18px

Malam Berempat di Kamar Hotel

Malam Berempat di Kamar Hotel

Berdua kami mengayuh biduk birahi menyeberangi lautan nafsu, lenguh dan desah kenikmatan mengiringi perjalanan kami. Beberapa menit kemudian kami pun telah sampai ke seberang kenikmatan — hanya berselang beberapa detik setelah Dibyo menumpahkan semua cairan birahinya ke rahimku, aku menyusulnya menggapai puncak kenikmatan dari suami sobatku.

Tubuh lemasnya langsung terkulai menindihku. Napas kami menyatu mengiringi denyut jantung yang berdetak kencang, hembusan napasnya menerpa telingaku. Aku kembali terbuai akan kehangatannya meski perlahan gairah kami mulai menurun.

Beberapa saat suasana hening. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya — apakah dia menyesal telah meniduri temannya, ataukah puas telah menikmati tubuhku — hanya dia yang tahu. Bagiku, tugas melayani seorang tamu telah kulaksanakan. Kebetulan dia adalah teman dan suami sobatku; itu adalah di luar kehendak kami masing-masing.

Mungkin karena sama-sama segan, permainan kami biasa-biasa saja, bahkan relatif singkat. Tidak ada pergantian posisi seperti umumnya, baik dari dia maupun dariku sendiri.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi ketika telepon berbunyi. Dengan segan Dibyo menerima — pasti dari temannya di kamar sebelah.

"Hei, kamu yang ke sini atau aku yang ke sana? Si kampret satu itu sudah pulang soalnya," kata suara dari seberang, sayup-sayup kudengar. Aku tidak tahu maksudnya.

"Kali ini nggak bisa, Jon. Kita sendiri-sendiri aja deh," jawabnya.

"Kok kamu gitu sih, mentang-mentang dapat yang si cantik Lily terus nggak mau berbagi. Kawan macam apa itu," terdengar dari seberang dengan nada tinggi. Aku masih tidak tahu maksudnya.

Dibyo diam sejenak, menatapku dalam-dalam seakan hendak mengatakan sesuatu.

"Dia mau ke sini," katanya pelan.

"Emang sudah selesai? Mau check out? Malam-malam begini? Tanggung amat," tanyaku tidak mengerti.

"Enggak, mau pindah bergabung ke sini sama ceweknya."

"Pindah? Bergabung? Terus?" tanyaku semakin tak mengerti.

Dia diam sejenak.

"Terus... ya di sini... ber... berempat," jawabnya terpatah-patah. Kulihat mimik muka bersalah di wajahnya.

"Sorry ya, aku telah membawamu ke situasi seperti ini. Sudah kebiasaan untuk bertukar pasangan atau bersamaan pada akhirnya," lanjutnya sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya, sepertinya untuk menutupi rasa bersalahnya.

Sebenarnya aku tidak keberatan melakukan hal itu, toh sudah sering kulakukan. Tapi ini di depan Dibyo — ada keengganan tersendiri yang menjadi penghalang. Entahlah, perasaan jaga image masih kuat kurasakan. Di samping itu, aku agak kaget mendapati kenyataan bahwa Dibyo yang kukenal cukup pendiam — meski aku cukup yakin sebelumnya dia bukan tipe suami yang setia — ternyata menjalani petualangan seperti ini bersama teman-temannya. Sungguh jauh dari penampilan keseharian yang terkesan kalem.

"Terserah kamu saja, toh kamu bos-nya," jawabku lirih, berusaha memberi kesan terpaksa, takut kalau dia tahu aku sudah sering melakukan permainan seperti ini.

"Ly, kamu boleh menolak, bebas kok. Paling risikonya aku dijauhi teman-teman dan dibilang egois."

"Janganlah kalau sampai ditinggal teman-teman hanya masalah beginian, malu kan," aku menghibur.

"Sebenarnya aku nggak rela kalau kamu harus melayani orang lain, apalagi di hadapanku. Tapi semua terserah kamu deh."

Aku diam sejenak memikirkan kalimat yang "innocent" untuk menjawab iya. Tak tega rasanya mengatakan bahwa selama ini aku pun selalu melayani orang lain — apa bedanya dengan sekarang.

"Okelah kalau itu maumu," jawabku sembari mengambil rokok yang ada di jarinya. Kulihat sorot mata aneh dari matanya.

"Jon, kamu ke sini aja deh," akhirnya dia meminta temannya untuk datang.

Sambil menunggu kedatangan si Josua, aku mandi membersihkan tubuh, terutama vaginaku dari sisa-sisa keringat maupun sperma Dibyo.

Tidak lebih dari sepuluh menit kemudian, teman Dibyo sudah berada di kamar. Ternyata gadis yang datang bersamanya adalah Lenny, bukan Cindy yang tadi bersamanya — rupanya dia telah melakukan pertukaran sebelumnya.

"Len, bukannya dia tadi sama Cindy, kok sekarang sama kamu, sudah tukeran rupanya ya," bisikku ketika aku dan Lenny berada di kamar mandi berdua.

"Gila tuh si Josua, kuat banget. Dan malam ini dia bakal dapat tiga cewek berurutan," bisiknya pelan.

Kami pun tertawa cekikikan di kamar mandi.

Dengan berbalut handuk di dada, aku dan Lenny keluar kamar mandi. Dibyo duduk di sofa sementara Josua sudah telentang di ranjang. Keduanya sudah dalam keadaan telanjang.

Lenny langsung mengambil posisi di antara kaki Dibyo. Aku mau tidak mau harus langsung menuju ranjang melayani Josua. Kejantanan Josua yang sudah tegang memang mengagumkan — meski tidak terlalu panjang, tapi cukup besar diameternya, dengan hiasan otot melingkar yang membuatnya semakin kokoh.

Josua langsung menarik tubuhku dalam pelukannya, dilemparkannya handuk penutup tubuhku, dan tubuh telanjang kami saling berangkulan.

Kubalas lumatan bibirnya dengan tak kalah gairah. Desahanku pun terlepas bebas tatkala bibir dan lidahnya mempermainkan kedua putingku bergantian. Sesaat kulirik Dibyo — dia sudah merem melek menikmati sapuan bibir mungil Lenny pada penisnya, sambil meremas-remas kedua buah dadanya yang sedikit lebih besar dari punyaku. Sudah sering kudengar kemahiran Lenny dalam berorasi; kini kulihat sendiri bagaimana bibirnya menyusuri penis Dibyo dengan bergairah.

Perhatianku kembali beralih ke Josua saat dia membalik tubuhku ke bawahnya. Lidahnya dengan lincah menari-nari di kedua putingku, menyusur turun hingga selangkangan, dan kembali bergerak liar saat mendapati klitorisku. Kombinasi antara jilatan dan kocokan jari-jarinya di vagina membuatku menggeliat dan mendesah dalam nikmat sambil meremas-remas kepala Josua yang berada di selangkanganku.

Tiba-tiba aku dikagetkan teriakan Lenny — rupanya aku terlalu asyik melayang-layang hingga tak memperhatikan bahwa mereka telah berganti posisi. Kepala Dibyo sudah berada di antara paha Lenny dan asyik menjilati vaginanya; ternyata itulah yang membuat Lenny menjerit nikmat.

Meskipun cumbuan oral Josua begitu nikmat, aku banyak membagi perhatian pada Dibyo dan Lenny — sekadar ingin tahu bagaimana permainan Dibyo bila dengan gadis lain, setelah kurasakan sendiri betapa biasa-biasanya permainan kami tadi. Baru sekarang aku tahu bahwa ternyata Dibyo juga seorang great fucker. Dengan telaten dia menyusuri seluruh lekuk tubuh Lenny dengan lidahnya, bahkan hingga jari-jari kaki tak luput dari sapuan lidahnya. Terang saja hal itu membuat Lenny kelojotan tak karuan. Andai saja dia tadi melakukannya padaku. Beruntunglah Wenny bisa mendapatkan cumbuan seperti itu setiap saat.

Perhatianku terganggu saat tubuh Josua sudah mengangkang di atas dadaku, menyodorkan kejantanannya ke mukaku. Segera kuraih, kukocok sejenak dengan tanganku, lalu kujilati kepala penisnya — terasa asin akan cairan yang sudah menetes keluar. Beberapa detik kemudian penis Josua sudah lancar mengisi mulutku, keluar masuk mengocoknya.

Puas mengocokkan penisnya ke mulutku, Josua bergeser ke bawah dan mengatur posisinya di antara kakiku. Aku membuka lebih lebar saat kepala penisnya menyapu bibir vagina dan perlahan menyeruak membelah celah-celah sempit liang kenikmatanku. Perlahan tapi pasti penis itu melesak semakin dalam, namun gerakan penetrasi terganggu ketika Dibyo dan Lenny berpindah ke ranjang di samping kami sehingga mengharuskan kami sedikit bergeser memberi tempat. Terpaksa Josua menarik keluar penisnya yang sudah setengah jalan menyusuri liang kenikmatanku.

Aku dan Lenny telentang berdampingan dengan kedua laki-laki sudah siap di antara selangkangan kami masing-masing. Namun sebelum Josua melesakkan kembali penisnya, Dibyo bergeser ke kepalaku dan menyodorkan penisnya tepat di atas mulutku. Segera kuraih dan kumasukkan ke mulutku — hal yang tadi tidak kami lakukan — bersamaan dengan penis Josua yang mulai meluncur masuk ke liang vaginaku. Sesaat kuhentikan kulumanku ketika Josua sudah melesakkan seluruh batang kejantanannya. Terasa penuh dibandingkan dengan Dibyo sebelumnya. Aku pun melanjutkan kulumanku pada Dibyo ketika Josua memulai kocokannya. Hanya beberapa menit Dibyo mengocok mulutku kemudian beralih ke mulut Lenny — rupanya dia hendak membandingkan antara kulumanku dengan Lenny.

Tubuh Josua sudah menindihku. Sodokan penisnya semakin cepat dan keras, penuh nafsu gairah. Aku pun mengimbangi dengan jeritan dan desahan nikmat sembari menjepitkan kakiku di pinggangnya. Bibir Josua tidak pernah lepas dari tubuhku, menyusur leher, pipi, bibir, lalu kembali ke leher.

Kulihat Dibyo masih mengocok bibir Lenny sambil memperhatikan ekspresi kenikmatan yang terpancar di wajahku — ekspresi yang tidak aku tunjukkan saat bersamanya, dan aku yakin dia menyadari itu. Sesekali jari tangannya dimasukkan ke mulutku yang tengah menengadah mendesah, dan aku pun membalas dengan kuluman sambil mempermainkan lidahku pada jari-jarinya.

Berulang kali tubuhku terhentak, terkaget tapi nikmat merasakan hentakan keras dari Josua. Kudekap tubuhnya semakin rapat, seakan tubuh telanjang kami menyatu dalam nikmatnya birahi.

Josua mengangkat tubuhnya, masih tetap mengocokku dengan tubuh setengah jongkok. Justru kurasakan penisnya semakin dalam tertanam. Bersamaan dengan itu, Dibyo sudah berada di antara kaki Lenny dan bersiap melesakkan penisnya, tapi dia tidak langsung memasukkannya. Dia justru lebih suka melihat wajahku yang tengah mendesah sambil mengamati bagaimana penis temannya keluar masuk menyodok vagina sobat istrinya ini.

Bersambung....

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya