18px

Bab 1

Malam Menggoda bersama Dokter Riko

Perkenalkan, namaku Ayu. Saat ini bekerja sebagai seorang suster atau perawat di sebuah rumah sakit yang berada di Jawa Barat. Kota ini memang kecil dan jarang sekali pasien yang dirawat lama di sini; kebanyakan mereka dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya. Sebelum kumulai cerita ini, perlu diketahui tinggiku 165 cm dan berat 48 kg. Wajahku cukup cantik dengan kulit kuning langsat dan ukuran payudara standar. Hanya saja bila aku memakai pakaian ketat atau mini, semua mata yang memandang pasti akan nafsu dan terangsang gairah seksualnya.

Sebut saja dia dr. Riko. Dia lumayan tampan, sudah beristri namun belum dikaruniai anak, mungkin karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Dia juga merupakan idola para suster di sini; wibawa dan tutur bicaranya membuat semua suster selalu mengaguminya.

Kisah ini terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu. Waktu itu aku kebetulan mendapat giliran jaga malam, padahal besok harinya hari libur karena bertepatan dengan tanggal merah. Pasien di rumah sakit itu sangat sepi, mungkin karena letaknya jauh dari pusat kota, lebih termasuk ke pinggiran kota.

Setelah mengecek kamar pasien, aku segera membereskan pembukuan. Kemudian aku masuk ke dalam ruang perawat — tempat biasanya perawat berkumpul, beristirahat, dan ganti baju seragam. Karena lelah, aku duduk sejenak di kursi empuk yang tidak bersandaran tangan. Entah karena lupa atau karena lelah, aku tidak mengunci pintu. Aku melepas sepatu pantovelku yang sudah membuat kakiku sangat pegal, lalu menyandarkan kepala di kursi.

Tiba-tiba dari belakang ada yang menyentuh pundakku, seolah akan memijitnya. Aku kaget dan langsung bangkit dari kursi.

"Dr. Riko?" ucapku kaget.

"Capek ya? Habis kerja?" tanyanya lembut.

"Iya, Dok, sedikit," jawabku.

Kemudian dr. Riko duduk di kursi yang aku duduki tadi; aku hanya berdiri diam di depannya. Entah kenapa, saat dr. Riko menatapku jantungku berdegup kencang — mungkin suara degubannya bisa terdengar olehnya.

"Mau saya pijitin nggak, Sus?" tanyanya.

"Ah, Dokter bisa aja…"

Aku hendak beranjak melangkah, tapi tiba-tiba tanganku ditarik oleh dr. Riko dan aku terjatuh tepat di pangkuannya.

Dia memelukku sangat erat dari belakang hingga aku tidak bisa melepaskan pelukannya, namun sebenarnya aku juga senang dengan apa yang ia lakukan itu. Dia mencium leherku dari belakang; desah nafasnya dan ciumannya membuat biraiku naik. Sesaat dia menciumi leherku, kemudian bibirku pun dia kerjai pula. Aku pun tidak tinggal diam — kuladeni ciumannya itu, lidah kami beradu, saling mengulum satu sama lain. Entah setan apa yang merasukiku malam itu; bagiku semuanya sangatlah indah.

Tak terasa tiba-tiba tangannya sudah mulai meraba dadaku. Dibukanya kancing seragam susterku hingga beberapa kancingnya terbuka dan mencuatlah buah dadaku yang masih menggunakan bra, lalu ditariknya keluar payudaraku dari kurungannya. Sesaat dr. Riko menelan ludah melihat payudaraku itu.

"Ayu, ternyata kamu memiliki dada yang sungguh indah ya?" ucapnya sembari mengusap putingku.

Aku hanya bisa mendesah. "Ah, Dokter suka ya mainin dada Ayu?" ucapku.

Tanpa menunggu waktu dia langsung mengulum dan menjilati payudaraku dengan penuh nafsu, seperti bayi yang sedang menyusu kepada ibunya. Aku menikmati semuanya. Sembari dia terus memainkan dadaku, tangannya mulai bergerak menuju ke bawah perutku. Dibukanya kakiku lebar-lebar hingga rok mini seragamku pun terangkat ke pahaku. Aku mengangkang sembari dipangku dr. Riko — aku masih tetap memunggunginya. Dia memainkan jarinya di bibir vaginaku, membuatku benar-benar melayang, kemudian dia lanjutkan dengan memasukkan jarinya ke dalam vaginaku dan dimainkannya dengan jari-jarinya. Sentuhan itu membuat vaginaku mulai basah.

