18px

Makna Persahabatan

Makna Persahabatan

Ruang kamar mandi itu dengan segera dipenuhi oleh gelak tawa dan gurauan yang membangkitkan birahi. Gesekan, rabaan, dan remasan tak ayal merangsang nafsu terpendam. Ketika ledakan nafsu itu tidak tertahankan lagi, jalan satu-satunya ialah menyetubuhi kedua wanita itu bergiliran. Maka dinding-dinding kamar mandi itu pun menjadi saksi bisu aku beradu nafsu syahwat dengan Fenny dan Dewi.

Fenny minta disetubuhi duluan. Aku duduk di tepi bathtub dengan kemaluanku mengacung tegak ke atas. Dewi merangkulku dari belakang sehingga buah dadanya yang padat itu menempel erat di punggungku. Fenny mengangkangkan pahanya dan mendekatiku dari depan, siap-siap untuk disetubuhi.

"Mas Ardy pasti bangga ya, dilayani oleh dua cewek bahenol," kata Fenny tersenyum.

"Jelas dong," sahutku.

"Bayangkan! Dua cewek Cina, putih mulus, cantik dan bahenol, dapat kusetubuhi bergantian dalam semalam."

"Apa yang paling Mas Ardy suka?" sahut Dewi.

"Aku dan Fenny kan sama saja dengan wanita-wanita yang lain."

"Oh, jelas beda," jawabku.

"Aku suka wanita yang bahenol dengan buah dada dan pantat yang besar. Jelas, kalian berdua masuk dalam kriteriaku. Yang kedua, aku terobsesi untuk bersetubuh dengan wanita-wanita Tionghoa. Putih, mulus, dan halus. Awalnya sih ingin tahu saja, senikmat apa bersetubuh dengan wanita-wanita Cina. Eh, ternyata luar biasa nikmatnya. Jadinya ketagihan."

"Ah, Mas Ardy ada-ada saja," kata Fenny mencubit lenganku.

"Kita akan saling memuaskan," kata Dewi. "Mas Ardy membutuhkan tubuh kami, sedang kami membutuhkan kejantananmu."

"Hahaa..." Bertiga kami tertawa bersama.

Fenny yang sudah duduk di pahaku merapatkan tubuhnya. Kemaluanku yang sudah tegak langsung menembus kemaluannya, bersarang sedalam-dalamnya. Ia segera menggoyang pantatnya dengan liar sambil melenguh nikmat. Kedua buah dadanya diarahkan ke mulutku. Dengan buas kuterkam keduanya. Fenny mengerang keras. Nafsunya semakin melonjak mendekati orgasme.

Ia semakin liar. Kepalaku ditekan keras ke dadanya sehingga terbenam di buah dadanya yang empuk. Sementara itu Dewi juga terus menekan dadanya ke arah punggungku. Dua pasang buah dada sungguh memanjakanku. Fenny yang sudah terangsang hebat cepat sekali mencapai orgasmenya. Badannya mengejang diiringi erangan kenikmatan.

"Auu, Mas!" jerit Fenny seraya menggigit bahuku.

Jeritan kenikmatannya tersekat di sana. Untuk beberapa saat kami terdiam. Ia memelukku erat-erat, menggapai kekuatan menahan deraan kenikmatan yang menerpa tubuhnya. Perlahan ia melepaskan tubuhku dan dengan lemas mencebur ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat.

"Sekarang giliranku, Mas," kata Dewi.

Ia langsung berdiri dan bersandar ke wastafel, menaikkan pantatnya, siap menerima batang kejantananku dalam posisi doggy style. Sejenak aku menikmati bayangan indah di cermin. Rambut Dewi yang panjang dan awut-awutan itu menggantung. Matanya tertutup sambil agak menengadah. Bibirnya yang merah mungil itu agak terbuka, menghiasi wajahnya yang cantik.

Wajah itu jelas memancarkan gelora birahi yang menggila dan butuh pemuasan. Buah dadanya yang ranum besar itu menggelantung dengan indahnya, bergerak naik turun seirama napasnya yang memburu. Tangannya bertumpu pada tepi wastafel. Pahanya sudah membuka lebar, memperlihatkan celah kemaluannya yang seperti berteriak tak sabar. Rambut kemaluannya yang basah itu melekat di pinggir mulut gua gelap itu.

Aku mendekatinya. Tanganku menyapu lembut kulit pantatnya yang mulus tapi padat. Dari bayangan cermin kulihat Dewi menggigit bibirnya dan menahan napas, tak sabar menanti penetrasi. Tanganku melingkari kedua pahanya, lalu kearahkan kemaluanku ke lubang kenikmatannya. Perlahan-lahan ujung kemaluanku yang melebar dan berwarna merah mengkilap itu menerobos kemaluannya. Dewi mendongak dan dari mulutnya terdengar desisan liar. Sejenak aku berhenti dan membiarkan ia menikmatinya, lalu mendadak kuhentakkan pantatku keras ke depan, sehingga terbenamlah seluruh batang kejantananku di liang kewanitaannya.

"Aacchh...!" Dewi mengerang keras.

Aku menjambak rambutnya sehingga wajah yang cantik itu mendongak ke atas. Sambil terus menggenjot kemaluannya, aku menikmati perubahan mimik wajahnya menahan rasa nikmat yang bergelora dan menjalari seluruh tubuhnya. Wajahnya yang memerah itu dialiri butiran-butiran keringat. Kedua buah dadanya berguncang seirama dengan gerakan keluar masuk kemaluanku di liang nikmatnya.

Bunyi kecipak cairan vaginanya terdengar merdu berirama, diiringi desahan dan lenguhan yang terus-menerus keluar dari mulutnya yang mungil. Melihat itu aku semakin bernafsu. Aku mempercepat gerakan pantatku. Kemaluanku terasa semakin membesar. Erangan dan lenguhan Dewi berubah menjadi jeritan histeris penuh birahi yang meledak-ledak.

"Oohh...! Lebih keras!" jerit Dewi.

"Ayo, cepat. Cepat. Lebih keras lagi!"

Keringat deras menetesi punggung dan dadaku. Wajahku pun telah basah oleh keringat. Rambut Dewi semakin keras kusentak. Kepalanya semakin mendongak. Dan dengan satu sentakan keras, aku membenamkan kemaluanku sedalam-dalamnya. Dewi menjerit karena orgasme yang menggelora. Kusentakkan tubuh Dewi ke atas, kedua tanganku menggapai buah dadanya dan meremas dengan penuh nafsu. Ia pun menghentakkan pantatnya ke belakang agar lebih penuh menerima batang kemaluanku. Pantatnya bergetar hebat. Aku menggeram seperti singa lapar.

Di saat itulah kurasakan spermaku menyemprot dengan derasnya ke dalam rahim Dewi. Rasanya tak ada habis-habisnya. Dinding-dinding vagina Dewi menjepit kemaluanku, rasanya seperti terpilin. Tangan Dewi melemah dan ia pun merebahkan dirinya di atas keramik lebar samping wastafel. Aku pun rubuh menindih tubuhnya. Beberapa lama kami diam di sana dengan kelamin yang tetap bersatu, menggeletar dan mengejang, mereguk segala kenikmatan yang hanya dapat ditemukan dalam persetubuhan.

"Udah waktunya mandi, Mas, Mbak Dewi," kata-kata Fenny menyadarkan kami berdua.

Aku membimbing Dewi yang masih lemas didera rasa nikmat orgasmenya. Bertiga kami berendam di dalam bathtub mewah dalam kamar mandi Mei yang lapang ini. Dengan penuh kelembutan keduanya memandikanku, membersihkan seluruh peluh yang melekat di badanku, mencuci bersih kemaluanku.

Benar kata Yen. Dewi dan Fenny tidak mengecewakan. Malah harus kuakui, permainan seks kedua wanita ini jauh lebih menggairahkan. Menikmati tubuh keduanya saja sudah begini menyenangkan. Bagaimana kalau mereka berempat โ€” Mei dan Yen serta Dewi dan Fenny โ€” bersama-sama melayani dalam semalam? Sesudah malam ini, hari-hari selanjutnya pasti akan sangat menyenangkan.

Bagai mendapat durian runtuh, demikian kata pepatah lama. Bagaimana tidak. Empat wanita Cina yang cantik bermata sipit dengan tubuh yang montok dan bahenol siap kusetubuhi kapan saja. Betapa beruntungnya aku.

"Mikirin apa, ayo," kata Fenny membuyarkan lamunanku. Ia tersenyum.

"Aku berpikir, gimana rasanya kalau dalam semalam aku menyetubuhi kalian berdua serta Mei dan Yen bergantian," kataku.

"Ih, maunya," sahut Fenny.

"Itu bisa saja, Mas," sahut Dewi sambil menyiramkan air hangat ke bahuku. "Mei dan Yen sudah berencana kok. Pasti kita akan main berlima. Aku yakin Mas Ardy tidak keberatan. Ya kan?"

"Siapa yang nolak," sahutku. "Apalagi dilayani oleh empat wanita Cina yang cantik-cantik dan montok-montok ini."

"Itulah manfaatnya mempunyai sahabat," sahut Fenny. "Bisa berbagi suka dan duka."

"Benar kata Fenny," timpal Dewi. "Kami semua mapan secara ekonomis, begitu juga karier. Selama ini kami tidak pernah merasa perlu berbagi kegembiraan. Sekarang semua itu terjadi, berkat bantuan Mas Ardy. Karena di sini kami berempat telah berbagi kenikmatan!"

"Jadi inikah makna persahabatan itu?" tanyaku dalam hati.

Apapun jawabannya aku tidak peduli. Malam itu sungguh menjadi malam yang tak terlupakan. Kami bersetubuh sampai pagi, sama-sama tidak menyia-nyiakan kesempatan membagi rasa nikmat hubungan kelamin satu sama lain.

Pagi hari, Mei dan Yen kembali. Setelah menyelesaikan ronde terakhir persetubuhan pagi itu, kami bertiga bergabung dengan Mei dan Yen menikmati sarapan. Wajah Dewi dan Fenny terlihat sayu karena kurang tidur, tetapi jelas berbinar-binar karena kepuasan yang telah mereka peroleh.

"Kho Ardy," kata Yen. "Benarkan kataku kalau aku ini sahabat sejati. Sesuatu yang indah dan nikmat itu kalau dibagi-bagi akan menjadi lebih indah dan nikmat."

"Betul kata Yen," tambah Mei. "Tapi malam ini milik aku dan Yen, kan?"

"Tentu," sahutku pendek sambil menyeruput kopiku.

"Pokoknya mulai sekarang, kapanpun Mas Ardy mau, kami pasti bersedia," tambah Fenny. "Kecuali kalau lagi menstruasi tentunya. He he he."

"Gimana Dewi?" tanyaku.

"Aku setuju," sahut Dewi. "Sahabat sejati selalu memberikan yang terbaik kepada para sahabatnya. Kami berempat adalah teman-teman lama, kini menjadi berlima bersama Mas Ardy. Orang lain saling membagi harta dan cerita. Kita saling membagi rasa nikmat hubungan kelamin. Kami berempat ini milikmu. Gimana?"

"Setujuu...!" sahut Mei, Yen, dan Fenny.

Aku hanya tersenyum bangga. Mataku menatap langit-langit diiringi derai tawa keempat wanita cantik nan bahenol itu. Ada makna baru persahabatan bagiku sekarang!

Tamat

โ† Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya โ†’