Live Show
Live Show
"Ly, nanti sore jam 4 di Hotel Westin, bisa nggak?" tanya seorang GM wanita via HP pada suatu hari.
"Kalau untuk cicikku yang satu ini pasti bisa dong," balasku manja. Aku tahu GM wanita yang satu ini—biasa kupanggil cicik karena selain yang aku tahu dia seorang Chinese yang banyak kenalan kalangan atas—aku tidak tahu nama aslinya. Seperti biasanya dia pasti memberi orderan gede, bukan kelas kakap bahkan tak jarang kelas paus.
"Tapi kali ini agak lain. Terserah kamu mau nggak—biasanya kan kamu nggak suka yang aneh-aneh," tanyanya ragu.
"Emang kenapa, Cik?" tanyaku penasaran.
"Emm... dia cuman ingin lihat kamu main sama laki-laki lain. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa sih," jelasnya. Aku tercenung sejenak.
Ini adalah hal baru bagiku. Belum pernah aku di-booking untuk hanya ditonton live seperti ini. Apa asyiknya melihat orang bercinta, padahal dia bisa menikmatinya secara langsung sebagai pemain wanitanya? Atau jangan-jangan orang itu hanya timbul gairahnya saat melihat orang bercinta, lalu baru menikmati tubuhku? Sejuta pikiran berkecamuk penuh tanda tanya.
"Ly? Gimana?" tanya cicik mengagetkanku.
"Laki-laki lainnya siapa? Teman dia?" tanyaku makin penasaran.
"Nggak sih, dia nyerahin ke aku. Tapi terserah kamu—kalau kamu punya pilihan, atau pacarmu barangkali, kalau kamu mau. Lumayan kan, sudah dapat enak, dapat duit lagi... ha ha ha," godanya.
"Gila apa! Masak pacar dilibatkan urusan beginian. Saru," jawabku sambil membalas candaannya.
"Ya udah, pilih siapa yang kamu kenal," desaknya.
Terus terang, meski aku cukup lama malang-melintang di dunia ini, aku termasuk "kuper" karena lingkungan pergaulanku memang jarang dengan teman sesama profesi—baik wanita, apalagi para prianya. Kalaupun kenal, paling sebatas asal kenal, tidak terlalu erat, apalagi sampai main seranjang—sangat jarang sekali.
"Gimana, Ly, ada pilihan nggak? Cari aja yang cakep gitu biar kamu bisa enjoy," kembali dia menggoda.
"Aku nggak ada, Cik. Terserah cicik aja deh," aku menyerah.
Dia menyebut beberapa nama yang kesemuanya gigolo, baik yang profesional maupun yang hanya sampingan. Banyak nama yang kutolak, tapi beberapa nama aku tidak mengenalnya.
"Ala, pake pilih-pilih segala! Biasanya sama laki-laki siapa saja nggak nolak. Udah, pokoknya percaya deh sama aku—pasti kamu nggak kecewa," akhirnya dia memaksa.
"Iya deh, aku percaya sama cicikku yang satu ini," akhirnya aku menuruti keinginannya setelah menyebutkan beberapa nama yang tidak aku suka.
Sebenarnya aku masih merasa capek setelah melayani dua tamu sebelumnya, tapi "keanehan" yang ditawarkan si cicik tadi sungguh membuatku penasaran akan sensasinya. Sepuluh menit sebelum waktu yang disepakati, aku sudah berada di lobi Hotel Westin (sekarang JW Marriott), langsung menuju lantai 10 tempat kamar tamuku berada. Seorang laki-laki muda awal 30-an menyambut kedatanganku di depan pintu—namanya Hengki.
"Ah, tepat waktu. Dia baru saja datang," katanya sambil menunjuk laki-laki lain yang lebih muda, sedang memegang botol Kratingdaeng. Aku tidak mengenalnya. Usianya mungkin sekitar 25 tahun, dengan wajah yang sedap dipandang dan kulit kuning bersih.
"Kalian sudah saling kenal?" tanyanya. Hampir bersamaan kami menggeleng.
"Bagus, lebih asyik berarti. Karena kita bertiga tidak saling mengenal—silakan berkenalan sendiri," lanjutnya.
Setelah berkenalan, aku mengambil tempat di sampingnya. Dia bernama Bram. Aku pernah dengar namanya—dia simpanan seorang istri pengusaha di Surabaya.
"Aku banyak dengar tentang kamu. Akhirnya bisa juga kita ketemu," kata Bram.
"Semoga hanya dengar yang baik saja," jawabku.
"Oke, silakan mulai. Terserah dari mana—aku hanya penonton," Pak Hengki menyela pembicaraan kami. Baru kali ini ada keraguan dan rasa canggung ketika ada laki-laki memelukku, apalagi saat Bram mencium pipiku ditambah adanya orang yang menonton permainan kami.
Inilah pertama kali aku bercinta dengan seorang gigolo—mungkin bisa terjadi adu keahlian dan permainan. Dengan masih penuh keraguan, kami berciuman saling melumat bibir. Tangan Bram sudah berada di dadaku, memulai remasan-remasan ringan pada kedua buah dadaku. Aku menggelinjang saat tangan Bram mulai menyusup di sela-sela resleting depan blusku dan menyelinap di balik bra. Diraihnya putingku dan dipermainkan dengan penuh gairah. Aku mendesah antara geli dan nikmat. Ciuman Bram sungguh romantis dan penuh gairah—dia seakan tahu betul bagaimana memuaskan wanita, dia tahu persis bagian-bagian sensitif dan erotis.
Hanya beberapa menit sejak ciuman pertama, aku sudah dalam keadaan topless. Dia memandang sejenak kedua buah dadaku yang menggantung indah.
"Very beautiful," pujinya, sebelum mendaratkan lidahnya pada putingku, disusul kuluman dan sedotan ringan oleh bibirnya. Aku kembali mendesah nikmat.
Tangan Bram beralih dari kedua buah dadaku turun ke selangkangan. Dengan mudah dia melepas celanaku tanpa mengangkat mulutnya dari putingku. Sedetik kemudian aku pun sudah dalam keadaan telanjang di hadapan kedua laki-laki yang masih berpakaian lengkap. Pak Hengki mendekati kami seolah hendak melihat lebih jelas kemolekan dan kemulusan tubuh telanjangku—matanya melotot menatap tanpa kedip. Kami tak pedulikan; terserah dari sudut mana saja dia menonton.
Bram sudah jongkok di depan kakiku yang terbuka lebar, menampakkan liang sempit kenikmatanku yang sedikit dihiasi bulu-bulu halus. Kembali bibir dan lidah Bram mendarat di tubuhku, disusurinya kedua paha dan berhenti di sekitar selangkangan. Dia tidak langsung menyentuh daerah vagina tapi justru mengitarinya dengan jilatan-jilatan menggairahkan. Aku mendesah penuh gairah, kuremas rambutnya dan kutekankan ke selangkanganku berharap dia segera melakukan jilatan pada vagina, tapi dia tak terpengaruh.
"Bram, please," pintaku sambil meringis penuh kenikmatan. Dia hanya menatapku sambil tersenyum.
Akhirnya aku menjerit lepas saat lidahnya menyentuh klitorisku, disusul dengan ciuman bibirnya pada vaginaku. Desahanku semakin keras saat jari-jari tangannya ikutan bermain pada liang kenikmatanku. Pak Hengki sudah jongkok di samping kami. Bram semakin liar bermain-main di vaginaku—permainan oralnya sungguh menghanyutkan. Tak dapat dipungkiri aku sangat menikmatinya.
Bram berdiri di depanku. Aku segera membuka celananya dan menarik turun berikut celana dalamnya—tampaklah penisnya yang sudah keras menegang. Tidak terlalu istimewa, sama seperti umumnya. Kuraih kejantanannya dan kukocok-kocok dengan tanganku. Dia mulai mendesis. Kujilat kepala penisnya lalu kumasukkan ke mulutku, perlahan-lahan hingga lebih separuh berada di dalam. Bram memegang kepalaku—sebelum aku mulai gerakanku, dia mendahului dengan mengocokkan penisnya di mulutku. Pak Hengki makin melototkan matanya saat penis Bram keluar-masuk mulutku. Aku semakin bergairah dibuatnya. Sekilas kulihat tangannya meremas-remas di selangkangannya sendiri.
Aku semakin over acting—kujilati sekujur batang penis Bram hingga ke pangkal lalu kembali mengocok dengan mulut. Desahan Bram makin terdengar penuh gairah. Sambil mengulum Bram, tanganku bermain di klitorisku sehingga aku ikutan mendesah beriringan dengannya.
Aku dan Bram sudah tak tahan lagi. Dia kembali berlutut di antara kakiku. Kami berciuman saling melumat bibir sambil mengusapkan penisnya ke vaginaku yang sudah basah. Namun sebelum Bram mendorong masuk penisnya, Pak Hengki menyela permainan kami.
"Pake ini," katanya sambil menyodorkan kondom yang sudah dia buka. Kami saling berpandangan lalu tersenyum bersamaan.
Sedikit demonstratif, kupasangkan kondom ke penis Bram dengan mulutku—dibalas dengan pandangan kagum dari kedua laki-laki itu. Bram menyapukan sejenak kepala penisnya, lalu perlahan didorong memasuki celah-celah kenikmatanku sambil kembali melumat bibirku. Lidah kami saling beradu seiring melesaknya penis itu semakin dalam.
Kami berpandangan ketika kejantanannya sudah masuk semua—sama-sama tersenyum memberi isyarat. Tatapannya begitu romantis dan menghanyutkan. Dia mulai gerakan menarik dan mendorong dengan perlahan, lalu semakin cepat. Gerakan dan tatapannya membuaiku semakin cepat. Tanpa malu aku pun mendesah lepas tanpa dibuat-buat—sungguh nikmat bercinta dengannya. Dia tahu kapan saatnya melakukan apa, sungguh seorang penakluk wanita. Tangannya dengan halus meraba-raba dan meremas lembut kedua buah dadaku. Sesekali dikulumnya putingku—semua dilakukan tanpa menurunkan irama kocokannya. Kakiku diangkat ke pundaknya, penisnya semakin dalam menghunjam liang vaginaku, dan desahanku semakin lepas tanpa kendali.
Bram memutar tubuhku ke posisi doggy. Tubuhku bertumpu pada sandaran sofa. Agak kecewa aku karena tidak bisa menatap wajahnya yang cool itu. Namun kekecewaanku tak berlangsung lama saat Bram kembali mengisi vaginaku dengan kejantanannya yang serasa semakin tegang. Diraihnya kedua buah dadaku yang berayun sembari memulai kocokannya. Sesekali dia mencium dan menjilati punggung hingga tengkukku. Aku menggeliat—geli bercampur nikmat—dan jeritanku tak tertahankan saat dia mengulum telingaku. Pak Hengki mendekati wajahku dan mencium kening lalu bibirku. Baru kusadari kalau sejak awal tadi dia tidak pernah menyentuh gadis yang di-booking ini. Ciumannya tidak berlangsung lama—lebih tepat sekadar kecupan tanpa bertindak lebih jauh—lalu dia kembali agak menjauh.
Kocokan Bram semakin menggila, remasannya pun makin kuat namun lebih nikmat. Tiba-tiba dia menarik tubuhku ke atas, lenganku dipegangnya dari belakang—kini tubuhku tergantung pada pegangan kedua tangannya, penisnya serasa makin menusuk dalam. Pak Hengki kembali bergeser di depanku, tepat berhadapan denganku. Sepertinya dia begitu menikmati wajahku yang penuh ekspresi kenikmatan sambil sesekali meraba mukaku dengan gemas. Sementara Bram makin liar mengocokku, semakin membawaku melambung tinggi, dan beberapa kocokan kemudian jeritan kenikmatan terlontar dari mulutku. Aku orgasme dalam pelukan Bram dari belakang dan di depan Pak Hengki yang tak pernah bosan menatapku. Tak kupedulikan rabaan Pak Hengki di wajahku yang tengah dilanda orgasme—aku begitu menikmati kenikmatan yang tengah kugapai.
"Gila kamu, Bram. Enak banget," bisikku setelah denyutanku habis.
"Mau lanjut?" tanyanya sambil mencium bibirku. Tanpa menunggu jawabanku, dia duduk di sofa dan menarikku ke pangkuannya. Setelah napasku normal kembali, kuatur posisi tubuhku dan perlahan turun melesakkan penis Bram ke vaginaku. Aku mencium bibirnya saat kumulai gerakanku di atas pangkuannya.
"Kini giliranku pegang peranan," pikirku sambil menggoyangkan pinggul dan naik-turun.
Desahan Bram mengiringi desah-desah nikmatku. Tangannya meremas-remas buah dadaku yang tepat bergoyang menggoda di depannya, diselingi kuluman dan gigitan ringan pada puting. Aku menggeliat nikmat. Gerakan goyanganku semakin cepat dan liar di atasnya—aku seperti kesurupan dalam permainan penuh gairah. Apalagi keberadaan Pak Hengki sebagai penonton ternyata membuat sensasi semakin bergairah. Tiba-tiba Bram menghentikan gerakanku.
"Sebentar, ganti kondom dulu," katanya sambil mendorong tubuhku turun. "Pak, bisa kami diambilkan kondom lagi?" katanya pada Pak Hengki yang dari tadi menonton aksi kami. Tanpa bertanya lebih lanjut dia mengambil kondom kedua dan menyerahkan kondom yang sudah dibuka kepadaku.
Terpaksa aku lepas penisnya dari vaginaku. Ternyata kondom itu sudah terisi cukup banyak cairan putih keruh—sepertinya dia sudah keluar, tapi entah kapan karena tak kurasakan orgasme darinya. Atau mungkin dia memang menahan orgasmenya. Pantas sering kurasakan denyutan-denyutan kecil ketika kami bercinta. Segera kuganti kondom dengan mulutku, kukulum sejenak, lalu kembali kulesakkan ke vaginaku, disusul goyangan tubuhku di atas pangkuannya. Tak lama kemudian kami saling mengocok, saling melumat, dan saling memberi kenikmatan. Pak Hengki tak pernah bosan melihat dari berbagai sudut pandang.
Berulang kali Bram memuji keliaranku di sela desahannya. Tak jarang dia hanya diam saja menikmati gerakanku tanpa menyentuhku sama sekali—hanya tatapan dan desahannya yang menandakan dia menikmati gerakan tubuhku di pangkuannya. Dan aku pun tak bisa bertahan lebih lama lagi. Untuk kedua kalinya kuraih orgasme dari Bram—orgasme yang indah. Pak Hengki mendekapku dari belakang dikala aku menggelinjang menikmati sensasi orgasme, hanya pelukan tanpa ada usaha meremas buah dadaku, disusul lumatan pada bibirku yang terbuka saat merasakan nikmat orgasme. Bram hanya memandangi kami.
"Uff... Istirahat dulu, Bram," kataku sambil turun dari pangkuan Bram. Ternyata dia mengikutiku berdiri. Penisnya yang masih terbungkus kondom menggelayut kekar di selangkangannya.
Sedetik kemudian dia mendekapku dari belakang lalu tubuhku direbahkan di atas ranjang yang hangat. Permintaanku untuk istirahat tak digubris—justru dia menjawab dengan membuka kakiku lebar-lebar dan langsung membenamkan kepalanya di selangkanganku. Aku teriak menjerit kaget tapi tak dipedulikan. Sangat rakus Bram menjilati sekujur vaginaku, disedotnya kuat seluruh cairan orgasme yang ada. Aku menjerit nikmat—belum pernah diperlakukan seperti ini oleh laki-laki. Biasanya akulah yang membersihkan sperma dari penis, tapi kini terjadi sebaliknya. Kuremas-remas rambut Bram yang masih asyik menikmati cairan vaginaku.
Bersambung...