Tapi rupanya dr. Riko tahu kalau aku ingin segera dipuaskan. Tiba-tiba saja dia menghentikan perbuatannya. Dia menyuruhku duduk menghadap dia; aku pun kini seperti berlutut di hadapannya. Dibukanya celana dia — nampaklah senjatanya yang sudah berdiri keras, rupanya dia juga ikut terangsang tadi. Dia menyuruhku untuk mengulum penisnya. Mulanya aku takut, karena ini baru pertama kali buatku, tapi dengan sabar dia menuntunku. Akhirnya dia pun mulai merasakan hisapan-hisapan mulutku; kujilat dan kusedot penisnya itu hingga basah.

Kemudian tiba-tiba dia menyuruhku menghentikannya dan memintaku untuk duduk menghadapnya. Dia menurunkan celana dalamku, lalu memintaku untuk memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.

Aku sempat takut. "Dokter, saya takut, saya masih perawan, Dok…"

"Justru itu, Yu, akan terasa enak — memang sakit di awal, tapi lama-kelamaan juga enak," ucapnya sambil menciumku untuk menenangkanku.

Setelah cukup tenang, dia mulai perlahan memasukkan penisnya ke dalam.

"Ah, ah, au…" jeritku merintih menahan sakit dan perih.

Dr. Riko memang sangat luar biasa; karena takut menyakitiku, dia sangat halus dalam melakukannya. Dia memasukkan penisnya inchi demi inchi, dan akhirnya bleeesss — penis dr. Riko telah masuk semua ke dalam vaginaku. Tapi dia tidak lantas menggenjotku; dia justru membuatku seperti dimanjakan, menciumi aku, memainkan payudaraku, dan secara perlahan menggerakkan badannya naik-turun membuat penisnya juga ikut bergerak menusuk vaginaku.

Sesaat kurasakan darah keperawananku mengalir ketika dr. Riko mendorong badannya dengan keras dan membuat penisnya menusuk terlalu dalam.

"Ah, sa-kittt… Dok," rintihku.

"Gapapa, Yu, entar juga enak kok, sayang," balasnya.

Akhirnya selang beberapa menit kurasakan ada yang menjalar hebat di dalam tubuhku. Dr. Riko mempercepat gerakannya menusuk vaginaku.

"Ah, Dokter, Ayu rasanya pengin pipis nih, ah…" ucapku.

"Keluarin aja, Yu, itu bikin kamu lebih enak," ucapnya.

Dan "Ah…" tubuhku mengejang hebat; kurasakan ada cairan yang mengalir keluar hingga sepertinya membasahi pahaku.

"Enak kan, sayang?" ucap dr. Riko.

"Iyah, Dokter pintar banget bikin aku lemes gini, ah…" Itu adalah orgasmeku yang pertama.

Kemudian dr. Riko menyuruhku berdiri dan sedikit menungging — aku menghadap meja yang ada di depanku. Dr. Riko kemudian mulai menggenjotku dari belakang, dan ini membuatku sungguh melayang. Benar-benar dokter yang hebat, pikirku dalam hati. Dia terus menggenjotku; gerakannya semakin cepat. Aku tahu rupanya dia juga akan klimaks.

"Mau dikeluarin di mana, Yu?"

"Di dalam aja, Dok, aku lagi tidak masa subur kok. Lagian aku juga pingin tahu rasanya dimasukkin sperma Dokter," ucapku waktu itu.

Dan tiba-tiba crot, crot — sperma dr. Riko keluar. Mungkin karena banyak hingga keluar pula dari vaginaku dan menetes di lantai.

Dr. Riko kemudian memelukku dari belakang dan mencium bibirku; aku pun membalasnya. Kami saling melumat lidah kami, dan setelah itu kami pun membenahi diri kami. Aku membersihkan ceceran sperma di lantai. Dr. Riko duduk di kursi beristirahat sejenak; aku pun merapikan pakaianku. Kami juga sempat melakukan beberapa kali French kiss sebelum akhirnya dr. Riko keluar dari ruangan itu.

Malam itu benar-benar malam yang sangat indah bagiku. Dan setelah malam itu pun kami sering melakukannya tanpa diketahui oleh suster yang lain, karena kami selalu berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa di hadapan orang lain.

Skandal perselingkuhan itu terjadi selama tiga tahun aku bekerja di rumah sakit itu. Kini aku sudah pindah dan telah mempunyai seorang suami dan seorang anak, tapi tetap saja aku selalu merindukan saat-saat indah bersama dr. Riko — dokter yang mengajariku soal seks dan merenggut keperawananku untuk pertama kalinya.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya