Lily, Gadis Hiperseks
Lily, Gadis Hiperseks
Lily, berusia 22 tahun. Dia adalah sahabat baik Ria. Posturnya 165 cm/50 kg, payudaranya berukuran 34B. Orangnya hitam manis, rambutnya agak ikal. Matanya tajam; setiap kali berbicara seakan-akan menyelidiki isi hati lawan bicaranya. Bibirnya penuh, tidak tebal, tidak tipis, sangat seksi. Menurutku, bagian terseksi dari Lily ada pada bibirnya — sangat menggoda untuk dikecup, dicumbu, dan dicium sepuasnya. Apalagi kalau Lily menggunakan lip gloss agar bibirnya selalu tampak basah. Benar-benar menggoda. Wajahnya sangat innocent, tampak lugu sekali.
Tapi jangan salah, di balik wajahnya yang imut ada nafsu yang membara, ada hasrat seks yang selalu menggebu. Tiada hari baginya tanpa memikirkan seks. Aku mengetahuinya setelah Lily berterus terang padaku tentang apa yang dia rasakan. Lily tidak pernah menyesali setiap momen seksualnya. Dia selalu menikmatinya.
Suatu hari aku menerima SMS dari nomor handphone Ria.
"Hai Boy... Lagi ngapain? Aku Lily. Kenalin yah! Aku sahabatnya Ria. Aku pengen kenal denganmu. Kalau kamu bersedia, hubungi aku di nomor 081xx ya! Thanks."
Aku segera membalasnya, tetapi melalui nomor Ria.
"Hai Lily... Kamu sekarang dengan Ria? Mana si Ria? Aku mau dia SMS aku." Saat itu aku lebih ingin bertemu Ria karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Ria lagi mandi. Boy, kamu SMS di hape-ku saja ya." Balas Lily.
Yah, aku tahu kebiasaan Ria. Kalau mandi lama sekali — boros air, boros sabun, boros sampo, boros listrik, boros waktu. Ria sendiri yang bercerita padaku; dia mandi selama 45–60 menit! Aku sampai terheran-heran. Akhirnya aku memutuskan untuk ber-SMS dengan Lily saja.
"Ada apa kok minta SMS di HP-mu? Kan sama aja di HP-nya Ria?" tanyaku.
"Ah, biar lebih privacy saja. Boy, gila... Ria udah cerita tentang apa yang kalian lakukan di kamar ini!" Aku jadi terkejut. Wah, si Ria suka membocorkan rahasia rupanya. Tapi aku jadi maklum mengingat bahwa si Lily ini memang sobat baiknya.
"Cerita apa lagi? Dia puas nggak?" tanyaku pada Lily.
"Puas, man! Katanya lo jago banget kissing-nya, jago banget foreplay-nya! Jangan kepala besar ya!" jawabnya.
"Wah, kalau kepala besar sih enggak. Kalau penis besar, iya... Haha." balasku usil.
"Tapi katanya lo nggak tahan lama ya? Nggak lama lo udah keluar ya?" Bum!! Aduh malunya aku. Si Ria, tega-teganya pengalaman pertamaku diceritakan begitu.
"Ah, itu kan ML pertamaku. Wajar dong aku nggak tahan lama. Kalau sekarang sih udah jago!" balasku membela diri. Cowok mana yang rela dikatakan tidak tahan lama?
"Ah yang bener... Sekarang udah tahan lama nih?" goda Lily. Aku jadi penasaran dengan si Lily ini.
"Emangnya kamu sendiri udah berani ML?" pancingku.
"Yah, elo... Boy. Ya udahlah! Gue terus terang aja sama lo. Gue suka banget, tahu!"
Perkataan si Lily membuat penisku ereksi. Keterusterangannya sangat langka kutemui. Biasanya wanita akan menutupi hasratnya, apalagi pada cowok yang baru pertama ditemuinya. Tapi si Lily ini... berani sekali!
"Oh ya? Paling lo omong kosong doank." pancingku lebih jauh.
"Hehe... Lo mancing gue ya, Boy? Nggak usah gitu... Ntar malam telepon gue ya!"
Siang sampai malam aku bekerja sambil sesekali memikirkan Lily. Dunia ini memang luas dan penuh keunikan. Dulu, hanya membicarakan hal yang berbau seksual saja sangat tabu. Tapi sekarang, dengan kebebasan media dan kecepatan informasi yang hampir tanpa filter, siapa pun bisa mencari dan mendapatkan apa saja yang ia inginkan — termasuk seks. Tak heran dalam waktu singkat budaya "seks itu tabu" telah terkikis.
Aku sangat yakin bahwa wanita seperti Lily, yang sangat menikmati seks, sangat banyak di Indonesia, tetapi hanya sedikit yang berani berkata, "Ya, saya suka dan menikmati seks." Lambat laun, aku percaya jumlah wanita seperti Lily akan semakin bertambah.
Malamnya aku menelepon Lily. Kami berbicara banyak hal, tapi memang pembahasan utama kami adalah seks. Lily mengakui dirinya hiperseks, tetapi dia tidak suka berganti-ganti pasangan. Dia punya pasangan tetap; frekuensinya saja yang sering. Hampir setiap hari Lily bercinta. Gila — aku bayangkan pasti lelah sekali setiap hari bercinta. Lalu kami pun membuat janji untuk bertemu di rumahnya.
Dari rumah aku mandi, menggosok gigi, menyiapkan dua buah kondom, handheld disinfectant, dan merapikan bulu-bulu di wajahku. Aku memang tidak suka memelihara kumis dan jenggot. Walaupun kucukur habis tetap saja terlihat kalau aku berbakat punya kumis — justru terlihat seksi, kata Ria dan Ita. Dengan sedikit parfum, kaos putih bersih, dan jeans biru, aku berangkat ke rumah Lily. Di sepanjang perjalanan aku menebak-nebak setangguh apa Lily, bagaimana aksinya di ranjang. Apakah agresif, pasif, atau jangan-jangan suka yang aneh-aneh seperti menyakiti dan disakiti?
Memikirkan Lily dan perilaku seksnya membuat penisku berdenyut-denyut. Di bayanganku sudah menari-nari sosok wanita telanjang yang akan bercinta denganku — yang akan kugumuli, yang akan kucumbu, kenikmati sepuasnya. Ah, sebentar lagi aku akan bercinta. Sebentar lagi aku akan menghunjamkan penisku ke vagina Lily. Sebentar lagi.
Lily tinggal serumah dengan neneknya; orang tuanya bekerja di luar negeri. Sewaktu aku datang, neneknya sedang pergi. Pembantunya sedang menyeterika baju sambil menonton televisi. Lily menemuiku dengan memakai celana pendek dan kaos you can see — seksi sekali. Darahku berdesir setelah menyadari bahwa Lily tidak memakai bra. Jangan-jangan dia tidak pakai celana dalam juga, pikirku. Lily segera menggandeng tanganku dengan mesra. Matanya melirikku nakal. Busyet, menggemaskan sekali.
"Udah makan, Say?" tanyanya sambil jarinya menohok lembut perutku.
"Hm, udah. Kamu?" jawabku sambil meremas jarinya.
"Ouch, kok diremas sih? Kalau yang ini udah makan?" tanyanya sambil mengayunkan tangannya menyentuh penisku dengan cepat. Ugh, penisku bereaksi. Lily ini pintar sekali menggodaku. Aku tertawa ringan; memang penisku belum "makan" cukup lama.
"Kita masuk kamarku aja yuk, ada televisi di kamar." ajak Lily.
Aku melirik pembantu Lily yang juga sedang melihatku. Kulihat dia tersenyum padaku sambil terbatuk-batuk. Wah, sudah tahu gelagat dia rupanya, pikirku.
Kamar Lily cukup luas — ada televisi, lemari es, AC, dan kamar mandi. Mirip dengan kamar hotel. Aku menarik napas panjang membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi aku peroleh.
"Hayo, mikir apa?" goda Lily sambil memelukku dari belakang.
Pintu telah terkunci. Kurasakan kamar Lily sangat dingin karena AC. Pelukan Lily terasa hangat di punggungku. Dengan segala godaan dan stimulasi yang dilakukannya, pikiranku sudah penuh dengan fantasi seks. Sangat berbahaya karena jika fantasi itu aku ikuti terus, aku akan mudah dikalahkan Lily nantinya. Aku berusaha rileks dan menenangkan pikiran.
"Nggak mikir apa-apa kok. Kamu sendiri mikir apa?" tanyaku. Aku mengambil remote dan menyalakan televisi, lalu kubaringkan tubuhku di atas ranjang. Spring bed-nya enak sekali. Sambil memeluk guling aku acuhkan Lily dan memilih menonton TV. Lily ikut berbaring di sampingku.
"Aku mikirin kamu, Boy. Sejak tadi malam aku gelisah." bisik Lily.
Lily sengaja membisikkan kata-kata itu di telingaku hingga membuat telingaku merinding. Ugh, Lily menjilat telingaku! Aku sangat sensitif di telinga, sehingga jilatannya seketika membangkitkan birahiku. Mataku refleks memandangnya. Lalu Lily menciumku. Bibirnya yang seksi itu melumat-lumat bibirku — terus menerobos masuk, menghisap bibirku. Lidahnya menari-nari di rongga mulutku, mencari lidahku yang juga mulai menggeliat. Aku mulai meresponsnya. Kubalas hisapannya, kubalas jilatannya, kubalas dengan penuh semangat.
Aku menyukai cara Lily menciumku. Tegas dan kuat sekali cumbuannya. Caranya memadukan bibirnya yang penuh dengan lidahnya yang lincah menunjukkan pengalamannya dalam bercumbu. Nikmat sekali ciumannya. Napasnya juga menunjukkan ketenangannya — Lily tidak terburu-buru tetapi dahsyat dalam mencumbu. Dia mampu mengatur napasnya dengan luar biasa. Hembusan napasnya semakin menghangatkan suasana. Apalagi matanya tidak pernah terpejam; dia menatapku terus dengan berani.
Aku melepaskan ciuman kami lalu bangkit berdiri dan minum. Aku harus mengatur ritme karena penisku sudah mau meledak rasanya. Aku sangat terangsang karena itu aku harus menenangkan diri. Baru minum seteguk, Lily sudah merengkuhku kembali, membaringkanku, dan aku ditindihnya. Lily kembali mencumbuku dengan tubuhnya di atas tubuhku.
Bersambung...