18px

Bab 1

Malam Bersama Mbak Nin

Perkenalkan, namaku Rangga (bukan nama sebenarnya). Kali ini aku mencoba menceritakan pengalamanku bersama Mbak Nin yang sangat mengesankan bagiku.

Pesta pernikahan kakak sepupuku, Mas Bud, dapat dikatakan sangat meriah dan mewah. Dia memang sangat beruntung; perawakannya yang oversize dengan perut mirip gentong tidak menghalanginya untuk menikahi Mbak Nin, seorang wanita yang sangat cantik dengan tubuh yang sangat aduhai. Aku pun heran, kenapa wanita secantik Mbak Nin yang memiliki tubuh langsing dengan tinggi 170 cm itu mau menikahi Mas Bud. Apa mungkin karena kekayaannya? Tapi masa bodohlah, yang pasti mataku selalu tidak bisa lepas dari Mbak Nin, dan otakku sibuk memikirkan sesuatu yang sangat nakal.

Seperti biasa, setiap dua bulan sekali diadakan pertemuan keluarga. Karena keluarga kami cukup besar, setiap pertemuan aku selalu berusaha mencuri pandang. Kecantikan dan kemolekan tubuh Mbak Nin yang sempurna itu memang membuatku jatuh cinta dan sangat bernafsu. Ingin rasanya memeluk, mencium, dan bercinta dengannya. Tapi sayang, pertemuan keluarga yang hanya sehari semalam itu terasa terlalu singkat. Aku tidak pernah puas mengkhayalkan Mbak Nin.

Setelah empat belas kali pertemuan keluarga—sekitar dua tahun setelah pernikahan Mas Bud dan Mbak Nin—aku pun mulai kuliah di Jakarta. Karena rumahku di Bandung, aku terpaksa harus mencari tempat kos. Namun Mas Bud melarangku dan menyuruhku tinggal di rumah besarnya. Aku diminta menjaga rumah selama kepergiannya ke Belanda, kira-kira dua bulan. "Sekalian menemani Mbak Nin," begitu katanya.

Aku jelas bersedia; selain menghemat uang kos, aku bisa selalu melihat keindahan Mbak Nin. Satu minggu berlalu sejak kepergian Mas Bud. Aku sibuk di kampus dengan berbagai kegiatan, berusaha menyibukkan diri agar pikiran kotor mengenai Mbak Nin dapat kutepis. Aku tidak mau mengkhianati Mas Bud. Jam tujuh malam tepat aku sampai di rumah Mas Bud, yang kini hanya dihuni oleh satu orang pembantu rumah tangga, satu orang satpam, aku, dan Mbak Nin.

Kulihat Mbak Nin belum pulang. Aku pun membersihkan diri, lalu bersantai di kursi sofa sambil mendengarkan musik klasik dari Beethoven. Dolby Digital Surround Sound System super DTC yang ada di ruangan tengah itu membuaiku dan aku pun terlelap. Entah berapa lama aku tertidur di kursi sofa sampai kemudian aku terbangun oleh dering telepon dari mesin faksimile di kantor pribadi Mas Bud.

Aku terkejut, terbangun dan bermaksud menuju ke arah suara telepon tersebut. Belum sempat aku beranjak dari kursi sofa, aku melihat suatu pemandangan yang sangat mengejutkan. Pintu kamar Mbak Nin terbuka, dan keluarlah Mbak Nin dengan rambut basah, hanya terbungkus handuk, berlari menuju ruang kerja Mas Bud. Dari ruang santai aku bisa melihat jelas ke arah ruang kerja itu. Mbak Nin sedang berbicara dengan seseorang di telepon.

Handuk itu membungkus tubuh Mbak Nin dari dada hingga batas pantat dan pahanya. Hatiku berdebar sangat keras melihat itu semua. Terlihat betapa sintalnya tubuh Mbak Nin. Walaupun terbungkus handuk, bentuk pinggul dan pantatnya dapat terlihat jelas. Jantungku semakin tidak karuan ketika Mbak Nin mengambil sebuah buku dari lemari atas, membuat handuk itu semakin terangkat.

"Oh, My God!" Ternyata Mbak Nin tidak memakai celana dalam. Terlihat belahan pantatnya yang sangat bulat, padat, putih, dan mulus tak bercacat. Mbak Nin membalikkan tubuhnya; aku terkejut dan tetap pura-pura tertidur. Mbak Nin kemudian duduk di atas meja kerja Mas Bud dan membaca buku yang baru saja diambilnya. Hal ini membuatku semakin gila.

Kali ini Mbak Nin menyilangkan kakinya yang ramping agak tinggi sehingga handuknya makin naik ke atas. Benar-benar pemandangan yang sangat indah. Pahanya yang putih mulus serta padat berisi membuat jantungku serasa mau copot. "Pletak...!" Tak sengaja kakiku menyenggol vas bunga di atas meja di depan kursi sofa tempat aku berbaring.

Aku kaget setengah mati, takut ketahuan Mbak Nin. Untung aku tidak kehabisan akal; aku bangun dan membenarkan posisi vas bunga tadi sambil terus berpura-pura tidak menyadari keberadaan Mbak Nin. "Apaan tuh?" tanyanya, yang kemudian aku jawab singkat. "Eh, ini Mbak, vas bunganya jatuh." "Rangga, kesini deh sebentar!" Aku kaget setengah mati, Mbak Nin memanggilku.

Aku berjalan dengan pura-pura sempoyongan karena masih mengantuk, menuju ruang kerja Mas Bud. Kulihat dari dekat Mbak Nin dengan posisi yang masih sama, memandangiku. Perpaduan betis indah dengan paha yang putih, mulus, dan padat berisi itu semakin jelas.

"Duduk sini!" perintahnya sambil menunjuk kursi yang berada tepat di depan meja tempat Mbak Nin duduk. Aku menurut tanpa sepatah kata pun. Setelah aku duduk di depannya, Mbak Nin mengangkat kaki kanannya dan meletakkan telapak kakinya tepat di antara pahaku. Aku hanya terdiam dengan jantung yang semakin kencang. Entah apa maksud Mbak Nin.

"Nih, lihat... tadi pagi aku kesandung, dan jari kelingkingku sedikit memar," katanya sambil aku tak henti menatap kakinya yang indah dan bersih itu. Jari-jarinya mungil dan putih, sangat indah dipandang dan dipegang. "Mau nggak pijitin kaki Mbak?" Aku pun langsung meraih betis yang indah itu.

Mbak Nin mengangkat kaki kanannya dari pangkuan kaki kirinya. Aku tak menyadari gerakan itu karena pikiran dan mataku saat itu terfokus pada sesuatu di antara kedua belah paha Mbak Nin. Aku terkejut; telapak kaki kiri Mbak Nin tiba-tiba membelai dan memutari daerah kemaluanku yang masih tegang dan terbungkus celana jeansku. Aku memandangi Mbak Nin dan... "Jangan kaget, Mbak tahu kok, dari dulu kamu selalu memperhatikan Mbak terus kan?" katanya.

Aku heran dari mana Mbak Nin tahu bahwa aku memang selalu mengagumi keindahannya. "Mbak Nin juga selalu memperhatikan kamu, cuma kamu aja yang nggak pernah sadar," katanya lagi. "Kamu sayang Mbak Nin nggak?" tanyanya. "S-sayang... Mb-Mbak!" jawabku terbata-bata. "Mbak Nin juga sayang kamu." "Bener deh!" "Kalau kamu sayang Mbak Nin, kamu tolongin Mbak Nin, mau kan?" tanyanya.

"Mau Mbak, tolong apaan?" tanyaku lagi. "Cium betis Mbak Nin dong, sayang!" Baru kali ini Mbak Nin memanggilku sayang; biasanya ia hanya memanggil namaku. Tanpa satu pertanyaan pun aku ciumi betisnya yang putih dan indah itu. Aku tidak hanya menciumi, sesekali aku menjilati betis itu.

Makin lama makin ke atas, sampai ke pahanya. Mbak Nin menggelinjang hebat, desahannya membuatku semakin buas. "Ah, sayang... terus, sayang... enak!" Aku menjadi semakin nekat, makin lama makin ke atas, dan kemudian bibirku tak henti menciumi paha Mbak Nin. "Cium aku, sayang!" Tiba-tiba Mbak Nin menghentikan gerakanku.

Dengan kedua tangannya Mbak Nin menarik kepalaku dan membimbingku untuk mencium kedua bibirnya yang sangat tipis dan berwarna merah muda. Kami berdua akhirnya saling berciuman. Sesekali lidahku masuk ke mulutnya dan begitu pula sebaliknya. Lidah kami saling bermain di dalam mulut.

Aku dapat merasakan kedua tangan Mbak Nin berusaha membuka ikat pinggang kulitku. Aku terdiam saja sampai akhirnya Mbak Nin menyelipkan tangannya ke balik celanaku dan meraih batang kemaluanku. Aku terus menciuminya sambil mencari ikatan handuk Mbak Nin. "Mbak, aku lepas handuknya ya?" kataku.

Mbak Nin hanya menganggukkan kepalanya sambil terus memandangiku. Tak lama kemudian kulihat Mbak Nin sudah telanjang bulat di depanku, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang langsing, putih, mulus, dan padat itu. Terlihat jelas olehku kedua bukit kembarnya. Besarnya tidak seberapa, tetapi memiliki bentuk yang sangat indah—kencang, padat, keras, dengan puting yang sedikit mencuat ke atas.

Aku tak sabar; mulutku langsung mendarat tepat di puting susunya. Saat itu aku lakukan segala sesuatu yang bisa mulutku lakukan: menjilati, menciumi, dan menghisap, kulakukan itu secara bergantian antara yang kiri dan kanan. Aku benar-benar asyik dengan kesibukanku saat itu. "Ah, sayang... terus, sayang... oh." Aku menjelajahi seluruh tubuh bagian atasnya.

Dari kedua bukit kembarnya, aku beralih ke ketiaknya. Aku angkat kedua tangannya. Ketiaknya yang tanpa bulu dan beraroma wangi itu aku jilati dengan ujung lidahku. Mbak Nin menjepit kepalaku. "Ah, jangan di situ dong, aku nggak kuat, geli!" Akupun beralih ke perutnya. Tak sedikit pun lemak yang aku temukan di perutnya.

Sambil menciumi dan menjilati perutnya, aku penasaran apakah ada sedikit saja lemak yang bertengger di sana. Aku memutar ke pinggangnya. "Ah, sayang, ternyata kamu nakal!" Mbak Nin mulai meracau. Aku terus memutari bagian perutnya yang ternyata tak ada lemak sama sekali. "Hebat... a perfect woman," pikirku. Tak ada cacatnya sama sekali tubuh wanita ini—putih, mulus, padat, bersih, tak berlemak, dan kencang. Aku terus menikmati menjilati tubuhnya.

"Buka celana kamu, sayang!" Mbak Nin menyuruhku; aku pun melorotkan celanaku sekaligus dengan celana dalamku, sehingga aku pun telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah benar-benar mencuat ke atas. "Wow, punyamu udah bangun rupanya." "Tunggu sebentar ya."

Mbak Nin naik ke atas meja, seluruh tubuhnya benar-benar di atas meja. Mbak Nin mengatur posisinya, dan akhirnya nungging di atas meja dengan wajah tepat di depan kemaluanku. Tangannya meraih dan menarik batang kemaluanku. Aku menurut saja bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya. Mbak Nin mulai menciumi kepala kemaluanku.

"OH...!" Sekarang giliranku merasakan nikmatnya permainan yang Mbak Nin lakukan. Mula-mula hanya kepala kemaluanku yang merasakan hisapan, jilatan, dan sedikit sentuhan giginya yang putih bersih. Lama-kelamaan Mbak Nin membenamkan batang kemaluanku sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya.

"Ah, uh!" Aku mendesah pelan dengan sedikit menyeringai untuk menahan gejolak yang sedang berkecamuk di dalam tubuhku. Aku tidak mau hal ini cepat selesai. Mbak Nin terus mempermainkan batang kemaluanku. Kadang sesekali Mbak Nin mengulum kedua bijiku. Hal ini membuatku sedikit mules, tapi kenikmatan yang aku raih jauh lebih besar dari rasa itu semua.

Aku tak mau diam. Aku julurkan tangan kananku untuk meraih batas punggung dan belahan pantatnya. Untuk mengimbangi permainannya, pantat Mbak Nin yang terlihat nungging itu kuremas dengan tangan kanan, sementara tangan kiri masih meraba-raba punggung Mbak Nin yang putih mulus itu. Tanganku bergerak turun menelusuri celah pantatnya, dan sekarang menuju liang kemaluannya.

Kemaluan itu kemudian aku sentuh dari belakang—terasa sudah sangat basah dan merekah. Aku belai-belai bibir luar kewanitaannya dan akhirnya kubelai-belai klitorisnya. Merasa klitorisnya tersentuh oleh jariku, pantat Mbak Nin semakin dinaikkan dan terasa tegang; kuluman ke batang kemaluanku semakin kencang dan buas. Perpaduan antara belaian klitoris, punggung yang putih mulus, dan kuluman itu membuat suara kami semakin meracau.

Kocokan mulutnya terhadap batangku semakin lama semakin dalam dan cepat. Kadang kepalanya naik dan turun, tetapi kadang juga sedikit berputar. Sedikit perubahan gerak dari kepalanya terasa sangat nikmat bagiku. Aku mulai kehilangan kendali; ada sesuatu yang bergejolak di atas pangkal batang kemaluanku.

Entah mengapa, tangan kanannya menyentuh perutku dan mendorongku. Dorongannya cukup kuat sehingga aku terduduk di kursi lagi. "Plop!" Terdengar suara yang lucu akibat terlepasnya batang kemaluanku dari mulut mungilnya. "Sekarang giliran kamu, sayang." Seakan Mbak Nin tahu bahwa aku sudah mulai kehilangan kendali, ia menghentikan permainannya dan mengatur posisinya lagi.

Aku dapat melihat dengan jelas lubang kenikmatan Mbak Nin yang berwarna merah muda dan merekah itu. Aku memandanginya sejenak. Betapa indahnya lubang surga Mbak Nin yang membuatku seakan tidak bernafas menahan gelora dan aliran listrik yang mulai overload. Jari tengah tangan kanan Mbak Nin mempermainkan lubang surganya ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah, sehingga tampak kemaluan Mbak Nin kembang-kempis. Sesekali Mbak Nin mempermainkan klitorisnya sendiri.

Tak berapa lama, wajahnya yang cantik dengan rambut hitam legam dan panjang itu menengok ke belakang. Matanya yang semula bulat kini redup, dan dari bibirnya yang indah Mbak Nin berkata, "Kamu mau ini kan?" ujarnya, posisinya semakin menungging untuk menunjukkan keindahan lubang surganya kepadaku agar lebih jelas dan agar aku semakin gila.

"Cukup sudah!" pikirku. "Aku nggak tahan lagi." Maka aku dekatkan batang kejantananku yang sudah tegak keras ke atas dengan lubang kewanitaannya yang semakin harum dan basah itu. "Ah, sayang... ufhh!" Aku tempelkan kepala batangku ke klitorisnya dan aku gesek-gesekan ke sekitar lubang kenikmatannya.

"Sekarang, sayang, sekarang." Mbak Nin sudah tidak bisa menahan hawa nafsunya. Tangan kirinya menjulur ke belakang dan meraih batang kemaluanku. Mbak Nin membimbingnya mendekati gua surga itu, dan... "Slek!" Secara perlahan dan mantap, batang kemaluanku telah terbenam di lubang kenikmatan Mbak Nin.

Aku dorong pantatku secara amat sangat perlahan sehingga batang kemaluanku pun masuk secara amat sangat perlahan pula—mulai dari bagian kepala, kemudian bagian leher, kemudian bagian batang, hingga semuanya amblas sampai ke pangkalnya. "Ahh..." Mbak Nin dan aku pun mendesah menahan kenikmatan yang tiada tara, seiring dengan pergerakan batang kejantananku.

Aku sengaja tidak langsung mengocok, aku diamkan semua bagian kejantananku tetap habis amblas di lubang surganya sejenak. Aku rasakan betapa rasa lembab, basah, dan hangat yang luar biasa indah menyelimuti kemaluanku. Walaupun kemaluanku masih belum bergerak, aku dapat merasakan kemaluan Mbak Nin yang tidak hanya sempit, tapi juga dapat menghisap dan menekan-nekan kemaluanku.

Tanpa menarik, aku gerakan pantatku ke depan tiga kali sehingga... "Bleb, bleb, bleb!" Posisi Mbak Nin pun sedikit maju karena tekanan dariku. "Oh, ah, oh!" Desahan Mbak Nin seiring dengan tekanan tadi. "Sayang, cepat dong, pompa aku semau kamu!" pintanya.

Aku mulai menarik dengan perlahan kemaluanku sampai sebatas lehernya, kemudian menekan perlahan hanya sampai setengah batang kejantananku, kemudian menarik, menekan setengah, tarik, tekan, tarik, tekan... terus begitu secara berulang.

Aku melakukan dengan cara yang pernah kubaca dari buku Kamasutra: aku tarik keluar kejantananku sampai sebatas leher, lalu masukkan hanya setengah batang sebanyak sepuluh kali, diselingi satu kali keluar sebatas leher dan masuk sampai amblas semua, menahannya sejenak untuk memberi kesempatan kepada Mbak Nin melakukan gerakan berputar. "Crek, crek, crek, crek..." Suara indah itu terulang sepuluh kali, diselingi dengan "Sleb..." sekali. "Plok, plok, plok, plok!" Suara yang muncul akibat benturan antara pangkal pahaku dengan pantat putih mulus Mbak Nin membuat suasana semakin indah.

Aku tak perlu mengangkat pantatku ke atas agar mendapat gesekan dan tekanan pada bagian atas batang kemaluanku, atau ke bawah agar gesekannya lebih terasa, atau ke kiri, atau ke kanan—semua itu tidak perlu sama sekali. Kemaluan Mbak Nin yang benar-benar lubang surga itu sudah sangat sempit, sehingga menekan dan menggesek semua permukaan kontolku, dari ujung kepala sampai ke pangkalnya.

Aku tak bisa lagi mengatur gerakanku; semakin lama gerakanku semakin cepat dan tekanannya pun semakin keras. Dari posisiku yang di belakang, aku dapat jelas melihat penisku keluar masuk cepat ke lubang vaginanya, dan saking pasnya, terlihat bibir vagina Mbak Nin itu tertarik keluar setiap kali batangku kucabut. "Oughh, ough, ah, oh, kamu hebat, sayang." Mbak Nin terus mendesah dan meracau.

Sesekali dengan posisinya yang nungging, tangan kanan Mbak Nin ke belakang dan menyentuh perutku untuk menahan tekanan yang aku lakukan. Aneh memang—Mbak Nin menahan laju tekanan penisku dengan tangannya, tetapi tetap terus meracau, "Terus, sayang, ah, terus, terus, sayang!"

Buah dada Mbak Nin terpental-pental dan desahannya benar-benar menghanyutkan, seperti suara musik terindah yang pernah aku dengar. "Ahh, shh, sayang, ohh, enak, uhh, hmm, enak, sayang, terus!" seru Mbak Nin. "Aowww!" Tiba-tiba Mbak Nin sedikit berteriak.

"Kenapa, Mbak, sakit ya?" tanyaku, yang hanya dijawab dengan senyum dan gelengan kepalanya. "Teruskan, sayang, aku suka kok." Aku berpikir mungkin gerakanku terlalu kuat, ditambah liang vagina Mbak Nin yang begitu sempitnya.

Maka aku ambil inisiatif untuk mengangkat kaki kanannya agar lubang surga Mbak Nin sedikit lebih longgar sehingga Mbak Nin dapat lebih menikmatinya. "Oghh, sayang, kamu memang hebat!" katanya. Karena gesekan yang terjadi sedikit berkurang, aku semakin cepat melakukan gerakan maju mundur dengan sedikit gerakan ke atas akibat terangkatnya kaki kanan Mbak Nin.

Semua hal itu tidak mengurangi kenikmatan yang aku rasakan; bahkan percintaan kami menjadi lebih variatif, sampai suatu saat aku turunkan lagi kaki kanannya dan kedua tanganku memegang pinggulnya kuat-kuat sambil sesekali meremas pantatnya yang bulat indah itu. Dan, "Oughh, sayang, aku keluar!" Vagina Mbak Nin kurasakan semakin licin dan hangat, tapi denyutannya semakin terasa.

Aku dibuat terbang rasanya. Aku hentikan gerakan maju mundurku; sekarang aku benamkan seluruh batang penisku ke liang vagina Mbak Nin sambil terus mendenyutkan batang kemaluanku. Aku tekan dengan kuat penisku sambil menahan pinggulnya yang indah. Aku yakin benar, denyutan yang kubuat di batang kemaluanku dan tekanan hebat terhadap kewanitaannya membuat orgasme Mbak Nin makin hebat dirasakannya.

Terbukti dari kenikmatan orgasmenya itu, sekonyong-konyong membuatnya terbangun dari posisi nunggingnya, disertai kedua tangannya menjambak rambut kepalaku dengan kuat dan wajahnya yang menyeringai menahan gejolak kenikmatan surgawi. "Huff, huff, huff!" Napas Mbak Nin menunjukkan dia baru saja mengalami sensasi elektrikal yang hebat menjalar di tubuhnya.

Tubuhnya sedikit lemas. Aku tahan beban tubuhnya dengan tangan kiriku yang kemudian melingkari pinggulnya yang padat dan mulus itu, sementara tangan kananku mengambil kursi tadi, dan kemudian aku duduk di kursi itu sambil memangku dan menciumi bibirnya yang merah merekah. "Oh, sayang, aku keluar, oh, enaknya." Mbak Nin berbisik padaku sambil sesekali mencium telingaku.

Batang kejantananku pun masih terbenam di dalam kewanitaannya. Apalagi dengan Mbak Nin di pangkuanku, membuat batang kemaluanku amblas habis sampai di pangkalnya. Hanya saat ini tidak terjadi gerakan yang berarti. "Kamu belum keluar ya?" tanya Mbak Nin; aku diam saja sambil sedikit menggelengkan kepala. Aku biarkan Mbak Nin berbicara, karena memang aku menikmatinya.

Aku biarkan Mbak Nin beristirahat sebentar sambil menciumi wajahku, disertai tangannya yang terus-menerus meraba bijiku. Rasa hangat di batang kemaluanku masih begitu terasa, ingin rasanya aku gerakkan lagi. Tapi aku bersabar; aku biarkan bidadariku mengumpulkan tenaganya untuk pertarungan tahap berikutnya. Tak berapa lama, aku coba mendenyutkan batangku.

"Ah, aow, geli dong, sayang!" Mbak Nin berceloteh sambil disertai tawanya yang manja. "Kamu masih kuat nggak, sayang?" Aku tidak lagi terdiam; pertanyaan ini harus kujawab. "Masih dong, Mbak." Aku masih tetap berusaha menahan diri. "Pindah ke kamarku yuk?" ajak Mbak Nin. "Tapi jangan dilepas ya, sayang; punyaku masih betah sama punyamu." celoteh Mbak Nin.

Secara perlahan dan berhati-hati aku bangun dari kursi itu. Dengan posisi membelakangi aku, aku bawa Mbak Nin ke atas meja. Secara perlahan aku putar tubuh Mbak Nin dengan amat sangat hati-hati karena Mbak Nin tidak ingin kontolku terlepas dari memeknya, begitu pula aku.

Dengan sedikit kerja sama, akhirnya kami berdua sudah saling berhadapan. Mbak Nin langsung kugendong dengan penisku yang masih tetap tertanam. Kedua belah kaki panjang Mbak Nin mengempit pinggangku erat-erat. Aku pun melangkah ke kamar Mbak Nin.

Sesampai di kamar, aku rebahkan tubuh Mbak Nin di tempat tidur yang masih rapi. Tampak olehku kedua susu Mbak Nin yang indah. Puting susu yang kemerahan itu membuatku langsung melumatnya. Mbak Nin hanya bisa mendesah dan menggigit bibir bawahnya. Ketika aku baru menggerakkan pantatku, Mbak Nin menghentikan gerakanku.

"Sayang, tadi kamu yang kerja, sekarang giliran aku dong!" "Aku pengen di atas ya!" Belum sempat aku jawab, Mbak Nin sudah mendorong tubuhku, sehingga aku mau tidak mau merebahkan tubuhku di atas kasur empuk tadi. Mbak Nin sekarang sudah ada di atasku, tepat membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhku. "Luruskan kakinya, sayang!" perintah Mbak Nin sambil memegang kedua pahaku dan meluruskan kakiku.

Kedua tangan Mbak Nin kemudian memegang kedua puting susunya dan meremas kedua payudaranya sendiri, lalu mulai mengangkat pantatnya dan menurunkannya kembali. Saat ini dialah yang memompaku. Aku baru sadar bahwa Mbak Nin tiada lain adalah kuda liar yang tak terkendali. Dia bergerak ke atas dan ke bawah, diselingi dengan memutarkan pinggulnya, juga disambung dengan gerakan maju mundurnya.

Maju, mundur, atas, bawah, kiri, kanan, putar. Serasa penisku dipermainkan seenaknya. Mbak Nin menjadikan batang kemaluanku sebagai budak nafsunya. Kedua tanganku sibuk meremas-remas payudaranya, memelintir dan mencubit putingnya, dan memegang pinggulnya.

Sesekali dia membungkukkan badannya untuk menciumiku. Aku tidak diijinkannya bangun dan mencium bibir ataupun buah dadanya. Saat ini dia terus memegang kendali. Kontolku semakin panas, rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhku. "Oh, Mbak Nin, terus, Mbak!" Aku mulai meracau.

Betapa liarnya wanita ini. Rasa hangat dan nikmat yang tak terhingga mulai merambah batang kejantananku yang semakin lama mulai aku rasakan desiran yang hebat. Aku memejamkan mata dan meremas pinggul dan susu Mbak Nin. Aku tahan gejolak kenikmatan surgawi ini. Aku tak ingin benteng pertahananku bobol sebelum bidadari di atasku memuaskan diri memperbudak batang kemaluanku.

Kempotan memek Mbak Nin semakin lama semakin kuat. Kemaluanku terasa terjepit dan semakin terjepit. Basah, lembab, licin, dan hangat menjadi satu, menciptakan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Aku berusaha menahan serangan sang bidadari. Kejadian tersebut terus berulang. Napas kami berdua menderu-deru. Tubuh kami penuh dengan keringat. "Oh, ah, oh, oughh, off, aowww!" Mbak Nin pun sudah tidak lagi mendesah; desahannya diganti dengan teriakan dan jeritan kecil. Gerakannya makin liar.

Aku merasa kasihan melihat batangku diperbudak sedemikian rupa, tapi apa daya, kenikmatan yang aku rasakan lebih dari segalanya di dunia ini. Mendadak kulihat tubuh Mbak Nin mengejang. Mbak Nin menengadahkan kepalanya; urat lehernya tampak, dia berteriak kecil. "Aaoowww!" Kurasakan semburan lava panas menyelimuti batangku yang masih terbenam. "Oh!" kataku.

Nikmat sekali rasanya. Mbak Nin menjatuhkan tubuhnya di dalam pelukanku. Dia mengalami orgasme lagi, hanya kali ini dia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Tampak betapa lelahnya dia. Tapi untuk kali ini aku tak bisa memberi waktu lagi untuk Mbak Nin beristirahat. Aku sudah hampir di puncak, mulai terasa olehku puncak kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan. Aku balikkan tubuhku sehingga tubuh mulus Mbak Nin ada di bawahku.

"Oh, sayang, aku tadi keluar lagi!" "Aku sudah cape..." Belum sempat dia selesaikan ucapannya, aku sumpal kedua belah bibirnya dengan mulutku. Aku bimbing kedua betis Mbak Nin agar bertumpu di kedua bahuku. Aku mulai memompa dengan cepat dan dahsyat. "Oh, sayang, kamu cepat keluar ya, sayang!" "Aku sudah mulai lelah!"

Aku terdiam dan hanya terus memompa kemaluanku sampai amblas dan menariknya keluar sampai sebatas leher. Aku sudah tidak dapat mengendalikan tubuhku sendiri; seakan tubuhku bergerak sendiri semaunya. "Oh, ampun, sayang!" desah Mbak Nin.

Aku sedikit takut jikalau Mbak Nin tidak bisa lebih kuat lagi saat itu. Tapi aku tak peduli. Aku kemudian berinisiatif; aku keluarkan sejenak kontolku dari lubang hangat Mbak Nin, kemudian aku angkat pinggul Mbak Nin dan ambil tiga buah bantal untuk mengganjal pantatnya, sehingga vagina Mbak Nin terbuka dan terlihat klitoris Mbak Nin yang mencuat.

Keindahan vagina Mbak Nin yang berwarna merah muda dan dihiasi klitorisnya yang kecil mungil itu membuatku semakin buas. Aku arahkan dan aku masukkan kembali batangku ke dalam lubang surga milik Mbak Nin tersebut. Hanya kali ini aku memasukkannya dengan cepat dan tepat tanpa basa-basi lagi.

Lalu aku memompanya dan terus memompanya dengan cepat sambil jari-jemari tangan kananku mempermainkan klitorisnya. Entah mengapa, teriakan dan desahan Mbak Nin berubah lagi—yang asalnya, "Aku capek, sayang, ampun, aku capek!" telah berubah menjadi, "Terus, sayang, aku sanggup keluar sekali lagi... terus, sayang... teruus!"

Desahan dan jeritan kecil itu membuatku semakin semangat. Aku genjot terus, terus, dan terus! "Oh, sayangku, aku mau keluar lagi!" kata Mbak Nin. "Sebentar, sayang, sebentar lagi aku juga keluar... tahan dulu ya, sayang!" Aku mulai tidak karuan. Genjotan kontolku, goyangan pinggul Mbak Nin, dan kempotan memek Mbak Nin membuat segalanya tak terkendali.

Ketika kulihat Mbak Nin mulai menengadahkan kepalanya dan urat lehernya mulai mengejang, aku segera mempercepat genjotanku, dan akhirnya... "Aakkhh!" Kami berdua berteriak kecil; kedua tangan Mbak Nin memegang pantatku dan menekannya dengan keras ke arah memeknya sampai kejantananku amblas habis tak bersisa satu mili pun.

Aku membungkukkan badanku dan menyelipkan pergelangan tanganku ke ketiaknya, telapak tanganku mengangkat kepalanya sehingga aku bisa mencium bibirnya. "Crot, serr, crot, serr, crot, serr..." Entah berapa kali cairan puncak kenikmatan surgawi ku menyembur dan bertemu dengan cairan kenikmatan tiada taranya Mbak Nin. Cairan kenikmatan kami saling bertemu di dalam vagina Mbak Nin.

Mungkin sekitar empat puluh atau lima puluh detik, kami berdua saling merengkuh puncak kenikmatan itu. Kehangatan yang amat sangat indah menyelimuti kejantananku. Kontolku terus berdenyut seiring dengan memek Mbak Nin yang juga berdenyut. Kami berdua tidak sanggup lagi berkata apa pun juga.

Tubuh Mbak Nin tergeletak di samping tubuhku. Aku berusaha mengangkat tubuhku dengan tenagaku yang terakhir. Aku cium bibirnya dan Mbak Nin pun berkata, "Yy-yang terakhir itu... ad-adalah or-orgasme-ku yang paling lama..." Lalu kami berdua pun tidur saling berpelukan sampai keesokan paginya.

Semenjak itu kami bagaikan sepasang burung yang sedang kasmaran. Di luar kesibukan kami sehari-hari, selalu kami gunakan untuk bercinta dan bercinta. Tiada hari yang kami lewatkan tanpa seks. Kami pun sering membaca buku tentang seks agar kami berdua selalu bisa terpuaskan—dan yang paling penting, memuaskan.

Kami pun tak tahu waktu dan tempat. Kadang kami melakukannya di garasi, di meja dapur, di sofa, di dalam mobil, di kamar mandi, di kolam renang, di halaman rumah, di atas rumput, bahkan kami pernah melakukannya di dalam lift sebuah mal yang saat itu mendadak macet dan kami terjebak di dalamnya.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya