Malam Bersama Enam Gadis
Malam Bersama Enam Gadis
Sebagai gambaran, "piston" Edi termasuk tipe Short Stroke, dengan diameter piston cukup besar 50 mm, tetapi connecting-rod atau batang penisnya pendek sekitar 100 mm, diameter conrod-nya sekitar 40 mm. Dengan demikian kepala piston dan batangnya ada selisih 10 mm dibagi dua atas bawah, sehingga parit di kepalanya ada jarak 5 mm โ persis seperti dandang untuk masak nasi zaman dulu. Sudah begitu, warnanya hitam lagi dan habis dibotaki, jadi rambut kemaluannya tumbuh agak kasar. Siapa bilang wanita tidak suka rambut yang kasar? Dengan kemaluan yang pendek, mestinya dia akan berusaha memompa pistonnya dengan dorongan dan putaran tinggi, karena sifat dari Short Stroke memang untuk putaran tinggi. Kalau tidak, tenaga dan kenikmatan yang dihasilkan akan kurang efektif.
Via mengangkangi piston Edi sambil memegangnya, menghadap ke arah Edi, lalu mulai memasukkannya ke cylinder liner-nya. Karena sudah ada pelumasan awal, masuk juga โ tetapi tetap saja kulihat Via menggigit bibir bawahnya. Entah enak, entah sakit, atau keduanya, aku tidak tahu. Saat Via mengangkat pantat, labia minornya monyong ke bawah; saat pantatnya turun, labia minornya "tenggelam" ikut tertusuk. Kuperhatikan wajah Edi biasa-biasa saja. Pantas dia pesan enam โ kalau satu orang saja bisa lecet-lecet tuh cylinder liner-nya.
Mira telah turun dari wajah Edi, tetapi yang lain tetap pada posisinya, kecuali Eva. Eva dan Mira saling merangsang sambil mengeluarkan desah-desah kecil di sisi samping tempat tidur dekat tembok. Tidak berapa lama, posisi Via digantikan Mira โ mungkin Edi kasihan juga melihat usaha Via yang mengangkat pantatnya makin lama semakin rendah. Selain itu kemungkinan Via kelelahan menahan nikmat sekaligus mengangkat pantat, habis kegedean piston sih.
"Mas, pakai karet ya," rayu Mira.
"Ya, deh," jawab Edi.
Kemudian dipakaikanlah karet oleh Mira. Kali ini Mira memasukkan piston dengan membelakangi Edi, dan tidak lama terdengar suara lenguhan yang cukup keras โ kalau ada tamu di sekitar kamar pasti mendengar, tapi masih terlalu pagi untuk ramai. Semakin lama pompaan semakin cepat, terkadang naik-turunnya lambat tapi putarannya memutar searah jarum jam, kadang berlawanan. Saat akan memulai periode cepat dan posisi diangkat, "plup!" โ kemaluan Edi terlepas dari vagina Mira tanpa sarung! Nah, lho?
Nampaknya vagina Mira agak kering dan masih sempit, sehingga menahan laju karet. Di sisi lain, bagian dalam karet ada sedikit pelumas yang cukup licin, sehingga karet menempel di dalam kemaluan Mira. Edi masih terus mencoba memompa โ yah, tambah masuk deh karet itu. Dia tidak tahu kalau karet sudah terlepas. Padahal diameternya 50 mm itu besar, kok bisa lepas sarungnya.
"Sudah, Mas, karetnya terlepas," kata Mira sambil berdiri. Ia memasukkan telunjuk serta jari tengahnya untuk menjepit karet yang tertinggal di dalam vaginanya, lalu turun dari tempat tidur.
Ellis mengambil inisiatif menggantikan posisi Mira. Ia menciumi puting Edi, lalu bergerak ke leher, sambil menggesekkan putingnya sendiri ke dada Edi, dikombinasikan dengan menggesekkan klitorisnya ke kemaluan Edi โ diulang berkali-kali. Tanpa terasa, piston Edi masuk sendiri (kemungkinan Ellis sudah basah). Ellis mengubah posisi dengan menduduki kemaluan Edi, tidak bergerak naik-turun seperti Via atau Mira, melainkan menekan dan kadang maju-mundur, kadang memutar โ seperti orang sedang nguleg. Klitorisnya terarah ke bulu kemaluan bagian atas Edi yang baru tumbuh, persis bertemu klitorisnya yang memerah. Ia mengeluarkan lenguhan kecil sambil memutar sendiri putingnya. Cukup lama juga.
Gila, Edi belum juga keluar. Tidak lama, Ellis menyerah โ bukan karena tidak kuat, tetapi lendirnya sudah cukup banyak tanpa busa karena gesekannya tidak banyak, mengalir melalui otot-otot kemaluan Edi hingga tertahan di rambut baru yang tumbuh di sekitar bijinya. Posisinya kemudian digantikan Eva.
"Mas, di atas ya," rayu Eva.
"Boleh, tapi kamu nungging," pinta Edi.
Eva langsung nungging. Sambil menjilat telunjuk dan jari tengahnya sendiri, Eva melumasi vaginanya โ khawatir seret, padahal dari tadi dia paling serius menonton orang disetubuhi. Tidak lama, kemaluan Edi masuk juga. Dengan gaya 66 โ Edi ikut nungging juga โ setiap selesai mendorong pantat Eva, "biji" Edi yang tergantung memukul klitorisnya, begitu terus-menerus. Mungkin Eva memberi ludah terlalu banyak, atau pompaan cukup cepat, dan...
"Brot, brot, brot..." โ suara angin yang keluar dari vagina Eva cukup keras dan berulang-ulang. Para gadis cekikikan.
Cukup lama Edi dengan Eva hingga Eva tidak sanggup nungging lagi. Akhirnya gaya 11 alias telungkup berdua.
"Sudah, Mas, aku menyerah, gantian ya!" rayu Eva.
Edi berguling ke samping. Eva berusaha bangun dan duduk; saat mau turun dari tempat tidur dia mengangkang. Kulihat lendir busa di sekitar kemaluannya โ persis seperti oli tercampur air radiator. Bentuk labia minornya tidak menutup alias ngablak, seperti valve seat yang habis diskir, dan lorong vaginanya tampak gelap. Gila, tidak bisa menutup.
Kini giliran Ine, yang langsung berbaring mengangkang lebar hingga "bibirnya" otomatis merekah. Ine tidak memberi ludah โ dia yakin vaginanya sudah cukup basah. Edi langsung memasukkan dan memompa, kemudian meletakkan kaki Ine ke pundaknya dan melanjutkan pompaan. Indah yang belum mendapat bagian, gatal juga rupanya โ ia menjilati biji Edi yang sedang naik-turun. "Plup..." kemaluan Edi terlepas. Segera disambar Indah, dihisap serta dijilati lubang kemaluan Edi, lalu dimasukkan kembali ke vagina Ine. Pompaan dilanjutkan lagi. Cukup lama Edi menggunakan gaya ini; Ine dari tadi selalu memejamkan mata, mungkin efek bulu kemaluan yang baru tumbuh tergosok ke arah klitorisnya.
"Sudah, Mas, capek," keluh Ine. Edi segera mencabut kemaluannya.
"Hah, haus, minum dulu ah. Eh, Mbak-Mbak, minum airnya!" kata Edi.
"Indah, aku capek banget, aku di bawah saja ya?" pinta Edi, sambil berbaring terlentang dengan bantal diganjal di kepalanya.
"Iya, deh," jawab Indah.
Indah segera naik ke tempat tidur dan mengangkang membelakangi Edi. Terdengar suara "plak-plak-plak" โ benturan pantat Indah dan pangkal paha Edi. Nampak Indah sangat bersemangat, pompaan cepatnya seperti piston BMW-nya Montoya. Aku jadi penasaran ingin lihat dari arah wajah Edi, karena dari tadi aku melihat dari samping. Tampak saat Indah bergerak ke arah kaki Edi, lubang anusnya menciut โ mungkin dia melakukan penghisapan saat menarik, seperti orang menahan kencing, sehingga piston Edi serasa diurut. Tapi saat dia menjatuhkan pantatnya kembali, lubang anusnya mekar seperti rubber seal O-ring, dia mengedan untuk membesarkan lubang vaginanya agar masuk lebih lancar. Makin lama semakin banyak busa putih di sekitar labia minor.
"Ndah, ganti posisi biar aku yang di atas, sudah agak kuat lagi nih," kata Edi.
Tanpa melepas kemaluannya, Edi membalik tubuh Indah dan memompa semakin cepat. Akhirnya...
"Huegh, hah hah..." โ ia ambruk di atas tubuh Indah. Berisik juga si Edi kalau sedang orgasme. Tanpa mencabut kemaluannya dari vagina, tidak berapa lama piston Edi mengecil dan keluar dengan sendirinya โ diikuti lendir putih yang mengalir dari vagina Indah.
Rupanya selagi asyik menonton Edi, beberapa gadis sudah membersihkan diri dan mandi. Sekarang giliran Indah menyusul.
"Bud, lu nggak ngewe?" tanya Edi. Orang ini mulutnya sudah lebih kotor dari tempat sampah, mungkin.
"Nggak, ah. Cukup melihat lu saja!" jawabku. "Tapi ngomong-ngomong, kok lu bisa keluar sama Indah? Yang lain apa nggak bisa bikin KO?"
"Wah, complicated, Bud. Gua lihat lubang pantatnya nafsuin banget, sudah gitu dia pakai jurus jepit, dan yang terakhir obat kuat yang aku pakai sudah overtime," jawabnya.
"Oh, pantesan lu pakai doping," jawabku.
Edi langsung ke kamar mandi, memakai pakaian lagi, lalu membayar 200 dolar per orang โ ke kasir memberi 100 dolar, kembaliannya diberikan ke resepsionis.
Saat di mobil:
"Ed, lu suka ya dengan menggunakan banyak gadis?" tanyaku.
"Bukan gitu. Gua terlanjur makan obat yang sebetulnya efeknya gua harap baru terasa saat sampai di rumah, ternyata kepulanganku dibatalkan. Tapi tuh obat sudah keburu ketelan. Setahuku obat itu bikin tegang cukup lama, kalau gua pakai satu gadis, kan kasihan. Dan kalau gua pakai satu gadis yang harganya mahal, cenderung banyak keluhan capeknya โ biasa, lu kan tahu, cewek kalau cantik banyak tingkahnya, mahal dan nggak mau capek," katanya, persis seperti guru ilmu bahan.
"Nama lu Edi, harusnya Ejakulasi Dini โ kemungkinan besar sebenarnya lu ejakulasi dini kalau nggak pakai doping, dugaanku. Lu sih kelamaan! Harusnya nama lu Lie Cheng Sui alias Peli Ngaceng Sui. Sorry, aku nggak mojokin yang namanya sama seperti itu. Sampai ada yang lepas karetnya..." kataku. Dia tersenyum.
"Sorry, Ed," aku bertanya lagi karena dia sudah mulai menguap. "Lha kalau lu minum untuk enam gadis, kalau sampai di rumah, apa sanggup istrimu?"
"Sorry, no comment. Rahasia rumah tangga gua itu. Tapi lu bisa ambil kesimpulan sendiri!" jawabnya.
Sambil nyetir, aku membayangkan istrinya โ yang sedang-sedang saja menurutku, postur 35-60-165, ukuran 34B, tapi agak cerewet. Masak istrinya maniak? Ya sudahlah. Bodo amat, amat saja tidak memikirkan aku.
TAMAT