18px

Lily Panther: Bercinta dengan Gigolo

Lily Panther: Bercinta dengan Gigolo

"Ly, nanti sore jam empat di Hotel Westin, bisa tidak?" tanya seorang GM wanita via HP pada suatu hari. "Kalau untuk cicikku yang satu ini pasti bisa dong," balasku manja. GM wanita yang satu ini biasa kupanggil cicik—selain yang aku tahu dia seorang chinese dengan banyak kenalan kalangan atas, aku tidak tahu nama aslinya. Seperti biasanya, dia pasti memberi orderan besar, bukan kelas kakap bahkan tak jarang kelas paus. "Tapi kali ini agak lain. Terserah kamu mau tidak—biasanya kan kamu tidak suka yang aneh-aneh," tanyanya ragu. "Emang kenapa, Cik?" tanyaku penasaran. "Hmm... dia cuma ingin lihat kamu main sama laki lain. Kalau kamu tidak mau, tidak apa sih," jelasnya. Aku tercenung sejenak.

Ini adalah hal baru bagiku—belum pernah aku di-booking hanya untuk ditonton live seperti ini. Apa asyiknya melihat orang bercinta padahal dia bisa menikmatinya secara langsung dengan pemain wanitanya? Atau jangan-jangan orang itu hanya timbul gairahnya saat melihat orang bercinta, lalu baru menikmati tubuhku? Sejuta pikiran berkecamuk penuh tanda tanya. "Ly? Gimana?" tanya cicik mengagetkanku. "Laki-laki lainnya siapa? Temannya?" tanyaku makin penasaran. "Tidak sih, dia serahkan ke aku—tapi terserah kamu kalau punya pilihan atau pacarmu barangkali, lumayan kan, sudah dapat enak dapat duit lagi... ha ha ha," godanya. "Gila apa, masak pacar dilibatkan urusan beginian," jawabku sambil membalas candaannya. "Ya sudah, pilih siapa yang kamu kenal," desaknya.

Terus terang, meski aku cukup lama malang melintang di dunia ini, aku termasuk "kuper" karena lingkungan pergaulanku jarang dengan teman sesama profesi—baik wanita apalagi para prianya. Kalaupun kenal, paling sebatas asal kenal, tidak terlalu erat, apalagi sampai main seranjang. "Gimana Ly, ada pilihan tidak? Cari yang cakep biar kamu bisa enjoy," kembali dia menggoda. "Aku tidak ada, Cik—terserah cicik saja," aku menyerah. Dia menyebut beberapa nama yang semuanya gigolo, baik yang profesional maupun hanya sampingan. Banyak nama yang kutolak, dan beberapa tidak kukenal. "Ala, pake pilih-pilih segala—biasanya sama laki-laki siapa saja tidak nolak. Sudah, pokoknya percaya deh sama aku, pasti tidak kecewa," akhirnya dia memaksa. "Iya deh, aku percaya sama cicikku yang satu ini," akhirnya aku menuruti keinginannya.

Sebenarnya aku masih merasa lelah setelah melayani dua tamu sebelumnya, tapi "keanehan" yang ditawarkan si cicik sungguh membuatku penasaran akan sensasinya.

Sepuluh menit sebelum waktu yang disepakati, aku sudah berada di lobi Hotel Westin (sekarang JW Marriott), langsung menuju lantai sepuluh tempat kamar tamuku berada. Seorang laki-laki muda awal tiga puluhan menyambut kedatanganku di depan pintu—namanya Hengki. "Ah, tepat waktu. Dia baru saja datang," katanya sambil menunjuk laki-laki lain yang lebih muda, sedang memegang botol Kratingdaeng. Aku tidak mengenalnya. Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun, dengan wajah yang sedap dipandang dan kulit kuning bersih. "Kalian sudah saling kenal?" tanyanya. Hampir bersamaan kami menggeleng. "Bagus, lebih asyik berarti karena kita bertiga tidak saling mengenal. Silahkan berkenalan sendiri," lanjutnya.

