnya. Saat menurunkan rok itu, aku sekalian menurunkan celana dalamnya. Aku berdebar, takut Lia marah lagi. Tapi dia tersenyum—tersenyum dalam keadaan polos!

Aku naik ke atas untuk menciumnya lagi, tapi ternyata Lia lebih tertarik membuka kancing celanaku. "Yan, buka dong—masa aku aja," katanya.

Aku berdiri dan melepaskan celana panjang dan celana dalamku.

Saat aku kembali, Lia terlentang dengan mengatupkan pahanya. Aku berusaha membuka pahanya; dia malah tertawa. "Mau apa?" katanya menggoda.

"He he he..." tawaku, tapi akhirnya dia membuka pahanya juga. Kemudian aku menempatkan diri di antara kedua paha itu.

Aku menggesek-gesekkan penisku di permukaan vaginanya. "Ehh... ehh..." lenguh tertahan Lia pelan.

"Lia, aku masukin ya," pintaku lembut.

Lia hanya mengangguk kecil sambil menggigit bibir bawahnya.

"Nanti agak sakit seperti tadi, tapi cuma sebentar kok," kataku menenangkan dia yang terlihat gugup.

"Pelan-pelan ya, Yan."

Aku mengarahkan penisku ke vaginanya, kemudian perlahan mulai mendorong. "Aaaakh..." rintih Lia, "sakit, Yan." Aku menarik kembali, kemudian perlahan mendorongnya lagi—kali ini lebih dalam. "Sakiiiit..." rintihnya pelan. Hmm, sebenarnya aku kasihan, tapi bagaimana lagi—vagina Lia sempit sekali dan agak kering karena dia gugup.

Akhirnya aku dorong kuat. "AKHHHH!!!" teriak Lia. "Sakit, Yan." Tapi penisku sudah masuk semua. Aku diamkan sejenak supaya Lia tenang, lalu mulai menciuminya dan meremas-remas payudaranya. Setelah beberapa lama sakitnya sepertinya sudah hilang—badannya bergetar lagi dan lenguhannya mulai keluar, "Ah... ah... ahhh..."

Aku coba menggoyang penisku perlahan; vaginanya terasa mulai basah. "Akh... akh..." lenguh Lia yang sekarang menutup matanya. Merasa vaginanya sudah cukup basah, aku mulai menggoyang lebih cepat. Lia hanya menggigit bibir bawahnya sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sesekali tangannya memegang pantatku, membantu menekan penisku ke dalam vaginanya.

Setelah beberapa lama, aku coba bangkit untuk ganti posisi.

"Aaa... Rian mau ke mana?" kata Lia sambil memelukku erat, matanya memandangku dengan tatapan tidak rela.

"Ganti posisi ya, biar lebih enak," kataku.

"Gini aja, Yan. Aku pengen dipeluk... please," katanya memohon.

Aku mengurungkan niat dan memeluknya kembali, lalu mulai mengeluarkan-memasukkan penisku di vaginanya. Mungkin Lia memang perlu dipeluk supaya tenang—maklum, ini pertama kalinya buat dia.

Setelah sekian lama, aku mau mencoba gaya lain. Aku mengangkat badanku kembali.

"Rian mau ke mana?" katanya lagi dengan nada lebih tinggi.

Aku tetap mengangkat tubuhku; tubuh Lia ikut terangkat karena dia memelukku kuat. Akhirnya aku memilih posisi duduk saja, dengan Lia di atas pangkuanku. Aku mulai menggoyang pinggulku.

"Lia, ikut goyang ya—biar enak," kataku.

Lia mulai menggoyang pinggulnya. "Enak, Yan..." katanya sambil makin kencang menggoyang. Kayaknya karena pinggulnya bebas, dia menggoyang sesuai arah yang dia mau.

Akhirnya aku rebahkan tubuhku menjadi terlentang. Lia tetap menegakkan badannya dengan tangannya menahan di dadaku. Sekarang Lia menaik-turunkan tubuhnya, menghujamkan penisku ke vaginanya. Kadang-kadang dia memutar pinggulnya; sepertinya dia sudah mulai menemukan titik-titik nikmat vaginanya sendiri.

Tak lama Lia ambruk ke dadaku. "Aduh, Yan, enak banget, tapi aku capek banget," katanya ngos-ngosan.

Kemudian aku membalikkan tubuhnya supaya terlentang. Kini kembali aku di atasnya. Aku mulai menggenjot Lia lagi. Kali ini pinggulnya liar sekali. "Hgh... hgh... hgh..." lenguhnya, dan tiba-tiba dia memelukku erat. "AKHHHHH!!!" pekiknya. Lia mencapai orgasme pertamanya.

Aku menghentikan goyangan, memberikan Lia kesempatan menikmati orgasmenya. Perlahan pelukan itu dilepas dan tangannya direntangkan.

"Rian, aku udah..." katanya pelan.

Aku hanya tersenyum. Wah, emang perawan sungguhan. "Sedikit lagi ya, Lia," pintaku halus.

Dia hanya mengangguk pelan. Aku mulai menggoyang pinggulku lagi. Kali ini Lia benar-benar diam tak bergerak—habis puas, tidak mau bantu. Tapi karena vaginanya sangat licin, tak lama aku pun sudah tidak tahan. Aku cabut penisku dan menyemprotkan spermaku di atas perutnya.

"He he he... lucu," tawanya sambil mengusap-usap spermaku di perutnya.

"Wah..." kataku. "Ya udah, kita bersihin dulu yuk," ajakku ke kamar mandi.

Setelah membersihkan diri dari kamar mandi, aku tidur terlentang di tempat tidur. Lia yang masih polos mengikutiku dan tidur di atas dadaku. Kemudian aku menarik selimut untuk kami berdua.

"Rian..." panggil Lia pelan.

"Ya, Sayang?" jawabku.

"Rian, kamu sudah ngambil semuanya dari aku. Janji ya, kamu mau nikahin aku," katanya manja.

Aku tersenyum padanya dan berkata, "Tentu saja, Sayang." Kemudian aku mengecup keningnya.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya