Malam Bersama Juliet
Malam Bersama Juliet
Hai, aku mau cerita tentang hubunganku dengan seorang cewek cantik. Kisah ini terjadi di kota XX, tempat aku bekerja di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di sana.
Kamis malam aku kebetulan pulang dari proyek. Dalam perjalanan aku melewati sebuah rumah sakit dan secara tidak sengaja melihat dari kejauhan seorang gadis berambut panjang mengenakan jas ketat putih dan span putih pendek. Cantik sekali dia. Ketika dia berdiri menunggu taksi, aku mendekatinya dan menghentikan mobilku di depannya.
"Permisi, Mbak... bisa mengganggu sebentar?" kataku sambil memperhatikan wajahnya yang cantik bak bidadari.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" katanya dengan suara yang merdu.
Dia menyambutku dengan senyum manis walaupun sempat melirik jam di tangannya.
Setelan bajunya sungguh menarik — rupanya ia memadukan rok bawahan seragam perawatnya dengan blazer ketat putih, sampai belahan dadanya tampak menonjol saking ketatnya. Sepatunya sudah diganti sepatu hak tinggi. Kasihan juga cewek cantik ini menunggu kedinginan di tengah udara musim hujan. Di leher jenjangnya terbelit syal bulu warna hitam, namun tidak menutupi belahan payudaranya yang terdesak ketatnya blazer — mulusnya.
Aku turun dari mobil.
"Permisi Mbak, saya mau tanya... kalau mau ke Jalan Sonken arahnya ke mana ya?" kataku.
"Ooo, Mas lurus aja, terus kalau ada perempatan belok kanan, lalu belok kiri, terus kanan, terus kiri lagi..." jawabnya, membingungkan.
"Eee, saya tambah bingung. Gimana kalau Mbak mengantar saya ke alamat ini dan sebagai gantinya saya antar Mbak pulang ke rumah?" kataku.
"Aduh, gimana ya, saya sebenarnya mau ke rumah sakit..." jawabnya agak takut.
"Jangan takut Mbak, saya orang baik-baik kok. Nanti saya antar Mbak."
"Ya deh." jawabnya.
"Nah, gitu dong. Mari silakan." kataku sambil membukakan pintu mobil.
Akhirnya kami langsung mencari jalan yang kutanyakan tadi — padahal itu rumahku sendiri.
"Kalau boleh tahu, nama Mbak siapa?" tanyaku.
"Juliet, Mas," katanya singkat sambil menutupi bagian pahanya yang dari tadi membuat juniorku berdiri.
"Saya Sony, Mbak. Kok malam-malam ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Tidak ada, Mas. Juliet kerja di rumah sakit." jawabnya.
"Ooo, jadi Mbak seorang perawat. Wah, Sony tidak menyangka — habisnya Mbak kelihatan seperti artis Tamara Gerandong sih," kataku bercanda.
"Ahh, Mas Sony bisa aja..." jawabnya manja sambil mencubit lenganku.
Nih cewek sudah berani nyubit tanganku.
"Mbak Juliet masih sendiri atau sudah menikah?" tanyaku.
Dia diam seribu bahasa.
"Lho, kenapa Mbak kok diam? Apa pertanyaan Sony menyinggung perasaan Mbak? Kalau begitu nggak usah dijawab deh."
"Nggak kok, nggak apa-apa. Sebetulnya Juliet sudah menikah tapi kami harus berpisah gara-gara suami selingkuh dengan cewek lain..." katanya sambil meneteskan air mata.
"Maaf ya Mbak, Sony telah mengungkit masalah pribadi Mbak."
"Nggak apa-apa. Eee, omong-omong umur Mas Sony berapa sih?"
"Sudah tua, Mbak. 24 tahun 12 bulan 1 hari 1 jam 30 menit 20 detik." kataku.
"Idih, Mas Sony masih tergolong 'brondong' dong. Kalau Mbak udah kepala tiga lebih sedikit. Sudah tua, Son."
"Tapi Mbak masih cantik dan seksi lho." kataku memuji.
"Ahh, Mbak udah merasa tua kok, Son."
"Tapi Sony lihat Mbak masih montok lho — dan sorry ya Mbak." kataku menggoda.
"Ihh, kamu nakal ya." katanya sambil mencubit pahaku.
Tadi nyubit tangan, sekarang paha. Ada peningkatan.
"Sony sudah punya pacar belum? Pasti sudah, kamu kan cakep." katanya manja.
"Sony belum punya pacar, Mbak. Sony masih perjaka lho."
"Apa! Masih perjaka? Ahh, yang bener. Masak sih?" katanya.
"Bener, Mbak. Swear deh. Emang kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuman Mbak nggak percaya kalau cowok seganteng kamu masih belum punya pacar dan hebatnya masih perjaka lagi. Mbak jadi curiga nih."
"Curiga apaan, Mbak? Sony cowok normal kok. Kalau Mbak nggak percaya boleh ditest."
"Baik. Nanti kalau sudah nyampe ya!"
Dia mau ML samaku. Ada kemajuan.
Setelah sampai, "Son, Mbak pingin kencing nih! Di mana WC-nya?" tanyanya.
"Sama Sony aja Mbak, sekalian ngetes. Ok?"
"Ya deh, adik ganteng." katanya manja.
Sesampai di WC, Mbak Juliet melepaskan celana dalamnya lalu duduk kencing di kloset. Sementara itu saya mengeluarkan si Junior dan kencing di sebelahnya.
"Wow, punyamu boleh juga, Son." katanya sambil melihat kemaluanku.
Setelah kencing cukup banyak, penisku kucuci pakai air semprotan. Ternyata karena melihat paha mulus Mbak Juliet, airnya mengenai celanaku. Tanpa kusadari Mbak Juliet lalu mengambil tisu toilet dan jongkok membersihkan celana basahku. Sementara itu si Junior masih keluar dengan gagah, sekalian dikeringkan oleh tangan Mbak Juliet yang cekatan.
Terkena jemari mulus yang dingin itu, si Junior langsung siaga. Melihat itu, Mbak Juliet tersenyum dan melirik ke arahku, lalu penisku yang mekar langsung saja dikulumnya. Terkena perubahan suhu begitu, si Junior langsung siap tempur. Mulut Mbak Juliet terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung keseluruhannya, tapi lama-lama mulutnya dapat menampung setengahnya.
Mungkin karena melihat si Junior yang tegap dan gagah, Mbak Juliet jadi sangat bernafsu. Lidahnya semangat sekali mengitari Juniorku sambil sesekali menggigit kantongku yang sudah mengeras. Sekali-kali disedotnya ujung penisku lalu ditarik mulutnya sehingga berbunyi. Mulut mungil indahnya bagai vacuum cleaner menyedot si Junior. Jemari halusnya menyelinap di antara celah pantatku dan sesekali menggenggam si Junior yang mulai berontak kena siksaan. Sementara itu aku yang memang terasa nikmat hanya dapat mengelus-elus kepala dan mencengkeram rambut Mbak Juliet.
"Ahh, Mbak, enak. Yahh!" Mendengar rintihanku dia tetap memasukkan Juniorku ke dalam mulutnya.
"Oohh, terus Mbak!" pintaku.
Sementara itu kepalanya menghisap Juniorku sampai aku merasakan kejang dan penisku berdenyut-denyut sangat hebat.
"Oohh... Ohh... Sony hampir keluar Mbak. Ohh!" erangku.
Semakin ganas kepalanya maju-mundur, semakin dipercepat kocokan dan sedotannya. Dan Juniorku pun memuntahkan isinya di dalam mulut Mbak Juliet — dengan bernafsu ditelannya, sisanya dijilatnya sampai bersih.
"Makasih ya Mbak." kataku.
"Sama-sama, Son. Tapi Mbak masih belum yakin kamu bisa ngalahin Mbak." katanya dengan lembut.
"Jadi ceritanya Sony mau dites lagi nih?" tanyaku.
"Ya ya ya. Dan sekarang kita mandi dulu biar segar, terus kita ulangi lagi nanti ya di kamar." katanya.
Aku masih mengenakan handuk yang dililitkan ketika Mbak Juliet datang membawa segelas kopi susu hangat yang dibuatnya di dapurku.
"Son, minum dulu ya Sayang, biar tambah segar." katanya sambil menyodorkannya padaku.
Aku seruput kopi susu hangat itu dan, "Aahh, enak sekali minuman bikinan Mbak. Wow, pas susunya." kataku menggodanya.
"Idih, kamu nakal deh!" katanya sambil melompat ke arahku.
Kami berciuman kembali. Mbak Juliet tampak sangat menikmatinya — matanya terpejam, napasnya mendesah, bibirnya dengan lembut mengecup sambil sesekali menghisap bibir dan lidahku. Jari lentik Mbak Juliet mulai bergerak turun, menyusup ke balik handukku menuju buah pantatku. Sementara penisku yang hanya ditutupi handuk kecil itu segera berdiri tegang. Bagian bawah kepala Juniorku langsung tergencet oleh perut Mbak Juliet yang menyalurkan getaran-getaran kenikmatan ke seluruh urat syarafku.
Jari-jarinya mulai meraba kedua buah pantatku — mula-mula rabaannya melingkar perlahan, tapi makin cepat, sampai akhirnya dengan suara mendesah diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Aku mencium dan menjilati telinga dan leher Mbak Juliet, membuat tubuh janda cantik dan semok itu menggelinjang-gelinjang.
"Ohh, Son, geli ahh!"
Kuturunkan bibirku dari kuping, menelusuri leher, terus turun ke dada. Jari-jarinya pun terasa semakin keras meremas-remas pantatku. Seraya mengecupi areal dadanya, jariku membuka satu persatu kancing pakaiannya hingga terlihat belahan dadanya yang besar. Payudara itu menyembul dari balik baju mandinya, bentuknya menghadap ke atas dengan puting yang langsung mengarah ke wajahku. Seksi habis. Tanpa membuang waktu, kulahap payudara itu dengan gemas, kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang sudah menegang.
Tiba-tiba tangan kanan Mbak Juliet berputar ke arah depan. Dengan sekali sentak terjatuhlah penutup satu-satunya tubuhku. Kulirik cermin lemari — di sana terlihat badan tegapku yang bugil tengah menunduk menghisap buah dada wanita berbadan montok yang masih dibalut baju mandinya. Dari kaca riasnya kulihat Mbak Juliet mengalihkan tangan kanannya ke arah selangkanganku dan dalam sekejap Juniorku sudah berada dalam genggamannya.
Dengan lembut dan penuh perasaan, ia mulai mengocok Juniorku ke atas ke bawah. Sesekali ia menghentikan kocokannya dan mengarahkan jempolnya ke urat yang terletak di bawah kepala si Junior.
"Aahh, Mbaak. Aahh!" Aku hanya dapat mengerang keenakan seraya terus mengecup dan menjilati payudaranya.
Tiba-tiba Mbak Juliet mendorong tubuhku hingga terduduk di atas ranjang dan ia sendiri kemudian berlutut di hadapan selangkanganku. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap mataku dengan pandangan penuh nafsu. Bersamaan dengan itu, ia menciumi kepala si Junior, kemudian menjilati lubang penisku yang sudah dipenuhi cairan lengket berwarna bening.
Tiba-tiba ia memasukkan otongku ke dalam mulutnya dan aku merasakan kenikmatan yang tak terlukiskan. Mbak Juliet memasukkan dan mengeluarkan otongku di dalam mulutnya dengan gerakan cepat sambil menggoyang-goyangkan lidahnya sehingga menggesek urat bawah kepala otongku.
"Aahh, ouuhh, Mbak. Uuhh!" erangku.
Aku hanya dapat terduduk sambil mengerang nikmat dan Mbak Juliet tampak begitu menikmati si Junior yang berada di dalam mulutnya sampai-sampai ia memejamkan matanya. Tangan kiriku kembali meremas-remas buah dada Mbak Juliet, sedangkan tangan kananku menyentuh bagian bawah buah pantatnya.
"Mmh, mmh, emhh!" rintihnya sambil terus mengulum si Junior ketika kuraba-raba vaginanya.
Mbak Juliet semakin memperkuat sedotannya sehingga memaksaku semakin mengerang tidak karuan.
Seakan tidak mau kalah, kumasukkan tanganku ke selangkangannya dari arah perut dan dengan mudah jariku mencapai liang senggamanya yang sudah sangat basah. Dalam 2, 3, 4 detik jariku menyentuh sebuah daging sebesar kacang yang sudah menonjol keluar di bagian atas kemaluan Mbak Juliet. Jari tengah dan telunjukku segera mengocok kacangnya Mbak Juliet dengan cepat.
"Mmhh, mmhh, ahh..." Mbak Juliet melepaskan Juniorku dari mulutnya untuk berteriak histeris menikmati kocokanku di klitnya.
Bersambung...