Setelah berkenalan, aku mengambil tempat di sampingnya. Dia bernama Bram—aku pernah dengar namanya; dia simpanan seorang istri pengusaha di Surabaya. "Aku banyak dengar tentang kamu, akhirnya bisa juga kita ketemu," kata Bram. "Semoga hanya yang baik saja," jawabku. "Oke, silahkan mulai—terserah dari mana, aku hanya penonton," Pak Hengki menyela pembicaraan kami.

Baru kali ini ada keraguan dan rasa canggung ketika ada laki-laki memelukku, apalagi saat Bram mencium pipiku ditambah adanya orang yang menonton permainan kami. Inilah pertama kali aku bercinta dengan seorang gigolo—mungkin bisa terjadi adu keahlian dan permainan. Dengan masih penuh keraguan, kami berciuman saling melumat bibir; tangan Bram sudah berada di dadaku, memulai remasan-remasan ringan pada kedua buah dadaku. Aku menggelinjang saat tangannya mulai menyusup di sela-sela resliting depan blusku dan menyelinap di balik bra. Diraihnya putingku dan dipermainkan dengan penuh gairah; aku mendesah antara geli dan nikmat. Ciuman Bram sungguh romantis dan penuh gairah—dia seakan tahu betul bagaimana memuaskan wanita, tahu persis bagian-bagian sensitif dan erotis.

Hanya beberapa menit sejak ciuman pertama, aku sudah dalam keadaan topless. Dia memandang sejenak kedua buah dadaku yang menggantung indah. "Very beautiful," pujinya sebelum mendaratkan lidahnya pada putingku, disusul kuluman dan sedotan ringan. Aku kembali mendesah nikmat. Tangan Bram beralih dari buah dadaku turun ke selangkangan; dengan mudah dia melepas celanaku tanpa mengangkat mulutnya dari putingku. Sedetik kemudian aku sudah telanjang di hadapan kedua laki-laki yang masih berpakaian lengkap.

Pak Hengki mendekati kami seolah hendak melihat lebih jelas kemolekan dan kemulusan tubuh telanjangku; matanya melotot menatap tanpa kedip. Kami tidak peduli—terserah dari sudut mana pun dia menonton.

Bram sudah jongkok di depan kakiku yang terbuka lebar, menunjukkan liang sempit kenikmatanku yang sedikit dihiasi bulu-bulu halus. Kembali bibir dan lidah Bram mendarat di tubuhku; disusurinya kedua paha dan berhenti di sekitar selangkangan. Dia tidak langsung menyentuh daerah vagina, justru mengitarinya dengan jilatan-jilatan menggairahkan. Aku mendesah penuh gairah, kuremas rambutnya dan kutekankan ke selangkanganku berharap dia segera menjilat vagina—tapi dia tidak terpengaruh. "Bram, please," pintaku sambil mengerang penuh kenikmatan. Dia hanya menatapku sambil tersenyum.

Akhirnya aku menjerit lepas saat lidahnya menyentuh klitorisku, disusul ciuman bibirnya pada vaginaku. Desahanku semakin keras saat jari-jari tangannya ikut bermain pada liang kenikmatanku. Pak Hengki sudah jongkok di samping kami; Bram semakin liar bermain di vaginaku. Permainan oralnya sungguh menghanyutkan—tak dapat dipungkiri, aku sangat menikmatinya.

Bram berdiri di depanku. Aku segera membuka celananya dan menarik turun berikut celana dalamnya. Tampaklah penisnya yang sudah keras menegang—tidak terlalu istimewa, sama seperti umumnya. Kuraih kejantanannya dan kukocok dengan tangan; dia mulai mendesis. Kujilat kepala penisnya lalu kumasukkan ke mulutku perlahan-lahan hingga lebih separuh berada di dalam. Bram memegang kepalaku; sebelum aku mulai gerakanku sendiri, dia mendahului dengan mengocokkan penisnya di mulutku. Pak Hengki semakin melotot saat penis Bram keluar masuk mulutku; aku semakin bergairah dibuatnya. Sekilas kulihat tangannya meremas-remas di selangkangannya sendiri.

Aku semakin over acting: kujilati sekujur batang penis Bram hingga ke pangkal, lalu kembali mengocok dengan mulut. Desahan Bram semakin terdengar penuh gairah. Sambil mengulum Bram, tanganku bermain di klitorisku sendiri—membuat aku ikutan mendesah beriringan dengannya.

Aku dan Bram sudah tak tahan lagi; dia kembali berlutut di antara kakiku. Kami berciuman saling melumat bibir sambil mengusapkan penisnya ke vaginaku yang sudah basah. Namun sebelum Bram mendorong masuk penisnya, Pak Hengki menyela permainan kami. "Pakai ini," katanya sambil menyodorkan kondom yang sudah dibuka. Kami saling berpandangan lalu tersenyum bersamaan. Sedikit demonstratif, kupasangkan kondom ke penis Bram dengan mulutku—dibalas dengan pandangan kagum dari kedua laki-laki itu. Bram menyapukan sejenak kepala penisnya, perlahan didorong memasuki celah kenikmatanku sambil kembali melumat bibirku; lidah kami saling beradu seiring melesaknya penis itu semakin dalam.

Kami berpandangan ketika kejantanannya sudah masuk semua—sama-sama tersenyum memberi isyarat. Tatapannya begitu romantis dan menghanyutkan. Dia mulai gerakan menarik dan mendorong dengan perlahan, semakin cepat dan semakin bergairah. Tanpa malu aku mendesah lepas tanpa dibuat-buat—sungguh nikmat bercinta dengannya. Dia tahu kapan saatnya melakukan apa; sungguh seorang penakluk wanita. Tangannya dengan halus meraba dan meremas lembut kedua buah dadaku; sesekali dikulumnya putingku, semua dilakukan tanpa menurunkan irama kocokannya. Kakiku diangkat ke pundaknya; penisnya semakin dalam menghunjam liang vaginaku, dan desahanku semakin lepas tanpa kendali.

Bram memutar tubuhku untuk posisi dogie—tubuhku bertumpu pada sandaran sofa. Agak kecewa aku karena tidak bisa menatap wajahnya yang cool. Namun kekecewaanku tidak berlangsung lama saat Bram kembali mengisi vaginaku dengan kejantanannya yang serasa semakin tegang; diraihnya kedua buah dadaku yang berayun sembari memulai kocokannya. Sesekali dia mencium dan menjilati punggung hingga tengkukku; aku menggeliat geli bercampur nikmat. Dan jeritan tak tertahankan saat dia mengulum telingaku.

Pak Hengki mendekati wajahku; dia mencium kening dan bibirku. Baru kusadari kalau sejak awal dia tidak pernah menyentuh gadis yang di-booking ini. Ciumannya tidak berlangsung lama—lebih tepat sekadar kecupan tanpa bertindak lebih jauh. Dia kembali agak menjauh.

Kocokan Bram semakin menggila; remasannya pun makin kuat namun lebih nikmat. Tiba-tiba dia menarik tubuhku ke atas—lenganku dipegangnya dari belakang. Kini tubuhku tergantung pada pegangan kedua tangannya; penisnya serasa makin menusuk dalam. Pak Hengki kembali bergeser di depanku, tepat berhadapan denganku. Sepertinya dia begitu menikmati wajahku yang penuh ekspresi kenikmatan sambil sesekali meraba mukaku dengan gemas. Sementara Bram makin liar mengocokku, semakin membawaku melambung tinggi. Beberapa kocokan kemudian, jeritan kenikmatan terlontar dari mulutku. Aku orgasme dalam pelukan Bram dari belakang, di depan Pak Hengki yang tidak pernah bosan menatapku.

"Gila kamu, Bram—enak banget," bisikku setelah denyutanku habis. "Mau lanjut?" tanyanya sambil mencium bibirku. Tanpa menunggu jawabanku, dia duduk di sofa dan menarikku ke pangkuannya. Setelah napasku normal kembali, kuatur posisi tubuhku dan perlahan turun melesakkan penis Bram ke vaginaku. Kucium bibirnya saat kumulai gerakan di atas pangkuannya. "Kini giliranku pegang peranan," pikirku sambil menggoyangkan pinggul dan turun naik.

Desahan Bram mengiringi desah-desah nikmatku; tangannya meremas-remas buah dadaku yang tepat bergoyang menggoda di depannya, diselingi kuluman dan gigitan ringan pada puting. Aku menggeliat nikmat. Gerakan goyanganku semakin cepat dan liar di atasnya—aku seperti kesurupan dalam permainan penuh gairah. Apalagi keberadaan Pak Hengki sebagai penonton ternyata menambah sensasi yang semakin bergairah.

Tiba-tiba Bram menghentikan gerakanku. "Sebentar, ganti kondom dulu," katanya sambil mendorong tubuhku turun. "Pak, bisa diambilkan kondom lagi?" katanya pada Pak Hengki yang dari tadi menonton. Tanpa bertanya lebih lanjut, Pak Hengki mengambil kondom kedua dan menyerahkan yang sudah dibuka kepadaku.

Terpaksa kulepas penisnya dari vaginaku. Ternyata kondom itu sudah terisi cukup banyak cairan putih keruh—sepertinya dia sudah keluar tapi entah kapan karena tidak kurasakan orgasme darinya. Atau mungkin dia memang menahan orgasmenya, pantas sering kurasakan denyutan-denyutan kecil ketika kami bercinta. Segera kuganti kondom dengan mulutku; kukulum sejenak lalu kembali kulesakkan ke vaginaku, disusul goyangan tubuhku di atas pangkuannya. Tak lama kemudian kami saling mengocok, saling melumat, dan saling memberi kenikmatan. Pak Hengki tidak pernah bosan melihat dengan berbagai sudut pandang.

Berulang kali Bram memuji keliaranku di sela desahannya; tak jarang dia hanya diam saja menikmati gerakanku tanpa menyentuhku sama sekali—hanya tatapan dan desahan yang menandakan dia menikmati. Dan aku pun tidak bisa bertahan lebih lama lagi: untuk kedua kalinya kuraih orgasme dari Bram, orgasme yang indah.

Pak Hengki mendekap dari belakang dikala aku menggelinjang menikmati sensasi orgasme—hanya pelukan tanpa ada usaha meremas buah dadaku—disusul lumatan pada bibirku yang terbuka saat merasakan nikmat orgasme. Bram hanya melihat kami.

"Uff... istirahat dulu, Bram," kataku sambil turun dari pangkuan Bram. Ternyata dia mengikutiku berdiri; penisnya yang masih terbungkus kondom menggelayut kekar di selangkangannya. Sedetik kemudian dia mendekap dari belakang, lalu tubuhku direbahkan di atas ranjang. Permintaanku untuk istirahat tidak digubris—justru dia menjawab dengan membuka kakiku lebar-lebar dan langsung membenamkan kepalanya di selangkanganku. Aku teriak menjerit kaget, tapi tidak dipedulikan.

Sangat rakus Bram menjilati sekujur vaginaku; disedotnya kuat seluruh cairan orgasme yang ada di vagina. Aku menjerit nikmat—belum pernah diperlakukan seperti ini oleh laki-laki. Biasanya akulah yang membersihkan sperma dari penis, tapi kini terjadi sebaliknya. Kuremas-remas rambut Bram yang masih asyik menikmati cairan vaginaku.

Puas bermain di selangkangan, Bram langsung menindihku; penisnya kembali menghunjam dalam di vaginaku. Kocokannya begitu nikmat membuatku kembali naik menuju puncak. Kami berpelukan rapat; kakiku menjepit pinggangnya. Keringat dan desah napas menyatu dalam irama permainan penuh nafsu. Lidah dan bibirnya tidak pernah beranjak dari tubuhku—dari leher, bibir, pipi, atau telinga. Aku semakin mendesah sambil menggelinjang penuh kenikmatan.

Tak perlu waktu lama untuk membawaku kembali ke puncak birahi, dan untuk ketiga kalinya kuraih kenikmatan itu dari Bram tanpa membuatnya orgasme. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Bram tidak menghentikan kocokannya dikala aku menggelinjang penuh kenikmatan—justru semakin mempercepat. Jeritan semakin nyaring terdengar. Tanpa memberiku kesempatan lebih lanjut, dia membalik tubuhku. Aku hanya nungging dengan dada masih menempel di ranjang; tubuhku terlalu lemas untuk kuangkat.

Dari belakang dengan bebasnya Bram mengocokku. Aku tidak kuasa lagi menjerit—hanya desah kenikmatan yang keluar dari hidung. Beberapa kocokan dan sodokan keras kurasakan, namun aku tidak kuasa menggeliat. Tiba-tiba Bram menghentikan kocokannya; kurasakan denyutan kecil di vaginaku. "Pak, tolong kondom lagi dong," kudengar dia minta Pak Hengki untuk kondom ketiga—berarti kondom terakhir dalam satu kemasan.

Kurasakan Pak Hengki naik ke ranjang; Bram mencabut penisnya, lalu tak sampai semenit kembali dilesakkan. Rupanya dia mengganti kondomnya—kondom bekas dilemparkan ke depanku, terlihat cairan putih sedikit mengisinya. Untuk kesekian kalinya kurasakan penisnya menghentak dan menyodok vaginaku dengan keras.

Entah apa yang dilakukan Pak Hengki di belakang sana—tidak bisa kulihat jelas dan aku pun tidak berminat melihatnya. Disaat kocokan Bram sedang menghebat, kurasakan cairan hangat membasahi punggungku lalu diusap-usap ke sekujur punggung hingga pantat. Aku pikir Bram meludahi belakangku—aku tidak peduli, kulawan gerakan Bram dengan menggoyangkan pantat mengimbanginya.

Entah sudah berapa lama dia mengocokku dari belakang, hingga kudengar jeritan kenikmatan darinya. Penisnya serasa membesar disusul denyutan keras pada vaginaku; dia meremas pantatku kuat-kuat. Aku membalas dengan tetap menggoyangkan pantat—dia makin menjerit keras tapi aku tidak peduli.

Akhirnya Bram mencabut penisnya, bergeser ke depanku, mencabut kondom yang penuh sperma, dan menyodorkan kejantanannya ke mulutku. Aku tidak menanggapi, namun dia mengusap-usapkannya ke wajahku. Akhirnya kuturuti kemauannya: kuraih penis di depanku dan kumasukkan ke mulutku. Aroma sperma sangat keras tercium. Kupermainkan penis yang mulai mengecil itu di mulutku; tidak kubiarkan dia menariknya keluar. Lidahku menari-nari di kepala penisnya; Bram menjerit histeris.

Kami telentang bersebelahan, napas masih menderu sisa-sisa permainan birahi yang melelahkan. Pak Hengki kembali ke sofa melihat tubuh kami yang tergolek lemas di ranjang. "Kalian berdua memang pasangan yang cocok—satu jam tujuh menit permainan kalian," kata Pak Hengki. Tak kusangka selama itu; rasanya baru sepuluh atau lima belas menit kami bercinta, mungkin kami terlalu menikmatinya hingga waktu terasa berjalan cepat.

"Ternyata apa yang aku dengar selama ini memang tidak bohong, dan beruntunglah aku ikut membuktikan. Ntar kita lanjutin lagi," kata Bram masih dengan napas berat. "Oke Bram, tugas kamu sudah selesai dan kamu bisa tinggalkan kami," kata Pak Hengki sambil meletakkan amplop di meja.

Sebenarnya aku agak kecewa mendengar Bram harus pergi; rasanya terlalu sayang melewatkan waktu dengan dia cuma sebentar. Dalam hati aku tidak keberatan kalau harus melayani mereka berdua—toh ini bukan pertama kali, meskipun aku baru mengalaminya sekali. Tapi Pak Hengkilah yang berkuasa; aku diam saja.

Dengan muka penuh kecewa, Bram beranjak dari ranjang, dipungutinya pakaiannya dan dikenakan kembali. Kini dia tampak seperti anak muda umumnya—tidak ada kesan kalau dia seorang gigolo yang pandai memuaskan wanita, termasuk aku. Dia mengambil amplop yang ada di meja dan menyalami Pak Hengki. Setelah itu menghampiriku yang masih rebahan telanjang di ranjang; dikecupnya keningku. "Bersihkan sperma Pak Hengki di punggungmu," bisiknya saat mencium pipiku. Baru kusadari cairan hangat yang kukira ludah tadi adalah sperma Pak Hengki. "Terima kasih, Pak. Bapak tahu bagaimana menghubungiku lain waktu. Selamat bersenang-senang," katanya sambil pamit dan melirikku. "Jangan pergi, kita main bertiga saja—aku sanggup kok melayani kalian berdua sekaligus," teriak batinku, tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutku.

Pak Hengki menyeringai melihatku masih telanjang—wajah gantengnya sebenarnya cukup mempesona, tapi aku masih terbuai dengan permainan Bram. Dia mengeluarkan tisu basah dari bajunya dan menyerahkan kepadaku. "Usap wajahmu dari spermanya," perintahnya; aku menurutinya.

Pak Hengki duduk di tepi ranjang menghadapku. "Kamu memang benar-benar menggairahkan—hampir tak tahan aku melihat permainanmu tadi. Makanya aku berubah pikiran; terlalu sayang melewatkan saat-saat seperti ini begitu saja," katanya sambil menyibakkan rambut yang menutupi sebagian dadaku. Aku diam saja, ingin tahu rencananya lebih jauh. Sebenarnya ini sudah di luar kesepakatan—harus melayani dua orang.

"Jangan khawatir, aku mengerti soal uangnya—tidak perlu dipikirin. Atau kamu mau telepon GM-mu?" lanjut Pak Hengki seakan membaca pikiranku. Malu aku dibuatnya. Kujawab dengan senyuman. "Tidak usah, aku percaya sama Bapak. Aku mandi dulu ya," kataku seraya hendak beranjak, tapi dia menahan tubuhku. "Tidak usah mandi, biar lebih hot dengan keringat di tubuhmu," katanya pendek, disusul gerakan menindihku. Aku terkejut tapi terlambat—dia sudah di atasku menciumi leher dan melumat bibirku. Aku segera membalas lumatan penuh gairah. "Kamu cantik... dan bertambah cantik saat mendesah... dan makin cantik kala orgasme," katanya di sela ciuman kami. Aku membalas dengan desisan ringan, apalagi ketika bibirnya sudah berada di putingku.

Tidak lama kami melakukan pemanasan karena sama-sama sudah terbakar pada babak sebelumnya. Tanpa melepas ciuman dan tindahannya, dia mengeluarkan penisnya; kurasakan sapuan kepala penis di bibir vaginaku. Tanpa kondom, perlahan kepala penis itu menembus celah vaginaku—sepertinya cukup besar, terus menembus masuk makin dalam seperti perjalanan panjang sebelum menyentuh dasar vaginaku. Aku mendesis nikmat meski baru lima belas menit yang lalu kurasakan kenikmatan yang sama dari Bram. Harus kuakui, penis yang lebih panjang telah melesak memenuhi vaginaku.

Beberapa detik kemudian mulai kurasakan ayunan kenikmatan dari Pak Hengki dan semakin cepat. Sambil menikmati kayuhannya kulepas pakaiannya—terkesiap sesaat melihat dada bidang Pak Hengki yang dihiasi bulu-bulu, begitu seksi tanpa timbunan lemak. Aku semakin terangsang; kekecewaan ditinggal Bram segera terlupakan dan berganti kenikmatan kocokan Pak Hengki, tamuku yang sebenarnya. Kutarik tubuhnya dalam dekapanku; aku ingin merasakan dekapan kehangatan penuh birahi darinya. Berkali-kali kubalas lumatannya dengan lumatan tak kalah bergairah.

Kami saling mendekap erat; terlupakan sudah rasa lelah dengan Bram tadi. Napas kami bersatu menderu diiringi desah kenikmatan dari kami berdua. "Sshh... terus, Pak... uff... enak, Pak," desahku di telinganya tanpa dibuat-buat. Cukup lama dia mengocok dari atas sebelum membalik tubuhku.

Aku tidak mau posisi di atas karena hampir bisa dipastikan tamuku tidak akan bisa bertahan lama. "Dari belakang, Pak," kataku sambil turun dari tubuhnya dan nungging di samping. Pak Hengki melepas pakaian yang masih tersisa; kami sama-sama telanjang. Diraihnya pantatku dan sedetik kemudian melesaklah penisnya kembali ke vaginaku, disusul kocokan cepat. Aku menggeliat nikmat merasakan hunjaman penis itu—meski belum sempat melihat, yakin bahwa lebih besar dari punya Bram.

Sodokan demi sodokan menghunjam tajam di vaginaku; desahan demi desahan mengiringi permainan kami. Remasan demi remasan menambah gairah semakin tinggi. Aku benar-benar melambung dalam nikmat, dan tidak bisa kutahan lebih lama lagi—aku pun mencapai puncak kenikmatan mendahului Pak Hengki. Tubuhku langsung lunglai begitu denyutan di vaginaku menghilang; lututku serasa gemetar, mungkin terlalu banyak orgasme berturut-turut dalam waktu singkat.

Pak Hengki menghentikan kocokannya sesaat, lalu melanjutkan kembali dengan lebih keras. Kembali aku dipaksa mendaki birahi yang tinggi; beberapa sodokan menusuk tajam. Aku terhenyak dalam kelelahan.

Kami berganti posisi beberapa menit kemudian. Aku langsung bergoyang di atas tubuhnya—pandangan mata dan tubuh atletisnya ternyata membuaiku semakin tinggi. Gerakanku semakin liar tak beraturan; kututup mata rapat tidak mampu melawan tatapan mata dan keseksiannya. Aku terlalu lelah untuk menggoyangkan tubuhku; kutelungkupkan di atas dada bidangnya. Bulu-bulu dada serasa menggelitik putingku—semakin terangsang aku dibuatnya. Dengan mendekap tubuhku rapat, dia mengocokku dari bawah. Tak lama kemudian kurasakan denyutan yang sangat kuat dari penisnya seiring jeritan kenikmatan dari mulut Pak Hengki; pelukannya semakin kuat. Aku pun tidak kuasa ketika denyutannya membawaku ikut berdenyut menyusulnya ke puncak—kami orgasme hampir bersamaan. Cairan hangat terasa memenuhi liang vaginaku.

Tubuh kami terkulai berpelukan lemas tak berdaya; detak jantung kami saling beriringan berpacu menuruni puncak kenikmatan. Kusandarkan kepala di pundaknya dengan napas masih berat tersengal. Sungguh orgasme yang indah dari dua laki-laki berbeda secara berurutan.

"Kamu nginap di sini aja ya," kata Pak Hengki ketika sudah bisa bernapas normal. Aku tidak keberatan tentu saja—setelah apa yang kudapat darinya. "Terserah Bapak saja," jawabku pelan, menyembunyikan gejolak kegembiraan. Aku harus tetap bersikap profesional meski mengharap tawaran seperti itu yang datangnya belum tentu sebulan sekali.

Kami pun mandi malam bersama. Baru kusadari ternyata kejantanannya lumayan besar, melebihi milik Bram yang sempat membuatku menggelepar kenikmatan. Secara fisik Pak Hengki lebih seksi, tapi dari segi variasi permainan Bram jauh lebih unggul.

Malam itu kami habiskan dengan penuh gairah—dua babak lagi kami bercinta, sekali di sofa dan meja lalu di ranjang, sebelum akhirnya tertidur setelah lewat tengah malam.

Keesokan paginya ketika aku bangun, tak kutemui Pak Hengki di sampingku. Terdengar gemericik air dari kamar mandi; segera aku bangun dan menyusul. "Pagi, Bapak—wah sudah duluan nih, kok tidak membangunkan aku?" sapaku melihat Pak Hengki yang sedang menyiram tubuhnya di shower. "Eh, pagi sayang, sudah bangun rupanya. Habis tidurmu nyenyak banget, tidak tega membangunin," jawabnya sambil melanjutkan mandi. "Aku mandiin," aku menawarkan diri. "Monggo, tapi buruan ya, aku sedang buru-buru nih." "Sip lah," jawabku langsung masuk ke bathtub, kusabuni tubuhnya dengan gerakan-gerakan menggoda terutama di sekitar selangkangannya.

Sebenarnya aku masih menginginkan bercinta darinya sebelum kami berpisah, paling tidak sekali lagi. Tapi rupanya dia tidak menanggapi meskipun kejantanannya sudah menegang dalam genggamanku. "Udahan, kamu lanjutkan aja mandi," katanya lalu ngeloyor pergi mengambil handuk, meninggalkanku di kamar mandi. Aku agak kecewa dengan penolakannya.

Sengaja agak berlama-lama di kamar mandi untuk meredakan birahi di pagi hari. Ketika aku keluar, ternyata Pak Hengki sudah berpakaian rapi bersiap ke kantor, meskipun sebenarnya sudah terlambat—jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. "Ly, aku duluan ya. Ntar kamu check out sendiri, bisa kan?" katanya bersiap hendak pergi. "Beres," jawabku sambil melepas handuk penutup tubuhku dan mengeringkan rambut. "Oh ya, soal yang itu nanti sama si cicik saja ya, dan ini untuk bayar hotel dan bensin," katanya tentang pembayaran seraya meletakkan amplop putih di meja. "Thanks," jawabku masih mengeringkan rambut.

Sebelum Pak Hengki meninggalkan kamar, dia mencium bibirku—ciuman perpisahan yang cukup lama. Dia memeluk tubuh telanjangku; aku tidak menyia-nyiakan kesempatan dan meremas-remas penisnya hingga berdiri. "Sekali lagi yuk, sebentar aja," ajakku. Dia menatapku tajam seakan hendak menengok isi hatiku. "Kamu benar-benar penggoda," jawabnya sambil meremas buah dadaku.

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung merosot turun dan berlutut di depannya. Kubuka resliting celananya dan kukeluarkan penis yang sudah menegang keras. Sedetik kemudian kejantanan Pak Hengki sudah keluar masuk mulutku—mendahului sarapan pagi. Hanya beberapa menit aku mengulumnya. Pak Hengki menarikku berdiri, memutar tubuh telanjangku hingga menghadap tembok. Kubuka kaki lebar ketika dia mengusapkan penisnya dari belakang, dan melesaklah penis pertama di hari itu mengisi vaginaku.

Tanpa menunggu lebih lama dia langsung mengocokku cepat dan keras; aku menggeliat dan mendesah menikmati sodokan demi sodokan yang nikmat. Sepertinya tak pernah puas aku menikmati kocokannya meskipun sudah tiga babak semalam. Tak lebih dari sepuluh menit akhirnya kami menggapai orgasme hampir bersamaan; cairan hangat membanjiri liang vaginaku. Aku segera berbalik meraih penisnya, kujilati dan kukulum hingga tiada lagi sisa sperma di kejantanannya, lalu kumasukkan kembali ke celananya. Tanpa berkata-kata lagi, Pak Hengki langsung meninggalkan kamar setelah merapikan pakaiannya.

Hingga kami berpisah, aku tidak tahu kenapa dia memerlukan bantuan seorang gigolo sebelum bercinta, padahal secara keseluruhan tidak ada masalah dengan dirinya—apalagi dia masih muda dan tampan. Tapi pertanyaan itu tetap kupendam: biarlah dia hidup dalam fantasinya, bukan urusanku untuk mencampuri khayalan seseorang, tapi merupakan pekerjaanku bila harus memenuhi fantasi-fantasi itu.

Belakangan, setelah beberapa kali bertemu dan selalu menggunakan "jasa" laki-laki lain—baik gigolo pilihannya maupun yang dia dapat dari GM—akhirnya kutahu ternyata dia sangat terobsesi melihat permainan seks orang lain, dan ritual itu selalu dilakukan sebelum berhubungan dengan wanita. Beruntung dia belum kawin; tentu berabe kalau sudah. Aku sangat menyukai fantasinya, meski terkadang laki-laki lain tidak sekelas Bram—tapi bagiku cukup memberikan sensasi aneh sebelum bercinta dengan Pak Hengki.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya