Malam Bersama Vira
Malam Bersama Vira
Vira Yuniar tersenyum menatap besarnya batang penisku. Matanya melirik padaku, kubalas lirikan itu sampai membuat Vira Yuniar semakin tersipu. Vira Yuniar kemudian menarik tubuhnya dan selonjoran sambil tengkurap di depan selakanganku, tangan memegang batangku. Aku menaikan badanku dan kuganjal dengan bantal agar bisa rileks. Vira Yuniar menghembuskan napasnya berulang-ulang, sesekali menggeleng-geleng dengan tersenyum. Kemudian dengan pelan diciumnya batangku dua kali. Kuelus-elus kepala Vira Yuniar yang berambut panjang itu, kusingkirkan rambut yang berada tepat di kepalanya. Kami masih saling lirik, bertatapan dengan penuh senyum. Vira Yuniar sudah tidak tahan lagi vaginanya disetubuhi — perceraian dengan Teuku Ryan dan pisah ranjangnya yang lama membuat Vira Yuniar kini tidak tahan lagi.
"Han, sayaang," sapa Vira Yuniar dengan meremas batangku pelan-pelan.
"Kamu orangnya romantis, sayaang. Aku suka," sahut Vira Yuniar dengan gemas dan menekan ke penisku. Tangannya seolah-olah tak mau lepas dari batangku.
"Aku milikmu sekarang, sayaang. Sudah lama aku tak bercinta. Aku ngebet banget. Aku takut, aku kesepiaaan..." ujar Vira Yuniar dengan sendu. Kutarik tangannya, kemudian aku memegang pinggangnya.
"Kudekap Mbak Vira agar tenang," ajakku yang disambut senyum Vira Yuniar. Kemudian dia memutarkan badannya. Kupeluk di atas perutnya sehingga lenganku menempel di buah dadanya bagian bawah.
"Buah dadamu besar, Mbak Vira, sayaang. Aku sayang Mbak Viraaa, lagian Mbak Vira sangat cantik. Aku jatuh cinta padamu, Mbak..." rayuku dengan menciumi pipinya. Tangan Vira Yuniar melingkar ke belakang lewat atas, meremas kepalaku memberikan sentuhan cinta yang selama ini tak kudapatkan. Selama ini aku bercinta dengan cara liar dan brutal. Aku ingin bercinta dengan cara yang lembut, seolah-olah Vira Yuniar adalah kekasih yang kucintai. Aku ngefans berat dengan Vira Yuniar ini.
"Panggil saja Vira, sayaang," balas Vira Yuniar dengan memalingkan wajahnya. Kami berpagutan dengan mesra. Vira Yuniar menyudahi pagutan itu.
"Ndak mau, Mbak Viraaa. Aku suka panggilan itu. Mbak Viraku, sayaang, kekasihku..."
"Haan, kita bukan sepasang kekasih. Aku sudah punya pacar," goda Vira Yuniar dengan tertawa kecil.
"Lupakan saja, Mbak. Malam ini milik berdua. Aku akan menyirami kebunmu yang kering itu. Kau sangat rindu akan belaian lelaki, kau sangat kesepian, Mbak. Aku akan memberikan kepuasan padamu. Kau tahu kan, penisku besar," kataku dengan suara yang kubuat lembut membuat Vira Yuniar tersanjung.
"Haaan, kamu tukang perayu," sahut Vira Yuniar dengan mencubitku.
"Han, segera setubuhi aku, sayaang. Aku nggak tahan. Jangan lama-lama ngobrolnya, sayaang. Please," rajuk Vira Yuniar dengan menarik tanganku yang memeluknya.
"Please, aku sudah nggak tahaaan. Pleasee," desak Vira Yuniar dengan menggigit bibirnya.
"Sekali saja, please. Setelah itu kita lakukan apa maumu!" sambung Vira Yuniar ketika aku belum mengucapkan jawabanku.
Kupandang tubuhnya yang telanjang bulat. Vaginanya yang sempit itu berada di depan mataku, kedua kakinya membuka lebar, vaginanya basah. Dengan gemas, Vira Yuniar langsung menarik kepalaku.
"Oral vaginaku, sayaaang. Nikmati surgawiku, sayaaang. Lakukan demi akuu," tekan Vira Yuniar dengan tak tahan akan gelombang birahi itu.
"Memekmu enak, sayaaang," kataku sambil menjilati vagina Vira Yuniar. Vira Yuniar menyibakkan rambut kemaluannya kemudian berbaring dengan telentang.
"Oh, sayaaaaaaang! Uuuh, sssshh, ssssssssh. Jilat teruuuuuuuuus. Aaaaaaah, aaaaaaauh, sayaaaaaaaang, nikmaaaaaaat, enaaaaaaaaaak..." Vira Yuniar mengerang dan menggelinjang tak karuan. Tangannya meremas sprei kuat-kuat ketika aku dengan nakal mengerjai vaginanya dengan lidahku. Vaginanya yang sangat indah, dengan rambut kemaluan yang rapi.
Tangannya meremas sprei dengan kuat, matanya terpejam merasakan setiap lidahku menjilat dan bibirku menempel menyedot lubang itu.
"Aaaaaaaaaaoh, sayaaaaaang! Aaaaaaaaaah, kamuuuu, aaaaaaah, pintaaaaaaaar. Teruus, Haan. Burhanku, sayaaaaaaang. Puasi aaakuu. Jangan lama-lama. Aku tidak tahaaaaaan. Pleaseeeeeeee," erang Vira Yuniar tak karuan.
Vira Yuniar menjerit-jerit tak karuan merasakan oralku. Matanya kadang ingin melihat ke vaginanya bagaimana aku mengerjai lubang itu. Tanganku ditarik dan diletakkan di buah dadanya.
"Remees susuku, sayaang. Aku milikmu. Puasi aaaku malam ini. Aaaaaaaaaaaauh, Haan, sayaaaaaaang, aaaaaaaah, kamu nakaaal, nakaaaaaaaaal, aaaaaaah," erang Vira Yuniar tak karuan dengan bergerak ke kanan dan ke kiri tidak tahan akan oralku. Daging yang berada di kanan kiri vaginanya aku lebarkan. Vira Yuniar sampai menggigit bibirnya sendiri.
"Sayaaaaaaaang, jangan lama-lamaaa. Aku nggak tahaan. Aku ingin dimasukin penismu," rintih Vira Yuniar dengan suara mendesis.
"Sayaang, jangan perlakukan aku bak jaandaa. Perlakukan aku seperti kekasihmu. Sssssssshh, sssssshh," sahut Vira Yuniar tak karuan melawan kata-katanya sendiri. Kutahan sebentar oralku sampai membuat Vira Yuniar menjadi gemas.
"Please, kenapa berhenti?" tanya Vira Yuniar dengan kesal.
"Kau menolak disebut kekasih, kini malah mengakui. Pembohong," sudutku dengan tersenyum.
"Maafin aku, sayaang. Maafin. Aku kekasihmu..." kata Vira Yuniar dengan kembali merebahkan diri.
Aku kembali menjilati dan menyedot vaginanya. Kembali Vira Yuniar merintih dan mendesah. Aku suka rintihan dan desahan Vira Yuniar yang membuatku bersemangat untuk terus bercinta dengannya. Luar biasa indah tubuhnya, badannya benar-benar sempurna walau sudah dua anak keluar dari lubang peranakan itu.
"Sayaaaaaaaaang, teruuuuuuuuuuuus. Sayaaaaaaaaaaang, oh, kekasihku, sayaaang. Aaakuu, aaaaaaaaaah, sssssssssh, sssssssshhh, hhhh. Aaaaaaaaaaaauh," erang Vira Yuniar dengan mengangkat kepalanya kemudian menggeleng-geleng dengan cepat ke kanan dan ke kiri tidak tahan jilatanku yang mengobok-obok vaginanya.
"Sayaaaaaaaaang, aaaaaaaaaah, sudaaaaah. Sudaaaaaaaah, aaaaah. Jangaan buat aku orgasmee," tahan Vira Yuniar dengan bangun kemudian menarik kepalaku dengan paksa, lalu langsung menyumbat bibirku dengan bibirnya. Vira Yuniar melumat bibirku dengan rakus. Kunikmati lumatan itu — kami saling bertukar air liur. Napas Vira Yuniar sampai ngos-ngosan ketika kami saling bertatapan. Kemudian Vira Yuniar memelukku.
"Aku sayang kamu," bisik Vira Yuniar di telingaku dan menjilati beberapa kali membuatku menjadi geli.
"Aku juga sayang Mbak Vira," balasku tak kalah mesra.
Aku kemudian mendorong tubuh Vira Yuniar dan kupandang besaran buah dadanya. Kuremas dengan tanganku dan bibirku langsung menyusu pada puntingnya yang sedikit lebih besar. Vira Yuniar memeluk kepalaku dan membenamkan wajahku di kedua gundukan gunung kembarnya. Namun tak lama, dengan agresif Vira Yuniar menarik kepalaku. Dengan paksa, Vira Yuniar langsung membuka mulutnya mengulum batangku.
Dengan rakus batangku dikulum-kulum. Kuremasi kepalanya untuk memberikan rasa nyaman pada Vira Yuniar yang haus belaian lelaki itu. Penisku keluar masuk mulutnya, namun pelan-pelan hisapan di batangku menjadi pelan.
"Uuuuuuuh, teruus, Mbak Viraa. Rasakan nikmatnya kontolku," sahutku yang disambut dengan cubitan tangan Vira Yuniar di pahaku. Mulut Vira Yuniar penuh dengan batangku yang besar itu, batangku terasa sesak dalam mulutnya, namun batangku bisa lancar keluar masuk.
"Mbaaaaaaaaak, enaaaaaaak! Aaaaaaaaaah, ssshh, sssssssssh, aaaaaaaauuh, hhh, hhh. Aku sukaa sama Mbak Viraa. Oh, kekasihku, teruus, sayaang, emut kontolku sesukamuu," kataku memberikan semangat pada Vira Yuniar yang dengan gemas kini menjilati batangku dengan rakus naik turun. Bahkan telurku tersapu oleh lidahnya. Seluruh bagian batangku penuh dengan air liur.
"Mbak, aaaaaaaaaaaah," erangku. Tiba-tiba Vira Yuniar menarik kepalanya, kemudian menaiki aku dengan paksa sambil memegang batangku dan diarahkan ke vaginanya.
"Aaaaaaaaaaah, kenapa Mbak Vira buru-buru? Ah, Mbaaaaaak, aaaaaaaaaaaah," erangku ketika dengan paksa Vira Yuniar memasukkan batangku di vaginanya.
"Aku nggak tahaaan, sayaaaaaaaaaaaaang, nggak taaahaaaaaaaan," jawab Vira Yuniar dengan tidak menghiraukan elusan tanganku di pahanya. Aku menjadi tak karuan. Vaginanya yang sempit itu pelan-pelan membuka seiring kepala penisku sudah mulai masuk.
"Ck ck ck ck. Kontol pacarku ini nakal sekali," goda Vira Yuniar dengan tersenyum padaku. Kemudian memegang kepalaku dan dipandangnya dengan mesra.
"Haan, tolong luluskan permintaanku. Apapun kau anggap aku, please," rajuk Vira Yuniar tak sabaran.
"Silahkan, Mbak Vira. Malam ini jadilah istriku, sayaang, namun tetap kupanggil Mbak Vira," kataku berucap dengan disambut senyum mesra Vira Yuniar.
"Baik, sayaang. Kau adalah suamiku. Kau pantas jadi ayah anak-anakku. Keduanya suka sama kamu, kau telah mencuri hatinya," kata Vira Yuniar dengan kembali menekan. Aku menyaksikan bagaimana batangku yang besar itu perlahan mili demi mili mulai hilang tertelan di vagina Vira Yuniar yang becek itu.
"Mbak Vira, sayaang, sejak lama aku ngefans padamu. Aku cinta Mbak Vira," kataku yang disambut dengan jeritan Vira Yuniar ketika batangku yang besar itu membuat lubang kemaluannya membengkak lebih besar.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw, oooh, aaaaaaaaauh. Kontolmu, aaaaaaaah, aaaaaaaaaauh. Luaar biasaa ngacengmu. Terasa sekaaaaaaaliiiii, aaaaaaaaaah, sayaaaaaaaaaaang. Suamiku, sayaaaaaaang, puasi aaakuu. Oooooooooh, bebaaanku, aaaaaaah. Malaam ini akan indah, sayaaang," erang Vira Yuniar tak karuan melihat bagaimana batangku sudah mulai tenggelam hampir separonya.
"Tahan dulu, Mbak. Jangan bernafsu. Bisa cepat orgasme," kataku menggoda yang disambut keterkejutan Vira Yuniar, namun kemudian ia menjambak rambutku.
"Aiiiiiiih, kamu nakal, sayaang. Suamiku nakal sekali. Papa anak-anakku nakaaaaaal sekali. Awas yaaa," ancam Vira Yuniar dengan menggoda.
"Istriku juga nakaaal," balasku yang disambut dengan tawa Vira Yuniar.
"Maafin aku, sayaang. Aku sudah tidak tahan. Sudah lama aku tidak bercinta. Maafin istrimu jika sampai duluaaaaaaan," sahut Vira Yuniar dengan menatapku kemudian menekan dengan kuat sehingga batangku yang besar itu kembali menyeruak masuk ke dalam vagina Vira Yuniar.
Luar biasa sesak vagina Vira Yuniar itu, sampai-sampai Vira Yuniar menata napasnya berkali-kali ketika batangku baru masuk separo.
"Istrimu bangga punya suami berkontol besaar," goda Vira Yuniar dengan membuka matanya setelah menghembuskan napasnya. Kemudian mengangkat pantatnya dan menekan lagi. Gesekan itu sampai membuatku ngilu.
"Mbaaaaaaaak, aaaaaaaaaaaaaaaaaah. Pelaan yaaaaaaa. Uuuh, memek Mbak Vira enaaak," lenguhku tak karuan dengan menahan pinggang Vira Yuniar.
"Ya, sayaang. Istrimu akan memberikan kepuasan cinta padamu. Terimalah Mbak Vira sebagai orang yang selalu kau puaskaaaaaaaan. Aaaaaaaaaaaaauh, Haaaaaan, uuh. Kontolmu benar-benaaaaar sesaaak dalam memek Mbak Viraaaaaa. Aaaaaaaaaah, sssssssshhh, sssssssshhh, hhhhhhhh," tahan Vira Yuniar dengan kembali bernapas karena tidak tahan penisku memaksa kedua daging kanan kiri itu membuka perlahan-lahan.
"Sakit, aaaaaaaaah, aaaaaaaaaaauh, sayaaaaaaaaaaaaaang, aaaaaaaaaauh, sssssssssssh, ssssssssssssh. Sayaaaaaaang, aku nggak kuaaaaaaat. Aaaaaaaaaah, ayo, bantu istrimu. Jangan diam saja," erang Vira Yuniar. Kujawil pipinya.
"Istriku banyak maunya," godaku yang disambut sikap manja Vira Yuniar.
"Please, masak istrimu nggak boleh manjaa sama suami. Payah, aaaaaaaaah. Kulapori sama anak-anakmu," sungut Vira Yuniar dengan senewen.
"Mbak, aku nanti keluar di mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Di dalam dong, aaaaaaaaaaaauh," sahut Vira Yuniar cepat.
"Jangan pikirin. Please, ayoo, tekan ke atas. Jangan diaaaaam," cubit Vira Yuniar di lenganku. Aku pun menurut dan ikut menekan ke atas. Vira Yuniar menekan ke bawah sehingga batangku pelan-pelan masuk lebih dalam, tinggal menyisakan seperempatnya.
"Luaar biasa kontolmu, sayaaaaaaaang. Aah, aku takut ketagihan kamu. Please, jangan kapok ya, Haan, bercinta dengan aku," goda Vira Yuniar yang mulai menyukaiku.
"Lho, aku kan wajib memberikan kebutuhan batin sama Mbak Vira, istriku ini," kataku yang disambut senyum Vira Yuniar sambil menyibakkan rambutnya ke belakang. Kemudian mendongak ke atas dengan menggigit bibirnya tidak tahan akan penisku yang besar dan sesak di vaginanya itu. Akibatnya, ketika dengan paksa menarik ke atas dan turun ke bawah, batangku langsung amblas karena tekanan besar Vira Yuniar itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuh!" jerit Vira Yuniar. Sedangkan aku hanya menahan rasa nikmat luar biasa karena batangku diperas dengan sangat kuat.
"Mbaaaaaaaak, aaaaaaaaaah, aku bisaa muncraaaaaaaat," godaku.
"Awas kau, Haan, kalo keluar duluaaaaaaan. Memekku masih sempit ya?" goda Vira Yuniar dengan membuka matanya kemudian memagutku dan merangkulkan kedua tangannya di pundakku.
Vira Yuniar kemudian langsung menaikan badannya dan turun menggenjotku. Pelan-pelan batangku yang seret itu mulai keluar masuk. Vira Yuniar sangat hati-hati menggenjot.
"Aaaaaaah, sayaaaaaaaaang, uuuuuuuuuh. Kontolmu, aaaah, aaaaaaah. Kamu ngajarin jorok nih, nyebut-nyebut kontol. Pleasee, ayo, sayaang, ayoo," ajak Vira Yuniar dengan bergerak pelan-pelan.
Kami berpacu dengan gerakan pelan genjotan Vira Yuniar. Kuremas buah dadanya dengan lembut membuat Vira Yuniar mendongak ke atas.
"Sayaaaaaaaaaaaang, aaaaaaaaaaaaah. Enaaaaaaaaaak, sssssssh, ssssssssshhh. Teruuuuuuus, aaaah, aaaaaaaaah, aaaaaaaach, nggg, ngg, ngg. Mmmmmmmmmmmhhhhh, huuuuuuuuuh, ssssssssssssshhh," desis Vira Yuniar dengan terus menggenjotku naik turun.
Sudah lebih lima menit Vira Yuniar menggenjotku. Kini Vira Yuniar menggenjot dengan lebih cepat.
"Ayooo, suamiku, sayaang. Remees susu istrimu," ajak Vira Yuniar dengan bergerak lebih cepat. Batangku semakin lancar keluar masuk vaginanya.
"Aaaaaaaaah, sssssssssh," desisku tak karuan merasakan nikmatnya bercinta dengan janda Vira Yuniar ini.
Vira Yuniar menggenjot semakin cepat karena tidak tahan. Jepitan vaginanya menyempit dengan cepat. Hujaman demi hujaman yang cepat dan keras membuat aku ikut terpejam menikmati genjotan Vira Yuniar yang semakin liar.
"Sayaaaaaaang, aaaaaaah, nggaaak kuaaaaaaaaaat!" teriak Vira Yuniar dengan penuh keringat birahi itu.
Genjotan demi genjotan itu akhirnya membuat Vira Yuniar mendapatkan orgasmenya yang pertama, belum genap sepuluh menit. Vira Yuniar membusung memberikan buah dadanya yang kuremas kuat untuk memberikan rasa maksimal orgasme.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, sssssssssssssshhhhhhh, ssssssssssssssh. Hhhhhhhhh, hhhhhhhh," erang Vira Yuniar dengan mendongak ke atas. Kemudian tubuhnya menegang dengan mata yang hanya terlihat memutih. Tubuhnya kemudian lemas dengan cepat dan kupeluk. Benaman sangat kuat selakangan Vira Yuniar membuat batangku luar biasa dijepit. Vira Yuniar kemudian berkelonjotan dalam pelukanku. Rambutnya acak-acakan.
Kuelus-elus punggung mulus Vira Yuniar untuk memberikan rasa nyaman. Kudiamkan Vira Yuniar menikmati sisa-sisa orgasmenya. Pelan-pelan tubuh basah keringat itu hanya terdengar napasnya, geliat tubuhnya diam.
Tak lama kemudian Vira Yuniar menggeliat dan menarik tanganku. Ditatapnya aku dengan tersenyum.
"Terima kasih, suamiku. Aku puaaas. Sekarang terserah kamu. Makasih ya, Han. Kamu bisa melepaskan beban hidupku. Aaakuu puas, sayaang. Aku menjadi ringan sekarang. Entah aku harus membalas dengan apa?" kata Vira Yuniar dengan memandangku mesra.
"Jadikan aku papa bagi anak-anakmu, Mbak Vira," kataku dengan jujur. Vira Yuniar memandangku lama.
"Kau siap kecewa jika kita gagal?" tanya Vira Yuniar menegaskan lagi.
"Siap, Mbak. Namun setidaknya kita tetap bercinta jika tidak jadi," tawarku.
"Siapa takut," jawab Vira Yuniar dengan enteng dan memagutku mesra. Kami berpagutan sangat lama. Vira Yuniar menikmati setiap pagutan itu dengan penuh perasaan.
"Sekarang giliranmu, Han. Semoga kau menjadi papa bagi mereka," goda Vira Yuniar dengan cekikikan.